Anda di halaman 1dari 3

Policy Brief

Strategi Sukses ASI Eksklusif


Executive Summary
Pernyataan Isu
Air susu ibu (ASI) mengandung gizi tinggi yang amat bermanfaat untuk
kesehatan bayi. WHO merekomendasikan bayi harus mendapatkan ASI eksklusif
selama 6 bulan. Tetapi sayang dengan alasan bekerja, tidak semua perempuan bisa
memberikan ASI pada bayinya. Praktek menyusui bukanlah persoalan sederhana.
Menyusui bukan sekedar memberi asupan nutrisi bagi bayi langsung dari
payudara sang ibu. Tetapi, ada banyak hal yang perlu untuk dinegosiasikan
terutama bagi perempuan yang bekerja.
Dalam penelitian tentang ASI Eksklusif yang dilakukan oleh Desintha Dwi
Asriani, MA, Sosiolog Universitas Gadjah Mada diketahui bahwa sebagian
perempuan terutama yang bekerja di pabrik tidak berhasil memberikan ASI
Eksklusif kepada bayinya. Ada beberapa faktor penyebabnya, yakni pendeknya
masa cuti melahirkan, tidak ada sistem cuti menyusui, terbatasnya waktu istirahat,
tidak ada fasilitas ruang laktasi, tidak punya lemari penyimpan ASI, faktor
kelelahan, maupun persoalan cultural yakni malu jika memerah ASI di tempat
bekerja.
Tak hanya sampai di situ, kondisi saat perempuan tidak mampu
memberikan ASI Eksklusif ternyata memberikan dampak psikologis yang lebih
kompleks. Ada perasaan bersalah, takut, sedih, menyesal dan gagal karena tidak
bisa menjadi sosok ibu ideal seperti yang dituntut dalam masyarakat. Pada
akhirnya praktek menyusui dinilai sebagai persoalan konstruktif.
Latar Belakang Masalah
Dari data riset kesehatan dasar 2013, diketahui bahwa tingkat pemberian
ASI Eksklusif untuk bayi di Indonesia baru mencapai angka 38%. Jika
dibandingkan dengan target organisasi kesehatan dunia (WHO) yang mencapai 50
persen, maka angka tersebut masih jauh dari target. Jumlah kelahiran di Indonesia

mencapai angka 4,7 juta per tahun, sementara jumlah bayi yang memperoleh ASI
Eksklusif selama enam bulan bahkan hingga dua tahun ternyata tidak mencapai
dua juta jiwa.
Saat ini dari 114 juta jiwa pekerja, 38 persen (43,3 juta) adalah pekerja
perempuan dan 25 juta merupakan usia produktif. Data ILO 2015 menyebutkan
dari 142 perusahaan yang berada di Jakarta hanya 85 perusahaan yang memiliki
ruang ASI. Itu artinya peraturan pemerintah belum terlaksana secara menyeluruh
dan merata. Semntara di sisi lain promosi susu formula sangat gencar dilakukan
perusahaan susu.
Pre-Existing Policies
Untuk mendukung pemberian ASI ditempat kerja, sebenarnya pemerintah
telah menerbitkan berbagai aturan. Misalnya UU Kesehatan no 39/2009, UU
Ketenagakerjaan no 13/2009, Peraturan Pemerintah no 33/2012 tentang
pemberian ASI eksklusif dan Permenkes no 15 tahun 2013 tentang tata cara
penyediaan fasilitas khusus menyusui.
Pemerintah telah menjamin perlindungan pemberian ASI eksklusif melalui
Peraturan Pemerintah No. 33 tahun 2012. Berdasarkan Peraturan Pemerintah
tersebut, ASI eksklusif merupakan hak dari setiap bayi. Beberapa isi dari
peraturan pemerintah tersebut meliputi pernyataan bahwa setiap ibu yang
melahirkan harus memberikan asi eksklusif kepada bayinya, tenaga kesehatan dan
penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan wajib melakukan inisiasi menyusui
dini terhadap ibu pada bayi yang baru dilahirkannya paling singkat selama satu
jam. Tenaga kesehatan dan penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan juga
wajib menempatkan ibu dan bayi dalam satu ruangan atau rawat gabung kecuali
ada indikasi medis yang ditetapkan dokter. Selain itu, pemberian susu formula
untuk bayi pun dilarang kecuali dalam kondisi tertentu. Tempat kerja dan sarana
umum pun harus mendukung pemberian asi eksklusif dengan menyediakan
fasilitas khusus memerah asi eksklusif.
Namun pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 33 Tahun 2012 tentang
Pemberian ASI Eksklusif selalu merujuk pada subyek anak. Perempuan cenderung

tidak dimunculkan sebagai subyek yang utama. Wacana bahwa menyusui juga
merupakan persoalan hak seorang ibu, tidak selalu ditampilkan.
Pilihan Kebijakan
Sebagai solusi atas permasalahan tesebut, Kementerian Kesehatan
menggulirkan Program Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif (GP2SP).
Salah satu ruang lingkup kegiatannya berupa peningkatan pengelolaan ASI selama
waktu kerja. GP2SP merupakan kerjasama antara Kementerian Kesehatan RI
dengan beberapa instansi. Adapun tujuannya adalah untuk meningkatkan status
kesehatan gizi pekerja perempuan demi mencapai produktivitas yang maksimal.
Negara kita juga meratifikasi Konvensi ILO no 183 tahun 2000 tentang
Perlindungan Maternitas di Tempat Kerja, yang menyatakan setiap negara
diharuskan memberikan perlindungan dan dorongan kepada ibu agar berhasil
memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya.
UU Ketenagakerjaan pasal 83

menyebutkan pekerja atau buruh

perempuan yang anaknya masih menyusu harus diberi kesempatan sepatutnya


untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja.
Keuntungan dan Kelemahan
Rekomendasi
Sources Consulted or Recommended