Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Saat ini masyarakat Indonesia sedang di hadapkan pada ancaman HIV/AIDS dan
narkotika yang sudah mewabah hampir ke seluruh pelosok tanah air. Fakta ini dapat dilihat
melalui media massa baik elektronik maupun media cetak yang banyak mengangkat topik
yang berhubungan dengan persoalan HIV/AIDS dan narkotika. HIV (Human
Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan
kemudian menimbulkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). AIDS merupakan
sekumpulan gejala yang timbul akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia yang
disebabkan oleh virus HIV. Seseorang baru dikatakan AIDS apabila sudah menampakkan
berbagai gejala penyakit yang menyerng tubuh karena hilangnya daya tahan tubuh
(Ajisuksmo dan Clara, 2004).
Perkembangan permasalahan HIV/AIDS semakin lama semakin mengkhawatirkan.
Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) telah
mencapai lebih dari 60 juta orang dan 20 juta di antaranya telah meninggal. Tidak
mengherankan bila permasalahan HIV/AIDS telah menjadi epidemi di hampir 190 negara.
Data dari The Joint United Nation Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) pada Desember
2004 tercatat 35,9 44,3 juta ODHA dan 2,0 2,6 juta di antaranya adalah anak-anak
dibawah usia 15 tahun. Data UNAIDS menunjukkan pula bahwa proporsi perempuan
mencapai 49,74% yang berarti semakin besar kemungkinan perempuan yang melahirkan bayi
yang kemungkinan telah atau akan terinfeksi HIV. Selain itu akan semakin banyak pula anakanak yatim piatu karena orang tuanya meninggal karena AIDS (Depkes RI, 2006).
HIV/AIDS dapat menular melalui hubungan seks yang tidak aman, penggunaan jarum
suntik yang tidak steril dan secara bergantian pada kelompok pengguna Napza suntik
(Penasun), tranfusi darah yang terinfeksi HIV, dan penularan dari ibu yang terinfeksi HIV ke
anak yang dikandungnya (Depkes RI, 2006). Napza dapat menularkan HIV/AIDS bukan
karena dalam obat-obatan terlarang itu terdapat virus HIV melainkan karena HIV dapat
ditularkan lewat jarum-jarum suntik yang digunakan para pemakai Napza untuk
menyuntikkan obat-obat terlarang yang pernah digunakan oleh orang lain. Orang-orang yang
sudah kecanduan obat-obatan terlarang yang tidak menggunakan Napza suntik juga berisiko
tertular HIV/AIDS. Tidak sedikit dari mereka yang menjual seks demi obat-obatan dan uang.
Mereka mungkin sangat membutuhkan obat-obatan sehingga mereka berhubungan seks yang
tidak aman.
Untuk menahan serta menghalangi laju penyebaran HIV di kalangan penasun, maka
dikembangkanlah suatu pendekatan yang disebut Pengurangan Dampak Buruk atau Harm
Reduction. World Health Organisation (WHO), sebagai badan United Nation (UN) yang
mengurusi bidang kesehatan mendiskripsikan Pengurangan Dampak Buruk Napza sebagai
berikut: Konsep, yang digunakan dalam wilayah kesehatan masyarakat, yang bertujuan
untuk mencegah atau mengurangi konsekuensi negatif kesehatan yang berkaitan dengan
perilaku. Yang dimaskud dengan perilaku yaitu perilaku penggunaan Napza dengan jarum

suntik dan perlengkapannya (jarum suntik dan peralatan untuk mempersiapkan Napza
sebelum disuntikan). Komponen pengurangan dampak buruk Napza merupakan intervensi
yang holistik/komprehensif yang bertujuan untuk mencegah penularan HIV dan infeksi
lainnya yang terjadi melalui penggunaan perlengkapan menyuntik untuk menyuntikan Napza
yang tidak steril dan digunakan secara bersama-sama. (Depkes RI, 2006).
Salah satu ilustrasi yang sering dikemukakan dalam menjelaskan dasar pemikiran
pengurangan dampak buruk Napza adalah kewajiban mengenakan sabuk pengaman bagi
pengendara mobil. Sangat disadari, bahwa mengendarai mobil sebagai suatu kegiatan
berisiko akan terjadinya kecelakaan, tapi hal ini tidak mengurangi orang untuk
melakukannya. Potensi bahaya yang ada diantisipasi dengan menggunakan sabuk
penggaman, yang meminimalkan risiko bahaya kecelakaan yang mungkin terjadi.
Menggunakan sabuk pengaman tidak mencegah terjadinya kecelakaan tetapi mengurangi
dampak kecelakaan bagi si pengendara. Demikian juga dengan pengurangan dampak buruk
Napza, walaupun penggunaan Napza adalah perilaku berisiko, namun dalam kehidupan nyata
hal tersebut ada yang tetap melakukan. Karena itu upaya dilakukan untuk mengantisipasi
timbulnya dampak-dampak buruk lain terkait dengan penggunaan Napza, misalnya upaya
pencegahan penularan HIV (Depkes RI, 2006). Jadi, Harm Reduction lebih mengutamakan
pencegahan dampak buruk Napza, bukan pencegahan penggunaan Napza.
Pro-Kontra Harm Reduction Napza Suntik terjadi di banyak tempat, termasuk
Indonesia. Pendekatan Harm Reduction menimbulkan kontroversi karena dipandang oleh
sebagian kalangan sebagai tindakan melegitimasi penggunaan Napza. Kontroversi ini muncul
karena kalangan penentang belum memahami secara utuh maksud dan tujuan Harm
Reduction, sehingga mereka menganggap bahwa program ini sama saja mendukung atau
meberi fasilitas terhadap pemakai, dalam hal ini jarum suntik steril. Harm Reduction
sesungguhnya bertujuan untuk mencegah penyebaran HIV sesegera mungkin di kalangan
penasun, dengan kata lain lebih menekankan tujuan jangka pendek daripada tujuan jangka
panjang. Kalau pendekatan ini tidak dilakukan, maka semua tujuan jangka panjang seperti
penghentian penggunaan Napza dan rehabilitasinya akan sia-sia belaka. Oleh karena itu,
pendekatan ini seharusnya dipandang sebagai pendekatan penting dalam mewujudkan
kesehatan masyarakat secara lebih luas.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Harm Reduction?
2. Apa tujuan dilaksanakannya Harm Reduction?
3. Apa saja program-program yang dijalankan dalam Harm Reduction?
4. Mengapa Harm Reduction perlu untuk dilakukan?
5. Bagaimana penerapan Harm Reduction di Indonesia?
C. Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Harm Reduction
2. Mengetahui tujuan dilaksanakannya Harm Reduction
3. Mengetahui program-program yang dijalankan dalam Harm Reduction
4. Memahami mengapa Harm Reduction perlu untuk dilakukan
5. Mengetahui penerapan Harm Reduction di Indonesia
BAB II

PEMBAHASAN
A. HIV dan AIDS di Indonesia
1. Situasi HIV dan AIDS di Indonesia
Sejak 1987, jumlah kasus HIV dan AIDS dalam kurun waktu 13 tahun yang
semula meningkat perlahan-lahan, mulai 2000 menunjukkan peningkatan yang
sangat tajam. Untuk mengembangkan kebijakan strategi, situasi dibagi dalam dua
periode.
Situasi 1987 2002
Pada 10 tahun pertama periode ini peningkatan jumlah kasus HIV dan AIDS
masih rendah. Pada akhir 1997 jumlah kasus AIDS kumulatif 153 kasus dan HIV
positif baru 486 orang yang diperoleh dari serosurvei di daerah sentinel. Penularan
70% melalui hubungan seksual berisiko. Sejak akhir 2002 terlihat kenaikan yang
sangat tajam dari jumlah kasus AIDS dan di beberapa daerah pada sub-populasi
berisiko tinggi angka prevalensi sudah mencapai 5%, sehingga sejak itu Indonesia
dimasukkan kedalam kelompok negara dengan epidemi terkonsentrasi. Jumlah
kasus yang dilaporkan pada 2002 menjadi 1016 AIDS dan 2552 HIV positif.
Jumlah ini jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan estimasi Departemen
Kesehatan bahwa pada 2002 terdapat 90.000 120.000 kasus. Peningkatan yang
pesat itu disebabkan penularan melalui penggunaan jarum suntik tidak steril di
sub-populasi pengguna napza suntik (penasun) sementara penularan melalui
hubungan seksual berisiko tetap berlangsung.
Situasi 2003 2006
Pada akhir 2003 jumlah kasus AIDS yang dilaporkan bertambah 355
sehingga total berjumlah 1371, semantara jumlah kasus HIV positif bertambah
168 sehingga total berjumlah 2720. Pada akhir 2003 terdapat 25 provinsi
melaporkan kasus AIDS. Penularan di sub-populasi penasun meningkat menjadi
26%. Peningkatan jumlah kasus AIDS terus terjadi, dimana pada akhir Desember
2004 berjumlah 2682, pada akhir Desember 2005 naik hampir dua kali lipat
menjadi 5321 dan pada akhir September 2006 jumlah kasus sudah menjadi 6871.
Semua angka kasus tersebut berdasarkan laporan oleh 32 dari 33 provinsi.
Estimasi 2006 jumlah orang yang terinfeksi HIV diperkirakan mencapai 169.000
216.000 orang. Data 3 hasil surveilans sentinel Departemen Kesehatan
menunjukkan terjadinya peningkatan prevalensi HIV positif pada sub-populasi
berperilaku berisiko, dikalangan penjaja seks (PS) tertinggi 23% dan di kalangan
penasun 48% dan pada penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) sebesar 68%.
Peningkatan prevalensi HIV positif terutama terjadi di kota-kota besar, sementara
peningkatan prevalensi di kalangan PS terjadi di kota-kota besar dan kecil bahkan
di pedesaan, terutama di Provinsi Papua dan Irian Jaya Barat. Di kedua provinsi
terakhir ini epidemi sudah cenderung menyerang populasi umum yang terlihat dari
kasus-kasus yang ditemukan di kalangan ibu rumah tangga baik di kota maupun di
pedesaan. Distribusi usia penderita AIDS pada 2006 memperlihatkan tingginya
persentase jumlah usia muda dan jumlah usia anak. Penderita dari golongan usia

20-29 tahun mencapai 55%, dan bila digabung dengan golongan usia sampai 49
tahun, maka angka menjadi 89%. Sementara persentase anak 5 tahun kebawah
mencapai 1%. Diperkirakan pada 2006 sebanyak 4360 anak tertular HIV dari
ibunya yang HIV positif dan separuhnya telah meninggal.
2. Respons Terhadap HIV dan AIDS
Respons Tahun 1985 2002
Respons Nasional terhadap epidemi HIV dan AIDS di Indonesia telah
dimulai pada tahun 1985 dan terus meningkat selaras dengan meningkatnya jenis
dan besaran masalah yang dihadapi baik oleh pemerintah maupun oleh 7
masyarakat. Respons utama dalam kurun waktu tersebut meliputi pembentukan
Kelompok Kerja Penanggulangan AIDS di Departemen Kesehatan, penetapan
wajib lapor kasus AIDS, penetapan laboratorium untuk pemeriksaan HIV,
penyiapan dan penyebaran bahan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE).
Surveilans HIV pada sub-populasi tertentu dilakukan demikian pula peningkatan
kapasitas tenaga kesehatan dan nonkesehatan dalam menghadapi epidemi serta
lahirnya banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli terhadap HIV
dan AIDS.
Pada tahun 1994 dengan Keputusan Presiden Nomor 36, Pemerintah
membentuk Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) di tingkat Pusat disusul dengan
terbentuknya KPA di beberapa provinsi. Strategi Nasional Penanggulangan HIV
dan AIDS (STRANAS 1994) merupakan respons yang sangat penting pada
periode tersebut. KPA mulai mengkoordinasikan upaya penanggulangan yang
dilaksanakan pemerintah dan LSM, sementara itu bantuan dari luar negeri baik
bantuan bilateral maupun multi lateral mulai berperan meningkatkan upaya
penanggulangan. Bantuan-bantuan tersebut terus meningkat baik jenis maupun
besarannya pada masa-masa berikutnya.
Pada Maret dan November 2002 Pemerintah mengadakan Sidang Kabinet
Khusus HIV dan AIDS yang memutuskan hal-hal penting antara lain:
Departemen / Lembaga harus memberikan komitmen dan respons yang kuat
untuk menghambat lajunya epidemi HIV dan AIDS;
Adanya Gerakan Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS sampai tahun
2010;
Menetapkan Penanggulangan HIV dan AIDS sebagai Prioritas Pembangunan
Nasional dan dicantumkan dalam Perencanaan Strategis Pembangunan
Nasional masing-masing Departemen/Lembaga terkait;
Menetapkan ketersediaan dana nasional Gerakan Nasional Stop HIV dan AIDS
setiap tahun;
Menetapkan dan memperkuat organisasi KPA untuk mengkoordinasikan upaya
penanggulangan HIV dan AIDS.

Respons tahun 2003 2006


Pada tahun 2003 STRANAS 20032007 diluncurkan sebagai respons
terhadap berbagai perubahan, tantangan dan masalah HIV dan AIDS yang

semakin besar dan rumit. Mulai tahun 2003 sampai sekarang Departemen
Pendidikan Nasional telah melancarkan program Pendidikan Kecakapan Hidup di
sekolah-sekolah. Tahun 2004 Program penanggulangan HIV dan AIDS di tempat
kerja diluncurkan oleh Departemen Tenaga Kerja dan 8 Transmigrasi dengan
pemberlakuan Kaidah ILO. Untuk meningkatkan penyelenggaraan upaya
pengurangan dampak buruk (Harm Reduction) penyalahgunaan napza
ditandatangani Nota Kesepahaman tentang upaya terpadu pencegahan penularan
HIV dan AIDS dan pemberantasan penyalahgunaan NAPZA dengan cara suntik
antara Menko Kesra selaku Ketua KPA dan KAPOLRI selaku Ketua Badan
Narkotika Nasional (BNN) pada 2003. Akhirnya Peraturan Menko Kesra tentang
pengurangan dampak buruk di kalangan penasun dikelurkan pada Januari 2007.
Untuk memenuhi kebutuhan, maka obat ARV mulai diproduksi di dalam negeri
oleh perusahaan farmasi pemerintah PT. Kimia Farma. Percepatan respons di 6
provinsi dengan prevalensi HIV dan AIDS tertinggi dilakukan setelah Komitmen
Sentani pada Januari 2004 dan meluas ke 8 provinsi lainnya. Penanggulangan
HIV dan AIDS di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dimulai tahun 2005 dan
terus ditingkatkan. Pada awal 2005 diluncurkan program akselerasi di 100
kabupaten/kota di 22 provinsi, disertai dengan diberlakukannya Sistem
Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan HIV dan AIDS Nasional. Departemen
Kesehatan awalnya menyiapkan 25 rumah sakit, kemudian bertambah menjadi 75
rumah sakit untuk pelayanan CST, termasuk penyediaan ARV. Pada Juli 2006
Institusi KPA Nasional diperbaharui dengan Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun
2006 (Perpres 75/2006) yang melibatkan lebih banyak sektor, TNI, Polri, BNN
dan masyarakat sipil. Tahun 2006 diakhiri dengan perhitungan estimasi jumlah
sub-populasi rawan terhadap penularan HIV tahun 2006 sebagai dasar
perencanaan mendatang, penerbitan Peraturan MenkoKesra/Ketua KPA Nasional
tentang Kebijakan Penanggulangan HIV dan AIDS melalui Pengurangan Dampak
Buruk Penggunaan Jarum Suntik sebagai tindak lanjut dari Nota Kesepahaman
KPA-BNN yang ditandatangani pada tahun 2003 dan restrukturisasi sekretariat
KPA Nasional.

B. Harm Reduction (Pengurangan Dampak Buruk)


1. Definisi Harm Reduction

Pengurangan dampak buruk Napza berasal dari terjemahan Harm Reduction


dan bila diartikan secara kata perkata yaitu, harm = kerugian, kejahatan,
kerusakan, kesalahan sedangkan reduction = penurunan, pengurangan. Sehingga
Harm Reduction berarti pengurangan/ penurunan kerugian/ kerusakan.
World Health Organisation (WHO), sebagai badan United Nation (UN) yang
mengurusi bidang kesehatan mendiskripsikan Pengurangan Dampak Buruk Napza
sebagai berikut:
Konsep, yang digunakan dalam wilayah kesehatan masyarakat, yang
bertujuan untuk mencegah atau mengurangi konsekuensi negatif kesehatan yang
berkaitan dengan perilaku. Yang dimaskud dengan perilaku yaitu perilaku
penggunaan Napza dengan jarum suntik dan perlengkapannya (jarum suntik dan
peralatan untuk mempersiapkan Napza sebelum disuntikan). Komponen
pengurangan
dampak
buruk
Napza
merupakan
intervensi
yang
holistik/komprehensif yang bertujuan untuk mencegah penularan HIV dan infeksi
lainnya yang terjadi melalui penggunaan perlengkapan menyuntik untuk
menyuntikan Napza yang tidak steril dan digunakan secara bersama-sama.
Penggunaan Napza adalah perilaku berisiko, namun dalam kehidupan nyata
hal tersebut ada yang tetap melakukan. Karena itu upaya dilakukan untuk
mengantisipasi timbulnya dampak dampak buruk lain terkait dengan penggunaan
Napza berupa pengurangan dampak buruk, misalnya upaya pencegahan penularan
HIV.
Pengurangan dampak buruk Napza lebih menekankan tujuan jangka pendek
daripada tujuan jangka panjang. Upaya pencegahan infeksi HIV harus
dilaksanakan sesegera mungkin. Kalau hal ini tidak dilakukan, semua tujuan
jangka panjang, seperti penghentian penggunaan Napza akan sia-sia belaka. Oleh
karena itu pengurangan dampak buruk Napza mengacu pada prinsip:
Pertama, Penasun didorong untuk berhenti memakai Napza;
Kedua, jika Penasun bersikeras untuk tetap menggunakan Napza, maka
didorong untuk berhenti menggunakan dengan cara suntik;
Ketiga, kalau tetap bersikeras menggunakan dengan cara suntik, maka
didorong dan dipastikan menggunakan peralatan suntik sekali pakai atau baru;
Keempat, jika tetap terjadi penggunaan bersama peralatan jarum suntik, maka
didorong dan dilatih untuk menyucihamakan peralatan suntik.
Note : Penasun adalah pengguna napza suntik yang dikarenakan ketergantungan
atau adiksinya akan napza sangat sulit untuk bisa berhenti.
2. Tujuan Harm Reduction
Tujuan primer pengurangan dampak buruk Napza adalah membantu Penasun
menghindari konsekuensi negatif kesehatan dari penyuntikan Napza (risiko
penularan HIV), memperbaiki tingkat kesehatan, serta upaya peningkatan
kehidupan sosial dari para Penasun.
3. Program Harm Reduction
Program yang sering dilaksanakan dan menyertai pengurangan dampak buruk
Napza adalah:

a. Program penjangkauan dan pendampingan


Program penjangkauan dan pendampingan (outreach) adalah proses
penjangkauan langsung yang dilakukan secara aktif kepada Penasun baik
secara kelompok maupun individu. Populasi ini sulit dijangkau dengan metode
yang lebih formal karena stigma dan diskriminasi yang sangat kuat di dalam
masyarakat terhadap status penggunaan napzanya. Dalam proses penjangkauan
dan pendampingan para pekerja lapangan melakukan proses identifikasi lokasi
yang biasa menjadi tempat Penasun berkumpul atau tempat yang
memungkinkan untuk melakukan interaksi langsung dengan Penasun. Proses
penjangkauan dan pendampingan memberi peluang bagi Penasun untuk dapat
mengakses berbagai layanan kesehatan yang dibutuhkannya, seperti:
mendapatkan layanan informasi, tes HIV dan konseling, layanan kesehatan
dasar yang tersedia, layanan manajemen kasus untuk penasun yang
membutuhkan, akses terhadap jarum suntik steril dan layanan lainnya yang
memungkinkan.
Penasun menjadi sasaran utama (primer) sedangkan pengguna Napza yang
lain dan pasangan seks Penasun menjadi sasaran sekunder. Selain itu
masyarakat di sekitar Penasun baik keluarga, orang kunci dan teman-temannya
menjadi sasaran tersier.
Kegiatan penjangkauan dan pendampingan diselenggarakan oleh : institusi
/ lembaga kesehatan, LSM atau organisasi kemasyarakatan, Institusi/lembaga
pemerintah, Institusi/lembaga non pemerintah, Kelompok masyarakat.
Pelaksana penjangkauan dan pendampingan harus mengetahui informasi dasar
HIV/AIDS, status epidemi HIV/AIDS secara umum dan pada kelompok
Penasun, teknis penjangkauan dan pendampingan, pemberian informasi,
mengisi laporan dan melakukan rujukan layanan.
b. Program komunikasi, informasi dan edukasi
Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) merupakan kegiatan yang
dikembangkan secara khusus dalam penyediaan informasi mengenai
HIV/AIDS, Napza, risiko penularan HIV (berbagi peralatan jarum suntik dan
hubungan seks),seksualitas, merawat diri dengan lebih baik, dan isu lain yang
berhubungan dengan permasalahan kesehatan Penasun. Penerimaan dari
sasaran terhadap materi maupun bentuk media informasi, menjadi indikator
keberhasilan program KIE.Keterlibatan Penasun dalam proses pembuatan dan
pengembangan media informasimerupakan hal yang sangat dasar dan penting
karena sesuai dengan kebutuhankelompok sasaran.
c. Program penilaian pengurangan risiko
Penilaian pengurangan risiko diberikan sebagai upaya untuk memperkuat
dan membangun pelaksanaan pengurangan risiko infeksi HIV. Kegiatan ini
dilakukan selama penjangkauan dan pendampingan. Fokus dari program adalah
risiko HIV/AIDS, HBV, HCV, dan IMS lain yang berhubungan dengan
penggunaan Napza dan perilaku seksual. Penilaian ini dimaksudkan untuk
mengenalkan pesan pengurangan risiko dan mendukung upaya-upaya

perubahan perilaku. Penilaian pengurangan risiko dapat dilakukan untuk


membantu Penasun baik secara individu maupun kelompok.
d. Program konseling dan tes HIV sukarela
Konseling dan tes HIV sukarela yang dikenal sebagai Voluntary
Counselling and Testing (VCT) dilakukan berdasarkan kebutuhan klien dengan
memberikan layanan dini dan memadai baik kepada mereka dengan HIV
positif maupun negatif. Layanan ini termasuk pencegahan primer melalui
konseling dan KIE seperti pemahaman HIV, pencegahan penularan dari ibu ke
anak (Prevention of Mother To Child Transmission, PMTCT) dan akses terapi
infeksi oportunistik termasuk tuberkulosis (TBC) dan infeksi menular seksual
(IMS). Penasun yang membutuhkan pemahaman diri akan status HIV agar
dapat mencegah dirinya tertular atau menularkan.
e. Program penyucihamaan
Program penyucihamaan (bleaching) merupakan bagian dari pengurangan
dampak buruk Napza. Kegiatan yang dapat mengurangi jumlah virus yang
bersifat menular di peralatan suntik bekas akan mengurangi pula kemungkinan
terjadinya penyebaran virus tersebut, seperti: mencuci jarum suntik untuk
menghilangkan darah yang telah terkontaminasi dari dalam jarum suntik
tersebut; mensucihamakan jarum suntik dengan menggunakan cairan kimia
pensucihama; atau mensterilkan jarum suntik dengan dipanaskan.
Pemutih merupakan cairan yang efektif untuk mengurangi jumlah virus
HIV di jarum suntik. Program ini meliputi penyediaan bleaching kit (paket
pemutih) yang terdiri dari pemutih/hipoklorit 5,25% dan air bersih. Program
penyucihamaan harus disertai informasi dan peragaan tentang cara
penyucihamaan yang benar. Program penyucihamaan bersamaan dengan
program penjangkauan dan pendampingan di lapangan sebagai salah satu
pilihan perilaku untuk mengurangi risiko terinfeksi HIV bagi Penasun. Di
beberapa tempat, penyediaan dan pemberian pemutih merupakan strategi
cadangan untuk situasi di mana peralatan suntik steril tidak tersedia secara
memadai.
f. Program penggunaaan jarum suntik steril
Program penggunaan jarum suntik steril (Pejasun) atau Needle Syringe
Program (NSP) adalah upaya penyediaan layanan yang meliputi penyediaan
jarum suntik steril (baru), pendidikan dan informasi tentang penularan HIV,
rujukan terhadap akses medis, hukum dan layanan sosial. Program ini
menyediakan dan memberikan peralatan suntik steril, beserta materi-materi
pengurangan risiko lainnya, kepada Penasun, untuk memastikan bahwa setiap
penyuntikan dilakukan dengan menggunakan jarum suntik baru.
g. Program pemusnahan peralatan suntik bekas pakai
Pemusnahan peralatan menyuntik bekas pakai dimaksudkan untuk
mengumpulkan kembali peralatan bekas pakai, memastikan bahwa peralatan
bersih dan steril yang dipakai, menghindari penjualan ulang peralatan bekas
pakai, dan memastikan pemusnahan peralatan bekas pakai dengan semestinya.

Lokasi-lokasi yang menjadi tempat Penasun sering menggunakan Napza.


Sasaran program pemusnahan peralatan suntik bekas pakai yaitu Penasun yang
menyerahkan jarum suntik bekas pakai di kantor-kantor lapangan atau DIC dari
program Pejasun.
h. Program layanan terapi ketergantungan Napza
Fokus terapi ketergantungan Napza adalah menyediakan berbagai jenis
pilihan, yang dapat mendukung proses pemulihan melalui berbagai ketrampilan
yang diperlukan dan mencegah kekambuhan (relapse). Tingkatan layanan
bervariasi, tergantung dari derajat keparahan dan seberapa intensif terapi
diperlukan. Bentuk-bentuk terapi ketergantungan napza antara lain adalah:
1. Detoksifikasi dan Terapi Withdrawal
Detoksifikasi (sering disebut terapi detoks) adalah suatu bentuk terapi awal
untuk mengatasi gejala-gejala lepas Napza (withdrawal state), yang terjadi
sebagai akibat penghentian penggunaan Napza. Detoks bukan terapi
tunggal, namun hanya sebagai langkah pertama menuju program terapi
jangka panjang (rehabilitasi, program terapi rumatan substitusi). Bila
hanya dilakukan detoks kemungkinan relaps sangat besar.
2. Terapi terhadap Kondisi Emerjensi
Pasien-pasien dengan keadaan overdose opioida dapat menyebabkan
depresi pada susunan saraf pusat yang menyebabkan kematian. Kondisi
paranoid, halusinasi, agresif dan agitasi akut memerlukan pertolongan
profesional dengan segera.
3. Terapi Gangguan Diagnosis Ganda
Banyak pasien-pasien ketergantungan Napza yang bersama-sama juga
menderita gangguan jiwa, seperti: skizofrenia, gangguan bipolar, gangguan
kepribadian, anti sosial, depresi berat sampai suicide. Gangguan diagnosis
ganda tersebut memerlukan terapi yang terintegrasi dengan terapi
ketergantungan Napza.
4. Terapi Rawat Jalan (Ambulatory atau Out-Patient Treatment)
Terapi yang membebaskan pasien untuk tidak tinggal menginap di rumah
sakit. Modifikasi terapi rawat jalan untuk pasien-pasien ketergantungan
Napza sangat luas, seperti; terapi rawat jalan intensif, terapi rawat jalan
seminggu sekali. Terapi ini tidak restriktif dan sering memberikan hasil
paling baik bagi orang yang telah bekerja dan yang memiliki lingkungan
sosial dan keluarga yang stabil. Bila detoks dan terapi rawat jalan berulang
kali gagal, maka pasien perlu dipertimbangkan untuk mengikuti terapi
rawat residensi (yang juga disebut dengan istilah rehabilitasi).
5. Terapi Pencegahan Relapse
Angka relaps (kekambuhan) pada pasien ketergantungan Napza, khususnya
penggunaopioida sangat tinggi. Guna mencegah berulangkalinya relaps,
pasien-pasien tersebutharus mendapatkan terapi pencegahan relaps.
Beberapa bentuk terapi tersebut antaralain: Relapse Prevention Training
(Marlatt), Cognitive Behavior Therapy (CBT) khususnyaterhadap craving
(Beck) dan the 12-Step Recovery Program.

6. Terapi Pasca Perawatan (After Care)


Setelah melewati terapi rawat inap pasien sangat disarankan untuk dapat
mengikutiterapi pasca perawatan. Hal ini merupakan bagian penting untuk
dapat mendukung pasientetap tidak menggunakan Napza. Beberapa
komponen yang masuk dalam terapi pascaperawatan adalah konseling bagi
pasien dan keluarga, psikoterapi, terapi perilaku, terapikognitif, terapi
perilaku dan kognitif, terapi dukungan, kelompok dukungan dan program
12 Langkah.
7. Terapi Substitusi (Substitution Therapy)
Terapi substitusi terutama ditujukan kepada pasien ketergantungan opioida.
Sasaranterapi; mengurangi perilaku kriminal, mencegah penularan
HIV/AIDS, mempertahankanhidup yang produktif dan menghentikan
kebiasaan penggunaan rutin Napza, khususnyaopioida. Substitusi yang
digunakan
dapat
bersifat
agonis
(methadone),
agonis
partial(buphrenorphine) atau antagonis (naltrexone). Methadone Maintance
Therapy (MMT),sering disebut Terapi Rumatan Metadone (TRM) yang
paling umum dijalankan. Pasienyang mengikuti terapi substitusi tidak
memerlukan hospitalisasi (rawat residensi) jangkapanjang.
i. Program terapi substitusi
Terapi substitusi hanya dapat digunakan untuk pasien-pasien
ketergantungan opioida, karena itu sebutan lengkapnya adalah terapi substitusi
opioida. Untuk pengguna opioida yang hard core addict (pengguna opioida
yang telah bertahun-tahun menggunakan opioida suntikan), mengalami
kekambuhan kronis dan berulang kali menjalani terapi ketergantungan, maka
sudah selayaknya mempertimbangkan untuk mengikuti program terapi
substitusi. Di banyak negara, termasuk sejumlah negara di Asia, program terapi
substitusi yang paling umum adalah TRM. Program TRM dapat dibedakan
menjadi program detoksifikasi dan program rumatan. Untuk program
detoksifikasi dibedakan menjadi jangka pendek dan jangka panjang yaitu
jadwal 21 hari, 91 hari dan 182 hari. Sedangkan program
rumatan/pemeliharaan berlangsung sedikitnya 6 bulan sampai 2 tahun atau
lebih lama lagi.
Peserta program rumatan metadon ini sebelumnya harus dilakukan
skrining dan juga konseling untuk meyakinkan bahwa Penasun memahami
benar konsekuensi dari program yang akan diikutinya. Program rumatan
metadon menyediakan dan memberikan obat legal yang dikonsumsi secara oral
(dengan diminum) sebagai pengganti obat ilegal/Napza yang dikonsumsi
dengan cara menyuntik. Keikutsertaan dalam program rumatan metadon telah
dikaitkan dengan manfaat ganda yang meliputi turunnya angka kematian,
morbiditas, infeksi HIV dan angka kriminalitas serta mengembalikan
kemampuan sosial Penasun. Metadon bukanlah satu-satunya obat yang
digunakan dalam opioida agonist pharmacotherapy atau terapi substitusi.
Obatan-obatan substitusi opioida untuk ketergantungan opioida lainnya adalah

buprenorfin, levo-alphaacetylmethadol (LAAM), morfin, kodein, diamorfin


(heroin), pentazocine, ethylmorfin, dan larutan opium.
j. Program perawatan dan pengobatan HIV
Pada kelompok Penasun yang terinfeksi HIV terdapat angka kematian
yang tinggi akibat sebab-sebab yang tidak berhubungan dengan infeksi HIV.
Sebab-sebab tersebut meliputi pneumonia, penyakit hati (Hepatitis B dan C)
dan overdosis. Khusus bagi Penasun perempuan, terdapat masalah reproduksi,
kehamilan, proses persalinan, serta pemberian air susu ibu. Turunnya berat
badan serta kelemahan fisik dapat menjadi lebih buruk bagi Penasun yang
hidup dengan HIV karena kemiskinan dan kekurangan gizi, dan efek dari
Napza yang digunakan. Penasun yang hidup dengan HIV memiliki risiko lebih
besar terkena infeksi yang berkaitan dengan penggunaan Napza suntik,
termasuk abses, septicaemia, endocarditis dan TBC.
k. Program pendidikan sebaya
Keterlibatan baik mantan Penasun maupun Penasun dalam merancang,
mempromosikan serta memberikan layanan-layanan kepada Penasun
merupakan sebuah prinsip yang penting bagi program pencegahan HIV. Prinsip
ini didasarkan pada prinsip umum mengenai keterlibatan masyarakat. Program
pendidik sebaya tidak bisa dilepaskan dan mempunyai kaitan erat dengan
program penjangkauan dan pendampingan. Program pendidikan sebaya di
kelompok Penasun telah terbukti efektif dalam mengurangi perilaku berisiko
HIV, sementara program Pejasun yang berbasis pada teman sebaya telah
terbukti lebih efektif dalam menjangkau Penasun baru dibandingkan dengan
program yang dilaksanakan oleh bukan teman sebaya. Intervensi jaringan
sosial yang menggunakan teman sebaya ternyata lebih efektif dalam
menjangkau Penasun serta dalam memberikan edukasi HIV yang lebih efektif,
jika dibandingkan dengan intervensi penjangkauan yang tradisional dan
profesional.
l. Program layanan kesehatan dasar
Pengguna Napza seringkali berada dalam kondisi kesehatan yang buruk
sebagai akibat penggunaan Napza, makanan yang tidak memadai, serta kondisi
lingkungan yang tidak sehat. Namun pengguna Napza masih enggan untuk
mendekati atau menggunakan layananlayanan kesehatan utama dan umum
karen terdapat diskrimasi dan stigmanisasi. Selain itu terdapat rasa ketakutan
bila ketahuan menggunakan Napza, yang kemudian akan mengakibatkan
diproses secara hukum dan diskriminasi.
Program layanan kesehatan dasar berupaya menyediakan dan memberikan
layananlayanan kesehatan, seperti; perawatan abses, rujukan ke layananlayanan yang tepat yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan Penasun. Sasaran
program layanan kesehatan dasar yaitu Penasun baik yang sudah dijangkau
oleh petugas lapangan maupun Penasun yang merasadirinya memiliki
permasalahan kesehatan.

C. Harm Reduction terkait HAM dan Hukum


Tindak pidana narkotika telah menjadi tindak pidana yang bersifat transnasional
yang dilakukan dengan menggunakan modus operandi yang tinggi, teknologi canggih,
didukung oleh jaringan organisasi yang luas yang melampaui lintas batas negara.
Mengingat bahaya penggunaan narkotika yang secara melawan hukum/illegal adalah
sangat besar, maka dunia internasional juga berjuang keras untuk memerangi hal
tersebut misal dengan keluarnya United Nations Convention Against Illicit Traffi in
Narcotic Drugs and Psychotropic Substances 1988 yang telah diratifiasi oleh
Pemerintah Indonesia dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1997 tentang
Pengesahan United Nations Convention Against Illicit Traffi in Narcotic Drugs and
Psychotropic Substances 1988.
Seakan tidak mau ketinggalan, Pemerintah Indonesia pun mengundangkan
national regulation guna melarang peredaran illegal zat berbahaya tersebut, antara
lain dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika yang
kemudian telah digantikan oleh UndangUndang Nomor 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika yang diundangkan pada tanggal 14 September 2009. Tidak hanya itu,
pemerintah juga telah membentuk suatu badan yang berwenang untuk melakukan
pencegahan dan pemberantasan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap
narkotika, psikotropika, precursor dan zat adiktif lainnya, yang dikenal dengan nama
Badan Narkotika Nasional (BNN).
BNN dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2002 tentang
Badan Narkotika Nasional. Badan ini menggantikan Badan Koordinasi Narkotika
Nasional yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 116 Tahun 1999
yang keberadaannya dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan
perkembangan keadaan. Sanksi pidana yang diancamkan kepada para pengguna
narkotika, baik untuk pemakai/pecandu dan pengedar pun tidak ringan bahkan sangat
menakutkan. Bagi pecandu, skala hukuman berkisar antara 2 (dua) tahun sampai
dengan 7 (tujuh) tahun dan denda berkisar dari Rp 400.000.000,00 (empat ratus juta
rupiah) hingga Rp 8.000.000.000,00 (delapan milyar rupiah) tergantung dari golongan
narkotika yang dipakainya. Bagi pengedar, variasi ancaman hukuman sesuai dengan
klasifiasi perbuatan dan jenis narkotika tersebut berkisar antara pidana penjara, mati
atau seumur hidup.
Segala bentuk regulasi baik nasional maupun internasional tersebut pada intinya
dimaksudkan untuk mengurangi dan menghentikan jaringan dan penyebaran zat
berbahaya itu. Namun pada kenyataannya, peredaran dan penggunaan zat terlarang
tersebut tetap saja semakin marak.
Selama ini, hampir setiap pecandu narkotika yang tertangkap selalu ditempatkan
dalam penjara atau ruang tahanan. Hal ini terjadi baik pada tingkat penyidikan dan
atau penyelidikan di kepolisian, kejaksaan, bahkan sampai pada tahap persidangan.
Para hakim yang memeriksa dan menyidangkan perkara narkotika pun pada umumnya
hanya menjatuhkan pidana penjara dan denda kepada para pemakai/pengguna, tanpa
sedikitpun menyebut upaya rehabilitasi dalam putusannya. Masyarakat pun puas
ketika tahu bahwa para pecandu tersebut ditahan atau setidaknya dijauhkan dari

lingkungan mereka. Singkatnya, pecandu narkotika ini seolah dicap sebagai sebagai
penjahat/pelaku kejahatan.
1. Pecandu Narkotika Dipandang Sebagai Korban
Konsep bahwa pecandu narkotika harus dipandang sebagai korban telah
dinyatakan dengan jelas dalam SEMA No. 4 Tahun 2010 yang dikeluarkan tanggal
7 April 2010 pada bagian pertimbangannya. SEMA ini telah menggantikan SEMA
No. 7 tahun 2009 tentang Menempatkan Pemakai Narkoba ke dalam Panti Terapi
dan Rehabilitasi. Anggapan bahwa pecandu adalah korban dapat dipahami dengan
mempertimbangkan bahwa merekalah yang sesungguhnya paling dirugikan atas
penggunaan zat tersebut, kemudian masyarakat dan selanjutnya negara. Pecandu
adalah pihak yang paling dirugikan karena dampak dari penggunaan zat tersebut
berdampak langsung pada kesehatan dan kelangsungan hidup dari pecandu dan
tidak jarang berujung pada kematian.
2. Penjara Bukanlah Solusi Yang Tepat
Penempatan pecandu tersebut di penjara/rumah tahanan bukanlah solusi yang
tepat. Kondisi rumah tahanan di Indonesia juga sudah overload. Di Indonesia
terdapat 413 lapas atau rumah tahanan, dengan angka penghuni yaitu 140.423
orang. Angka tersebut tentunya telah melebihi batas kapasitas yang ada dalam
lapas/rutan yang hanya mampu untuk menampung 89,549 orang. Dari angka
140.423 orang tahanan tersebut, sebanyak 37295 orang adalah terpidana dengan
kasus narkotika. Kondisi yang over kapasitas tersebut tentunya dapat berdampak
buruk pada tingkat keamanan di lapas itu sendiri dan kesehatan para terpidana
pada umumnya. Berikut adalah tabel tentang tingkat kematian napi/tahanan
berdasarkan masa tinggal pada tahun 2008.
No.
1
2
3

Masa Tinggal
Jumlah orang
1 hari-6 bulan
533 orang
7 bulan-12 bulan
142 orang
Lebih dari 1 tahun
75 orang
Jumlah
750 orang
Sumber: Muqowimul Aman: Dalam Diskusi Publik November 2009.
Penempatan mereka ke dalam penjara pun bukan memutus rantai peredaran
narkotika, tetapi justru sebaliknya. Penjara menjadi tempat beredarnya barang
haram tersebut.
3. Hak Narapidana Atas Layanan Kesehatan
Narapidana berhak mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan yang
layak. Ketentuan undang-undang tersebut diteruskan dengan keluarnya Peraturan
Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak
Warga Binaan Pemasyarakatan yang menyatakan bahwa setiap narapidana dan
anak didik berhak untuk mendapatkan perawatan rohani dan jasmani.
Hak tersebut sebenarnya telah disebut dengan jelas dalam Pasal 45 UndangUndang Nomor 22 Tahun 1997 dan Pasal 54 Undang-Undang Nomor 35 Tahun
2009 tentang Narkotika bahwa pecandu narkotika wajib menjalani pengobatan

dan/atau perawatan, namun kata-kata dalam undang undang tersebut tidak selalu
ditafsirkan bermakna imperative oleh hakim.
Hal ini pulalah yang selama ini hampir selalu dikesampingkan oleh jaksa
dalam surat tuntutannya dan hakim dalam putusannya. Meskipun
peraturanperaturan tersebut sudah mengatur dan menyebut upaya rehabilitasi,
namun penyidik baik polisi maupun jaksa masih cenderung menempatkan
pecandu tersebut di penjara/tahanan dan tuntutan jaksa pun masih ada yang tidak
memasukan upaya rehabilitasi. Para hakim pun banyak hanya menjatuhkan sanksi
pemidanaan saja, tanpa disertai dengan perintah untuk menempatkan terdakwa
menjalani pengobatan dan atau perawatan/rehabilitasi di Rumah Sakit
Ketergantungan Obat. Hal serupa juga masih kerap dilakukan kendati pada saat itu
SEMA No. 9 Tahun 2009 tanggal 17 Maret 2009 dan SEMA No. 4 Tahun 2010
tanggal 7 April 2010 telah dikeluarkan.
Mulai nampak ada perbedaan dalam putusan hakim pasca keluarnya Undangundang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, yaitu putusan hakim sudah
mulai menyebut adanya rehabilitasi bagi terdakwa pecandu narkotika. Syarat
untuk mendapakan rehabilitasi pun diatur dalam Undang-undang. Ketentuan Pasal
41 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika dan Pasal 47
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika membatasi klasifiasi
tindak pidana sebagai berikut:
a. Terdakwa pada saat ditangkap oleh penyidik dalam kondisi tertangkap tangan;
b. Pada saat tertangkap tangan ditemukan barang bukti satu kali pakai;
c. Surat keterangan uji laboratorium posiyif menggunakan narkoba berdasarkan
permintaan penyidik;
d. Bukan residivis kasus narkoba;
e. Perlu surat keterangan dari dokter jiwa/psikiater (pemerintah) yang ditunjuk
oleh hakim;
f. Tidak terdapat bukti bahwa yang bersangkutan merangkap menjadi
pengedar/produsen gelap narkoba.
D. Harm Reduction di Indonesia
Konsep harm reduction di Indonesia sudah mulai ditawarkan pada tahun 1995
yaitu dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang
Pemasyarakatan dan keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang
Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan.
Persoalan penggunaan narkotika tidak dipandang sebagai persoalan hukum
milik Negara saja, tetapi juga persoalan kemasyarakatan. Keterlibatan hukum pada
persoalan-persoalan social menuntut hukum mampu berperan sebagai sarana untuk
memecahkan problem social yang dihadapi suatu bangsa dengan melibatkan lembagalembaga social yang ada. Penggalangan dana, advokasi, konseling dilakukan sebagai
wujud partisipasi masyarakat dalam mengentaskan bahaya narkotika dan
menyembuhkan pelaku dari ketergantungan akan zat tersebut.
Harm reduction adalah istilah dalam menyebut suatu kebijakan, program,
layanan dan tindakan yang dibuat oleh pemerintah yang dimaksudkan untuk
mengurangi masalah-masalah kesehatan dan sosial yang merugikan individu yang

bersangkutan, masyarakat dan negara. Jadi, kerugiannya tidak hanya berdampak pada
masyarakat, tetapi juga pada individu yang bersangkutan (pelaku) dan mereka ini
yang sebenarnya adalah korban.
Tiga pendekatan yang dipakai dalam menangani masalah narkoba adalah
melalui pendekatan Supply Reduction, Demand Reduction dan Harm Reduction.
Pendekatan Supply Reduction bertujuan memutus mata rantai pemasok Narkotika
mulai dari produsen sampai pada jaringan pengedarnya, pendekatan Demand
Reduction adalah memutus mata rantai para pengguna, sedangkan pendekatan Harm
Reduction merupakan pendekatan pengurangan dampak buruk terkait narkoba. Dua
pendekatan pertama lebih akrab dipakai oleh penegak hukum dalam penanganan
masalah narkoba. Dua pendekatan ini jika dilihat dari perspektif HAM menimbulkan
konflik karena pilihan pendekatan oleh penegakan hukum bersifat konservatif
terhadap realita, obsesi pada pemusnahan total, menekankan kepastian dan
mengedepankan proses.
Pendekatan Harm Reduction lebih condong sebagai pendekatan kesehatan
masyarakat dalam upaya pengurangan dampak buruk narkotika. Menurut Meliala
(2013) paling tidak ada tiga alasan mengapa hukum tidak menerima
pendekatan Harm Reduction, yakni karena; hukum pada dasarnya reduksionis dan
dikotomis, hukum dikenakan untuk penyimpangan yang bersifat ultimum remedium,
hukum pada dasarnya menuntut kodifikasi dan prosedural. Sementara, penegak
hukum kurang menerima pendekatan Harm Reduction karena beberapa alasan antara
lain; sebagian besar aparat hukum berpandangan legal-formal, mengganggu prinsip
kepastian hukum, penegak hukum pada fase pra-adjudikasi mengembangkan
anggapan klasik pada drug users. Kenyataannya, di beberapa negara termasuk
Indonesa pendekatan demand dan supply reduction masih menjadi pilihan dalam
menanggulangi masalah narkoba. Kasus hukum mati terhadap para pengedar narkoba
adalah salah satu contoh pendekatan supply reduction yang diterapkan di negeri ini.
Keputusan ini banyak menuai kontroversi terutama di kalangan penggiat Hak Azazi
Manusia. Pada kenyataannya pendakatan ini tidak berhasil, karena terjadi
peningkatan jumlah Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) terkait kasus narkotika
mengalami kenaikan, sebagai contoh hingga bulan Maret 2010 tercatat jumlah WBP
secara keseluruhan sejumlah 129.120 orang, WBP Kasus narkotika sejumlah 34.849
orang. Prosentase jumlah WBP Narkotika berbanding dengan WBP umum lainnya
adalah berkisar 27 %. Direktur PLRIP-DEP REHAB BNN (2014) menyitir hasil
penelitian BNN dan Puslitkes UI menyebutkan bahwa prevalensi penyalahgunaan
narkoba diproyeksikan meningkat tiap tahun, yakni; 2008 ( 1,99 %), 2011 (2,32 %),
2013 (2,56 %) dan 2015 (2,80 %). Data dari Dit Bareskrim dan BNN menunjukkan
besarnya tersangka kasus narkoba berdasarkan jenis narkoba dari tahun ketahun.
Tahun
2008
2009
2010
2011
2012

Ganja
11.580
11.998
9.637
7.829
8.478

Heroin
1.821
925
773
703
565

Hashish
6
3
9
3
7

Kokain
10
2
5
6
9

Ekstasi
2.947
1.919
1.087
965
1.138

Shabu
8.685
10.185
12.463
15.766
15.109

Lain-lain
19.662
13.373
9.523
11.460
10.334

Jumlah

49.522

4.787

28

32

8.056

62.208

64.352

Tersangka Narkoba Berdasarkan Jenis Narkoba Tahun 2008 2012


Sumber: Dit TPN Bareskrim Polri & BNN, Maret 2013
Selanjutnya, terkait dengan pengguna narkoba, banyak negara yang tidak lagi
menghukum pidana penjara bagi para pengguna narkoba, mereka memfokuskan diri
pada rehabilitasi dan mencegah warganya agar tidak menjadi pecandu. Indonesia
sebenarnya sudah mulai mengarah pada rehabilitasi untuk para pecandu, berbagai
perangkat hukum dan kebijakan sudah ada dan mulai dilaksanakan. Hasil kajian
dokumen yang dilakukan oleh PKMK-FK UGM tahun 2014 yang lalu menunjukkan
bahwa dalam pelaksanaannya, program pencegahan HIV dan AIDS melalui
pengurangan dampak buruk NAPZA mengalami dinamika yang cukup tinggi, mulai
dari penyelarasan kebijakan dan pelaksanaan program HR itu sendiri.
Beberapa kebijakan terkait dengan program Harm Reduction di Indonesia antara lain
adalah;
1. Kepmenkes No. 494/Menkes/SK/VII/2006 tetang penetapan Rumah Sakit dan
Satelit Uji coba Serta Pedoman Pogram Terapi Rumatan Metadon.
2. Peraturan Menko Kesra No.2/2007 tentang Kebijakan Nasional Penanggulangan
HIV dan AIDS melalui Pengurangan Dampak Buruk Pengguna Narkotika
Psikotropika dan Zat Adiktif Suntik.
3. Kepmenkes No. 486/Menkes/SKIV/2007 tentang Kebijakan dan Rencana Strategi
Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA
4. Kepmenkes No. 420/Menkes/SK/III/2010 tentang Pedoman Layanan Terapi dan
Rehabililitasi Komprehensif pada Gangguan Pengguna NAPZA berbasis Rumah
Sakit
5. Kepmenkes No. 421/Menkes/SK/III/2010 tentang Standar Pelayanan Terapi dan
Rehabilitasi Gangguan Penggunaan NAPZA
6. Kepmenkes No. 350/Menkes/SK/IV/ tentang penetapan rumah sakit pengampu
dan satelit program terapi rumatan metadon serta pedoman program terapi
rumatan metadon
7. Kepmenkes No. 378/Menkes/SK/IV/2008 tentang pelayananan rehabilitasi medik
di rumah sakit
8. Kepmenkes No. 567/Menkes/SK/VII/ tetang Pedoman Pelaksanaan Pengurangan
Dampak Buruk Narkotika, Psikotropik dan Zat Adiktif (NAPZA)
9. Peraturan Pemerintah No 25 Tahun 2011 tentang Pelaksanaan Wajib Lapor
Pecandu Narkotika
10. Keputusan Menteri Kesehatan No 1305 tahun 2011 tentang Instusi penerima
Wajib Lapor
11. Keputusan Menteri kesehatan No 2171 tahun 2011 tentang Tatacara Pelaksanaan
Wajib Lapor Pecandu Narkotika tahun 2011

12. Surat Edaran Mahkama Agung No 7 Tahun 2009 tentang Menempatkan Pemakai
Narkoba Ke dalam Panti Terapi dan Rehabilitasi.
Kebijakan Hukuman mati terhadap pengedar dan gembong narkoba merupakan
satu kebijakan hukuman maksimal. Seperti penjelasan di atas pendekatan ini ternyata
mengalami kegagalan untuk memutus mata rantai supply and demand
reduction peredaran narkotika. Pendekatan Harm Reduction khususnya untuk para
pecandu menawarkan suatu langkah yang lebih mendorong proses rehabilitasi dan
pencegahan sebagai bagian dari pendekatan berbasis kesehatan masyarakat melalui
pendekatan bertahap untuk mengurangi dampak secara lebih terukur sesuai dengan
kondisi, bukan sebagai sebuah genderang kematian yang bersifat legal formal
berbasis asumsi benar-salah terbukti sudah mengalami kegagalan. Perlu sebuah
paradigma alternatif yang lebih bisa merasakan (empaty) terhadap pecandu, bukan
sebuah penghakiman yang lebih menunjukkan praksis kekuasaan politik daripada
solusi humanis.

BAB III
KESIMPULAN
1. Harm Reduction adalah konsep yang digunakan dalam wilayah kesehatan masyarakat,
yang bertujuan untuk mencegah atau mengurangi konsekuensi negatif kesehatan yang
berkaitan dengan perilaku penggunaan Napza dengan jarum suntik dan
perlengkapannya, sehingga mencegah penularan HIV dan infeksi lainnya yang terjadi

melalui penggunaan perlengkapan menyuntik untuk menyuntikan Napza yang tidak


steril dan digunakan secara bersama-sama.
2. Tujuan dari Harm Reduction adalah membantu Penasun menghindari konsekuensi
negatif kesehatan dari penyuntikan Napza (risiko penularan HIV), memperbaiki
tingkat kesehatan, serta upaya peningkatan kehidupan sosial dari para Penasun.
3. Program-program yang dijalankan dalam Harm Reduction antara lain : program
penjangkauan dan pendampingan, program komunikasi, informasi dan edukasi,
program penilaian pengurangan risiko, program konseling dan tes HIV, program
penyucihamaan, program penggunaan jarum suntik steril, program pemusnahan
peralatan menyuntik bekas pakai, program layanan terapi ketergantungan Napza,
program terapi substitusi, program perawatan dan pengobatan HIV, program
pendidikan sebaya, serta program layanan kesehatan dasar.
4. Harm Reduction sesungguhnya bertujuan untuk mencegah penyebaran HIV sesegera
mungkin di kalangan penasun, dengan kata lain lebih menekankan tujuan jangka
pendek daripada tujuan jangka panjang. Kalau pendekatan ini tidak dilakukan, maka
semua tujuan jangka panjang seperti penghentian penggunaan Napza dan
rehabilitasinya akan sia-sia belaka. Oleh karena itu, Harm Reduction seharusnya
dipandang sebagai pendekatan penting dalam mewujudkan kesehatan masyarakat
secara lebih luas.
Pendekatan Harm Reduction khususnya untuk para pecandu menawarkan suatu
langkah yang lebih mendorong proses rehabilitasi dan pencegahan sebagai bagian dari
pendekatan berbasis kesehatan masyarakat melalui pendekatan bertahap untuk
mengurangi dampak secara lebih terukur sesuai dengan kondisi, bukan sebagai sebuah
genderang kematian yang bersifat legal formal berbasis asumsi benar-salah terbukti
sudah mengalami kegagalan. Perlu sebuah paradigma alternatif yang lebih bisa
merasakan (empaty) terhadap pecandu, bukan sebuah penghakiman yang lebih
menunjukkan praksis kekuasaan politik daripada solusi humanis.
5.

DAFTAR PUSTAKA
Ajisuksmo, dan Clara, R.P., 2004, Mari Bicara tentang HIV/AIDS dengan Orangtua, Guru,
dan Teman!, UNICEF, Jakarta, hal. 84.
Depkes RI, 2006, Pedoman Pelaksanaan Pengurangan Dampak Buruk Narkotika,
Psikotropika, dan Zat Adiktif (Napza), Depkes RI, Jakarta.
Harm Reduction International, 2014, The Global State of Harm Reduction, pp. 14-15.
Nicholas, I., HIV/AIDS, Injection Drugs Use, Harm Reduction and Development,
Interagency Coalition on AIDS and Development.
Strategi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS 2007-2010.

Utomo, B., Nadjib, M., Darmawan, D., 2013, Evaluasi program Penanggulangan HIV dan
AIDS di DKI Jakarta, 2008-2012, Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi DKI
Jakarta.