Anda di halaman 1dari 4

CONTINUOUS SUTURE PATTERNS

Jahitan Luka Operasi.


Tujuan dari menutup luka dengan cara suturing/jahitan agar didapat kesembuhan yang
primer. Untuk mencapai tujuan tersebut maka pada waktu menjahit harus diusahakan
mempertemukan kedua tepi luka secara tepat/ acurat , pemilihan suture material yang tepat,
tarikan benang jahit pada waktu simpul dibuat tidak mengganggu sirkulasi setempat dan terhindar
adanya benda asing yang tertinggal serta tidak ada celah (death) space ) jaringan.
Macam-macam simpul :
1. First Tie
2. Granny knot
3. Surgeon's knot
4. Triple knot
5. Square knot
6. Half Hitch Knot
Pola Jahitan
Pada dasarnya ada dua pola dasar jahitan yaitu jahitan yang putus-putus atau
interrupted dan menerus atau continous. Interrupted suturing adalah jahitan yang selalu diputus
setelah simpul achir dibuat dan dil;anjutkan dengan jahitan serupa sampai sepanjang tepi luka
tertutup. Sedangkan jahitan menerus simpul akhir diputus setelah jahitan luka selesai hanya ada
dua simpul.
POLA JAHITAN MENERUS.
1. Simple Continuous Suture
Jahitan simple continuous merupakan bentuk seri dari jahitan simple interrupted di mana
jahitan ini terletak di antara 2 simpul. Pola jahitan simple continuous dibuat dengan langkah awal
membuat jahitan simple interrupted, tetapi benang jahit tidak dipotong, melainkan dilakukan
insersi needle kembali ke dalam kulit secara tegak lurus terhadap luka. Hasilnya berupa garis
jahitan berbentuk tegak lurus yang berada di bagian bawah jaringan kulit dan garis jahitan
berbentuk diagonal yang berada di atas jaringan kulit. Sedangkan apabila bentuk garis jahitan
berupa diagonal di bagian atas maupun bagian bawah jaringan kulit maka pola jahitan tersebut
dinamakan running suture. Pada posisi akhir dilakukan penyimpulan pada bagian kontralateral
luka (salah sati sisiluka) (Fossum, 2001).
Pola jahitan simple continuous memberikan kerapatan jaringan yang maksimal dan relatif
kedap terhadap udara dan cairan bila dibandingkan dengan pola jahitan simple interrupted. Pola
jahitan simple continuous sering digunakan untuk menjahit dan menutup luka incisi pada jaringan
linea alba dan jaringan subkutan. Tingkat kehati-hatian perlu diperhatikan apabila membuat pola
jahitan simple continuous pada jaringan dengan daya regang yang rendang (high tension)dimana
akan menghasilkan efek pola jahitan purse-string, seperti pada intestinal anastomosis (Fossum,
2001).

2. Lock Stitch Suture / Ford Interlocking Suture


Pola jahitan Ford Interlocking merupakan modifikasi dari pola jahitan simple continuous
dimana masing-masing jahitan yang melalui jaringan "dikunci". Dapat dikerjakan dari kiri kekanan
atau dari kanan kekiri, dimulai dengan jahitan tunggal kemudian setipa akan memulai jahitan baru
jarum dan benang dimasukan diantara benang dan kulit (seperti itik-itik kancing baju) pada akhir dari
jahitan simpul dibuat dengan sisa benang yang ada.
Pola ini mempunyai kelebihan dari yang satu karena bila salah satu simpul lepas tidak segera
Iainnya akan lepas/ lebih tahan. Pola jahitan ford interlocking dapat dilakukan dalam waktu singkat
dan meminimalkan trauma luka akibat jahitan daripada pola jahitan simple interrupted. Meski
demikian karena pola jahitan ini menggunakan jumlah jahitan yang cukup banyak sehingga
mungkin terdapat kesulitan dalam proses pengambilan jahitan ketika luka sudah sembuh (Fossum
2001).

3. Continuous Lambert Pattern


Pola jahitan continuous lambert adalah bentuk lain dari interrupted lambert dimana
jahitan dibuat seri di antara 2 simpul. Fungsi pola jahitan ini di gunakan untuk menutup luka pada
organ-organ dalam yang memiliki rongga atau lumen. Needle dipenetrasikan ke lapisan serosa dan
muskularis dengan jarak 8-10 mm dari tepi luka incisi dan keluar di dekat garis tepi luka pada sisi
yang sama. Setelah melewati luka incisi, needle di penetrasikan 3-4 mm dari garis tepi luka dan
keluar dengan jarak 8-10 mm dari luka incisi. Selanjutnya pola ini dilakukan secara berulang
sepanjang luka incisi dan terakhir diikat (simpul) (Fossum, 2001)
Pola ini merupakan pola dasar untuk semua jahitan gastrointestinal. Keuntungan pola ini
yaitu bisa mencegah kebocoran dan merupakan inisiator kesembuhan karena adanya pembalikan dari
serosa.

4. Continuous Everting Mattress Suture


Bisa dilakukan horizontal ataupun vertikal mattres, pola ini mempunyai sedikit
kepentingan praktis di kedokteran hewan, bila digunakan pada jaringan yang mempunyai
regangan besar pola ini cocok. Simpul akhir dari pola ini dibuat dengan square knot.

Pola jahitan continuous horizontal mattress, serupa dengan pola jahitan horizontal mattres,
terkecuali bahwa pola ini bersifat menyambung dan keseluruhan jahitan terletak di antara 2
simpul. Manfaat utama pola jahitan ini adalah dapat dilakukan dalam waktu singkat, dan sangat
jarang dilakukan pada hewan besar.

5. Purse String
Pola ini biasa digunakan untu organ yang berongga dan bulat, tusukan dibuat melingkar + 1
cm dipinggir dari organ tsb. Biasa dipakai pada kasus prolapsus ani, vagina dll
Catatan:
Bila ada simpul yang lepas, maka akan lepas semua dan luka akan terbuka.
Benda asing yang tertinggal diluka lebih banyak pada jahitan menerus dibanding dengan yang
tunggal.
Aposisi luka tidak seakurat yang putus-putus.
Yang mennguntungkan cepat mengerjakannya dan juga waktu mengambil benangnya(kecuali
yang lock stitch).

6. Connell dan Cashing Suture Pattern


Pola jahitan Connell dan Cushing seringkali digunakan untuk menutup luka pada organorgan viscera yang berongga atau berlumen, karena memberikan efek yang rapat dan kedap.
Keduanya memiliki pola yang serupa, tetapi untuk Connell hingga memasuki area lumen,
sedangkan Cushing hanya memasuki area submukosa.
a. Connell
Metode ini mula mula digunakan untuk anastomose usus,pola ini menggunakan pola
menerus dengan ciri jarum menembus penuh kedalam lumen usus. Jahitan Connel dimulai dari
jahitan vertical mattres, kemudian jarum diteruskan sejajar dengan insisi dan dimulai dari serosa
melewati muskularis dan permukaan mukosa dan menembus lumen, dari lumen kejaringan
ditembuskan dan masih paralel dengan insisi, kemudian simpul achir dibuat.
b. Cashing
Cara ini merupakan modifikasi dari lembert dan jahitannya diarahkan sejajar dengan insisi,
cara ini dapat dilakukan secara tunggal ataupun secara menerus. Perbedaannya dengan Connel
yaiti cara ini tidak sampai menembus pada lumen jadi hanya serosa dan muskularisnya saja.

7. Metode Parker-Kerr
Cara ini adalah aplikasi dari jahitan cushing untuk penutupan luka usus secara aseptis.Usus yang
telah dipotong pada ujungnya yang terbuka diklem dengan klem usus, ujungnya dibersihkan kemudian
dimulai dari sisi lateral klem dinding usus dijahit secara cushing tetapi pada jahitan pertama tidak
disimpulkan, kemudian jahitan diteruskan sampai selesai kemudian kedua ujung benang ditarik sambil
menarik klem tadi dengan demikian ujung dari usus telah tertutup dengan balk. Ujung satunya
dsilakukan dengan prosedur yang sama setelah selesai kedua ujung usus yang telah tertutup
didekatkan satu sama lain dan dikuti dengan jahitan lembert setelah selesai dua benang yang pertama
ditarik maka usus telah tersambung.

Anda mungkin juga menyukai