Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN TUGAS

PENGEMBANGAN MASYARAKAT
(GPW2110)
RINGKASAN DAN ANALISIS TESIS
Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat dalam Upaya
Konservasi Daerah Aliran Sungai

Oleh :
Nirania Galuh Putrie Soewarno
13/347987/GE/07549
Helmi Amalia Rizki
13/348061/GE/07557
Ika Heppy Putri Lase
13/348086/GE/07565
Lilik Andriyani
Muhammad Nur Efendi
13/348118/GE/07579
Reza Kamarullah
13/348125/GE/07582
Arin Nurhita Hapsari
13/348136/GE/07585
Husna Zaiti Aqmar
14/365187/GE/07791
Etik Kurniawati
Fadhilah

13/348106/GE/07576

14/365074/GE/07788
14/366032/GE/07861

Arif Setya Basuki


14/366087/GE/07863

FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016
1. PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Pengelolaan Daerah

Aliran

Sungai

(DAS)

dilakukan

untuk

mengatur hubungan timbal balik antara sumber daya alam dalam DAS
dan manusia agar terwujud kelestarian serta menjamin keberlanjutan
manfaat SDA tersebut bagi manusia. Tujuan pengelolaan DAS untuk
menjamin keberlanjutan DAS meliputi peningkatan stabilitas tata air,
peningkatan stabilitas tanah peningkatan pendapatan petani, dan
peningkatan

perilaku

masyarakat

kearah

konservasi

yang

mengendalikan aliran permukaan dan banjir.


Secara garis besar DAS dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu
hulu, tengah dan hilir. Daerah hulu dicirikan sebagai ekosistem
perdesaan dengan komponen desa, saawah/ladang, sungai, dan hutan.
pengelolaan DAS hulu tidak hanya menjaga fungsi tata air DAS, tetapi
juga memperbaiki mata pencaharian dan meingkatkan ekonomi
masyarakat lokal secara berkelanjutan.
Pengelolaan DAS didukung dengan adanya Undang-Undang
Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan Undang-Undang Nomor
26 tahun 2007 tentang Tata Ruang yang membahas sedikitnya 30%
dari kawasan DAS seharusnya merupakan kawasan hutan dengan
sebaran yang proporsional. Namun kenyataannya, terutama di pulau
jawa lahan di daerah hulu dan sepadan sungai berubah menjadi lahan
pertanian. Jumlah DAS dari tahun ke tahun mengalami degradasi

lingkungan dan sumber daya alam semakin meningkat. Kerusakan dan


degradasi

tersebut

penggunaan
kemiskinan
mendukung,

lahan
dan

disebabkan
yang

tidak

kemerosotan

kebijakan

yang

oleh

perencanaan

sesuai,
ekonomi,

tidak

dan

pertambangan
kebijakan

membatasi

praktik

meingkat,

yang

kurang

kepemilikan

dan

penggunaan lahan, dan ketidakpastian penggunaan hak atas tanah


pada lahan hutan. degradasi DAS dipicu oleh pengelolaan konvensional
yang tidak terpadu dari hulu ke hilir serta top down yang menekan
command and control baik pada tataran kebijakan, operasional,
maupun pelaksanaan.
Kegagalan pengelolaan DAS secara konvensional mendorong
pemerintah untuk

menggunakan pendekatan baru dengan cara

pengelolaan DAS terpadu yang lebih partisipatif. Pemerintah sudah


membuat peraturan Nomor 37 tahun 2012 tentang Pengelolaan
Daerah Aliran Sungai yang memuat peran serta dan pemberdayaan
masyarakat dalam pengelolaan DAS. Namun, masyarakat belum
dipandang sebagai subjek yang mampu mengelola sumber daya alam
untuk mendukung pengelolaan DAS yang berkelanjutan dan tidak
memiliki wewenang dalam pengambilan keputusan.
Strategi
pendekatan
yang
mengedepankan

partisipasi

masyarakat dalam pengelolaan DAS adalah Community Based Natural


Resource Management (CBNRM). Praktik CBNRM di Indonesia terbukti
mampu

meningkatkan

perekonomian

masyarakat

dengan

tetap

menjaga kelestarian lingkungan dan sumber daya alam. Pengelolaan


dalam skala kecil oleh kelompok maupun desa mampu mendukung
tercapainya aspek pembangunan berkelanjutan. Pengelolaan dalam
skala besar butuh beberapa prasyarat seperti legalitas yang kuat,
organisasi yang sudah berkembang, dan pendanaan yang mendukung
infrastruktur (Keller, 2000 dalam Emilia, 2013). Pelaksanaan CBNRM
tanpa prasyarat tersebut hanya berhasil diaspek sosial dan ekonomi,
namun menyebabkan kerusakan lingkungan.

DAS Bodri merupakan DAS prioritas di Indonesia dan menjadi


DAS yang diprioritaskan untuk mendapatkan perbaikan kualitas DAS.
DAS Bodri memiliki luas 94.028.013 ha dan terbagi menjadi lima sub
DAS. Pengamatan citra sateit menunjukkan adanya perubahan tata
guna lahan di hulu DAS Bodri. Perubahan tata guna lahan tersebut
dipicu oleh peningkatan jumlah penduduk perdesaan, sementara
jumlah lahan terbatas. Kondisi tersebut semakin parah bila tidak ada
upaya untuk menyelamatkan daerah hulu. Penyelamatan bukan hanya
oleh pemerintah, namun melibatkan masyarakat setempat dengan
CBNRM.
Desa Keseneng adalah salah satu desa di wilayah hulu DAS Bodri
yang berupaya mengelola sumber daya alam berbasis masyarakat
dengan

fokus

dilakukan

desa

secara

wisata.

Pengelolaan

partisipatif

dan

sumber

berdasarkan

daya

tersebut

pada

prinsip

pembangunan berkelanjutan. Beberapa langkah yang telah diambil


untuk

mempertahankan

kelestarian

lingkungan

yaitu

menutup

tambang batu, menetapkan zona-zona wisata yang selaras dengan


pelesatrian

lingkungan,

mengembangkan

usaha

alternatif

yang

mendukung kelestarian lingkungan dan desa wisata, serta menerapkan


sistem

imbal

jasa

lingkungan

bagi

pemilik

lahan

yang

wajib

mempertahankan kelestarian lingkungan.


1.2.

Tujuan
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan

pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat atau CBNRM


dalam konservasi DAS. Tujuan khusus dari penelitian ini yaitu:
1. Mengetahui aktivitas atau fungsi pengelolaan sumber daya alam di
Desa Keseneng Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang dan
peranan pihak luar dalam pengelolaan tersebut.
2. Menganalisis aspek-aspek pengelolaan sumber daya alam berbasis
masyarakat di Desa Keseneng.

3. Menggambarkan model konseptual CBNRM di Desa Keseneng dan


menyusun

model

implementasi

CBNRM

dalam

mendukung

konservasi DAS.
2. METODE
Penelitian ini menggunakan data primer sebagai data utama dan
data sekunder sebagai data pendukung untuk melengkapi hasil penelitian.
Data primer dikumpulkan dari masyarakat Desa Keseneng yang terlibat
atau mengetahui pengelolaan sumber daya alam serta pihak luar yang
terkait, yaitu Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang dan LSM Komunitas
Salunding

sebagai

pendamping.

Sedangkan

data

sekunder

pada

penelitian ini berupa data yang menyangkut dokumen terkait dengan


kelembagaan, desa, kecamatan, kabupaten, organisasi pengelolaan desa
wisata, peta lokasi, peta DAS, monografi desa, dan profil desa. Data
tersebut dikumpulkan melalui perpustakaan, internet,

kantor Desa

Keseneng, Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, dan BPDAS Pemali


Jratun.
Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi studi literatur,
observasi, dan wawancara mendalam. Studi literatur dilakukan untuk
memperoleh gambaran umum desa berupa peta administratif, peta DAS
Bodri, dan kondisi geografis maupun potensi desa. Studi literatur juga
dilakukan untuk memperoleh informasi-informasi yang terkait pengelolaan
sumber daya alam berupa peraturan-peraturan maupun kebijakan. Studi
literatur diperoleh dengan penelusuran pustaka, pencarian melalui
internet dan mendatangi instansi yang memiliki data terkait.
Pada tahap observasi, peneliti melakukan pengamatan lapangan
secara langsung untuk mengetahui potensi sumber daya alam dan tata
guna lahan Desa Keseneng. Pengamatan juga dilakukan terhadap
aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam.
Hasil

pengamatan

wawancara

didokumentasikan

dilakukan

untuk

dengan

mengetahui

kamera.

secara

detail

Sedangkan
mengenai

pengelolaan sumber daya alam di Desa Keseneng. Pemilihan narasumber


yang diwawancarai menggunakan teknik purposive (bertujuan) dan
snowball (bola salju). Jumlah narasumber penelitian sebanyak 12 orang
yang terdiri atas perangkat desa, pengurus organisasi pengelola, pekerja
harian, masyarakat pemilik lahan terkena zonasi, pedagang, pamong
budaya Disporabudpar Kabupaten Semarang, dan aktivis LSM Komunitas
Salunding.
Informasi yang diperlukan untuk mengetahui pengelolaan sumber
daya alam yang direncanakan dan dilakukan oleh masyarakat ini
berbentuk deskripsi yang berperspektif emik. Oleh karenanya penelitian
dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif sehingga data
yang diperoleh lebih lengkap dan mendalam untuk memenuhi tujuan
penelitian. Adapun ruang lingkup substansial penelitian dibatasi pada
aktivitas/fungsi

pengelolaan

sumber

daya

alam

(perencanaan;

pengorganisasian; pelaksanaan; pengendalian; peranan pihak luar),


aspek-aspek

CBNRM

(keadilan;

pemberdayaan;

resolusi

konflik;

pengetahuan dan kesadaran; perlindungan keanekaragaman hayati;


pemanfaatan

berkelanjutan),

dan

model

konseptual

CBNRM

Desa

Keseneng dan model implementasi CBNRM dalam konservasi DAS.


Penelitian ini dilakukan di Desa Keseneng, Kecamatan Sumowono,
Kabupaten Semarang. Desa tersebut merupakan salah satu desa yang
terletak

di

hulu

kabupaten/kota,

DAS

yaitu

Bodri

yang

Kabupaten

wilayahnya

Temanggung,

meliputi

empat

Kabupaten

Kendal,

Kabupaten Semarang, dan Kota Semarang. Desa tersebut dipilih karena


berlokasi di DAS Bodri hulu yang merupakan salah satu DAS prioritas.
Pada sisi lain desa tersebut mengembangkan pengelolaan sumber daya
alam berbasis masyarakat dengan fokus pariwisata. Adapun penelitian ini
dilakukan selama enam bulan mulai bulan Mei sampai bulan Oktober
2012.
Penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif kualitatif.
Secara garis besar analisis dibagi dalam tiga kegiatan yang dilakukan

secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan


kesimpulan (Miles & Huberman 1992). Analisis data dilakukan secara
terus-menerus

mulai

saat

penyusunan

konseptual

penelitian,

saat

pengumpulan data di lapangan dan sesudahnya. Reduksi data dilakukan


untuk memilih dan menyederhanakan data. Penyajian datanya dilakukan
dalam bentuk teks naratif, matriks, grafik,dan bagan. Selanjutnya
dilakukan penarikan kesimpulan penelitian.
Penelitian

ini

menggunakan

data

sebanyak-banyaknya

terkait

dengan sumber daya alam dan pengelolaannya di Desa Kaseneng yang


kemudian dilakukan reduksi data sesuai dengan aspek yang diteliti.
Penyajiannya dipilah-pilah dan disajikan dalam bentuk diskriptif, bagan,
tabel, matriks dan sebagainya. Melakukan tahap verifikasi dari data yang
diperoleh

dan

dianalisis

dengan

teori-teori

yang

berkaitan

untuk

kemuadian dilakakukan kesimpulan.


Analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan aktivitas-aktivitas
atau fungsi pengelolaan sumber daya alam di Desa Keseneng yang
meliputi

perencanaan

(planning),

pengorganisasian

(organizing),

pelaksanaan (actuating), dan pengendalian (controlling) serta peran pihak


luar

dalam

pengelolaan

sumber

daya

alam

tersebut.

Selanjutnya

dilakukan analisis aspek-aspek community based dalam pengelolaan


sumber

daya

alam,

meliputi:

equity

(keadilan),

empowerment

(pemberdayaan), conflict resolution (resolusi konflik), knowledge and


awarrenes

(pengetahuan

(perlindungan

dan

keanekaragaman

kesadaran),
hayati),

dan

biodiversity
sustainable

protection
utilization

(pemanfaatan berkelanjutan). Setelah menganalisis aktivitas-aktivitas


atau fungsi pengelolaan dan aspek community based, selanjutnya
digambarkan model konseptual CBNRM di Desa Keseneng dan disusun
model CBNRM dalam mendukung upaya konservasi DAS.
Kerangka berfikir pada penelitian ini mendasarkan pada konservasi
DAS dapat tercapai apabila pengelolaan sumber daya alam di dalamnya
berkelanjutan. Dalam penelitian ini, CBNRM dianalisis sehingga dapat

digambarkan model konseptualnya dan disusun model implementasi


CBNRM dalam konservasi DAS.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1.
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian tersebut berada pada Desa Keseneng yang berada di
DAS Bodri hulu, DAS tersebut mencakup empat kabupaten dan kota
yakni Temanggung, Kendal, Kota Semarang dan Kabupaten Semarang.
Desa Keseneng termasuk dalam Kecamatan Sumowono, Kabupaten
Semarang dan letaknya jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten
Semarang karena letaknya berbatasan dengan Kabupaten Kendal.
Desa Keseneng berada pada daerah pegunungan dengan ketinggian
mencapai 700 mdpal sehingga curah hujannya cukup tinggi dan suhu
rata-rata berkisar 27-30 C.

Kondisi topografinya berbukit dan

memiliki banyak lembah, mata air, sungai juga hutan, karena dilalui
oleh DAS Bodri Desa Keseneng terdiri atas enam sungai yang
digunakan sebagai saluran irigasi yakni Sungai Ringin, Sungai Doh,
dan Sungai Banteng. Satu sungai lagi berada di Dusun Keseseh, yaitu
Sungai Gongso. Desa tersebut juga memliki 9 air terjun yaitu dua air
terjun di Dusun Keseseh, yaitu Air Terjun Paleburgongso dan Air Terjun
Setro. Tujuh air terjun di Dusun Keseneng, yaitu Air Terjun Tujuh
Bidadari, Kerincing, Kali Doh, Tampok/Bakoan, Precet, Kedungmuning,
dan Getas. Namun desa ini minim akan mata air untuk keperluan
sehari-hari warganya. Masyarakat Desa Keseneng hanya beberapa
yang telah menempuh jalur pendidikan hingga perguruan tinggi,
sementara yang lain mayoritas hanya menumpuh pendidikan SD. Hal
tersebut membuat variasi mata pencaharian tidak begitu banyak dan
mayoritas bekerja pada sektor pertanian.
3.2.
Sejarah Pengelolaan SDA di Desa Keseneng
Sumber daya alam yang ada di Desa Keseneng dikembangkan
dengan

basis

masyarakat

atau

CBNRM

dengan

didukung

oleh

kebijakan dan peraturan namun tetap menjadikan masyarakat sebagai

pelaku

utama

sejak

proses

perencanaan.

Warga

menginginkan

sumberdaya alam berupa air terjun untuk dikelola menjadi obyek


wisata sejak 1980an, namun usulan tersebut tidak mendapatkan
respon

dari

pemerintah

kabupaten

sehingga

keinginan

untuk

memajukan Desa Keseneg memudar. Masalah yang dihadapi adalah


masih kurangnya sarana-sarana vital seperti jalan, balai desa, sarana
pengairan, dan temoat ibadah. Namun pembangunan memerlukan
biaya

yang

besar,

dan

keungan

desa

tidak

mencukupi

untuk

membiayai seluruh pembangunan. Untuk mengatasi permasalahan


tersebut dipilihlah keputusan bahwa warga membantu dengan cara
iuran untuk mendukung pembangunan desa, iuran tersebut berupa
hasil tambang 0,5m3/setiap orang dan dana sebesar Rp 500.000- Rp
1.000.000/keluarga. Namun upaya tersebut menuai masalah antara
lain infrastruktur jalan yang telah ada justru rusak karena aktifitas
pertambangan, selain itu kendaraan pengangkut juga menuai protes
dari desa lain. Tak hanya itu warga merasa waktunya tersita untuk
kepentingan desa. Pemerintah desa kemudian mencari alternatif
dengan

menghidupkan

sektor

pariwisata

melalui

potensi

yang

dimilikinya. Setelah melalui berbagai pertimbangan Curug Tujuh


Bidadari dipilih sebagai obyek wisata dan masyarakat berminat untuk
turut mengembangkan pariwisata sehingga muncul berbagai aktifitas
ekonomi yang dapat menguntungkan warga dan menjadi sumber
pendapatan daerah.
3.3.
Fungsi/aktivitas Pengelolaan SDA di Desa Keseneng
Fungsi atau aktivitas pengelolaan sumberdaya alam di Desa
Keseneng

terbagi

menjadi

perencanaan,

pengorganisasian,

pelaksanaan, dan pengendalian. Proses perencanaan masyarakat


melakukan perencaan partisipatif dalam mengelola potensi yang ada,
perencanaan awal hanya sebatas mengelola Curug Tujuh Bidadari
menjadi obyek wisata dan dilakukan perencanaan detail pengelolaan
sumberdaya alam dalam perencanaan desa yang difasilitasi oleh LSM

Komunitas Salunding. Perencanaan yang dilakukan desa, mencakup


analisis

mengenai

ekonomi

daya

maksimal

dukung

yang

dapat

lingkungan,

model

mempertahankan

pemanfatan

daya

dukung

lingkungan, tahapan-tahapan aksi yang jelas berdasar modal yang


dimiliki, dan model monitoring dan evaluasi yang tegas. Kegiatan
perencanaan desa merupakan bagian dari PRA dimana pihak luar
hanya sebagai katalis dan fasilitator dan perencananya adalah
masyarakat local yang memegang teguh norma dan nilai ideal yang
paling sesuia dengan karakteristik mereka.
Pengorganiasasian dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan pada
awal perencanaan, kepala desa memegang peranan penting dalam
pengorganisasian. Posisi pemimpin menjadi vital dalam menentukan
keberhasilan CBNRM karena pemimpin menjadi panutan dan pihak
yang memutuskan berbagai aspek terkait dengan tindakan dalam
pengelolaan. Namun untuk mencegah ketergantungan terhadap sosok
pemimpin (kepala desa) diperlukan kearifan seorang pemimpin local
yang

mau

membagi

tugas

dan

kewenangan

kepada

level

kepemimpinan dibawahnya. Pengorganisasian pengelolaan sumber


daya alam di Desa Keseneng direncanakan berbentuk Badan Usaha
Milik Desa (BUMDes) yang membawahi berbagai unit usaha. Namun,
hingga saat ini masih menggunakan organisasi pelaksana yang
dibentuk pada awal dikembangkannya wisata Curug Tujuh Bidadari,
yaitu

Pokdarwis

C7B

yang

merupakan

binaan

Disporabudpar

Kabupaten Semarang. Dalam pengelolaan Curug Tujuh Bidadari terdiri


atas

berbagai

sie

yang

memegang

tugasnya

masing-masing.

Organisasi pengelola yang oleh warga sering disebut sebagai panitia


tersebut

pemilihan

personelnya

tidak

melalui

pemilihan

secara

demokratis, namun ditunjuk oleh kepala desa yang bertindak sebagai


penasehat. Adapun anggotanya terdiri dari perangkat desa dan
beberapa tokoh pemuda. Alasan penunjukan tersebut adalah karena
pengembangan wisata baru dirintis dan belum menunjukkan hasilnya

sehingga dipilih perangkat desa yang bersedia bekerja tanpa dibayar,


bahkan sebaliknya harus mengeluarkan dana untuk mendukung
pengembangan wisata.
Pelaksanaannya dilakukan secara bersama-sama oleh semua
warga desa dan tidak dapat dilepaskan oleh partisipatisi aktif
masyarakat.

Masyarakat

memperoleh

manfaat

financial

dari

pengelilaan sumberddaya alam dan memberikan kontribusi positif


terhadap peningkatan kesejahteraan desa seperti berikut :

Untuk menjaga kelestarian sumber daya alam yang dikelola


untuk wisata tersebut, masyarakat sepakat untuk membagi zonasi
desa kedalam zona inti yang berfungsi sebagai kawasan lindung, zona
pemanfaatan

tradisional,

dan

zona

pemanfaatan

ekonomi.

Kesepakatan tersebut tertuang dalam Perdes Pengembangan Desa


Wisata Keseneng yang hingga saat ini masih berupa draf namun sudah
mulai

diimplementasikan.

Masyarakat

juga

sepakat

untuk

menghentikan pengambilan ikan disungai dengan cara menyetrum


atau meracun. Pengambilan ikan yang diijinkan hanya denngan cara
memancing atau menjaring sehingga ikan-ikan berukuran kecil tetap
hidup dan berkembang biak. Pengelolaan sumber daya alam dengan
pendekatan community based di Desa Keseneng membuka peluang
terhadap akses dana maupun pembangunan sarana prasarana untuk
menunjang kemajuan desa. Desa yang pada awalnya merupakan desa
tertinggal dan tidak mendapat perhatian pemerintah, kini mulai
berbenah dan tersentuh proyek-proyek pembangunan maupun aliran
dana pemerintah, diantaranya adalah dana PNPM pariwisata pada
tahun 2011 dan 2012, pengaspalan jalan dan pemavingan, serta

pelatihan-pelatihan pengembangan kapasitas pengelolaan sumber


daya alam.
Pengendalian bersifat intern dan melibatkan warga secara
bertahap. Evaluasi dilakukan setiap bulan oleh pengurus dan ketua
pengurus memberikan laporan hasil evaluasi ke kepala desa dan
kepala desa memberikan masukan. Laporan tersebut disampaikan
kepada warga dalam rapat desa untuk menjaga tranparansi cost dan
benefit.

Rambu-rambu

pengelolaan

yang

sudah

tertuang

pada

peraturan desa wisata yang masih dalam bentuk draft belum disahkan
oleh pemerintah desa karena menunggu maket pengembangan desa
yang terkenadala biaya sehingga kepala desa sebagai penasehat dan
pengurus oerganisasi memegan peran penting terhadap pengendalian.
Sementara warga belum memiliki akses pengawasan secara langsung
karena belum ada sistem yang mengatur.
3.4.
Pihak Luar dalam CBNRM di Desa Keseneng
Pihak luar berperan sebagai agen perubahan yang membantu
masyarakat desa dalam mengelola otensi desanya. Beberapa pihak
luar yang terlibat dalam CBNRM di desa Keseneng adalah sebagi
berikut.

Pemerintah Kab. Semarang (Disporabudpar)


Peran pemerintah melalui Disporabudpar yakni memberikan
dorongan
pembukaan

dan

dukungan

objek

wisata.

pada

masyarakat

Pemerintah

juga

untuk
berperan

merintis
dalam

mengsinkronkasn kebijakan antar dinas dalam rangka membantu

program tersebut dan membantu perizinan.


LSM Pendamping (Komunitas Salunding)
Peran LSM yakni sebagai pendamping masyarakat desa dalam
menata konsep pengelolaan dan pengembangan potensi desa, serta

berperan dalam mendorong kemandirian pola pikir masyarakat.


Media Massa
Peran media massa terletak pada publikasi dan promosi desa,
serta sebagai sarana advokasi desa. Isu yang diangkat media massa

sebagai daya tarik wisata tidak hanya tentang objek wisata dan
atraksi yang ditawarkan, tetapi terkait pula dengan pengelolaan
3.5.

desa oleh masyarakat.


Aspek-aspek Community Based dalam Pengelolaan SDA di

Desa Keseneng
Keadilan
Keadilan drasakan dari segi sosial ekonomi. Dari segi ekonomi
adanya lokasi pariwisata memberikan lapangan kerja baru untuk
masyarakat dan menambah sumber penghasilan masyarakat. Hasil
yang diterima dari pengelolaan pariwisata ini dibagi secara adil
untuk pembangunan desa, masyarakat, dan pengembangan objek
wisata. Keadilan di bidang sosial di dapatkan dari adanya
wewenang masyarakat dalam mengelola sumber daya alamnya

melalui objek wisata tersebut.


Pemberdayaan
Pemberdayaan dirasakan di

bidang

politik

dan

ekonomi.

Masyarakat diberdayakan melalui pemberian wewenang atau


kekuasaan untuk menggunakan dan mengelola sumber daya
desanya.

Pemerintah

dan

LSM

memberdayakan

masyarakat

dengan memfasilitasi masyarakat dalam menggali potensi desa,


merencanakan

pengembangannya,

serta

mengajak

untuk

mengelola potensi tersebut secara bersama. Di bidang ekonomi


CBNRM memberi akses bagi masyarakat untuk mencari nafkah dari
pengelolaaan SDA dan pemberdayaan dalam bentuk pelatihan

pelatihan untuk meningkatkan kualitas SDM.


Resolusi konflik
Resolusi konflik merupakan bagian yang

penting

dalam

pengelolaan sumber daya alam dengan fokus wisata di Desa


Keseneng. Hal ini karena konflik dapat saja terjadi dan mengancam
keberlangsungan pengelolaan tersebut, namun melalui skema
CBNRM yang dijalankan dapat dikelola dengan baik. Konflik-konflik
yang terjadi terdiri dari konflik luar maupun dalam.

Konflik eksternal yang muncul adalah perebutan pengelolaan


Curug Paleburgongso dengan Desa Gondang, kecemburuan desadesa tetangga karena dilewati wisatawan yang akan mengunjungi
Curug

Tujuh

Bidadari,

dan

ketidakkonsistenan

dukungan

pemerintah di atasnya yang mengancam keberlangsungan Desa


Wisata Keseneng.
Sementara itu, konflik internal berupa penolakan para pemilik
lahan di kawasan wisata dan sekitarnya untuk menjaga kelestarian,
ketidakpercayaan warga terhadap pengelolaan hasil wisata, serta
kecemburuan warga yang tidak mendapat manfaat langsung dari
desa wisata. Konflik itu sudah mencapai tahap ketidakpercayaan
warga terhadap pengurus dan wacana penutupan area wisata
Curug Tujuh Bidadari.
Berdasarkan permasalahan diatas, terdapat berbagai alternatif
dalam peneyelesaian konflik, baik eksternal maupun internal.
Untuk mengatasi permasalahan eksternal meliputi, (a) melalui lobi
untuk menyelesaikan sengketa pengelolaan Curug Paleburgongso;
(b)

melalui

penyaluran

bagi

hasil,

baik

untuk

mengatasi

permasalahan eksternal dengan desa-desa tetangga, terutama


yang dilalui wisatawan saat menuju kawasan wisata maupun
dengan warga desa; (c) transparansi pemerintah desa dan
pengelola objek wisata; (d) adanya keterlibatan aktif masyarakat
dalam mengelola dan memanfaatkan peluang yang timbul setelah
wisatawan ramai berkunjung. Sedangkan konflik internal diatasi
melalui, (a) pembagian hasil kepada masyarakat yang memiliki
lahan di sekitar kawasan obyek wisata; dan melalui (b) penyediaan
lahan

untuk

pengembangan

usaha

penunjang

sehingga

masyarakat dapat terlibat secara aktif.


Berdasar uraian tersebut, CBNRM di Desa Keseneng memberikan
kontribusi positif dalam resolusi konflik pengelolaan sumber daya
alam. Sebagaimana dijelaskan oleh Keller (2000), penanganan
perselisihan antara masyarakat lokal maupun kepentingan atas

sumber daya alam yang lebih besar baik pada tingkat lokal,
daerah, bahkan nasional merupakan salah satu aspek yang dapat

dibidik melalui pengelolaan dengan pendekatan community based.


Pengetahuan dan kesadaran
Secara umum masyarakat Desa Keseneng sudah turun-temurun
mengelola sumber daya yang dimiliki secara arif. Namun, pada sisi
lain perekonomian tidak berkembang dan tingkat kemiskinan
tinggi. Hal tersebut membuat masyarakat mulai membuka lahan
dengan kelerengan tinggi untuk ditanami tanaman pertanian
sehingga kearifan lokal pun lama-kelamaan mulai memudar akibat
kepentingan ekonomi.
Melalui CBNRM, mereka

menyadari

bahwa

peningkatan

kesejahteraan tidak harus mengorbankan lingkungan. Sebaliknya


masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dengan melestarikan
lingkungan

dan

sumber

daya

alam

yang

dimiliki.

Mereka

memadukan kearifan lokal yang sudah diwariskan turun-temurun


dengan pengetahuan modern yang diperoleh melalui interaksi
dengan pihak lain maupun belajadari praktek pengelolaan yang
dijalankan. Masyarakat desa juga menyadari bahwa keberlanjutan
lingkungan desanya terkait erat dengan desa-desa tetangganya
dalam satu ekosistem sehingga mereka juga berusaha membangun

kerja sama untuk melestarikan lingkungan.


Perlindungan keanekaragaman hayati
Perlindungan keanekaragaman hayati

menjadi

salah

satu

capaian CBNRM di Desa Keseneng. Pemanfaatan sumber daya


alam

sebagai

tujuan

wisata

mendorong

masyarakat

untuk

mengelola lingkungan dan melindungi keanekaragaman hayati


beserta habitatnya. Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah
penghentian tambang batu, pelarangan mengambil ikan dengan
racun dan listrik, penghijauan, dan zonasi desa.
Sejak CBNRM dilaksanakan, terjadi beberapa perubahan seperti
(a) menambang batu yang dilakukan dalam skala kecil untuk
keperluan pribadi atau pembangunan srana-prasarana desa; (b)

melakukan penebaran benih-benih ikan di sungai dan masyarakat


hanya boleh mengambil ikan dengan memancing atau menjala
sehingga

kelestarian

perlindungan

ikan-ikan

terhadap

tetap

terjaga;

keanekaragaman

(c)

melakukan

hayati

dengan

kesepakatan untuk melestarikan daerah kiri kanan sungai dan


sekitar mata air; serta (d) pelarangan dalam pengalihfungsikan
hutan rakyat karena hal ini untuk menjaga konservasi lahan dan
mengembangkan nilai ekonomi gula aren dan kerajinan bambu.
Pada kasus di Desa Keseneng, pencapaian CBNRM pada aspek
sosial dan ekonomi mampu mendorong perlindungan lingkungan

dan keanekaragaman hayati beserta habitatnya.


Pemanfaatan berkelanjutan
Desa Keseneng belum melakukan kerjasama dengan desa-desa
lain dalam kawasan DAS Bodri hulu, terutama desa-desa yang lebih
tinggi dan menjadi hulu dari sungai-sungai yang mengalir melalui
desa tersebut untuk menjamin pemanfaatan sumber daya alam
berkelanjutan.

CBNRM

Keseneng memberikan

dengan

pendekatan

desa

wisata

di

manfaat ekonomi yang cukup besar bagi

masyarakat desa. Selain memberikan lapangan pekerjaan bagi


masyarakat juga

berkontribusi terhadap pembangunan desa.

Keberlanjutan pemanfaatan sumber daya alam tersebut terkait erat


dengan

perlindungan

keanekaragaman

hayati

(biodiversity

protection).

3.6.

Model Implementasi CBNRM dalam Konservasi DAS

Gambar 1. Model konseptual CBNRM di Desa Keseneng.

Gambar 2. Model implementasi CBNR dalam mendukung konservasi DAS

4. ANALISIS PENDEKATAN
4.1.
Pendekatan dalam Pengembangan Masyarakat
Pendekatan dalam pengembangan masyarakat terbagi menjadi
empat yang diantaranya meliputi Improvment vs Transformation,
Proses vs Hasil Material, Self Help vs Technocratic, dan Uniformitas vs
Variasi Lokal. Dalam pendekatan tersebut memiliki pengertian masing
masing. Pendekatan Improvment memeiliki pengertian bahwasanya
dalam

pendekatan

yang

diambil

dalam

sebuah

pembangunan

masyarakat didalamnya terdapat suatu perubahan, tetapi perubahan


yang terjadi masih berbasis pada struktur sosial yang ada, maksud dari

pendeketan ini yaitu dalam pelaksanannya yang muncul berupa


inovasi/ide ide baru dalam dinamika masyarakat. Contohnya dapat
berupa inovasi baru dalam peningkatan produktivitas pertanian.
Pendekatan Transformation merupakan pendekatan yang dilaksanakan
dalam pembangunan masyarakat yang nantinya hasil yang diharapkan
berupa perubahan, perubahan yang dimaksud yaitu perubahan yang
terjadi

pada

struktural.

level

struktur

Transorfmasi

masyarakatnya

struktural

ini

melalui

merupkan

transformasi
sarana

yang

digunakan untuk mencapai suatu tujuan. Contoh landreform.


Pendekatan proses merupakan proses menuju suatu kondisi
dimana warga masyarakat menjadi semakin kompeten dan sensitif
dalam

menanggapi

persoalan-persoalan

baik

di

lingkungan

komunitasnya sendiri maupun persoalan yang berkaitan dengan


hubungan

mereka

dengan

masyarakat

makronya.

Prosesnya

dilaksanakan secara bertahap dan kumulatif. Ciri dari pembangunan


masyarakat yang mengarah ke pendekatan ini yaitu tingkat kepekaan
dalam kelompok masyarakat yang semakin tinggi yang diwujudkan
dalam bentuk prakarsa, masyarakat semakin kreatif, dan partisipasi
yang

semakin

meningkat.

Pendekatan

hasil

material

dalam

pembangunan masyarakat lebih mengutamakan hasil material dan


lebih menekankan pada target. Hasil yang harapkan berupa hasil fisik
secara nyata.
Pendekatan

selfhelp

merupakan

suatu

pendekatan

dalam

pembangunan masyarakat yang mengutamakan sumber, potensi, dan


kekuatan dari dalam. Pengembangannya didasarkan pada prinsip
demokrasi dan menentukan nasib sendiri. Pendekatan Technocratic
lebih cenderung mengarah ke masyarakat di negara berkembang,
terutama masyarakat yang bermukim di perdesaan yang hanya
mengalami perubahan atau pembaruan jika dimulai adanya intervensi

dari pihak luar dengan memperkenalkan atau memaksakan penerapan


suatu teknologi produksi yang modern.
Pendekatan uniformitas diwujudkan dalam bentuk programprogram pembanguan masyarakat yang dirancang di tingkat pusat,
kemudian diterapkan di seluruh masyarakat desa yang ada tanpa
memperhatikan perbedaan karakteristik masing-masing desa. Dalam
pelaksanaannya

cenderung

bersifat

sentralitas

dan

top

down.

Pendekatan variasi lokal lebih mementingkan nilai prakarsa dan


perbedaan lokal, orientasi pembangunan didasarkan pada aspirasi
masyarakat yang berangkat dari kondisi, permasalahan dan kebutuhan
yang dapat berbeda antara lingkungan masyarakat satu dengan yang
lain.

Dalam

menerapkan

pendekatan

ini

hendaknya

lebih

memperhatikan perbedaan yang terjadi pada lingkungan alam dan


lingkungan sosial dan perlunya diberikan tanggung jawab pada
masyarakat

setempat

dalam

mobilisasi

dan

mengontrol

pelaksanaannya (local accountability).


4.2.

Ulasan Singkat Daerah Penelitian


Tesis dengan judul Pengelelolaan Sumber Daya Alam Berbasis

Masyarakat Dalam Upaya Konservasi Daerah Alirah Sungai mengambil


studi

kasus

di

daerah

Desa

Keseneng,

Kecamatan

Sumowono,

Kabupaten Semarang. Keseneng yang merupakan desa dengan letak di


daerah pegunungan. Kondisi topografi desa ini berbukit bukit dengan
banyak lembah, mata air, sungai, dan hutan. Dengan kondisi
perbukitan tersebut sangat menarik atau memiliki panorama alam
yang indah. Perbukitan di Keseneng, dapat digunakan untuk lintas
alam karena memiliki jalur-jalur alternatif yang menyajikan panorama
alam yang menarik. Para pendaki dapat menyaksikan matahari terbit
dari

puncak

perbukitan

serta

melihat

pemandangan

laut

Kota

Semarang dan Kendal, terutama dari puncak Bukit Getas. Perbukitan di


Desa Keseneng juga kaya akan deposit bebatuan. Ada dua kawasan

yang memiliki deposit tinggi, yaitu Bukit Watu Bantal di Dusun Keseseh
dan Watu Kenong di Dusun Keseneng. Batu-batu besar sebagai sumber
kekayaan alam desa juga tersebar di aliran-aliran sungai. Batu-batu
tersebut digunakan warga sebagai salah satu modal pembangunan
desa, seperti membuat rumah, jalan, serta sarana dan prasarana
umum. Selain itu pada desa Keseneng yang sebagian DAS Bodri
melewati desa ini memiliki banyak air terjun yang tersebar di masing
masing dusun. Dari banyaknya air terjun tersebut, hanya satu yang
telah dikelola untuk atraksi wisata, yaitu Curug Tujuh Bidadari. Satu air
terjun dalam proses penataan untuk dibuka bagi kepentingan wisata
desa, yakni Curug Paleburgongso.
Kekayaan alam yang dimiliki Desa Keseneng merupakan potensi
yang dapat dikembangkan, namun selain ada potensi tentunya
terdapat permasalahannya. Permasalahan yang ada di Desa Keseneng
ini yaitu minimnya mata air yang dapat digunakan untuk menopang
kebutuhan warga sehari-hari. Mata air-mata air itu berada di bawah
permukiman, dan debitnya tidak mencukupi untuk kebutuhan warga.
Kini pemanfaatan mata air masih sebatas untuk cadangan air bersih.
Untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, warga telah membuat
sistem instalasi air bersih hingga ke rumah-rumah melalui program
Pamsimas. Namun sumber yang digunakan justru dari luar desa yang
posisinya lebih tinggi secara geografis.
Kondisi sosial ekonomi masyarakat Desa Keseneng jika diamati
dari

tingkat

pendidikannya

masih

tergolong

rendah,

karena

masyarakat yang ada di desa ini masyoritas mengenyam pendidikan


sampai pada jenjang SD saja. Kalaupun ada yang sampai jenjang SMA
atau perguruan tinggi masih sangat sedikit. Warga yang memiliki
pendidikan yang tinggi cenderung untuk berkerja di kota. Warga yang
tinggal di desa sebagian besar dengan tingkat pendidikan yang
rendah. Kondisi lingkungan alam dan tingkat pendidikan sangat

memengaruhi

pilihan

masyarakat

dalam

memenuhi

kebutuhan

hidupnya, hampir 70% di antaranya bermata pencaharian sebagai


petani atau buruh tani. Hanya sebagian kecil warga yang bekerja di
sektor lain, baik bidang jasa, swasta, maupun pegawai negeri sipil/TNI.
Mereka bekerja sebagai pedagang, jasa transportasi, buruh bangunan,
pekerja

pabrik

atau

merantau

keluar

kota

untuk

menjadi

sales/pekerjaan lainnya.
4.3.

Pendekatan

Pengembangan

Maasyarakat

di

Desa

Keseneng
Berdasarkan diskripsi singkat mengenai potensi dan kondisi
sosial ekonomi yang ada di Desa Keseneng serta didukung dengan
membaca hasil dan pembahasan dari tesis penulis maka dalam
pendekatan

pengembangan

masyarakat

Pendekatan

Transformation,

Pendekatan

lebih

mengarah

proses,

ke

Pendekatan

Technocratic dan Pendekatan variasi lokal.


Pendekatan Transformation pada kasus ini ditandai dengan
perubahan yang dijalankan untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan yang
akan dicapai oleh masyarakat Desa Keseneng yaitu masyarakat ingin
mampu mengelola sumber daya yang dimilkinya, namun kegiatan ini
masih

bersifat

angan

anagan

atau

masih

dalam

bentuk

perencanaan. Kegiatan yang sudah dijalankan yaitu dengan langkah


awal yang membentuk pengurus pengelola Curug Tujuh Bidadari guna
mengelola curug tersebut sebagai tempat tujuan wisata. Kegiatan
perencanaan desa tersebut dilakukan melalui tahapan tahapan
sebagai

berikut:

(1)

membangun

impian

atau

visi

desa;

(2)

mengdentifikasi dan memetakan potensi desa, baik sumber daya


alam, sumber daya sosial, sumber daya manusia, dan sarana
prasarana yang sudah ada; (3) mengidentifikasi dan menganalisis
masalah yang menjadi kendala pengembangan desa; (4) menyusun
alternatif program untuk memecahkan masalah menggunakan potensi
yang dimiliki;(5) menyusun kebijakan pembangunan yang terdiri dari

kerangka

logis

pengembangan

desa

dan

kerangka

logis

pengembangan Desa Wisata Keseneng.


Kelebihan dengan menggunakan pendekatan ini yaitu lebih cepat
dalam

memecahkan

motivasi

lebih

masalah/mecapai

pada

masyarakat.

tujuan

Kendala

dan

memberikan

dalam

penerapan

pendekatan ini meliputi membutuhkan biaya yang cukup besar,


sangat berpotensi menimbulkan gejolak sosial dan politik, dan karena
pendekatan ini mencakup perubahan yang terencana maka belum
tentu secara otomatis diikuti dengan perubahan sikap dan orientasi
berfikir dari masyarakat.
Pendekatan Proses lebih tertuju pada suatu kondisi dimana
warga masyarakat menjadi semakin kompeten dan sensitif dalam
menanggapi persoalan-persoalan baik di lingkungan komuintasnya
sendiri maupun persoalan yang berkaitan dengan hubungan mereka
dengan masyarakat makronya. Pada pendekatan ini kegiatan yang
dijalankan berjalan secara bertahap dan kumulatif, bertahapnya
proses kegiatan tersebut menhasilkan tingkat kompetensi dan tingkat
kepekaan yang semakin tinggi yang diwujudkan dalam bentuk
prakarsa, kreativitas, dan partisipasi yang semakin meningkat.
Pada kasus di Desa Keseneng yang mengarah ke pendekatan ini
yaitu partisipasi masyarakat setempat dalam mencapai suatu tujuan
yang semakin tinggi. Hal tersebut ditandai dengan adanya kegiatan
yang melibatkan masyarakat setempat untuk pengelolaan sumber
daya alam. Bahkan masyarakat setempat memberi nama CBNRM,
walaupun

kegiatan

tersebut

mengalami

pasang

surut.

Tetapi

setidaknya masyarakat saling bantu membantu dalam pengelolaan


sumber daya alam nya. Meski demikian, CBNRM dapat berjalan dan
berkembang dengan baik karena ada dukungan kebijakan dan
peraturan, warga menjadi pelaku utama sejak proses perencanaan,
ada kesepakatan bersama yang dijalankan, dan ada keinginan kuat
warga untuk selalu berkembang. Faktor-faktor tersebut membuat
kepercayaan dan dukungan dari pihak luar semakin kuat sehingga

turut mendukung perkembangan CBNRM di Desa Keseneng. Partisipasi


masyarakat sempat mendapat kendala ketika Keinginan warga untuk
dapat mengelola kekayaan sumber daya alam, terutama air terjun
menjadi objek wisata yang dapat memberikan keuntungan bagi desa,
telah digagas sejak tahun 1980-an. Namun keinginan tersebut tidak
terwujud karena kondisi pemerintahan masih sangat sentralistik dan
top down, dimana partisipasi masyarakat kurang mendapat tempat.
Kendala tersebut kemudian di seleseikan bersama sama dengan
mengambil tindakan yang berupa tekad yang kuat yang ditanamkan
pada masyarakat Desa Keseneng untuk mengentaskan kemiskinan
dengan mendorong desa untuk bergerak supaya tujuan mereka
tercapai yaitu hidup dengan nyaman, mudah, dan ketersediaan
sarana-prasarana penunjang.
Solusi kreatif dalam dinamika masyarakat Desa Keseneng
muncul ketika keterbatasan dana, padahal mereka menginginkan
sarana dan prasarana yang memadai di desanya, maka munculah ide
yang

berupa

upaya

yang

dilakukan

pemerintah

desa

untuk

memaksimalkan pendapatan desa adalah dengan menyewakan tanah


kas desa dalam jangka waktu tertentu. Selain itu, warga desa
berpartisipasi dalam bentuk iuran untuk memenuhi kebutuhan dana
pembangunan desa. Kegiatan seperti ini juga masuk kedalam
pendekatan technocratic karena adanaya peran yang bersifat top
down antara pemerintah desa dengan masyarakat desa, sehingga
menghasilkan suatu capaian tujuan yang direncanakan. Peran dari
luar yaitu berupa kontribusi dati LSM Komunitas Salunding dan
Disporabudpar. LSM dan Diporabudpar memiliki peran dalam bentuk
penyelesaian masalah yang sempat muncul ketika ada konflik antara
Desa Keseneng dan Desa Gondang dalam pengelolaan Curug Tujuh
Bidadari dan curug lainnya.
Pendekatan Variasi Lokal muncul ketika ada kegiatan yang
terdapat unsur aspirasi masyarakat didalamnya. Dalam penyusunan

suatu sistem pengelolaan sumber daya alam di Desa Keseneng tentu


harus

melibatkan

masyarakat

yang

ada

di

dalamnya

dengan

memperhatikan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat setempat agar


berjalan sinergi antara tujuan yang akan dicapai dengan kebudayaan
setempat. Bahkan jika keduanya bisa saling disinergikan maka akan
menjadi nilai khas sendiri yang berbeda dengan tempat wisata yang
lainnya.
5. ANALISIS PRINSIP
Pengelolaan sumber daya alam di Desa Keseneng dilakukan secara
partisipatif dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat desa.
Pengelolaan desa wisata tersebut juga bersandarkan pada prinsip-prinsip
pembangunan yang berkelanjutan. Masyarakat desa menyadari bahwa
kelestarian

dan

keindahan

sumber

daya

alam

yang

mereka

miliki merupakan modal utama yang dapat mendatangkan keuntungan


bagi desa dan masyarakatnya. Karena itu, dalam pengelolaan desa
wisata, pelestarian lingkungan merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan dari kelangsungan program desa tersebut.
Pembangunan berwawasan lingkungan menghendaki beberapa
syarat, yaitu: (1) Pembangunan itu sarat dengan nilai, dalam arti bahwa ia
harus diorientasikan untuk mencapai tujuan ekologis, sosial, dan ekonomi;
(2) Pembangunan itu membutuhkan perencanaan dan pengawasan yang
seksama pada semua tingkatan; (3) Pembangunan itu menghendaki
pertumbuhan kualitatif setiap individu dan masyarakat; (4) Pembangunan
membutuhkan

pengertian

dan

dukungan

semua

pihak

bagi

terselenggaranya keputusan yang demokratis; dan (5) Pembangunan


membutuhkan suasana yang terbuka, jujur, dan semua yang terlibat
senantiasa memperoleh informasi aktual (Hadi, 2005).
Pada prinsipnya pengelolaan DAS merupakan pengaturan tata guna
lahan atau pengoptimalan penggunaan lahan untuk berbagai kepentingan
secara rasional serta praktik lainnya yang ramah lingkungan sehingga

dapat dinilai dengan indikator kunci (ultimate indicator) kuantitas, kualitas


dan kontinuitas aliran sungai pada titik pengeluaran (outlet) DAS. Jadi
salah satu karakteristik suatu DAS adalah adanya keterkaitan biofisik
antara daerah hulu dengan daerah hilir melalui daur hidrologi.
Karena sifatnya sebagai kesatuan ekosistem yang utuh dari hulu ke
hilir, maka

pengelolaan

DAS

harus

terpadu

sebagai

satu

kesatuan ekosistem dan tidak dibatasi oleh batas-batas administratif.


Pengelolaan DAS lintas batas administrasi tersebut melibatkan multipihak
dan tidak parsial atas dasar kepentiangan daerah pemerintahan.
Strategi pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat yang
secara internasional dikenal sebagai community based natural resources
management (CBNRM) mulai populer pada pertengahan 1980-an untuk
mereplikasi kesuksesan konservasi lahan milik komunal oleh masyarakat
pedesaan. Aspek CBNRM sangat kompleks dan beragam, namun secara
umum dapat disederhanakan menjadi enam aspek, yaitu (Kellert et al.,
2000):

Equity, distribusi dan alokasi sumber daya beserta keuntungan

ekonomi dan social/


Empowerment, distribusi kekuasaan terutama di antara masyarakat
lokal, termasuk menyerahkan wewenang dari pemerintah pusat dan
daerah kepada masyarakat dan institusi lokal, partisipasi dalam

pengambilan keputusan, pembagian pengawasan, dan demokratisasi.


Conflict resolution, penanganan dan resolusi konflik dan perselisihan
atas sumber daya di antara

kepentingan lokal, daerah, dan nasional.


Knowledge and awareness: pemilahan, pengumpulan, dan menyusun
kearifan

masyarakat lokal maupun antara

lokal

maupun

pengetahuan

ekologi

modern

dalam

pengelolaan sumber daya alam


Biodiversity protection: konservasi dan perlindungan keanekaragaman
hayati beserta

habitatnya, termasuk

pengawetan

dan

pemulihan

spesies prioritas, langka, dan terancam, maupun populasi

terancam.
Sustainable

utilization:

pemanfaatan

sumber

daya

alam

yang
secara

konsumtif maupun tidak dalam upaya menjaga ketersediaannya dalam


jangka waktu lama untuk generasi sekarang dan mendatang.
6. KRITIK DAN SARAN
6.1.
Kritik
Desa Keseneng merupakan salah satu desa yang menarik untuk
dikaji lebih lanjut berkenaan dengan implementasi pengembangan
masyarakatnya. Penulis sudah dengan runtut menjawab tujuan-tujuan
yang ingin dicapai. Namun dalam beberapa bagian sayangnya penulis
masih kurang menjelaskan bagian-bagian tertentu dari tesisnya, yang
mungkin bisa sangat vital. Salah satu bagian tersebut adalah model
CBNRM yang terdapat baik di kerangka penelitian (Bab 3) ataupun
pada bagian hasil dan pembahasan (Bab 4). Sebenarnya akan lebih
baik

jika

misal,

pada

bagian-bagian

tertentu

hubungan

antar

stakeholder dalam pengembangan masyarakat di Desa Keseneng


diperjelas lebih dalam lagi. Menggunakan penelitian kualitatif, pada
bagian-bagian tertentu misal pada pihak luar, peran dan pengaruh
mereka terhadap keberlangsungan CBNRM mestinya dapat digali lebih
dalam. Menggunakan penelitian kualitatif juga, diharapkan faktorfaktor khusus misal dari pihak luar yang mampu membuat kerjasama
antara mereka dengan desa bisa terus berlanjut dalam setiap proses
CBNRM mulai dari perencanaan sampai evaluasi dapat diidentifikasi.
6.2.
Saran
Penentuan pendekatan ataupun prinsip pendekatan masyarakat,
tentu tidak selamanya valid apabila hanya menggunakan hasil analisis
literatur. Temuan-temuan yang sudah didapatkan disini berkaitan
dengan

berhasilnya

pendekatan

dan

prinsip

pengembangan

masyarakat di Desa Keseneng, Kecamatan Sumowono, Kabupaten


Semarang

diterapkan

mungkin

bisa

menjadi

titik

mula

untuk

identifikasi pendekatan apa yang seharusnya diterapkan di daerah-

daerah serupa. Namun tentunya, penelitian lebih lanjut sebelumnya


diperlukan untuk menguji kembali apakah temuan pendekatan dan
prinsip yang telah dikemukakan disini masih sesuai dengan keadaan
yang ada di lapangan guna penelitian-penelitian selanjutnya.
Selebihnya tentu penelitian-penelitian yang berhubungan
langsung dengan temuan yang didapatkan dalam penelitian ini akan
sangat

menarik

untuk

dikaji.

Khususnya

misal

seperti

dalam

pengaplikasian sustainable utilization, dimana dalam pelaksanaannya


Desa Keseneng akan tetap kesulitan menjaga pemakaian dari DAS
apabila secara terus-menerus tidak dibersamai dengan usaha yang
sama dari desa-desa lain dalam cakupan DAS tersebut. Posisi DAS
Bodri yang dalam kasus ini terletak diantara dua Kabupaten yang
berbeda (Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Semarang) akan
memiliki

tantangan-tantangan

dalam

usaha

penyeragaman

perencanaan antar pihak-pihak yang terkait. Solusi-solusi guna


tercapainya sustainable utilization dengan menyeragamkan pola
gerak desa-desa disekitar Desa Keseneng yang sesuai dengan
keadaan masyarakat perlu dikaji lebih lanjut.

PUSTAKA
Emilia,

Fransisca.

2013.

Pengelolaan

Sumber

Daya

Alam

Berbasis

Masyarakat dalam Upaya Konservasi Daerah Aliran Sungai. Tesis.


Semarang: Universitas Diponegoro