Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk paling sempurna diantara makhluk-makhluk ciptaan
Allah SWT di bumi ini. Diberinya daya cipta, rasa dan karsa yang memungkinkan
manusia untuk berbuat lebih besar dari pada otak mereka yang kecil. Kekuatan berpikir
itulah yang sering disebut-sebut dengan intelegensi. Manusia yang mempunyai
intelegensi yang tinggi, tentulah mereka lebih unggul daripada manusia yang memiliki
intelegesi yang rendah. Intelegensi merupakan kemampuan yang dibawa sejak lahir,
bukan timbul secara tiba-tiba.
Masyarakat umum mengenal inteligensi sebagai istilah yang menggambarkan
kecerdasan, kepintaran, ataupun kemampuan untuk memecahkan problem yang dihadapi.
Gambaran tentang anak yang berintelegensi tinggi adalah gambaran mengenai siswa yang
pintar, siswa yang selalu naik kelas dengan nilai baik, atau siswa yang jempolan di
kelasnya. Bahkan Gambaran ini meluas pada citra fisik, yaitu citra anak yang wajahnya
bersih, berpakaian rapi, matanya bersinar, atau berkacamata. Sebaliknya, gambaran anak
yang berinteligensi rendah membawa citra seseorang yang lamban berfikir, sulit mengerti,
prestasi belajarnya rendah, dan mulut lebih banyak menganga disertai tatapan mata
bingung.
Pandangan awam sebagaimana digambarkan di atas, walaupun tidak memberikan
arti yang jelas tentang inteligensi namun pada umumnya tidak berbeda jauh dari makna
inteligensi sebagaimana yang dimaksudkan oleh para ahli. Adapun definisinya, makna
inteligensi memang mendeskripsikan kepintaran dan kebodohan.

B. Rumusan Masalah
Agar pembahasan dalam makalah ini tidak lari dari sub judul, ada baiknya
penyusun merumuskan masalah-masalah yang akan dibahas, antara lain:
a. Apa itu intelegensi ?
b. Apa saja macam-macam intelegensi ?
c. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi intelegensi ?
C. Tujuan Penulisan
Untuk melengkapi tugas kelompok psikologi kognitif

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Intelegensi
Secara Etimologis Intelegensi berasal dari bahasa Inggris Intelligence yang
juga berasal dari bahasa Latin yaitu Intellectus dan Intelligentia atau Intellegere.
Teori tentang intelegensi pertama kali dikemukakan oleh Spearman dan Wynn Jones
Pol pada tahun 1951. Spearman dan Wynn mengemukakan adanya konsep lama
mengenai suatu kekuatan (power) yang dapat melengkapi akal pikiran manusia tunggal
pengetahuan sejati. Kekuatan tersebut dalam bahasa Yunani disebut dengan Nous,
sedangkan penggunaan kekuatannya disebut Noeseis. Intelegensi berasal dari kata

Latin,yang berarti memahami. Jadi intelegensi adalah aktivitas atau perilaku yang
merupakan perwujudan dari daya atau potensi untuk memahami sesuatu.
Pengertian intelegensi menurut para ahli :
Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak
secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif.
Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan
mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi
tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai
tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Menurut

Wangmuba

inteligensi

merupakan

suatu

konsep

mengenai

kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam


kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik.
Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi
yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu
setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu
tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus
ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.
K. Buhler mengatakan bahwa intelegensi adalah perbuatan yang disertai
dengan pemahaman atau pengertian.
David Wechster (1986) Definisinya mengenai intelegensi mula-mula sebagai
kapasitas untuk mengerti ungkapan dan kemauan akal budi untuk mengatasi
tantangan-tantangannya. Namun di lain kesempatan ia mengatakan bahwa intelegensi
adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berfikir secara rasional dan
menghadapi lingkungannya secara efektif.

Beberapa pakar menyebutkan bahwa intelegensi sebagai keahlian untuk


memecahkan masalah. Intelegensi merupakan potensi bawaan yang sering dikaitkan
dengan berhasil tidaknya anak belajar disekolah. Dengan kata lain, intelegensi
dianggap sebagai faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya anak disekolah
Kecerdasan (Inteligensi) secara umum dipahami pada dua tingkat yakni: kecerdasan
sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan
dan kesadaran. Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga
masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan
demikian pengetahuan pun bertambah.
Bisa kita simpulkan bahwa intelegensi merupakan keterampilan-keterampilan
pemecahan masalah dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dari pengalaman
hidup.

B. Macam-macam Intelegensi
Dalam Teori Sternberg yaitu teori triarki intelegensi yang menyatakan bahwa
kecerdasan muncul dalam bentuk majemuk (spesifiknya terdiri atas tiga bentuk ),
yaitu :

Kecerdasan

analitis:

kemampuan

untuk menganalisis, melakukan

penelitian, evaluasi, perbandingan dan membedakan


Contoh : seorang individu dalam ujian disetiap pelajarannya selalu

mendapatkan nilai di atas rata-rata.


Kecerdasan kreatif: kemampuan

untuk

menciptakan,

merancang,

menemukn, membuat sesuatu yang original dan membayangkan.

Contoh: seorang peserta didik diinstrusikan untuk menuliskan kata P O H


O N oleh gurunya, tetapi jawaban seorang individu yang kreatif dengan

menggambarkan sebuah pohon.


Kecerdasan praktis: kemampuan untuk menggunakan, menerapkan,
mengimplementasikan, dan menerjemahkan gagasan menjadi tindakan.
Contoh: seorang individu mendapatkan skor rendah dalam tes IQ
tradisional, tetapi dengan cepat memahami masalah dalam kehidupan
nyata, contohnya dalam pembelajaran praktikum di laboratorium, akan
cepat memahami karena dibantu dengan berbagai peralatan dan media.

Delapan macam intelegensi menurut Gardner :


1. Inteligensi keterampilan verbal
Yaitu kemampuan untuk berpikir dengan kata-kata dan menggunakan bahasa
untuk mengungkapkan makna. Contohnya: seorang anak harus berpikir secara logis dan
abstrak untuk menjawab sejumlah pertanyaan tentang bagaimana beberapa hal bisa
menjadi mirip. Contoh pertanyaannya Apa persamaan Singan dan Harimau?.
Cenderung arah profesinya menjadi: (penulis, jurnalis, pembicara).
2. Inteligensi keterampilan matematis
Yaitu kemampuan untuk menjalankan operasi matematis. Peserta didik dengan
kecerdasan logical mathematical yang tinggi memperlihatkan minat yang besar terhadap
kegiatan eksplorasi. Mereka sering bertanya tentang berbagai fenomena yang dilihatnya.
Mereka menuntut penjelasan logis dari setiap pertanyaan. Selain itu mereka juga suka
mengklasifikasikan benda dan senang berhitung. Cenderung profesinya menjadi:
(ilmuwan, insinyur, akuntan)
3. Intelegensi spesial

Yaitu kemampuan untuk berpikir secara tiga dimensi. Cenderung berpikir secara
visual. Mereka kaya dengan khayalan internal (Internal imagery) sehingga cenderung
imaginaif dan kreatif. Contohnya seorang anak harus menyusun serangkaian balok dan
mewarnai agar sama dengan rancangan yang ditunjukan penguji. Koordinasi visualmotorik, organisasi persepsi, dan kemampuan untuk memvisualisasi dinilai secara
terpisah. Cenderung menjadi profesi arsitek, seniman, pelaut.
4. Intelegensi kinestik
Yaitu kemampuan untuk memanipulasi objek dan mahir sebagai tenaga fisik.
Senang

bergerak

dan

menyentuh.

Mereka

memiliki

control

pada

gerakan,

keseimbangan, ketangkasan, dan keanggunan dalam bergerak. Mereka mengeksplorasi


dunia dengan otot-ototnya. Cenderung berprofesi menjadi ahli bedah, seniman yang
ahli, penari.
5. Intelegensi musikal
Yaitu kepekaan terhadap pola tangga nada, lagu, ritme, dan mengingat nadanada. Ia juga dapat mentransformasikan kata-kata menjadi lagu, dan menciptakan
berbagai permainan musik. Mereka pintar melantunkan beat lagu dengan baik dan benar.
Mereka pandai menggunakan kosa kata musical, dan peka terhadap ritme, ketukan,
melodi atau warna suara dalam sebuah komposisi music.
6. Intelegensi interpersonal
Yaitu kemampuan untuk memahami dan secara efektif berinteraksi dengan orang
lain. Pintar menjalin hubungan social, serta mampu mengetahui dan menggunakan
beragam cara saat berinteraksi. Mereka juga mampu merasakan perasaan, pikiran,
tingkah laku dan harapan orang lain, serta mampu bekerja sama dengan orang lain.
7. Intelegensi intrapersonal

Yaitu kemampuan untuk memahami diri sendiri dengan efektif mengarahkan


hidup seseorang. Memiliki kepekaan perasaan dalam situasi yang tengah berlangsung,
memahami diri sendiri, dan mampu mengendalikan diri dalam konflik. Ia juga
mengetahui apa yang dapat dilakukan dan apa yang tidak dapat dilakukan dalam
lingkungan social. Mereka mengetahui kepada siapa harus meminta bantuan saat
memerlukan. Cenderung berprofesi menjadi teolog, psikolog.
8. Intelegensi naturalis
Yaitu kemampuan untuk mengamati pola di alam serta memahami system buatan
manusia dan alam. Menonjol ketertarikan yang sangat besar terhadap alam sekitar,
termasuk pada binatang, diusia yang sangat dini. Mereka menikmati benda-benda dan
cerita yang berkaitan dengan fenomena alam, misalnya terjadinya awan, dan hujan, asalusul binatang, peumbuhan tanaman, dan tata surya.

Menurut Gardner, setiap orang memiliki kecerdasan-kecerdasan dengan tingkat


yang berbeda. Sebagai konsekuensi, kita cendrung belajar dan mengolah informasi
dengan cara-cara yang berbeda. Orang akan belajar dengan baik ketika mereka
melakukannya dalam cara-cara yang sesuai dengan kecerdasan mereka yang lebih kuat.

C. Faktor-faktor yang mempengaruhi Intelegensi


Seperti yang telah kita ketahui bahwa setiap individu memiliki tingkat intelegensi
yang berbeda.Perbedaan intelegensi itu, dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
a.

Pengaruh faktor bawaan


Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa individu-individu yang berasal dari

suatu keluarga, atau bersanak saudara, nilai dalam tes IQ mereka berkolerasi tinggi

( + 0,50 ) orang yang kembar ( + 0,90 ) yang tidak bersanak saudara ( + 0,20 ), anak yang
diadopsi korelasi dengan orang tua angkatnya ( + 0,10 +0,20 ).[6]
b.

Pengaruh faktor lingkungan


Perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Oleh karena

itu ada hubungan antara pemberian makanan bergizi dengan intelegensi seseorang.
Pemberian makanan bergizi ini merupakan salah satu pengaruh lingkungan yang amat
penting selain guru, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari
lingkungan juga memegang peranan yang amat penting, seperti pendidikan, latihan
berbagai keterampilan, dan lain-lain (khususnya pada masa-masa peka). Ada beberapa
lingkungan yang berpengaruh terhadap intelegensi, antara lain :

c.

Lingkungan keluarga;
Pengalaman pendidikan;
Stabilitas inteIigensi dan IQ
Intelegensi bukanlah IQ. Intelegensi merupakan suatu konsep umum tentang

kemampuan individu, sedang IQ hanyalah hasil dari suatu tes intelegensi itu (yang
notabene hanya mengukur sebagai kelompok dari intelegensi). Stabilitas intelegensi
tergantung perkembangan organik otak.
d.

Pengaruh faktor kematangan


Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan.

Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai
kesanggupan menjalankan fungsinya (berkaitan erat dengaan umur).
e.

Pengaruh faktor pembentukan


Pembentukan ialah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi

perkembangan intelegensi. Dapat kita bedakan pembentukan sengaja (seperti disekolah)


dan pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam sekitar).
f.

Minat dan pembawaan yang khas

Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi
perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan-dorongan (motif-motif) yang
mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar. Apa yang menarik minat
seseorang mendorongnya untuk berbuat lebih giat dan lebih baik.
g.

Kebebasan
Kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu

dalam memecahkan masalah-masalah. Manusia mempunyai kebebasan memilih metode,


juga bebas dalam memilih masalah sesuai dengan kebutuhannya.
Semua faktor tersebut di atas bersangkutan satu sama lain. Untuk menentukan
intelegensi atau tidaknya seseorang, kita tidak dapat hanya berpedoman kepada salah satu
faktor tersebut, karena intelegensi adalah faktor total. Keseluruhan pribadi turut serta
menentukan dalam perbuatan intelegensi seseorang.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari segi intelegensinya berbeda, maka individu satu dengan yang lain
tidak sama kemampuanya dalam memecahkan suatu pesoalan yang dihadapi dan
kecerdasan yang kreatif dapat menciptakan sesuatu sedangkan kecerdasan yang
praktis dapat mengambil tindakan. Tingkat kecerdasan (intelegensi) seseorang dapat
mempengaruhi hasil belajar namun tidak menjadi satu-satunya faktor yang
mempengaruhi hasil belajar seseorang.