Anda di halaman 1dari 17

DAFTAR ISI

Halaman Judul............................................................................................................
Kata Pengantar...........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...............................................................................................
B. Tujuan.............................................................................................................

BAB II KASUS DAN PEMBAHASAN


A. Kasus..............................................................................................................
B. Analisis Kasus................................................................................................
C. Hasil Study Literature....................................................................................

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ...................................................................................................
B. Saran...............................................................................................................

Daftar Pustaka............................................................................................................

KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat-Nya yang
berlimpah, sehingga terbentuklah makalah ini tepat pada waktunya. Adapun tujuan dari
pembentukan karya ilmiah ini adalah untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Legal Ethic In Nursing
Practice pada semester V, dengan judul Konsep Bioetik Keperawatan.
Terbentuknya makalah ini tidak luput dari kesalahan dan kesulitan, baik penulisan
maupun pemahaman pembaca. Namun, berkat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak,
makalah ini dapat terbentuk menjadi baik. Oleh karena itu kami ucapkan terima kasih kepada:
1.

2.
3.

Ns. Nindita Kumalawati Santoso.,M.NS. selaku dosen yang terus memberikan


pemahaman-pemahaman baru dan selalu memberikan arahan yang baik di setiap
pertemuan.
Keluarga terutama orang tua yang tidak pernah lupa memberikan semangat, dorongan,
dan motivasinya baik secara moral, maupun secara spiritual.
Teman-teman yang selalu memberikan bantuan dan motivasi baik secara langsung
maupun tidak langsung.
Kami menyadari dalam tahap pembuatan makalah ini, masih banyak kekurangan kami

dalam segi apapun, oleh karena itu kami sangat membutuhkan kritik dan saran bagi pembaca,
agar dapat lebih baik lagi pada pembuatan makalah kami di masa yang akan datang

Yogyakarta 25 September 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A. latar belakang

Kemajuan pengetahuan dan teknologi dibidang kesehatan berdampak besar terhadap


peningkatan mutu pelayanan keperawatan. Pelayanan keperawatan yang dilaksanankan oleh
tenaga profesional, dalam melaksanakan tugasnya dapat bekerja secara mandiri dan dapat
pula bekerja sama dengan profesi lain.
Bioetik adalah etika yang menyangkut kehidupan dalam lingkungan tertentu, dimana
bioetik keperawatan membahas terkait isu-isu mengenai masalah kesehatan. Baik perbuatan
dari pihak yang bertanggung jawab, ataupun segala hal yang terjadi disebabkan oleh
pertimbangan etis.
B. Tujuan penulisan
Tujuan umum
Berdasarkan latar belakang distas, perlu kiranya kami menyusun sebuah tulisan tentang
bioetis medis, sebagai sesuatu yang hidup dan terus dilakukan dilingkungan medis.
Tujuan khusus
Mengetahui secara lebih spesifik tentang bioetis medis dan isu permasalahan praktik
keperawatan
Mengetahui sejauh mana pemahaman mahasiswa tentang masalah praktik
keperawatan
Memenuhi tugas pembuatan makalah pada mata ajar etika keperawatan.
C. Rumusan masalah
1. Bagaimana konsep bioetik dalam keperawatan?
2. Bagaimana prinsip etika keperawatan yang dapat diterapkan di Pelayanan Kesehatan?
3. Bagaimana etika seorang perawat dalam menghadapi isu keperawatan?

BAB II
Kasus dan Pembahasan
A. Kasus

By. Ny. A umur 3 hari di rawat di ruang Perinatologi dengan diagnosa medis
Hiperbilirubinemia. Dari hasil pemeriksaan tersebut maka perlu dilakukan tindakan
fototerapi pada By. Ny. A untuk mengatasi masalah hiperbilirubinemia tersebut.
Sebelum melakukan tindakan tersebut, pihak RS (dokter dan perawat) memberikan
informasi tentang kondisi kesehatan bayi dan sudah mendapatkan Informed Consent dari
orang tua pasien untuk pemberian fototerapi tersebut. Selama perawatan di RS,
perawat memonitor setiap 3 jam sekali tentang peningkatan suhu tubuh, intake
output bayi diberikan fototerapi. Prinsip etik dilakukan dengan mendokumentasikan
tindakan keperawatan yang dilakukan dan perkembangan kesehatan By. Ny. A
setiap shiftnya pada catatan perkembangan kesehatan klien.
B. Analisis Kasus
1. Mencari kata sulit dan mendefinisikan kata sulit
a. Hiperbilirubinemia
1) Kondisi dimana bilirubin melebihi batas.
2) Icterus pada bayi baru lahir : kulit, konjungtiva dan lainnya

mengalami ikterik (kuning) pada mukosa jika tidak teratasi dapat


menyebabkan kematian.
b. Informed consent
1) Persetujuan tindakan.
2) Surat persetujuan antara tenaga medis dengan pasien/keluarga
pasien.
c. Perinatologi
1) Ruang rawat inap BBL-12 hari.
2) Bayi prematur, BBLR, ilmu yang mempelajari perinatal.
d. Prinsip etik
1) Tindakan atau sesuatu yang dibuat setiap hari.
2) Acuan untuk tenaga medis dalam melakukan suatu tindakan sesuai
dengan SOP yang sudah ditetapkan.

e. Fototerapi
1) Terapi penyinaran untuk penanganan hiperbilirubinemia.
2) Terapi sinar untuk mempertahankan suhu tubuh pasien.
2. Membuat daftar pertanyaan
a. Apa saja manifestasi klinis pada hiperbilirubinemia!
b. Apa saja yang termasuk prinsip-prinsip etik!
c. Sebutkan ruang lingkup biotik!
4

d. Apakah

3.

foto terapi adalah penanganan efektif untuk pasien


hiperbilirubinemia?
e. Apa hubungannya foto terapi dengan hiperbilirubinemia?
f. Apakah dokter dan perawat sudah menerapkan prinsip bioetik?
g. Termasuk prinsip etik manakah pendokumentasian itu?
h. Seperti apakah konsep bioetik itu?
i. Apa penyebab dari hiperbilirubinemia?
j. Apa sajakah komponen yang terkandung dalam informed confent?
k. Apa sanksi yang diterima atap kelalaian yang dilakukan oleh tenaga medis?
l. Seperti apakah etika keperawatan yang baik itu?
Menjawab pertanyaan sesuai pengetahuan awal yang dimiliki (Brain storming)
a. Apa saja manifestasi klinis pada hiperbilirubine!
1) Mukosa atau konjungtiva berwarna kekuningan
2) Penampilan kuning pada bayi baik dari ujung kepala sampai ujung
kaki yang dkategorikan mengalami keparahan.
3) Kadar bilirubin lebih dari 5 mg/dl.
b. Apa saja yang termasuk prinsip-prinsip etik !
1) Keadilan
Prinsip keadilan berkaitan dengan kewajiban perawat untuk dapat
bersikap adil terhadap semua orang tanpa harus membedakan satu
sama laindan tidak memihak atau berat sebelah. Keadilan juga
terutama ditekankan dalam hal pemeberian layanan kesehatan dengan
mendahulkan pasien yang memenag memerlukan penanganan segera
dan menunda melayani klien lain yang kebutuhannya non prioritas.
2) Otonomi
Individu yang menerapkan prinsip etik otonomi memiliki hak untuk
mengatur dan membuat keputusan sendiri, meskipun demikian masih
ada keterbatasan terutama yang berkaitan dengan situasi dan kondisi,
latar belakang individu, campur tangan hokum dan tenaga kkesehatan
yang ada.
3) Menepati janji
Seorang tenaga kesehatan memiliki kewajiban untuk selalau setia dan
menepati janji terhadap kesepakatan dan tanggung jawab yang telah
dibuat. Perawat harus memegang janji yang telah disepakatu bersama
klien, menepati janji merupakan salah satu modal untuk membina
hubungan saling perrcaya dengan pasien.
5

c. Sebutkan ruang lingkup biotik!


1) Bioetika medis
2) Bioetika lingkungan
3) Bioetika klinis
4) Bioetika keperawatan
5) Bioetika hukum.
d. Apakah foto terapi adalah penanganan efektif untuk pasien hiperbilirubinemia?

Fototerapi digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin serum pada


neonatus dengan hiperbilirubinemia. Fototerapi dapat memecah bilirubin
menjadi dipirol yang tidak toksis dan diekskresikan tubuh melalui urin dan
feses. Cahaya yang dihasulkan oleh terapi sinar menyebabkan reaksi fotokimia
dalam kulit yang mengubah bilirubin tak terkonjugasi kedlam fotobilirubin
yang kemudian diekskresi dalam hati dan dilanjutkan ke empedu.
e. Apa hubungannya fototerapi dengan hiperbilirubinemia?

Fototerapi dan hiperbilirubinemia memiliki keterkaitan dalam hal


penanganan pertama pada bayi baru lahir dengan indikasi hiperbilirubinemia.
Bayi dengan hiperbilirubinemia akan diberikan foto terapi atau terapi sinar
yang tujuannya adalah untuk menrunkan kadar bilirubin dalam darah serta
memberikan kehangatan pada bayi. Fototerapi diarahkan secara langsung pada
kulit bayi atau permukaan kulit bayi seluas-luasnya.
f.

Apakah dokter dan perawat sudah menerapkan prinsip bioetik?


Penerapan bioetik harus menekankan bahwa individu (pasien) harus
diperlakukan sebagai manusia yang memiliki otonomi (hak untuk menentukan
nasib diri sendiri), dan setiap manusia yang otonominya berkurang atau hilang
perlu mendapatkan perlindungan. Kasus ini menunjukan bahwa dengan adanya
informed consent, tenaga kesehatan sudah sedikit menerapkan konsep bioetik.
Pasien sebelumnya diberi persetujuan terkait dengan tindakan yang akan
dilakukan yaitu fototerapi pada pasien, dan orang tua pasien menyetujui dan
menandatangani persetujuan tersebut. Setelah itu ada monitoring dan
dokumentasi sebagai bukti tertulis atas tindakan yang sudah dilakukan sebagai
bukti bahwa kita menulis apa yang kita lakukan dan kita melkaukan apa yang
kita tulis.
6

g. Seperti apakah konsep bioetik itu?

Konsep bioetik lebih mengedepankan etika yang digunakan dalam


permasalahan yang menyangkut kehidupan. Bioetik harus memahami lebih
dalam terkait kultur atau budaya yang melekat pada masing-masing individu.
Karena, setiap individu memiliki pandangan yang berbeda terhadap keyakinan
yang mereka yakini. Prinsip bioetik yang harus diterapkan yaitu saling
menghormati baik tenaga kesehatan terhadap pasien maupun sebaliknya,
otonomi, kemurahan hati demi kepentingan orang banyak, tidak menimbulkan
kerugian baik materi maupun fisik, jujur dan menepati janji, menyimpan
kerahasiaan pasien sehingga pasien merasa terjaga privasinya, setia dan
bersikap adil terhadap pasiennya.
h. Apa penyebab dari hiperbilirubinemia?
1) Siklus sel darah merah pada neonatus lebih pendek dibandingkan

i.

j.

dengan orang dewasa, sehingga banyak bilirubin yang dilepaskan


melalui organ hati. Pembentukan organ hati yang belum matang tidak
cukup kuat untuk mengatasi jumlah bilirubin yang berlebih.
2) Ketika hati tidak bisa menghilangkan kadar bilirubin yang berlebih itu,
maka bilirubin tidak dapat keluar dari tubuh kemudian berkumpul
pada kulit dan bagian putih bola mata (ikterik).
Apa sajakah komponen yang terkandung dalam informed consent?
1) Persetujuan dari kedua belah pihak (Rumah sakit dan pasien atau
keluarga pasien)
2) Tindakan yang akan diberikan
3) Resiko yang ditimbulkan
4) Akibat jika tidak dilakukan tindakan
5) Penandatanganan setuju atau menolak terkait tindakan yang akan
dilakukan dari pihak pasien atau keluarga pasien.
Apa sanksi yang diterima atap kelalaian yang dilakukan oleh tenaga medis?
1) Sanksi moral (kehilangan kepercayaan dari orang lain, merasa
bersalah, dll)
2) Sanksi pidana, apabila yang kelalaian murni dilakukan oleh tenaga
medis
3) Pencabutan jabatan
7

k. Seperti apakah etika keperawatan yang baik itu?

Etika keperawatan yang baik yaitu suatu bentuk tingkah laku dalam
konsep keperawatan yang mengedepankan aturan atau norma sesuai dengan
ketetapan yang sudah disepakatai sebelumnya. Etika berhubungan dengan
bagaimana seseorang bertindak sesuai dengan yang semestinya dilakukan dan
bagaimana sesorang mampu berhubungan baik dengan oorang lain. Etika
keperawatan merupakan sebuah aksi atau penerapan tentang bagaimana
seorang perawat mampu mengidentifikasi hingga mengambil keputusan demi
terlaksananya pemberian pelayanan kesehatan yang mengedepankan norma
atau aturan yang dianut oleh masing-masing individu. Tidak saling
membedakan antar teman sejawat khususnya dalam pelayanan terhadap pasien.

4. Membuat Topic Tree atau Mind Mapping

KONSEP BIOETIK KEPERAWATAN


RUANG LINGKUP

PRINSIP BIOETIK

KONSEP INFORMED CONSENT

ISSUE BIOETIK KEPERAWATAN TERKINI

5. Membuat Daftar LO (Learning Outcome)


a. Definisi bioetik keperawatan
b. Peran bioetik
c. Ruang lingkup dan pendekatan bioetik
d. Prinsip-prinsip bioetik keperawatan
e. Definisi informed consent

Fungsi tujuan informed consent


g. Dasar informed consent
h. Syarat atau komponen dalam informed consent
i. Issue bioetik keperawatan terkini
f.

C. Hasil Study Literature


1. Definisi bioetik keperawatan
a. Bioetik adalah etika yang menyangkut kehidupan dalam lingkungan tertentu atau

etika yang sberkaitan dengan pendekatan terhadap asuhan kesehatan ( Ismani


Nila, 2001 hal 16 ).
b. Bioetik adalah penerapan dari teori etika dan prinsip moral pada kehidupan dan
pekerjaan/porofesi. (IAKMI, 2013)
c. Bioetik adalah studi tentang isu etika dalam pelayanan kesehatan ( hudak &
ballo,1997). Dalam pelaksanaannya etika keperawatan mengacu pada bioetik
sebagaimana tercantum dalam sumpah janji profesi keperawatan dan kode etik
profesi keperawatan.
d. Bioetik adalah semacam ilmu pengetahuan yang menawarkan pemecahan masalah
bagi konflik moral yang timbul dalam tindakan, praktek kedokteran dan ilmu
hayati (Sahin Aksoy, 2002 dalam Muchtadi, 2007).
e. Kepmen Menristek No.112 Tahun 2009, menyatakan bahwa bioetika adalah ilmu
hubungan timbal balik sosial (Quasi social science) yang menawarkan pemecahan
terhadap konflik moral yang muncul dalam penelitian, pengembangan, dan
pemanfaatan sumber daya hayati. Diperlukan rambu-rambu berperilaku (etika)
bagi para pengelola ilmu pengetahuan, ilmuwan dan ahli teknologi yang bergerak
di bidang biologi molekuler dan teknologi rekayasa genetika.
2. Peran bioetik
Menghormati martabat manusia (respect for patients decision/autonomy):
9

a. Pertama, setiap individu (pasien) harus diperlakukan sebagai manusia yang

memiliki otonomi (hak untuk menentukan nasib diri sendiri), dan


b. Kedua, setiap manusia yang otonominya berkurang atau hilang perlu
mendapatkan perlindungan.
3. Ruang lingkup dan pendekatan bioetik
Kajian bioetika sesungguhnya mencakup bioetika medis, bioetika lingkungan,
bioetika klinis, bioetika keperawatan (Reich, 1995), bahkan bioetika hukum.
Keragaman kultural harus dipahami oleh para pengambil keputusan dalam konteks
bioetis (dokter, perawat, anggota komite bioetika, pembuat kebijakan publik, dan
sebagainya).
Pendekatan bioetik :
a. Pendekatan Teleologik

Pendekatan Teleologik adalah suatu doktrin yang menjelaskan


fenomena dan akibatnya, dimana seseorang yang melakukan pendekatan
terhadap etika dihadapkan terhadap konsekuensi dan keputusan- keputusan
etis. Dengan kata lain pendekatan ini mengemukakan tentang hal- hal yang
berkaitan dengan the end justifies the means (pada akhirnya membenarkan
secara hukum tindakan atau keputusan yang diambil untuk kepentingan
medis).
Contoh : Dalam situasi dan kondisi dimana seorang pasien harus
segera dioperasi, sedangkan tidak ada ahli bedah yang berpengalaman dalam
bidang tersebut, dokter ahli bedah yang belum bepenglaman sekalipun tetap
dibenarkan untuk melakukan tindakan pembedahan sesuai dengan
pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini dilakukan demi keselamatan pasien
tersebut.
b. Pendekatan Deontology
Deontology berasal dari kata deon dari bahasa yunani yang artinya
kewajiban. Teori ini menekankan pada pelaksanaan kewajiban. Suatu
perbuatan akan baik jika didasari atas pelaksanaan kewajiban, jadi selama
melakukan kewajiban sudah melakukan kebaikan. Teori ini tidak terpatok
pada konsekuensi perbuatan dengan kata lain teori ini melaksanakan terlebih
dahulu tanpa memikirkan akibatnya. (Aprilins, 2010).
Contohnya yaitu Seorang perawat yang berkeyakinan bahwa
menyampaikan suatu kebenaran merupakan hal yang sangat penting, dan tetap
10

harus disampaikan tanpa peduli apakah hal tersebut mengakibatkan orang lain
tersinggung atau tidak.

c. Pendekatan Intuitionism

Pendekatan ini menyatakan pandangan atau sifat manusai dalam


mengetahui hal yang benar atau salah. Hal tersebut terlepas dari pemikiran
rasional atau irasional suatu keadaan.
Contoh : Seorang perawat sudah tentu mengetahui bahwa menyakiti
pasien merupakan tindakan yang tidak benar. Hal tersebut tidak perlu
diajarkan lagi kepada perawat karena sudah mengacu pada etika dari seorang
yang diyakini dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk
dilakukan.
4. Prinsip-prinsip bioetik keperawatan

Ada 8 prinsip etika keperawatan, yaitu :


a. Otonomi (Autonomy), prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa
individu mampu berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri.
Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut
pembedaan diri.
b. Berbuat Baik (Beneficience), prinsip ini menentut perawat untuk melakukan
hal yang baik sehingga dapat mencegah kesalahan atau kejahatan.
c. Keadilan (Justice), nilai ini direfleksikan dalam praktek professional ketika
perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktik dan
keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.
d. Tidak merugikan (Nonmaleficince), prinsip ini berarti tidak menimbulkan
bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien.
e. Kejujuran (Veracity) nilai ini harus dimiliki oleh seluruh pemberi layanan
kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien dan meyakinkan
agar klien mengerti. informasi yang diberikan harus akurat, komprehensif, dan
objektif. Kebenaran merupakan dasar membina hubungan saling percaya.
Klien memiliki otonomi sehingga mereka berhak mendapatkan informasi yang
ia ingin tahu.

11

Menepati janji (Fidelity), tanggung jawab besar seorang perawat adalah


meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan, dan
meminimalkan penderitaan. Untuk mencapai itu perawat harus memiliki
komitmen menepati janji dan menghargai komitmennya kepada orang lain.
g. Kerahasiaan (Confidentiality), adalah menjaga privasi klien. informasi
tentang klien berupa dokumentasi tentang keadaan kesehatan klien hanya bisa
dibaca guna keperluan pengobatan dan peningkatan kesehatan klien. Diskusi
tentang klien diluar area pelayanan harus dihindari.
h. Akuntabilitas (Accountability). adalah standar yang pasti bahwa tindakan
seorang professional dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanda
terkecuali. Perawat bertanggung jawab pada diri sendiri, profesi, klien, sesama
teman sejawat, karyawan, dan masyarakat.
5. Definisi informed consent
a. Informed consent (Guwandi) merupakan suatu perjanjian untuk menentukan
perjanjian dimana masyarakat memiliki hak otonomi yang diyakini sebagai hakhak mereka dalam menentukan nasibnya untuk dilakukan tindakan medis.
f.

b. Menurut Thiroux, Informed consent merupakan suatu pendekatan terhadap


kebenaran dan keterlibatan pasien dalam keputusan mengenai pengobatannya.
c. Menurut Appelbaum, informed consent bukan sekedar formulir persetujuan yang
didapat dari pasien, tetapi merupakan suatu proses komunikasi. Tercapainya
kesepakatan antara dokter-pasien merupakan dasar dari seluruh proses tentang
informed consent. Formulir itu hanya merupakan pengukuhan atau pendokumentasian
dari apa yang telah disepakati
6. Fungsi dan tujuan informed consent

Dilihat dari fungsinya, informed consent memiliki fungsi ganda, yaitu fungsi
bagi pasien dan fungsi bagi dokter. Dari sisi pasien, informed consent berfungsi
untuk:
1) Bahwa setiap orang mempunyai hak untuk memutuskan secara bebas
pilihannya berdasarkan pemahaman yang memadai
2) Proteksi dari pasien dan subyek
3) Mencegah terjadinya penipuan atau paksaan

12

4) Menimbulkan rangsangan

kepada

profesi medis

untuk

mengadakan

introspeksi diri sendiri (self-Secrunity)


5) Promosi dari keputusan-keputusan yang rasional. Keterlibatan masyarakat
(dalam memajukan prinsip otonomi sebagai suatu nilai sosial dan mengadakan
pengawasan penyelidikan biomedik).
Fungsi informed consent menurut Katz dan Capran, dalam Wijono D (2000)
adalah sebagai berikut :
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Promosi otonomi individud


Preteksi terhadap klien dan subjek
Menghindari kecurangan atau penipuan dan paksaan
Mendorong adanya penelitian yang cermat dari diri sendiri oleh profesi
medis.
Promosi keputusan yang rasional
Menyertakan publik
Tujuan Informed Consent adalah memberikan perlindungan kepada pasien

serta memberi perlindungan hukum kepada dokter/perawat terhadap suatu


kegagalan dan bersifat tindakan negatif (Permenkes No. 290/Menkes/Per/III/2008
Pasal 3)
7. Dasar informed consent

Menurut Komalawati V. (1999), dalam hokum inggris telah lama dikenal


adanya hak individu untuk bebas dari bahay atau serangan yang menyentuhnya.
Persetujuan dalam pelayanan medis pertama kali dilakukan di Inggris pada abad
XVIII, yang dilakukan pada pembedahan tanpa persetujuan dari pihak klien/keluarga.
Dalam kasus tersebut pengadilan memutuskan bahwa ahli bedah harus bertanggunga
jawab atas battery, untuk selanjutnya jika tidak terdapat persetujuan atau hak lain
untuk suatu prosedur medis, maka pengadilan modern masih memutuskan bahwa
dokter bertanggung jawab untuk battery.
Dokter atau tenaga kesehatan mempunyai tugas hukum untuk memberi
informasi yang cukup kepada klien sebelum melakukan tindakan. Suatu tindakan atau
prosedur tanpa informasi yang memadai merupakan suatu kesalahan terpisah dan
13

harus dipertanggungjawabkan berdasarkan kelalaian atau kealpaan. Oleh karena itu


sebelum membuat keputusan dan tindakan mandiri, klien harus diberi informasi
secara rinci, lengkap, jujur, dan bebas dari pengaruh internal maupun eksternal
sehingga mereka dapat memutuskan sesuatu mengenai dirinya dengan baik.
Di Indonesia, terdapat beberapa ketentuan tentang informed consent yaitu :
a. Pasal 15 Peraturan pemerintah No 18 tahun 1981
1) Sebelum persetujuan tentang transplantasi alat atau jaringan tubuh

manusia diberikan oleh calon donor hidup, calon donor yang


bersangkutan terlebih dahulu diberi tahu oleh dokter yang merawatnya,
termasuk dokter konsultan mengenai sifat operasi, akibat yang terjadi, dan
kemungkinan yang dapat terjadi.
2) Dokter yang sebagaimana dimaksuda dalam ayat (1) harus yakin benar
bahwa calon donor yang bersangkutan telah menyadari sepenuhnya arti
dari pemberitaan tersebut.
b. Peraturan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia
Nomor
585/Menkes/Per/1989 Tentang Poersetujuan Tindakan Medis Pada Bab 1,
Pasal 1 huruf (a).
Persetujuan tindakan medis/ informed consent adalah persetujuan yang
diberikan oleh pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai
tindakan medis yang dilakukan terhadap pasien tersebut.
c. Peraturan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia
No.
290/MENKES/PER/III/2008 Tentang Persetujuan Tindakan Medik :
1) Pasal 2 ayat (1)
Semua tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien harus
mendpat persetujuan.
2) Pasal 2 ayat (3)
Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah
pasien mendapatkan penjelasan yang diperlukan tentang perlunya
tindakan kedokteran yang dilakukan
8. Syarat atau komponen dalam informed consent
Komponen dalam informed consent (Guwandi, ):
1) Pasien harus memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan

14

2) Dokter atau tenaga medis harus menjelaskan tentang hal-hal yang menyangkut

pada penyakit pasien, tindakan medis yang akan dilakukan, akibat dari
tindakan medis yang dilakukan.
3) Pasien harus dapat memahami penjelasan yang diberikan
4) Pasien harus segera memberikan keputusan dan rela untuk dilakukan tindakan
medis tanpa adanya paksaan dan tekanan.
Menurut King dalam Komalawi V. (1999) syarat dalam informed consent perlu
prinsip yang mengandung dua hal penting, sebagai berikut :
2) Setiap orang mempunyai hak untuk memutuskan secara bebas mengenai hal
yang dipilihnya, berdasarkan pemahaman yang memadai.
3) Keputusan tersebut harus dibuat dalam keadaan yang memungkinkannya
pilihan tanpa ada campur tangan atau paksaan dari pihak lain.
9. Issue bioetik keperawatan terkini
Menurut pandangan almarhum mufti syafi, dari Pakistan, dalam kondisi biasa
transfusi darah merupakan sesuatu yang haram karena : pertama, darah merupakan
bagian yang tak terpisahkan dari tubuh manusia.Kedua, darah termasuk benda najis
(Wulan, 2011:27). Masalah dalam etika praktik keperawatan yaitu :
Transfusi darah merupakan masalah bioetik yang juga menjadi perdebatan terutama
di Eropa dan negara barat lainnya. Dilihat dari aspek bioetis, transfusi darah paling
banyak menyebabkan kematian pada pasien karena pasien mendapatkan transfusi
darah yang salah darah yang dimasukkan kedalam tubuhnya tidak sesuai dengan
darah resipien. Selain itu, masalah etis yang sering terjadi juga masalah malpraktik
perawat yang sengaja menyebabkan pasien meninggal dengan menginjeksikan darah
dengan tidak benar dan tidak sesuai dengan kebutuhan resipien. Oleh karena itu hal
tersebut melanggar hukum dan etika keperawatan (Suhaimin, 2003:40).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Bioetika mencakup etika yang harus dikedepankan untuk penentuan etika para tenaga
medis dalam memberikan pelayanan kesehatan yang memuaskan bagi pasien. Bioetika
ini mencakup beberapa pendekatan yang didalamnya juga disertai prinsip-prinsip etik.
Prinsip etik ini dapat diterapkan didalam kehidupan sehari-hari sebagai pengontrol
perilaku kita sebagai tenaga medis agar dalam memberikan asuhan keperawatan juga
dapat sesuai dengan legal ethic dari masing-masing profesi. Dalam prinsip etik terdapat
15

salah satu prinsip yaitu informed consent yang bertujuan memberikan perlindungan
kepada pasien serta memberi perlindungan hukum kepada dokter/perawat terhadap
suatu kegagalan dan bersifat tindakan negative.
B. Saran
Sebagai tenaga medis, kita harus selalu mengedepankan etika dalam melayani pasien.
Penerapan bioetika dalam pemenuhan asuhan kesehatan harus diterapkan pada semua
profesi khususnya di pelayanan kesehatan. Bioetika ini sangat berpengaruh dalam
rangka peningkatan mutu pelayanan kesehatan dan kepuasan pasien dalam perawatan.

DAFTAR PUSTAKA

Damayanti, Denidya. 2013. Buku Pintar Perawat Professional Teori dan Praktik Asuhan
Keperawatan. Yogyakarta : Mantra Books
Suhaemi.M.E. 2002. Etika Keperawatan Aplikasi pada Praktik. Jakarta : EGC
Trtiwibowo, Cecep. 2014. Etika dan Hukum Kesehatan. Yogyakarta : Nuha Medika
Sumijatun. 2011. Membudayakan Etika dalam Praktik Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Jusuf Hanafiah, Amri Amir. 1999. Etika kedokteran dan Hukum Kesehatan. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC

16

Komalawati, Veronica. 2002. Peranan Informed Consent dalam Transaksi Terapeutik


(Persetujuan dalam Hubungan Dokter dan Pasien) Suatu Tinjauan Yuridis. Bandung : Citra
Aditya Bakti

17