Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Test diagnostik sangat penting dilakukan dengan baik dan sesuai tahapannya untuk
menegakkan suatu diagnosa. Apabila tes diagnostik yang dilakukan salah maka akan
mempengaruhi penatalaksanaan lanjutan yang akan dilakukan oleh tenaga kesehatan
akibatnya pasien akan dirugikan dan masa rawat pun akan semakin panjang.
Tes diagnostik dapat dilakukan pada semua sistem yang ada ditubuh manusia, salah
satunya yang paling vital adalah sistem kardiovaskuler. Pada sistem kardiovaskuler,
banyak serangkaian tes diagnostik berupa latihan yang tersedia untuk mengevaluasi
kapasitas fungsional latihan. Sebagian besar memberikan penilaian yang sangat komplit
dengan peralatan dan menggunakan teknologi tinggi dan sederhana untuk melakukannya.
Dalam praktik klinik tes-tes latihan yang lebih populer adalah naik turun tangga, 6
minutes walk test, shuttle walk test, detection of exercise induced asthma, uji latih
jantung berbeban (Bruce protocol), dan tes latihan kardiopulmonal.
Uji berjalan dengan waktu yang telah ditetapkan sering digunakan dalam praktik
klinis dan penelitian untuk menilai kapasitas fungsional. Uji berjalan 6 menit merupakan
metode sederhana dan merupakan modifikasi dari uji berjalan 12 menit yang
dikembangkan oleh Cooper sebagai tes untuk memprediksi VO2 maksimal. Sekarang uji
berjalan 6 menit umumnya digunakan untuk menilai kapasitas fungsional dan
memprediksikan kelangsungan hidup pasien dengan penyakit kardiovaskuler dan
penyakit paru. Uji berjalan 6 menit juga digunakan untuk memprediksi morbiditas dan
mortalitas pada pasien dengan disfungsi ventrikel kiri, gagal jantung kongestif dan
penyakit paru menahun. Banyak penelitian Uji berjalan 6 menit memperoleh hasil bahwa
uji berjalan 6 menit sangat bermanfaat untuk mengukur kapasitas latihan kardiovaskuler
pada pasien lanjut usia dengan gagal jantung kongestif. Dan penyakit paru menahun.
Peeters dkk seperti yang dilaporkan oleh Harada N.D menemukan 22% pasien lanjut usia
dengan gagal jantung kongestuf tidak mampu untuk melakukan treadmill testing tetapi
semuanya mampu melakukan uji berjalan 6 menit.
Kecepatan berjalan sangat berguna terutama sebagai penilaian dan hasil
pengukuran, jarak yang ditempuh dengan nyaman selama periode 6 menit dapat
1

membedakan tingkatan New York Heart Association dari gagal jantung. Kecepatan
berjalan juga merupakan tanda yang sangat baik dari aktivitas penyakit dan hasil
rehabilitasi. Guyatt GH dkk melakukan penelitian dengan cara 4 pengukuran untuk
melihat status fungsional dari 43 pasien yang aktivitasnya terbatas setiap hari. Pada
penelitian ini menemukan uji berjalan 6 menit merupakan suatu pengukuran fungsional
yang baik untuk pasien penyakit jantung dan paru-paru. Penelitian bitner dkk, terhadap
898 pasien dengan gagal jantung kongestif disfungsi ventrikel kiri dan atau fraksi ejeksi
45% dilakukan uji berjalan 6 menit dengan evaluasi rata-rata 242 hari. Bitner dkk
menyimpulkan berjalan 6 menit aman dan sederhana, dan berhubungan dengan
morbiditas dan mortalitas pada pasien dengan disfungsi ventrikel kiri. Tes ini berguna
terutama pada pasien gagal jantung NYHA II.
Berdasarkan paparan diatas, jelas bahwa uji berjalan 6 menit merupakan uji yang
mudah dilakukan dan sederhana yang dapat dilakukan pada pasien lanjut usia dengan
gagal jantung kongestif dan penyakit paru. Oleh karena itu, perawat yang merupakan lini
pertama dalam pemberian asuhan keperawatan yang komprehensif pada pasien perlu
memiliki pengetahuan tentang uji berjalan 6 menit sehingga dapat membantu
menurunkan angka morbiditas dan mortalitas pasien dengan gagal jantung kongestif dan
penyakit paru.
B. Tujuan Penulisan
1. Mampu memahami dan menganalisa definisi uji berjalan 6 menit
2. Mampu memahami dan menganalisa tujuan pemeriksaan uji berjalan 6 menit
3. Mampu memahami dan mengetahui prosedur uji berjalan 6 menit
4. Mampu mengetahui dan menangani indikasi dan kontra indikasi uji berjalan 6 menit
5. Mampu menganalisa dan menginterpretasi hasil uji berjalan 6 menit

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Definisi Uji Jalan 6 Menit (Six Minute Walk Test)


Tes berjalan enam menit atau 6MWT adalah suatu pengukuran jarak yang mampu
ditempuh oleh seseorang dengan waktu enam menit diatas permukaan yang datar dan
keras, dimana individu dapat mengatur kecepatan sesuai dengan kemampuannya
(SobKey, 2013). sedangkan Dedeken, et al., (2014) dalam penelitiannya yang berjudul
Reduction of the six-minute walk distance in children With sickle cell disease is
correlated with silent infarct: Results from a cross-sectional evaluation in a single Center
in Belgium menjelaskan bahwa 6MWT adalah suatu tes yang dilakukan pada orang
dewasa maupun pada anak-anak untuk mengetahui berapa besar pengaruh penyakit
kronik dan mengevaluasi kapasitas/kemampuan aktivitas harian mereka. Suatu alat/cara
yang efektif untuk menilai kapasitas fungsional pada klien dengan penyakit
kardiovaskuler dan penyakit paru (Papathanasiou, Illieva, & Marinov, 2013) begitu juga
dengan Fiorina, et al.,( 2007) dalam penelitiannya yang berjudul The 6-min walking test
early after cardiac surgery referencce value and the effects of rehabilitation programme
memberikan pengertian tentang 6MWT adalah test sederhana, dimana tidak
membutuhkan peralatan yang mahal atau pelatihan yang sulit untuk mengukur atau
mengkaji kemampuan aktivitas dari pasien gagal jantung setelah mendapat terapi atau
pengobatan.
B. Tujuan Pemeriksaan 6MWT
1. Untuk menggambarkan kapasitas fungsional dari sistem respirasi, jantung dan
metabolisme (Bitter, 2007; Wanger, 2011)
2. Menentukan kebugaran fisik yang lebih fokus pada aktivitas fisik (Fiorina, et al.,
2007)
3. Menentukan respon terhadap intervansi medis (Nery, et al., 2012)
4. Memprediksi mortalitas dan mobiditas (Wanger, 2011)
C. Tinjauan Teori Terkait Prosedur
Uji jalan 6 menit memberikan suatu indikasi objektif kapasitas fungsional dan
toleransi latihan karena jarak ambulasi diperlihatkan dalam hubungannya dengan
maksimal gejala yang muncul akibat konsumsi oksigen yang terbatas (Bitter, 2007;
Wanger, 2011; Fiorina, et al., 2007). Pada penelitian yang dilakukan oleh Mathioudakis
3

(2014) bahaw uji jalan 6 menit dapat digunakan untuk mengkaji fungsi ventilasi
pulmonal sehingga dapat mengukur progresi pada pasien COPD (Mathioudakis, 2014).
Penelitian tersebut dilakukan pada 174 laki-laki mantan perokok dengan masalah COPD
dengan usia rata 63 tahun. Pasien dan kontrol diminta untuk melakukan test spirometri
sebelum dan sesudah bronkodilatasi dengan skala pada tabung spirometer dan diminat
untuk melakukan 6MWT dengan berjalan 10 meter pada koridor. Hasil penelitian tersebut
menunjukan bahwa 6MWT reliable digunakan untuk mengukur progesi pada pasien
COPD (Mathioudakis, 2014).
Penelitian lain menunjukan bahwa uji jalan 6 menit reliebel digunakan untuk
menguji keterbatasan fungsional pada pasien gagal jantung dibandingkan dengan uji
cardiopulmonary execise (Guazzi, 2014). Penelitian tersebut dilakukan pada 253 pasien
gagal jantung kemudian diberlakukan test kedua-duanya. Hasil menunjukan bahwa uji
jalan 6 menit merupakan uji yang paling memungkikan dilkukan pada pasien gagal
jantung (Guazzi, 2014)
1. Pengukuran Tingkat Kelelahan
Pengukuran tingkat kelelahan diukur dengan menanyakan kepada klien bolehkah
menyebutkan tingkat kelelahan anda sekarang, Sambil menunjukkan Borg Scale
sebagai berikut:
a. Skala 0: Tidak kelelahan sama sekali.
b. Skala 0,5: Kelelahan sangat ringan sekali.
c. Skala 1: Kelelahan sangat ringan.
d. Skala 2: Kelelahan ringan.
e. Skala 3: Kelelahan sedang.
f. Skala 4: Kelelahan kadang berat.
g. Skala 5-6: Kelelahan berat.
h. Skala 7-8: Kelelahan sangat berat.
i. Skala 9: Kelelahan sangat berat sekali (hampir maksimal)
j. Skala 10: Kelelahan sangat, sangat berat sekali (Maksimal)
Hasil pengukuran skala Borg disesuaikan juga dengan pernapasan klien untuk
mendapatkan hasil yang maksimal (Lee, 2009; ATS, 2002; Bitter, 2007)
2. Masalah keamanan dalam melakukan 6MWT
a. Pelaksanaan harus dilakukan ditempat yang mudah dijangkau untuk keadaan
darurat oleh tim medis.

b. Perlengkapan yang harus tersedia termasuk oksigen, nitrogliserin sublingual,


aspirin, albuterol (inhaler atau nebulizer), telepon atau alat lain yang dapat
digunakan untuk melakukan panggilan bantuan
c. Petugas pengawas harus memiliki sertivikasi resusitasi cardiopulmonal,
minimal Basic life support atau ACLS.
d. Pengawasan dari dokter umumnya tidak diperlukan, namun dalam kasus
tertentu perlu didampingi oleh dokter sampai test selesai.
e. Jika seorang klien sedang mendapat terapi oksigen maka harus diberikan
sesuai standar atau keadaan penyakitnya.
f. 6MWT segerah dihentikan bila: klien nyeri dada, sesak yang tidak dapat
ditoleransi, Kram kaki tungkai, sempoyongan/mencegangkan, Diaphoresis,
Pucat. Bila ada tanda-tanda tersebut maka klien harus duduk atau berbaring,
kemudian diikuti pengukuran tekanan darah, frekuensi nadi, saturasi oksigen
dan pemeriksaan fisik (Wanger, 2011; ATS, 2002)
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi hasil 6MWT
a. Faktor yang menurunkan hasil jarak 6MWT adalah orang yang lebih tua,
Berat badan yang berlebihan, Jenis kelamin, badan yang pendek, Kelemahan,
Penyakit paru-paru (COPD, Asthma, Fibrosis), Penyakit Jantung (Angina,
MI, CHF, Stroke, TIA, PVD, AAI), penyakit Musculoskeletal (Arthritis,
Ankle, Knee, Hip injuries)
b. Faktor Yang Menaikan hasil Jarak 6MWT adalah: orang yang lebih tinggi,
jenis kelamin pria, klien yang suka menampilkan penampilan terbaik, Obat
yang diberikan sebelum dilakukan tes, suplemen Oksigen (Wanger, 2011;
AACPR, 2010; ATS, 2002)
D. Indikasi dan Kontraindikasi
1. Indikasi dari 6MWT
a.
Perbandingan sebelum dan sesudah pengobatan pada Klien:
1) Transplantasi paru-paru
2) Gagal jantung
3) Hipertensi pulmonal
4) Rehabilitasi paru-paru
5) COPD
6) Lung Volume Reduction Surgery (Papathanasiou, Illieva, & Marinov, 2013)
7) Lung Resection (Fiorina, et al., 2007)

b.

Menentukan status Fungsional dari klien


1) Penyakit pembuluh darak Periveral
2) Fibromyalgia
3) Cystic Fibrosis (Papathanasiou, Illieva, & Marinov, 2013)
4) Pada klien yang tua (Lee, 2009)
5) COPD (Wanger, 2011)
6) Gagal jantung (Rostagno & Gensini, 2007)
7) Penyakit Neuromuskular (Limb Girdle Muscular Dystrophy, Myotonic
dystrophy, Charcot marie tooth disease, Congenital Myopathy, Facio scapula
humeral) (Prahm, Witting, & Vissing, 2014)
c. Untuk memprediksi morbiditas dan mortalitas dari penyakit
1) COPD (Lee, 2009)
2) Gagal Jantung (Vieira, Marinho, & Brandao, 2012)
3) Hipertensi pulmonal (Mainguy, et al., 2014)

2. Kontra indikasi
Kontraindikasi dari 6MWT terbagi dua bagian yaitu Absolute atau mutlak dan relative,
penjelasannya sebagai berikut :
a.

Absolute/mutlak
1) Pasien dengan Miokardiak infark kurang lebih sebulan yang lalu
2) Penyakit Unstabel coronary arteri atau angina kurang lebih sebulan yang lalu
b. Relative
1) Denyut nadi > 120 kali/Menit pada saat istirahat
2) Tekanan darah sistolik > 180 mmHg dan tekanan darah sistolik >100mmHg
(Lee, 2009)
3) Bila bergerak terjadi Syncope
4) Arthritis atau penyakit neuromuscular yang menyebabkan ketidak mampuan atau
ketenatasan berjalan (ATS 2002 di dalam Wanger, 2011).
c. Angina pektoris stabil bukan merupakan kontra indikasi absolut, tetapi dilakukan
uji berjalan 6 menit setelah pasien memakan obat anti angina dan selalu siap sedia
nitrat.
E. Langkah-Langkah/ prosedur pemeriksaan
1. Lokasi. Test ini hendaknya dilakukan dalam ruangan tertutup (indoor), dilakukan pada
koridor yang panjang, datar dan lurus dengan permukaan yang keras dan jarang dilalui
orang. Menurut beberapa pusat rehabilitasi jantung, test ini dapat dilakukan di ruang

terbuka jika cuaca dalam keadaan baik. Panjang rute jalan setidaknya 30 meter (100
kaki). Tiap 3 meter dari koridor hendaknya diberi tanda.
2. Persiapan Peralatan yang Digunakan
a. Pulse oximeter untuk mengukur saturasi oksigen
b. Mechanical lap counter
c. Sphygmomanometer dan Stethoscope untuk mengukur tekanan darah
d. Stopwatch/jam untuk mengukur waktu 6 menit
e. Dua kerucut kecil untuk titik berputar
f. Lintasan, panjang lintasn 30 meter dan ditandai setiap 3 meter
g. A source of Oxygen, untuk mempersipkan bantuan oksigen bila diperlukan
h. Sebuah kursi yang mudah dipindahkan
i. Automated Electronie Defibrilator
j. Borg Scale Chart, Worksheet dan Clipboard untuk pencatatan hasil pemngukuran
(AACVPR, 2010; ATS, 2002)
3. Persiapan Klien
Berdasarkan American Thoracic Society, (2002) klien yang akan menjalani 6MWT
harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Klien memakai pakaian yang nyaman.
b. Klien memakai sepatu yang cocok/nyaman untuk berjalan.
c. Klien diperbolehkan menggunakan alat bantuan yang biasa dipakai sehari-hari
seperti tongkat atau walker.
d. Klien tetap melanjutkan pengobatan yang biasanya.
e. Penderita boleh makan makanan ringan satu jam sebelum memulai latihan atau
sesudah latihan 6MWT
f. Klien tidak boleh melakukan aktivitas latihan (olahraga) yang berlebihan minimal 2
jam sebelum 6MWT
4. Pelaksanaan atau pengukuran 6MWT
a. Jika diperlukan pengulangan 6MWT maka uji ulang harus dilakukan pada hari yang
sama. Hal ini berguna untuk menguranggi perbedaan atau bias pada hasil karena
kemungkinan timbul perubahan seperti kondisi fisik, waktu latihan.
b. Tidak dianjurkan melakukan periode pemanasan sebelum dilakukan uji latih.
c. Klien harus duduk beristirahat dengan duduk dikursi, dekat dengan garis start
kurang lebih 5-10 menit sebelum uji jalan dimulai, selama itu klien diperiksa
kontra indikasi, diukur nadi, tekanan darah, pastikan baju, sepatu nyaman dan

cocok dipakai untuk latihan jalan. Selesai dilakukan dicatat dikertas yang telah
disediakan (lihat appendix)
d. Pengukuran Pulse oximetri adalah opsional/Pilihan, jika ingin mengukur denyut
jantung dasar dan saturasi oksigen. Maksud pengukuran SpO2 dari oksimetri adalah
mengetahui oksigen uptake paru sehingga kita dapat memprediksi tingkat kelelahan
pasien.
e. Mintalah klien untuk berdiri dan cek apakah ada tanda-tanda dyspnea, kemudian
ukur derajat kelelahan menggunakan skala Borg
f. Mengatur Mechanical lap counter ketitik no dan mengatur waktu untuk enam menit
dan bergerak ke posisi start
g. Berikan instruksi pada pasien bahwa test ini menilai seberapa jauh pasien dapat
berjalan selama 6 menit dan tidak boleh berlari. Pasien dapat memperlambat
jalannya, berhenti atau istirahat jika perlu. Contohkan pada pasien satu putaran.
h. Posisikan pasien pada garis start. Pengawas harus berdiri dekat garis strat selama
latihan. Jangan berjalan bersama pasien. Segera setelah pasien mulai berjalan
hidupkan timer.
i. Jangan berbicara kepada siapapun selama test. Perhatikan pasien dan jangan lupa
untuk menghitung putaran yang telah dilalui. Pengawas dapat memberikan
dorongan semangat pada pasien tetapi bukan dorongan untuk mempercepat
langkahnya. Memberikan semangat sangat dianjurkan dalam Uji jalan 6 menit.
Menurut American Thoracic Society, waktu yang paling baik untuk memberikan
semangat adalah setiap 1 menit dan sesuai dengan ketentuan kalimat yang telah
disediakan dibawah ini.
1)
Menit 1 selesai: Anda sudah benar melakukannya, teruskan, ada 5 menit
lagi.
2)
Menit 2 selesai: Bagus, pertahankan seperti ini, anda masih punya 4
menit lagi.
3)
Menit 3 selesai: Anda melakukannya dengan baik, sudah setengah
jalan .
4)
Menit 4 selesai: Anda sudah baik melakukannya, tinggal 2 menit lagi.
5)
Menit 5 selesai: Anda sudah baik melakukannya, tinggal 1 menit lagi.
6)
15 Detik selesai: Waktu tinggal 15 detik, ketika saya katakana stop, maka
anda harus berhenti dan berdiri dengan benar nanti saya yang akan menuju ke
tempat anda.

7)
j.
k.
l.
m.

Bila waktu selesai berjalanlah ke tempat klien dan berikan kursi untuk

duduk.
Post test, catat hasil pengukuran tingkat kelelahan dengan skala Borg
Jika memakai pulse oximeter, ukur SpO2 dan tekanan nadi kemudian lepas sensor
Catat jumlah putaran
Jumlahkan berapa jarak tempu yang telah dicapai selama 6 menit dan catat dikertas

kerja.
n. Berikan ucapan selamat pada pasien atas usahanya dan tawarkan untuk minum
segelas air putih (ATS, 2002; AACPR, 2010)
F. Interpretasi Hasil dan Manfaat Pemeriksaan 6MWT
Belum ada kesepakatan yang menyatakan berapa nilai normal jarak tempuh
6MWT pada populasi sehat. Penelitian Steffens et al,(2012) pada 77 perempuan tua yang
sehat di Brasil, tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jarak normal test 6MWT pada
perempuan tua sehat di Brasil, hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata jarak yang
ditempuh adalah 44 meter dengan tingkat kepercayaan 95% dengan interval 14-73 meter
(P<0.01) sedangkan Menurut Lee, (2009) Nilai normal pada orang dewasa adalah 500630 meter dan pada anak-anak yang sehat antara umur 4-11 tahun jarak terjauh adalah
470 meter (+ 59 Meter) Perbedaan pada populasi sampel, jenis dan frekuensi motivasi
saat latihan, panjang koridor, jumlah latihan pendahuluan akan menyebabkan perbedaan
hasil test. Umur, berat badan, tinggi badan dan jenis kelamin secara bebas akan
mempengaruhi hasil 6MWT pada orang dewasa sehat (Papathanasiou, Illieva, &
Marinov, 2013). Sehingga factor-faktor ini harus dipertimbangkan ketika melakukan
interpretasi hasil pada pengukuran tunggal yang dibuat untuk menentukan kapasitas
fungsional seseorang (Bitter, 2007). Hasil test yang rendah adalah nonspesifik dan
nondiagnostik. Ketika 6MWT hasilnya menurun harus dilakukan pencarian secara
menyeluruh terhadap segala kemungkinan faktor penyebabanya. Test berikutnya
mungkin dapat menolong seperti: fungsi paru, fungsi jantung, ankle-warm index,
kekuatan otot, status gizi, fungsi ortopedi dan fungsi kognitif (Alahdab et al, 2009)
(Balashov, Feldman, & Savard, 2008)
Dalam pengalaman klinis sehari-hari, kebanyakan test ini dilakukan sebelum dan
sesudah pasien mendapat pengobatan, untuk menjawab pertanyaan apakah pasien
mengalami perbaikan yang signifikan setelah pengobatan. Dengan kualitas prosedur
yang baik diketahui test ini mempunyai angka reprodubilitas yang baik. Namun sampai
9

saat ini belum diketahui hasil yang bagaimana yang paling baik untuk menilai respon
pengobatan. Apakah perubahan jarak pada 6 MWT ini dalam bentuk nilai absolut,
persentase perubahan atau perubahan persentase nilai prediksi (Balashov, Feldman, &
1.

Savard, 2008; Alahdab et al, 2009).


Peak Oksigen Uptake, Kapasitas Fungsional dan 6MWT
Kapasitas fungsional sering dinyatakan dengan VO2 puncak selama test latihan yang
maksimal. Puncak VO2 merupakan indikator yang kuat dalam menentukan
keparahan gagal jantung, dan juga sebagai prediktor bebas terhadap kematian.
Puncak VO2 yang dinilai selama 6MWT juga menunjukkan reprodubilitas dan
akurasi yang sama ketika dibandingkan dengan test berjalan lain (shuttle walk test).
Rata-rata puncak VO2 lebih tinggi 10-20 % pada latihan maksimal dibandingkan
latihan submaksimal. Pada penderita dengan klinis berat, uji latihan maksimal
mungkin kontraindikasi akibat gangguan kapasitas fungsional yang signifikan. Pada
keadaan ini pengukuran puncak ambilan VO2 dari uji latih submaksimal dapat
berguna walaupun nilai prediksi prognosisnya berkurang (DU et al, 2009).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fiorina, et al., (2007) pada 1622 klien yang
menjalani operasi jantung dirumah sakit, menunjukkan bahwa terjadi peningkatan
jarak jalan setelah dilakukan program rehabilitasi, ini dites dengan 6MWT (from 281
+ 90 m, 51 + 76%, to 411 + 107 m,77

+ 81%, p < 0.001). Peneliti juga

menganjurkan untuk menggunakan 6MWT sebagi referensi untuk mengukur jarak


jalan dan mencegah komplikasi pada orang dewasa setelah menjalani operasi
jantung.
2.

Nilai Prognostik dari 6MWT


Sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai nilai prognostik dari 6MWT. Test
ini mempunyai aplikasi yang terbaik pada populasi gagal jantung, dimana kapasitas
fungsionalnya telah terganggu. Kebanyakan studi nilai prognosis 6MWT dilakukan
pada penderita gagal jantung. Penelitian pertama kali dilaporkan oleh (Bittneer, et al.,
1993) pada studi SOLVT (Studies of Left Ventricular Dysfunction), melibatkan 898
partisipan dengan follow up selama 242 hari. Studi ini menunjukan angka mortalitas
sebesar 10.23 % pada penderita yang berjalan kurang dari 350 meter dan 2,99 %
pada jarak lebih dari 450 meter saat 6MWT (p<0.001). 6mwt =" (7.57" 6mwt ="
(2,11" style="font-weight: bold;">Reliabilitas Hasil 6MWT Reliabilitasi adalah
10

kemampuan untuk mengukur variabel dengan hasil yang sama bila dilakukan
pengulangan. Interclass correlatrion coefficient (ICC) merupakan pengukuran untuk
reliabilitas. Bila nilai ICC lebih dari 0,75 dikatakan adekuat dan bila 0.90 dikatakan
excellent. Oleh (Bittneer, et al., 1993) pada studi SOLVT (Studies of Left Ventricular
Dysfunction), melibatkan 898 partisipan dengan follow up selama 242 hari. Studi ini
menunjukan angka mortalitas sebesar 10.23 % pada penderita yang berjalan kurang
dari 350 meter dan 2,99 % pada jarak lebih dari 450 meter saat 6MWT (p<0.01).
6mwt =" (7.57" 6mwt =" (2,11" style="font-weight: bold;">Reliabilitas Hasil 6MWT
Reliabilitas adalah kemampuan untuk mengukur variabel dengan hasil yang sama
bila dilakukan pengulangan. Interclass correlatrion coefficient (ICC) merupakan
pengukuran untuk reliabilitas. Bila nilai ICC lebih dari 0,75 dikatakan adekuat dan
bila 0.90 dikatakan excellent.
Begitu juga dengan penelitian oleh Alahdab et al, (2009) pada penelitian yang
berjudul Six Minute Walk Test Predicts Long-Term All-Cause Mortality and Heart
Failure Rehospitalization in African-American Patients Hospitalized With Acute
Decompensated Heart Failure yang melibatkan 198 partisipan dengan follow up
selama 40 bulan untuk kasus mortality dan 191 klien untuk HF rehospitalisasi yang
difollow up selama 18 bulan. Penelitian ini menunjukkan angka mortalitas 41% pada
klien yang berjalan < 200m dibandingkan dengan 19 % pada klien yang berjalan
>200 m, dengan nilai signifikan (P=.001). Klien yang berjalan <200 m selama
6MWT HF Rehospitalisasi 68% dibandingkan dengan 52% >200 m (P=0.27). Multi
Cox Regression analysis menunjukkan bahwa 6MWT dengan Jarak < 200 m prediksi
kuat untuk mortality [HR], 2.14; confidence interval [CI], 1.20 to 3.81; P 5 .01) and
HF rehospitalization (adjusted HR, 1.62; CI, 1.10 to 2.39; P 5 .015).

BAB III
11

KESIMPULAN

6MWT adalah pengukuran sederhana dan submaksimal yang berguna untuk menilai
kapasitas fungsional pada penderita dengan gangguan jantung dan kapasitas paru. Test ini
telah dipakai secara luas sebagai uji latih jantung yang bertujuan melengkapi uji latih yang
maksimal dan bukan sebagai pengganti.
Prosedur pelaksanaan 6MWT dapat mempengaruhi hasil, sehingga perawat perlu
mengetahui mengenai 6MWT sehingga kesalahan dalam interpretasi hasil pun dapat
diminimalkan. Selain itu perawat juga perlu memperhatikan faktor lain seperti umur, jenis
kelamin, berat badan juga harus diperhitungkan dalam melakukan interpretasi hasil. Dengan
demikian hasil dari 6MWT ini dapat dipakai untuk menentukan beban latihan yang dapat
diberikan pada pasien dengan melakukan konvsersi hasil ke dalam Metabolic Equivalent
(MET)

DAFTAR PUSTAKA

12

American Thoracic Society Statement : Guidelines for the six-minute walk test. (2002). Am J
respir Crit Care Med. 166: 111-7
Anne E Holland, Leona D, Julio F et al. (2014). Cardiorespiratory responses to 6-minute walk
test in interstitial lung disease : not always a submaximal test. BMC Pulmonary Meidicine
14:136
Claudia F, Enrico V, Roberto L et al. (2007). The 6-min walking test early after cardiac surgery,
Reference Values and the effects of rehabilitation programme. European Journal of Cardiothoracic Surgery; 32: 724-729
Bittner V, Weiner DH, Yusuf S et al. (1993). Prediction of mortality and morbidity with a 6minute walk test in patients with left ventricular dysfunction. JAMA; 270(14):1702-7
Dominika Z, Jerzy B, Andrzej R eat al. (2013). Prognostic Value of the six-minute walk test in
heart failure patients undergoing cardiac surgery : A literature review. Hindawl Publishing
Corporation
Enright, Paul L. (2003). The Six-minute walk test. Respiratory Care Vol. 8 No. 8
Giuseppe V, Perluigi B, Fabio V. (2012). Metabolic requirements during six minutes walking
tests in patients affected by chronic obstructive pulmonary disease in different stages. Open
Journal of Respiratory Diseases; 2: 83-90
Guyatt GH, Thompson PJ, Berman LB et al. (1985). How should we measure function in
patients with chronic heart and lung disease. J Chron Dis; 38: 517-24
Harada ND, Chiu V, Stewart AL. (1999). Mobility-related function in older Adult : Assessment
with a 6-minute walk test. Arch Phys Med Rehab 1999; 80: 837-41
Laurence D, Rudy C, Phu QL et al. (2014). Reduction of the six-minute walk distance in children
with sickle cell disease is corelated with silent infarct : results from a cross sectional
evaluation in a single center in Belgium. PLOS ONE vol 9 no 10
M. Tarek A, Ibrahim NM, Sirik AN et al. (2009). Six Minute Walk Test Predicts Long-Term AllCause Mortality and Heart Failure Rehospitalization in African-American Patients
13

Hospitalized With Acute Decompensated Heart Failure. Journal of Cardiac Failure Vol. 15
no. 2
Papathanasiou, Jannis V, Ilieva1, Elena, Marinov, Blagoi. (2013). Six-Minute Walk Test: An
Effective and Necessary Tool in Modern Cardiac Rehabilitation. Hellenic Journal of
Cardiology; 54: 126-130
Salzman, Steve H. (2009). The 6-Min Walk Test: Clinical and Research Role, Technique, Coding,
and Reimbursement. CHEST: 135 : 1345-1352

14