Anda di halaman 1dari 14

KEPULAUAN MENTAWAI

Selasa, 10 Juni 2014


SPESISIFIKASI TEKINIS PEKERJAAN PEMBANGUNAN PAGAR KANTOR BUPATI
KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI

PASAL 1
LINGKUP PEKERJAAN
1.

Pekerjaan yang dilaksanakan adalah seperti tertera pada Gambar dan


atau BOQ (Bill of Quantity)

2.

Perincian bagian pekerjaan yang dilaksanakan didasarkan pada gambar


rencana, BOQ dan Spesifikasi Teknis yang menjadi bagian tidak terpisahkan
dari rencana kerja dan syarat-syarat ini.

3.

Sarana bekerja dan tata cara pelaksanaan.

a.

Untuk kelancaran pekerjaan Pihak Kedua harus menyediakan Site


Manager/Tenaga Kerja Terampil/Tenaga Ahli yang dianggap memadai
dilapangan sebagai penanggung jawab penuh dengan wewenang penuh
dilapangan.

b.

Pihak Kedua harus menyediakan semua peralatan yang nyata-nyata


diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan. Direksi berhak meminta Pihak
Kedua mengadakan peralatan pembantu pekerjaan yang dianggap perlu
untuk menjamin kecepatan, mutu dan ketepatan pekerjaan seperti beton
molen ( mixer beton ), vibrator, pompa air, alat penarik, pengangkat dan
pengangkut horizontal dan vertikal, mesin pemadat, alat-alat gali, alat
pancang, bor tanah, alat penyipat datar ( theodolit, waterpass dan lain-lain )
atau peralatan yang benar-benar diperlukan dan dipakai dalam
pelaksanaan..

c.

Semua biaya mobilisasi dan


diperhitungkan Pihak Kedua.

d.

Pihak Kedua wajib meneliti situasi tapak-job site dan hal lain yang dapat
mempengaruhi penawaran.

e.

Untuk itu sebelum pelaksanaan pekerjaan, Pihak Kedua wajib melakukan


survey ulang guna memperoleh akurasi data yang akurat.

f.

Kelalaian atau kekurang telitian kontraktor dalam hal ini tidak dapat diajukan
sebagai alasan untuk mengajukan klaim.

g.

Pekerjaan harus dilaksanakan dengan penuh keahlian sesuai dengan


ketentuan-ketentuan dalam Spesifikasi Teknis, gambar rencana, Berita Acara

sewa

pakai

peralatan

dianggap

telah

Penjelasan,
Pengawas.
h.

Berita

Acara

Rapat

Lapangan,

serta

petunjuk

Konsultan

Bahan-bahan bangunan dalam jumlah yang cukup, untuk setiap macam


pekerjaan yang akan dilaksanakan paling lambat 4 ( empat ) hari sebelum
pekerjaan dimaksud dilaksanakan
PASAL 2
PERATURAN TEKNIS BANGUNAN YANG DIGUNAKAN
1.

Kecuali ditentukan lain dalam Dokumen ini, berlaku dan mengikat ketentuanketentuan tersebut dibawah ini termasuk segala perubahan dan tambahannya.
a.

UndangUndang .No 18 Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi

b.

Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 2000 Tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi

c.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 43/PRT/M/2007 , tentang standar dan Pedoman Pengadaan Jasa
Konstruksi.

d.

Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI 1991), SK SNI T-15.1993

e.

Tata Cara pengadukan dan pengecoran beton SNI 03-3976-1993

f.

Peraturan Muatan Indonesia NI. 8 dan Indonesian Loading Code 1987 (SKBI-1.2.53.1987)

g.

Peraturan Konstruksi Kayu di Indonesia (PKKI)NI 5

h.

Pedoman Perencanaan Penanggulangan Longsoran SNI 03-1962-1990

i.

Mutu Kayu Bangunan SNI 03-3527-1984

j.

Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) SNI 04-0225-1987

k.

Peraturan Umum Keselamatan Kerja dari Departemen Tenaga Kerja

l.

Peraturan Semen Portland Indonesia NI 8 tahun 1972

m.

Peraturan dan ketentuan yang dikeluarkan Pemerintah Daerah setempat yang bersangkutan dengan
permasalahan bangunan.

2.

Apabila penjelasan dalam Dokumen ini tidak sempurna atau belum lengkap
sebagaimana ketentuan dan syarat dalam peraturan diatas, maka Kontraktor
wajib mengikuti ketentuan peraturan-peraturan yang disebutkan diatas.

PASAL 3
PEKERJAAN PERSIAPAN
1.

Persyaratan Bahan

a. Untuk penampungan air kerja disiapkan drum penampung, air harus


memenuhi kualitas yang ditentukan dalam PBI 1991.
b. Untuk papan nama proyek digunakan tiang dari kayu dan triplek dicat putih.

c. Bahan bouwplank dipakai tiang kayu meranti atau sengon 5/7 dan papan
meranti atau sengon ukuran 2/20 cm.
d. Untuk alat-alat kerja berupa kotak adukan, kotak takaran, gerobak dorong
dan lain-lain digunakan bahan kayu setempat.
2.

Pedoman Pelaksanaan

a. Pengadaan air untuk pelaksanan pekerjaan


Pengadaan air untuk pelaksanaan pekerjaan diambil dari sumber air
terdekat, kemudian ditampung dalam drum-drum yang telah disediakan.
Kebutuhan air ini harus disediakan dalam jumlah yang cukup selama
pelaksanaan pekerjaan. Air harus memenuhi syarat yang tercantum dalam
PBI NI 2.
b. Pembuatan papan nama proyek
Membuat papan nama proyek dari papan dengan ukuran 200 x 100 cm.
Didirikan tegak diatas kayu 5/7 cm setinggi 240 cm. Diletakkan pada tempat
yang mudah dilihat umum. Papan nama proyek memuat
1). Nama proyek
2). Pemilik Proyek
3). Lokasi Proyek
4). Jumlah biaya (kontrak)
5). Nama Konsultan Perencana
6). Nama Konsultan Pengawas
7). Nama Pelaksana (Kontraktor)
8). Proyek dimulai tanggal, bulan, tahun
c

Pemasangan Bouwplank
Tiang Bouwplank harus terpasang kuat. Papan diketam halus dan lurus
pada sisi atasnya dan dipasang waterpass (timbang air) dengan sudutsudutnya harus siku.
PASAL 4
PEKERJAAN STAKING OUT

1.

Untuk menentukan posisi dan ketinggian rencana bangunan di lapangan


Pemborong harus melakukan pengukuran di lapangan secara teliti dan
benar, sesuai dengan referensi Bench Mark atau titik tetap di lapangan
seperti ditunjukan dalam gambar atau atas petunjuk Direksi.

2.

Pengukuran untuk penentuan posisi dilakukan dengan peralatan yang


mempunyai presisi tinggi dengan metode trianggulasi dan hasilnya
disampaikan ke Direksi untuk mendapatkan persetujuan.

3.

Dalam hal terdapat perbedaan rencana gambar dan hasil pengukuran yang
dilaksanakan pemborong dengan kenyataan yang ada di lapangan, maka
sebelum melanjutkan pekerjaan yang mungkin di pengaruhi perbedaan
tersebut Pemborong harus melaporkan hal ini kepada Direksi untuk
mendapatkan keputusan dan dinyatakan dalam Berita Acara.

4. Keputusan akan hasil pengukuran oleh Pemborong akan didasarkan atas


keamanan konstruksi dan kelancaran operasional penggunaan bangunan
tersebut.
PASAL 5
PATOK-PATOK REFERENSI, BOUPLANK dan PENGUKURAN
1.

Direksi akan menetapkan 1 (satu) Bench Mark sebagai referensi yang


ditetapkan di lapangan. Bila Bench Mark belum ada maka pemborong
berkewajiban membuat Bench Mark sesuai dengan petunjuk Direksi.

2.

Pemborong harus atau wajib membuat Bowplank dan memasang patokpatok pembantu sebagai pedoman pelaksanaan pekerjaan untuk menjamin
ketelitian bentuk, posisi, arah elevasi dan lain-lain, yang harus dipelihara
keutuhan letak dan ketinggiannya selama pekerjaan berlangsung.

3.

Sebelum pekerjaan dimulai patok-patok pembantu, Bowplank harus


disetujui Direksi. Patok-patok dan referensi lainnya tidak boleh disingkirkan
sebelum diperintahkan oleh Direksi.
PASAL 6
DAERAH KERJA DAN JALAN MASUK
Pemborong akan diberikan daerah kerja untuk pelaksanaan pekerjaan ini. Lokasi
tersebut dapat diperoleh dengan cara sewa/pinjam berdasarkan ketentuan yang
berlaku. Harus membatasi operasinya di lapangan yang betul-betul diperlukan
untuk pekerjaan tersebut.

Tata letak yang meliputi jalan masuk, lokasi penyimpanan bahan bangunan
dan jalur pengangkutan material dibuat oleh Pemborong dengan
persetujuan Direksi.

PASAL 7
MATERIAL
1.

Material yang dipakai dalam pekerjaan-pekerjaan ini diutamakan produksi dalam


negeri yang memenuhi persyaratan teknis yang ditentukan.

2.

Jika pemborong memiliki bahan lain yang akan digunakan selain yang
disyaratkan, maka mutunya minimal harus sama dengan yang diisyaratkan

dalam Dokumen Lelang, sebelum pemesanan bahan harus diberitahu pada


Direksi yang meliputi jenis, kualitas dan kuantitas bahan yang dipesan untuk
mendapatkan persetujuan.
PASAL 8
LALU LINTAS
Dalam melaksanakan pekerjaan dan pengangkutan bahan-bahan untuk
keperluan pekerjaan. Pemborong harus berhati-hati sedemikian rupa
sehingga tidak mengganggu kelancaran lalu lintas atau menimbulkan
kerusakan terhadap jalan yang telah ada dan prasarana lainnya. Bilamana
terjadi kerusakan, Pemborong berkewajiban untuk memperbaiki /mengganti.
PASAL 9
CUACA
Pekerjaan harus diberhentikan apabila cuaca tidak mengijinkan yang
mengakibatkan penurunan mutu suatu pekerjaan.
PASAL 10
SERVICE SEMENTARA
Pemborong harus menyediakan air dan listrik yang diperlukan selama
pelaksanaan pekerjaan berlangsung.
PASAL 11

UMUM
1.

Semua bahan-bahan yang akan dipakai dalam pekerjaan ini harus


memenuhi ketentuan-ketentuan umum yang berlaku di Indonesia, mengenai
bahan bangunan serta persyaratannya akan dicantumkan di bawah ini.

2.

Bilamana akibat satu dan lain hal bahan yang diisyaratkan tidak dapat
diperoleh. Pemborong boleh mengajukan usul perubahan kepada Direksi
sepanjang mutunya paling tidak sama atau lebih tinggi dari apa yang
diisyaratkan.

3.

Direksi akan menilai dan memberikan persetujuan secara tertulis sepanjang


memenuhi persayaratan teknis dan Pemborong diwajibkan untuk sedapat
mungkin mempergunakan bahan-bahan produksi dalam negeri.
PASAL 12
SEMEN

1.

2.
3.
4.

5.

6.
7.

Kecuali ditentukan oleh Pengawas semen yang digunakan semen type I


sesuai ASTM C 150, dan segala sesuatu harus mengikuti ketentuan dalam
SK-SNI T-15-1991-03. Semen yang digunakan harus merupakan produk dari
suatu pabrik yang telah mendapat persetujuan Pengawas terlebih
dahulu. Tidak boleh memakai semen (PC) yang sudah mengeras (Swepi
ng).
Kontraktor harus menunjukkan sertifikat dari produsen dari setiap
pengiriman semen, yang menunjukkan produk tadi telah memenuhi suatu
test standart yang lazim digunakan untuk material.
Pengawas berhak untuk memeriksa semen yang disimpan dalam gudang
pada setiap waktu sebelum dipergunakan dan dapat menyatakan untuk
menerima atau tidak semen-semen tersebut.
Kontraktor harus menyediakan tempat / gudang penyimpanan semen pada
tempat-tempat yang baik sehingga tersebut senantiasa terlindung dari
kelembaban atau keadaan cuaca lain yang merusak, terutama sekali tempat
lantai penyimpanan tadi harus kuat dan berjarak minimal 30 cm dari
permukaan tanah.
Semen dalam kantong-kantong semen tidak boleh ditumpuk lebih tinggi
dari dua meter. Tiap-tiap menerima semen harus disimpan sedemikian rupa
sehingga dapat dibedakan dengan penerimaan-penerimaan sebelumnya.
Pengeluaran semen harus diatur secara kronologis sesuai dengan
penerimaan. Kantong-kantong semen yang kosong harus segera dikeluarkan
seluruhnya.
Kontraktor harus mengambil pengelola yang cakap, yang mengawasi
gudang-gudang semen dan mengadakan catatan-catatan yang cocok dari
penerimaan dan pemakaian semen seluruhnya.
Tindasan dari catatan-catatan harus disediakan untuk Pengawas bila
dikehendaki, yaitu jumlah semen yang digunakan selama hari itu ditiap
bagian kerja.

PASAL 13
AIR KERJA
1.

Air yang digunakan untuk bahan beton, adukan pemasangan dan grouting,
bahan pencuci agregat dan untuk curing beton, harus air tawar yang bersih
dari bahan-bahan yang berbahaya bagi penggunaannya seperti minyak,
alkali, sulfat, bahan organis, garam, silt (lanau), kadar silt (lanau) yang
terkandung dalam air tidak boleh lebih dari 2% dalam perbandingan
beratnya. Kadar sulfat maksimum yang diperkenankan adalah 0,5% atau 5
gram / liter, sedangkan kadar chloor maksimum 1,5% atau 15 gram / liter.

2.

Kontraktor tidak diperkenankan menggunakan air dari rawa, air laut, air
payau dan sumber air yang berlumpur. Tempat pengambilan harus dapat

menjaga kemungkinan terbawanya material-material yang tidak diinginkan


tadi. Sedikitnya harus ada jarak vertikal 0,5 meter dari permukaan atas air
kesisi tempat pengambilan tadi.
3.

Apabila diadakan perbandingan test beton antara beton yang diaduk


dengan aquadest dibandingkan dengan beton yang diaduk menggunakan air
dari satu sumber dan hasilnya menunjukkan indikasi ketidak pastian dalam
mutu beton walaupun telah digunakan semen yang sama telah disetujui,
maka air dari sumber tadi tidak dapat dipakai bila hasil perbandingan test
tadi menunjukkan harga-harga yang berbeda lebih kecil dari 10 persen. Test
tadi dapat dibandingkan dari mutu kekuatan, dan juga dari waktu
pengerasannya. Dalam keadaan ditolak ini, pemborong diwajibkan mencari
sumber lain yang lebih baik dan dapat diterima dan disetujui Pengawas.
PASAL 14
AGREGAT HALUS

1.
a.
b.
c.
2.

3.

a.

b.

Didalam spesifikasi ini dipakai bermacam-macam jenis untuk pekerjaan


bangunan yang ditetapkan sebagai berikut :
Pasir buatan : Pasir yang dihasilkan dari mesin pemecah batu.
Pasir alam : Pasir yang disediakan oleh kontraktor dari sungai atau pasir
alam yang didapat dari persetujuan Direksi
Pasir paduan : Paduan dari pasir buatan dan pasir alam dengan
perbandingan campuran sehingga mencapai gradasi ( susunan butiran )
yang dikehendaki
Semua pasir alam yang dibutuhkan untuk pekerjaan pembangunan harus
disediakan oleh kontraktor dan dapat diperoleh dari sungai atau tempat lain
sumber alam yang disetujui. Jika pasir alam didapat dari sumber-sumber
yang tidak dimiliki atau tidak dikuasai kontraktor, kontraktor harus
mengadakan persetujuan yang perlu dengan pemiliknya dan harus
membayar semua sewa atau biaya lain yang bersangkutan dengan hal
tersebut.
Persetujuan untuk sumber-sumber pasir alam tidak dimaksud sebagai
persetujuan keseluruhan untuk semua bahan yang diambil dari alam
tersebut, dan kontraktor harus bertanggung jawab untuk kualitas satu demi
satu dari bahan sejenis yang dipakai dalam pekerjaan.
Pasir untuk beton, adukan dan grouting harus meruapakan pasir alam, pasir
hasil pemecahan batu dapat digunakan untuk mencampur agar didapat
gradasi pasir yang baik. Pasir yang di pakai harus mempunyai kadar air yang
merata dan stabil, dan harus terdiri dari butiran yang keras, padat, tidak
terselaput oleh material lain.
Pasir yang ditolak oleh Pengawas, harus segera disingkirkan dari lapangan
kerja. Dalam melaksanakan adukan baik untuk adukan beton, plesteran
ataupun grouting, pasir tidak dapat digunakan sebelum mendapat
persetujuan Pengawas mengenai mutu dan jumlahnya.

c.

Pasir harus bersih dan bebas dari gumpalan-gumpalan tanah liat, alkali,
bahan-bahan organik dan kotoran-kotoran lainnya yang merusak. Berat
substansi yang merusak tidak boleh lebih dari 5%.
d. Pasir beton harus mempunyai modulus kehalusan butir sesuai dengan
persyaratan pada SK-SNI T-15-1991-03.

PASAL 15
AGREGAT KASAR
1.

Agregat kasar untuk beton dapat berupa koral dari alam, batu pecah atau
campuran dari keduanya. Koral yang dipakai harus mempunyai kadar air
yang merata dan stabil. Sebagaimana juga pada pasir, koral keras, padat,
tidak poros dan tidak berselaput material lain. Dalam penggunannya koral
harus dicuci terlebih dahulu dan diayak agar dapat gradasi sesuai dengan
yang dikehendaki, mempunyai modulus kehalusan butir antara 6 sampai 7,5
atau bila diselidiki dengan saringan standart harus sesuai dengan SK-SNI T15-1991-03 dan material yang halus yaitu yang lebih kecil dari 5 mm harus
disingkirkan.

2.

Koral yang sudah tersedia tidak dapat langsung digunakan sebelum


mendapat persetujuan dari Pengawas baik mengenai mutu ataupun
jumlahnya.

3.

Kontraktor diwajibkan memperhatikan pengaturan komposisi material untuk


adukan, baik dengan menimbang ataupun volume, agar dapat dicapai mutu
beton yang direncanakan, memberikan kepadatan maksimum, baik
workebilitynya, dan memberikan kondisi watercement ratio yang maksimum.
PASAL 16
BESI SIKU L30.30.3

1.

Baja tulangan harus memenuhi standart ketentuan dalam SK-SNI 07-20542006 dengan profil berpenampang L dengan yang dihasilkan dari proses
canai panas (hot rolling mill) dengan lebar kedua kaki sama dan tebal kedua
kaki sama
2. Semua ukuran Besi siku harus sesuai dengan standar yg ditetapkan
3. Bebas dari kotoran-kotoran, lapisan lemak / minyak, dan tidak bercacat
seperti retak, dan tolaransi karat ringan yaitu karat yang apabila digosok
secara manual tidak menimbulkan cacat pada permukaan
PASAL 17
PEKERJAAN BETON

1. Pekerjaan Pondasi Terdiri Dari :


a. Pekerjaan Pondasi didahului dengan lantai kerja beton campuran 1pc : 3ps :
5kr dan bekisting sesuai gambar kerja.
b. Pondasi bangunan dibuat pondasi telapak dengan lebar dan tebal sesuai
gambar, menggunakan beton campuran 1pc : 2ps : 3kr .
a.

Pengecoran.

Sebelum adukan dituangkan pada acuannya, kondisi permukaan dalam dari


bekisting atau tempat beton dicorkan harus benar-benar bersih dari segala
macam kotoran. Semua bekas-bekas beton yang tercecer pada baja
tulangan dan bagian dalam bekisting harus dengan segera dibersihkan.
Air tergenang pada acuan beton atau pada tempat beton akan dicor harus
segera dihilangkan. Aliran air yang dapat mengalir ketempat beton dicor,
harus dicegah dengan mengadakan drainase yang baik atau dengan metode
lain yang disetujui Pengawas, untuk mencegah jangan sampai beton yang
baru dicor menjadi terkikis pada saat atau setelah proses pengecoran.
Pengecoran tidak boleh dimulai sebelum kondisi bekisting, tempat beton
dicor, kondisi pemukaan beton yang berbatasan dengan daerah yang akan
dicor, dan juga keadaan pembesian selesai diperiksa dan disetujui oleh
Pengawas. Setelah diperiksa dan disetujui Pengawas maka pekerjaan yang
dapat dilakukan hanyalah pekerjaan dalam atau terhadap bekisting sampai
selesainya pengecoran beton pada daerah yang telah disetjui, terkecuali
dengan seijin Pengawas.
Dalam hal ini terjadi kerusakan alat pada saat pengecoran, atau dalam hal
pelaksanaan suatu pengecoran tidak dapat dilaksanakan dengan menerus.
Kontraktor harus segera memadatkan adukan yang sudah dicor sampai
batas tertentu dengan kemiringan yang merata dan stabil saat beton masih
dalam keadaan plastis. Bidang pengakhiran ini harus dalam keadaan bersih
dan harus dijaga agar berada dalam keadaan lembab sebagaimana juga
pada kondisi untuk construction joint, sebelum nantinya dituangkan adukan
yang masih baru. Bila terjadi penyetopan pekerjaan pengecoran yang lebih
lama dari satu jam, pekerjaan harus ditangguhkan sampai suatu keadaan
dimana beton sudah dinyatakan mulai mengeras yang di tentukan oleh pihak
Pengawas.
Beton yang baru selesai dicor, harus dilindungi terhadap rusak atau terganggu
akibat sinar matahari ataupun hujan. Juga air yang mungkin mengganggu
beton yang sudah dicorkan harus ditanggulangi sampai suatu batas waktu
yang disetujui Pengawas terhitung mulai pengecorannya. Tidak sekalipun
diperkenankan melakukan pengecoran beton dalam kondisi cuaca yang tidak
baik untuk proses pengerasan beton tanpa suatu upaya perlindungan
terhadap adukan beton, hal ini bisa dalam terjadi baik dalam keadaan cuaca
yang panas sekali atau dalam keadaan hujan. Perlindungan yang dilakukan
untuk mencegah hal-hal ini harus mendapat persetujuan Pengawas.
Apabila pengecoran beton harus dihentikan, maka tempat penghentiannya
harus disetujui oleh Direksi/Konsultan Pengawas

b.

Pemadatan dan adukan beton.

Adukan beton harus dipadatkan hingga mencapai kepadatan yang


maksimum sehingga didapat beton yang terhindar dari rongga-rongga yang
timbul antara celah-celah koral, gelembung udara, dan adukan tadi harus
benar-benar memenuhi ruang yang dicor dan menyelimuti seluruh benda
yang seharusnya tertanam dalam beton. Selama proses pengecoran, adukan
beton harus dipadatkan dengan menggunakan vibrator yang mencukupi
keperluan pekerjaan pengecoran yang dilakukan. Kekentalan adukan beton
dan lama proses pemadatan harus diatur sedemikian rupa agar dicapai
beton yang bebas dari rongga, pemisahan unsur-unsur pembentuk rongga.
Beton yang sudah dicor harus dijaga agar tidak kehilangan kelembaban
untuk paling sedikit 14 (empat belas) hari. Untuk keperluan tersebut
ditetapkan cara karung-karung goni yang senantiasa basah sebagai penutup
beton.
PASAL 20
PEKERJAAN BESI SIKU
a.

Lingkup Pekerjaan
Tiang Besi Siku
Pemasangan tiang besi dilakukan untuk seluruh bagian dari pagar bangunan
atau seperti dalam gambar dan dijelaskan dalam gambar detail.

b.

Persyaratan Bahan

1.

Besi Siku
Bentuk standar besi siku adalah bentuk L, bersudut siku-siku dan tajam,
permukaan rata dan tidak menampakan adanya retak-retak yang merugikan.
Memiliki ketebalan kaki yang sama dan panjang kaki yang sama. Yang
dihasilkan dari proses canai panas (hot rolling mill)

2.

Kawat Las
Kawat Las Alumunium yang mengandung 5% silicon untuk penyambungan
yang berlainan gradenya
Kekuatan Tarik: 34.000 psi
Kekerasan: BHN 40 45
Arus Listrik: DC+
Diameter 2,5 mm = 50 80 A
Diameter 3,2 mm = 70 110 A

c.

Pedoman Pelaksanaan

1.

Pekerjaan besi siku mempunyai 2 (dua) macam, yaitu :

a.

Pelobangan Besi Siku

b.

Pengelasan Sambungan

2.

Persyaratan
Pemasangan dan Pengelasan harus disesuaikan dengan spesifikasi yang
sudah ditentukan dalam spek ini

3.

Pengukuran harus dilakukan oleh Kontraktor secara teliti dan sesuai


gambar, dengan syarat semua pasangan
PASAL 20
PEKERJAAN PEMASANGAN PAGAR KAWAT BERDURI

a.

Lingkup Pekerjaan
Pagar Kawat Berduri
Pemasangan Pagar Kawat dikerjakan untuk seluruh bagian dari pagar
bangunan atau seperti dalam gambar dan dijelaskan dalam gambar detail.

a.
1.

Persyaratan Bahan
Pagar Kawat

2.

b.

Kawat Duri Berkwalitas SNI : 07-0107-1987 Dengan Bahan Kawat Hot


Dipped Galvanized Kwalitas SNI Dengan Specifikasi Sbb. : - Kawat = Bwg 14
(2,10Mm) - Duri = Bwg 12 (2,85 Mm) - Dimensi = 26 X 26 X 30,5 Cm - 1 Kg =
+/- 7,7 Mt (4,2 Kg = +/- 32,5 Mt, Pegangan = 0,04 Kg - Kemasan=4,2 Kg;4,3
Kg;4,5 Kg / Roll
Pedoman Pelaksanaan

1.
c.

Pengukuran Hasil Kerja


Pekerjaan ini dapat dinilai sebagai kemajuan pekerjaan apabila telah selesai
dilaksankan sesuai dengan gambar Rencana dan Spesifikasi Teknis yang
telah disyahkan oleh Direksi/ Pengawas Lapangan.

Pasal 21
PEMASANGAN PIPA

a.
1.

Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan Pemasangan Pipa meliputi pemasangan jaringan pipa GIP yang
tertera dalam gambar kerja,

b.
1.
2.

Bahan-bahan yang digunakan


Pipa GIP dia 2,5 dengan jarak yang sudah ditentukan pada gambar bestek.
Pipa yang digunakan harus sesuai dengan spek yang sudah ditentukan dan
bersih dari segala material perusak

b.

Pedoman Pelaksanaan
Pemasangan pipa serta jenis yang dipakai harus dikerjakan sesuai dengan
gambar. Sedangkan system pemasangan pipa-pipa listrik pada dinding
maupun beton harus ditanam (system inbouw)

1.

c.

Pengukuran hasil Kerja


Pekerjaan ini dapat dinilai sebagai kemajuan apabila telah selesai dipasang
sesuai dengan gambar Rencana dan Spesifikasi ini serta telah disyahkan oleh
Direksi/ Pengawas Lapangan.
Pasal 22
PEKERJAAN PLESTERAN DINDING

Pekerjaan Plesteran
Lingkup Pekerjaan
Meliputi pekerjaan permukaan dinding pada semua tembok yang dikerjakan
dengan pasangan beton, yang tidak dinyatakan dalam gambar sebagai
penyelesaian dengan bahan lain.
Bahan Pokok
Pasir pasang
Pasir pasang yang digunakan harus bersih bermutu baik dengan butiran
kasar, tidak mengandung lumpur dan bahan lain yang akan mempengaruhi
mutu pekerjaan.
Semen PC
PC yang dipergunakan adalah produk dalam negeri.
Air
Air yang digunakan haruslah bersih dan sesuai dengan ketentuan.
Komposisi Adukan
1 PC : 4 Ps dipakai untuk semua bagian yang dilaksanakan
Pelaksanaan

Sebelum memulai pekerjaan plesteran dinding tidak boleh terlalu kering, jika
bidang yang akan diplester sudah terlalu kering harus dibasahi air terlebih
dahulu hingga jenuh dan pada bidang beton harus dikasarkan terlebih
dahulu supaya mendapat pelekatan adukan yang sempurna.
Sebelum plesteran dinding dilaksanakan dipasti bahwa semua pipa-pipa
sudah tertanam dengan baik dan rapi sesui fungsi dan ukurannya
Untuk mencegah pesteran menjadi kering sebelum waktunya, permukaan
harus dibasahi air sehingga tetap lembab dan dijaga jangan sampai terjadi
penguapan terlalu banyak dan tidak rata.
Pekerjaan plesteran harus dilakukan dengan rata dan tidak retak , plesteran
yang cacat atau retak-retak setelah selesai harus segera diperbaiki hingga
terlihat baik dan sempurna.
Untuk dinding yang telah ada yang diperbaiki plesternya sebelum
pelaksanaan pekerjaan plesteran semua plesteran yang lama harus
dibersihkan terlebih dahulu, kemudian dinding tersebut disiram air sampai
tidak menyerap air lagi.

Pasal 20

PEKERJAAN LAIN-LAIN
1.

Lingkup pekerjaannya adalah pekerjaan administrasi/dokumentasi, biaya keamanan/jaga malam, obatobatan/P3K. Penjelasan masing-masing lingkup pekerjaan ini telah dijabarkan pada masing-masing pasal diatas,
kecuali pekerjaan administrasi proyek berupa :

1.

Laporan berkala mengenai pekerjaan secara keseluruhan dan segala


sesuatunya yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut dalam kontrak.
2.
Catatan yang jelas mengenai kemajuan pekerjaan yang telah dilaksanakan
dan jika diminta oleh Direksi Pekerjaan/Pemilik untuk keperluan pemeriksaan
sewaktu-waktu dapat diserahkan.
3.
Dokumen Foto :
Kontraktor diwajibkan membuat dokumen foto-foto, sebelum pekerjaan
dimulai sampai pada pekerjaan selesai 100 % dan tiap tahap permintaan
angsuran disertai keterangan lokasi, arah pengambilan dan tahap
pelaksanaan pembangunan serta disusun secara rapih dan diketahui oleh
Direksi Pekerjaan/Pemilik dan Pengelola Teknis.
Syarat-syarat foto dokumentasi :
Tiap Unit Bangunan diambil dari empat arah,
Gambar menyeluruh pandangan dari empat arah,
Sudut pengambilan gambar dari tiap tahap harus tetap pada sudut
pengambilan tersebut pada butir (a).
Gambar dimasukkan dalam album diserahkan kepada Pemilik melalui Direksi
Pekerjaan rangkap 3 (tiga).

Biaya dokumen merupakan tanggung jawab Kontraktor, Foto-foto tersebut


harus dibuat dan menjadi lampiran setiap permohonan angsuran
pembayaran.
4.
Segala laporan atau catatan tersebut dalam Pasal ini, dibuat dalam bentuk
buku harian rangkap 3 (tiga) diisi pada formulir yang telah disetujui oleh
Direksi Pekerjaan/Pemilik dan harus selalu berada di tempat pekerjaan.
2.

Kontraktor harus menyerahkan pada Pemilik as built drawing.

As built drawing adalah gambar-gambar yang sesuai dengan pelaksanaan di


lapangan yang harus diselesaikan 4 minggu setelah serah terima pekerjaan
untuk pertama kali, dalam bentuk kertas A.3.
3.

Apabila ada pekerjaan yang tidak tersebutkan dalam uraian ini, yang ternyata pekerjaan tersebut harus ada agar
mendapatkan hasil akhir yang sempurna, maka pekerjaan tersebut harus dilaksanakan oleh Kontraktor atas
perintah tertulis Pejabat Pembuat Komitmen.

4.

Rencana kerja dan syarat-syarat ini menjadi pedoman dan harus ditaati oleh Kontraktor dan Pejabat Pembuat
Komitmen dalam melaksanakan pekerjaan ini.

Pasal 21
PENUTUP

Apabila ada hal-hal yang tercakup dalam dokumen lelang ini yang harus dikerjakan,
dibuat dengan ketentuan-ketentuan yang telah ada dan kelaziman-kelaziman
pekerjaan, yang nantinya akan diatur dan dimuat dalam Berita Acara atau
Addendum pekerjaan, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dokumen
lelang ini.