Anda di halaman 1dari 12

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kota merupakan tempat berlangsungnya berbagai aktifitas, baik untuk
kegiatan ekonomi, sosial, maupun kegiatan lainnya. Karena aktivitas tersebut
tidak berlangsung di satu tempat saja, manusia melakukan perjalanan atau
pergerakan. Dengan beragamnya aktivitas dan lokasi tempat berlangsungnya
aktivitas tersebut maka kebutuhan akan pergerakan di perkotaan sangat tinggi.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut siperlukan sarana pergerakan yang berupa
alat transportasi.
Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dari tahun ke tahun maka
kebutuhan terhadap sarana transportasi dengan sendirinya juga semakin
meningkat. Di lain pihak pertambahan jumlah sarana transportasi tidak dapat
mengiombangi jumlah pertumbuhan laju penduduk. Dari hari ke hari tuntutan
kebutuhan terhadap sarana transportasi yaitu angkatan yang cepat, murah, aman,
dan nyaman juga semakin berkembang.
Kebutuhan akan pelayanan angkutan penumpang pada daerah perkotaan,
biasanya dilayani oleh angkutan kota. Setijowarno dan Frazila (2001:211)
menyebutkan angkutan kota adalah angkatan dari suatu tempat ke tempat lain
dalam suatu wilayah kota dengan menggunakan mobil bis umum atau mobil
penumpang umum (MPU) yang terikat pada trayek yang tetap dan teratur.
Menurut Tamin (2000:45), jaringan rute angkutan umum ditentukan oleh pola tata
guna lahan. Adanya perubahan pada perkembangan kota maka diperlukan
penyesuaian terhadap rute untuk menampung demand (permintaan) agar
terjangkau oleh pelayanan umum.
Angkutan umum merupakan bagian dari sistem transportasi yang
memegang peranan penting dalam mendukung mobilitas masyarakat. Peranan
tersebut menjadikan angkutan umum sebagai aspek yang strategis dan diharapkan
mampu mengakomodir seluruh kegiatan masyarakat. Namun, hal tersebut belum
dapat diwujudkan terkait dengan berbagai kendala. Rendahnya tingkat
penggunaan kendaraan umum dibandingkan penggunaaan kendaran pribadi di
kawasan perkotaan, menunjukkan bahwa ketergantungan masyarakat terhadap

kendaraan pribadi masih tinggi dan di sisi lain pelayanan angkutan umum terlihat
masih rendah.
Hal tersebut dapat diasumsikan bahwa angkutan umum hanya cenderung
diminati oleh kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah,
sedangkan kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi lebih memilih untuk
menggunakan kendaraan pribadi untuk mendapatkan jasa pelayanan angkutan
seperti yang diharapkan.
Untuk memberikan pelayanan transportasi yang baik, angkutan umum
harus mampu memberikan kinerja yang maksimal sehingga diharapkan
permasalahan mobilitas dan aksesibilitas kendaraan penumpang umum seperti:
sistem operasi, headway, perlambatan, kemacetan, kurang tepatnya pengaturan
lokasi pemberhentian, terbatasnya rute pelayanan yang mengakibatkan terlalu
jauhnya jarak berjalan kaki serta panjang rute pelayanan terlalu jauh
mengakibatkan lamanya dalam perjalanan untuk sampai tujuan, diusahakan agar
dapat diminimalisir.
Dengan perkembangan jaman dan era globalisasi yang semakin nyata,
alangkah baiknya Indonesia juga dapat berpikir menata angkutan umum kota yang
baik secara berangsur, mendekati angkutan umum yang ideal.
Berdasarkan kajian di atas, maka penulis menyusun makalah yang
membahas permasalahan pelayanan angkutan umum perkotaan di Indonesia
dengan tujuan supaya dapat menemukan solusi untuk mengatasi dan memperbaiki
permasalahan pelayanan angkutan yang terjadi saat ini.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini antara lain adalah
sebagai berikut.
1. Apa yang dimaksud dengan angkutan umum?
2. Faktor apa saja yang harus mempengaruhi kualitas pelayanan angkutan
umum?
3. Bagaimana standar pelayanan minimal angkutan umum?
4. Apa saja permasalahan yang berkaitan dengan pelayanan angkutan umum
perkotaan?
5. Bagaimana solusi untuk mengatasi permasalahan pelayanan yang terjadi
pada angkutan umum?
2

C. Tujuan
Tujuan dari pembahasan masalah-masalah terkait permasalahan kualitas
pelayanan angkutan umum yang terdapat pada makalah ini antara lain adalah
sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan angkutan umum
2. Untuk mengetahui faktor apa saja yang harus mempengaruhi kualitas
pelayanan angkutan umum
3. Untuk mengetahui standar pelayanan minimal angkutan umum
4. Untuk mengetahui permasalahan pelayanan angkutan umum perkotaan
5. Untuk mengetahui solusi mengatasi permasalahan pelayanan yang terjadi
pada angkutan umum

PEMBAHASAN
A. Pengertian Angkutan Umum

Angkutan adalah sarana untuk memindahkan orang atau barang dari suatu
tempat ke tempat lain. Tujuannya membantu orang atau kelompok orang
menjangkau berbagai tempat yang dikehendaki, atau mengirimkan barang dari
tempat asalnya ketempat tujuannya. Prosesnya dapat dilakukan menggunakan
sarana angkutan berupa kendaraan atau tanpa kendaraan (diangkut oleh orang).
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1993 tentang Angkutan
Jalan dijelaskan angkutan adalah pemindahan orang dan atau barang dari satu
tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan. Sedangkan kendaraan
umum adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan
oleh umum dengan dipungut bayaran. Pengangkutan orang dengan kendaraan
umum dilakukan dengan menggunakan mobil bus atau mobil penumpang dilayani
dengan trayek tetap atau teratur dan tidak dalam trayek.
Angkutan Umum adalah angkutan penumpang yang dikelola dengan
sistem sewa atau bayar. Termasuk dalam pengertian angkutan umum penumpang
adalah angkutan kota (bus, minibus, dsb), kereta api, angkutan air dan angkutan
udara (Warpani , 1990).
Tujuan utama keberadaan angkutan umum penumpang adalah
menyelenggarakan pelayanan angkutan yang baik dan layak bagi msyarakat.
Ukuran pelayanan yang baik adalah pelayanan yang aman, cepat, murah dan
nyaman. Selain itu, keberadaan angkutan umum penumpang juga membuka
lapangan kerja. Ditinjau dengan kacamata perlalu-lintasan, keberadaan angkutan
umum penumpang mengandung arti pengurangan volume lalu lintas kendaraan
pribadi, hal ini dimungkinkan karena angkutan umum penumpang bersifat
angkutan massal sehingga biaya angkut dapat dibebankan kepada lebih banyak
orang atau penumpang. Banyaknya penumpang menyebabkan biaya penumpang
dapat ditekan serendah mungkin ( Warpani, 1990).
Menurut Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 35 tahun 2003 tentang
Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan dengan Kendaraan Umum, ada
beberapa kriteria yang berkenaan dengan angkutan umum. Kendaraan umum
adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh
umum dengan dipungut bayaran baik langsung maupun tidak langsung. Trayek
adalah lintasan kendaraan untuk pelayanan jasa angkutan orang dengan mobil bus,

yang mempunyai asal dan tujuan perjalanan tetap, lintasan tetap dan jadwal tetap
maupun tidak terjadwal.
Sistem angkutan penumpang dapat dikelompokkan menurut penggunaan
dan cara pengoperasiannya yaitu sebagai berikut.
1. Angkutan pribadi, yaitu angkutan yang dimiliki dan dioperasikan oleh dan
untuk keperluan pribadi pemilik.
2. Angkutan umum, yaitu angkutan yang dimiliki oleh operator yang bisa
digunakan untuk umum dengan persyaratan tertentu. Sistem pemakaian
angkutan umum yaitu sebagai berikut.
a) Sistem sewa, yaitu kendaraan oleh operator maupun penyewa, dalam
hal ini tidak ada rute dan jadwal tertentu yang harus diikuti oleh
pemakai. Sistem ini sering disebut sebagai demand responsive
system karena penggunaannya yang tergantung dengan adanya
permintaan.
b) Sistem penggunaan bersama, yaitu kendaraan yang dioperasikan oleh
operator dengan rute dan jadwal yang biasanya tetap. Sistem ini
dikenal sebagai sistem penggunaan bersama (transit system). Terdapat
dua jenis transit sistem yaitu : 1) Jadwal yang pasti dan kendaraan
dapat berhenti (menaikkan/menurunkan penumpang) di sepanjang
rutenya. Contoh : angkutan kota. 2) Jadwal dan tempat
pemberhentiannya lebih pasti. Contoh : bus kota.
B. Kualitas Pelayanan Angkutan Umum
Asikin, Zainal ( 1990 ) menjelaskan bahwa pengaturan angkutan umum
merupakan usaha untuk menciptakan pergerakan yang teratur, cepat, dan tepat
dalam memberikan manfaat kepada semua pihak. Giannopaulus (1990) dalam
Chrisdianto (2004) dan Dina (2008) memberikan beberapa faktor yang
mempengaruhi kualitas operasi antara lain :
a. Nilai okupansi (load faktor ).
Nilai okupansi adalah perbandingan antara jumlah penumpang dengan
kapasitas tempat duduk yang yang tersedia didalam angkutan umum. Nilai
okupansi 125% artinya jumlah penumpang yang berdiri 25% dari tempat
duduk yang tersedia, nilai okupansi 100% berarti tidak ada penumpang

yang berdiri dan semua tempat duduk terisi. Nilai ini diperlukan untuk
menentukan aksesbilitas yang diberikan dan memberikan gambaran
reabilitas dari transportasi perkotaan. Pada jam jam sibuk nilai okupansi
dapat melebihi batas batas yang diinginkan, maka frekuensi pelayanan
dan kapasitas angkutan umum juga harus meningkat.
b. Reabilitas.
Reabilitas atau keandalan adalah faktor utama kepercayaan masyarakat
akan pelayanan angkutan umum. Istilah ini digunakan untuk satu ketataan
angkutan umum pada jadwal yang telah ditentukan sebelumnya. Reabilitas
ditunjukan dengan prosentase angkutan umum akan datang tepat waktu
pada suatu tempat henti terhadap total jumlah kedatangan. Sebelum
angkutan umum tepat waktu jika angkutan umum tersebut tiba dalam
interval waktu yang telah dijadwalkan, standar waktu terlambat awal
datang antara 0 5 menit.
c. Kenyamanan, keamanan dan keselamatan.
Aspek yang harus betul-betul dipertimbangkan adalah kenyamanan yang
diterima oleh pengguna, yang diasumsikan dengan pengaturan tempat
duduk, kemudahan bergerak dalam angkutan umum, diturunkan ditempat
henti angkutan umum, kenyamanan mengendarai, kemudahan naik turun
angkutan umum serta kondisi kebersihan angkutan umum.
d. Panjang trayek.
Trayek sedapat mungkin melalui lintasan yang terpendek dengan kata lain
menghindari lintasan yang dibelok-belokan, sehingga menimbulkan kesan
pada penumpang bahwa mereka tidak membuang-buang waktu. Panjang
trayek angkutan kota agar dibatasi tidak terlalu jauh, maksimal antara 2
2,25 jam perjalanan pulang pergi.
e. Lama perjalanan.
Lama perjalanan ke dan dari tempat tujuan setiap hari, rata-rata 1 1,5
jam, dan maksimal 2 3 jam. Waktu perjalanan penumpang rata rata
pada saat melakukan penyimpangan harus tidak melebihi 25% dari waktu
perjalanan kalau tidak melakukan penyimpangan terhadap lintasan pendek.
C. Standar Pelayanan Minimal Angkutan Umum
Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM. 10 Tahun
2012 Tentang Standar Pelayanan Minimal Angkutan Massal Berbasis Jalan yang

diberlakukan mulai 31 Januari 2012 merupakan acuan bagi Penyelenggara


Angkutan Massal Berbasis Jalan dalam memberikan pelayanan kepada Pengguna
Jasa. Standar Pelayanan Minimal sebagaimana dimaksud meliputi jenis pelayanan
dan mutu pelayanan. Jenis pelayanan meliputi keamanan, keselamatan,
kenyamanan, keterjangkauan, kesetaraan dan keteraturan. Sedangkan mutu
pelayanan meliputi indikator dan nilai(ukuran atau jumlah).
Tabel 1. Standar pelayanan minimal angkutan massal berbasis jalan
N
o
1

Jenis
KEAMANAN
a. Halte dan Fasilitas pendukung

Lampu penerangan
Petugas keamanan
Informasi gangguan keamanan
Identitas kendaraan
Tanda pengenal pengemudi
Lampu isyarat tanda bahaya
Lampu penerangan
Petugas keamanan
Kaca film

Halte
b. Angkutan umum

KESELAMATAN
a. Manusia

SOP pengoperasian kendaraan


SOP penanganan kendaraan
Kelayakan kendaraan
Peralatan keselamatan
Fasilitas kesehatan
Informasi tanggap darurat
Fasilitas pegangan penumpang

b. Angkutan umum

berdiri
Perlengkapan lalu lintas dan

c. Prasarana

angkutan jalan
Fasilitas penyimpanan dan
pemeliharaan kendaraan
3

KENYAMANAN
a. Halte dan fasilitas pendukung

Lampu penerangan
Fasilitas pengatur suhui ruangan

halte

dan/atau ventilasi udara


Fasilitas kebersihan
Luas lantai per orang
Fasilitas kemudahan naik/turun
penumpang
Lampu penerangan

b. Angkutan umum
7

Kapasitas angkut
Fasilitas pengatur suhu ruangan
Fasilitas kebersihan
Luas lantai untuk berdiri per orang
Kemudahan perpindahan

KETERJANGKAUAN

penumpang antar koridor


Ketersediaan integrasi jaringan

trayek pengumpan
Tarif
Kursi prioritas
Ruang khusus untuk kursi roda
Kemiringan lantai dan tekstur

KESETARAAN

khusus
Waktu tunggu
Kecepatan perjalanan
Waktu berhenti di halte
Informasi pelayanan
Informasi waktu kedatangan

KETERATURAN

angkutan umum
Akses keluar masuk halte
Informasi halte yang akan dilewati
Ketepatan dan kepastian jadwal
kedatangan dan keberangkatan
mobil bus
Informasi gangguan perjalanan
angkutan umum
Sistem pembayaran
Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM. 10 Tahun
2012 Tentang Standar Pelayanan Minimal Angkutan Massal Berbasis Jalan ini
pada dasarnya sudah merupakan suatu langkah besar dalam upaya perbaikan
kualitas pelayanan angkutan umum perkotaan. Namun aturan ini perlu
disosialisasikan lebih lanjut dengan melakukan aturan pelaksanaan yang perlu
dibarengi dengan target pelaksanaan dan sanksi bagi operator angkutan umum
perkotaan, agar peraturan ini mempunyai kekuatan dalam pelaksanaannya.
D. Kondisi Pelayanan Angkutan Umum dan Permasalahannya
Kondisi sistem angkutan umum perkotaan di Indonesia secara umum
masih belum memadai antara lain tidak adanya jadwal keberangkatan yang tetap,
pola rute yang belum sesuai kebutuhan sehingga terjadi transfer beberapa kali,

penumpang yang bersesakan pada jam sibuk, cara mengemudikan kendaraan yang
membahayakan keselamatan dan kondisi lingkungan yang belum tertata baik
(tamin,1997).
Pendapat lain mengatakan mengurangi kemacatan dengan melebarkan
jalan sama dengan melepas ikat pinggang untuk mengurangi kegemukan .( Price
G., 2000).
Mutu pelayanan transportasi bergantung kepada dua hal yakni
karakteristik umum sosial ekonomi dari penduduk dan pekerjaan dan tingkat
pendapatan masyarakat secara umum (Dimitriou, 1995)
Khusus dengan rute jaringan angkutan umum yang belum tertata dengan
baik sesuai dengan ukuran kenderaan karena penetapan pembagian jalan sebagai
jalan arteri, kolektor, dan lokal belum jelas. Hal ini membuat sulitnya pengaturan
moda angkutan umum yang berukuran besar terpisah beroperasi dengan yang
berukuran kecil. Sehingga persaingan antar kedua ukuran moda ini menjadi tajam
dan memicu pengemudi membawa kenderaannya secara berlomba-lomba untuk
menang sehingga mutu pelayanan menurun.
Permasalahan yang terjadi pada pengelolaan dan pelayanan angkutan
umum perkotaan di Indonesia dapat dilihat pada rangkuman tabel 2.
Tabel 2. Permasalahan dan penyebab pelayanan angkutan umum perkotaan
No
1

Masalah
Sarana Armada yang tidak layak

Penyebab
Tidak adanya peremajaan armada

pakai.
Jadwal yang belum teratur dan

Penggunaan time table yang belum

belum konsisten.
Kelebihan penumpang pada saat

optimal
Pengoperasian yang menyesuaikan

jam sibuk, kekurangan

kebutuhan penumpang

penumpang pada jam tidak


4

sibuk.
Prasarana ketersediaan halte dan Halte yang berubah fungsi dan
papan informasi rute perjalanan

papan informasi belum tersedia

yang belum memadai


Menurunnya minat masyarakat

secara mencukupi dan ideal


a Pelayanan angkutan umum

dalam menggunakan angkutan

yang kurang baik dalam

umum karena kurang efektif dan

melayani pengguna, khususnya

efisien
b

angkutan umum kelas ekonomi.


Kepemilikan sepeda motor dan
mobil pribadi yang semakin
bertambah karena daya beli
masyarakat yang semakin

Pengaturan waktu dan rute

meningkat pula
Kurang optimalnya pengaturan dan

angkutan umum di lapangan

pengawasan angkutan

yang masih tumpang tindih


Operator supir yang kurang

Pemberlakuan sistem setoran dan

disiplin dalam mengemudikan

penggajian yang belum tepat

kendaraan
Kurangnya kesadaran sopir

Sumber daya manusia yang belum

dalam akan pentingnya

sesuai dengan keahlian yang

kelayakan kendaraan yang

dibutuhkan

beroperasi
Pengelolahan manajemen dari

Kurangya dukungan dari pihak

perusahaan atau penyedia

terkait

armada yang kurang optimal


E. Solusi dan Pengembangan Terhadap Permasalahan Pelayanan pada
Angkutan Umum Perkotaan
Solusi dan pengembangan angkutan umum yang beroperasi di perkotaan
perlu mempertimbangkan semua unsur yang terlibat dalam pelayanan angkutan
umum. Unsur-unsur tersebut mencakup sarana, prasarana, operator, regulator,
serta sistem layanan.
a. Pelayanan armada
Armada yang sudah tidak layak operasi perlu diperbaiki dan/atau
diremajakan dengan armada baru yang lebih baik dan ideal. Pelayanan yang
kurang baik perlu dibenahi sehingga menumbuhkan minat untuk
menggunakan angkutan umum. Kendaraan angkutan umum harus dalam
kondisi bagus, layak jalan, menggunakan AC dan kursi yang nyaman (tersedia
kursi prioritas untuk kaum lansia, wanita yang membawa anak kecil, dan
wanita hamil), menyediakan pegangan tangan pada kursi atau atap kendaraan,

10

menggunakan jadwal yang pasti sesuai time table,dan menyediakan alat


pengaman dalam kendaraan sesuai dengan standar.
b. Pelayanan halte
Lokasi halte yang pasti dan dengan kondisi yang baik dan ideal dapat
menarik perhatian pengguna. Halte atau shelter perlu dilengkapi dengan rute
perjalanan dan jadwal angkutan umum yang melayani. Penentuan halte atau
shelter harus didasarkan pada suatu hasil survei dengan memperhatikan lokasi
bangkitan dan tarikan perjalanan serta kebutuhan pengguna.
c. Pelayanan oleh operator angkutan umum
Operator yang mengoperasikan bis kota adalah Pemerintah sehingga
meminimalisasi terjadinya kejar setoran tanpa memperhatikan kenyamanan
penumpang. Sopir dapat diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan
gaji yang pasti. Untuk meminimalisasi terjadinya demo, rekruitmen sopir
sebaiknya diambil dari sopir yang sudah ada saat ini tetapi perlu juga ada ujian
yang mengedepankan keahlian sopir, kedisiplinan, kenyamanan penumpang,
kesopanan, dan ketaatan pada peraturan yang ada. Hal ini dimaksudkan untuk
memberdayakan sopir yang ada sehingga tidak banyak pengangguran dan
kemungkinan terjadi demo.
d. Pelayanan terhadap sistim pengelolaan
Angkutan umum sebaiknya dikelola oleh pemerintah dengan
pelayanan yang lebih baik. Pengawasan pada saat uji kelayakan kendaraan
perlu diperketat dengan pemberlakuan sanksi yang tegas bagi perusahaan
angkutan umum yang melanggar peraturan.
e. Pelayanan keamanan
Sistem keamanan yang dibutuhkan harus sesuai dengan standar yang
ada dan kebutuhan pengguna. Peralatan keamanan yang seharusnya ada pada
angkutan umum paling sedikit terdiri atas alat pemadam kebakaran dan alat
pemecah kaca.
f. Rute
Sistem pelayanan sebaiknya mengedepankan pelayanan yang prima
kepada masyarakat. Hal ini diwujudkan dengan pelayanan rute yang didasari

11

oleh kebutuhan pengguna. Untuk itu diperlukan survei terkait pembuatan


matriks asal tujuan perjalanan penumpang untuk mendapatkan daerah atau
lokasi yang menjadi asal dan tujuan perjalanan penumpang. Hal ini
dimaksudkan untuk mengurangi peluang terjadinya perpindahan moda dalam
melakukan suatu perjalanan.
g. Pengembangan kota
Pengembangan kota berbentuk grid akan memudahkan akses
pencapaian angkutan umum. Lokasi bangkitan dan tarikan perjalanan perlu
didesain sesuai dengan letak yang strategis dan tersebar sehingga tidak
menimbulkan potensi kemacetan lalulintas. Sistem transportasi kota perlu
dibangun dengan sistem transportasi yang terintegrasi dengan baik.
Pengelolaan angkutan umum pada jalur utama perlu menggunakan angkutan
bis, kereta api, atau trem dengan kualitas layanan yang baik. Angkutan kota
dapat melayani pada jalur jalan yang lebih kecil sehingga dapat berfungsi
sebagai feeder system.

12