Anda di halaman 1dari 5

Analisis SWOT Indonesia Berkaitan dengan Sektor Perindustrian

Kekuatan (Strength)
1. Letak Indonesia yang strategis di persilangan dunia
Indonesia terletak pada jalur perdagangan dan persilangan dunia yang strategis. Letak ini
memudahkan Indonesia menjadi pusat perdagangan. Hal ini dilihat dari bobot industri
perdagangan, hotel dan restoran yang menempati urutan pertama.
2. Luasnya wilayah Indonesia
3. Industri dan ekonomi kreatif sebagai bukti adanya pergeseran dari era pertanian ke era
industrialisasi.
Dalam Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia tahun 2025 yang dirumuskan
oleh Departemen Perdagangan RI dijelaskan adanya evolusi ekonomi kreatif. Berdasarkan
dokumen tersebut rencana ini dapat diketahui bahwa adanya pergeseran dari era pertanian ke era
industrialisasi lalu ke era informasi yang disertai dengan banyaknya penemuan di bidang
teknologi informasi dan komunikasi serta globalisasi ekonomi. Perkembangan industrialisasi
menciptakan pola kerja, pola produksi, dan pola distribusi yang lebih murah dan efisien.
4. Nilai ekspor industri kreatif yang tinggi
Perkembangan ekspor industri kreatif di Indonesia termasuk tinggi seperti yang terlihat
dalam tabel berikut. Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa industri fashion dan
kerajinan mempunyai nilai ekspor tertinggi. Secara rata-rata selama tahun 2002-2008 nilai
ekspor kedua industri tersebut masing-masing adalah sebesar Rp 50.350.907 juta rupiah dan Rp
25.282.945 juta rupiah. Ini berarti peran kedua industri ini cukup besar dalam transaksi ekspor
Indonesia untuk industri kreatif.

5. Didukung oleh kreativitas SDM yang relatif tinggi


Kreativitas ini merupakan salah satu modal dalam bersaing di pasar nasional dan
internasional. Selain kreativitas, industri kreatif juga juga dituntut untuk mampu melakukan
efisiensi usaha baik dalam proses produksi maupun dalam aktivitas pemasaran atau distrbusi.
Untuk itu, perlu dilakukan pencermatan lebih lanjut tentang seperti apa aspek internal dan
eksternal kreatif di Indonesia.
6. Keterkaitan aktivitas antar-industri relatif besar
7. Kualitas hasil produksi sektor industri cukup baik
8. Cost leadership dan diferensiasi produk yang cukup baik
9. Dukungan pemerintah untuk pengembangan industri yang cukup baik
10. Terjadinya komitmen di tingkat internal, pemasok dan adanya komitmen yang kuat untuk
membangun komitmen
11. Kondisi teknologi informasi dan ilmu pengetahuan industri yang semakin membaik
Kelemahan (Weakness)
1. Kemampuan SDM Indonesia dalam alih teknologi dan kreativitas masih relatif rendah.
Hal ini dikarenakan minimnya tenaga kerja ahli dan terampil dalam proses
produksi di banyak industri dan berdampak pada perkembangan industri kreatif yang
cenderung lamban.
2. Sistem quality control belum maksimal
3. Pemasaran produk ke luar negeri belum optimal
4. Keterbatasan permodalan untuk ekspansi usaha
Kurangnya modal untuk menjalankan bisnis merupakan kelemahan yang juga
dimiliki oleh pelaku usaha sub sektor industri makanan, minuman dan tembakau. Permodalan

sering kali susah didapatkan terutama untuk industri skala kecil dan menegah. Hal ini karena
pihak perbankan dan lembaga keuangan meminta jaminan atas pemberian pinjaman tersebut
sedangkan usaha mereka belum dapat dijadikan agunan.
5. Daya tawar rendah terhadap distributor
6. Sering adanya pelanggaran hak cipta yang mengakibatkan kurang bersemangatnya
innovator untuk melakukan inovasi lagi
7. Kebijakan dan regulasi tentang impor dan ekspor yang kurang
Beberapa industri sering menjadi target sasaran produk impor. Dalam jangka
panjang kondisi ini perlu memperoleh perhatian serius dari pemerintah dan pelaku industri di
Indonesia. Kebijakan impor dan tata niaga dalam negeri menjadi penting untuk dirumuskan
dan diiplementasikan secara transparan dan tertib.
Kesempatan (Opportunity)
1. Pergeseran konsentrasi industri dari negara barat ke negara berkembang
2. Salah satu negara yang mempunyai potensi dalam pengembangan industri kreatif baik di
kawasan ASEAN maupun pasar dunia.
3. Ketersediaan SDA dan SDM yang cukup melimpah dan relatif murah
4. Adanya perguruan tinggi dalam penyediaan SDM yang berkualitas dan sesuai dengan
kebutuhan industri
5. Jalur pemasaran yang beragam
6. Potensi pasar yang besar
Karakteristik sebagian besar masyarakat Indonesia yang konsumtif menjadi salah satu
peluang yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku industri di sektor makanan, minuman,
dan tembakau untuk mendistribusikan produk yang dihasilkan. Permintaan pasar terhadap
produk makanan dan minuman yang merupakan kebutuhan pokok cukup stabil bahkan
meningkat dari tahun ke tahun. Dengan melakukan inovasi terhadap produk yang dimiliki
menjadi salah satu faktor industri tersebut dapat bertahan di tengah persaingan bisnis yang
semakin ketat.
7. Terbukanya penggunaan teknologi yang baru melalui proyek pengembangan teknologi
Jika dibandingkan pada awal tahun 2000-an, kondisi saat ini sudah sangat jauh
berbeda. Banyak proses bisnis yang dulunya memerlukan biaya yang besar, sekarang dapat
diminimalisasi sehingga lebih efisien. Hal ini tentu sangat membantu bagi industri kecil
yang masih memerlukan banyak modal untuk terus berkembang. Salah satu contoh
adalah biaya promosi. Dulu jika ingin melakukan promosi ke masyarakat, pelaku

industri harus mengiklankan melalui radio, surat kabar, bahkan media elektronik. Hal ini
tentunya memerlukan biaya yang sangat besar sehingga hanya industri menengah dan
besar yang memanfaatkannya.
Ancaman (Threats)
1. Persaiangan yang relatif ketat dengan industri sejenis di tingkat nasional dan internasional
2. Harga bahan baku dan biaya produksi lainnya cenderung mengalami peningkatan akibat
pengaruh harga minyak dunia dan saat nilai tukar rupiah terdepresiasi.
Meskipun Indonesia adalah negara yang kaya akan SDA nya, namun beberapa
industri tetap membutuhkan bahan baku dari negara lain untuk produksinya. Dampak nilai
tukar rupiah dapat secara langsung mempengaruhi keadaan industri karena sebagian bahan
baku masih mengimpor dari luar negeri dan pembayarannya memakai mata uang asing.
3. Ketersediaan sumber energy cenderung tidak lancar
4. Strategi produk negara lain yang semakin kuat, misalnya China
5. Kekuatan inovasi produk-produk impor dan harga produk yang cukup rendah
6. Pembajakan produk yang akan mengganggu inovasi dan lemahnya penanganan HAKI
7. Cepatnya life-cycle teknologi
8. Banyaknya produk impor yang masuk ke Indonesia
9. Resesi global
Kondisi resesi yang dialami oleh Amerika dan negara-negara Eropa juga menjadi
salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh pelaku industri Dengan terjadinya resesi,
menyebabkan penurunan daya beli oleh penduduk di negara tersebut. Kokohnya
perekonomian Indonesia di tengah krisis yang melanda negara-negara Eropa menyebabkan
perusahaan asing membidik masyarakat Indonesia untuk dijadikan target produk mereka.
Kokohnya kondisi perekonomian Indonesia didukung oleh konsumsi domestik yang cukup
tinggi sehingga tidak

tergantung

oleh

negara

lain.

Tingginya

konsumsi domestik

disebabkan oleh banyaknya jumlah penduduk kelas menengah yang ada Indonesia.
Sumber
Ikhsani, Mastur Mujib, Dr. Syafrudin Budiningharto, SU. Analisis Daya Saing Industri
Pengolahan Logam di Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten Jawa Tengah.
Lukmandono. 2015. The 2nd Industrial Engineering Conference (IDEC): Enhancing
Manufacturing Sector For Sustainable Development of Our Global Business Network.
ISBN: 978-602-70259-3-6. Surabaya: Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi
Adhi Tama (ITATS).

Mardiantony, Try, Udisubakti Ciptomulyono. 2012. Penerapan Analisis Input Output dan ANP
dalam Penentuan Prioritas Pengembangan Sub Sektor Industri di Jawa Timur. Jurnal
Teknik Pomits Vol. 1, No. 1 Hal 1-5. Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Institut
Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Nugroho, Puguh Setyo, Malik Cahyadin. Analisis Perkembangan Industri Kreatif di Indonesia.
Semarang: FE UNS.
Rahmana, Arief, Yani Iriani, Rienna Oktarina. Februari 2012. Strategi Pengembangan Usaha
Kecil Menengah Sektor Industri Pengolahan. Jurnal Teknik Industri, Vol. 13, No. 1 Hal
14-21. Teknik Industri, Universitas Widyatama.