Anda di halaman 1dari 11

PENDIDIKAN SEBAGAI MODAL UTAMA

MEMBANGUN KARAKTER BANGSA
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah
Pendekatan Geografi untuk Pendidikan Karakter Bangsa
Dosen: Prof. DR. H. Nursid Sumaatmadja

Oleh :
HILMAN LATIEF (1007309)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
SEKOLAH PASCA SARJANA (SPS)
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA (UPI) BANDUNG
2010

PENDIDIKAN SEBAGAI MODAL UTAMA
Hilman Latief (1007309)

1

makmur. adil. yang memiliki moralitas tinggi sangat dituntut untuk dibentuk atau dibangun.MEMBANGUN KARAKTER BANGSA Oleh : Hilman Latief I. bertanggungjawab. kemajemukan sosial budaya. Namun demikian. berdaulat. sehat. dan aspek sosial budaya. ekonomi. Dari sejumlah fakta positif atas modal besar yang dimiliki bangsa Indonesia. melainkan . yang tidak kunjung selesai. kita masih menghadapi berbagai masalah nasional yang kompleks. Seperti masalah pada aspek politik. dan jumlah penduduk yang besar. Salah satu aspek yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan karakter SDM yang kuat adalah melalui pendidikan. untuk mewujudkan itu semua. bangsa Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi bangsa yang maju. Manusia yang berakhlak mulia. berilmu. aspek ekonomi. Namun untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut dan menghadapi berbagai persaingan peradaban yang tinggi untuk menjadi Indonesia yang lebih maju diperlukan revitalisasi dan penguatan karakter SDM yang kuat. Pendahuluan Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar karena didukung oleh sejumlah fakta positif yaitu posisi geopolitik yang sangat strategis. Pendidikan merupakan upaya yang terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar berkembang dan tumbuh menjadi manusia yang mandiri. dan bermartabat. Bangsa Indonesia tidak hanya sekedar memancarkan Hilman Latief (1007309) kemilau pentingnya 2 pendidikan. kekayaan alam dan keanekaragaman hayati. kreatif. jumlah penduduk yang besar menjadi modal yang paling penting karena kemajuan dan kemunduran suatu bangsa sangat bergantung pada faktor manusianya (SDM). dan sosial budaya juga dapat diselesaikan dengan SDM. Oleh karena itu. dan berakhlak mulia baik dilihat dari aspek jasmani maupun ruhani. Masalah-masalah politik.

bersikap malas. berilmu. yang dilakukan tidak hanya oleh orang-orang dewasa. tapi juga oleh anak-anak usia belasan. pelatihan dan pemberdayaan SDM Indonesia secara berkelanjutan dan merata. Di sisi lain. Kondisi ini terus terang sangat memilukan dan mengkhawatirkan bagi bangsa Indonesia yang telah merdeka sejak tahun 1945. pendidik yang senantiasa memberikan contoh-contoh baik ke siswanya. Pendidikan Sebagai Modal Utama Membangun Karakter Bangsa Hilman Latief (1007309) 3 . ditemukan guru. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah“… agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Misalnya untuk kasuskasus aktual. dan penculikan. pemerkosaan. perampokan. korupsi. terlibat narkoba. dan lain-lain. Melihat kondisi sekarang dan akan datang. Memang masalah ini tidak dapat digeneralisir. sehat. Ini sejalan dengan Undang-undang No. cakap. Ini dilakukan untuk mempersiapkan tantangan global dan daya saing bangsa. juga tidak kalah mentalnya. masih banyak ditemukan siswa yang menyontek di kala sedang menghadapi ujian. Persoalannya adalah hingga saat ini SDM Indonesia masih belum mencerminkan cita-cita pendidikan yang diharapkan. melakukan pergaulan bebas. mandiri. namun setidaknya ini fakta yang tidak boleh diabaikan karena kita tidak menginginkan anak bangsa kita kelak menjadi manusia yang tidak bermoral sebagaimana saat ini sering kita melihat tayangan TV yang mempertontonkan berita-berita seperti pencurian.bagaimana bangsa Indonesia mampu merealisasikan konsep pendidikan dengan cara pembinaan. kreatif. Memang tidak mudah untuk menghasilkan SDM yang tertuang dalam UU tersebut. berakhlak mulia. II. ketersediaan SDM yang berkarakter merupakan kebutuhan yang amat vital. Misalnya guru tidak jarang melakukan kecurangan-kecurangan dalam sertifikasi dan dalam ujian nasional (UN). dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. tawuran antar sesama siswa.

20 tahun 2003 kita dapat melihat ketiga perbedaan model lembaga pendidikan tersebut. memiliki ’ketertarikan’ bergaul dengan WTS atau melakukan perampokan. terutama anak atau peserta didik. lembaga pelatihan. serta satuan pendidikan yang sejenis. Sedangkan pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Sikapsikap seperti ini merupakan bagian dari penyimpangan moralitas dan prilaku sosial pelajar (Suyanto dan Hisyam. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus. Upaya yang dapat dilakukan salah satunya adalah pendidik dan orangtua berkumpul bersama mencoba memahami gejala-gejala anak pada Hilman Latief (1007309) 4 . 2000: 194). Sementara pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Dalam UU Sisdiknas No. Kegiatan pendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar secara mandiri. pendidikan informal dan pendidikan non formal yang selama ini berjalan terpisah satu dengan yang lainnya. misalnya anak bersikap baik di rumah. dan majelis taklim. Oleh karena itu. ke depan dalam rangka membangun dan melakukan penguatan peserta didik perlu menyinergiskan ketiga komponen lembaga pendidikan. Dikatakan bahwa Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar. kelompok belajar. Pendidikan informal dan non formal pun memiliki peran yang sama untuk membentuk kepribadian.Pendidikan merupakan hal terpenting untuk membentuk kepribadian. Pendidikan itu tidak selalu berasal dari pendidikan formal seperti sekolah atau perguruan tinggi. ada kecenderungan bahwa pendidikan formal. pusat kegiatan belajar masyarakat. Mereka tidak saling mendukung untuk peningkatan pembentukan kepribadian peserta didik. pendidikan menengah. dan pendidikan tinggi. Setiap lembaga pendidikan tersebut berjalan masing-masing sehingga yang terjadi sekarang adalah pembentukan pribadi peserta didik menjadi parsial. namun ketika keluar rumah atau berada di sekolah ia melakukan perkelahian antarpelajar. Memperhatikan ketiga jenis pendidikan di atas.

Dengan mempelajari gejala-gejala negatif yang dimiliki anak remaja pada umumnya. Untuk itu. Pembentukan karakter SDM menjadi vital dan tidak ada pilihan lagi untuk mewujudkan Indonesia baru. sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga. ada rasa kegelisahan. orangtua dan pendidik akan dapat menyadari dan melakukan upaya perbaikan perlakuan sikap terhadap anak dalam proses pendidikan formal. tapi aspek afektif dan moralitas juga tersentuh. mulai timbul minat pada lawan jenis. mengalami kejenuhan. (2) Memberikan nilai-nilai Hilman Latief (1007309) 5 . kurang percaya diri. non formal dan informal. Lickona (1992) menjelaskan beberapa alasan perlunya Pendidikan karakter. di antaranya: (1) Banyaknya generasi muda saling melukai karena lemahnya kesadaran pada nilai-nilai moral. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun. yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak Berbicara pembentukan kepribadian tidak lepas dengan bagaimana kita membentuk karakter SDM. jujur dan peduli dengan lingkungan. 2001: 211). karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Dasar pendidikan karakter.fase negatif. Tantangan regional dan global yang dimaksud adalah bagaimana generasi muda kita tidak sekedar memiliki kemampuan kognitif saja. Dari sini. adanya perasaan malu yang berlebihan. dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. 2000: 186-87). ada kepekaan emosional. kurang kemauan untuk bekerja. ada pertentangan sosial. yang meliputi keinginan untuk menyendiri. sebaiknya diterapkan sejak usia kanakkanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age). dan kesukaan berkhayal (Mappiare dalam Suyanto dan Hisyam. yaitu Indonesia yang dapat menghadapi tantangan regional dan global (Muchlas dalam Sairin. pendidikan karakter diperlukan untuk mencapai manusia yang memiliki integritas nilai-nilai moral sehingga anak menjadi hormat sesama.

masyarakat. dan bertindak atas nilai-nilai etika/moral. (7) Komitmen pada pendidikan karakter penting manakala kita mau dan terus menjadi guru yang baik. (3) Peran sekolah sebagai pendidik karakter menjadi semakin penting ketika banyak anak-anak memperoleh sedikit pengajaran moral dari orangtua. dan tanggungjawab. tetangga. atau lembaga keagamaan. Lickona (1992) menggagas pandangan bahwa pendidikan karakter adalah upaya terencana untuk membantu orang untuk memahami. Untuk mengetahui lebih jauh tentang apa yang dimaksud dengan pendidikan karakter. Sekolah mengajarkan nilainilai setiap hari melalui desain ataupun tanpa desain. Pandangan ini mengilustrasikan bahwa proses pendidikan yang ada di pendidikan formal. dan (7) Pendidikan karakter yang efektif membuat sekolah lebih beradab. (6) Tidak ada sesuatu sebagai pendidikan bebas nilai. diri. dan tidak memiliki lain-lain. rasa hormat. masyarakat. untuk dan oleh masyarakat. teman. Alasan-alasan di atas menunjukkan bahwa pendidikan karakter sangat perlu ditanamkan sedini mungkin untuk mengantisipasi persoalan di masa depan yang semakin kompleks seperti semakin rendahnya perhatian dan kepedulian anak terhadap tanggungjawab. Sekolah mengajarkan pendidikan bebas nilai.moral pada generasi muda merupakan salah satu fungsi peradaban yang paling utama. (4) masih adanya nilai-nilai moral yang secara universal masih diterima seperti perhatian. non formal dan informal harus mengajarkan peserta didik atau anak untuk saling peduli dan membantu dengan penuh keakraban tanpa diskriminasi karena didasarkan dengan nilai-nilai moral dan Hilman Latief (1007309) 6 . kepercayaan. dan mengacu pada performansi akademik yang meningkat. peduli pada masyarakat. peduli. dan bangsa. Pendidikan karakter ini mengajarkan kebiasaan berpikir dan berbuat yang membantu orang hidup dan bekerja bersama-sama sebagai keluarga. (5) Demokrasi memiliki kebutuhan khusus untuk pendidikan moral karena demokrasi merupakan peraturan dari. rendahnya lingkungan kepercayaan sekitar.

Nilai-nilai seperti keadilan. Berikut ini ciri-ciri pendekatan holistik (Lickona. norma. Model pembelajaran yang berpusat pada guru harus ditinggalkan dan beralih ke kelas demokrasi di mana guru dan siswa berkumpul untuk membangun kesatuan. guru. dan kejujuran menjadi bagian pembelajaran sehari-hari baik di dalam maupun di luar kelas 6. yaitu mengintegrasikan perkembangan karakter ke dalam setiap aspek kehidupan sekolah. Di sini nampak bahwa peran pendidik dan tokoh panutan sangat membantu membentuk karakter peserta didik atau anak. dan sekolah 3. 1. Pembelajaran emosional dan sosial setara dengan pembelajaran akademik 4. dan masyarakat 2. dan memecahkan masalah Hilman Latief (1007309) 7 . rasa hormat. guru. Kerjasama dan kolaborasi di antara siswa menjadi hal yang lebih utama dibandingkan persaingan 5. Disiplin dan pengelolaan kelas menjadi fokus dalam memecahkan masalah dibandingkan hadiah dan hukuman 8. 1992). Siswa-siswa diberikan banyak kesempatan untuk mempraktekkan prilaku moralnya melalui kegiatan-kegiatan seperti pembelajaran memberikan pelayanan 7. Upaya untuk mengimplementasikan pendidikan karakter adalah melalui Pendekatan Holistik.persahabatan. Sekolah merupakan masyarakat peserta didik yang peduli di mana ada ikatan yang jelas yang menghubungkan siswa. Segala sesuatu di sekolah diatur berdasarkan perkembangan hubungan antara siswa.

Pendidik itu bisa guru. diskusi. orang tua dan siswa bersama-sama mengidentifikasi dan mendefinisikan unsur-unsur karakter yang mereka ingin tekankan. orangtua atau siapa saja. guru. dan (4) memberikan kesempatan kepada kepala sekolah. kita perlu meyakini bahwa proses pendidikan karakter tersebut harus dilakukan secara berkelanjutan (continually) sehingga nilai-nilai moral yang telah tertanam dalam pribadi anak tidak hanya sampai pada tingkatan pendidikan tertentu atau hanya muncul di lingkungan keluarga atau masyarakat saja. dan mengambil inisiatif sebagai upaya membangun pendidikan karakter Hilman Latief (1007309) 8 . yang penting ia memiliki kepentingan untuk membentuk pribadi peserta didik atau anak. Lickona (1992) serta Azra (2006) menguraikan beberapa pemikiran tentang peran pendidik. Pendidik perlu terlibat dalam proses pembelajaran.Sementara itu peran lembaga pendidikan atau sekolah dalam mengimplementasikan pendidikan karakter mencakup (1) mengumpulkan guru. Selain itu praktikpraktik moral yang dibawa anak tidak terkesan bersifat formalitas. orangtua dan masyarakat untuk menjadi model prilaku sosial dan moral. Mengacu pada konsep pendekatan holistik dan dilanjutkan dengan upaya yang dilakukan lembaga pendidikan. di antaranya: 1. Peran pendidik pada intinya adalah sebagai masyarakat yang belajar dan bermoral. (3) menjalin kerjasama dengan orangtua dan masyarakat agar siswa dapat mendengar bahwa prilaku karakter itu penting untuk keberhasilan di sekolah dan di kehidupannya. namun benar-benar tertanam dalam jiwa anak. (2) memberikan pelatihan bagi guru tentang bagaimana mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam kehidupan dan budaya sekolah.

yaitu menerapkan kurikulum yang melibatkan 9 aspek kecerdasan manusia. 3. Pendidik perlu melakukan refleksi atas masalah moral berupa pertanyaan-pertanyaan rutin untuk memastikan bahwa siswa-siswanya mengalami perkembangan karakter. (3) harus mampu Hilman Latief (1007309) 9 . and acting the good. (2) pendidik perlu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. misalnya mengajak siswanya melakukan shalat secara konsisten. Pendidik perlu memberikan pemahaman bahwa karakter siswa tumbuh melalui kerjasama dan berpartisipasi dalam mengambil keputusan 4. Berdasarkan penjelasan di atas. Pendidik bertanggungjawab untuk menjadi model yang memiliki nilainilai moral dan memanfaatkan kesempatan untuk mempengaruhi siswasiswanya. 2006) adalah: (1) pendidik perlu menerapkan metode pembelajaran yang melibatkan partisipatif aktif siswa. (3) pendidik perlu memberikan pendidikan karakter secara eksplisit.2. Hal-hal lain yang pendidik dapat lakukan dalam implementasi pendidikan karakter (Djalil dan Megawangi. dapat dikategorikan peran pendidik di setiap jenis lembaga pendidikan dalam membentuk karakter siswa. (2) harus menjadi contoh tauladan kepada siswanya dalam berprilaku dan bercakap. sistematis. dan (4) pendidik perlu memperhatikan keunikan siswa masing-masing dalam menggunakan metode pembelajaran. 5. pendidik (1) harus terlibat dalam proses pembelajaran. Pendidik perlu menjelaskan kepada peserta didik secara terus menerus tentang berbagai nilai yang baik dan yang buruk. yaitu melakukan interaksi dengan siswa dalam mendiskusikan materi pembelajaran. Agustian (2007) menambahkan bahwa pendidik perlu melatih dan membentuk karakter anak melalui pengulangan-pengulangan sehingga terjadi internalisasi karakter. Dalam pendidikan formal dan non formal. loving the good. dan berkesinambungan dengan melibatkan aspek knowing the good.

(3) konflik bukan potensi laten. (5) harus mampu membantu dan mengembangkan emosi dan kepekaan sosial siswa agar siswa menjadi lebih bertakwa. (2) harus memiliki kedekatan emosional kepada anak dengan menunjukkan rasa kasih sayang. 2001: 4950). non formal. mengembangkan keindahan dan belajar soft skills yang berguna bagi kehidupan siswa selanjutnya. III. dan (4) perlu mengajak anak-anaknya untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. diharapkan akan tumbuh dan berkembang karakter kepribadian yang memiliki kemampuan unggul diantaranya: (1) karakter mandiri dan unggul.mendorong siswa aktif dalam pembelajaran melalui penggunaan metode pembelajaran yang variatif. melainkan situasi monumental dan lokal. (4) harus mampu mendorong dan membuat perubahan sehingga kepribadian. Berangkat dengan upaya-upaya yang pendidik lakukan sebagaimana disebut di atas. (4) signifikansi Bhinneka Tunggal Ika. (3) harus memberikan lingkungan atau suasana yang kondusif bagi pengembangan karakter anak. menghargai ciptaan lain. Karakter SDM dalam dibentuk melalui proses pendidikan formal. (2) komitmen pada kemandirian dan kebebasan. dan informal yang Hilman Latief (1007309) 10 . dan (5) mencegah agar stratifikasi sosial identik dengan perbedaan etnik dan agama (Jalal dan Supriadi. dan (6) harus menunjukkan rasa kecintaan kepada siswa sehingga guru dalam membimbing siswa yang sulit tidak mudah putus asa. misalnya dengan beribadah secara rutin. Sementara lingkungan. kemampuan dan keinginan guru dapat menciptakan hubungan yang saling menghormati dan bersahabat dengan siswanya. dalam pendidik pendidikan atau informal orangtua/tokoh seperti keluarga masyarakat (1) dan harus menunjukkan nilai-nilai moralitas bagi anak-anaknya. Penutup Pembentukan karakter SDM yang kuat sangat diperlukan untuk menghadapi tantangan global yang lebih berat.

Pengembangan Profesionalisme Guru: 70 Tahun Abdul Malik Fadjar. Dedi. Jakarta: UHAMKA Press. cerdas. Thomas. Pudjo. 2009. New York: Bantam Books. 1992. Untuk menyinergiskan. 2000. Pidato Ilmiah Penganugerahan Gelar Kehormatan Doctor Honoris Causa di Bidang Pendidikan Karakter. 2001 Suyanto dan Hisyam. Pendidikan yang Mendidik. Membangun Sumber Daya Manusia dengan Kesinergisan antara Kecerdasan Spiritual. Sugeng (Editor). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. Azyumardi. Jakarta: Yudhistira. dan mandiri sesuai dengan cita-cita dan tujuan pendidikan nasional serta watak bangsa Indonesia. 2001. Agama. Sumedi. 2006 Jalal. Weinata. dan Intelektual. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Emosional. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Daftar Pustaka Agustian. Lickona. Hilman Latief (1007309) 11 . dan Riadi. peran pendidik dalam pendidikan karakter menjadi sangat vital sehingga anak didik atau SDM Indonesia menjadi manusia yang religius. Azra.ketiganya harus bersinergis. Budaya. Ary Ginanjar. Suyatno. moderat. Pendidikan di Indonesia Memasuki Milenium III: Refleksi dan Reformasi. UNY 2007. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Fasli dan Supriadi. Sairin. dan Pendidikan Karakter Bangsa. Djihad.