Anda di halaman 1dari 3

INDONESIA MENGAHADAPI CARBON TRADE

Perubahan lingkungan akibat global warming serta gaya hidup manusia yang tidak
ramah lingkungan menyebabkan terjadinya perubahan lingkungan yang sangat cepat dan
dapat mengancam kehidupan manusia itu sendiri. Perubahan lingkungan tersebut dapat
diketahui dari meningkatnya konsentrasi CO dalam atmosfer yang mengakibatkan
peningkatan suhu global dan meningkatnya emisi gas (Ulumuddin,2005). Usaha yang
dapat dilakukan untuk mengurangi emisi gs ini dapat dilakukan dengan cara mengubah
gaya hidup kita yang cenderung bergantung pada pendingin ruangan, freezer dll yang
banyak mengeluarkan emisi gas menjadi gaya hidup yang lebih sederhana dengan
mengurangi pemakaiannya.
Telah banyak usaha yang dilakukan untuk mengangani masalah emisi gas dan
pemenasan global, salah satunya yakni dengan menerapkan teknologi rendah emisi.
Menerapkan teknologi rendah emisi ini memang merupakan cara yang cukup efektif untuk
mengurangi gas emisi di udara, namun hal ini terkendala banyak hal salah satunya adalah
biayanya yang cukup mahal dan menyulitkan terutama bagi negara-negara berkembang
seti halnya Indonesia.
Selain itu, usaha mengurangi emisi gas rumah kaca ini dirasa kurang cukup, seperti
kata pepatah lebih baik mencegah daripada mengobati. Penurunan emisi ini dapat lebih
efektif jika dilakukan dengan memanfaatkan gas rumah kaca tersebut seperti CO2 menjadi
sesuatu yang lebih bernilai, contohnya yakni dengan meningkatkan penyerapan gas rumah
kaca tersebut melalui proses fotosisntesisi yang dilakukan oleh tumbuhan, sehingga CO2
yang tadinya merupakan polusi diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi seluruh
makhluk yang ada di muka bumi yaitu karbon organik dalam bentuk biomassa yang kini
dikenal sebagai stok karbon. Adanya ancaman emisi gas terutama karbon yang berlebihan
tersebut menggugah perhatian masyarakat internasional untuk segera mencari solusi dari
adanya perubahan lingkungan ini yaitu dengan diadakannya pertemuan antar petinggi
negara negara maju yang melahirkan Protokol Kyoto. Protokol tersebut berisi isu penting
mengenai penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) pada tahun 1990 pada periode tahun
2008 - 2012 ( Murdiyarso, 2003) dan muncullah gagasan mengurangi emisi gas yang
menyebabkan pemanasan global dengan mekanisme perdagangan karbon melalui program
National Air Pollution Control Administration (United States Environtmental Protection
Agencys Office of Air and Radiation).
Lalu apa isi dari Protokol Kyoto tersebut? Intinya, dalam protokol tersebut
dijelaskan bagaimana mekanisme penurunan emisi yang dinamakan program CDM (Clean
Development Mechanism) dimana negara negara maju yang cenderung banyak
mengahsilkan gas emisi memberi dana investasi (modal) bagi negara negara
berkembang untuk melakukan proyek proyek menurunkan emisi seperti proyek
reboisasi, pengadaaan lahan untuk hutan dsb. Nah inilah yang bisa kita sebut sebagai
Carbon Trade.
Seperti yang dilansir pada ksasulsel.org, carbon trade atau perdagangan karbon
adalah mekanisme jual beli karbon berbasis pasar untuk membatasi peningkatan CO2
diatmosfer, dimana dalam perdagangan ini pembeli dan penjual karbon dibuat sejajar
kedudukannya dalam peraturan perdagangan yang telah distandarisasi. Jika kita berbicara

mengenai perdagangan apalagi pasar, secara otomatis kita akan bertanya tanya, siapa
penjual dan siapa pembelinya?
Penjual karbon merupakan orang yang mengelola mengelola hutan atau lahan
pertanian yang bisa menjual kredit karbon berdasarkan akumulasi karbon yang terkandung
dalam pepohonan di hutan mereka atau bisa juga pengelola industri yang mengurangi
emisi karbon mereka dan menjual emisi yang telah dikurangi kepada emitor (industri) lain,
sedangkan pembeli karbon adalah negara negara yang menghasilkan emisi karbon yang
sangat banyak. Mekanisme perdagangan karbon dapat dijelaskan sebagai berikut: negara
yang menghasilkan emisi karbon dari kuota yang ditentukan diharuskan untuk
memberikan sejumlah insentif kepada Negara yang bisa menyerap karbon melalui proyek
penanaman hutannya. Setiap negara/ industri mempunyai kuota karbon yang boleh
diemisikannya dan memperbolehkan industri yang berhasil mengurangi emisinya untuk
menjual kredit karbon yang tersisa ke industri lain. Agar lebih mudah seperti ini
contohnya, seseorang diperbolehkan mencuci bajunya dengan mesin cuci sebanyak 5 Kg,
jika cuciannya melebihi batas yang ditentukan misalnya 10 kg, maka dia harus membayar
uang sebanyak sekian rupiah untuk dapat tetap mencuci namun dengan jumlah kuota baju
yang berlebih yakni kelebihan 5 Kg lagi dari cuciannya.
Adanya Protokol Kyoto tersebut tentu membuka banyak kesempatan bagi negera
negara lain khususnya negara berkembang yang memiliki sumberdaya alam dan jumlah
hutan yang banyak untuk lebih berkembang dalam sektor ekonomi dan bidang teknologi
rendah emisi ini melalui mekanisme perdagangan karbon. Dengan mekanisme
perdagangan karbon, peluang Indonesia untuk menjadi negara penjual karbon sangat besar.
Potensi hutan Indonesia yang sangat luas dapat mendatangkan manfaat ekologi dan
ekonomi sekaligus bagi masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar hutan. Sesuai
kesepakatan awal bahwa perdagangan karbon hanya bisa melibatkan pohon yang bukan
dari hutan alam dan bukan hutan/pohon yang dikembangkan sebelum tahun 1990, oleh
karena itu hal tersebut akan membuat masyarakat termotivasi untuk lebih menghijaukan
negeri ini dengan cara berlomba-lomba menanam pohon. Tumbuhnya kesadaran tersebut
akan diperoleh keuntungan secara ekologis di antaranya kelestarian hutan khususnya dan
lingkungan hidup pada umumnya akan dapat terjaga dengan baik, program penghijauan
hutan dan lahan akan berjalan lancar, kerusakan hutan akibat penebangan liar akan dapat
ditekan dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjaga tanamannya. Keuntungan
dari sisi ekonomi diantaranya adalah peningkatan pendapatan masyarakat yang ikut
berpartisipasi dalam kegiatan penanaman dan pemeliharaan serta peningkatan pendapatan
melalui pemanfaatan hutan sebagai sarana wisata ekologi.
Para pakar lingkungan mengkritisi praktek perdagangan karbon yang menurut
mereka hanya merupakan pengembangbiakan sistem pasar bebas ke ranah kebijakan
lingkungan. Perhitungan dan dasar ilmiah pengurangan emisi dinilai sangat rumit dan tidak
jelas. Seperti bagaimana menghitung kapasitas karbon yang diserap oleh sejumlah pohon
dan berapa harga per satuan berat karbon yang harus dibayar. Biasanya dalam praktek
perdagangan, soal harga ditentukan oleh pemain terbesar yang bisa mengutak-atik harga
sesuai keinginannya sendiri yakni para negara negara adidaya dan adikuasa dan

dikhawatirkan negara-negara tersebut akan memainkan harga jual dari produk yang
mereka hasilkan karena telah mengeluarkan dana untuk dana emisi yang telah mereka
bayarkan sehingga negara negara berkembang yang notabene sebagai konsumen akan
terkena imbas dari naiknya harga-harga di kancah internasional tersebut serta pada
akhirnya dana dana yang didapatkan dari hasil kompensasi mengurangi emisi karbon
justru hanya bisa digunakan untuk menutupi ongkos membeli kebutuhan produk dari
negara maju dibandingkan untuk mengurangi emisi karbon yang ada.
Proyek pengurangan emisi gas terutama karbon alangkah baiknya ditangani dengan
jalan kesepakatan bersama antara penjual dan pembeli karbon, tidak melalui sistem pasar
bebas seperti saat ini. Oleh karena itu, diperlukan standarisasi nilai pertukaran karbon,
sosialisasi kepada masyarakat, penguatan posisi tawar secara politik negara-negara penjual
karbon umumnya (negara-negara berkembang), kesiapan sarana dan prasarana serta
sumber daya manusia yang dapat diandalkan untuk penilaian total karbon dan adanya
lembaga pengawas yang dapat menjamin perdagangan karbon berlangsung secara adil dan
dapat menyelesaikan masalah jika muncul persengketaan.