FILSAFAT HUKUM
Oleh :
Rahmat Akbar
11010116410016
11010116410056
Satyawan Rianaldi P
11010116410057
Pramadita Hasbullah
11010116410039
Hidayatika Gilang P
11010116410080
Retno Mulyaningrum
11010116410091
Roby Yansyah
11010116410111
2. Menurut Kelsen
3. Menurut Stammler
Menyatakan bahwa filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil.
Analisis :
Ilmu Filsafat muncul sebelum adanya ilmu-ilmu atau disiplin ilmu yang lain, sehingga
ilmu filsafat adalah induk dari ilmu pengetahuan. Filsafat hukum menurut Stammler adalah
ilmu. Yang menurut bahasa, arti kata ilmu berasal dari bahasa arab (ilm), bahasa latin
(science) yang berarti tahu atau memahami, Sedangkan menurut istilah, adalah pengetahuan
yang sistematis atau ilmiah. Perbedaan ilmu dan pengetahuan yaitu : Secara umum,
Pengertian Ilmu merupakan kumpulan proses kegiatan terhadap suatu kondisi dengan
menggunakan berbagai cara, alat, prosedur dan metode ilmiah lainnya guna menghasilkan
pengetahuan ilmiah yang analisis, objektif, empiris, sistematis dan verifikatif.
Ajaran tentang hukum yang adil, jadi filsafat hukum itu bukan hanya sekedar ilmu,
tetapi ilmu yang mempelajari mengenai kebenaran tentang hukum. Tidak hanya adil saja
tetapi hukum yang semestinya (benar). Adil adalah salah satu bagian dari tujuan hukum,
yaitu Keadilan, Kepastian Hukum dan Kemanfaatan. Hukum adalah ilmu artinya sesuatu
yang patut dipelajari oleh semua kalangan masyarakat, baik masyarakat kebawah,
masyarakat menengah, masyarakat menengah kebawah, maupun masyarakat menengah
keatas sekalipun. Equality before the law setiap orang mempunyai kesaamaan yang sama di
depan hukum. Artinya semua masyarakat harus mempelajari adanya ilmu tidak memandang
dari status sosial lapisan masyarakat maupun status kedudukan jabatan, karena ilmu itu
dapat diperoleh dari mana saja dan kapanpun juga, tetapi harus sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Mengenai hukum yang adil, hukum yang dapat diletakkan dimana saja dan kapanpun
juga yang penerapannya sesuai dengan kaidah dan norma-norma kode etik yang ada dalam
masyarakat hukum.
Saya sependapat dengan pendapat Stammler bahwa filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran
tentang hukum yang adil.
4. Menurut Langmeyer
Filsafat Hukum adalah pembahasan secara filosofis tentang hukum.
Analisis :
Pengertian Filsafat "Philosophia". Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani :
philosophia. Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal juga dalam berbagai bahasa,
seperti : philosophic dalam kebudayaan bangsa Jerman, Belanda, dan Perancis;
philosophy dalam bahasa Inggris; philosophia dalam bahasa Latin; dan falsafah dalam
bahasa Arab.
Secara etimologi, istilah filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah atau juga dari
bahasa Yunani yaitu philosophia philien : cinta dan sophia : kebijaksanaan. Jadi bisa
dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Dan seorang filsuf adalah pencari
kebijaksanaan, pecinta kebijaksanaan dalam arti hakikat.
Pembahasan filosofis mengenai hukum berarti mencari kebenaran mengenai hukum
yang sebenarnya. Memikirkan dengan seksama mengenai hakikat hukum yang
sesungguhnya. Pembahasan filosofis adalah kegiatan berpikir secara mendalam mengenai
sesuatu. Yang dimaksud sesuatu adalah segala sesuatu. Disini yang dipikirkan secara
mendalam adalah hukum.
Pembahasan secara filosofis yang artinya pembahasannya berdasarkan asal-usul
hukum itu dibuat dan terbentuk. Terbentuknya hukum karena adanya akibat hukum yang
muncul dan berkesinambungan secara terus menerus tiada henti dan tiada batasannya,
karena hukum dibuat untuk dipatuhi bukan dilanggar. Saya sependapat dengan Langmeyer
mengenai pengertian Filsafat hukum.
Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa Filsafat hukum merupakan cabang filsafat, yakni
filsafat tingkah laku atau etika, yang mempelajari hakikat hukum. Dengan perkataan lain
filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis, jadi objek filsafat
hukum adalah hukum, dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai pada inti atau
dasarnya, yang disebut dengan hakikat.
Jurisprudence dalam bahasa indonesia dimaknai sebagai Yurisprudensi yang artinya
ajaran hukum melalui peradilan.Jika dihubungkan dengan pengertian diatas bahwa yang
menjadi objek secara utuh untuk di pelajari(studi) adalah filsafat hukum yang didasari pada
ajaran hukum dari pengadilan dan brkaitan dengan tujuan berfilsafat mencari kebijaksanaan.
7. Menurut Tammelo
Filsafat hukum sebagai suatu disiplin spekulatif yang berkenaan dengan penalaran-penalaran
yang tidak dapat diuji secara rasional.
Analisis :
Spekulasi dalam hal ini berarti berpikir mengenai sesuatu secara mendalam namun
sifatnya spekulatif, yang dalam bahasa sederhana disebut juga untung-untungan. Jadi
menurut Tamello filsafat hukum adalah disiplin yang berusaha mencoba mengungkap
hakikat hukum yang sebenarnya. Dikatakan mencoba karena sebenarnya tidak ada
landasan/dasar pasti bahwa hasil dari pemikiran secara mendalam tersebut tepat sasaran atau
memang benar-benar menghasilkan hakikat dari hukum itu sendiri.
Disiplin yang spekulatif yaitu disiplin yang berkenaan dengan penalaran yang tidak
dapat diuji secara rasional dan nyata, hanya bisa diucapkan dan dipaparkan namun tidak
dapat diwujudkan dalam bentuk nyata. Memberikan sebuah pendapat secara beraturan
dengan pemberian contoh yang bisa dipahami seseorang namun tidak bisa dicontohkan
secara nyata.
Proses berpikir spekulatif tersebut menggunakan penalaran-penalaran yang meskipun
diyakini benar, namun tidak dapat dibuktikan oleh akal. Karena dunia filsafat adalah dunia
yang transendental sehingga akal manusia tidak akan mampu mencapainya terlebih lagi
menguji keabsahannya. Sehingga modal utama dari berfilsafat sebenarnya adalah
keimanan/rasa percaya. Percaya bahwa hasil berpikir spekulatif tadi benar adanya, bukti
kebenarannya tidak dapat ditunjukkan sehingga akal tidak bisa mencerna dan menguji
kebenaran tersebut, namun rasa percaya dan keyakinan bahwa hal itu adalah benar,
merupakan bukti dari kebenarannya
8. Menurut Meuwissen
Filsafat hukum adalah refleksi atas dasar-dasar dari kenyataan, yang merupakan perwujudan
dari cara berpikir sistematis dalam rangka mencari hubungan teoritikal, di dalam mana
gejala hukum dapat dipikirkan dan akhirnya dimengerti. Mauwissen juga berpendapat
bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalah-masalah fundamental
dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum, dan/atau hakekat kenyataan
hukum sebagai realisasi dari cita hukum
Analisis :.
Dari apa yang dijabarkan diatas Filsafat Hukum merupakan suatu hasil atau perwujudan
dari cara berpikir reflektif yang sistematis tentang kenyataan dari hukum. Kenyataan
hukum harus dipikirkan sebagai realisasi (perwujudan) dari Ide-hukum (cita-hukum).
Disebut reflektif karena filsafat adalah suatu pendasaran diri dan perenungan diri secara
radikal. Filsafat dimulai dengan mempertanyakan segala hal, Mengapa semuanya itu
sebagaimana adanya dan tidak lain?. Jadi, filsafat adalah suatu kegiatan berfikir reflektif
dan juga memiliki sifat rasional. Dapat diberikan analisa secara umum bahwa Filsafat adalah
suatu tindakan berpikir secara cermat dan hati-hati terhadap suatu gejala-gejala yang terjadi
di masyarakat. Filsafat bukanlah kepercayaan atau dogmatika. Kepercayaan adalah
menerima begitu saja suatu pendirian atas dasar kewibawaan seseorang, sedangkan filsafat
tidak demikian dan harus berdasarkan pada argumentasi rasional sehingga filsafat harus
memberikan argumentasi pada tesis-tesis dan pemahaman-pemahamannya.
Berdasarkan argumentasi yang rasional, berarti bahwa penalaran-penalaran filsafat
harus sah secara logika serta dalam pemilihan premis maupun kesimpulan harus selalu
terbuka bagi suatu bantahan rasional dalam dialog yang mana kebenaran dapat dan harus
ditemukan. Dalam arti ini, filsafat berada dalam dimensi dari komunikasi intersubjektif, ia
dikembangkan dan diolah dalam suatu hubungan-diskusi (diskursif) terbuka dari subjeksubjek yang satu terhadap yang lainnya.
Hal ini berlaku juga bagi filsafat hukum. Jadi, ia tidak ditujukan, untuk memaparkan,
menginterpretasi, menjelaskan hukum yang berlaku, melainkan lebih untuk memahami
hukum sebagaimana demikian adanya/kenyataannya, law as such.
Selanjutnya, filsafat hukum ingin mendalami hakikat dari hukum, dan itu berarti bahwa ia
ingin memahami hukum sebagai penampilan atau manifestasi dari suatu asas yang
melandasinya. Berkaitan dengan aturan hukum dan keputusan hukum dilihat dari perpektif
ini haruslah mengacu nilai-nilai hukum. Mutlak perlu diketahui bahwa aturan-aturan hukum
dan keputusan-keputusan hukum tersebut mengarah pada perwujudan ide ide hukum yang
merupakan manifestasi nilai-nilai yang hidup di masyarakat.
9. Menurut Muchsin
Filhum mempelajari hukum secara spekulatif dan kritis, artinya filhum berusaha untuk
memeriksa nilai dari pernyataan-pernyataan yang dapat dikatagorikan sebagai hukum :
hakekat hukum.
Secara kritis : filhum berusaha untuk memeriksa gagasan-gagasan tentang hukum
yang sudah ada, melihat koherensi, korespondensi dan fungsinya Pengkategorian
pernyataan-pernyataan hukum, dapat memperoleh definisi atau cara berfikir hukum
secara universal. Yang dilihat oleh ahli ini dari segi spekulatif dan kritis.
Analisis :
Filsafat hukum dalam pengertian ini dimaknai sebagai suatu pembelajaran atau
pemikiran mengenai objeknya yiatu hukum yang dilakukan secara spekulatif (pemikiran
dalam menurut teori-teori dapt juga dimaknai sebagai untung-untungan) dan tentunya kritis
dalam artian mendalam.
Pada hakekatnya hukum merupakan alat atau sarana untuk mengatur dan menjaga
ketertiban guna mencapai suatu masyarakat yang berkeadilan dalam menyelengarakan
kesejahtraan sosial yang berupa peraturan-peraturan yang bersifat memaksa dan
memberikan sangsi bagi yang menyelengarakannya, baik itu untuk mengatur masyarakat
ataupun aparat pemerintah sebagai penguasa. Ditambahkan pula bahwa konsep dasar serta
tujuan hukum hanyalah berbicara pada dua konteks persoalan saja :
dapat berhubungan antara hukum dan kekuasaan, hukum dan nilai-nilai sosial budaya,
maupun penyebab orang harus mentaati hukum beserta hak negara untuk menghukum
negara. Berkaitan pula dengan hak milik, kontrak, dan masalah peranan hukum sebagai
sarana pembaharuan masyarakat.
14. Menurut Duguit
Filsafat hukum memegang peran penting dalam kegiatan penalaran dan penelaahan asas dan
dasar etik dari pengawasan sosial, yang berkaitan dengan tujuan masyarakat, masalahmasalah hak asasi, kodrat alam.
Analisis :
Filsafat hukum yang dinilai bertolak dari renungan manusia yang cerdas, sebagai
subjek hukum. Filsafat hukum tidak lepas dari manusia selaku subjek hukum maupun
subjek filsafat, sebab manusia membutuhkan hukum dan hanya manusia yang mampu
berfilsafat. Peran manusia ini menjadi jalan untuk mencari keadilan dan kebenaran sesuai
dengan peraturan yang berlaku, dan mengatur apakah sesuatu itu adil,benar dan sah.