Anda di halaman 1dari 3

ANALISIS METAMPIRON (ANTALGIN) DALAM JAMU

Siti Sofiatul Jannah

260110140116

Kecenderungan masyarakat untuk kembali ke alam dan kepercayaan terhadap tradisi


leluhur menjadikan jamu atau obat tradisional sebagai salah satu pilihan dalam mengobati suatu
penyakit dan menjaga kesehatan tubuh. Kecenderungan ini menjadi salah satu peluang yang baik
dalam pengembangan industri obat tradisional di Indonesia. Berdasarkan Permenkes No. 007
Tahun 2010 tentang Registrasi Obat Tradisional, dinyatakan bahwa adanya larangan penggunaan
bahan-bahan kimia obat dalam jamu tradisional. Namun pada praktiknya, banyak ditemukan
jamu yang mengandung bahan kimia obat (BKO) yang tidak sesuai takaran yang dapat
menyebabkan bahaya, seperti metampiron (antalgin).
Metampiron merupakan derivat Pirazolinon yang mempunyai efek analgetika-antipiretika
yang kuat, mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 101,1% C 13H16N3NaO4S,
dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan (Depkes RI, 1995). Metode analisis metampiron
dalam jamu dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif, seperti reaksi uji warna, KLT,
spektrofotometri UV, dan iodimetri.
Reaksi warna
Ekstraksi metampiron dari sediaan jamu dilakukan dengan mengambil sejumlah sampel
sebanyak 1 gram, kemudian sampel dimasukkan ke dalam corong pisah, ditambah 10 ml etanol
dan dikocok lalu disaring (Hayatulhaya, 2009).

Hasil ekstraksi ditambah 1 tetes FeCl3 LP, diamati perubahan warna yang terjadi,
dibandingkan dengan kontrol.
Hasil ekstraksi ditambah 1 tetes AgNO3 LP, diamati perubahan warna yang terjadi,
dibandingkan dengan kontrol (Hayatulhaya, 2009).
Pada 3 ml larutan 10% ditambahkan 1-2 ml HCl encer dan 1 ml FeCl 3 P 5%. Terjadi
warna biru jika dibiarkan berubah menjadi merah, kemudian tidak berwarna (Riyanti
dkk, 2013).

Kromatografi Lapis Tipis


Hasil ekstraksi dilarutkan dalam methanol 0,1% dan ditotolkan pada silica gel bersama
metampiron standarnya. Digunakan eluen methanol : ammonia (100 : 1,5) sebagai fase geraknya.
Noda pada KLT kemudian diperiksa pada penampak sinar UV dan hitung Rf nya, nilai Rf
kemudian dibandingkan dengan standar (Hayatulhaya, 2009).

Spektrofotometri UV-Vis

Menilai panjang gelombang larutan Metampiron antara panjang gelombang 200


1000 nm.
Hasil ekstraksi dilarutkan dalam methanol 0.1% kemudian diukur pada 200
1000 nm, kemudian dibandingkan dengan standar (Hayatulhaya, 2009).

Metode Iodimetri

Timbang dengan teliti 400 mg sampel dan masukkan ke dalam Erlenmeyer


Tambahkan 50 ml aquades bebas CO2, lalu campur dengan 5 ml HCl 0,2 N
Kemudian tambahkan larutan amilum 1% sebanyak 1 ml sebagai indicator
Titrasi melaui buret dengan laruan Inodium sampai terbentuk warna biru yang stabil
selama 1 2 menit
Baca volume larutan iodium yang terpakai
1 ml larutan iodium 0,01 N setara dengan 1,767 mg atau 0,001767 gr metampiron
(Banureah, 2009).
Cara menghitung kadar metampiron
Kadar metampiron=

V N
100
B

V
= volume titrasi sampel (ml)
N iodium = normalitas iodium yaitu 0,01 N

= 1,767 mg

B``

= berat sampel (gr)

Kadar metampiron yang diperbolehkan dalam bentuk tablet adalah 500 mg (Depkes RI,
1995).

Daftar Pustaka
Banureah, Eka M. 2009. Analisis Kandungan Metampiron pada Jamu Tradisional yang Beredar
di Kota Medan. Skripsi tidak diterbitkan. Medan : FKM USU.
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.
Hatulhaya, Brenda. 2009. Pemeriksaan Kemungkinan Adanya Bahan Asing pada Jamu
Antirematik. Skripsi tidak diterbitkan. Depok : FK UI.

Riyanti, Soraya, Okky I.S., Julia R. 2013. Pemantauan Kualitas Jamu Pegal Linu yang Beredar di
Kota Cimahi. Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi, Des 2013, 1 (1), 45-48.

Anda mungkin juga menyukai