Anda di halaman 1dari 6

PERENCANAAN

MENULIS
( A PLAN FOR
WRITING)
OLEH

PROF. DR. H. RAHMAN, M.Pd.

PENDIDIKAN BAHASA DAERAH, FPBS UPI


Abstrak

Alkisah pada jaman dahulu manusia melakukan komunikasi dengan manusia


lain hanya dengan cara berbicara. Hal ini mengakibatkan bahasa akan mati ketika
manusia itu meninggal dunia. Namun dengan munculnya tulisan, bahasa akan
hidup. Menulis sebagai sebuah keterampilan berbahasa dapat memberikan peran
yang sangat vital dalam perkembangan budaya masyarakat, di antaranya dengan
cara menuliskan lambang-lambang grafis bahasa lisan menjadi bahasa tulis.
Perencanaan menulis topik, pendekatan, persiapan (draft), penulisan ulang,
penyusunan draft final, dan pengoreksiani cetakan (revisi) menjadi sorotan artikel
ini dalam konteks pemertahanan keberadaan bahasa, sastra, budaya daerah, dan
pengajarannya.
Kata Kunci: Perencanaan Menulis, Draft, Refisi.
Perencanaan Menulis
Byrne dalam Elina Syarif (2006:5) menyatakan bahwa menulis tidak hanya
membuat satu kalimat atau hanya beberapa hal yang tidak berhubungan, tetapi
menghasilkan serangkaian hal yang teratur, yang berhubungan satu sama lain, dan
dalam gaya tertentu. Penulis dapat mengkomunikasikan ide, pikiran, dan perasaan,
kepada pembaca dalam bentuk tulisan. Sebagaimana tujuan menulis yang
dikemukakan olah Elina (2006:6), tujuan menulis adalah untuk menginformasikan
segala sesuatu, baik itu fakta, data maupun peristiwa, termasuk pendapat dan
pandangan terhadap fakta, data dan peristiwa agar khalayak pembaca memperoleh
pengetahuan dan pemahaman baru tentang berbagai hal. Menulis juga bertujuan
membujuk, melalui tulisan seorang penulis mengharapkan pula pembaca dapat
menentukan sikap, apakah menyetujui atau mendukung apa yang dikemukakan
penulis. Penulis harus mampu mempengaruhi pembaca untuk memenuhi harapan
itu. Menulis juga bertujuan untuk mendidik dan menghibur.
Perencanaan Menulis Topik
Kegiatan menulis sangat berbeda dengan kegiatan berbicara. Berbicara
dalam bahasa daerah pun bisa terbantu dengan gaya, intonasi (lentong) serta gerak
1

tubuh (peta) untuk memperjelas maksud yang diinginkan, tetapi dalam menulis
alat bantu seperti itu tidak ada. Kesalahan atau ketidakpahaman orang dalam
berbicara bisa ditutupi dengan pengulangan kembali atau dengan menggunakan
bantuan gerak tubuh atau ekspresi, tetapi menulis tidak bisa. Maka dari itu, dalam
menulis harus memiliki keterampilan membangun makna untuk dipahami oleh
pembaca secara mudah dan tepat. Pada tanggal 27 Juni 2011 kita memberikan
petunjuk arah jalan pada orang Bandung yang menuju ke Undiksa, maka kita akan
menjelaskan secara tepat dengan bahasa lisan yang lugas agar orang Bandung itu
mampu menemukan alamat sesuai yang diinginkan. Ketika kita menjelaskan arah
jalan tadi, secara tidak sadar kita telah berpikir dengan alur yang sistematis dan
berpikir secara rasional, bahwa ketika orang tadi tersenyum dan berkata OK, kita
beranggapan bahwa orang tadi telah paham. Di pihak lain ketika kita melihat kerut
keningnya, menatap dengan kosong, berarti hal ini merupakan sinyal bahwa dia
tidak paham tentang apa yang kita bicarakan. Sehingga pembicara akan
memberikan penjelasan secara lebih perlahan, sabar dan berusaha memberikan
informasi yang tepat dan bijak.
Seorang penulis tidak mungkin mendapatkan umpan balik atas respon seperti
hal di atas, maka penulis tidak bisa langsung membuat penjelasan atas hal yang
tidak dipahami pembaca. Oleh karena itu, penulis harus menyusun teks dengan
sangat cermat. Pertama-tama diawali dengan rencana menulis kemudian
diaplikasikan dalam tulisan, penulis membaca teks tersebut lalu dirasakan, ditulis
ulang untuk memberikan penjelasan. Para penulis adalah perencana dan
pembentuk, bukan pembicara.
Dalam proses menulis harus mempertimbangkan aspek pembaca. Ketika kita
membuat suatu tulisan, maka harus sudah tergambar pada objek pembaca tulisan.
Hal ini dikarenakan bentuk gaya tulisan akan memberikan makna yang berbeda
ketika orang lain yang membacanya.
Salah satu cara untuk praktik menulis adalah penggunaan contoh-contoh
tulisan jurnal atau karangan bebas buatan orang lain. Di dalam contoh itu bisa
dipahami teknik-teknik menulis, gaya penulisan, dan karakteristik bentuk tulisan.
Jurnal seperti buku harian mengandung pengalaman sehari-sehari dan merekam apa
yang dialami penulis. Penulis dapat menghasilkan tulisan dengan hanya
memberikan uraian tentang peristiwa yang dialaminya, terutama dengan
memainkan kombinasi kata, fragmen dari percakapan, atau bahkan dengan kesan
selayang pandang.
Freewriting
Freewriting tidak jauh berbeda dengan menulis dengan cara menggunakan
contoh jurnal, penulis dapat mengekspresikan apa pun yang ingin penulis
ungkapkan. Cara ini disebut cara freewriting, yakni penulisan yang tidak berfokus
pada batasan apa pun. Pokoknya menulis saja, dengan asumsi bahwa penulis
tidak boleh menghadang atau menghalangi penulisan dan penulis harus menulis
ide apa pun yang datang ke dalam benaknya. Dalam waktu beberapa menit,
penulis harus dapat membuat tulisan. Biarkan ide berbicara dan menari-nari di
atas kertas atau di dalam layar komputer. Pergunakan freewriting untuk menemani
penulis ketika ke mana pun ide pergi. Membiasakan diri dengan membawa pena
2

dan catatan kecil atau note book (laptop) untuk menulis ide apa pun yang muncul.
Suatu saat penulis bisa tersenyum sendiri ketika membaca freewriting tadi, karena
dengan itu penulis merasa bernostalgia dengan kondisi perasaan masa lalu serta
merasa mengulang kejadian tersebut.
Baik berfokus contoh jurnal, maupun berpola freewriting belum tentu
menjadi penulis sukses. Tidak ada jawaban untuk menjawab pertanyaan ini, karena
setiap penulis memiliki perbedaan. Penulis mempunyai teknik-teknik dan cara yang
berbeda dalam menulis. Alternatif untuk menjadi penulis yang sukses, di antaranya
penulis harus melakukan beberapa hal, yakni m enentukan topik, merencanakan
pendekatan, menulis rancangan draf, memperbaiki draf secara berulang, menulis draf
final, dan membaca kembali teks agar tidak ada kesalahan.

Untuk menjadi penulis handal, penulis harus melakukan tahapan-tahapan


revisi dalam setiap tulisan. Dengan demikian, penulis secara cermat dan mahir
dalam membuat konsep penulisan.
Skenario
Skenario yang dapat dijadikan pertimbangan untuk menentukan topik adalah
sesuatu tidaklah selalu sesuai dengan apa yang tampak, penulis beranggapan
bahwa status quo membutuhkan perubahan, sesuatu itu tidak jelas atau bahkan
saling berlawanan, penulis merasa kecewa dengan sesuatu dan ingin mengajukan
sebuah pendekatan alternatif, penulis merasa tidak nyaman dengan sautu aturan
atau keputusan baru dan ingin mengungkapkan mengapa demikian.
Ada dua hal yang harus penulis lakukan dalam menetukan topik yaitu
mengerti pembaca dan mengetahui tujuan. Sebelum penulis menulis, ia harus
menentukan pembaca. Ketika penulis memikirkan tentang pembaca harus harus
berpikir bahwa tidak hanya orang yang akan membaca tulisan kita. Pembaca
maksudnya adalah orang yang akan mendapatkan banyak hal dari ide-ide penulis.
Dengan berpikir tentang pembaca, penulis akan mendapatkan fokus dalam konsep
pembahasan. Penulis akan mengerti tujuan, jika penulis mengetahui kondisi yang
akan membaca tulisan kita.
Salah satu yang dapat membuat penulis mengerti tentang pembaca dan tujuan
tulisan yaitu tahap pra-menulis (prewriting). Pra-menulis merupakan tahap kreatif
yang membawa penulis pada ide-ide dan materi. Apa pun bisa terjadi pada tahap
ini, dan tujuan penulis adalah mengungkapkan gagasan. Proses ini akan menuntun
kita kepada topik yang spesifik. Pra-menulis merupakan bentuk menulis kreatif
yang memunculkan atau menggerakkan ide-ide. Hal ini merupakan saat penulis
mendapatkan daya kreatif. Jika penulis melakukan pra-menulis dengan efektif
maka penulis dapat menemukan topik dan mulai mendapatkan ide-ide. Selain itu,
penulis dapat melakukan menulis bebas (freewriting). Menulis bebas adalah ketika
penulis menulis secepat-cepatnya dalam periode waktu tertentu. Penulis
menggunakan tata bahasa (grammar), ejaan, dan bahkan menentukan fokus topik
dari apa yang penulis pikirkan. Setelah itu, penulis mengeditnya. Penulis
mengedit ide-ide yang telah ditulis. Kunci keberhasilan bagi penulis adalah adalah
menulis dengan terus menerus tanpa berhenti. Jangan berpikir terlalu banyak ideide, pokoknya tuliskan semua yang ada pada pikiran penulis.

Tujuh Hal dalam Menulis


Hal yang perlu diperhatikan ketika menulis bebas, yakni 1) menulis dengan
cepat paling tidak sepuluh menit; 2) dorong terus semangat penulis jika penulis
merasa tidak gagasan; 3) menulis dengan bebas, tanpa ada koreksi tata bahasa,
ejaan; 4) Menulis tanpa berhenti untuk menghilangkan kata yang salah; 5)
menulis sesuai dengan apa yang dapat kita lakukan, tanpa ragu dengan kesalahan;
6) menulis tanpa membaca apa yang telah kita tulis; dan 7) menulis dengan terus
menerus, bahkan sekalipun jika apa yang sedang kita tulis nampak tidak
nyambung.
Brainstorming
Cara mendekatkan ide dapat penulis lakukan adalah berpikir tuntas
(brainstorming). Berpikir tuntas mengacu kepada pra-menulis yang telah
dilakuan, berpikir tentang struktur kalimat yang kurang. Berpikir tuntas adalah
ketika penulis mengidentifikasi ide-ide yang berkaitan dengan topik. Ide-ide itu
dikembangkan, dikelompokkan, disusun, ditambah, dan mengurangi ide-ide yang
sekiranya tidak mendukung atau tidak berhubungan dengan topik yang penulis
bahas. Berpikir tuntas membantu penulis mengumpulkan fakta-fakta dan
pengalaman yang telah penulis ketahui berkaitan dengan subjek tulisan.
Mengedit tulisan merupakan hal yang harus dilakukan setelah tulisan selesai.
Penulis tentu berharap tulisannya merupakan kumpulan kata-kata yang bermakna
dan jelas, dan tentu saja pembaca ingin membaca tulisan dengan jelas dan benar.
Penulis juga ingin memastikan fokus apa yang harus diungkapkan, bukan
bagaimana mengungkapkannya. Revisi dan pengeditan merupakan hal yang
sangat penting untuk efektifitas tulisan. Revisi merupakan bagian penting dalam
proses menulis. Hal ini berarti mengedit kata-kata pada draff sehingga siap untuk
diterbitkan.
Bertanya tentang Tulisan
Dalam proses menulis harus mengindahkan pertanyaan-pertanyaan yang
berhubungan dengan kekuatan dan kelemahan tulisan, yaitu 10 Apakah tulisan itu
sudah disusun dengan benar? 2) Apakah tulisan itu ada pada jalur yang tepat? 3)
Apakah tulisan itu sudah betul-betul rinci? 4) Apakah tulisan itu sudah
mendukung diri saya sendiri? 5) Apakah tulisan itu "sempit"/kurang luas? 6)
Apakah bagian-bagian tulisan itu terlalu rumit? 7) Apakah bagian-bagian tulisan
itu terlalu sederhana? 8) Apakah pembahasan/subjek tulisan itu menarik? 9)
Apakah pembahasan tulisan itu signifikan? 10) Apakah tulisan itu dapat membuat
penulis tertarik?
Penutup
Perencanaan menulis topik, pendekatan, persiapan (draft), penulisan ulang,
penyusunan draft final, dan pengoreksian cetakan (revisi)
menjadi lahan
bimbingan bagi para penulis pemula dalam rangka membiasakan membangun
sebuah tulisan. Para guru, termasuk guru bahasa daerah boleh berimprovisasi
dalam memberikan tugas-tugas kepada murid dalam konteks perencanaan
menulis. Keterampilan menulis tidak bisa dilepaskan hubungannya dengan
4

pembaca, oleh karenanya harus mengerti dan menyelami pembaca.


DAFTAR PUSTAKA
John C. Brereton. (2008). A Plan for Writing. Canada: Printed in the United State of
America
Rahman.(2008). Model dan Bahan Pembelajaran. Bandung: Alqa
Syarif, Elina. (2006). Keterampilan Menulis. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Riwayat Hidup
PROF. DR. H. RAHMAN, M.Pd.
Kisah kelana anak desa, dari daerah Sukabumi Selatan, memecah garba 1
April 1957, di pagi hari cerah lahirlah seorang anak laki-laki bernama Rahman.
Hari berganti malam berselang, Rahman berkembang dalam suasana mesjid
dan madrasah yang diasuh oleh ayahnya, nuansa agamis ia santap sejak dini.
Seusai tamat SD (1969), ia didorong sekolah ke SMP (1972), setamat SMP ia
belajar di pesantren karena berobsesi menjadi kiai, tetapi takdir ilahi lain, malah ia
meneruskan pendidikan ke SPG (Sekolah Pendidikan Guru (1979) di Sukabumi.
Saat itu tamatan SPG tidak boleh meneruskan kuliah karena harus menjadi guru
dahulu selama dua tahun, kecuali lulusan yang menjadi peringkat 10 besar, pucuk
dicinta ulam tiba, ingin kuliah dan ia menajadi peringkat pertama. Rahman kuliah
S1 di IKIP Bandung (1983), S-2 IKIP Bandung (1993), dan S-3 spesialisasi
Pengajaran Bahasa Indonesia UPI (2004).
Dalam meniti kariernya, kegiatan Rahman di antaranya menjadi penulis
tetap dan Dewan Redaksi majalah Seni Budaya (19962006), Ketua Redaksi
Jurnal Sonagar: Jurnal Bahasa dan Sastra Sunda (2003-2004), Ketua Informasi
Jurusan/Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Sunda (2003-2005), Ketua
DKM Al Muqoddimah (1998-2006), khotib di belasan mesjid, Kepala SMA
Lab. School-UPI (2005-2006), Sekretaris Umum IKA FPBS (1999-sekarang),
dan Ketua Umum Forum Ilmiah Guru Kota/Kab, Sukabumi (2007-sekarang).
Hasil penelitian di antaranya Metode Eklektik pada Pengajaran Membaca dan
Menulis Permulaan (1998), Model Pembelajaran Bermakna pada Due-Like
Project (2003). Karya tulis di antaranya Doa Ibadah Haji (1998), Desain
Instruksional Bahasa (2008), dan Model Mengajar dan Bahan Pembelajaran
(2011).
Ia menjadi nara sumber penelitian tindakan kelas dari LPMP/PMPTK di 26
kota (2006), beberapa kali menjadi pemakalah internasional dan beberapa kali
menjadi ketua panitia seminar nasional. Piagam Penghargaan Pemenang Lomba
Menulis Buku Pelajaran para Dosen IKIP Bandung pada tahun 1997, Piagam
Karya Bhakti Satya dari Rektor UPI tahun 2003, dan Satyalancana Karya Satya
dari Presiden RI tahun 2001 ia terima.
Kuda lari dapat dikejar, nasib orang siapa tahu, salah satu dari yang ia
kejar, ia menjadi profesor dalam bidang Ilmu Pengajaran Bahasa Indonesia
5

Sejak 1 Februari 2010 sesuai dengan gelora doa ayahbunda. Alhamdullah,


semogamenjadi kemulyaan dunia akhirat. Aamiin.
E-Mail: rahman.pasca.upi@gmail.com