Anda di halaman 1dari 22

KATA PENGANTAR

Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa serta kehendak-Nya


memberikan hidayah dan karunia-Nya kepada kami, sehingga makalah ini
selesai kami susun, sebagai tugas dari Ibu Wahyu Wiji Astuti, S.Pd, M.A.
Penyusun menyadari bahwa isi makalah ini masih jauh dari sempurna.
Terlepas dari hal itu, kami berharap makalah mengenai Ejaan Bahasa
Indonesia

ini dapat memberikan sumbangsih yang bermanfaat, serta

pemahaman, penalaran konsep dan terapannya dalam kehidupan sehari-hari.


Saran dan kritik dari pembaca untuk perbaikan penyusunan dan penulisan serta
kelengkapan dari isi makalah ini, akan kami terima dengan kerendahan hati.
Terimakasih.

Medan, Oktober 2016


Hormat kami,

Penyusun,

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ........................................................................................................1
Daftar Isi ..................................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ..... ..............................................................................3
1.2 Rumusan Masalah ......... ...................................................................................3
1.3 Tujuan Penulisan ...............................................................................................3
BAB II KAJIAN TEORI
2.1 Pendapat Ilmuwan .... ........................................................................................4
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia ........................................................................5
3.2 Pengertian EYD ................................................................................................6
3.3 Ruang Lingkup Ejaan Yang Disempurnakan (Eyd) ..........................................6
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan .... ................................................................................................20
4.2 Saran ................................................................................................................20

Daftar Pustaka .. ....................................................................................................21

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang Masalah


Bahasa merupakan alat komunikasi yang begitu penting bagi manusia

yang peranannya tidak perlu diragukan lagi, hal ini dapat dibuktikan dengan
menunjuk pemakaian bahasa dalam kehidupan sehari hari, tapi dapat juga
dibuktikan dengan menunjuk banyaknya perhatian para ilmuan dan praktisi
terhadap bahasa sebagai objek ilmu tidak dimonopoli oleh para ahli bahasa.
Para ilmuan dalam bidang lain pun menjadikan bahasa sebagai objek studi
karena mereka memerlukan bahasa sekurang-kurangnya sebagai alat bantu untuk
mengomunikasikan berbagai hal dalam bidang ilmu yang mereka pelajari
Dalam literatur bahasa para ahli umumnya merumuskan fungsi bahasa
bagi setiap orang ada empat, yaitu pertama sebagai alat berkomunikasai, kedua
sebagai alat mengekspresikan diri, ketiga sebagai alat berintegrasi dan beradaftasi
sosial, ke empat sebagai alat kontrol sosial.
Di Indonesia sendiri penggunaan bahasa mengalami beberapa perubahan,
dan dalam penggunaannya sering tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.
Pemahaman ejaan sangat perlu, karna ejaan merupakan rambu lalu lintas dalam
penggunaan bahasa terutama bahasa tulis.
1.2

Rumusan Masalah
Apa pengertian Ejaan yang disempurnakan
Bagaimana ruang lingkup ejaan yang disempurnakan

1.3 Tujuan Penulisan


Untuk Mengetahui pengertian EYD
Untuk Mengetahui ruang lingkup ejaan yang disempurnakan

BAB II
KAJIAN TEORI
3

2.1 Pengertian Ejaan


Kata ejaan berasal bari bahasa arab hija menjadi eja yang mendapat
akhiran an. Hakikat bahasa adalah bahasa lisan. Bahasa tulis merupakan turunan
dari bahasa lisan. Perbedaan antara ragam tulis dan lisan adalah bahsa lisan
terutama yang tidak baku, sangat simpel. Setelah Islam datang, di Nusantara
digunakan huruf arab untuk menulis bahasa melayu. Pada 1901 pertama kali
penggunaan huruf latin untuk bahasa melayu. Ejaan ini dikenal dengan ejaan Van
Ophuijsen.
Menurut

KBBI

(2005:

285)

ejaan

adalah

kaidah-kaidah

cara

menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dsb) dalam bentuk tulisan (hurufhuruf) serta penggunaan tanda baca.
Ejaan adalah seperangkat aturan atau kaidah tentang cara menuliskan
bahasa dengan menggunakan huruf, kata, dan tanda baca sebagai sarananya.
Batasan tersebut menunjukan pengertian kata ejaan berbeda dengan kata mengeja.
Mengeja adalah kegiatan melafalkan huruf, suku kata, atau kata; sedangkan ejaan
adalah suatu sistem aturan yang jauh lebih luas dari sekedar masalah pelafalan.
Ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa.
Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa demi
keteraturan dan keseragaman bentuk, terutama dalam bahasa tulis. Keteraturan
bentuk akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna. Ibarat sedang
mengemudi kendaraan, ejaan adalah rambu lalu lintas yang harus dipatuhi oleh
setiap pengemudi. Jika para pengemudi mematuhi rambu-rambu yang ada,
terciptalah lalu lintas yang tertib dan teratur. Seperti itulah kira-kira bentuk
hubungan antara pemakai bahasa dengan ejaan.
Ejaan yang berlaku sekarang dinamakan Ejaan yang disempurnakan
(EYD). EYD mulai diberlakukan pada tanggal 16 Agustus 1972. Ejaan dalam
sejarah bahasa Indonesia ini memang merupakan upaya penyempurnaan ejaan
sebelumnya yang sudah dipakai selama dua puluh lima tahun yang dikenal dengan
Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi (Menteri PP dan K Republik Indonesia pada
saat Ejaan itu diresmikan pada tahun 1947).

EYD (Ejaan yang Disempurnakan) merupakan tata bahasa dalam Bahasa


Indonesia yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari
pemakaian dan penulisan huruf capital dan huruf miring, serta penulisan unsur
serapan. EYD disini diartikan sebagai tata bahasa yang disempurnakan. Dalam
penulisan karya ilmiah perlu adanya aturan tata bahasa yang menyempurnakan
sebuah karya tulis. Karena dalam sebuah karya tulis memerlukan tingkat
kesempurnaan yang mendetail. Singkatnya EYD digunakan untuk membuat
tulisan dengan cara yang baik dan benar.
2.2 Pendapat Ilmuan
1. Harimurti Kridalaksana
Perubahan ejaan adalah bahwa pembakuan ejaan merupakan bagian dari
pembinaan kebudayaan. Dan pembinaan kebudayaan adalah bagian dari
pembangunan. Dengan alasan ini, maka tak seorang pun dirugikan dan tak ada
sektor pembangunan yang dihambat dengan ejaan baru.
Harimurti menutup esainya dengan kalimat-satu-paragraf yang di kutip
lengkap berikut ini: Masalah ejaan baru adalah masalah yang sangat sederhana,
kita tak perlu membesar-besarkan apa yang tak besar dan tak usah mencari-cari
apa yang tak ada.
2. Menurut Zaenal A. dan Amran Tasai (2003: 170)
Ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi
ujaran dan bagaimana hubungan antara lambang-lambang itu (pemisahan dan
penggabungannya dalam suatu bahasa). Secara teknis, yang dimaksud dengan
ejaan adalah penulisan huruf, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca.
3. Abdul Chaer (1998: 36)
Menjelaskan pada hakekatnya ejaan itu tidak lain dari konvensi grafis,
perjanjian di antara anggota masyarakat pemakai suatu bahasa untuk menuliskan
bahasanya. Biasanya ejaan itu bukan hanya soal pelambangan fonem dengan
huruf saja, tetapi juga mengatur tata cara penulisan kata dan kalimat, beserta
dengan tanda-tanda bacanya. Termasuk di dalamnya: penulisan kata dasar, kata
turunan, kata ulang, gabungan kata, kata depan dan partikel lain, angka dan
bilangan; serta penulisan unsur serapan atau pungutan.

2.3 Fungsi Ejaan


Dalam kaitannya dengan pembakuan bahasa, baik yang menyangkut
pembakuan tata bahasa maupun kosakata dan peristilahan, ejaan mempunyai
fungsi yang sangat penting. Fungsi tersebut antara lain sebagai berikut :
a) Sebagai landasan pembakuan tata bahasa
b) Sebagai landasan pembakuan kosakata dan peristilahan, serta
c) Alat penyaring masuknya unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahasa
Indonesia
Di samping ketiga fungsi yang telah disebutkan diatas, ejaan sebenarnya juga
mempunyai fungsi yang lain. Secara praktis, ejaan berfungsi untuk membantu
pemahaman pembaca di dalam mencerna informasi yang disampaikan secara
tertulis.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia


Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional lahir pada awal tahun dua
puluhan. Namun dari segi ejaan, bahasa indonesia sudah lama memiliki ejaan
tersendiri. Berdasarkan sejarah perkembangan ejaan, sudah mengalami perubahan
sistem ejaan, yaitu :
1. Ejaan Van Ophuysen
Ejaan ini mulai berlaku sejak bahasa Indonesia lahir dalam awal tahun dua
puluhan. Ejaan ini merupakan warisan dari bahasa Melayu yang menjadi dasari
bahasa Indonesia. Sebagai tindak lanjutnya, pada tanggal 19 maret 1947
dikeluarkanlah SK No. 246/Bhg. A/47 tentang ejaan oleh mentri pengajaran,
pendidikan dan kebudayaan saat itu, Yang hasilnya Ejaan Suwandi.
2. Ejaan Suwandi
Setelah ejaan Van Ophuysen diberlakukan, maka muncul ejaan yang
menggantikan, yaitu ejaan Suwandi. Ejaan ini berlaku mulai tahun 1947 sampai
tahun 1972.
3. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
Ejaan ini mulai berlaku sejak tahun 1972 sampai sekarang. Ejaan ini
merupakan penyempurnaan yang pernah berlaku di Indonesia. Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan (EYD) diterapkan secara resmi mulai tanggal 17
Agustus 1972 dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor :
57/1972 tentang peresmian berlakunya Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan.
4. Ejaan yang berlaku sekarang
Sesudah kemerdekaan negara Republik Indonesia, dirasakan banyak hal
yang kurang praktis terkait dengan ejaan bahasa yang ada saat itu. Oleh karenanya
dianjurkan

adanya

menginternasionalkan

perubahan

ejaan

menyangkut

agar

bahasa

aturan-aturan

penulisannya.
3.2 Pengertian EYD

atau

indonesia

lebih

kaidah-kaidah

Ejaan yang disempurnakan adalah ejaan bahasa indonesia yang berlaku


sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik atau
Ejaan Soewandi.Ejaan adalah seperangkat aturan tentang cara menuliskan bahasa
dengan menggunakan huruf, Kata, dan tanda baca sebagai sarananya. Batasan
tersebut menunjukan pengertian kata ejaan berbeda dengan kata mengeja.
Mengeja adalah kegiatan melafalkan huruf, suku kata, atau kata; sedangkan ejaan
adalah suatu sistem aturan yang jauh lebih luasdari sekedar masalah pelafalan.
Ejaan mengatur keseluruhan caramenuliskan bahasa.
Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa demi
keteraturan dan keseragaman bentuk, terutama dalam bahasa tulis.Keteraturan
bentuk akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna. Ibarat sedang
mengemudi kendaraan, ejaan adalah rambu lalu lintas yang harus dipatuhi oleh
setiap pengemudi. Jika para pengemudi mematuhi rambu-rambu yang ada,
terciptalah lalu lintas yang tertib dan teratur. Seperti itulah kira-kira bentuk
hubungan antara pemakai bahasa dengan ejaan.
3.3 Ruang Lingkup Ejaan Yang Disempurnakan (Eyd)
Ruang lingkup EYD mencakup lima aspek yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.

Pemakaian Huruf
Penulisan Huruf
Penulisan Kata
Penulisan Unsur Serapan dan
Pemakaian Tanda Baca

1) Pemakaian Huruf
Ejaan bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) dikenal paling
banyak menggunakan huruf abjad. Sampai saat ini jumlah huruf abjad yang
digunakan sebanyak 26 buah.
a. Huruf Abjad
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf
berikut. Nama setiap huruf disertakan disebelahnya.
No

10

11

12

13

14

15

Huruf

A
a

B
b

C
c

D
d

E
e

F
f

G
g

H
h

I
i

J
j

K
k

L
l

M N
m n

O
o

Nama

No

be

ce

de

ef

ge

ha

16

17

18

19

20

Huruf

P
p

Q
q

R
r

S
s

T
t

Nama

pe

ki

er

es

te

21

22

23

24

25

26

U
u

V W
v w

X
x

Y
y

Z
z

ve

eks

ye

zet

we

je

ka

el

em

en

b. Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas
huruf a, i, u, e, dan o. Contoh pemakaian huruf vokal dalam kata
Huruf Vokal
Di awal
Di tengah
Di akhir

a
api
padi
pipa

i
itu
simpan
murni

u
ulang
lusa
ibu

E
Enak
Petak
Ide

o
oleh
soreh
radio

c. Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia adalah
huruf yang selain huruf vokal yang terdiri atas huruf-huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l,
m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.
d. Huruf Diftong
Diftong adalah gabungan bunyi dalam satu suku kata Di dalam bahasa
Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, dan oi.Contoh
pemakaian dalam kata
Huruf Diftong
Di awal
Di tengah
Di akhir
e. Gabungan Huruf Konsonan

ai
ain
syaitan
pandai

au
aula
saudara
harimau

Oi
boikot
amboi

Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang


melambangkan konsonan, yaitu : kh, ng, ny, dan sy. Masing-masing
melambangkan satu bunyi konsonan. Contoh pemakaian dalam kata
Gabungan Huruf
Konsonan
Di awal
Di tengah
Di akhir

kh

ng

ny

sy

Khusus
Akhir
Tarikh

Ngili
Bangun
Senang

Nyata
Hanyut
-

Syarat
Isyarat
arasy

2) Penulisan Huruf
Dua hal yang harus diperhatikan dalam penulisan huruf berdasarkan EYD,
yaitu:
Penulisan huruf besar dan
Penulisan huruf miring.
Lebih jelasnya dapat dilihat pada pembahasan berikut :
a. Penulisan Huruf Besar (Kapital)
Kaidah penulisan huruf besar dapat digunakan dalam beberapa hal, yaitu :
1) Digunakan sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat. Misalnya :
Dia menulis surat di kamar.
Tugas bahasa Indonesia sudah dikerjakan.
2) Digunakan sebagai huruf pertama petikan langsung. Misalnya :
Ayah bertanya, Apakah mahasiswa sudah libur?.
Kemarin engkau terlambat, kata ketua tingkat.
3) Digunakan sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan
nama Tuhan, kata ganti Tuhan, dan nama kitab suci. Misalnya :
Allah Yang Maha kuasa lagi Maha penyayang.
Terima kasih atas bimbingan-Mu ya Allah.
4) Digunakan sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan , keturunan,
keagamaan yang diikuti nama orang. Misalnya :
Raja Gowa adalah Sultan Hasanuddin.
Kita adalah pengikut Nabi Muhammad saw.
5) Digunakan sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti
nama orang, pengganti nama orang tertentu, nama instansi, dan nama tempat.
Misalnya :

Wakil Presiden Yusuf Kalla memberi bantuan mobil.


Laksamana Muda Udara Abd. Rahman telah dilantik.
Dia diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Depdiknas.
Bapak Gubernur Sulawesi Selatan menerima laporan korupsi.

6) Digunakan sebagai huruf pertama unsur nama orang. Misalnya :


Ibrahim Naki
Nofayanti

10

7) Digunakan sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan nama bahasa.
Misalnya :
bangsa Indonesia
suku Sunda
bahasa Inggris
8) Digunakan sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan
peristiwa sejarah. Misalnya :
tahun Hijriyah hari Jumat
bulan Desember hari Lebaran
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
9) Digunakan sebagai huruf pertama nama geografi unsur nama diri. Misalnya :
Laut Jawa Jazirah Arab
Asia Tenggara Tanjung Harapan
10) Digunakan sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga
pemerintah, ketatanegaraan, dan nama dokumen resmi, kecuali terdapat kata
penghubung. Misalnya :
Republik Indonesia
Majelis Permusyawaratan Rakyat
11) Digunakan sebagai huruf pertama penunjuk kekerabatan atau sapaan dan
pengacuan. Misalnya :
Surat Saudara sudah saya terima.
Mereka pergi ke rumah Pak Lurah.
12) Digunakan sebagai huruf pertama kata ganti Anda. Misalnya :
Surat Anda telah saya balas.
Sudahkah Anda sholat?
13) Digunakan sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat dan
sapaan. Misalnya :
Dr. Ibrahim Naki
Abdul Manaf Husain, S.H
14) Digunakan sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang
terdapat pada nama badan lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta
dokumen resmi. Misalnya:
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.

11

15) Digunakan sebagai huruf pertama semua kata di dalam judul, majalah, surat
kabar, dan karangan ilmiah lainnya, kecuali kata depan dan kata penghubung.
Misalnya :
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Ia menyelesaikan makalah Asas-Asas Hukum Perdata.
b. Penulisan Huruf Miring
Huruf miring digunakan untuk :
1) Menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Misalnya :
Buku Negara kertagama karangan Prapanca.
Majalah Suara Hidayatullah sedang dibaca.
Surat kabar Pedoman Rakyat akan dibeli.
2) Menegaskan dan mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, dan kelompok kata.
Misalnya :
Huruf pertama kata abad adalah a.
Dia bukan menipu, tetapi ditipu.
Buatlah kalimat dengan kata lapang dada.
3) Menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing. Misalnya :
Politik devideet et impera pernah merajalela di Indonesia.
3) Penulisan Kata
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan kata, yaitu :
1) Kata Dasar
Kata dasar adalah kata yang belum mengalami perubahan bentuk, yang
ditulis sebagai suatu kesatuan. Misalnya :
Dia teman baik saya.
2) Kata Turunan (Kata berimbuhan)
Kaidah yang harus diikuti dalam penulisan kata turunan, yaitu :

Imbuhan semuanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Misalnya :


Membaca
Menulis
Terdengar
memasak.

12

Awalan dan akhrian ditulis serangkai dengan kata yang langsung


mengikuti atau mendahuluinya jika bentuk dasarnya berupa gabungan kata.
Misalnya :
Bertepuk tangan
Sebar luaskan.
Jika bentuk dasarnya berupa gabungan kata dan sekaligus mendapat
awalan dan akhiran, kata itu ditulis serangkai. Misalnya :
Menandatangani
Keanekaragaman.
Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi,
gabungan kata itu ditulis serangkai. Misalnya :
Antarkota
Mahaadil
Prakata.
3) Kata Ulang
Kata ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda (-). Jenis
jenis kata ulang yaitu :
Dwipurwa yaitu pengulangan suku kata awal. Misalnya :
Laki : Lelaki
Dwilingga yaitu pengulangan utuh atau secara keseluruhan. Misalnya:
Laki : Laki-laki
Dwilingga salin suara yaitu pengulangan variasi fonem. Misalnya :
Sayur : Sayur-mayur
Pengulangan berimbuhan yaitu pengulangan yang mendapat imbuhan.
Misalnya :
Main : Bermain-main
4) Gabungan Kata
Gabungan kata lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus.
Bagian-bagiannya pada umumnya ditulis terpisah.
Misalnya :
Mata kuliah
Orang tua.
Gabungan kata, termasuk istilah khusus yang menimbulkan kemungkinan
salah baca saat diberi tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur
bersangkutan.
Misalnya :

13

Ibu-bapak
Pandang-dengar
Gabugan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata ditulis serangkai.
Misalnya :
Daripada
Sekaligus
Bagaimana
Barangkali.
5) Kata Ganti (ku, mu, nya, kau)
Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
Sedangkan kata ganti ku, mu, nya ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya. Misalnya :
Kubaca
Kaupinjam
Bukuku
Tasmu
Sepatunya
6) Kata Depan (di, ke, dari)
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dengan kata yang
mengikutinya, kecuali pada gabungan kata yang dianggap padu sebagai satu kata,
seperti kepada dan daripada. Misalnya :
Jangan bermian di jalan
Saya pergi ke kampung halaman
Dewi baru pulang dari kampus.
7) Kata Sandang (si dan sang)
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Misalnya :
Nama si pengirim surat tidak jelas
Anjing bermusuhan dengan sang kucing.
8) Partikel
Partikel merupakan kata tugas yang mempunyai bentuk yang khusus, yaitu
sangat ringkas atau kecil dengan mempunyai fungsi-fungsi tertentu. Kaidah
penulisan partikel sebagai berikut :
Partikel lah, -kah, dan tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya : Bacalah buku itu baik-baik!
Apakah yang dipelajari minggu lalu?
Apatah gerangan salahku?

14

Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya kecuali yang dianggap
sudah menyatu.
Misalnya : Jika ayah pergi, ibu pun ikut pergi.
Partikel per yang berarti memulai, dari dan setiap. Partikel per ditulis terpisah
dengan bagian-bagian kalimat yang mendampinginya.
Misalnya : Rapor siswa dilihat per semester.
9) Singkatan dan Akronim
Singkatan adalah nama bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu
kata atau lebih.
Misalnya : dll = dan lain-lain
yth = yang terhormat
Akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan
suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang
diperlakukan sebagai kata.
Misalnya : SIM = Surat Izin Mengemudi dan IKIP = Institut Keguruan dan Ilmu
pendidikan
10) Angka dan Lambang Bilangan
Dalam bahasa Indonesia ada dua macam angka yang lazim digunakan ,
yaitu : (1) Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, dan (2) Angka Romawi : I,
II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X.
Lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut :
1) Bilangan utuh. Misalnya : 15 dan lima belas
2) Bilangan pecahan. Misalnya : dan tiga perempat
3) Bilangan tingkat. Misalnya : Abad II dan Abad ke-2
4) Kata bilagan yang mendapat akhiran an. Misalnya : tahun 50-an dan lima
puluhan
5) Angka yang menyatakan bilagnan bulat yang besar dapat dieja sebagian supaya
mudah dibaca. Misalnya : Sekolah itu baru mendapat bantuan 210 juta rupiah.
6) Lambang bilangan letaknya pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Kalau
perlu diupayakan supaya tidak diletakkan di awal kalimat dengan mengubah
struktur kalimatnya dan maknanya sama.

15

Misalnya : Dua puluh lima siswa SMA tidak lulus. (benar) dan 25 siswa SMA 1
tidak lulus. (salah)
7) Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis
dengan huruf, kecuali beberapa dipakai secara berurutan seperti dalam perincian
atau pemaparan. Misalnya : Amir menonton pertunjukan itu selama dua kali.

4) Penulisan Unsur Serapan


Dalam hal penulisan unsur serapan dalam bahasa Indonesia, sebagian ahli
bahasa Indonesia menganggap belum stabil dan konsisten. Dikatakan demikian
karena pemakai bahasa Indonesia sering begitu saja menyerap unsur asing tanpa
memperhatikan aturan, situasi, dan kondisi yang ada. Pemakai bahasa seenaknya
menggunakan kata asing tanpa memproses sesuai dengan aturan yang telah
diterapkan.
Penyerapan unsur asing dalam pemakaian bahasa indonesia dibenarkan,
sepanjang : (a) konsep yang terdapat dalam unsur asing itu tidak ada dalam bahasa
Indonesia, dan (b) unsur asing itu merupakan istilah teknis sehingga tidak ada
yang layak mewakili dalam bahasa Indonesia, akhirnya dibenarkan, diterima, atau
dipakai dalam bahasa Indonesia. sebaliknya apabila dalam bahasa Indonesia sudah
ada unsur yang mewakili konsep tersebut, maka penyerapan unsur asing itu tidak
perlu diterima.
Menerima unsur asing dalam perbendaharaan bahasa Indonesia bukan
berarti bahasa Indonesia ketinggalan atau miskin kosakata. Penyerapan unsur
serapan asing merupakan hal yang biasa, dianggap sebagai suatu variasi dalam
penggunaan bahasa Indonesia. Hal itu terjadi karena setiap bahasa mendukung
kebudayaan pemakainya. Sedangkan kebudayaan setiap penutur bahasa berbedabeda anatar satu dengan yang lain. Maka dalam hal ini dapat terjadi saling

16

mempengaruhi yang biasa disebut akulturasi. Sebagai contoh dalam masyarakat


penutur bahasa Indonesia tidak mengenal konsep radio dan televisi, maka
diseraplah dari bahasa asing (Inggris). Begitu pula sebaliknya, di Inggris tidak
mengenal adanya konsep bambu dan sarung, maka mereka menyerap bahasa
Indonesia itu dalam bahasa Inggris.
Berdasarkan taraf integritasnya, unsur serapan dalam bahasa Indonesia
dikelompokkan dua bagian, yaitu :

Secara adopsi, yaitu apabila unsur asing itu diserap sepenuhnya secara
utuh, baik tulisan maupun ucapan, tidak mengalami perubahan. Contoh
yang tergolong secara adopsi, yaitu : editor, civitas academica, de facto,
bridge.

Secara adaptasi, yaitu apabila unsur asing itu sudah disesuaikan ke dlaam
kaidah bahasa Indonesia, baik pengucapannya maupun penulisannya.
Salah satu contoh yang tergolong secara adaptasi, yaitu : ekspor, material,
sistem, atlet, manajemen, koordinasi, fungsi.

5) Pemakaian Tanda Baca


Tanda Titik (.)
Penulisan tanda titik di pakai pada :

Akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan


Akhir singkatan nama orang.
Akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.
Singkatan atau ungkapan yang sudah sangat umum.Bila singkatan itu

terdiri atas tiga hurus atau lebih dipakai satu tanda titik saja.
Dipakai untuk memisahkan bilangan atau kelipatannya.
Memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
Dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau
daftar.
Tidak dipakai pada akhir judulyang merupakan kepala karangan atau
ilustrasi dan tabel.
Tanda koma (,)
Kaidah penggunaan tanda koma (,) digunakan :
Antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang
didahului oleh kata tetapi atau melainkan.
17

Memisahkan anak kalimat atau induk kalimat jika anak kalimat itu
mendahului induk kalimatnya.
Digunakan dibelakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang
terdapat pada awal kalimat. Termasuk kata : (1) Oleh karena itu, (2) Jadi,
(3) lagi pula, (4) meskipun begitu, dan (5) akan tetapi.
Digunakan untuk memisahkan kata seperti : o, ya, wah, aduh, dan kasihan.
Memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Dipakai diantara : (1) nama dan alamat, (2) bagina-bagian alamat, (3)
tempat dan tanggal, (4) nama dan tempat yang ditulis secara berurutan.
Dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang
dinyatakan dengan angka.
Dipakai antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk
membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
Menghindari terjadinya salah baca di belakang keterangan yang terdapat
pada awal kalimat.
Dipakai di antara bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar
pustaka.
Dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak
membatasi.
Tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang
mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan
tanda tanya atau seru.
Tanda Titik Tanya ( ? )
Tanda tanya dipakai pada :
Akhir kalimat tanya.
Dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang
diragukan atau kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Tanda Seru ( ! )
Tanda seru dugunakan sesudah ungkapan atau pertanyaan yang berupa
seruan

atau

perintah

yang

menggambarkan

kesungguhan,

ketidakpercayaan, dan rasa emosi yang kuat.


Tanda Titik Koma ( ; )
Tanda titik koma dipakai :
Memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Memisahkan kalimat yang setara dalam kalimat majemuk sebagai
pengganti kata penghubung.
Tanda Titik Dua ( : )

18

Tanda titik dua dipakai :


Sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemberian.
Pada akhir suatu pertanyaan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
Di dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam

percakapan .
Di antara jilid atau nomor dan halaman.
Di antara bab dan ayat dalam kitab suci.
Di antara judul dan anak judul suatu karangan.
Tidak dipakai apabila rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap

yang mengakhiri pernyataan.


Tanda Elipsis ()
Tanda ini menggambarkan kalimat-kalimat yang terputus-putus dan
menunjukkan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dibuang. Jika yang
dibuang itu di akhir kalimat, maka dipakai empat titik dengan titik terakhir diberi
jarak atau loncatan.
Tanda Garis Miring ( / )
Tanda garis miring ( / ) di pakai :
Dalam penomoran kode surat.
Sebagai pengganti kata dan,atau, per, atau nomor alamat.
Tanda Penyingkat atau Apostrof ( )
Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan sebagian huruf.
Tanda Petik Tunggal ( )
Tanda petik tunggal dipakai :
Mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
Mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing.
Tanda Petik ( )
Tanda petik dipakai :
Mengapit kata atau bagian kalimat yang mempunyai arti khusus, kiasan
atau yang belum dikenal.
Mengapit judul karangan, sajak, dan bab buku, apabila dipakai dalam
kalimat.
Mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau
bahan tertulis lain.
Tanda Kurung ( )
Tanda kurung dipakai dalam hal-hal berikut:
Mengapit tambahan keterangan atau penjelasan

19

Mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian pokok


pembicaraan
Mengapit angka atau huruf yang memerinci satu seri keterangan
Tanda Kurung Siku [ ]
Tanda kurung siku digunakan untuk:
Mengapit huruf, kata atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan
pada akhir kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain
Mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung

BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
20

Berdasarkan pada uraian pada Bab terdahulu maka dapatlah ditarik beberapa
kesimpulan sebagai berikut:
1. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan penyempurnaan dari ejaanejaan sebelumnya. EYD diresmikan pada saat pidato kenegaraan
memperingati HUT Kemerdekaan RI XXVII, 17 agustus 1972. Ejaan ini
menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi.
Yang kemudian dikukuhkan dalam Surat Keputusan Presiden No. 57 tahun
1972. EYD ini hasil kerja panitia ejaan Bahasa Indonesia yang dibentuk
tahun 1966.
2. Ruang lingkup Eyd mencakup lima aspek yaitu :
1. Pemakaian Huruf
2. Penulisan Huruf
3. Penulisan Kata
4. Penulisan Unsur Serapan dan
5. Pemakaian Tanda Baca
4.2 SARAN
Dari tugas makalah ini, banyak hal yang dapat kita pelajari. Seperti halnya
yang sudah kami harapkan dan sampaikan pada kata pengantar tugas makalah ini,
yaitu semoga dengan terselesaikannya makalah ini dapat menambah wawasan kita
dan pemahaman kita mengenai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
Serta harapan dengan mempelajari ejaan yang disempurnakan maka proses
pembelajaran, pemahaman, dan penulisan bahasa Indonesia akan menjadi lebih
mudah. Untuk itu pelajarilah ejaan yang disempurnakan dengan sungguh agar
dapat dimengerti.

DAFTAR PUSTAKA
Sugihastuti, dkk. 2006. Editor Bahasa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
Finoza, Lamudin. 1993.Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi Insan Mulia,.
Alwi, Hasan. Dkk. 2003, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi-2. Jakarta:
Balai Pustaka.
21

_______. 1992, Pedoman Umum Ejaan Yang Disempurnakan. Jakarta: Balai


Pustaka 1991
http://abasawatawalla01.blogspot.co.id/2013/02/ejaan-yang-disempurnakan-eydpengertian.html
http://aans.mywapblog.com/eyd-pemakaian-huruf-4.xhtml
http://aans.mywapblog.com/eyd-penulisan-huruf.xhtml
http://aans.mywapblog.com/eyd-penulisan-kata.xhtml
http://aans.mywapblog.com/eyd-penulisan-unsur-serapan.xhtml
http://aans.mywapblog.com/eyd-pemakaian-tanda-baca.xhtml

22