Anda di halaman 1dari 4

Laporan Biokimia (saliva) Modul 2.

04
29MAR
BAB I
PENDAHULUAN
Saliva
Air liur atau saliva sebagian besar diproduksi oleh tiga kelenjar utama yakni kelenjar
parotis, kelenjar sublingual dan kelenjar submandibula. Volume air liur yang
diproduksi bervariasi yaitu 0,5 1,5 liter setiap hari tergantung pada tingkat
perangsangannya.
Mengutip Guyton & Hall dalam Textbook of Medical Physiology, air liur atau saliva
mengandung dua tipe pengeluaran atau sekresi cairan yang utama yakni sekresi
serus yang mengandung ptyalin (suatu alfa amylase) yang merupakan enzim untuk
mencernakan karbohidrat dan sekresi mucus yang mengandung musin untuk tujuan
pelumasan atau perlindungan permukaan yang sebagian besar dihasilkan oleh
kelenjar parotis.
Cairan tipe mucus itu disekresikan atau dikeluarkan setiap detik sepanjang waktu
kecuali saat tidur yang produksinya lebih sedikit.
Dalam hal pencernaan, air liur berperan dalam membantu pencernaan karbohidrat.
Karbohidrat atau tepung sudah mulai dipecah sebaagian kecil dalam mulut oleh
enzim ptyalin. Enzim dalam air liur itu memecah tepung (amylum) menjadi
disakarida maltosa dan polimer glukosa kecil lainnya.
Selain dalam pencernaan air liur juga berperan dalam kebersihan mulut. Sekresi
saliva terutama tipe mucus penting dalam mempertahankan kesehatan jaringan
rongga mulut. Rongga mulut berisi bakteri atau kuman patogen (merugikan) yang
dengan mudah merusak jaringan dan menimbulkan karies gigi (gigi berlubang).
Air liur juga mencegah kerusakan dengan beberapa cara. Pertama, aliran air liur itu
sendiri membantu membuang bakteri atau kuman patogen juga pertikel makanan
yang memberi dukungan nutrisi metabolik bagi bakteri itu sendiri.
Kedua, air liur mengandung beberapa faktor yang menghancurkan bakteri salah
satunya adalah ion tiosianat dan beberapa cairan proteolitik terutama lisosim yang
menghancurkan bakteri,membantu ion tiosianat membunuh bakteri,mencerna
partikel makanan dan air liur mengandung antibody protein yang menghancurkan
bakteri.
Selain berfungsi untuk kesehatan dalam tubuh, air liur juga diyakini dapat
memberikan manfaat bagi luar tubuh.
Sejak zaman dahalu, secara naluri ketika ada jari-jari Anda yang terluka akibat
tergores pisau,Anda akan mengisap luka tersebut dengan mulut. Hewan pun
demikian. Misalnya kucing, monyet, dan anjing, biasa membasuh tubuh dengan air
liurnya ketika luka.

Sementara itu, berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan di Jepang pada tahun
2001 seperti yang dikutip dari cbn.com, air ludah mengandung 40 sampai 50
protein. Tiap protein punya fungsi yang berbeda-beda. Satu protein untuk
menangkal debu, sinar, dan bahan kimia. Dari 50 protein itu di dalamnya ada 3
protein yang khusus untuk mikroorganisme.
Atas khasiat itulah, diyakini air liurnya bisa bermanfaat bagi gangguan mata, seperti
katarak, rabun jauh dan dekat, atau gangguan mata karena cedera seperti
terbentur, terkena benda tumpul maupun benda tajam.
BAB II
METODOLOGI
Alat dan Bahan :
~

Pipet tetes

Gelas ukur

~ Tabung reaksi
reaksi

Rak tabung

Penjepit tabung reaksi

~ Larutan pati 2%
Benedict

~ Larutan urea 10%


encer
~

HCl

Reagen Molibdat khusus

Reagen Molisch

~ saliva
air

Cawan keramik
Reagen

Asam asetat
~

Iodine

BaCl2
~

H2SO4
~

Penangas

Cara Kerja :
1. Tes Molisch
Mencampurkan 2 mL saliva yang akan diperiksa dengan 2 tetes alfa-naftol dalam
alkohol 95 os (reagen Molisch). Lalu mengocok larutan tersebut dan memiringkan
tabung reaksi sekitar 45o. Memasukkan H2SO4pekat secara perlahan-lahan dan hatihati sebanyak 2 cc. Dengan perlahan, menegakkan tabung reaksi kembali.
2. Tes Iodine
Menambahkan 2 mL saliva ke dalam 5 mL larutan pati 2%. Menempatkan tabung
reaksi pada suhu 37 oC dan mencatat waktunya bila opalescenci hilang dan bila
reaksi dengan iodine tercapai.
3. Tes Benedict

Menuangkan larutan benedict sebanyak 2,5 cc. Melarutkan benedict ke dalam


tabung reaksi dan menambahkan 4 tetes saliva. Mencampurkan dan memanaskan
nya selama 2-3 menit pada api langsung atau penangas air selama 5 menit.
Memperhatikan warna dan endapan yang terjadi.
4. Memisahkan Musin
2 mL saliva + 1 mL larutan asam asetat encer
5. Tes Sulfat
Menambahkan asam klorida encer ke dalam 2 mL saliva. Menambahkan Barium
Klorida 1% tetes demi tetes.
6. Tes Fosfor
Menuangkan 10% urea sebanyak 10 mL ke dalam 1 mL saliva pada tabung reaksi 2
mL reagen molibdat khusus dicampurkan ke dalam tabung reaksi tadi dan
menambahkan larutan ferro-sulfat khusus sebanyak 1 mL.
BAB III
HASIL DAN KESIMPULAN PRAKTIKUM
Hasil
1. Pada Tes Molisch, saliva yang di uji ternyata menunjukkan ada nya cincin ungu
di bagian endapan. Dan cincin ungu ini membuktikan adanya karbohidrat dalam
saliva.
2. Tes Iodine menunjukkan hasil negatif. Dan hasil negatif itu membuktikan ada
nya polisakarida dalam saliva.
3. Tes Benedict pada saliva ini adalah untuk membuktikan ada nya glukosa dalam
saliva. Dan yang terjadi adalah dengan ada nya endapan warna merah bata pada
campuran saliva dan benedict. Hal ini menunjukkan adanya glukosa dalam saliva.
4. Pada tes Musin, hasil nya adalah positif dengan ditemukan endapan warna putih
yang menunjukkan adanya musin dalam saliva.
5. Tes sulfat juga positif. Dan ini menunjukkan bahwa saliva mengandung ion sulfat
dengan ada nya endapan warna putih setelah diteteskan 2 tetes BaCl 2.
6. Hasil Tes Fosfor menunjukkan hasil positif dengan berubah nya warna campuran
menjadi biru. Hasil positif ini menunjukkan bahwa saliva mengandung orto fosfor.
Kesimpulan
Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa proses pencernaan berawal di dalam
rongga mulut yang dikatalis dengan enzim amilase yang terdapat di dalam saliva.
Selain itu kadar hidrolisis amilum akan semakin sempurna jika kontak permukaan
substrat dengan enzim tersebut makin lama. Kerja enzim amylase tersebut sangat
spesifik terbukti dengan tidak adanya reaksi pada penambahan HCl dan
pemanasan. Itu berarti enzim amylase memiliki range pH tertentu untuk dapat

bekerja optimal. Sedangkan pemanasan dapat merusak struktur enzim yang


termasuk protein.