Anda di halaman 1dari 31

Penyusunan RANPERDA Rencana Rinci Tata Ruang

Kawasan Strategis
DayaRANPERDA
Tarik Wisata
Tegal Besar-Goa
Penyusunan
Rencana
Rinci Tata Lawah
Ruang
Kawasan Strategis Daya Tarik Wisata Tegal Besar-Goa Lawah

GAMBARAN UMUM
KAWASAN
PERENCANAAN

Kawasan Perencanaan
kawasan pantoloan adalah kawasan yang berdampingan dengan
pelabuhan, dikarenakan sebagian besar penduduknya bekerja sebagai
buruh maupun pegawai di pelabuhan pantoloan
Kawasan ini dibatasi oleh jalan-jalan
1. Jln. Baraya
2. Jln. Makagili
3. Jln.
3.1
Kondisi Fisik Dasar
3.1.1 Geograf
Kawasan Strategis Daya Tarik Wista Tegal Besar-Goa Lawah adalah salah
satu Kawasan Strategis di Kabupaten Klungkung yang terletak di pesisir
selatan Kabupaten Klungkung dengan luas kawasan 3541,24 Ha.
Secara administrasi, lokasi Kawasan Strategis Daya Tarik Wisata Tegal
Besar-Goa Lawah ini berbatasan :
Sebelah Utara : Ds. Banjarangkan, Ds. Getakan, Ds. Tihingan, Kel.
Semarapura
Kelod,
Kel.
Semarapura
Kangin,
Ds.Kamasan, Ds. Sampalan Tengah, Ds. Sampalan Kelod,
Ds. Sulang, Ds.Dawan Kaler, Ds. Pikat.
Sebelah Timur : Kabupaten Karangasem
Sebelah Barat : Kabupaten Gianyar
Sebelah Selatan : Selat Badung
Kawasan Kawasan Strategis Daya Tarik Wisata Tegal Besar-Goa Lawah
terbagi atas 13 desa seperti pada tabel 3.1.
Tabel 3.1 Distribusi desa di Kawasan Strategis Daya Tarik Wisata Tegal
Besar- Goa Lawah
LAPORAN
1

ANTARA

BAB III -

Penyusunan RANPERDA Rencana Rinci Tata Ruang


Kawasan Strategis
DayaRANPERDA
Tarik Wisata
Tegal Besar-Goa
Penyusunan
Rencana
Rinci Tata Lawah
Ruang
Kawasan Strategis Daya Tarik Wisata Tegal Besar-Goa Lawah
Kecamatan

Kecamatan
Klungkung

Kecamatan Dawan

Kecamatan
Banjarangkan

Desa/ Kampung
Desa Satra
Desa Tojan
Desa Jumpai
Desa Tangkas
Desa Gelgel
Kampung Islam Gelgel
Desa Kusamba
Kampung Kusamba
Desa Pesinggahan
Desa Dawan Kelod
Desa Gunaksa
Desa Negari
Desa Takmung
Total

Luas wilayah (Ha)


190,76
132,46
143,57
278,45
290
7
201
10
365
430
683
216
594
3541,24

Proporsi
5,39
3,74
4,05
7,86
8,19
0,20
5,68
0,28
10,31
12,14
19,29
6,10
16,77
100,00

Sumber: Kecamatan Klungkung, Dawan dan Banjarangkan Dalam

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa desa yang terluas adalah Desa
Gunaksa di Kecamatan Dawan, terluas kedua adalah Desa Takmung di
Kecamatan Banjarangkan, sedangkan yang yang terkecil adalah Kampung
Islam Gelgel di Kecamatan Dawan.
3.1.2 Geologi
Kondisi geologi kwasan perencanaan terdiri
dari 3 (tiga formasi) utama yaitu formasi Qbb
(Tufa dan endapan Buyan, Beratan, Batur),
formasi Qva (batuan gunung berpai Gunung
agung), dan formasi Qal (endapan aluvium).
Formasi Qbb meliputi wilayah mulai dari
sebagian Desa Negari, Desa Takmung dan
sebagian wilayah Kusamba. Formasi Qva
mencakup sebagian wilayah Desa Jumpai dan
seluruh wilayah Desa Tangkas, Tojan dan
Satra. Sedangkan formasi Qal meliputi
wilayah pesisir Kecamatan Banjarangkan.
Batuan tertua yang tersingkap di daerah ini adalah batuan-batuan dari
satuan batuan yang terdiri dari lava, breksi dan tufa. Singkapan batuan dari
formasi ini terlihat jelas di sepanjang pantai, dijumpai singkapan
perselingan Breksi Vulkanik, Tufa Pasiran dan Lava. Breksi Vulkanik memiliki
fragmen yang bersudut berukuran 1 cm sampai dengan 10 cm, berwarna
putih dan abu-abu. Tufa Pasiran tambak berwarna abu kecoklatan berukuran
kurang dari 1 cm, batuan ini memiliki porositas yang sangat baik.
Sedangkan Lava-nya tampak berwarna hitam dengan tekstur berlubang
yang mencerminkan sejarah pembentukannya di permukaan. Disepanjang
pantai ini juga tampak adanya bolder-bolder lava akibat terjangan
gelombang laut.
Satuan Batuan yang lebih muda adalah Satuan Batuan Tufa dan Endapan
Lahar Buyan, Beratan dan Batur berumur kwarter. Daerah ini tersusun dari
beberapa jenis batuan, lapisan teratas terdiri dari susunan Batu Lempung,
Tufa, Batu pasir Tufaan dan Konglomerat dengan Fragmen Punice. Batuan
gunung api yang merupakan anggota dari satuan gunung api dan endapan
lahar Buyan, Beratan dan Batur.
Karakteristik batuan dapat diuraikan sebagai berikut : Batu lempung
berwarna abu-abu tua-hijau, Klastik halus dengan porositas tinggi, namun
LAPORAN
2

ANTARA

BAB III -

Penyusunan RANPERDA Rencana Rinci Tata Ruang


Kawasan Strategis
DayaRANPERDA
Tarik Wisata
Tegal Besar-Goa
Penyusunan
Rencana
Rinci Tata Lawah
Ruang
Kawasan Strategis Daya Tarik Wisata Tegal Besar-Goa Lawah

memiliki permeabilitas sangat kecil. Material lapisan ini adalah hasil


pelapukan batuan gunung api atau dari endapan lahar. Tufa berwarna abuabu, Klastik dengan porositas dan permeabilitas baik, material
penyusunnya berasal letusan gunung berapi.
Batu pasir tufaan berwarna abu-abu bersifat klastik dengan porositas dan
permeabilitas baik, penyusunnya merupakan material hasil letusan gunung
berapi. Sedangan konglomerat merupakan batuan klastik kasar dengan
pragmen-pragmen berupa punice, batuan ini terbentuk oleh endapan lahar.
Batuan-batuan dari formasi/ satuan ini untuk daerah Denpasar bagian
selatan terdapat kedalaman 15-30 meter dari permukaan tanah.
Berdasarkan sifat batuan penyusun formasi diatas, secara umum bersifat
klastik dengan porositas dan permeabilitas
baik kecuali perlapisan
Batulempung dan Batulanau. Pori batuan yang saling berhubungan akan
merupakan ruang tersimpannya air, sehingga menurut penelitian M.M.
Purboadiwidjojo tahun 1972, batuan disekitar daerah ini merupakan akifer
yang baik dengan debit lebih kurang 10 liter/ detik, akifer ini merupakan
akifer dangkal yang setenggah tertekan. Kualitas air pada akuifer relatif
masih baik, kecuali pada daerah-daerah pesisir atau pada daerah-daerah
pengambilan yang sangat intensif akan terpengaruh oleh air laut.
Jenis tanah yang terdapat di kawasan perencanaan sebagian besar
tergolong jenis tanah regosol. Jenis tanah regosol (Inceptisol) mempunyai
tekstur berlempung kasar hingga halus dengan temperatur tergolong
isohiperthermik. Reaksi tanah tergolong reaksi tidak masam sampai agak
masam (pH : 5-7).
Sebagian besar wilayah perencanaan tergolong pada ordo tanah Inceptisol
dan hanya sebagian kecil saja yang termasuk dalam ordo Andisol
(berdasarkan hasil studi LREPP/Land Resource Evaluation Planning Project
oleh Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat Bogor Tahun 1994).
3.1.3 Topograf
Ketinggian/topografi merupakan salah satu faktor penting untuk
menentukan daerah-daerah yang mana yang sesuai untuk pengembangan
tanaman dengan hasil yang optimal disamping suhu dan curah hujan. Selain
itu, ketinggian/topografi juga dapat menjadi faktor pembatas dalam
mengusahakan lahan untuk tanaman budidaya. Guna pengembangan
wilayah perencanaan nantinya, untuk kawasan yang memiliki kategori
lereng sangat curam hingga terjal tidak dapat dimanfaatkan kecuali sebagai
hutan lindung. Kelerengan kawasan perencanaan berkisar antara 0-8%
dimana ketinggia 0-4% berada di Desa-desa yang berada di Kecamatan
Klungkung dan Dawan, sedangkan 5-8% berada di Desa-desa yang terdapat
di Kecamatan Banjarangkan (Negari dan Takmung).
3.1.4 Hidrologi
Kawasan Perencanaan memiliki temperatur/suhu udara yang bervariasi
antara 32-340C dengan curah hujan rata-rata berkisar antara 960 1500
mm per tahun. Kelembaban udara berkisar antara 84-86% dan penyinaran
matahari antara 30-60%. Kecepatan angin rata-rata antara 3-8,2 km/jam
dan evapotranspirasi tahunan antara 1700-1780 mm (Badan Meteorologi
dan Geofisika, Denpasar). Kawasan perencanaan tergolong ke dalam zona
agroklimat antara D3 dan E3 dengan masa tumbuh antara 6-8 bulan jika
dilihat menurut pola curah hujan yang jatuh di kawasan perencanaan
(Oldeman, et al. 1975).
LAPORAN
3

ANTARA

BAB III -

Penyusunan RANPERDA Rencana Rinci Tata Ruang


Kawasan Strategis
DayaRANPERDA
Tarik Wisata
Tegal Besar-Goa
Penyusunan
Rencana
Rinci Tata Lawah
Ruang
Kawasan Strategis Daya Tarik Wisata Tegal Besar-Goa Lawah

Tabel 3.2 Sungai-Sungai yang Melintas di Kawasan Perencanaan

N
o.
1.
2.
3.
4.
5.

Nama Sungai
(Tukad/Pangkung)
Tukad Melangit
Tukad Bubuh
Pangkung Lamba
Tukad Unda
Tukad Banges

Lokasi
Desa Takmung, Kec. Banjarangkan
Desa Tojan, Kec. Klungkung
Desa Tojan, Kec. Klungkung
Desa Gelgel, Kec. Klungkung
Desa Kusamba, Kec. Dawan

Sumber: Hasil Kajian RTR Kawasan Strategis Jalan Tohpati-Kusamba Tahun 2010

3.1.5 Oceanograf
Kawasan perencanaan sebagian besar merupakan daerah pantai karena
jalan Tohpati-Kusamba dibangun menyisir pantai Selatan Pulau Bali. Secara
oceanografis kenyamanan lingkungan kawasan tersebut akan dipengaruhi
oleh kondisi pasang surut laut sepanjang daerah pesisir karena merupakan
daerah pesisir. Sepanjang pesisir berpotensi untuk terjadi abrasi pantai
karena perubahan pasang surut yang sangat besar. Kawasan-kawasan
pesisir yang rawan terhadap adanya bahaya abrasi pantai. Selain ancaman
abrasi pantai, kemungkinan terjadi intrusi air laut pada daerah-daerah yang
terabrasi yang menyebabkan kualitas air menurun juga harus
dipertimbangkan

LAPORAN
4

ANTARA

BAB III -

Penyusunan RANPERDA Rencana Rinci Tata Ruang


Kawasan Strategis
DayaRANPERDA
Tarik Wisata
Tegal Besar-Goa
Penyusunan
Rencana
Rinci Tata Lawah
Ruang
Kawasan Strategis Daya Tarik Wisata Tegal Besar-Goa Lawah

Gambar 3.1 Peta Administrasi Kawasan Strategis DTW Tegal Besar-Goa Lawah

Gambar 3.2 Peta Geologi 1 Kawasan Strategis DTW Tegal Besar-Goa Lawah

LAPORAN
5

ANTARA

BAB III -

Penyusunan RANPERDA Rencana Rinci Tata Ruang


Kawasan Strategis
DayaRANPERDA
Tarik Wisata
Tegal Besar-Goa
Penyusunan
Rencana
Rinci Tata Lawah
Ruang
Kawasan Strategis Daya Tarik Wisata Tegal Besar-Goa Lawah

Gambar 3.3 Peta Geologi 2 Kawasan Strategis DTW Tegal Besar-Goa Lawah

LAPORAN
6

ANTARA

BAB III -

Penyusunan RANPERDA Rencana Rinci Tata Ruang


Kawasan Strategis
DayaRANPERDA
Tarik Wisata
Tegal Besar-Goa
Penyusunan
Rencana
Rinci Tata Lawah
Ruang
Kawasan Strategis Daya Tarik Wisata Tegal Besar-Goa Lawah

Gambar 3.4 Peta Topograf Kawasan Strategis DTW Tegal Besar-Goa Lawah

Gambar 3.5 Peta Hidrogeologi Kawasan Strategis DTW Tegal Besar-Goa Lawah

LAPORAN
7

ANTARA

BAB III -

Penyusunan RANPERDA Rencana Rinci Tata Ruang


Kawasan Strategis Daya Tarik Wisata Tegal Besar-Goa Lawah

3.2
Pemanfaatan Ruang
3.2.1 Penggunaan Lahan
Berdasarkan intepretasi data BPS tahun 2013, penggunaan lahan dominan
di Kawasan Perencanaan memiliki luas sebesar 3541,24 Ha, yang sebagian
besar adalah berupa sawah irigasi dengan luas 1197,57 Ha (33,82%).
Penggunaan lahan lain yang cukup besar luasannya adalah kebun dan
permukiman dengan luas masing-masing 178,94 Ha dan 307,15 Ha.
Tabel 3.3 Penggunaan Lahan di Kawasan Perencanaan (Ganti pakek
luasan di Peta)
Kecamatan

Kecamatan
Klungkung

Kecamatan
Dawan

Kecamatan
Banjarangka
n

Desa/
Kampung

Luas
Wilay
ah
(Ha)

Penggunaan Lahan (Ha)


Sawah

Tegala
n

perke
bunan

pekara
ngan

kubu
ran

lainn
ya

Desa Satra

190.76

81.92

29.7

8.64

0.5

70

Desa Tojan

132.46

86.85

8.97

16.63

20.01

Desa Jumpai

143.57

80.95

16.82

17.89

26.91

Desa Tangkas

278.45

33.43

155.57

25.08

0.5

63.87

Desa Gelgel
Kampung Islam
Gelgel

290

9.7

24.05

1.5

19.31

4.23

0.5

0.5

Desa Kusamba
Kampung
Kusamba
Desa
Pesinggahan
Desa Dawan
Kelod

201

100

38

50.41

1.5

11.09

10

5.03

4.5

0.47

365

44

172

126.02

17.74

0.5

4.74

430

145

30

4.54

32.46

Desa Gunaksa

683

277

113

19.35

62.37

0.5

217
210.7
8

Desa Negari

216

95.1

66

12

25.29

0.25

17.64

594
3541.
24

243.62
1187.
87

240
870.0
6

12
178.9
4

46.14

0.6

307.15

6.82

52.29
694.3
3

Desa Takmung
Total

Sumber: Kecamatan Klungkung, Dawan dan Banjarangkan Dalam

Penyusunan RANPERDA Rencana Rinci Tata Ruang


Kawasan Strategis Daya Tarik Wisata Tegal Besar-Goa Lawah

Gambar 3.6 Diagram Penggunaan Lahan (Mengikuti


luas lahan di peta)

LAPORAN
8

ANTARA

Gambar 3.7 Peta Penggunaan Lahan

BAB III -

BAB III -

3.2.2 Tata Guna Tanah


Secara umum ada lima jenis tanah utama yang tersebar di wilayah
Provinsi Bali menurut Peta Tanah Tinjau Bali (1970). Kelima jenis tanah
tersebut adalah :
1. Aluvial, terdiri atas Aluvial Hidromorf dan Aluvial Coklat Kelabu. Luas
jenis tanah ini adalah 27.456 ha (4,8%), tersebar di Kabupaten
Jembrana, Klungkung (Kec. Dawan), Buleleng dan Karangasem.
2. Regosol, terdiri atas Regosol Coklat Kelabu, Regosol Kelabu, Regosol
Coklat dan Regosol Berhumus. Luas jenis tanah ini adalah 224.869 ha
(39,9%), tersebar di Kabupaten Badung, Denpasar, Gianyar, dan
Jembrana.
3. Andosol Coklat Kelabu, luasnya 22.976 ha (4,1%) tersebar di Kabupaten
Buleleng, Tabanan dan Badung.
4. Latosol, terdiri atas Latosol Coklat Kekuningan, Latosal Coklat, Latosol
Coklat Kemerahan dan Litosol. Jenis tanah ini mendominasi wilayah Bali
dengan luas 251.185 ha (44,6%) yang terdapat di Kabupaten Buleleng,
Tabanan, Badung, Denpasar, Jembrana, dan Seluruh Wilayah di
Kab.Klungkung kecuali di Nusa Penida.
5. Mediteran, terdiri atas Mediteran Coklat dan Mediteran Coklat Merah.
Luasnya mencapai 37.180 ha (6,6%), tersebar di Kabupaten Jembrana,
Badung dan Klungkung.
Berdasarkan data tersebut di atas, maka Kawasan Strategis Tegal
Besar-Goa Lawah memiliki jenis tanah alluvial dengan bentuk tanah datar
dan tanah latosol dengan tanah berbukit. Hal ini tentu akan mempengaruhi
pengembangan wilayah di Kawasan Strategis Tegal Besar Goa Lawah.
Dilihat dari penggunaan lahannya, mayoritas adalah kawasan pertanian
sawah dengan tanah yang cukup subur.Untuk pengembangan wilayah
kawasan ini dapat dijadikan sebagai lahan cadangan untuk pengembangan
permukiman dengan limitasi wilayah yaitu berupa kawasan datar hingga
berbukit.
3.2.3 Fasilitas Kawasan Permukiman
1. Fasilitas Perumahan
Dalam upaya penyediaan perumahan permukiman yang layak bagi
seluruh masyarakat, kita dihadapkan pada berbagai masalah antara lain
pertambahan penduduk yang sangat cepat, urbanisasi yang tidak
terkendali, keterbatasan lahan, pendapatan penduduk yang relatif rendah
dan pengendalian pembangunan masih rendah.
Untuk kawasan permukiman pedesaan umumnya berada di pusatpusat desa atau menyebarmengikuti sarana dan prasarana penunjang,
misalnya
penyebaran
permukiman
mengikuti
jalan
raya,
pelabuhan/dermaga, dan lain-lain.
2. Fasilitas Pendidikan
Pendidikan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan
kecerdasan dan keterampilan manusia, sehingga kualitas sumber daya
manusia sangat tergantung dari kualitas pendidikan. Upaya memperluas

pemerataan pendidikan di tingkat sekolah dasar telah berhasil diwujudkan


dengan dibangunnya sarana dan prasarana belajar dalam jumlah memadai,
dan persebarannya sampai ke desa, dusun serta dekat dengan lokasi
pemukiman penduduk. Ketersediaan fasilitas pendidikan baik sarana dan
prasarana akan sangat menunjang dalam meningkatkan pendidikan.
Jumlah fasilitas pendidikan di Kawasan Strategis Tegal Besar Goa
Lawah adalah TK 18 buah, SD 28 buah, SLTP4 buah dan SLTA 3 buah.
Fasilitas pendidikan berupa TK tersebar di semua desa dengan
perbandingan antara jumlah guru dan siswa yaitu 1 : 9, sedangkan fasilitas
pendidikan terbanyak yaitu SD dengan jumlah total siswa SD di Kawasan
Tegal Besar-Goa Lawah adalah 4.010 siswa dan guru sebanyak 189 orang.
Fasilitas SLTP terdapat di 4 desa pada kawasan perencanaan yaitu Desa
Gelgel, Desa Dawan Kelod, Desa Gunaksa dan Desa Takmung dengan
jumlah siswa 2.162 orang dan guru sebanyak 163 orang. Fasilitas SLTA
terdapat di 3 desa pada kawasan perencanaan yaitu di Desa Dawan Kelod,
Desa Gunaksa dan Desa Negari dengan siswa sebanyak 1.218 orang dan
guru sebanyak 144 orang.
Tabel 3.4 Fasilitas Pendidikan di Kawasan Perencanaan Tahun 2012
TK

SD

SLTP

SLTA

Jml
Sekol
ah

Jml
Gur
u

Jml
Sis
wa

Jml
Sekol
ah

Jml
Gur
u

Jml
Sis
wa

Jml
Sekol
ah

Jml
Gur
u

Jml
Sisw
a

Jml
Sekol
ah

Jml
Gur
u

Jml
Sis
wa

Desa Satra

Desa Tojan

15

49

24

344

Desa Jumpai

187

Desa Tangkas

29

16

296

Desa Gelgel

26

14

322

71

1040

Kampung Islam
Gelgel

52

11

223

Desa Kusamba

160

35

676

17

77

28

444

100

22

295

48

533

51

534

Desa Gunaksa

163

31

511

44

551

63

684

Desa Negari

79

246

Desa Takmung

125

466

38

18

60

877

28

189

401
0

16
3

216
2

144

121
8

Desa/Kelurahan

Kampung
Kusamba
Desa
Pesinggahan
Desa Dawan
Kelod

Total

Sumber: Kecamatan Klungkung, Dawan dan Banjarangkan Dalam

3. Fasilitas Peribadatan
Bagi umat Hindu pembangunan tempat peribadatan (Pura) sangat
memerlukan pertimbangan adat setempat, sedang bagi umat lainnya

tergantung jumlah penduduk pendukung dan persetujuan desa adat


setempat.
Berdasarkan data tahun 2013 di Kawasan Strategis Tegal Besar-Goa
Lawah untuk fasilitas pribadatan berupa pura sebanyak 218 buah.
Sedangkan sarana ibadah yang lain yaitu Masjid sebanyak 3 buah yaitu di
Kampung Islam Gelgel dan Kampung Kusamba.

Tabel 3.5 Jumlah Sarana Peribadatan di Kawasan Perencanaan Tahun


2012
Desa/Kelurahan

Mesjid
Langgar
Mushola

Gereja

Pura

Klenten
g
Vihara

Desa Satra

Desa Tojan

Desa Jumpai

Desa Tangkas

Desa Gelgel

Kampung Islam
Gelgel

Desa Kusamba

53

Kampung Kusamba

Desa Pesinggahan

33

Desa Dawan Kelod

45

Desa Gunaksa

41

Desa Negari

Desa Takmung

14

Tahun 2012

218

Sumber: Kecamatan Klungkung, Dawan dan Banjarangkan Dalam

4. Fasilitas Kesehatan
Kesehatan merupakan salah satu faktor yang menunjang kualitas
SDM. Kesehatan masyarakat terus ditingkatkan melalui peningkatan
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat setiap orang agar
terwujud derajat kesehatan yang optimal. Fasilitas kesehatan yang tersedia
di Kawasan Strategis Tegal Besar-Goa Lawah diantaranya puskesmas
pembantu, pos KB, tenaga medis berupa dokter, bidan, perawat, adanya
dukun dan sarana kesehatan laiannya seperti dokter praktek. Secara umum
fasilitas kesehatan yang tersedia ini melayani dari kebutuhan pelayanan di
tingkat desa/kelurahan hingga ke tingkat pelayanan regional (rumah sakit).
Untuk puskesmas pembantu yang ada yaitu sebanyak 14 buah yang
hamper tersebar di semua kawasan perencanaan terkecuali Desa Tojan,
Kampung Islam Gelgel dan Kampung Kusamba Sedangkan untuk Pos KB
tersebar di semua kawasan perencanaan terkecuali Desa Tojan, Kampung
Islam Gelgel, Desa Negari dan Desa Takmung. Belum adanya pelayanan

puskesmas pembantu pada 3 desa menunjukkan bahwa belum meratanya


sarana kesehatan di tingkat desa serta belum adanya pelayanan yang
memadai bagi penduduk yang bermukim di desa tersebut. Hanya terdapat
tenaga medis berupa dokter, bidan dan perawat dengan jumlah 92 buah
serta masih adanya kepercayaan pada sarana kesehatan seperti dukun
dengan jumlah 20 buah yang hamper tersebar di semua kawasan
perencanaan.

Tabel 3.6 Jumlah Sarana Kesehatan di Kawasan Perencanaan Tahun


Duku
Lainn
Puskesm
2012
Tenaga Medis
Desa/Kelurahan
Desa Satra

as
Pembant
u
1

Pos KB

ya

Dokt
er

Bida
n

Peraw
at

Desa Tojan

Desa Jumpai

Desa Tangkas

Desa Gelgel
Kampung Islam
Gelgel

16

Desa Kusamba
Kampung
Kusamba

Desa Pesinggahan

Desa Dawan Kelod

Desa Gunaksa

Desa Negari

Desa Takmung

14

10

16

27

49

20

Total

Sumber: Kecamatan Klungkung, Dawan dan Banjarangkan Dalam

5. Fasilitas Perdagangan dan Jasa


Pusat kegiatan perdagangan dan jasa adalah pasar, dimana Kawasan
Strategis Tegal Besar-Goa Lawah memiliki 6 pasar umum di 6 desa pada
kawasan perencanaan. Sedangkan untuk jenis pertokoan berupa kios, los,
pedagang, rumah makan/restaurant, warung dan artshop. Jumlah sarana
perdagangan dan jasa terbanyak yaitu warung berjumlah 832 buah dan
toko pedagang berjumlah 361 buah. Terdapatnya Kios berjumlah 22 buah,
los berjumlah 9 buah, rumah makan berjumlah 33 buah dan artshop hanya
terdapat di Desa Pesinggahan yang berjumlah 3 buah.

Tabel 3.7 Jumlah Sarana


Perencanaan Tahun 2012
Desa/Keluraha
n

Pasa
r
Umu
m

Desa Satra

Perdagangan

dan

Jasa

di

Kawasan

Jenis Pertokoan

Kios

Lo
s

Pedaga
ng

Rumah
Makan/Restora
n

Warun
g

Artsho
p

13

Desa Tojan

36

Desa Jumpai

33

Desa Tangkas

25

Desa Gelgel

74

35

Kampung Islam
Gelgel

41

Desa Kusamba

13

166

176

41

136

14

31

Desa Gunaksa

74

105

Desa Negari

50

Desa Takmung

33

12

110

Total

22

361

33

832

Kampung
Kusamba
Desa
Pesinggahan
Desa Dawan
Kelod

Sumber: Kecamatan Klungkung, Dawan dan Banjarangkan Dalam

6. Fasilitas Perkantoran
Fasilitas perkantoran yang ada di Kawasan Strategis Tegal Besar-Goa
Lawah diantaranya adalah kantor pemerintahan desa dan kantor pos.
Kantor pemerintahan desa berada di setiap pusat desa.
7. Fasilitas Perbankan
Fasilitas perkantoran yang ada di Kawasan Strategis Tegal Besar-Goa
Lawah diantaranya adalah kantor bank, lembaga perkreditan desa (LPD)

dan KUD serta koprasi yang tersebar di kawasan perencanaan. Terdapatnya


fasilitas bank berjumlah 6 buah terdapat di Desa Gelgel, Desa Kusamba,
Kampung Kusamba, Desa Pesinggahan dan Desa Takmung. Fasilitas LPD
hamper tersebar pada desa di kawasan perencanaan yaitu berjumlah 21
buah dan KUD berjumlah 3 buah.

Tabel 3.8 Jumlah Fasilitas Perbankan di Kawasan Perencanaan Tahun


2012
Lembaga
Perkredita
Desa/Kelurahan
Bank
KUD
n Desa
(LPD)
Desa Satra
1
Desa Tojan
1
Desa Jumpai
1
Desa Tangkas
1
1
1
Desa Gelgel
Kampung Islam
Gelgel
1
7
Desa Kusamba
1
Kampung Kusamba
1
2
Desa Pesinggahan
1
1
Desa Dawan Kelod
1
Desa Gunaksa
Desa Negari
2
Desa Takmung
Total

21

Sumber: Kecamatan Klungkung, Dawan dan Banjarangkan Dalam

8. Fasilitas Pariwisata
Seiring dengan terus meningkatnya sektor pariwisata, Kawasan
strategis Tegal Besar-Goa Lawah mengalami perkembangan pembangunan
fasilitas penunjang pariwisata yang cukup pesat. Alih fungsi lahan
merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan terutama lahan-lahan di
kawasan pesisir pantai yang memiliki daya tarik khusus. Perkembangan
fasilitas penunjang pariwisata yang berupa akomodasi pariwisata
diantaranya terdiri dari hotel, villa, caf hingga pondok wisata.
3.3
Kependudukan
3.3.1 Jumlah, Sebaran dan Kepadatan Penduduk
Kependudukan merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan
pembangunan dan menjadi parameter kesejahteraan d daam suatu wilayah.

Pertumbuhan jumlah penduduk menjadi acuan perkembangan suatu


wilayah dan merupakan komponen inti dalam upaya perencanaan
pembangunan di suatu wilayah perencanaan.
Berdasarkan data BPS tahun 2013, jumlah penduduk di Kawasan
Tegal Besar-Goa Lawah berjumlah 44.368 jiwa dengan kepadatan penduduk
adalah 13 jiwa/hektar. Berikut data kependudukan di Kawasan Tegal BesarGoa Lawah.

Tabel 3.9 Jumlah , Sebaran dan Kepadatan Penduduk Kawasan


Perencanaan Tahun 2012
Kecamata
n

Kecamatan
Klungkung

Kecamatan
Dawan

Kecamatan
Banjarangk
an

Desa/Kelurahan

Luas
(Ha)

Luas
Lahan
Pekarang
an (Ha)

Pendud
uk Th.
2012
(Jiwa)

Kepadat
an Bruto
(Jiwa/Ha)

Kepadat
an Netto
(Jiwa/Ha
)

Desa Satra

190.76

8.6

1254

146

Desa Tojan

132.46

16.6

2427

18

146

Desa Jumpai

143.57

17.9

1972

14

110

Desa Tangkas

278.45

25.1

3219

12

128

Desa Gelgel
Kampung Islam
Gelgel

290

24.05

7893

27

328

4.23

1046

149

247

Desa Kusamba
Kampung
Kusamba
Desa
Pesinggahan
Desa Dawan
Kelod

201

50.4

6449

32

128

10

4.5

658

66

146

365

17.7

4405

12

249

430

32.5

2425

75

Desa Gunaksa
Desa Negari

683

62.4

5680

91

216

25.3

2622

12

104

Desa Takmung

594

46.1

4318

94

3541.
24

335.38

44368

13

132

Total

Sumber : Hasil Wawancara Kepala Desa dan hasil analisis tim, 2014

3.4.2 Struktur Penduduk


Berdasarkan data penduduk menurut jenis kelamin Tahun 2013 di
Kawasan Tegal Besar-Goa Lawah yang dikeluarkan oleh BPS, jumlah
penduduk perempuan lebih besar daripada jumlah penduduk laki-laki.
Jumlah penduduk laki-laki sebesar 23.133 jiwa dan penduduk perempuan
sebesar 21.235 jiwa dengan rasio jenis kelamin sebesar 1,09 %. Untuk lebih
jelasnya mengenai struktur penduduk di Kawasan Tegal Besar-Goa Lawah
berdasarkan kelompok umur dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3.10 Struktur Penduduk Kawasan Perencanaan Tahun 2012


Kecamata
n

Kecamatan
Klungkung

Kecamatan
Dawan

Kecamatan
Banjarangk
an

Desa/Kelurahan

Jumlah Penduduk Tahun


2012
LakiPerempua Jumla
Laki
n
h

Sex
Ratio
(%)

Desa Satra
Desa Tojan
Desa Jumpai
Desa Tangkas
Desa Gelgel
Kampung Islam
Gelgel
Desa Kusamba
Kampung Kusamba
Desa Pesinggahan
Desa Dawan Kelod
Desa Gunaksa
Desa Negari

653
1157
961
1621
5234

601
1270
1011
1598
2659

1254
2427
1972
3219
7893

1.09
0.91
0.95
1.01
1.97

517

529

1046

0.98

3157
318
2156
1168
2784
1281

3292
340
2249
1257
2896
1341

6449
658
4405
2425
5680
2622

0.96
0.94
0.96
0.93
0.96
0.96

Desa Takmung

2126

2192

4318

0.97

23133

21235

4436
8

1.09

Total

Sumber : Hasil Wawancara Kepala Desa dan hasil analisis tim, 2014

3.4
Kondisi Sosial Budaya
3.4.1 Sistem Tata Nilai dan Budaya Kawasan
Setiap pembangunan sebuah kawasan yang berada di lingkungan
daerah Bali sudah semestinya memperhatikan tatanan nilai budaya Bali
yang sudah menjadi tradisi masyarakat sekitarnya. Apabila pembangunan
dilakukan tanpa memperhatikan norma budaya yang telah ada maka
nantinya akan berakibat dapat merugikan masyarakat itu sendiri baik
secara materiil maupun spriritual. Demikian halnya dengan pembangunan
jalan arteri Tohpati-Kusamba, aspek sosial budaya merupakan hal yang

sangat penting diperhatikan agar pemanfaatan jalan tersebut berguna


sesuai dengan tujuan semula.
Kebudayaan Bali yang berlandaskan atau dijiwai oleh ajaran agama
Hindu telah mengakar dalam setiap aktivitas masyarakat Bali baik secara
individu maupun kelompok/organisasi. Landasan budaya Bali pada dasarnya
bersumberkan dari kitab suci Weda dan sebagai kerangka dasar ajaran
Weda digariskan dalam Tri Kerangka Agama Hindu yaitu Sradha, Susila dan
Acara.
Sradha memberikan petunjuk keyakinan tentang Tuhan berdasarkan
konsepsi filosofi ke-Tuhanan. Susila memuat pedoman yang baik untuk
berpikir, berkata, dan berbuta sesuai dengan tuntunan Dharma. Sedangkan
acara menuntun umat untuk melakukan tradisi keagamaan dengan tulus
munurut Swadharmanya/kewajibannya sehingga mampu secara harmonis
berhubungan dengan Tuhan, manusia, alam dan lingkungannya.
Penduduk yang bermukim di kawasan sepanjang jalan arteri TohpatiKusamba sebagian besar masyarakat Bali yang beragama Hindu dengan
keragaman budaya dan sistem kemasyarakatan yang terbentuk menurut
adat yang berlaku seperti pekurenan (keluarga), kelompok dadia
(keturunan) sebagai akibat adanya perkawinan. Hal ini dicirikan dengan
sebaran elemen bangunan atau penempatan bentuk bangunan budaya Bali,
seperti bangunan Pura atau tempat suci, balai banjar dan kawasan suci
seperti Perempatan Agung. Masyarakat kawasan jalur jalan arteri TohpatiKusamba dalam menginterpretasikan konsep-konsep ruang tidak jauh
berbeda dengan masyarakat di daerah lainnya di Bali. Falsafah Tri Hita
Karana yang tertuang pada setiap aturan-aturan hukum atau Awig-Awig
Desa Adat dimanifestasikan di dalam konsep tata ruang di wilayah
perencanaan baik secara makro maupun mikro.
Kelembagaan yang hidup pada masyarakat Bali pada umumnya serta
masyarakat pada kawasan perencanaan pada khususnya secara garis besar
ada beberapa lembaga yaitu Banjar, Subak, Subak Abian, dan Sekehe yang
berfungsi sebagai motivator dan katalisator pembangunan. Keberadaan
lembaga-lembaga adat di kawasan perencanaan pada saat ini masih tetap
eksis yang diatur dengan awig-awig adat untuk mengatur wilayah dan
anggota (krama) sehingga tidak bertentangan dengan aturan hukum.
3.4.2 Landasan Struktural
Kebudayaan Bali bermula, tumbuh dan bekembang dijiwai oleh ajaran
agama Hindu. Filosofi ajaran agama Hindu tercermin dari kehidupan
bermasyarakat di Bali. Perilaku budaya masyarakat sehari-hari secara
dominan berpedoman pada etika religius yaitu karma. Berpedoman dari
karma inilah maka masyarakat Bali dalam prilakunya percaya kepada
Tuhan, Atma/Roh Leluhur, Samsara dan Moksa. Kepercayaan masyarakat
diwujudkan melalui kegiatan ritual keagamaan seperti pembangunan
tempat suci mulai dari tingkat keluarga sampai Kahyangan Jagat. Dalam
konsep keagamaan ini menyatu antara konsep agama dengan adat-istiadat
sebagai unsur kebuadayaan masyarakat Bali. Masyarakat Bali menanamkan
pengertian mengenai ajaran mengharmoniskan hubungan antara manusia

dengan Tuhan (Pahrayangan), antara sesama manusia (Pawongan), dan


antara manusia dengan lingkungannya (Pelemahan). Ajaran yang dikenal
dengan nama Tri Hita Karana tidak hanya terbatas pada pemahaman
konsep semata, melainkan diwujudkan dengan aktivitas/pelaksanaan dalam
kehidupan sehari-hari.
Pembangunan jalan arteri Tohpati Kusamba termasuk di dalam
salah satu pembangunan Palemahan yang nantinya tidak bisa dipisahkan
dengan pembangunan Pahrayangan serta Pawongan di wilayah tersebut.
Sehingga landasan struktural kebudayaan Bali di sekitar kawasan
perencanaan bersumber dari Kitab Suci Weda yaitu Sradha dan Bakti dan
berpusat dari Karma, serta dilandasi oleh filosofi Tri Hita Karana yang tertata
di dalam wadah desa adat secara berkesinambungan.
Kondisi eksisiting di lapangan, pembangunan jalan arteri TohpatiKusamba akan melintasi kawasan Tri Hita Karana seperti :
1. Pahrayangan :
di bagian utara dan selatan jalan banyak terdapat
tempat-tempat suci /pura baik yang berstatus pura keluarga, Kahyangan
Tiga dan Dang Kahyangan.
2. Pawongan : di sepanjang wilayah perencanaan khususnya jalur jalan
arteri -Tohpati Kusamba banyak melalui permukiman penduduk dan setra.
3. Palemahan : di sepanjang wilayah perencanaan yang dilalui oleh jalan
arteri Tohpati-Kusamba terdapat banyak kebun, sawah, jurang, sungai
dan sebagainya yang merupakan bagian wikayah desa sebagai tempat
mengusahakan kehidupannya.

3.4.3 Konsep dan Pola Permukiman


Konsep budaya setempat yang terkait dengan tata ruang wilayah
kabupaten yaitu konsep keseimbangan alam, rwa bhineda, harmonisasi
dengan lingkungan dan orientasi.
1.
Keseimbangan Alam
a.
Keseimbangan 9 (sembilan) arah mata
angin merupakan pengejewantahan konsepsi Dewata Nawa Sanga
dalam tata ruang diekspresikan dengan pola Sanga Mandala.
b.
Keseimbangan empat arah merupakan
pengejewantahan konsepsi Catur Loka Pala dalam tata ruang
diekspresikan dengan pola catuspatha.
c.
Keseimbangan tiga alam yaitu alam bhuta,
alam manusia, dan alam dewa merupakan pengejewantahan
konsepsi Tri Loka dalam tata ruang diekspresikan dengan pola Tri
Mandala.
2.
Rwa Bhineda
Wujud wujud pasangan linier dalam tata ruang adalah hulu-teben, luhursor, akasa-pretiwi, sakral-profan. Kawasan-kawasan hulu dialokasikan
untuk fungsi-fungsi dan wujud-wujud yang utama atau yang disakralkan

sedangkan kawasan teben untuk fungsi-fungsi dan wujud yang


sebaliknya. Luhur-sor merupakan wujud penataan vertikal yang
mengambil paralelisme hulu-teben yang horisontal. Konsep perpaduan
akasa-pratiwi (langit-bumi) diejawantahkan dalam bentuk halaman
tengah atau natah.
3.
Harmonisasi dengan lingkungan
Konsep harmonisasi dengan lingkungan dilandasi oleh falsafah Tri Hita
Karana. Wilayah Kabupaten merupakan miniatur makrokosmos (alam
raya). Tata ruang wilayah Kabupaten harmonis dengan tatanan alam
(kosmos). Penataan secara horizontal harus harmonis dengan struktur
horizontal alam. Demikian pula susunan vertikal secara prinsip harus
harmonis dengan susunan vertikal alam.
4.
Orientasi
Konsep orientasi arah utama (hulu) wilayah Kabupaten pada dasarnya
ditentukan oleh posisi gunung atau pegunungan, sedangkan arah nista
(teben) adalah arah yang berlawanan umumnya laut. Orientasi gunung
laut membentuk pola-pola yang linier seperti pola Tri Mandala dengan
utama mandala di arah ke gunung, madya mandala di tengah, dan nista
mandala ke arah laut. Tempat terbitnya matahari (timur) merupakan
faktor penentu yang kedua untuk menentukan arah utama. Orientasi
terbit- tenggelamnya matahari membentuk sumbu linier timur barat.
Arah ke gunung adalah arah ke-adia disebut kaja, dan arah sebaliknya
atau ke laut disebut kelod.
Pola permukiman perdesaan pada dasarnya berpola linier yang
dikombinasi dengan catuspatha sebagai puser-puser desa. Dalam satuan
desa adat/pekraman terdapat fasilitas-fasilitas peribadatan Tri Kahyangan
dan pasar desa. Di beberapa desa pada puser-nya terdapat puri dan/atau
pasar. Permukiman yang pada dasarnya linier tetapi dikombinasi dengan
catuspatha dapat diketemukan antara lain di Desa Nyalian, Tihingan,
Kamasan, dan Kusamba.

Gambar 3.8 Arah Orientasi Ruang


Budaya Bali

Gambar 3.9 Pola Desa


Kusamba

3.4.4 Kegiatan Budaya dan Sebaran Tempat Suci Dalam Kawasan


Perencanaan
Di sepanjang jalan arteri Tohpati-Kusamba dipergunakan sebagai
obyek wisata kegiatan untuk menunjang kegiatan sehari-hari seperti di
bidang ekonomi, pertanian, nelayan dan pariwisata serta kegiatan upacara
keagamaan yang dilaksanakan oleh masyarakat sekitar. Lokasi yang
digunakan oleh umat Hindu dalam melaksanakan kegiatan upacara
keagamaan yaitu Pantai Kesiut, Pantai Negari, Pantai Lepang, dan Pantai
Klotok. Khusus untuk Pantai Klotok selain dipakai untuk kegiatan upacara
keagamaan bagi masyarakat adat sekitarnya juga merupakan tempat
prosesi upacara Dewa Yadnya bagi seluruh umat Hindu Bali dan Indonesia,
yang berkaitan dengan rangkaian upacara yang diselenggarakan di Pura
Besakih.
Pura-pura yang terdapat di sepanjang pesisir pantai di kawasan
perencanaan yaitu Pura Er Jeruk di Pantai Purnama, Pura Sukaluwih di Pantai
Saba, Pura Masceti di Pantai Masceti, Pura Candi di Pantai Lebih, Pura
Segara dan Pura Desa di Pantai Negari/Tegal Besar, serta Pura Watu Klotok
di Pantai Klotok.
Kegiatan upacara yang dilakukan di lokasi-lokasi pura tersebut
dilakukan secara berkala sesuai dengan tingkatan dan jenis Yadnya yang
dilaksanakan seperti:
1. Di Pantai Kesiut dilakukan kegiatan melasti dalam rangkaian dengan
upacara Nyepi yang pelaksanaannya 3 (tiga) hari sebelum Nyepi dan
dipergunakan sebagai tempat Nganyut dalam upacara Pitra Yadnya oleh
masyarakat Desa Tulikup.
2. Di Pantai Lepang dipergunakan sebagai tempat melasti pada setiap
upacara di Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Losan.
3. Di Pantai Klotok digunakan sebagai tempat melasti ketika upacara Panca
Wali Krama karena Pura Klotok berkaitan dengan Pura Penataran Agung
Besakih, Upacara di Pura Dasar Gelgel setiap Purnama Kapat, Upacara di
Pura Dalem Tapmwagan Bangli setahun sekali, upacara Nyepi yang
dilaksanakan setiap setahun sekali mulai dari 5 (lima) hari sebelum Nyepi
oleh masyarakat Kabupaten Klungkung, upacara nganyut dalam rangka
upacara Pitra Yadnya oleh masyarakat Klungkung.
3.4.5 Sistem Kelembagaan
Lembaga yang hidup di masyarakat pada Kawasan Strategis Tegal BesarGoa Lawah yaitu : Banjar, Subak, Subak Abian dan Sekaa yang berfungsi
sebagai motivator dan katalisator pembangunan.
1. Banjar
Banjar merupakan komunitas di bawah Desa Pakraman yang memiliki
unsur unsur warga (krama), teretorial, bale dan pura, awig
(peraturan), dan pengurus. Di dalam banjar ini terpadu peranan
seseorang anggota banjar sebagai anggota sebuah desa adat dan desa
dinas.
2. Subak

Subak adalah organisasi pengairan bersumber dari 1 sumber air untuk


mengairi satu kesatuan areal persawahan yang bersifat sosio-agrarisreligius, yang terdiri atas para petani penggarap pada arela subak
tersebut.
Subak mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

Subak merupakan organisasi petani yang megelola irigasi


untuk anggota-anggotanya. Sebagai suatu organisasi subak
mempunyai aturan-aturan keorganisasian (awig-awig), baik secara
tertulis maupun tidak tertulis;

Subak mempunyai sumber air bersama, sumber air ini


dapat berupa bendung (empelan) di sungai, mata air, air tanah
ataupun saluran utama sistem irigasi;

Subak mempunyai areal persawahan;

Subak mempunyai otonomi baik internal maupun


eksternal; dan

Subak mempunyai satu atau lebih Pura Bedugul (atau


Pura yang berhubungan dengan persubakan).
3. Subak Abian
Bercocok tanam di ladang (lahan kering) lebih dahulu dikenal
dibandingkan dengan pertanian lahan basah. Munculnya kedua sistem
itu adalah secara alami sebab suatu sistem pertanian itu diterapkan
sesuai dengan situasi dan kondisi lahan pertanian itu sendiri. Pertanian
pada lahan kering di Bali disebut Abian (kebun). Ada dua macam
sistem pada kebun yaitu :

Kebun dengan sistem tanaman keras (tahunan) seperti


kopi, jeruk cengkeh, rambutan, mangga, kelapa dan lain
sebagainya; dan

Kebun dengan tanaman semusim yang berumur pendek


seperti sayur-sayuran, bunga-bungaan, kacang-kacangan, kentang,
bawang, jagung dan sebagainya. Subak abian itu secara khusus
mengkoordinir pertanian lahan kering (perkebunan).
Lembaga subak ini bersifat permanen dengan keorganisasian mantap
dan mempunyai nama sendiri-sendiri, serta mempunyai anggaran
dasar dan anggaran rumah tangga yang disebut awig-awig subak.
4. Sekaa
Sekaa dibentuk berdasarkan asas sukarela berdasarkan atas tujuantujuan tertentu yang sangat khusus sesuai dengan bidang-bidang yang
ada dalam kehidupan masyarakat. Keberadaan sekaa dapat dibagi dua
yaitu :

Ada sekaa yang berbentuk permanen yang berlangsung


terus menerus (dari generasi ke generasi); dan

Ada sekaa yang dibentuk secara temporal.


Sekaa yang berbentuk permanen misalnya : Sekaa teruna-teruni,
sekaa pemangku, sekaa patus, sekaa dadia, sekaa gong dan lain-lain.
Sedangkan sekaa yang bersifat sementara seperti : sekaa manyi,
sekaa semal, sekaa mamuia, sekaa kopi dan lain-lain.

A. Upacara Agama dan Upacara Adat


Landasan upacara agama dan upacara adat di kawasan perencanaan
selain berlandaskan ajaran Agama Hindu juga dilandaskan oleh dresta
(tradisi) yang telah ada dan dianggap benar, upacara agama dan upacara
adat yang membutuhkan ruang sesuai dengan pelaksanaan Panca Maha
Yadnya yaitu : Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusia Yadnya dan
Bhuta Yadnya.
1. Kebutuhan ruang dalam pelaksanaan Dewa Yadnya antara lain
tempat suci (pura), kawasan suci, dan lintasan suci seperti jalanjalan, yang dipakai prosesi ritual.
2. Kebutuhan ruang dalam pelaksanaan Rsi Yadnya biasanya
kebutuhan ruangnya sama dengan upacara Manusia Yadnya yaitu
terbatas
pada
ruang
permukiman.
Namun
juga
ada
dipergunakannya ruas-ruas jalan untuk prosesi tersebut.
3. Kebutuhan ruang untuk kebutuhan Upacara Pitra Yadnya selain
permukiman (rumah duka) juga dipakainya ruas jalan pempatan
agung dan setra (kuburan) dalam prosesi upacaranya.
4. Upacara bhuta yadnya yang dilaksanakan di wilayah perencanaan,
yang paling utama membutuhkan ruang adalah Bhuta Yadnya yang
dilakukan secara berkala seperti : Tawur Kesanga (akhir tahun/saka)
yang umumnya dilakukan di Catuspatha Kabupaten/Kecamatan
/Desa, dan di Bale Banjar.
Dengan kegiatan-kegiatan upacara diatas sudah pasti akan
menemukan permasalahan dari pemanfaatan ruangnya sehingga perlu
mendapatkan perhatian untuk membangun, memperbaiki dan menata
sarana dan prasarana upacara tersebut dengan tetap mempertahankan
daerah-daerah peruntukan kegiatan upacara dimaksud, baik dari nilai
estetika maupun radius kesuciannya.

B. Tempat Suci dan Kawasan Suci


Tempat suci adalah tempat yang disakralkan untuk pemujaan Hyang
Widhi atau manifestasinya. Sedangkan kawasan suci adalah suatu wilayah
yang disakralkan oleh umat hindu di kawasan perencanaan seperti :
gunung, mata air, sungai, campuhan (pertemuan sungai) danau, pantai
dan laut, setra, subak, dan catuspatha.
Tempat suci atau sering disebut pura atau kahyangan, berisi bangunanbangunan suci/pelinggih. Tempat tempat suci atau pura di kawasan
perencanaan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Pura Keluarga : sanggah/pemerajan, panti, paibon, dadia,
batur, pedarman
2. Pura Swagina : Bedugul, Ulunsari, Segara. Melanting, dan
pura/merajan di instansi-instansi
3. Kahyangan Jagat : Sad Kahyangan dan Dang Kahyangan
4. Tri Kahyangan Desa : Puseh, Desa, Dalem

Kawasan - kawasan suci dan radius kesucian pura memiliki makna-makna


ekologis, konservatif, religius, dan ekonomi, untuk kawasan suci dan
radius kesucian perlu pengaturan sempadan, perlakuan, dan pengelolaan
untuk mempertahankan kesucian, keberlanjutan sumber daya alam,
sumber daya budaya, dan sumber perekonomian.
Tempat suci umumnya berada pada kawasan suci dan diamankan dengan
radius kesucian pura sesuai dengan jiwa yang termuat dalam Bhisama
Parisada Hindu Dharma Indonesia mengenai radius kesucian pura melalui
surat keputusan PHDI Pusat No. 11/Kep./I/PHDIP/1994 tertanggal 25
januari 1994.
Menurut Bhisama tersebut radius kesucian pura Sad Kahyangan adalah
apeneleng agung yang setara dengan minimal 5000 m dan Dang
kahyangan adalah apeneleng alit yang setara dengan 2000 m. Sedangkan
untuk Tri Kahyangan adalah apenimpug yang setara dengan 50 m atau
apenyengker setara dengan telajakan pura atau pelaba yang ada disekitar
pura.
Dalam radius kesucian pura ini perlu diatur kegiatan/bangunan yang
diperbolehkan
berkaitan
dengan
penyelenggaraan
wali,
perawatan/pengawasan, perumahan mangku, desa pengemong, dan
fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan dalam kegiatan wali maupun perbaikan
pura seperti parkir, warung makan/minum, budi daya pertanian dan
kawasan berfungsi lindung.
Tempat suci dan kawasan suci salah satu fungsinya sebagai tempat
dilaksanakannya upacara agama. Maka di kawasan perencanaan upacara
agama sesuai dengan prosesinya yang paling banyak memanfaatkan
ruang antara lain :
a. Upacara Tawur Agung pada akhir sasih kesanga yang
dilaksanakan di Catus Pata Desa Adat dan di tiap Kecamatan
pada kawasan perencanaan
b. Khusus Tawur Agung di Ibukota Kabupaten Klungkung
mempunyai ketentuan Pada saat kesepuluh kali kembali
mekar/Padma mekar dibarengi dengan Panca Bali Krama di
Besakih dan Batu Klotok yang berada pada kawasan
perencanaan.
Adapun sebaran tempat suci dan kawasan suci dalam kawasan
perencanaan yaitu
Tabel 3.11 Sebaran Tempat Suci (Pura) di Kawasan Perencanaan
N
Lokasi
Nama Pura
Tingkatan
Desa
Kecamatan
o.
1. Goa Lawah
Kahyangan Jagat
Pesinggahan
Dawan
2. Batu Klotok
Kahyangan Jagat
Gelgel
Klungkung
3. Dasar Gelgel
Kahyangan Jagat
Gelgel
Klungkung
4. Kentel Gumi
Kahyangan Jagat
Banjarangkan Banjarangkan
Sumber : PHDI Kabupaten Klungkung Dalam MATEK RTRW Kabupaten Klungkung Tahun 2013-2033

Tabel
Sebaran
di Kawasan Perencanaan
No 3.12
Nama
Pura Kawasan Suci
Fungsi
Lokasi

Desa

.
4.

Pantai Nagari

5.

Pantai Lipang

6.

Batu Klotok

7.

Pantai Kusamba

8.

Pantai Goa
Lawah

Melasti dan
Penganyutan
Melasti dan
Penganyutan
Melasti dan
Penganyutan
Melasti dan
Penganyutan
Meajar-ajar

Desa Negari
Desa Takmung

Kecamata
n
Banjarangk
an
Banjarangk
an

Desa Takmung

Klungkung

Desa Tojan

Dawan

Desa Kusamba

Dawan

Sumber : PHDI Kabupaten Klungkung Dalam MATEK RTRW Kabupaten Klungkung Tahun 2013-2033

3.5
Kondisi Perekonomian
3.5.1 Produk/Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB)
Salah satu alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja
ekonomi di suatu wilayah adalah Produk Domestik Regional Bruto. PDRB
dibedakan menjadi dua yaitu PDRB sektoral yang merupakan nilai tambah
yang tercipta dalam setiap sektor usaha di suatu wilayah pada periode
waktu tertentu dan PDRB penggunaan atau konsumsi yang merupakan
pengeluaran akhir berbagai produk barang dan jasa untuk mengkonsumsi
akhir, investasi fisik dan ekspor neto di suatu wilayah pada periode waktu
tertentu.
PDRB Kabupaten Buleleng atas dasar harga berlaku tahun 2011 besarnrya
8.288.239,22 juta rupiah dan 3.668.884,04 juta rupiah atas dasar harga
konstan. Secara nominal nilai PDRG tahun 2011 baik atas dasar harga
konstan maupun atas dasar harga berlaku menunjukkan peningkatan
dibanding tahun sebelumnya.
Dari tahun ke tahun sektor pertanian masih merupakan sektor yang paling
dominan dalam kontribusinya terhadap pembentukan PDRB di Kabupaten
Buleleng. Kontribusi sektor ini mencapai 29,52 persen. Sektor perdagangan,
hotel dan restoran menjadi sektor penting setelah pertanian yang
kontribusinya mencapai 25,97 persen. Kegiatan pariwisata mempunyai
mempunyai peranan penting dalam perkembangan sektor ini.
Dan tercatat laju pertumbuhan PDRB tahun 2011 di Kabupaten Buleleng
adalah sebesar 6,11 persen. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan
laju pertumbuhan PDRB tahun sebelumnya yang mencapai 5,85 persen.
Secara umum naiknya laju pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Buleleng
sangat dipengaruhi oleh peningkatan kinerja sektor pertanian, terlebih
sektor ini mempunyai kontribusi paling besar dalam pembentukan PDRB di
Kabupaten Buleleng. Turut pula memberi andil pada peningkatan laju
pertumbuhan ekonomi yaitu tumbuhnya nilai tambah sektor perdagangan,
hotel, dan restoran serta sektor jasa-jasa.
3.5.2 Mata Pencaharian Penduduk
3.5.3 Potensi Perekonomian Kawasan Perencanaan

3.6
Kondisi Kepariwisataan
3.6.1 Destinasi Wisata Kawasan Perencanaan
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun
2009 tentang Kepariwisataan yang dimaksud dengan Destinasi Pariwisata
adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah
administratif yang di dalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum,
fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan
melengkapi terwujudnya kepariwisataan. Berdasarkan pengertian di atas,
unsur-unsur pembentuk destinasi pariwisata meliputi : daya tarik wisata,
aksesibilitas, prasarana dan fasilitas umum, fasilitas pariwisata.
Daya Tarik Wisata (DTW) merupakan pusat-pusat kegiatan baik
berupa titik lokasi, sekitar bangunan tertentu, kawasan, hamparan maupun
wilayah desa yang memiliki potensi sebagai daya tarik wisata. Daya tarik
wisata di kawasan perencanaan terdiri dari:
a.
Wisata Pantai meliputi:
1.
Pantai Tegal Besar dan Pantai Negari, di Kecamatan
Banjarangkan;
2.
Pantai Goa Lawah di Desa Pesinggahan, Kecamatan
Dawan; dan
b. Wisata Spiritual meliputi:
1. Kawasan Pura Goa Lawah;
2. Kawasan Pura Kentel Gumi;
3. Kawasan Pura Penataran Ped;
4. Kawasan Pura Puncak Bukit Mundi; dan
5. Kawasan Pura Goa Giri Putri.
c. Desa Wisata meliputi: Desa Gelgel;
d Wisata Petualangan meliputi: Tukad Unda (arung jeram).
e. Wisata Remaja meliputi: Wisata Tirta (kolam renang) di Desa Gelgel.
f. Pengembangan Daya Tarik Wisata Terpadu di Rencana Pengembangan Kawasan

Exs Pertambangan Bahan Galian Golongan C.


3.7
Sistem Jaringan Transportasi
Transportasi jalan merupakan moda transportasi utama yang
berperan penting dalam mendukung pembangunan
serta mempunyai
kontribusi terbesar dalam melayani mobilitas manusia maupun distribusi
komoditi perdagangan dan industri. Transportasi jalan semakin diperlukan
untuk
menjembatani
kesenjangan
dan
mendorong
pemerataan
pembangunan antar wilayah, antar perkotaan dan antar pedesaan serta
untuk mempercepat pengembangan wilayah. Tujuan pembangunan
transportasi jalan adalah meningkatkan pelayanan jasa transportasi secara
efisien, handal, berkualitas, aman, harga terjangkau dan mewujudkan
sistem transportasi secara intermoda dan terpadu dengan pembangunan
wilayah dan menjadi bagian dari suatu sistem distribusi yang mampu
memberikan pelayanan dan manfaat bagi masyarakat luas, termasuk
meningkatkan jaringan desa-kota yang memadai. Dalam upaya

pembangunan transportasi jalan, diperlukan untuk mengkaji kinerja jalan


dengan mengevaluasi kondisi lalu lintas pada jaringan jalan.
1. Hirarki dan Fungsi Jaringan Jalan
Jaringan jalan eksisting di wilayah perencanaan merupakan satu kesatuan
sistem yang terdiri dari sistem jaringan jalan primer dan sistem jaringan
jalan sekunder. Di wilayah perencanaan sistem jaringan primer lebih
menonjol karena kondisi kawasan non perkotaan dan hanya di beberapa
tempat yang berhubungan dengan sistem jaringan jalan sekunder.
1. Jaringan jalan arteri primer: yang berfungsi dalam melayani pergerakan
orang, dan barang antar pulau (Jawa-Bali-Lombok) antar kota/kabupaten
serta antar kawasan pariwisata di Bali. Yang termasuk jaringan arteri
primer adalah jalur jalan Denpasar-Gianyar - Klungkung dan segmen
dari ruas jalan Tohpati - Kusamba.
2. Jaringan jalan lokal primer: merupakan jaringan jalan lokal pedesaan
yang fungsinya sebagai jalan penghubung antar ibukota kecamatan
dengan desa di dalam kawasan perencanaan, sebagai jalan penghubung
antar desa di dalam wilayah perencanaan serta sebagai jalan
penghubung antar obyek wisata dalam wilayah perencanaan.
3. Jaringan jalan lokal lingkungan: merupakan jaringan jalan yang
berfungsi sebagai jalan penghubung antar lingkungan permukiman di
dalam wilayah perencanaan, antara pusat lingkungan di ke jalan lokal
primer dan ke pusat pelayanan lainnya, antar obyek wisata dalam
wilayah perencanaan.
2. Pola Pergerakan
Pola pergerakan yang terdapat di kawasan perencanaan yaitu :
1. Pergerakan antar pulau yaitu Pulau Jawa Bali Lombok yang melintasi
Jalan Arteri Tohpati-Kusamba.
2. Pergerakan regional yaitu pergerakan antar kabupaten, kecamatan dan
kota dan antar salah satu kawasan pariwisata di Bali seperti ruas jalan
DenpasarSukawati-Gianyar-Klungkung-Karangasem, atau Lajur Jalan
Tohpati-Kusamba.
Pola pergerakan lokal menyangkut pergerakan antar desa dan antar
pegerakan fungsional dan antar obyek wisata dalam kawasan perencanaan.
Pergerakan ini terjadi karena adanya aktivitas penduduk di wilayah
perencanaan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari didukung oleh
jaringan jalan lokal dan lingkungan.
3. Kondisi Jalan di Kawasan Perencanaan
Berdasarkan data statistik tahun 2013 bahwa jenis jalan yang terdapat
dalam kawasan perencanaan pada umumnya sudah berasal pada dan
kondisi baik.
Tabel 3. Struktur Jaringan Jlan di Kawasan Perencanaan
Desa/Keluraha
n
Desa Satra
Desa Tojan

Jenis Jalan (Km)


Asp
Tana
al
Diperkeras
h
4,60
8,50
-

Jembat
an
1
3

Desa Jumpai
Desa Tangkas
Desa Gelgel
Kampung Islam
Gelgel
Desa Kusamba
Kampung
Kusamba
Desa
Pesinggahan
Desa Dawan
Kelod
Desa Gunaksa
Desa Negari
Desa Takmung

Total

2,80
5,20
11,5
0
0,70
7,00
1,00
7,50
3,40
8,00
5,8
9,1
75,1

1
1

1
4

3
4
2
4

27

Sumber: Kecamatan Klungkung, Dawan dan Banjarangkan Dalam

4. Terdapatnya
Rencana
Pengembangan
Sistem
Jaringan
Transportasi Darat
(1) Sistem Jaringan Jalan berupa jaringan jalan bebas hambatan
merupakan jaringan jalan nasional untuk lalu lintas menerus
dengan pengendalian jalan masuk secara penuh dan tanpa
adanya persimpangan sebidang serta dilengkapi dengan pagar
ruang milik jalan, meliputi rencana pengembangan:
a. ruas jalan Tohpati Kusamba Padangbai;
(2) Jaringan jalan kolektor primer 3 merupakan jaringan jalan
provinsi yang berfungsi melayani pergerakan antar PKW
dengan PKL (Pusat Kegiatan Lokal) atau antar PKL/PKW dengan
PPK (Pusat Pelayanan Kawasan) yang telah ada meliputi:
a. ruas jalan Klungkung Gelgel;
b. ruas jalan Takmung Satra;
c. rencana jalan ke Pelabuhan Penyberangan Gunaksa.
(3) Jaringan jalan sekunder (jalan kabupaten), meliputi ruas
jalan:Negari Angantaka.

5. Terdapatnya
Rencana
Pengembangan
Sistem
Jaringan
Transportasi Laut
Sistem pelayanan transportasi laut di Kawasan Sepanjang Jalur Jalan Tohpati
Kusamba meliputi:
(1) Pelabuhan Penyeberangan Gunaksa di Desa Gunaksa Kecamatan
Dawan sebagai pasangan Pelabuhan Penyeberangan Mentigi di
Kecamatan Nusa Penida untuk pelayanan kapal penyeberangan dalam
Provinsi atau dalam Kabupaten;
(2) Pelabuhan Tribuana, Kusamba untuk pelayanan kapal pelayaran rakyat
angkutan penumpang dan barang, di Desa Kusamba;

(3) Pelabuhan Pariwisata yaitu pengembangan pelabuhan kapal pesiar


sejenis cruise dan yacht di Kawasan Eks Galian C Gunaksa secara
terpadu dgn DTW lainnya.
3.8
Prasarana Dasar Wilayah
3.8.1 Prasarana Energi dan Kelistrikan
Prasarana jaringan listrik merupakan salah satu prasarana penting
dalam menjaga stabilitas pembangunan wilayah. Penggunaan listrik di
Kawasan Strategis Tegal Besar-Goa Lawah umumnya digunakan untuk
memenuhi kebutuhan rumah tangga serta untuk kegiatan sosial dan
industri. Pemakaian listrik di Kawasan Strategis Tegal Besar-Goa Lawah
semakin tahun cenderung terus meningkat akibat dari adanya pertambahan
jumlah penduduk dan meningkatnya perkembangan sektor pariwisata.
Jaringan listrik telah menjangkau seluruh desa-desa di dalam
kawasan perencanaan. Fasilitas ini mutlak diperlukan karena sangat
mempengaruhi pola hidup masyarakat di kawasan tersebut. Dengan adanya
listrik berarti banyak aktivitas yang dapat berkembang seperti untuk
penerangan, industri, perdagangan, yang pada akhirnya membantu
perkembangan ekonomi Kawasan Strategis Tegal Besar-Goa Lawah. Dalam
menggunakan energi listrik ini tentunya disesuaikan dengan keperluan dan
kemampuan ekonomi masing-masing warga.
3.8.2 Energi Telekomunikasi
Fasilitas telepon yang ada saat ini, disamping pesawat telepon yang
menggunakan jaringan kabel juga telah berkembang penggunaan telepon
genggam atau telepon selular. Dalam pembahasan sistem telekomunikasi di
Kabupaten Klungkung lebih lanjut hanya akan dibahas sistem telepon yang
menggunakan jaringan kabel.
Jaringan telepon di Kabupaten Klungkung tersebar dengan cukup
merata. Dari data jumlah sambungan telepon yang diperoleh, Kecamatan
Klungkung merupakan kecamatan dengan sebaran konsentrasi sambungan
telepon terbesar di Kabupaten Klungkung yaitu sebanyak 3.265 sambungan
telepon atau 56,14% pada Tahun 2009.
3.8.3 Prasarana Persampahan
Pembuangan sampah di wilayah perencanaan pada umumnya
dilakukan secara individu dengan cara dibakar, ditanam, atau dibuang
ketempat terbuka (tegalan). Namun saat ini sistem pengelolaan sampah
sudah mulai dikelola oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP).
Adapaun sistem pengelolaan sampah meliputi tahap-tahap sebagai berikut:
1. Pengumpulan
Pengumpulan sampah di kawasan perencanaan masih menggunakan cara
konvensional yaitu sampah dari sumber-sumber dikumpulkan di tempat
penampungan.
2. Pemindahan

Pemindahan sampah terjadi di transfer depo, dimana sampah hasil


pengumpulan oleh gerobak dipindahkan langsung ke back truck untuk
dibawa ke TPA.
3. Pengangkutan
Pengangkutan sampah di kawasan perencanaan didukung oleh sarana
operasional seperti truck biasa, dump truck dan truck with crane.
4. Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
Sampah-sampah di tempat pembuangan sementara (TPS) diangkut ke
tempat pembuangan akhir (TPA)
3.8.4 Prasarana Air Minum
Sumber air bersih di Kawasan Perencanaan berasal dari PAM, sumur,
mata air, sungai dan sumber lainnya. Namun sebagian besar pelayanan air
bersih di wilayah perencanaan dikelola dan dibina oleh PDAM Kabupaten
Klungkung. Pelayanan yang dikelola oleh PDAM terdiri dari Sambungan
Rumah (SR), Kran Umum (KU), Hidran Umum (HU), dan Tangki Air (TA),
sedangkan yang dikelola oleh non PDAM dilayani dari sumur, pompa air,
sungai dan mata air.Sumber air baku PDAM Kabupaten Klungkung sebagian
besar dari mata air.
3.8.5 Prasarana Drainase
Prasarana drainase buatan yang ada di Kawasan Tegal Besar-Goa
Lawah, hanya berupa drainase sepanjang jalan. Belum terdapat sistem
drainase yang terstruktur dan teritegrasi dengan daerah-daerah tangkapan
air (catchment area). Morfologi kawasan yang sebagian merupakan
perbukitan dan bergelombang, sangat memungkinkan pengembangan
sistem drainase makro maupun mikro yang terintegrasi dengan saluran
primer yang melintas di Kawasan Perencanaan.
Sejalan dengan perkembangan Kawasan Perencanaan sebagai pusat
aktivitas pariwisata, ke depan diperkirakan akan terjadi peningkatan volume
limbah yang sangat besar sehingga diperlukan pemisahan antara saluran
drainase dengan limbah.
Produksi limbah cair dalam volume yang cukup besar tersebut sangat
potensial sebagai sumber pencemar air bawah tanah dan lingkungan serta
sumber berkembangbiaknya berbagai penyakit. Kondisi saat ini belum
dirasakan dampaknya langsung mengingat limbah cair dibuang langsung ke
saluran drainase atau melalui pengeringan pada lahan-lahan kosong. Sistem
pengolahan dengan siptictank rentan dengan kebocoran sehingga
kemungkinan merembesnya air limbah cair ke sumber-sumber air baku
dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Konsep penanganan
limbah yang dapat diterapkan yakni membuat sistem pengolahan secara
komunal, memisahkan antara saluran drainase dengan limbah serta
membangun jaringan dan instalasi pengolahan limbah secara terpusat.

3.9

Potensi Bencana Alam

3.9.1 Rawan Angin Kencang


3.9.2 Rawan Bencana Longsor
3.9.3 Tsunami
3.9.4 Daerah Banjir
3.9.5 Kegempaan
3.9.6 Abrasi