Anda di halaman 1dari 31

AUDIT PIUTANG DENGAN

SUBTANTIF TES

Disusun Oleh :
1.
2.
3.
4.
5.

Bertta Kusuma Dewi Lukyta Sarra (43213310067)


Diah Komalasari (43213310019)
Fika Aprisiana Sari (43213310046)
Herlin Gustianadewi (43213310093)
Restian Dwi Kurniasari (43213310061)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................ 1
1.

Pengertian Auditing, Piutang, dan Subtantif Tes.................................................................2

2.

Klasifikasi piutang..................................................................................................... 2
2.1

Piutang dagang................................................................................................... 3

2.2

Piutang bukan dagang........................................................................................... 3

3.

Tujuan Audit terkait Saldo Piutang Dagang....................................................................4

4.

Metodologi Desain Pengujian Perincian Saldo Piutang Dagang..............................................5


4.1

Mengidentifikasi Risiko Bisnis Klien yang Mempengaruhi Piutang Dagang (Tahap I)...........6

4.2

Menetapkan Salah Saji yang dapat Diterima dan Mengevaluasi Risiko Bawaan (Tahap I).......6

4.3

Mengevaluasi Risiko Pengendalian dalam Siklus Penjualan dan Penagihan (Tahap I)............7

4.4
Mendesain dan Melakukan Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif atas Transaksi
(Tahap II)................................................................................................................... 8

5.

6.

4.5

Mendesain dan Melakukan Prosedur Analitis (Tahap III)...............................................9

4.6

Mendesain dan Melakukan Pengujian Perincian Saldo Piutang Dagang (Tahap III)............10

Mendesain Pengujian Perincian Saldo...........................................................................11


5.1

Piutang Dagang Ditambahakan secara Tepat dan Sesuai dengan Berkas Utama dan Buku Besar
11

5.2

Piutang Dagang Dicatat Sesuai Keberadaannya.........................................................12

5.3

Piutang Dagang Dicatat Secara Lengkap..................................................................12

5.4

Akurasi Piutang Dagang...................................................................................... 12

5.5

Piutang Dagang Diklasifikasikan dengen Benar.........................................................13

5.6

Penetapan Pisah Batas (Cut off) Piutang Dagang Secara Tepat.......................................13

5.7

Pisah Batas Penjualan......................................................................................... 13

5.8

Pisah Batas Retur dan Cadangan Penjualan..............................................................14

5.9

Pisah Batas Penerimaan Kas.................................................................................14

5.10

Piutang Dagang Dinyatakan Dalam Nilai Terealisasi...................................................15

5.11

Piutang Tak Tertagih.......................................................................................... 16

5.12

Klien Berhak Atas Piutang Dagang........................................................................16

5.13

Penyajian dan Pengungkapan Piutang Dagang...........................................................16

Konfirmasi Piutang Dagang........................................................................................ 17


6.1

Persyaratan Standart Auditing............................................................................... 17

6.2

Jenis- Jenis Konfirmasi....................................................................................... 17

6.2.1

Konfirmasi Positif (Positive Confirmation)........................................................18

6.2.2

Konfirmasi Negatif (Negative Confirmation)......................................................18

6.3

Penetapan Waktu (Timing)................................................................................... 20

6.4

Keputusan Pengambilan Sampel............................................................................22

6.5

Menjalankan Pengendalian..................................................................................23

6.6

Tindak Lanjut Bila Tidak Ada Tanggapan................................................................23

6.6.1

Penerimaan Kas pada Masa Tanggal.................................................................24

6.6.2

Duplikat Faktur Penjualan............................................................................. 24

6.6.3

Dokumen Pengiriman...................................................................................25

6.6.4

Korespondensi dengan Klien..........................................................................25

6.7

Analisis Perbedaan............................................................................................ 25

6.8

Pengambilan Kesimpulan.................................................................................... 26

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................... 28

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia,
serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Audit Investment ini
dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Ibu
Novawiguna Kemalasari, SE, M.Ak selaku Dosen mata kuliah Auditing II Universitas Mercu
Buana yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta. Kami
juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata
sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan
makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan
makalah ini di waktu yang akan datang.

Bekasi, Maret 2016

Penyusun
1

AUDIT PIUTANG DENGAN SUBSTANTIF TES


1. Pengertian Auditing, Piutang, dan Subtantif Tes
Pengertian Auditing Menurut (Sukrisno Agoes, 2004) Auditing adalah Suatu pemeriksaan yang
dilakukan secara kritis dan sistematis oleh pihak yang independen, terhadap laporan keuangan
yang telah disusun oleh manajemen beserta catatan- catatan pembukuan dan bukti- bukti
pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan
keuangan tersebut.
Menurut Sukrisno Agoes, (2004:173) piutang usaha adalah piutang yang berasal dari penjualan
barang dagangan atau jasa secara kredit.
Menurut Jhon J Wild (2005:260) Piutang merupakan semua klaim dalam bentuk uang terhadap
entitas lainnya, termasuk individu, perusahaan, atau organisasi-organisasi lainnya.
Pengujian substantif (Substantive Test) adalah perosedur yang digunakan untuk menguji
kekeliruan atau ketidakberesan dalam bentuk uang yang langsung mempengaruhi kebenaran
saldo laporan keuangan. Kekeliruan tersebut sering disebut dengan salah saji moneter (dalam
satuan mata uang) yang merupakan indikasi yang jelas terjadinya salah saji dalam saldo laporan
keuangan.

2. Klasifikasi piutang
Pada umumnya piutang bersumber dari kegiatan operasi normal perusahaan yaitu penjualan
kredit atas barang dan jasa kepada pelanggan, tetapi selain itu masih banyak sumber-sumber
yang dapat menimbulkan piutang.
Smith and Skousen memberikan klasifikasi piutang terdiri atas piutang dagang (trade
receivables) dan piutang bukan dagang.

2.1

Piutang dagang

a. Wesel tagih atau notes receivables.


Wesel tagih ini didukung oleh suatu janji formal tertulis untuk membayar.
b. Piutang usaha atau accounts receivables
Piutang usaha merupakan piutang dagang yang tidak dijamin rekening terbuka. Piutang
dagang merupakan suatu perluasan kredit jangka pendek kepada pelanggan. Pembayaranpembayarannya biasanya jatuh tempo dalam tiga puluh sampai sembilan puluh hari.
Perjanjian kreditnya merupakan persetujuan informal antara penjual dan pembeli yang
didukung oleh dokumen-dokumen perusahaan yaitu faktur dan kontrak-kontrak
penyerahan. Biasanya piutang dagang tidak mencakup bunga, meskipun bunga atau biaya
jasa dapat saja ditambahkan bilamana pembayaran tidak dilakukan dalam periode
tertentu, dengan kata lain piutang dagang merupakan tipe piutang paling besar.

2.2

Piutang bukan dagang

Piutang bukan dagang ini meliputi seluruh tipe piutang lainnya dan mempunyai beberapa
transaksi-transaksi yaitu :
a. Penjualan surat berharga atau pemilik selain barang dan jasa.
b. Uang muka kepada pemegang saham, para direktur, pejabat, karyawan dan perusahaanperusahaan affiliasi.
c. Setoran-setoran kepada kreditur, perusahaan kebutuhan umum dan instansi-instansi
lainnya.
d. Pembayaran dimuka pembelian-pembelian.
e. Setoran-setoran untuk menjamin pelaksanaan kontrak atau pembayaran biaya.
f. Tuntutan atas kerugian atau kerusakan.
g. Saham yang masih harus disetor.
h. Piutang deviden dan bunga.
Piutang bukan dagang umumnya didukung dengan persetujuan-persetujuan formal dan secara
tertulis. Piutang bukan dagang harus diikhtisarkan dalam perkiraan-perkiraan yang berjudul
sesuai dan dilaporkan secara terpisah dalam laporan keuangan.
3

3. Tujuan Audit terkait Saldo Piutang Dagang


Dalam mendesain pengujian perincian saldo piutang dagang, auditor harus memenuhi delapan
tujuan perincian saldo. Delapan tujuan umum ini sama untuk seluruh akun, yang disebut tujuan
audit yang terkait dengan saldo piutang dagang. Kedelapan tujuan tersebut adalah sebagai
berikut :
1. Piutang Dagang dalam Neraca Saldo sesuia dengan jumlah pada berkas utama, dan
jumlah totalnya secara tepat ditambahkan sesuai dengan buku besar (Kecocokan
Perincian).
2. Pencatatan Piutang Dagang yang terjadi (Keberadaan).
3. Seluruh Piutang Dagang sudah dihitung (Kelengkapan).
4. Jumlah Piutang Dagang yang Tepat.
5. Piutang Dagang diklasifikasikan dengan benar (Klasifikasi).
6. Pisah batas piutang dagang yang tepat (pisah batas).
7. Piutang dagang dinyatakan dalam nilai yang dapat direalisasikan (Nilai terelasiasikan).
8. Klien memiliki hak atas piutang dagang (Hak).

4. Metodologi Desain Pengujian Perincian Saldo Piutang Dagang

Mengidentifikasi
Resiko bisnis Klien
yang Mempengaruhi
Piutang Dagang

Tahap I

Menetapkan Salah Saji


yang dapat diterima
dan menilai resiko
bawaan untuk piutsng
dagang

Tahap I

Menilai Risiko
pengendalian dalam
siklus penjualan dan
penagihan

Tahap I

Mendesain dan
melakukan pengujian
dan pengendalian dan
pengujian substantif
atas transaksi pada
siklus penjualan dan
penagihan.

Mendesain dan
melakukan prosedur
analistis untuk
piutang dagang.

Tahap III

Tahap II

Mendesain uji
perincian piutang
dagang untuk
memenuhi tujuan
audit terkait saldo

1. Prosedur Audit
2. Jumlah Sampel
3. Sampel yang
dipilih
4. Penetapan

Tahap III

4.1

Mengidentifikasi Risiko Bisnis Klien yang Mempengaruhi Piutang


Dagang (Tahap I)

Auditor mempelajari lingkungan bisnis dan industri klien serta mengevaluasi tujuan manajemen
dan proses bisnis untuk mengidentifikasi risiko bisnis klien yang secara signifikan dapat
mempengaruhi laporang keuangan , termasuk piutang dagang. Untuk mendapatkan pemahaman
tersebut, auditor juga melakukan prosedur analistis awal untuk mendeteksi peningkatan risiko
piutang dagang.
Risiko bisnis klien yang mempengaruhi piutang dagang oleh auditor dianggap sebagai risiko yag
tak terhindarkan dan dijadikan bukti perencanaan untuk piutang dagang. Contohnya, sebagai
hasil dari perubahan lingkungan ekonomi dalam industri, auditor bisa saja meningkatkan risiko
bawaan dalam nilai realisasi bersih piutang dagang.

4.2

Menetapkan Salah Saji yang dapat Diterima dan Mengevaluasi Risiko


Bawaan (Tahap I)

Ketika auditor memberikan penilaian awal mengenai materialistas untuk keseluruhan laporan
keuangan , lalu mengalokasikan jumlah yang dianggap material untuk setiap akun neraca,
termasuk piutang dagang. Alokasi ini disebut penetuan salah saji yang dapat diterima.
Auditor menentukan risiko yang tak terhindarkan untuk masing masing akun (misal piutang
dagang)

dengan

mempertimbangkan

risiko

bisnis

dan

industri

perusahaan

klien.

Mengindikasikan bahwa auditor harus bisa mengidrntifikasi risiko pelanggaran dalam pengakuan
pendapatan. Hal ini biasanya mempengaruhi evaluasi auditor terhadap risiko tersebut untuk
tujuan : eksistensi, batas waktu penjualan, pengembalian barang dagangan, dan batas penetapan
cadangan kerugian piutang. Klien biasanya baik secara sengaja atau tidak sengaja salah
menetapkan cadangan atas piutang tak tertagih (nilai realisasi bersih) karena sulitnya menetukan
jumlah yang tepat.

4.3

Mengevaluasi Risiko Pengendalian dalam Siklus Penjualan dan


Penagihan (Tahap I)

Pengendalian Internal biasanya sangat berlangsung efektif di setiap Perusahaan . Auditor


biasanya memperhatikan 3 aspek pengendalian internal, yaitu :
1. Pengendalian untuk menghindari atau mendeteksi pencurian
2. Pengendalian atas penetapan pisah batas
3. Pengendalian yang berhubungan dengan cadangan piutang tak tertagih
Auditor harus menghubungkan risiko pengendalian atas tujuan audit terkait transaksi- transaksi
dan tujuan audit terkait saldo, terutama untuk merencanakan risiko deteksi dan bukti bukti yang
akan digunakan dalam pengujian perincian saldo. Sebagai contoh, auditor menyimpulkan risiko
pengendalian untuk transaksi penjualan dan penerimaan kas adalah rendah dalam hal akurasi
saldonya. Dengan demikian, auditor menyimpulkan bahwa pengendalian untuk akurasi saldo
piutang dagang adalah efektif karena transaksi satu satunya yang mempengaruhi piutang dagang
adalah penjualan dan penerimaan kas. Tentunya jika pengendalian barang dagangan, penetapan
cadangan, dan penghapusan piutang tak tertagih jumlah nya signifikan, maka perlu
dipertimbangkan risiko pengendalian untuk jenis transaksi terebut.
Hubungan antara tujuan audit-terkait untuk siklus penjualan dan penagihan dan tujuan audit

X
X
7

Hak (Rights)

Nilai Terealisasi (Relizable Value)

Pisah Batas (Cutoff)

Klasifikasi (Classification)

Keterjadian
(Occurance)
Kelengkapan

Akurasi (Accuracy)

Penjualan

Kelengkapan (Completeness)

Tujuan Audit
Terkait
Transaksi

Keberadaan (Existence)

Jenis
Transaksi

Kecocokan Perincian (Detail Tie-In)

terkait saldo untuk piutang dagang

(Completeness)
Akurasi
(Accuracy)
Posting Dan
Ringkasan
(Posting And
Summarization)
Klasifikasi
(Classification)
Penetapan
Waktu (Timing)
Penerimaan Keterjadian
Kas
(Occurance)
Kelengkapan
(Completeness)
Akurasi
(Accuracy)
Posting Dan
Ringkasan
(Posting And
Summarization)
Klasifikasi
(Classification)
Penetapan
Waktu (Timing)

X
X

X
X
X
X
X
X

X
X

1. Untuk Penjualan , tujuan audit terkait kejadian transaksi mempengaruhi tujuan audit
terkait keberadaan saldo. Untuk penerimaan kas, tujuan audit terkait keterjadian transaksi
mempengaruhi tujuan audit terkait dengan kelengkapan saldo. Hubungan yang sama juga
terjadi pada tujuan audit terkait dengan kelengkapan transaksi. Alasan dari kesimoulan ini
adalah karena kenaikan penjualan meningkatkan piutang dagang, namun penerimaan kas
menurunkan saldo piutang dagang .
2. Nilai realisasi dan tujuan audit terkait saldo piutang dagang , seperti hal nya tujuan audit
terkait penyajian dan pengungkapan, tidak dipengaruhi oleh evaluasi risiko pengendalian
transaksi. Dalam mengevaluasi risiko pengendalian di luar tujuan tujuan audit diatas,
auditor harus mengidentifikasi dan melakukan pengujian terpisah.

4.4

Mendesain dan Melakukan Pengujian Pengendalian dan Pengujian


Substantif atas Transaksi (Tahap II)
8

Hasil pengujian pengendalian menentukan apakah resiko pengendalian atas penjualan dan
penerimaan kas perlu direvisi.Auditor menggunakan hasil pengujian subtantif atas transaksi
untuk menentukan apakahrisiko pengendaliam atas penjualan dan penerimaan kas perlu
direvisi.auditor menggunakan hasil pengujian subtantif atas transaksi untuk mentukan apakah
perencanaan resiko deteksi sudah memenuhi untuk setiap tujuan audit terkait saldo piutang
dagang.

4.5

Mendesain dan Melakukan Prosedur Analitis (Tahap III)

Prosedur Analitis umumnya dilakukan selama tahap pengujian diselesaikan setelah tanggal
neraca, namun sebelum dilakukan pengujian rincian saldo. Hal ini menimbulkan keinginan untuk
melakukan ekstensifikasi prosedur analitis sebelum klien mencatat seluruh transaksi selam tahun
tersebut dan menyelesaikan laporan keuangan.
Auditor menjalankan prosedur analitis untuk seluruh siklus penjualan dan penagihan, bukan
hanya piutang dagang. Hal ini perlu dilakukan karena teradpat hubungan erat antara laporan laba
rugi dengan akun akun pada neraca. Jika auditor mengidentifikasi adanya kesalahan penyajian
dalam penjualan atau pengenbalian barang dagangan dengan menggunakan prosedur analitis,
piutang dagang kemungkinan besar akan menutupi kesalahan tersebut.
Prosedur analitis untuk siklus penjualan dan penagihan:

Prosedur analitis

Salah saji yang mungkin terjadi

Membandingkan presentasi laba kotor dengan


tahun sebelumnya (sesuai lini produk)
Membandingka penjualan bulanan (sesuai lini
produk)
Membandingkan
retur
dan
potongan
penjualan sebagai presentasi dan penjualan
kotor dengan angka tahun sebelumnya (sesuai
lini produk)
Membandingkan saldo pelanggan individu
yang melebihi jumlah tertentu dengan angka
tahun sebelumnya
Membandingkan piutang tidak tertagih
sebagai presentase dari penjualan kotor
dengan angka tahu sebelumnya
Membandingkan jumlah hari peredaran
piutang dagang dengan angka tahun
sebelumnya dan perputaran dengan piutang

Lebih saji atau kurang saji penjualan dan piutang


dagang
Lebih saji atau kurang saji penjualan dan piutang
dagang
Lebih saji atau kurang saji retur dan potongan
penjualan dan piutang dagang
Salah saji pada piutang dagang dan akun laporan
laba/rugi terkait
Piutang dagang yang tak tertagih yang belum
tersedia
Lebih saji atau kurang saji pada cadangan kerugian
dan piutang tak tertagih ; hal ini dapat
mengindikasikan adanya piutang dagang fiktif
9

dagang terkait
Membandingkan ketegori umur piutang
sebagai presentase dari piutang dagang
dengan angka tahun sebelumnya.
Membandingkan cadangan kerugian piutang
sebagai sebagai presentase dari piutang
dagang dengan angka tahun sebelumnya
Membandingkan penghapusan piutang tak
tertagih sebagai presentase dari total piutang
dagang dengan angka tahun sebelumnya

Lebih saji atau kurang saji pada cadangan kerugian


piutang dan piutang tak tertagih
Lebih saji atau kurang saji pada cadangan kerugian
piutang dan piutang tak tertagih
Lebih saji atau kurang saji pada cadangan kerugian
piutang dan piutang tak tertagih

Kesimpulan dari 2 Tabel diatas adalah Prosedur Analitis merupakan pengujian Substantif, maka
prosedur ini mengurangi tugas auditor dalam melakukan pengujian perincian saldo, jika hasil
dari prosedur tersebut memuaskan. Jika prosedur analitis dalam siklus penjualan dan penagihan
mengungkapkan adanya fluktuasi yang tidak biasa, maka auditor perlu meminta informasi
kepada manajemen. Tanggapan dari manajemen perlu dievaluasi dengan kritis, apakah mampu
menjelaskan mengenai fluktuasi tersebut dan mampu menunjukkan bukti pendukungnya.

10

4.6

Mendesain dan Melakukan Pengujian Perincian Saldo Piutang Dagang


(Tahap III)

Tugas menggabungkan faktor- faktor penentu risiko deteksi rencana cukup kompleks karena
pengukuran untuk setiap faktor bisa saja salah dan penetuan bobot untuk setiap faktor sifatnya
sangat subjektif. Sebaliknya, hubungan antar faktor dan risiko deteksi terencana biasanya mudah
dilakukan. Sebagai contoh, auditor tau bahwa risiko tinggi yang tak terhindarkan atau risiko
pengendalian menurunkan risiko deteksi terencana dan meningkatkan pengujian substantif
terencana, sedangkan hasil yang baik untuk pengujian substantif atas transaksi meningkatkan
risiko deteksi terencana dan menurunkan pengujian subtantif terenacana lainnya.

5. Mendesain Pengujian Perincian Saldo


Meskipun auditor menekankan akun akun neraca dalam pengujian perincian saldo akun laporan
laba rugi tidak dilupakan karena akun laporan laba rugi diuji sebagai produk sampingan dari
pengujian neraca. Sebagai contoh, jika auditor mengonfirmasi saldo piutang dagang dan
menemukan lebih saji yang disebabkan karena kesalahan dalam penagihan ke pelanggan , maka
baik piutang dagang maupun penjualan menjadi lebih saji.
Konfirmasi atas piutang dagang merupakan pengujian terpenting terhadap perincian piutang
dagang. Prosedur audit yang dipilih dan jumlah sampel sangat bergantung pada apakah bukti
terencana untuk tujuan tersebut tergolong rendah, medium atau tinggi.

5.1

Piutang Dagang Ditambahakan secara Tepat dan Sesuai dengan Berkas


Utama dan Buku Besar

Pada umumnya, Pengujian atas piutang dagangdan cadangan kerugian piutang dagang dilakukan
berdasarkan neraca saldo. Sebuah neraca saldo menyajikan saldo piutang dagang pada tanggal
neraca, termasuk data saldo piutang untuk setiap pelanggan disertai perincian saldo untuk kurun
waktu antara tanggal penjualan dan tanggal neraca.
Biasanya, auditor melakukan pengujian atas informasi yang didapatkan dari kecocokan perincian
dalam neraca saldo, sebelum melakukan pengujian lainnya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui
11

apakah populasi yang diuji sama dengan buku besar dan piutang dagang pada berkas utama.
Total kolom dan kolom yang berkaitan dengan umur piutang harus diuji dan total pada neraca
saldo dibandingkan dengan buku besar. Sebagai tambahan, auditor harus menelusuri sampel
untuk saldo masing masing dokumen pendukung, seperti duplikat bukti penjualan untuk
mencocokan nama pelanggan , saldo, dan penghitungan umur piutang yang tepat. Perluasan
pengujian terhadap kecocokan perincian bergantung pada jumlah rekenin, tingkat pengujian atas
berkas utama sebagai bagian dari uji pengendalian dan pengujian subtantif atas transaksi, dan
tingkat pengujian yang dilakukan oleh auditor internal atas pihak independen lain sebeum
auditor. Auditor seringkali menggunakan peranti lunak audit untuk menjumlah ke bawah dan ke
samping pada neraca saldo dan menghitung ulang taksiran umur piutang.

5.2

Piutang Dagang Dicatat Sesuai Keberadaannya

Konfirmasi atas saldo tagihan pelanggan merupakan pengujian paling penting untuk menetukan
keberadaan piutang dagang yang dicatat. Ketika pelanggan tidak menanggapi konfirmasi, maka
auditor perlu memeriksa dokumen pendukung untuk mengecek pengiriman barang, juga menguji
bukti penerimaan kas selama masa tenggat untuk mengetahui apakah pembayaran sudah
dilakukan. Biasanya auditor tidak menguji dokumen pengiriman atau bukti penerimaan kas
dalam sampel yang dikonfirmasi melainkan memperluas penggunaandokumen tersebut sebagai
alternatif bukti bagi konfirmasi yang tidak ditanggapi.

5.3

Piutang Dagang Dicatat Secara Lengkap

Bagi Auditor, sulit untuk melakukan pengujiansaldo rekening diluar neraca saldo, kecuali
bergantung pada perimbangan data piutang dagang di berkas utama.
Jika seluruh penjualan kepada pelanggan tidak dimasukkan dalam jurnal penjualan , maka
kurang saji pada piutang dagang tidak dapat diungkap melalui pengujian perincian saldo.

5.4

Akurasi Piutang Dagang

12

Konfirmasi rekening yang diambil dari neraca saldo merupakan bentuk pengujian perincian
saldo yang paling umum dilakukan untuk mengetahui akurasi piutang dagang. Bila pelanggan
tidak merespons permintaan konfirmasi , auditor dapat melihat data pendukung untuk
memperoleh keyakinan atas keberadaan piutang tersebut. Auditor melakukan pengujian debet
dan kredit pada saldo pelanggan individu dengan memeriksa dokumen pendukung untuk
pengiriman dan penerimaan kas.

5.5

Piutang Dagang Diklasifikasikan dengen Benar

Auditor dapat mengevaluasi klasifiasi piutang dagang dengan mudah yaitu dengan menelaah
neraca saldo untuk piutang dagang yang jumlahnya material dari afiliasi, karyawan, direktur,
atau pihak terkait lainnya. Auditor perlu mengecek apakah piutang yang yang sifatnya jangka
panjang sudah dipisahkan dari piutang dagang biasa dan saldo kredit pada piutang dagang yang
jumlahnya besar diklasifikasikan kembali menjadi utang dagang. Jadi untuk mencapai tujuan
audit terkait klasifikasi saldo, auditor harus menetapkan apakah klien sudah mengklasifikasikan
piutang dagang secara benar.

5.6

Penetapan Pisah Batas (Cut off) Piutang Dagang Secara Tepat

Salah saji akibat pisah batas terjadi ketika transaksi dalam waktu berjalan dicatata selama jeda
waktu antara pembuatan pelaporan dan waktu audit atau sebaliknya. Tujuan pengujian pisah
batas tanpa memperhatikan jenis transaksi , adalah untuk melihat apakah transaksi yang terjadi di
akhir periode akuntans dicatat pada periode yang tepat. Hal ini adalah satu tujuan terpenting dari
siklus karena salah saji dalam pidah batas mempengaruhi laba periode berjalan.
Salah saji akibat penetapan pisah batas dapat terjadi pada penjualan, retur dan cadangan piutang
dagangan, serta penerimaan kas. Untuk masing masing hal tersebut auditor perlu melakukan tiga
pendekatan dalam menetapkan kewajaran pisah batas, yaitu :
1. Menetapkan kriteria pisah batas yang tepat
2. Mengevaluasi apakah klien telah melakukan prosedur yang memadai untuk menentukan
tingkat kewajaran pisah batas
3. Menguji apakah pisah batas yang ditetapkan adalah tepat

13

5.7

Pisah Batas Penjualan

Bagian terpenting pada evaluasi metode klien dalam menetapkan pisah batas adalah saat
menetukan proswdur apa yang digunakan. Jika klien menerbitkan dokumen pengiriman secara
urut nomor , maka auditor akan sangat mudah mengevaluasi dan menguji pisah batasnya. Ketika
pengendalian internal klien dianggap memadai, maka auditor biasanya dapat melakukan
verifikasi pisah batas dengan memeriksa nomor dokumen pengiriman pada saat pengiriman pada
saat pengiriman terkahir di akhir periode, lalu membandingkan nomor ini dengan pencatatan
penjualan selama periode berjalan dan periode jeda.

5.8

Pisah Batas Retur dan Cadangan Penjualan

Jika auditor yakin bahwa klien mencatat seluruh retur penjualan tepat pada waktunya, maka
pengujian pisah batas bisa dilakukan dengan mudah dan langsung. Auditor dapat menguji
dokumen sebagai sampel untuk retur dan cadangan penjualan yang dicatat selama periode jeda
sampai tanggal penutupan untuk menetukan tanggal penjualan. Jika auditor melihat bahwa
jumlah yang dicatat selama periode jeda secara signifikan berbeda dari retur dan cadangan
penjualan di awal periode audit , maka mereka perlu melakukan penyesuaian.

5.9

Pisah Batas Penerimaan Kas

Dalam Audit, biasanya penentuan bisah batas penerimaan kas dianggap tidak terlalu penting
dibandingkan pisah batas untuk penjualan, retur, dan cadangan penjualan. Hal ini disebabkan
karena penentuan pisah batas penerimaan kas yang kurang tepat hanya akan mempengaruhi saldo
kas dan piutang dagang , bukan laba. Jika salah saji terebut material maka hal tersebut dapat
mempengaruhi penyajian wajar atas akun akun ini , terutama ketika jumlah kas kecil atau
bersaldo negatif.
Pengujian untuk salah saji pisah batas penerimaan kas cukup mudah dilakukan , yaitu dengan
menelusuri pencatatan penerimaan kas ke setoran bank pada periode jeda yang terdapat di
laporan bank. Jika beberapa hari tertunda maka terdapat indikasi salah saji dalam penentuan
poisah batas.

14

Pada tingkat tertentu, auditor dapat mengandalkan konfirmasi atas piutang dagang untuk
menemukan salah saji pada pisah batas penjualan, retur dan cadangan penjualan dan penerimaan
kas. Sulit membedakan salah saji pisah batas dari suatu beda waktu normal yang terjadi karena
pengiriman dan pembayaran dalam perjalanan pada akhir periode.

5.10

Piutang Dagang Dinyatakan Dalam Nilai Terealisasi

GAAP mensyaratkan perusahaan mencatat piutang dagang dalam jumlah tertinggi yang dapat
ditagih. Nilai terealisasi piutang dagang sama dengan jumlah total piutang dagang dikurangi
dengan cadangan piutang tak tertagih. Untuk menghitung cadangan , klien mengestimasi jumlah
total piutang dagang yang diperkirakan tidak dapat ditagih. Prediksi ini tentunya tidak dapat
dilakukan secara tepat, tetapi auditor perlu mengevaluasi apakah klien sudah menetapkan
cadangannya secara masuk akal dengan mempertimbangkan secara fakta. Untuk melakukan
evaluasi ini auditor seringkali menyiapkan skedul audit yang menganalisis cadangan piutang tak
tertagih .
Untuk memulai evaluasi cadangan atas piutang tak tertagih, auditor menganalisis hasil pengujian
pengendalian mengenai kebijakan kredit klien. Jika kebijakan ini tidak berubah dan hasil
pengujian kebijakan kredit dan persetujuan kredit konsiste dengan tahun sebelumnya, maka
perubahan saldo cadangan piutang tak tertagih seharusnya hanya merfeleksikan perubahan
kondisi ekonomi dan volume penjualan. Jika kebijakan kredit klien berubah secara signifikan ,
maka auditor harus berhati hati dalam mempertimbangkan dampak dari perubahan ini.
Auditor seringkali mengvaluasi kecukupan cadangan dengan memeriksa akun akun jangka
panjang pada neraca saldo secara hati hati untuk menentukan mana yang belum dibayar setelah
tanggal neraca. Besaran saldo dan umur piutang yang belum dibayar dapat dibandingkan dengan
informasi serupa ditahun tahun sebelumnya untuk mengvaluasi apakah jumlah piutang jangka
panjang meningkat atau menurun selama kurun waktu tersebut. Auditor dapat juga menilai
kolektibilitas piutang dagang dengan memeriksa berkas berkas kredit, mendiskusikan dengan
manajer kredit dan menganalisis berkas korespondensi klien. Prosedur ini sangat penting jika
terdapat hanya sedikit rekening bersaldo tinggi yang tidak terbayarkan dengan basis reguler.
15

Auditor menghadapi dua kesalahan yang biasa terjadi dalam mengvaluasi cadangan dengan
memeriksa saldo jangka panjang secara individu pada neraca saldo. Pertama, mereka
mengabaikan tingkat kecukupan cadangan untuk akun jangka pendek, meskipun beberapa akun
ini jelas jelas tidak tertagih. Kedua, sulit untuk membandingkan hasil tahun berjalan dengan
tahun tahun sebelumnyadalam basis yang tidak terstruktur. Jika akun akun ini secara progresif
tidak tertagih selama beberapa tahun, maka akun ini telah diabaikan.
Untuk meghindari dua kesalahan tersebut, klien dapat menyusun sejarah penghapusan piutang
tak tertagih selama kurun waktu tertentu sebagai refrensi dalam mengvaluasi cadangan tahun
berjalan.

5.11

Piutang Tak Tertagih

Setalah Auditor mengaudit akun cadangan, mudah baginya untuk memeriksa piutang tak
tertagih, diansumsikan bahwa :

Saldo akun cadangan diverifikasi sebagai bagian dari audit sebelumnya


Jumlah tak tertagih yang dihapus diverifikasi sebgai bagian dari pengujian subtantif atas

transaksi
Saldo akhir tahun cadangan diverifikasi untuk berbagai tujuan

Piutang tak tertagih merupakan saldo sisa yang diverifikasi dari perhitungan kembali.

5.12

Klien Berhak Atas Piutang Dagang

Hak klien pada piutang dagang biasanya tidak menyebabkan masalah audit karena piutang
umumnya memang milik klien. Dalam beberapa kasus, ada bagian dari piutang dagang yang
daijadikan jaminan, ditujukan untuk pihak lain atau dijual dengan nilai lebih rendah. Umumnya
pelanggan tidak tahu menahu tentang haltersebut, sehingga konfirmasi piutang untidak dapat
memberikan kejelasan. Untuk mendpatkan informasimengenai keterbatasan hak klien atas
piutangnya , auditor perlu mendiskusikannya dengan klien , melakukan konfirmasi ke bannk atau
memeriksa kontrak utang sebagai bukti bahwa piutang dagang dipakai sebagai jaminan dan
memeriksa berkas korespondensi.

16

5.13

Penyajian dan Pengungkapan Piutang Dagang

Pengujian dari keempat tujuan audit audit terkait penyajian dan pengungkapan dilakukan sebagai
bagian dari penyelesaian tahapan audit. Beberapa pengujian atas penyajian dan pengungkapan
dilakukan untuk memenuhi tujuan audit terkait saldo. Contohnya , ketika pengujian penjualan
dan piutang dagang dilakukan , auditor harus memahami pengungkapannya secara wajar dalam
laporan keuangan. Auditor juga perlu memutuskan apakah klien secara wajar telah menghitung
saldo dan menyajikan informasi dari pihak pihak terkait. Untuk mengvaluasi kecukupan
penyajian dan pengungkapan tersebut , auditor perlu memiliki pemahaman SAK dan persyaratan
penyajian dan pengungkapan secara menyeluruh. Bagian penting dari evaluasi meliputi
keputusan apakah klien telah memisahkan hal hal material yang memerlukan pengungkapan
terpisah dalam laporan keuangan.

6. Konfirmasi Piutang Dagang


Konfirmasi merupakan bukti yang sangat diandalkan. Tujuan utama konfirmasi piutang dagang
adalah untuk memenuhi tujuan keberadaan, akurasi, dan pisah batas (cutoff).

6.1

Persyaratan Standart Auditing

Standar auditing mensyaratkan konfirmasi piutang dagang dalam kondisi normal. PSA 07 (SA
330) menyebutkan tiga pengecualian terhadap persyaratan konfirmasi tersebut, yaitu :
Piutang dagang jumlahnya tidak material. Hal ini biasa terjadi pada perusahaan tertentu,
misalnya toko diskon dengan penjualan tunai dan kartu kredit.
Auditor mempertimbangkan bahwa konfirmasi merupakan bukti yang tidak efektif karena
tingkat respons yang rendah atau tidak dapat diandalkan . dalam industri tertentu, seperti rumah
sakit, tingkat respon untuk konfirmasi ini sangat rendah.

17

Kombinasi dari tingkat resiko bawaan dan resiko pengendalian adalah rendah dan bukti
substantif lain dapat diakumulasikan sebagai bukti yang cukup. Jika klien memiliki pengendalian
internal efektif dan resiko bawaan yang cukup rendah terhadap siklus penjualan dan
penagihannya, maka auditor perlu memenuhi persyaratan dengan melakukan pengujian
pengendalian, pengujian substantif atas transaksi, dan prosedur analitis.

6.2

Jenis- Jenis Konfirmasi

Dalam melakukan prosedur konfirmasi, auditor harus memutuskan terlebih dahulu jenis
konfirmasi yang akan digunakan.
6.2.1

Konfirmasi Positif (Positive Confirmation)

Konfirmasi Positif adalah komunikasi yang ditujukan kepada debitor untuk meminta konfirmasi
secra langsung apakah saldo yang disebutkan dalam konfirmasi tersebut benar atau salah.
Formulir konfirmasi kosong (blank confirmation form) adalah jenis konfirmasi positif yang tidak
menyebutkan jumlah yang dikonfirmasi, tetapi mensyaratkan penerima untuk mengisi jumlahnya
tau memasukkan informasi lain. Oleh karena formulir konfirmasi kosong meminta
penerimamenyebutkan informasi yang diminta, maka konfirmasi jenis ini dianggap lebih dapat
diandalkandibandikan konfirmasi yang menyebutkan jumlah. Formulir kosong ini jarang
digunakan dalam praktik karena biasanya tingkat responsnya lebih rendah.
Konfirmasi tagihan (Invoice confirmation) adalah bentuklain konfirmasi positif yang merupakan
informasi individual, bukan saldo keseluruhan piutang pelanggan. Banyak pelanggan
menggunakan sistem voucher sehingga mereka bisa menginformasi tagihan individual, tetapi
bukan informasi saldo keseluruhan. Akibatnya penggunaan konfirmasi tagihan ini menaikkan
tingkat respons. Konfirmasi tagihan juga mengurangi beda waktu dan bagian yang direkonsiliasi
lainnya dibandingkankonfirmasi saldo. Konfirmasi tagihan juga memiliki kekurangan, yaitu
tidak mengkonfirmasi saldo akhir secara langsung.
18

6.2.2

Konfirmasi Negatif (Negative Confirmation)

Konfirmasi negatif juga ditujukan kepada debitor, tetapi hanya meminta respons jika debitor
tidak menyetujui jumlah yang dinyatakan dalam konfirmasi
Konfirmasi Positif merupakan bukti yang lebih dapat diandalkan karena auditor dapat melakukan
prosedur lain jika respons tidal diperoleh dari debitor. Dengan konfirmasi negatif pelanggan bisa
saja tidak merespons dan dianggap menyetujui jumlah yang dikonfirmasi, meskipun sebenarnya
pelanggan mengabaikan permintaan konfirmasi.
Meskipun demikian konfirmasi negatif lebih murah dibandingkan konfirmasi posiif karena tidak
membutuhkan permintaan konfirmasi kedua dan tidak membutuhkan tindak lanjut jika tidak ada
respons.
Auditor berhak menentukan jenis konfirmasi yang akan digunakan, dan hal ini sebaiknya
berdasarkan fakta dalam audit. PSA 07 menyatakan bahwa konfirmasi negatif dapat dilakukan
hanya jika tiga kondisi berikut dipenuhi :
Piutang dagang terdiri dari sejumlah besar akun bersaldo kecil.
Kombinasi antara resiko pengendalian dan resiko bawaan adalah rendah. Kombinasi resiko tidak
bisa dikatakan rendah jika penendalian internal tidak efektif atau terdapat kemungkinan terjadi
salah saji. Jika audit tahun sebelumnya mengidentifikasi bahwa piutang dagang sering tidak
akurat, maka onfirmasi negatif tidak tepat untuk dilakukan.
Jika diyakini bahwa penerima konfirmasi tidak mengabaikan konfirmasi yang diminta. Misalnya,
jika tingkat respons konfirmasi positif tahun tahun sebelumnya sangat tinggi atau terdapat
tingkat respons yang tinggi pada klien yang sama, maka dapat diartikan penerima konfirmasi
tersebut juga tidak akan mengabaikan konfirmasi negatif.
Biasanya, jika konfirmasi negatif dilakukan maka auditor akan memberikan penekanan pada
efektivitas pengendalian internal, pengujian substantif atas transaksi dan prosedur analitis
sebagai bukti kewajaran piutang dagang, dan mengasumsikan bahwa mayoritas penerimaan
konfirmasi akan membaca dengan seksama dan merespons permintaan konfirmasi.

19

Konfirmasi negatif biasanya digunakan untuk audit rumah sakit, toko ritel, bank, dan industri
lain yang piutang dagangnya berhubungan dengan masyarakat umum. Kombinasi konfirmasi
negatif dan konfirmasi positif juga bisa dilakukan dengan mengirimkan konfirmasi positif
kepada debitor dengan saldo besar dan menggunakan konfirmasi negatif kepada debitor bersaldo
kecil.
Pemilihan konfirmasi oleh auditor timbul secara berurutan, mulai dari tidak digunakannya
konfirmasi apapun untuk kondisi tertentu, pemakaian konfirmasi negatif saja, pemakaian
kombinasi konfirmasi negatif dan positif, dan hanya konfirmasi positif. Faktor utama yang
mempengaruhi keputusan ini adalah materialitas dari total piutang dagang, jumlah dan ukuran
setiap akun, resiko pengendalian, resiko yang tak terhindarkan, efektivitas dari konfirmasi
sebagai bukti audit, dan ketersediaan bukti audit yang lain.

6.3

Penetapan Waktu (Timing)

Bukti yang paling dapat diandalkan dari konfirmasi diperoleh saat konfirmasi tersebut
dikirimkan sesegera mungkin setelah penutupan tanggal neraca. Dengan ini auditor dapat secara
langsung menguji saldo piutang dagang dari laporan keuangan tanpa perlu memperhatikan
transaksi yang terjadi antara tanggal konfirmasi dan tanggal neraca. Selain itu, untuk melakukan
audit berbasis ketepatan waktu, biasanyadiperlukan konfirmasi akun akun selama tanggal
interim. Hal ini dapat dilakukan jika pengendalian internal dirasakan sudah memadai dan dapat
dipastikan bahwa penjualan, penerimaan kas, dan kredit lainnya dicatat dengan benar antara
tanggal konfirmasi dan akhir periode akuntansi. Auditor cenderung mempertimbangkan faktor
faktor lain dalam mengambil keputusan, termasuk materialitas dari piutang dagang dan
keberadaan tuntutan hukum karena dapat menyebabkan kemungkinan kebangkrutan klien dan
resiko sejenisnya.
Contoh Konfirmasi Positif
PT ANDIKA PRATAMA
Bogor, Jawa Barat
10 Januari 2015
Mahardika House
20

Jl. Raya Bogor 12


Bogor Jawa Barat
Kepada Yang Terhormat
Sehubungan dengan audit atas laporan keuangan kami, mohon lakukan konfirmasi langsung
kepada auditor kami
RAHARJO, KARNO & REKAN
Depok, Jawa Barat
Jumlah saldo yang benar dalam rekening anda kepada kami tertanggal 31 Desember 2015, seperti
tertera dibawah ini.
Surat ini bukan permintaan pembayaran; mohon jangan lakukan pengiriman uang kepada auditor
kami. Terimakasih atas perhatian anda. Pengembalian bisa dikirimkan melalui amplop tertutup
yang kami lampirkan.
Royaenah
Royaenah, kontroler
RAHARJO, KARNO & REKAN
Depok, Jawa Barat
Saldo piutang kami kepada anda adalah sebesar Rp. 400.000.000 tertanggal 31 Desember 2015,
adalah benar kecuali :
______________________________________________________________________________
______________________________________________________________________________
______________________________________________________________________________
______________________________________________________________________________
______________________________________________________________________________
21

______________________________________________________________________________
________________________
Tanggal _____________________

Oleh

______________________________

Contoh konfirmasi negatif


KONFIRMASI AUDITOR ATAS TAGIHAN
Mohon pernyataan ini dibaca dengan hati hati. Jika tidak sesuai dengan pencatatan Anda,
mohon laporkan langsung pada auditor kami.
RAHARJO, KARNO & REKAN
Depok, Jawa Barat
Yang melakukan audit atas laporan keuangan kami tertanggal 31 Desember 2015. Tanggapan
dapat dikirimkan menggunakan amplop beralamat yang terlampir.
Jangan mengirimkan pembayaran uang kepada auditor kami.

Jika auditor memutuskan untuk mengkonfirmasi piutang dagang sebelum akhir tahun, maka
auditor tersebut biasanya menyiapkan skedul ke depan untuk merekonsiliasi saldo piutang
dagang pada tanggal konfirmasi dengan piutang dagang pada tanggal neraca. Sebagai tambahan,
untuk melakukan prosedur analitis atas aktivitas selama periode intervensi, mungkin perlu
dilakukan pengujian transaksi yang terjadi antara tanggal konfirmasi dan tanggal neraca. Auditor
dapat melakukan hal tersebut dengan memeriksa dokumen internal seperti duplikat faktur
penjualan, dokumen pengiriman, dan bukti bukti penerimaan kas.
22

6.4

Keputusan Pengambilan Sampel.

Jumlah Sampel
Faktor utama yang mempengaruhi jumlah sampel dalam melakukan konfirmasi piutang dagang
terbagi menjadi beberapa kategori, yaitu :

Salah saji yang dapat diterima


Resiko yang tak terhindarkan (ukuran relatif dari total piutang dagang, jumlah akun,

hasuil pengujian tahun sebelumnya, dan ekspektasi salah saji)


Resiko pengendalian
Resiko deteksi yang diperoleh dari pengujian substantif lainnya (perluasan dan hasil dari

pengujian substantif atas transaksi, prosedur analitis, dan pengujian detail lainnya)
Tipe konfirmasi (konfirmasi negatif biasanya membutuhkan sampel lebih banyak)
Pemilihan Sampel Pengujian

Beberapa tingkatan sampel diperlukan bagi hampir seluruh jenis konfirmasi. Dalam melakukan
pendekatan untuk memilih tingkatan sampel, auditor perlu mempertimbangkan besaran nominal
akun per individu dan jangka waktu peredaran piutang dagang. Pada kebanyakan proses audit,
konfirmasi atas salado yang banyakdan yang jangka waktunya lebih lama perlu lebih ditekankan
karena biasanya dalam kondisi tersebut piutang dagang bisa mengalami salah saji yang
signifikan. Akan tetapi, penting juga untuk mengambil sampel dari setiap segmen yang material
dalam populasi. Dalam banyak kasus, auditor mengambil sampel acak atas sisanya.
Auditor perlu berhati hati dan menghindari pengaruh dari klien saat memilih sampel untuk
konfirmasi piutang dagang. Jika klien berusaha menghalangi auditor melakukan konfirmasi pada
pelanggan tertentu, maka auditor perlu mempertimbangkan kemungkinan bahwa klien ingin
menutupi salah saji fiktif atas piutang dagang.

6.5

Menjalankan Pengendalian

Setelah sampel konfirmasi ditentukan, auditor tetap perlu melakukan pengendalian konfirmasi
hingga dikembalikan dari pelanggan. Jika klien membantu menyiapkan konfirmasi, memasukkan
surat konfirmasi ke dalam amplop tertutup, atau melekatkan cap pada amplop, auditor harus
melalukan pengawasan ketat. Alamat pengembalian harus dicantumkan dalam seluruh amplop
23

untuk memastikan agar surat yang tidak ditemukan alamatnya akan terkirim kepada kantor
akuntan publik (KAP). Sama halnya dengan amplop pengembalian, juga harus dialamatkan
kepada kantor KAP. Bila perlu, lakukan pengiriman surat konfirmasi di luar kantor klien.
Langkah langkah ini diperlukan untuk memastikan independensi komunikasi antara auditor
dan pelanggan.

6.6

Tindak Lanjut Bila Tidak Ada Tanggapan

Surat konfirmasi yang tidak dikembalikan oleh pelanggan tidak dapat dianggap sebagai bukti
audit. Misalnya, tidak adanya tanggapan atas konfirmasi positif bukan berarti merupakan bukti
audit. Sama halnya dengan konfirmasi negatif, jika tidak ada respons, maka auditor tidak boleh
menyimpulkan bahwa pelanggan menerima permintaan konfirmasi dan membenarkan
permintaan informasi. Akan tetapi, konfirmasi negatif memang bisa menjadi bukti keberadaan
asersi.
Jika menggunakan konfirmasi positif, PSA 07 mensyaratkan prosedur tindak lanjut bila terdapat
konfirmasi yang tidak ditanggapi. Biasanya, tindak lanjut dilakukan dengan mengirimkan
permintaan konfirmasi kedua atau bahkan ketiga. Jika pelanggan juga tetap tidak mengembalikan
surat konfirmasi, maka perlu dilakukan tindak lanjut dengan prosedur alternatif. Tujuan dari
prosedur alternatif adalah menentukan, tanpa konfirmasi, apakah akun yang tidak dijawab
memang benar ada (existed), dan disajikan dengan benar pada tanggal konfirmasi. Untuk setiap
konfirmasi positif yang tidak dikembalikan, auditor dapat memeriksa dokumen untuk menguji
keberadaan dan akurasi transaksi penjualan individu yang tercantum dalam saldo akhir piutang
dagang.

6.6.1

Penerimaan Kas pada Masa Tanggal

Bukti penerimaan kas pada masa tenggat sampai dengan tanggal konfirmasi meliputi
pemeriksaan bukti pengiriman, jurnal penerimaan kas, atau bahkan mungkin kredit yang terjadi
selama masa tenggat pada berkas utama piutang dagang. Di sisi lain, pemeriksaan bukti
penerimaan kas selama masa tenggat merupakan prosedur alternatif yang sangat berguna dan
24

masuk akal, mengingat pelanggan tidak akan melakukan pembayaran jika tidak ada piutang
dagang. Di sisi lain, pembayaran tidak mungkin terjadi jika muncul utang pada tanggal
konfirmasi. Sebagai tambahan, auditor perlu berhati hati saat menyandingkan setiap transaksi
penjualan yang belum dibayar dengan bukti pembayaran selama masa tenggat, hal ini menguji
perbedaan atau selisih antara masing masing tagihan yang beredar.
6.6.2

Duplikat Faktur Penjualan

Sangat berguna untuk mengecek penerbitan faktur penjualan aktual dengan tanggal penagihan
aktual.
6.6.3

Dokumen Pengiriman

Dokumen ini diperlukan untuk mengetahui apakah pengiriman benar benar dilakukan dan juga
sebagai pengujian pisah batas (cutoff)
6.6.4

Korespondensi dengan Klien

Biasanya, auditor tidak perlu menjadikan korespondensi sebagai bagian dari prosedur alternatif,
tetapi korespondensi dapat digunakan untuk menemukan piutang yang diragukan atau
bermasalah namun tidak ditemukan dengan cara lain.
Jenis dan prosedur dari prosedur alternatif terutama tergantung pada materialitas jumlah
konfirmasi yang tidak berjawab, tipe salah saji yang ditemukan dari jawaban konfirmasi,
penerimaan kas selama masa tenggat dari pelanggan yang tidak menjawab konfirmasi, dan
kesimpulan auditor tentang kondisi pengendalian internal.
Biasanya, perlu dilakukan prosedur alternatif, meskipun jumlahnya kecil, terhadap seluruh saldo
yang tidak dikonfirmasi agar sampel dengan benar dapat mewakili populasi. Pendekatan lain
yang dapat dilakukan adalah dengan mengasumsikan bahwa konfirmasi yang tidak dijawab
merupakan 100% jumlah yang lebih saji.

6.7

Analisis Perbedaan

25

Ketika permintaan konfirmasi dikembalikan oleh pelanggan, auditor harus menentukan alasan
jika ditemukan perbedaan. Dalam banyak kasus, perbedaan tersebut disebabkan oleh beda waktu
antara pencatatan klien dan pelanggan. Beda waktu perlu dipisahkan dari pengecualian
(exception), yang merupakan salah saji atas saldo piutang dagang.
Jenis perbedaan yang biasa terjadi pada hasil konfirmasi meliputi :
Pembayaran Sudah Dilakukan. Perbedaan biasanya terjadi ketika pelanggan sudah melakukan
pembayaran sebelum tanggal konfirmasi, tetepi klien belum menerima pembayaran saat
pencatatan sebelum tanggal konfirmasi. Hal ini perlu diselidiki dengan seksama untuk
mengetahui kemungkinan salah saji akibat pisah batas penerimaan kas, penggelapan dengan
menangguhkan pencatatan penerimaan kas (lapping), atau pencurian kas.
Barang Belum Diterima. Perbedaan ini biasanya timbul karena klien mencatat penjualan pada
tanggal pengiriman dan pelanggan mencatat pembelian pada saat barang diterima. Waktu ketika
barang dalam masa pengiriman menyebabkan perbedaan laporan tanggal pengiriman barang atau
salah saji akibat pisah batas pada catatan pelanggan.
Pengembalian Barang. Kesalahan klien dalam mencatat memo kredit dapat terjadi karena beda
waktu atau kesalahan pencatatan retur dan cadangan penjualan. Sama halnya dengan perbedaan
lain, hal ini perlu diselidiki.
Kesalahan Klerikal dan Jumlah yang Dipertentangkan. Perbedaan yang terjadi dalam
laporan pencatatan klien biasanya terjadi ketika pelanggan menyatakan terjadinya kesalahan atas
harga barang, kerusakan barang, jumlah barang yang tidak diterima, dan lain lain. Perbedaan
ini perlu diselidiki untuk menentukan apakah klien melakukan kesalahan dan berapa jumlah
kesalahan yang terjadi.
Dalam banyak kasus, auditor akan meminta klien merekonsiliasi perbedaan tersebut, dan jika
perlu, akan mengkomunikasikan dengan pelanggan untuk menyelesaikan perbedaan tersebut.
Auditor perlu berhati hati dalam melakukan verifikasi kesimpulan klien untuk setiap perbedaan
yang signifikan.

6.8

Pengambilan Kesimpulan

26

Ketika masalah perbedaan sudah diselesaikan, termasuk perbedaan yang ditemukan saat
melakukan prosedur alternatif, auditor harus melakukan evaluasi ulang terhadap pengendalian
internal. Setiap salah saji harus dianalitis untuk menentukan apakah hal ini konsisten atau tidak
konsisten dengan tingkat yang ditetapkan dalam resiko pengendalian. Jika terdapat jumlah salah
saji yang signifikan dan tidak konsisten dengan evaluasi resiko pengendalian, maka perlu
dilakukan revisi terhadap evaluasi dan mempertimbangkan dampak revisi tersebut terhadap
audit. Auditor pada perusahaan publik harus juga mempertimbangkan implikasi dari audit
pengendalian internal atas pelaporan keuangan.
Selain itu, perlu dipastikan bahwa sampel yang diambil dapat mewakili populasi dengan benar.
Meskipun jumlah salah saji dalam sampel tidak signifikan dalam memengaruhi laporan
keuangan, auditor perlu mempertimbangkan jika salah saji itu menjadi material dalam populasi.
Generalisasi hasil sampel ke populasi dapat dilakukan melalui teknik pengambilan sampel secara
statistik atau pun nonstatistik.
Auditor selalu harus mengevaluasi kondisi kualitatif dari salah saji yang ditemukan dalam
sampel, tanpa memperhatikan nominal salah saji populasi yang diestimasi. Bahkan, jika salah
saji yang diestimasi lebih kecil dari salah saji yang dapat diterima untuk piutang dagang, salah
saji yang ditemukan dalam sampel bisa saja merupakan gejala dari masalah yang lebih serius.
Keputusan akhir tentang piutang dagang dan penjualan adalah mengenai apakah bukti
memadai telah diperoleh melalui pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas
transaksi, prosedur analitis, prosedur pisah batas, konfirmasi, dan pengujian substantif lain
untuk menguatkan pengambilan keputusan mengenai kebenaran saldo yang disajikan.

27

DAFTAR PUSTAKA
Ilmuakuntansi.web.id/pengertian-auditing-menurut-ahli/
Waktu : Jumat. 11 Maret 2016 Pukul 22.24 WIB

http://akmalhwk.blogspot.co.id/2014/04/audit-piutang.html
Waktu : Selasa, 08 Maret 2016 Pukul 12.05 WIB

Elder J. Randal, Beasley S. Mark , Arens A. Alvin, Jusuf Amir Abadi. 2011. Jasa Audit dan
Assurance Buku 2 Pendekatan Terpadu (Adaptasi Indonesia). Jakarta: Salemba
Empat.

Arens A. Alvin, Elder J.Randal, Beasley S. Mark. 2006. Auditing dan Pelayanan Verifikasi
Edisi kesembilan Pendekatan Terpadu Jilid 2. Jakarta : PT Indeks Kelompok Gramedia

28