Anda di halaman 1dari 20

PENEMUAN HUKUM DALAM KASUS PERCERAIAN DENGAN ALASAN SALAH

SATU PIHAK HOMOSEKSUAL DENGAN MENGGUNAKAN METODE


KONSTRUKSI HUKUM
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Secara umum, undang-undang dibuat oleh pembentuk undang-undang untuk
melindungi kepentingan manusia, sehingga harus dilaksanakan dan ditegakkan. Akan
tetapi, perlu diingat bahwa kegiatan dalam kehidupan manusia itu sangat luas, tidak
terhitung jumlah dan jenisnya, sehingga tidak mungkin tercakup dalam satu peraturan
perundang-undangan dengan tuntas dan jelas. Oleh karena itu tidak ada peraturan
perundang-undangan yang dapat mencakup keseluruhan kehidupan manusia, sehingga
tidak ada peraturan perundang-undangan yang lengkap selengkap-lengkapnya dan jelas
sejelas-jelasnya. Karena hukumnya tidak lengkap dan tidak jelas, maka harus dicari dan
diketemukan.1
Hukum mempunyai fungsi untuk memberikan perlindungan terhadap kepentingan
manusia (seluruh manusia tanpa terkecuali. Dalam pelaksanaannya, hukum dapat
berlangsung secara normal dan damai, akan tetapi dapat juga terjadi pelanggaranpelanggaran hukum dalam prakteknya. Melalui penegakan hukum inilah hukum ini
menjadi kenyataan. Dalam menegakkan hukum ada tiga unsur yang selalu harus
diperhatikan,

yaitu

kepastian

hukum

(Zweckmassigkeit) dan keadilan (Gerechtigkeit).

(Rechtssicherheit),

kemanfaatan

Hukum harus dilaksanakan dan

ditegakkan. Setiap orang mengharapkan dapat ditetapkannya hukum dalam hal terjadi
peristiwa konkrit. Bagaimana hukumnya itulah yang harus berlaku fiat justitia et pereat
mundus (meskipun dunia ini runtuh hukum harus ditegakkan). Itulah yang diinginkan
oleh kepastian hukum. Masyarakat mengharapkan adanya kepastian hukum. Karena
dengan adanya kepastian hukum masyarakat akan lebih tertib. Sebaliknya masyarakat
mengharapkan manfaat dalam pelaksanaan atau penegakan hukum. Masyarakat sangat

1Ahmad Rifai, Penemuan Hukum Oleh Hakim Dalam Perspektif Hukum Progresif Jakarta. P.T.
Sinar Grafika. 2010. Hal. 21
1

berkepentingan bahwa dalam pelaksanaan atau penegakan hukum, keadilan diperhatikan.


dalam pelaksanaan atau penegakan hukum harus adil.2.
mengatakan bahwa penemuan hukum mempunyai cakupan wilayah kerja hukum yang
sangat luas, karena penemuan hukum itu dapat dilakukan oleh siapa saja, baik itu
perorangan, ilmuwan, peneliti hukum, para hakim, jaksa, polisi, advokat, dosen, notaris
dan lain-lain. Akan tetapi menurut Sudikno Mertokusumo penemuan hukum lazimnya
diartikan sebagai proses pembentukan hukum oleh hakim atau petugas-petugas hukum
lainnya yang diberi tugas melaksanakan hukum terhadap peristiwa-peristiwa hukum yang
konkrit.
Pembahasan tentang hukum cenderung dikaitkan dengan perundang- undangan.
Undang-undang sendiri tidak sempurna, tidak mungkin undang- undang

mengatur

seluruh kegiatan manusia secara tuntas. Adakalanya undang-undang tidak jelas dan
adakalanya tidak lengkap. Meskipun tidak lengkap dan tidak jelas, undang-undang
tersebut tetap harus dilaksanakan. penegakan dan pelaksanaan hukum merupakan
penemuan hukum (rechtsvinding) dan tidak sekedar penerapan hukum. 3 Penemuan
hukum merupakan kewajiban bagi hakim, sebagaimana diatur dalam Pasal 28 ayat (1) jo
Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman
(selanjutnya disebut Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman).
Pasal 28 ayat (1) menyebutkan bahwa, Hakim wajib menggali, mengikuti dan
memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Dalam
rangka penemuan hukum ini, jika isi ketentuan Pasal 28 ayat (1) dihubungkan dengan
Pasal 16 ayat (1) yang berbunyi, Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa,
mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak
ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya". Hakim tidak
dapat dan tidak boleh menangguhkan atau menolak menjatuhkan putusan dengan alasan
karena hukumannya tidak lengkap dan tidak jelas.
Menurut Pasal 22 A.B (Ketentuan ketentuan umum tentang Peraturan
Perundangan untuk Indonesia) terkandung pengertian Hakim yang menolak untuk
menyelesaikan suatu perkara dengan alasan bahwa peraturan perundang-undangan
yang bersangkutan tidak menyebutkan, tidak jelas atau tidak lengkap, maka ia dapa
2 Wonkdermayu, Penemuan Hukum https://wonkdermayu.wordpress.com/kuliah-hukum/penemuanhukum-atau-rechtsvinding/. Diakses tanggal 22 September 2016
3 Sudikno Mertokusumo dan Pitlo. Bab Bab Tentang Penemuan Hukum. Jakarta. PT. Citra Aditya Bakti. 1993.
Hlm. 4

dituntut untuk dihukum karena menolak mengadili. Dengan demikian hakim


mempunyai kewenangan untuk menciptakan hukum (judge made law) terutama
terhadap kasus kasus yang sama sekali belum ada hukunya, tetapi telah masuk di
pengadilan. Dalam proses analisis dan penciptaan hukum atas kasus-kasus perkara
yang belum ada aturan aturan hukumnya tersebut, hakim wajib menggali nilai-nilai
hukum yang hidup dan dipelihara baik di tengah-tengah masyarakatnya. Nilai-nilai
hukum yang hidup itu antara lain : nilai-nilai ajaran agama, nilai adat istiadat yang
masih terpelihara baik, budaya dan tingkat lecerdasan masyarakat, keadaan sosial
dan ekonomi masyarakat, dan lain-lain. 4
Indonesia dalam sistem-sistem hukum di dunia termasuk kedalam sistem hukum
Eropa Kontinental (civil law) yang sering diperlawankan dengan sistem hukum common
law. Kedua sistem hukum ini merupakan dua sistem hukum utama yang banyak
diterapkan di dunia, namun selain dua sistem hukum tersebut terdapat beberapa hukum
lainnya yang diterapkan di dunia yakni sistem hukum Islam (Islamic Law) dan sistem
hukum komunis (Communist Law). Indonesia menganut sistem Eropa Kontinental (civil
law), akibat penjajahan yang dilakukan oleh Belanda selama kurun waktu 350 tahun.
Pengunaan aturan hukum tertulis di dalam civil law, terkadang memiliki kendalakendala tertentu. Salah satu kendala utama ialah, relevansi suatu aturan yang dibuat
dengan perkembangan masyarakat.Relevansi di sini mengandung pengertian, bahwa
hukum harus bisa memecahkan suatu persoalan dari suatu realitas baru masyarakat.
Sehingga jika tidak, akan menyebabkan terjadinya apa yang disebut dengan bankruptcy of
justice yakni suatu konsep yang mengacu kepada kondisi dimana hukum tidak dapat
menyelesaikan suatu perkara akibat ketiadaan aturan hukum yang mengaturnya.5
Hakim pada prinsipnya merupakan corong dari undang-undang, dimana peranan dari
kekuasaan kehakimanan hanya sebagai penerap undang-undang yang bukan merupakan
kekuasaan pembuat undang-undang. Sehingga diperlukan batasan-batasan mengenai
penemuan hukum (rechtsvinding) oleh hakim dengan menggunakan konstruksi hukum,
yaitu terdiri dari Metode argumentum per analogian, metode argumentum a contario,
metode penyempitan hukum.

4 Fauzan, Kaidah Penemuan Hukum yurisprusdensi Bidang Hukum Perdata. Jakarta. Prenadamedia
Group. 2014. Hlm.18
5 Yudaeka, Teori Hukum Dan Penemuan Hukum. Yudaeka793.blogspot.co.id/2014/05/Peran Hakim
Dalam Penemuan Hukum. Diakses Tanggal 22 September 2016
3

Semua manusia mengharapkan kehidupan perkawinannya dapat berlangsung terus


hingga akhir hayatnya. Hal ini diperkuat sebagaimana dalam Undang- Undang No. 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menegaskan bahwa prinsip perkawinan adalah
suatu akad yang suci yang dibangun oleh suami-istri dengan tujuan membentuk rumah
tangga yang kekal dan bahagia. Namun tak dapat dipungkiri kehidupan rumah tangga tak
luput dari permasalahan-permasalahan yang timbul baik disengaja ataupun tidak sehingga
yang dapat menimbulkan perselisihan rumah tangga. Perkawinan harus dipertahankan
semaksimal mungkin oleh suami-istri. Kalaupun terjadi perceraian, hal tersebut
merupakan jalan akhir yang akan ditempuh apabila memang perkawinan tersebut tidak
dapat dipertahankan lagi .
Dari Undang-undang dan berbagai peraturan pelaksanaannya, tidak nampak suatu
kelainan seksual sebagai alasan dari perceraian. Kelainan seksual yang dimaksud adalah
homoseksualitas. Namun, fenomena yang terjadi adalah suatu kelainan seksual
(Homoseksualitas) dapat menjadi penyebab terjadinya perceraian. Hal tersebut terjadi
pada

kasus

di

Pengadilan

Agama

Surakarta

dengan

nomor

perkara

144/Pdt.G/2007/PA.Ska dan diputus cerai oleh Hakim Pengadilan Agama Surakarta.


Kelainan seksual sebagai alasan perceraian tidak diatur dalam ketentuan peraturan
perundang-undangan perkawinan sehingga perkara tersebut dapat menimbulkan persoalan
hukum yang baru. Berdasarkan uraian di atas maka makalah ini akan membahas
mengenai penemuan hukum dengan menggunakan metode penalaran atau konstruksi
hukum pada kasus perceraian dengan alasan salah satu pihak homoseksual.

B. Rumusan Masalah :
1. Pengertian dan Kegunaan Penemuan Hukum Dalam Sistem Hukum Indonesia ?
2. Bagaimana Teori Penemuan Hukum Dengan Metode Konstruksi Hukum ?
3. Bagaimana Penemuan Hukum Dalam Kasus Perceraian Dengan Alasan Salah Satu
Pihak Homoseksual Pada Kasus No. 144/Pdt.G/2007/PA Dengan Menggunakan
Metode Penalaran atau Konstruksi Hukum ?

BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian dan Kegunaan Penemuan Hukum Dalam Sistem Hukum Indonesia :
a. Pengertian Tentang Penemuan Hukum :
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, bahwa kegiatan dalam kehidupan
manusia itu sangat luas, tidak terhitung jumlah dan jenisnya, sehingga tidak mungkin
tercakup dalam suatu peraturan perundang-undangan dengan tuntas dan jelas. Oleh
karena itu tidak ada peraturan perundang-undangan yang dapat mencakup keseluruhan
kehidupan manusia, sehingga tidak ada peraturan perundang-undangan yang lengkap
selengkapnya lengkapnya dan jelas sejelas-jelasnya. Karena hukumnya tidak lengkap
dan tidak jelas, maka harus dicari dan diketemukan.6
Menurut Utrecht, apabila terjadi suatu peraturan perundang-undangan belum jelas
atau belum mengaturnya, hakim harus bertindak berdasar inisiatifnya sendiri untuk
menyelesaikan perkara tersebut dalam hal ini hakim harus berperan menentukan apa
yang merupaka hukum, sekalipun peraturan perundang undangan tidak dapat
membantunya. Tindakan hakim inilah yang dinamakan dengan penemuan hukum.7
Paul Scholten menyatakan bahwa yang dimaksud dengan penemuan hukum
adalah sesuatu yang lain daripada hanya penerapan peraturan-peraturan pada
peristiwanya. Kadang kadang dan bahkan sangat terjadi bahwa peraturannya harus
ditemukan, baik dengan interprestasi maupun dengan jalan analogi ataupun
rechsvervijning (penghalusan/pengkrotetan hukum).
Dalam sistem hukum Indonesia, terlihat bahwa hakim atau badan peradilan
mempunyai peran yang penting dalam penemuan hukum melalui putusan-putusannya,
yang pada akhirnya penemuan hukum oleh hakim akan membentuk hukum baru yang
kekuatannya setara dengan undang-undang yang dibuat oleh pembentuk undangundang dan jika putusan tersebut diikuti oleh hakim-hakim selanjutnya menjadi
yurisprudensi, yang sudang barang tentu mempengaruhi cara pikir maupun cara
pandang hakim lain dalam mengadili meutuskan perkara yang sama atau hampir
sama.
6 Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo,Op. Cit. Hlm 9
7 Rifai Ahmad, Ibid. Hlm. 22
5

b. Kegunaan Penemuan Hukum


Kegunaan dari penemuan hukum adalah mencari dan menemukan kaidah hukum
yang dapat digunakan untuk memberikan keputusan yang tepat atau benar, dan secara
tidak langsung memberikan kepastian hukum juga didalam masyarakat. Sementara
itu, kenyataan menunjukkan bahwa :8
1. Adakalanya pembuat Undang-undang sengaja atau tidak sengaja menggunakan
istilah-istilah atau pengertian pengertian yanga sangat umum sifatnya, sehingga
dapat diberi lebih dari satu pengertian atau pemaknaan.
2. Adakalanya istilah, kata, pengertian, kalimat yang digunakan di dalam peraturan
perundang-undangan tidak jelas arti atau maknanya, atau tidak dapat diwujudkan
lagi dalam kenyataan sebagai akibat adanya perkembangan-perkembangan didalam
masyarakat.
3. Adakalanya terjadi suatu masalah yang tidak ada peraturan perudang-undangan
yang mengatur masalah tersebut.
c. Penemuan Hukum Dalam Sistem Hukum Indonesia
Indonesia dalam perspektif keluarga-keluarga hukum di dunia termasuk kedalam
keluarga hukum Eropa Continental (civil law) yang sering diperlawankan dengan
keluarga hukum Amerika Saxon (common law). Kedua sistem hukum ini merupakan
dua sistem hukum utama yang banyak diterapkan di dunia, namun selain dua sistem
hukum tersebut terdapat beberapa hukum lainnya yang diterapkan di dunia yakni
sistem hukum Islam (Islamic Law) dan sistem hukum komunis (Communist Law).
Indonesia menganut sistem hukum Civil Law, akibat penjajahan yang dilakukan oleh
Belanda selama kurun waktu 350 tahun melalui kebijakan bewuste rechtspolitiek ,
yang kemudian pasca kemerdekaan tata hukum tersebut diresepsi menjadi tata hukum
nasional Indonesia melalui Aturan Peralihan UUD 1945 Pasal II (Pra Amandemen)
yang menyatakan : segala badan negara dan peraturan yang ada masih berlaku,
selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini. Oleh
karenanya, keberadaan lembaga dan aturan-aturan yang ada merupakan lembaga dan
aturan-aturan yang dibawa oleh Belanda yang merupakan negara yang menganut
sistem civil law.9
Salah satu karakteristik utama dari civil law ialah penggunaan aturan-aturan yang
tertulis

dan

terbukukan

(terkodifikasi)

sebagai

sumber

hukumnya.

Untuk

8 Wonkdermayu, Op, Cit. Diakses tanggal 22 september 2016


9 Ibid. Diakses tanggal 22 september 2016
6

menerjemahkan aturan-aturan hukum tersebut, kepada peristiwa-peristiwa konkret,


maka difungsikanlah seorang hakim. Seorang hakim memiliki kedudukan pasif di
dalam menerapkan aturan hukum tersebut, dia akan menerjemahkan suatu aturan
hukum apabila telah terjadi sengketa diantara individu satu dengan yang lainnya di
dalam masyarakat yang kemudian hasil terjemahan aturan hukum tersebut ditetapkan
di dalam suatu putusan pengadilan yang mengikat pada pihak-pihak yang bersengketa.
Berkebalikan dengan sistem eropa continental, sistem anglo saxon yang biasa disebut
dengan sistem common law merupakan sistem hukum yang menjadikan yurisprudensi
sebagai sendi utama di dalam sistem hukumnya. Yurisprudensi ini merupakan
keputusan-keputusan hakim mengenai suatu perkara konkret yang kemudian putusan
tersebut menciptakan kaidah dan asas-asas hukum yang kemudian mengikat bagi
hakim-hakim berikutnya di dalam memutus suatu perkara yang memiliki karakteristik
yang sama dengan perkara sebelumnya.
Pengunaan aturan hukum tertulis di dalam civil law, terkadang memiliki kendalakendala tertentu. Salah satu kendala utama ialah, relevansi suatu aturan yang dibuat
dengan perkembangan masyarakat. Hal ini dikarenakan akitivitas masyarakat selalu
dinamis, oleh karenanya segala aturan hukum yang dibentuk pada suatu masa tertentu
belum tentu relevan dengan masa sekarang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa,
aturan hukum selalu berada satu langkah dibelakang realitas masyarakat. Relevansi
aturan hukum dengan persoalan masyarakat merupakan hal yang esensial demi
terciptanya keadilan dan ketertiban di masyarakat. Aturan hukum yang tidak relevan,
akan menciptakan kekacuan dan ketidakadilan, dan menjadi persoalan karena tidak
dapat menjawab persoalan-persoalan yang ada di masyarakat. Relevansi di sini
mengandung pengertian, bahwa hukum harus bisa memecahkan suatu persoalan dari
suatu realitas baru masyarakat. Sehingga jika tidak, akan menyebabkan terjadinya apa
yang disebut dengan bankruptcy of justice yakni suatu konsep yang mengacu kepada
kondisi dimana hukum tidak dapat menyelesaikan suatu perkara akibat ketiadaan
aturan hukum yang mengaturnya.10
Untuk menyelesaikan persoalan ini, maka diberikanlah kewenangan kepada hakim
untuk mampu mengembangkan hukum atau melakukan penemuan hukum
(rechtsvinding), namun demikian dalam konteks sistem hukum civil law hal ini
menjadi suatu persoalan. Hakim pada prinsipnya merupakan corong dari undangundang, dimana peranan dari kekuasaan kehakimanan hanya sebagai penerap undang10 Ibid, Diakses tanggal 22 september 2016.
7

undang (rule adjudication function) yang bukan merupakan kekuasaan pembuat


undang-undang (rule making function). Sehingga diperlukan batasan-batasan
mengenai penemuan hukum (rechtsvinding) oleh hakim dengan menggunakan
konstruksi hukum.
2. Teori Penemuan Hukum Dengan Metode Konstruksi Hukum
Sebagaimana dikemukakan bahwa peraturan perundang-undangan itu tidak jelas,
tidak lengkap, bersifat statis, dan tidak dapat mengikuti perkembangan masyarakat, dan
hal itu menimbulkan ruang kosong, yang harus diisi oleh hakim dengan menemukan
hukumnya yang dilakukan dengan cara menjelaskan, menafsirkan, atau melengkapi
peraturan perundang-undangnya. Penemuan hukum oleh hakim tidak semata-mata
menyangkut penerapan peraturan perundang-undangan terhadap peristiwa konkret, tetapi
juga penciptaan hukum dan pembentukan hukumnya sekaligus.11
Metode penemuan hukum diarahkan pada suatu peristiwa bersifat khusus, konkret,
dan individual. Jadi, metode penemuan hukum bersifat pratikal, karena lebih
dipergunakan dalam praktik hukum. Hasil dari metode penemuan hukum adalah
terciptanya putusan pengadilan yang baik, yang dapat dipergunakan sebagai sumber
pembaruan hukum. Putusan hakim berperan juga terhadap perkembangan hukum dan
ilmu hukum, oleh karena itu putusan hakim dapat juga digunakan sebagai bahan kajian
dalam ilmu hukum.12
Menurut Ahmad Ali, ada 2 (dua) teori penemuan hukum yang dapat dilakukan oleh
hakim dalam praktik peradilan, yaitu melalui metode interprestasi atau penafsiran dan
melalui metode konstruksi.

13

kemudian ada perbedaan pandangan tentang metode atau

cara penemuan hukum oleh hakim menurut yuris dari Eropa Kontinental dengan yuris
yang berasal dari Anglo Saxon. Pada umumnya yuris Eropa Kontinental tidak
memisahkan secara tegas antara metode interprestasi dengan metode konstruksi, hal ini
dapat dilihat dalam paparan buku-buku Paul Scholten, Pitlo, Sudikno Mertokusumo dan
Yudha Bhakti Adiwisastra. Sebaliknya, para penulis yang condong pada sistem anglo

11 Jazim Hamidi, Hermeneutika Hukum. Teori Penemuan Hukum Baru dengan Interpretasi Teks.
Yogyakarta. hlm.52.
12 Rifai Ahmad, Op, Cit., hlm. 59
13 Ahmad Ali, Keterpurukan Hukum di indonesia (Penyebab dan Solusinya). Bogor. Ghalia
Indonesia. 2005. Hlm. 167.
8

saxon, seperti Curzon, B Arief Sidharta dan Ahmad Ali, membuat pemisahan secara
tegas antara metode interprestasi dengan metode konstruksi.14
Interprestasi hukum terjadi, apabila terdapat ketentuan undang-undang yang secara
langsung dapat ditetapkan pada kasus konkret yang dihadapi, atau metode ini dilakukan
dalam hal peraturannya sudah ada, tetapi tidak jelas untuk dapat diterapkan pada
peristiwa konkret atau mengandung arti pemecahan atau penguraian akan suatu makna
ganda norma yang kabur, konflik antarnorma hukum, dan ketidakpastian dari suatu
peraturan perundang-undangan. Interprestasi terhadap teks peraturan perundangundangannya pun masih tetap berpegang pada bunyi teks tersebut. Metode interprestasi
dikelompokkan menjadi : interprestasi gramatikal, interprestasi historis, interprestasi
sistematis, interprestasi teleologis/sosiologis, interprestasi komparatif, interprestasi
futursitik,

interprestasi

restriktif,

interprestasi

ekstensif,

interprestasi

autentik,

interprestasi interdispliner, dan interprestasi multidisipliner.


Konstruksi hukum terjadi, apabila tidak diketemukan ketentuan undang-undang
yang secara langsung dapat diterapkan pada masalah hukum yang dihadapi, ataupun
dalam hal peraturannya memang tidak ada, jadi terdapat kekosongan hukum (recht
vacuum) atau kekosongan undang-undang (wet vacuum) untuk mengisi kekosongan
undang-undang inilah, biasanya hakim menggunakan penlaran logisnya untuk
mengembangkan lebih lanjut suatu teks undang-undang, dimana tidak lagi berpegang
pada bunyi teks itu, tetapi dengan syarat hakim tidak mengabaikan hukum sebagai suatu
sistem.15
Metode Konstruksi Hukum :
Metode konstruksi hukum digunakan oleh hakim pada saat ia dihadapkan pada situasi
adanya kekosongan hukum (recht vacuum) atau kekosongan hukum (wet vacuum),
karena pada prinsipnya hakim tidak boleh menolak perkara untuk diselesaikan dengan
dalih hukumnya tidak ada atau belum mengaturnya (asas ius curia novit) hakim harus
terus menggali dan menemukan hukum yang hidup dan berkembang di tengah-tengah
masyarakat, karena sebagai penegak hukum dan keadilan, hakim wajib menggali,
mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam
masyarakat.16 Metode konstruksi hukum bertujuan agar hasil putusan hakim dalam
14 Rifai Ahmad, Op. Cit. Hlm. 59
15 Ibid. Hlm. 60
16 Ibid. Hlm. 74
9

peristiwa konkret yang ditanganinya dapat memenuhi rasa keadilan serta memberikan
kemanfaatan bagi para pencari keadilan. Meskipun nilai dari rasa keadilan dan
kemanfaatan itu ukurannya sangat relatif.
Menurut Rudolf Von Jhering ada tiga syarat utama untuk melakukan konstruksi
hukum :17
1. Konstuksi hukum harus mampu meliputi semua bidang hukum positif yang
bersangkutan.
2. Dalam pembuatan konstruksi hukum tidak boleh ada pertentangan logis didalamnya
atau tidak boleh membantah dirinya sendiri.
3. Konstruksi itu mencerminkan faktor keindahan yaitu konstruksi itu bukan merupakan
sesuatu yang dibuat-buat dan konstruksi harus mampu memberi gambaran yang jelas
tentang sesuatu hal, sehingga dimungkinkan penggabungan berbagai peraturan,
pembautan pengertian-pengertian barum dan lain-lain.
Adapun penemuan hukum melalui metode konstuksi hukum yang dikenal selama ini
ada 4 (empat) yaitu sebagai berikut :
a. Metode Argumentum Per Analogium (Analogi)
Analogi merupakan metode penemuan hukum di mana hakim mencari esensi yang
lebih umum dari sebuah peristiwa hukum atau perbuatan hukum baik yang telah
diatur oleh undang-undang maupun yang belum ada peraturannya.
Metode analogi sebagai salah satu jenis konstruksi hukum biasanya sering
digunakan dalam lapangan hukum perdatam dan hal ini tidak akan menimbulkan
persoalan, sedangkan penggunanya dalam hukum pidan sering menjadi perdebatan
di kalangan para yusris, karena ada yang setuju dan ada pula yang menolaknya.
Akan tetapi, yang jelas bahwa sebagian besar negara-negara hukum dan ahli hukum
di dunia tidak menerima analogi untuk diterapkan dalam hukum pidana, sehingga
hal ini berpengaruh pada asas legalitas dalam hukum pidana yang tidak
membolehkan sifat retroaktif atau berlaku surut peraturan perundang-undangan.
Pasal 1 ayat (1) KUHP berbunyi :
Tiada suatu perbuatan dapat dipidana, kecuali atas kekuatan aturan pidana
dalam perundang-undangan yang telah ada sebelah perbuatan dilakukan.
Seseorang baru dituntut ke depan pengadilan, apabila telah melakukan suatu
perbuatan yang diduga telah melanggar ketentuan hukum pidana. Demikian pula
halnya dalam penjatuhan pidana, seseorang baru dapat pidana apabila terbukti telah
melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan yang bersaksi pidana. Di
Indonesia, penerapan analogi dalam kasus pidana tampaknya belum diterima,
walaupun hakim Bismar Siregar pernah melakukan terobosan penggunaanya dalam
17 Ahmad Ali, Op.Cit .Hlm. 191-192
10

kamus perkosaan bahwa kemaluan wanita dianalogikan sebagai barang. Tetapi


dalam putusan Mahkamah Agung, putusan Bismar ini dibatalkan.
Analogi merupakan metode penemuan hukum dalam hal hukumnya tidak
lengkap, jadi merupakan pengisian atau penciptaan hukum baru dan bukan sebagai
bentuk penafsiran. Dengan demikian KUHP menutup penciptaan hukum melalui
analogi, akan tetapi dalam hukum pidana diperbolehkan adanya penafsiran ekstensif,
yaitu memperluas ketentuan yang hakikatnya sifatnya sama dengan analogi.18
b. Metode A Contrario (Argumentum A Contrario)
Metode a contrario merupakan cara menjelaskan makna undang-undang didasarkan
pada pengertian yang sebaliknya dari peristiwa konkret yang dihadapi dengan
peristiwa yang diatur dalam undang-undang. Apabila suatu peristiwa tertentu diatur
dalam undang-undang, tetapi peristiwa lainnya yang mirip tidak, maka berlaku hal
yang sebaliknya.19
Metode argumentum a contrario dengan sistem hukum Anglo Saxon dan Eropa
Kontinental, maka metode ini selaras dengan metode berpikir hakim di Eropa
Kontinental. Dalam sistem hukum Anglo Saxon, para hakim cenderung secara
induktif, yaitu berfikir dari persitiwa khusus kepada peristiwa umum. Hakim
mencari dan menemukan peraturan peraturan sebagai dasar putusannya. Melalui
sederetan putusan-putusan sebelumnya. Adapun dalam hukum Eropa Kontinental
hakim berpikir secara deduktif yiatu berfikir dari peristiwa umum kepada peristiwa
khusus, yang mengikat hakim dengan undang-undang yang merupakan peraturan
umum agar sekelompok peristiwa tertentu sama dapat diputus dengan sama pula.
c. Metode Penyempitan/Pengkokretan Hukum
Metode pengkonkretan hukum bertujuan untuk mengkoretkan/menyempitkan
suatu aturan hukum yang terlalu abstark, pasif serta sangat umum, agar dapat
diterapkan terhadap suatu peristiwa tertentu.20Dikatakan abstrak karena aturan
hukum bersifat umum dan dikatakan pasif karena aturan hukum bersifat tidak akan
menimbulkan akibat hukum kalau tidak terjadi peristiwa konkret. Dalam metode ini
dibentuklah pengecualian-pengecualian atau penyimpangan penyimpangan baru dari
peraturan yang bersifat umum. Peraturan yang bersifat umum ini diterapkan

18 Fauzan, Op.Cit. Hlm. 74


19 Ibid. Hlm. 75
20 Jazim Hamidi, Op.Cit. Hlm. 61
11

terhadap peristiwa atau hubungan hukum yang khusus dengan penjelasan atau
konsturuksi dengan memberi ciri-ciri.
d. Fiksi Hukum
Manurut Paton, metode penemuan hukum melalui fiksi hukum ini bersumber pada
fase perkembangan hukum dalam periode menengah, yaitu setelah berakhirnya
periode hukum primitif. Metode fiksi sebagai penemuan hukum ini sebanrnya
berlandaskan pada asas bahawa setipa orang dianggap mengetahui undang-undang.
Padahal sebagaimana dalam kenyataan, tidaklah mungkin setiap orang mengetahui
semua ketentuan hukum yang berlaku di negaranya masing-masing, bahkan seorang
pkar hukum hanya mengetahui ketentuan hukum yang berkaitan dengan bidang
keahliannya. Namun demikian metode fiksi hukum ini sangat dibutuhkan oleh
hakim dalam praktik peradilan, karena seorang yang didakwa melakukan suatu
tidnak pidana kejahatan, tidak dapat berdalih untuk dibebaskan dengan alasan tidak
mengetahui hukumnya bahwa perbuatan yang dilakukannya itu merupakan suau
kejahatan yang dapat dijatuhi pidana.21
Esensi dari fiksi hukum merupakan metode penemuan hukum yang mengemukakan
fakta-fakta baru, sehingga tampil suatu personifikasi baru dihapadapan kita. Fungsi
dari fiksi hukum di samping untuk memenuhi hasrat menciptkan stabilitas hukum,
juga utamanya ntuk mengisi kekosongan undang-undang. Dengan kata lain, fiksi
hukum bermaksud untuk mengatasi konflik antara tuntutan-tuntutan baru dengan
siste m hukum yang ada.22
3. Penemuan Hukum Dalam Kasus Perceraian Dengan Alasan Salah Satu Pihak
Homoseksual Pada Kasus No. 144/Pdt.G/2007/PA Dengan Menggunakan Metode
Penalaran atau Konstruksi Hukum.
Semua manusia mengharapkan kehidupan perkawinannya dapat berlangsung terus
hingga akhir hayatnya. Hal ini diperkuat sebagaimana dalam Undang-Undang No. 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam yang menegaskan
bahwa prinsip perkawinan adalah suatu akad yang suci yang dibangun oleh suami-istri
dengan tujuan membentuk rumah tangga yang kekal dan bahagia.
Perkawinan dapat diputus apabila terjadi karena alasan-alasan yang prinsipil, yang
apabila rumah tangganya dipertahankan akan terjadi kemadharatan dan dampak buruk
21 Ahmad Rifai. Op, Cit. Hlm. 85
22 Jazim Hamidi. Op.Cit. Hlm. 63
12

yang lebih besar daripada dampak positifnya. Hal-hal mengenai perceraian telah diatur
dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Instruksi Presiden
Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam, serta Penjelasan atas UndangUndang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Alasan-alasan dalam ketentuan Undang-undang

Perkawinan

dan

peraturan

pelaksanaannya tersebut dapat menjadi pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan


putusan perceraian. Namun apabila alasan perceraian yang diajukan oleh para pihak
tidak terdapat dalam Undang-undang Perkawinan dan peraturan pelaksanaannya
tersebut, Hakim dapat menggunakan penemuan hukum. Dalam hal ini, penulis
mencoba

menganalisis kasus No. 144/Pdt.G/2007/PA untuk mengetahui penemuan

hukum yang digunakan oleh hakim dalam menjatuhkan putusan.


a. Kasus posisi dalam perkara No. 144/Pdt.G/2007/PA.Ska adalah sebagai
berikut :
Pada tanggal 13 September 2001 telah menikah antara Penggugat dengan Tergugat
secara sah dan telah terdaftar dalam register Kutipan Akta Nikah No. 370/40/XI/2001.
Setelah menikah, Penggugat dan Tergugat bertempat tinggal di rumah orang tua
Tergugat yakni di Baron RT. 06 RW. I Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan,
lv
Kota Surakarta. Penggugat dan Tergugat
telah dikaruniai seorang anak yang
berinisial NAH yang lahir pada tanggan 13 April 2003.
Dalam menjalani kehidupan rumah tangga, sudah banyak ketidak cocokan diantara
Penggugat dengan Tergugat sehingga tujuan perkawinan sebagaimana yang diatur
dalam Pasal 1 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 yaitu membentuk rumah tangga yang
bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa tidak dapat tercapai;
Selain itu, Tergugat menunjukkan perilaku yang aneh yakni suka berhubungan
dengan sesama jenis (Homoseksual) yang mengakibatkan Tergugat tidak mau
berhubungan intim dengan Penggugat sehingga Penggugat merasa nafkah batin tidak
terpenuhi. Untuk nafkah lahirpun selama lima bulan tidak diberikan sehingga Penggugat
masih dibantu orang tua Penggugat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Penggugat
dan Tergugat sudah pisah ranjang selama empat tahun dan sudah tidak serumah
selama lima bulan
Penggugat juga sudah pernah diusir oleh kakak kandung Tergugat dan disuruh pergi
dari rumah orang tua Tergugat dan Tergugat tidak menghiraukannya. Hal tersebut
terjadi tidak hanya sekali.
b. Analisa :
13

Hakim dalam memutus perkara pada dasarnya mengacu pada peraturan


perundangan yang berlaku di negara kita, namun demikian Hakim tidak hanya
mempertimbangkan masalah peraturan yang sifatnya teoretis semata melainkan
juga mempertimbangkan hal-hal konkret lainnya yang ada di setiap perkara, yang
tentunya tidak sama satu dengan yang lainnya.
Adanya gugatan Penggugat yang pada pokoknya didasarkan pada alasan bahwa
selama menjalani kehidupan bersama Tergugat menunjukkan perilaku yang aneh, suka
berhubungan dengan sesama jenis/homoseksual, sudah empat tahun tidak berhubungan
intim, sudah lima bulan tidak dikasih nafkah lahir dan Tergugat tidak mencukupi
kebutuhan sehari-hari, baik bagi Penggugat dan anaknya, serta rumah tangganya
sering cekcok karena Tergugat sewenang-wenang dan selalu curiga terhadap
Penggugat.
Penggugat melakukan sumpah sebagai salah satu alat bukti pada hukum perdata,
yang pada intinya Penggugat mengakui penyebab perpisahan sesungguhnya adalah
karena sudah empat tahun tidak berhubungan intim dengan Tergugat karena Tergugat
berperilaku seks menyimpang (homoseksual) dimana penggugat mengetahuinya setelah
ada orang cerita kepada Penggugat (Budi dan Hafid) karena pernah diperlakukan
tidak senonoh oleh Tergugat,
Menurut Pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975 juncto Pasal 116 huruf (f)
Kompilasi Hukum islam Perceraian dapat terjadi karena alasan atau alasan-alasan :
a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi, dan lain
sebagainya yang sukar disembuhkan;
b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut- turut tanpa
izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya;
c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih
berat setelah perkawinan berlangsung;
d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan
pihak yang lain;
e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat
menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri;
f. Antara suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak
ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
Berdasarkan Pasal 19 PP No. 9 tahun 1975 Jo Pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum
Islam tentang Pelakasana Undang Undang Perkawinan No. 1 tahun 1974 tidak diatur
14

homoseksual menjadi alasan dari suatu perceraian. Menurut penulis, walaupun


homoseksual tidak menjadi alasan perceraian akan tetapi homoseksual dapat
menimbulkan perselisihan dan percekcokan dalam rumah tangga yang menjadi alasan
adanya perceraian.
Dalam perkara Nomor 144/Pdt.G/2007/PA. Tergugat tidak pernah hadir dalam
persidangan. Ketidakhadiran Tergugat dapat diartikan bahwa Tergugat tidak
membantah atau tidak menyangkal sama sekali gugatan Penggugat.
Indonesia sebagai penganut sistem hukum civil law menggunakan aturan hukum
tertulis dan terkodifikasi sebagai sumber hukum. Untuk menerjemahkan aturan hukum
tersebut terhadap peristiwa yang kompleks maka difungsikanlah hakim. Seorang hakim
di dalam menerapkan aturan hukum tersebut, dia akan menerjemahkan suatu aturan
hukum apabila telah terjadi sengketa diantara individu satu dengan yang lainnya di
dalam masyarakat yang kemudian hasil terjemahan aturan hukum tersebut ditetapkan di
dalam suatu putusan pengadilan yang mengikat pada pihak-pihak yang bersengketa
Majelis Hakim mengabulkan gugatan cerai penggugat berdasarkan Pasal 19 huruf f
Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 Jo Pasal 116 huruf f Kompilasi Hukum Islam
yakni antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran
dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga. Perselisihan dan
pertengkaran yang terus menerus antara suami dan istri membuat rumah tangga menjadi
tidak tentram , dimana suami istri di dalamnya tersiksa, jauh dari rasa ketenangan,
ketentraman dan kebahagiaan yang justru menjadi tujuan perkawinan. Penyebab
terjadinya

perselisihan

dan

pertengkaran

juga

bermacam- macam, antara lain

adalah karena tekanan ekonomi rumah tangga, bisa karena cara hidup dan pandangan
yang berbeda, bisa karena kehidupan beragama yang berbeda dan sebagainya.
Dalam

perkara

No.

114/Pdt.G/2007/PA.

Menurut

penulis

Hakim

mempertimbangkan bahwa alasan-alasan perceraian itu hanyalah contoh saja, dimana


tiap alasan dapat dipergunakan untuk meminta perceraian, asal saja alasan itu
mengakibatkan suami istri tidak dapat hidup rukun lagi. J a d i m a j e l i s hakim
tidak hanya mempertimbangkan perselisihan sebagai alasan perceraian saja, akan tetapi
Hakim juga mempertimbangkan hal-hal lain yang menimbulkan perselisihan itu sendiri
salah satunya karena perilaku seks menyimpang (homoseksual).
Pada kasus tersebut, menurut penulis majelis hakim melakukan penemuan hukum
menjatuhkan putusan dengan menggunakan metode konstruksi hukum Argumentum per
analogiam atau metode berfikir analogi. Analogi memberi penafsiran pada suatu
15

peraturan hukum dengan memberi kias pada kata-kata dalam peraturan tersebut,
sehingga suatu peristiwa yang sebenarnya tidak dapat dimasukkan kemudian dianggap
sesuai dengan bunyi peraturan tersebut.23 Hakim menggunakan Pasal 19 huruf (f)
Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 juncto Pasal 116 huruf (f) Kompilasi
Hukum islam yang berbunyi Antara suami dan istri terus-menerus terjadi perselisihan
dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
Pasal tersebut apabila dianalogikan maka perselisihan dan pertengkaran tersebut
meliputi segala hal yang dapat menyebabkan terjadinya perselisihan dan pertengkaran
dalam rumah tangga. Apabila diterapkan dalam

kasus

tersebut,

perilaku

seks

menyimpang Tergugat (homoseks) yang menjadi penyebab terjadinya perselisihan dan


pertengkaran dalam rumah tangga dapat menjadi alasan terjadinya perceraian,
sehingga menurut penulis, Hakim telah tepat memberikan dasar hukum Pasal 19 huruf
(f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 juncto Pasal 116 huruf (f)
Kompilasi Hukum islam. Sehingga dalam perkara No. 144/Pdt.G/2007/PA Majelis
Hakim menjatuhkan putusan mengabulkan gugatan penggugat sesuai dengan
ketentuan Undang-undang Perkawinan dan peraturan pelaksanaannya.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN :
1. Dalam sistem hukum Indonesia, terlihat bahwa hakim atau badan peradilan
mempunyai peran yang penting dalam penemuan hukum melalui putusanputusannya, yang pada akhirnya penemuan hukum oleh hakim akan membentuk
hukum baru yang kekuatannya setara dengan undang-undang yang dibuat oleh
23 Sudikono Mertokusumo dan Pitlo, Bab-bab Op. Cit. Hlm. 23
16

pembentuk undang-undang dan jika putusan tersebut diikuti oleh hakim-hakim


selanjutnya menjadi yurisprudensi, yang sudang barang tentu mempengaruhi cara
pikir maupun cara pandang hakim lain dalam mengadili meutuskan perkara yang
sama atau hampir sama.
2. Metode konstruksi hukum terjadi, apabila tidak diketemukan ketentuan undangundang yang secara langsung dapat diterapkan pada masalah hukum yang dihadapi,
ataupun dalam hal peraturannya memang tidak ada, jadi terdapat kekosongan hukum
(recht vacuum) atau kekosongan undang-undang (wet vacuum)

untuk mengisi

kekosongan undang-undang inilah, biasanya hakim menggunakan penlaran logisnya


untuk mengembangkan lebih lanjut suatu teks undang-undang, dimana tidak lagi
berpegang pada bunyi teks itu, tetapi dengan syarat hakim tidak mengabaikan
hukum sebagai suatu sistem.
3. Pada kasus perceraian No. 114/Pdt.G/2007/PA Ska dengan alasan salah satu pihak
memiliki perilaku seksual menyimpang yaitu homoseksual dalam Peraturan
Pemerintah No. 9 Tahun 1975 Tentang Peraturan Pelaksana Undang Undang
Perkawinan Pasal 19 mengenai alasan alasan perceraian, dimana perilaku
menyimpang homoseksual tidak menjadi alasan dari suatu perceraian. Dalam kasus
ini Majelis Hakim PN Surakarta melakukan penemuan hukum dengan metode
konstruksi hukum Argumentum Per Analogium (Analogi). Hakim menggunakan
Pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 juncto Pasal 116 huruf
(f) Kompilasi Hukum islam. Pasal tersebut apabila dianalogikan maka perselisihan
dan pertengkaran tersebut meliputi segala hal yang dapat menyebabkan terjadinya
perselisihan dan pertengkaran dalam rumah tangga. Apabila diterapkan dalam kasus
tersebut, perilaku seks menyimpang Tergugat (homoseks) yang menjadi penyebab
terjadinya perselisihan dan pertengkaran dalam rumah

tangga

dapat

menjadi

alasan terjadinya perceraian


B. Saran
1. Putusan hakim tidak hanya sekedar corong undang-undang meskipun seharusnya
hakim selalu harus legalistik karena putusannya tetap berpedoman pada peraturan
2.

perundang-undangan yang berlaku.


Putusan hakim tidak hanya sekedar memenuhi formalitas hukum atau sekadar
memelihara ketertiban saja, tetapi putusan hakim harus berfungsi mendorong

perbaikan dalam masyarakat dan membangun harmonisasi sosial dalam pergaulan.


3. Dalam hal ini badan peradilan khususnya Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri
sedapat mungkin tetap

memegang teguh

prinsip

mempersukar terjadinya
17

perceraian, dengan mengingat dampak negatif perceraian bagi generasi yang akan
datang. Selain itu diharapkan juga pihak pengadilan dapat memberikan penyelesaian
yang baik manakala menghadapi permohonan atau gugatan perceraian seperti
dengan alasan penyimpangan perilaku seksual (homoseksual).

DAFTAR PUSTAKA
A. Buku
Rifai Ahmad, Penemuan Hukum Oleh Hakim Dalam Perspektif Hukum Progresif
Jakarta. P.T. Sinar Grafika. 2010.
Sudikno Mertokusumo dan Pitlo. Bab Bab Tentang Penemuan Hukum. Jakarta. PT. Citra
Aditya Bakti. 1993.
Fauzan, Kaidah Penemuan Hukum yurisprusdensi Bidang Hukum Perdata. Jakarta.
Prenadamedia Group. 2014.
18

Hamidi Jazim, Hermeneutika Hukum. Teori Penemuan Hukum Baru dengan


Interpretasi Teks. Yogyakarta.
Ali Ahmad, Keterpurukan Hukum di indonesia (Penyebab dan Solusinya). Bogor. Ghalia
Indonesia. 2005.
B. Internet
Wonkdermayu, Penemuan Hukum https://wonkdermayu.wordpress.com/kuliahhukum/penemuan-hukum-atau-rechtsvinding/.
Yudaeka, Teori Hukum Dan Penemuan Hukum. Yudaeka793.blogspot.co.id/2014/05/Peran
Hakim Dalam Penemuan Hukum

MAKALAH
PENEMUAN HUKUM
PENEMUAN HUKUM DALAM KASUS PERCERAIAN DENGAN ALASAN SALAH
SATU PIHAK HOMOSEKSUAL DENGAN MENGGUNAKAN METODE
KONSTRUKSI HUKUM

DOSEN :
Prof. Dr. Hj. Yulia Mirwati, SH, CN, MH.
19

OLEH :
ELSYANIA PARAMITHA
1620112045

Program Pasca Sarjana


Magister Ilmu Hukum
Universitas Andalas
2016/2017

20

Anda mungkin juga menyukai