Anda di halaman 1dari 29

BAB 1

PENDAHULUAN
Demam tifoid atau tifus abdominalis banyak ditemukan dalam kehidupan
masyarkat kita, baik diperkotaan maupun dipedesaan. Penyakit ini sangat erat
kaitannya dengan kualitas yang mendalam dari hygiene pribadi dan sanitasi
lingkungan, seperti hygiene perorangan dan hygiene penjamah makanan yang
rendah, lingkungan yang kumuh, serta kebersihan tempat-tempat umum. 1
Tifoid diketahui saat ilmuwan Perancis bernama Pierre Louis memperkenalkan istilah typhoid pada tahun 1829. Typhoid atau typhus berasal dari bahasa
yunani typhos yang berarti penderita demam dengan gangguan kesadaran.
Kemudian Gaffky menyatakan bahwa penularan penyakit ini melalui air dan
bukan udara. Gaffky juga berhasil membiakkan Salmonella typhi dalam media
kultur pada tahun 1884. Pada tahun 1896 Widal akhirnya menemukan
pemeriksaan typhoid yang masih digunakan pada saat ini. Selanjutnya, pada tahun
1984 Woodwark dkk. melaporkan untuk pertama kalinya bahwa obat yang efektif
untuk demam tifoid adalah kloramfenikol.2
Demam tifoid merupakan salah satu penyakit infeksi endemik di Asia,
Afrika, Amerika latin, Karibia, dan Oceania, termasuk Indonesia penyakit yang
masih tergolong endemik di negara-negara yang sedang berkembang seperti
Indonesia. Penyakit infeksi yang ditularkan melalui makanan dan minuman ini,
disebabkan oleh kuman S. typhi. Insiden demam tifoid di seluruh dunia menurut
data pada tahun 2002 sekitar 16 juta per tahun, 600.000 di antaranya
menyebabkan kematian.3

Di Indonesia kasus demam tifoid telah tercantum dalam Undang-undang


nomor 6 Tahun 1962 tentang wabah. Kelompok penyakit menular ini merupakan
penyakit yang mudah menular dan dapat menyerang banyak orang sehingga dapat
menimbulkan wabah.3 Dewasa ini, penyakit tifoid harus mendapat perhatian yang
serius karena permasalahannya yang makin kompleks sehingga menyulitkan
upaya pengobatan dan pencegahan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi
Demam tifoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai
dengan bakteremia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus,
pembentukan mikroasbes dan ulserasi Nodus Peyer di distal ileum. Batasan
serupa dikemukakan oleh Butler (1991) yaitu suatu infeksi bacterial pada manusia
yang disebabkan oleh Salmonella typhi yang merupakan bakteri gram negatif,
ditandai dengan demam berkepanjangan, nyeri perut, diare, delirium, bercak rose
dan splenomegali serta kadang-kadang disertai komplikasi perdarahan dan
perforasi usus.4 Demam ini disebabkan oleh S. serotipe Typhi, yaitu

S. ser.

Paratyphi A, S. ser. Paratyphi B (Schottmuelleri), and S. ser. Paratyphi C (Hirschfeldii). Terminologi lain yang sering digunakan adalah typhoid fever, paratyphoid
fever, typhus, paratyphus abdominalis, dan demam enterik. Jika penyebabnya
adalah S. paratyphi, gejalanya lebih ringan dibanding dengan yang disebabkan
oleh S typhi. 2,3,5,6
Secara historis, typhus berasal dari bahasa Yunani typhos yang berarti
asap, atau yang lebih halus lagi dari asap, merupakan kiasan yang
menggambarkan orang melamun, yang dipengaruhi oleh asap yang sedang naik di
awan, dari asal nama di atas menggambarkan bahwa kesadaran penderita demam
tifoid seperti diliputi awan (kabut). Nama lain yang sering ditulis dalam
kepustakaan adalah typhus abdominalis suatu istilah yang kurang tepat, karena
dulunya dianggap bahwa demam tifoid adalah kumpulan gejala demam tifus yang
menyerang alat pencernaan.3

2. Epidemiologi
Demam tifoid menyerang penduduk disemua negara. Seperti penyakit
menular lainnya, tifoid banyak ditemukan dinegara berkembang dimana hygiene
pribadi dan sanitasi lingkungannya kurang baik. Prevalensi kasus bervariasi
tergantung lokasi, kondisi lingkungan setempat, dan perilaku masyarakat. Angka
insiden diseluruh dunia sekitar 17 juta pertahun dengan 600.000 orang meninggal
karena penyakit ini. WHO memperkirakan 70% kematian terjadi di Asia. 6
Surveilans Departemen kesehatan RI, frekuensi terjadinya demam tifoid di
indonesia pada tahun 1990 sebesar 9,2 dan pada tahun 1994 terjadi peningkatan
frekuensi menjadi 15,4 per 10.000 penduduk. Dari survei berbagai rumah sakit
diindonesia dari tahun 1981 sampai dengan 1986 memperlihatkan peningkatan
jumlah penderita sekitar 35,8 % yaitu dari 19,596 menjadi 26.606 kasus. Insiden
demam tifoid bervariasi ditiap daerah dan biasanya terkait dengan sanitasi
lingkungan. 7
Penyakit
masyarakat
endemik

demam

dan golongan
insidens

tifoid

dapat

umur.

Menurut

terjadi

pada

Juwono

semua

(1996),

di

lapisan
daerah

tertinggi didapatkan pada anak-anak dan usia remaja.

Sebanyak 77% dari penderita demam tifiod di Indonesia terdapat pada usia
3-19 tahun, sedangkan di Amerika Selatan insidensi demam tifoid tertinggi
pada usia 5-19 tahun dan pada orang dewasa > 35 tahun. Penyakit demam
tifoid ini ditemukan juga pada anak usia 3 tahun, kenyataan ini merupakan
informasi baru karena selama ini dianggap bahwa demam tifoid sering terdapat
pada anak yang berumur 5-9 tahun dan orang dewasa.4
3. Etiologi
Salmonella enterica serovar Typhi (S. Typhi), Gram-negative bacillus.

Light micrograph of Salmonella


typhi. Courtesy of Public Health
Image Library,Centers for Disease
Control and Prevention, USA.

Adalah bakteri gram negatif, tidak berkapsul, mempunyai flagella, dan


tidak membentuk spora. Fakultatif anaerobik basil yang berukuran 0,4-0,6m.
Bakteri ini akan mati pada pemanasan 57C selama beberapa menit. Kuman ini
mempunyai tiga antigen yang penting untuk pemeriksaan laboratorium, yaitu : 6,9
Antigen O (somatik),
Antigen H (flagella), dan
Antigen K (selaput)
Organisme yang berasal dari genus Salmonella adalah agen penyebab
bermacam-macam infeksi, mulai dari gastroenteritis yang ringan sampai dengan
demam tifoid yang berat disertai bakteriemia. Kuman Salmonella ini berbentuk
batang, tidak berspora, pada pewarnaan gram bersifat negatif, ukuran 1-3.5 m x
0.5-0.8 m, besar koloni rata-rata 2-4 mm, mempunyai flagel peritrikh kecuali
Salmonella pullorum dan Salmonella gallinarum.3
Kuman ini tumbuh pada suasana aerob dan fakultatif anaerob, pada suhu
15-41C dan pH pertumbuhan 6-8. Bakteri ini mudah tumbuh pada pembenihan
biasa, tetapi hampir tidak pernah meragikan laktosa dan sukrosa. Salmonella
resisten terhadap zat-zat kimia tertentu yang menghambat bakteri enterik lainnya.
Kuman mati pada suhu 56C juga pada keadaan kering. Dalam air bisa tahan
selama 4 minggu.3

4. Patogenesis
Masuknya kuman ini kedalam tubuh manusia terjadi melalui makanan atau
air yang terkontaminasi kuman, dengan jumlah yang tertelan sekitar 10 3-106
koloni.5 Prinsip penularan penyakit ini adalah melalui fekal-oral. Kuman berasal
dari tinja atau urine penderita atau bahkan carrier (pembawa penyakit yang tidak
sakit) yang masuk kedalam tubuh manusia melalui air dan makanan. Mekanisme
makanan dan minum yang terkontaminasi bakteri sangat bervariasi. Pernah
dilaporkan dibeberapa negara bahwa penularan terjadi karena masyarakat
mengkonsumsi kerang-kerangan yang airnya tercemar kuman. Kontaminasi dapat
juga terjadi pada sayuran mentah dan buah-buahan yang pohonnya dipupuk
dengan kotoran manusia. Vektor berupa serangga (antara lain lalat) juga berperan
dalam penularan penyakit.9
Kuman Salmonella dapat berkembang biak untuk mencapai kadar infektif
dan bertahan lama dalam makanan. Makanan yang sudah dingin dan dibiarkan
ditempat terbuka merupakan media mikroorganisme yang lebih disukai.
Pemakaian air minum yang tercemar kuman secara massal sering bertanggung
jawab terhadap terjadinya kejadian luar biasa (KLB).9
Selain penderita tifoid, sumber penularan utama berasal dari carrier.
Didaerah endemik, air yang tercemar merupakan penyebab utama penularan
penyakit. Adapun didaerah non-endemik, makanan yang terkontaminasi oleh
carrier dianggap paling bertanggung jawab terhadap penularan.9
Gambar 1. Patofisioogi demam tifoid 7

Gejala-gejala

Gambar 2. Patofisiologi Demam Tifoid 7

Rx. Hipersensitifitas
tipe lambat

Sirkulasi
Berkembang
darah
biak di ekstraseluler organ atau sinusoid
(Bakteriemia II)

Tanda-gejala sistemik

hati

Kandung empedu

Berkembang biak
hiperaktifMakrofag sudah teratasiMenembus usus lagi
Lumen usus
Kembali seperti semua
Melepas sitokin reaksi inflamasi sistemik

Feses

5. Gejala klinis
Setelah 7-14 hari tanpa keluhan atau gejala, dapat muncul keluhan atau
Reaksi hiperplasia plak peyeri

Hiperplasia nekrosis

gejala yang bervariasi mulai dari yang ringan dengan demam yang tidak tinggi,
Erosi pembuluh darah

Perdarahan saluran cerna

malaise, dan batuk kering sampai dengan gejala yang berat dengan demam yang
Proses berjalan terus

Menembus lapisan

berangsur makin tinggi setiap harinya, rasa tidak nyaman di perut, serta
beraneka
Perforasi
mukosa dan otot
ragam keluhan lainnya. 1,2,4

Gejala yang biasanya dijumpai adalah demam sore hari dengan


serangkaian keluhan klinis, seperti anoreksia, mialgia, nyeri abdomen, dan
obstipasi. Dapat disertai dengan lidah kotor, nyeri tekan perut, dan pembengkakan
pada stadium lebih lanjut dari hati atau limpa atau kedua-duanya. Pada anak, diare
sering dijumpai pada awal gejala yang baru, kemudian dilanjutkan dengan
konstipasi. Konstipasi pada permulaan sering dijumpai pada orang dewasa.
Walaupun tidak selalu konsisten. 1,2,4
Lidah kotor. Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah.
Biasanya anak akan merasa lidahnya pahit dan cenderung ingin makan yang
asam-asam atau pedas.5
Bradikardi relatif saat demam tinggi dapat dijadikan indikator demam
tifoid. Pada sekitar 25% dari kasus, ruam makular atau makulopapular (rose spots)
mulai terlihat pada hari ke 7-10, terutama pada orang berkulit putih, dan terlihat
pada dada bagian bawah dan abdomen pada hari ke 10-15 serta menetap selama 23 hari. 1,2
Sekitar 10-15% dari pasien akan mengalami komplikasi, terutama pada
yang sudah sakit selama lebih dari 2 minggu. Komplikasi yang sering dijumpai
adalah reaktif hepatitis, perdarahan gastrointestinal, perforasi usus, ensefalopati
tifosa, serta gangguan pada sistem tubuh lainnya mengingat penyebaran kuman
adalah secara hematogen. Bila tidak terdapat komplikasi, gejala klinis akan
mengalami perbaikan dalam waktu 2-4 minggu. 1,2
6. Sumber Penularan (Reservoir)10
Penularan penyakit demam tifoid oleh basil Salmonella typhi ke manusia
melalui makanan dan minuman yang telah tercemar oleh feses atau urin dari
penderita tifoid. Ada dua sumber penularan Salmonella typhi, yaitu :

Penderita Demam Tifoid


Yang menjadi sumber utama infeksi adalah manusia yang selalu
mengeluarkan mikroorganisme penyebab penyakit, baik ketika ia sedang
menderita sakit maupun yang sedang dalam penyembuhan. Pada masa
penyembuhan penderita pada umumnya masih mengandung bibit penyakit di
dalam kandung empedu dan ginjalnya.
Karier Demam Tifoid.
Penderita tifoid karier adalah seseorang yang kotorannya (feses atau urin)
mengandung Salmonella typhi setelah satu tahun pasca demam tifoid, tanpa
disertai gejala klinis. Pada penderita demam tifoid yang telah sembuh setelah 2
3 bulan masih dapat ditemukan kuman Salmonella typhi di feses atau urin.
Penderita ini disebut karier pasca penyembuhan.
Karier dapat dibagi dalam beberapa jenis
a. Healthy carrier (inapparent) adalah mereka yang dalam sejarahnya tidak
pernah menampakkan menderita penyakit tersebut secara klinis akan tetapi
mengandung unsur penyebab yang dapat menular pada orang lain, seperti pada
penyakit poliomyelitis, hepatitis B dan meningococcus.
b. Incubatory carrier (masa tunas) adalah mereka yang masih dalam masa tunas,
tetapi telah mempunyai potensi untuk menularkan penyakit/ sebagai sumber
penularan, seperti pada penyakit cacar air, campak dan pada virus hepatitis.

c. Convalescent carrier (baru sembuh klinis) adalah mereka yang baru sembuh
dari penyakit menular tertentu, tetapi masih merupakan sumber penularan
penyakit tersebut untuk masa tertentu, yang masa penularannya kemungkinan
hanya sampai tiga bulan umpamanya kelompok salmonella, hepatitis B dan
pada dipteri.
Chronis carrier (menahun) merupakan sumber penularan yang cukup lama
seperti pada penyakit tifus abdominalis dan pada hepatitis B.
7. Pemeriksaan penunjang
Belum ada kesepakatan tentang nilai titer patokan, tidak sama masingmasing daerah tergantung endemisitas daerah masing-masing dan tergantung hasil
penelitiannya. Batas titer yang dijadikan diagnosis hanya berdasarkan kesepakatan
atau perjanjian pada satu daerah dan berlaku untuk daerah tersebut. Kebanyakan
pendapat bahwa titer O 1/320 sudah menyokong kuat diagnosis demam tifoid.
Diagnosis demam tifoid dianggap diagnosis pasti adalah bila didapatkan kenaikan
titer 4 kali lipat pada pemeriksaan ulang dengan interval 5-7 hari. Perlu diingat
bahwa banyak faktor yang mempengaruhi reaksi widal sehingga mendatangkan
hasil yang keliru baik negatif palsu atau positif palsu. Hasil tes negatif palsu
seperti pada keadaan pembentukan antibodi yang rendah.1
Diagnosis pasti dibuat berdasarkan adanya Salmonella dari darah melalui
kultur. Karena isolasi Salmonella relatif sulit dan lama, maka pemeriksaan
serologi widal untuk mendeteksi antigen O dan H sering dipakai sebagai
alternatif, meskipun sekitar 30% penderita menunjukkan titer yang tidak
meningkat.2
Pemeriksaan widal akan menunjukkan hasil yang signifikan apabila
dilakukan secara serial perminggu, dengan adanya peningkatan titer sebnyak

10

empat kali. Nilai titer yang dianggap positif demam tifoid tergantung dari tingkat
endemitas daerahnya. Laporan-laporan dari daerah menunjukkan nilai standar uji
Widal O positif yang berbeda-beda, misalnya Jakarta : titer >1/80. Yogyakarta :
titer .1/160, Surabaya : titer 1/160, Makassar : titer 1/320, dan manado : titer .
1/80. 2
Uji widal dilakukan untuk deteksi antibodi terhadap kuman S. Typhi. Pada
uji widal terjadi suatu reaksi aglutinasi antara antigen kuman S. Typhi dengan
antibodi yang disebut aglutinin. Antigen yang digunakan pda uji widal adalah
suspensi Salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Maksud
uji widal adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita
tersangka demam tifoid yaitu: a) aglutinin O (dari tubuh kuman), b) aglutinin H
(flagella kuman), c) aglutinin Vi (simpai kuman). Dari ketiga aglutinin tersebut
hanya aglutinin O dan H yang digunakan untuk diagnosis demam tifoid. Semakin
tinggi titernya semakin tinggi besar kemungkinan terinfeksi kuman ini.7
Walaupun pada pemeriksaan darah perifer lengkap sering ditemukan
leukopenia, dan dapat pula terjadi kadar leukosit normal atau leukositosis.
Leukositosis dapat terjadi walaupun tidak disertai infeksi sekunder. Selain itu
dapat pula ditemukan anemia ringan dan trombositopenia. Pada pemeriksaan
hitung jenis leukosit dapat terjadi aneosinofilia maupun limfopenia. Laju endap
darah pada demam tifoid dapat meningkat.7
SGOT dan SGPT seringkali meningkat, tetapi akan kembali menjadi
normal setelah sembuh. Kenaikan SGOT dan SGPT tidak memerlukan penangnan
khusus.7
Hasil biakan darah yang positif memastikan demam tifoid, akan tetapi
hasil negatif tidak menyingkirkan demam tifoid, karena mungkin disebabkan oleh

11

beberapa hal sebagai berikut : 1) telah mendapat terapi antibiotik. Bila pasien
sebelum dilakukan kultur darah telah mendapat antibiotik, pertumbuhan kuman
dalam media biakan terhambat dan hasil mungkin negatif, 2) volume darah yag
kurang (diperlukan kurang lebih 5 cc darah). Bila darah yang dibiak terlalu sedikit
hasil biakan akan negatif. 3) riwayat vaksinasi. Vaksinasi dimasa lampau
menimbulkan antibodi dalam darah pasien. Antibodi (aglutinin) ini dapat menekan
bakteremia hingga biakkan darah dapat negatif, 4) saat pengambilan darah setelh
minggu pertama, pada saat aglutinin semakin meningkat.7
6. Penatalaksanaan
Terapi pada demam tifoid adalah untuk mencapai keadaan bebas demam
dan gejala, mencegah komplikasi, dan menghindari kematian. Yang juga tidak
kalah penting adalah eradikasi total bakeri untuk mencegah kekambuhan dan
keadaan carrier.2
a. Perawatan umum dan nutrisi1
Penderita demam tifoid, dengan gambaran klinik yang jelas sebaiknya
dirawat dirumah sakit atau saran kesehatan lain yang ada fasilitas
perawatan. Tujuan perawatan adalah :
- Optimalisasi pengobatan dan mempercepat penyembuhan
- Observasi terhadapa perjalanan penyakit
- Minialisasi komplikasi
- Isolasi untuk menjamin pencegahan terhadap pencenaran dan atau
kontaminasi
Penderita yang dirawat harus tirah baring dengan sempurna untuk
mencegah komplikasi. Terutama perdarahan dan perforasi, bila klinis berat,
penderita harus istrahat total. Bila terjadi penurunan kesadaran maka posisi
tidur pasien harus diubah-ubah pada waktu tertentu untuk mencegah
dekubitus. Penyakit mebaik, maka dilakukan mobilisasi secara bertahap,

12

sesuai dengan pulihnya kekuatan penderita. Buang air besar dan kecil
sebaiknya dibantu oleh perawat.1
Penderita harus mendapatkan cairan yang cukup, baik secara oral
maupun parenteral. Cairan parenteral diindikasikan untuk penderita sakit
berat, ada komplikasi, penurunan kesadaran, serta yang suli makan. Dosis
ciran parenteral adalah sesuai dengan kebutuhan harian (tetesan rumatan).
Bila ada komplikasi dosis cairan disesuaikan dengan kebutuhan. Cairan
harus mengandung elektrolit dan kalori yang optimal.1
Diet harus mengandung kalori dan protein yang cukup, sebaiknya
rendah selulose (rendah serat) untuk mencegah perdarahan dan perforasi.
Diet untuk penderita tifoid biasanya diklasifikasikan atas : diet cair, bubur
lunak, tim dan nasi biasa. Bila keadaan penderita baik diet dapat dimulai
dengan diet padat atau tim (diet padat dini). Tapi bila penderita dengan
klinis berat sebaiknya dimulai dengan bubur atau diet cair yang selanjutnya
dirubah secara bertahap sampai padat sesui dengan tingkat kesembuhan
penderita. 1,2
Prinsip-Prinsip Pengaturan Diet pada Demam 5
1) Energi diberikan lebih tinggi karena kenaikan energi basal
2) Protein diberikan tinggi karena karena terdapat peningkatan pemecahan
protein dan peningkatan kebutuhan system imun akibat peradangan
seperti : leukosit dan sebagainya
3) Cairan diberikan tinggi karena banyak kehilangan cairan melalui
pernafasan, muntah, diare, keringat dan kebutuhan untuk untuk
menstabilkan suhu tubuh
4) Elektrolit (mineral) terutama Na dan K diberikan tinggi untuk koreksi
keseimbangan akibat demam.

13

5) Bentuk makanan sebaiknya diberikan minimal lunak dan berlaku syaratsyarat pengolahan menurut konsistensi lunak serta pemilihan bahan
makanan menurut syarat bentuk makanan lunak.
6) Pada kondisi demam diberikan makanan dalam bentuk olahan
menggunakan cairan lebih banyak (berkuah) atau banyak menggunakan
olahan buah dalam bentuk disetup atau dibuat jus /dibuat sari buah.
7) Peningkatan kebutuhan vitamin untuk proses optimalisasi energi
terutama vitamin B komplek.
8) Sebaiknya lemak dikurangi terutama sumber bahan makanan yang
mengandung lemak pro inflamasi yaitu asam lemak, omega 6, minyak

b. Terapi simptomatik 1
Terapi simptomatik dapat diberikan dengan pertimbangan untuk perbaikan
keadaan umum penderita :
- Roboransia/vitamin
- Antipiretik
- Anti emetik
c. Antimikroba
Pemilihan antibiotik tergantung pada pola sensitivitas isolat Salmonella
typhi setempat. Terdapat 2 kategori resistensi antibiotik yaitu resisten
terhadap

antibiotik

kelompok

chloramphenicol,

ampicillin,

dan

trimethoprim, sulfamethoxazole (kelompok MDR) dan resisten terhadap


antibiotik fluoroquinolone. Nalidixic acid resistant Salmonella typhi
(NARST)

merupakan

petanda

berkurangnya

sensitivitas

terhadap

fluoroquinolone. Terapi antibiotik yang diberikan untuk demam tifoid tanpa


komplikasi berdasarkan WHO tahun 2003 dapat dilihat pada tabel dibawah
ini.

14

Tabel 1. Antibiotik yang diberikan pada demam tifoid tanpa komplikasi menurut
WHO 2003 2
Optimal therapy
Daily
Susceptibility

Antibiotic

dose

Alternative effective drugs


Daily
Days

Antibiotic

mg/kg

dose

Days

mg/kg

Fluoroquinolo
Chloramphenico

50-70

14-21

l Amoxicillin

75-100

14

TMP-SMX

8-40

14

Fully

n e.g ofloxacin

sensitive

or

Multidrug

ciprofloxacin
Fluoroquinolo

15

5-7

Azithromycin

8-10

resistance

n or cefixime

15-20

7-14
7

Cefixime

15-20

7-14

Quinolon

Azithromycin

8-10
10-

Cefixime

20

7-14

15

resistance

or ceftriaxone

5-7

75
14

15

Dari referensi lain mengatakan terapi untuk anti mikroba pada penderita demam
typhoid adalah sebagai berikut :
Tabel 2. Terapi antibiotik untuk demam typhoid pada dewasa1

16

7. Komplikasi
Dapat terjadi pada :
1) Usus halus
Umumnya jarang terjadi, akan tetapi sering fatal yaitu :
a. Perdarahan usus. Bila sedikit hanya ditemukan jika dilakukan
pemeriksaan tinja dengan benzidine. Bila perdarahan banyak terjadi
melena dan bila berat dapat dapat disertai perasaan nyeri perut
dengan tanda-tanda renjatan.
b. Perforasi usus. Timbulnya biasanya pada minggu ketiga atau setelah
itu dan terjadi pada bagian distal ileum. Perforasi yang tidak disertai
peritonitis hanya dapat ditemukan bila terdapat udara dirongga
peritoneum, yaitu pekak hati mengilang, dan terdapat udara diantara
hati dan diafragma pada foto roentgen abdomen yang dibuat dalam
keadaan tegak.
c. Peritonitis. Biasanya menyertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa
perforasi usus. Ditemukan gejala abdomen akut yaitu nyeri perut
yang hebat, dinding abdomen tegang (defense muscular) dan nyeri
tekan. 1
2) Komplikasi diluar usus
a. Hepatitis tifosa
Demam tifoid disertai dengan gejal-gejala ikterus, hepatomegali dan
kelainan tes fungsi hati dimana didaptkan peningkatan SGOT dan
SGPT dan bilirubin darah. Pada histopatologi hati didaptkan nodul
tifoid dan hiperplasia sel kuffer. 1
b. Pankreatitis tifosa
Merupakan komplikasi yang terjadi, gejala-gejalanya adalah sama
dengan gejala pankreatitis. Penderita nyeri perut hebat disertai mual

17

dan muntah warna kehijauan, metorismus dan bising usus menurun.


Enzim lipase dan emilasi meningkat. 1
c. Komplikasi lain
Karena basil salmonella bersifat intra makrofag, dan dapat beredar
keseluruh bagian tubuh, maka dapat mengenai banyak organ yang
menimbulkan infeksi yang bersifat fokal, diantaranya :
- Osteomielitis, artritis
- Miokarditis, perikarditis, endokarditis
- Pielonefritis, orkhitis
- Serta peradangan-peradangan ditempat lain. 1
8. Pencegahan demam tifoid
Pencegahan demam tifoid melalui gerakan nasional sangat diperlukan
karena akan berdampak cukup besar terhadap penurunan kesakitan dan
kematian akibat demam tifoid. Menurunkan anggaran pengobatan pribadi
maupun negara, mendatangkan devisa negara yang berasal dari wisatawan
mancanegara

karena

telah

hilangnya

predikat

negara

endemik

dan

hiperendemik sehingga mereka tidak takut lagi terserang tifoid saat berada
didaerah kunjungan wisata. 7
Pencegahan transmisi langsung dari penderita terinfeksi S. Typhi akut
maupun karier. Kegiatan ini dilakukan dirumah sakit, klinik maupun dirumah
dan lingkungan sekitar orang yang telah diketahui pengidap S. Typhi. 7

18

19

BAB III
LAPORAN KASUS
1. Identitas pasien
Nama

: Tn. A

Umur

: 15 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Jl. Tg. Santigi

Pendidikan terakhir

: Pelajar SMP

Agama

: Islam

Tanggal pemeriksaan : 28 Februari 2015


Ruangan

: Seroja

2. Anamnesa
Keluhan utama

: Demam

Riwayat penyakit sekarang

Os masuk dengan keluhan demam sejak satu minggu yang lalu.


Demam dirasakan naik turun terutama pada sore atau malam hari. Pasien
juga merasa pusing dan sakit kepala disertai mual dan muntah sejak
terjadinya demam. Pasien juga mengeluh-kan nafsu makan menurun sejak
satu minggu yang lalu. Batuk (-), sesak napas (-), nyeri otot (-). BAK
lancar, BAB encer sejak 3 hari yang lalu,3-4 kali sehari.

20

Riwayat Penyakit terdahulu : Riwayat magh (+)


Riwayat penyakit terdahulu : 3. Pemeriksaan fisik
Tanda vital
TD

: 120/80 mmHg

Nadi

: 68 x/menit

Respirasi

: 24 x/menit

Suhu

: 36.80 C

Kepala
Wajah

: Deformitas (-)

Bentuk

: Normochepal

Mata

:
-

Mulut

Konjungtiva
: anemis -/Sclera
: ikterik -/Pupil
: bulat, isokor kiri dan kanan
: lidah kotor (+), tremor (-)

Leher
Kelenjar GB
Kelenjar Tiroid
JVP
Massa Lain

: Tidak ada pembesaran


: Tidak ada pembesaran
: RS + 2cm H2O
: tidak ada

Dada
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Jantung
Inspeksi
Palpasi

: Simetris bilateral, tidak ada retraksi otot


: Tidak ada massa, Vocal Fremitus kanan=kiri, jejas(-)
: Sonor disemua lapang paru
: Vesikuler +/+, RH -/-, WH, -/: Ictus cordis tidak terlihat
: Ictus cordis teraba di SIC 5 midclavicula sinistra

21

Perkusi
Auskultasi

:
Batas atas
: SIC 2 linea parasternal dextra et sinistra
Batas kanan
: SIC 4 linea parasternal dextra
Batas kiri
: SIC 4 linea midclavicula sinistra
: BJ I/II regular, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi
Auskultasi
Perkusi
Palpasi

: Kesan datar, massa (-)


: peristaltic usus (+) kesan meningkat
: tympani semua kuadran abdomen
: Nyeri tekan epigastric

Anggota gerak
Atas
: edema (-), Akral hanagat (+), deformitas (-)
Bawah
: edema (-), Akral hangat (+), deformitas (-)
Pemeriksaan khusus : Tes Rumpleed (-)
4. Pemeriksaan penunjang
RBC 4.65 x 106/mm3
WBC 4.3 x 103/mm3
HGB 13 g/dL
HCT 37.8 %
PLT 239 x 103/mm3
5. Resume
Laki-laki usia 15 tahun masuk dengan keluhan febris sejak satu minggu
yang lalu. Febris dirasakan naik turun terutama pada sore atau malam hari.
Chepalgia (+), nausea (+), Vomitting (+), anoreksia (+), BAK lancar, BAB encer.
TD 120/80; nadi 68x/min; respirasi 24x/min; suhu 36.8 oC
Pemeriksaan fisik, lidah kotor (+), nyeri tekan epigastric (+), tes rumpleed (-)
6. Dignosa Kerja
Susp demam typhoid
7. Diagnose Banding
- Malaria
- DBD
8. Penatalaksanaan
Non Medikamentosa :
- Bed rest
- Diet lunak
Medikamentosa
:
- IVFD RL 28 tpm
- PCT 500 mg 3x1

22

Antasida 3x1 AC
Ranitidine inj/8jam

9. Anjuran Pemeriksaan
Cek widal, DDR, rumpleed tes
Widal

:
-

DDR

Salmonella Typhi (O)


Salmonella Typhi (H)
Salmonella Paratyphi A (AH)
Salmonella Paratyphi B (BH)

(+) 1/320
(+) 1/160
Negatif
Negatif

: Tidak ditemukan plasmodium

Terapi akhir :
- Tiamfenicol 500mg 3-4 x sehari dalam 14-21 hari
- PCT 500 mg 3x1 (kalau perlu)
- Antasida 3x1 (kalau perlu)
- Imboost
10. Diagnosa akhir

Demam thypoid
11. Prognosis
Bonanm
BAB IV
PEMBAHASAN
Pasien ini didiagnosis menderita demam thypoid dengan gejala demam,
sakit kepala, mula, muntah, penurunan nafsu makan serta diare. Gejala yang
dialami oleh pasien, merupakan suatu hal yang lazim terjadi untuk pasien yang
terinfeksi thypoid. Gejala ini timbul karena pada saat kuman S. typhi dalam
jumlah tertentu masuk melalui saluran cerna dan berhasil melewati asam lambung

23

hingga usus halus, akibatnya meski kuman yang masuk jumlanya hanya sedikit,
pasien tersebut akan tetap terinfeksi dan jatuh sakit. Setelah sampai di usus halus,
kuman ini akan menempel di kelenjar getah bening di dinding usus bagian dalam
(plak Peyer). Lalu kuman menembus dinding usus bagian dalam dan menyebar ke
kelenjar getah bening usus lainnya sampai ke hati dan limpa. Waktu yang
dibutuhkan sejak kuman masuk sampai timbul gejala (masa inkubasi) sekitar 7-14
hari. Setelah itu kuman S. typhi akan masuk ke dalam darah (bakteriemia) dan
dapat menyebar ke berbagai organ tubuh. Tempat bersarangnya kuman ini selain
hati dan limpa adalah kandung empedu, sumsum tulang dan ada juga yang tetap
menetap di plak Peyer.3
Setelah kuman masuk ke dalam saluran cerna, akan ada masa tanpa gejala
(masa inkubasi) sekitar 7-14 hari. Pada saat bakteriemia, akan timbul demam.
Suhu tubuh awalnya akan naik perlahan dan lebih tinggi setiap malamnya dari
malam sebelumnya, dikenal dengan istilah Stepping ladder. Oleh karena itu, suhu
tubuh harus diukur menggunakan termometer dan bukan hanya dengan perabaan.
Hal ini berlangsung selama 7 hari, lalu setelah itu, suhu tubuh akan menetap
tinggi sekitar 39-40 oC. 3
Selain demam, juga akan muncul gejala lain seperti flu-like symptoms,
sakit kepala, lesu, tidak nafsu makan, mual, rasa tidak nyaman di perut yang sukar
dilokalisir, batuk kering, konstipasi atau diare. Pada anak-anak (pasien ini) dengan
penurunan sistem kekebalan tubuh, diare lebih sering terjadi dibanding
konstipasi.3

24

Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium menggunakan specimen


darah, dapat diketahui bahwa leukosit pasien normal dan pasien mengalami
trombositopenia. Pasien ini mengalami penurunan jumlah trombosit darah atau
trombositopenia. Hal ini dapat terjadi karena peningkatan kekurangan cairan atau
zat gizi pada penderita demam typhoid akibat adanya diare, mual atau muntah dan
pendarahan terus menerus yang mengakibatkan kurangnya trombosit dalam darah
sehingga pembekuaan luka menjadi menurun.
Pada terapi awal, pasien di berikan infuse Ringer Laktat (RL) dengan
kecepatan 28 tetes permenit, yang bertujuan untuk menanggulangi keadaan
sirkulasi, menjamin intake atau keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh
pasien serta membantu dalam pemberian obat-obatan intravena berkesinambungan.
Pasien juga diberikan injeksi ranitidin 50 mg dalam 2 ml ampul yang
diberikan tiap 8 jam atau 3 kali sehari untuk menghilangkan nyeri lambung yang
dialami pasien dengan mekanisme kerja yakni sebagai histamine antagonis
reseptor H2 yang menghambat kerja histamine secara kompetitif pada reseptor H2
dan mengurangi sekresi asam lambung. Obat ini juga dikombinasikan dengan
antasida yang diminum secara oral 3 kali sehari untuk memperoleh kerja obat
yang cepat. Namun konsumsi obat dihentikan ketika gejala nyeri lambung telah
hilang.11
Pada terapi awal, pasien juga diberikan PCT 500 mg yang diminum 3 kali
sehari hingga demam pasien hilang dengan mekanisme obat yakni menghambat
pembentukan prostaglandin (mediator nyeri) di otak. 11

25

Untuk mengetahui diagnosa pasti pada pasien ini maka dilakukan


pemeriksaan penunjang untuk menyingkirkan diagnose banding. Pada pasien ini
dilakukan pemeriksaan widal untuk menegakkan secara pasti diagnosa demam
typoid. Selain itu dilakukan pemeriksaan malaria/DDR untuk mengetahui adanya
plasmodium pada pasien ini untuk menegakkan diagnose malaria, dan yang
terakhir dilakukan tes rumpleed untuk mengetahui adanya kebocoran plasma
sehingga dapat membantu menegakkan diagnose demam dengue.
Pada hasil pemeriksaan widal pasien, diperoleh Titer 1/160 pada antigen H
yang seharusnya masih dilihat dulu dalam 1 minggu kedepan, apakah ada
kenaikan titer. Jika ada, maka dinyatakan (+). Namun, pada hasil widal antigen O,
hasil pemeriksaan diperoleh titer 1/320 pada tes pertama yang artinya dapat
langsung disimpulkan bahwa positif (+) thypoid.
Terapi akhir yang diberikan kepada pasien setelah didiagnosis mengalami
thypoid berupa terapi secara farmakologi dan non farmakologi. Terapi nonfarmakologis yang diberikan kepada pasien tersebut yakni diet lunak, diet biasa
dan akhirnya dapat diberikan diet padat tergantung pada keadaan pasien. Teori
juga membenarkan jenis terapi ini yang mengatakan bahwa diet makanan
diberikan secara bertahap sesuai dengan keadaan penyakitnya (mula-mula lunak
kemudian makanan biasa), Makanan mengandung cukup cairan, cukup energi,
dan tinggi protein serta, tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang
maupun menimbulkan banyak gas. Tirah baring absolut sampai minimal 7 hari
bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari untuk mencegah terjadinya

26

komplikasi, mempercepat penyembuhan. Posisi tubuh harus diubah setiap 2 jam


untuk mencegah dekubitus.1
Terapi farmakologi yang diberikan yakni berupa antibiotika turunan
kloramfenikol yakni tiamfenikol 500 mg, diminum sebanyak 3-4 kali sehari
selama 14 sampai 21 hari. tiamfenikol memiliki mekanisme kerja seperti
kloramfenikol, namun komplikasi hematologis pada penggunaan tiamfenikol lebih
jarang daripada kloramfenikol. Kloramfenikol bekerja dengan jalan menghambat
sintesis protein kuman, untuk pasien ini kloramfenikol dan turunannya masih
merupakan obat pilihan utama, meskipun berdasarkan penelitian diketahui bahwa
antibiotika

golongan

flourokuinolon

lebih

baik

dibandingkan

dengan

kloramfenikol, namun penggunaan antibiotika golongan flourokuinolon tidak baik


diberikan bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan karena dapat mengakibatkan
gangguan pertumbuhan dan kerusakan sendi. Sehingga pasien ini tetap diberikan
antibiotika turunan kloramfenikol.11
Selain antibiotika, pasien juga dapat diberikan PCT 500 mg 3 kali sehari
jika perlu, obat ini diberikan jika pasien masih merasa demam dan sakit kepala
dan konsumsi obat dihentikan ketika gejala tersebut hilang. PCT merupakan obat
analgetik-antipiretik yang bekerja menghambat pembentukan prostaglandin
(mediator nyeri) di otak. Selain itu, pasien diberikan obat maag yakni antasida jika
perlu, yaitu ketika nyeri pada lambung masih terasa. Antasida memiliki
mekanisme kerja yakni kombinasi Alluminium Hidroksida dengan Magnesium
Hidroksida bekerja menetralkan asam lambung dan menginaktifkan pepsin,
sehingga rasa nyeri ulu hati akibat iritasi oleh asam lambung dan pepsin

27

berkurang. Antasida dikonsumsi 3 kali sehari sebelum makan. Disamping itu


pasien juga perlu diberikan vitamin yang dapat menjaga daya tahan tubuh dan
meningkatkan nafsu makan, sehingga vitamin imboost diberikan kepada pasien
ini.11
Prognosis pada pasien ini baik dikarenakan setelah dilakukannya
perawatan dirumah sakit pasien pulang dengan kondisi yang membaik dan tanpa
komplikasi. Pada umumnya, prognosis pada pasien demam tifoid tergantung dari
tepatnya terapi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Kementerian kesehatan Republik Indonesia. Pedoman pengendalian demam
typhoid. Jakarta: Kepmenkes; 2006. P.2-10, 14-19.
2. Nelwan R, Tata Laksana Terkini. Cermin dunia kedokteran vol.39 no.4:
jakarta: 2012. Devisi penyakit tropik da infeksi Departemen ilmu penyakit
dalam FKUI. P. 247-250.

28

3. Santoso H, Kajian Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Pada Kasus Demam


Tifoid Yang Dirawat Pada Bangsal Penyakit Dalam Di Rsup Dr.Kariadi
Semarang Tahun 2008. Semarang : Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro. 2009.
4. Nainggolan R. Karakteristik Penderita Demam Tifoid Rawat Inap di Rumah
Sakit Tentara TK-IV 01.07.01 Pematangsiantar tahun 2008. Fakultas
Kesehatan Masyarakat.Medan.2009
5. WHO & Depkes RI. buku saku asuhan gizi dipuskesmas. Jakarta: World
health organization; 2012. P. 151-154.
6. Widoyono, Penyakit tropis, epidemiologi penularan & pemberantasannya. 2nd
ed. Jakarta: Erlangga; 2011. P. 41-46.
7. Widodo D. Buku ajar ilmu penyakit dalam. 4th ed. Jakarta: Pusat penerbitan
ilmu penyakit dalam FKUI; 2006. P. 1752-1756.
8. Ahmed N, Dawson M, Smith C, Wood E. Biology of disease. France: Taylor
& francis group; 2007. P.53
9. WHO. The diagnosis, treatment and prevention of typhoid fever.
Communicable Disease Surveillance and Response Vaccines and Biologicals.
Switerland: World health organisation; 2003. P.1-2,19-21.
10. Hasibuan, SI. Karakteristik Penderita Demam Tifoid Rawat Inap Di Rumah
Sakit Sri Pamela PTPN 3 Tebing Tinggi. Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara. Medan. 2009.
11. Tjay, TH dan Kirana R. Obat-Obat Penting. Edisi Ke-5. PT Elec Media
Komputindo. Jakarta. 2003

29