Anda di halaman 1dari 21

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA
I. BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)
1.1 Definisi
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500
gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam
1 (satu) jam setelah lahir.

1.2 Epidemiologi
Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh
kelahiran di dunia dengan batasan 3,3%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara
berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian
BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi
dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram. BBLR termasuk faktor
utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan disabilitas neonatus, bayi dan anak
serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya dimasa depan . Angka
kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain, yaitu
berkisar antara 9%-30%, hasil studi di 7 daerah multicenter diperoleh angka BBLR
dengan rentang 2.1%-17,2 %. Secara nasional berdasarkan analisa lanjut SDKI, angka
BBLR sekitar 7,5 %. Angka ini lebih besar dari target BBLR yang ditetapkan pada
sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia Sehat 2010 yakni maksimal 7%.

1.3 Etiologi

Persalinan kurang bulan/prematur


Bayi lahir pada umur kehamilan kurang dari 37 minggu. Pada umumnya bayi

kurang bulan disebabkan tidak mampunyai uterus menahan janin, gangguan selama
kehamilan, lepasnya plasenta lenih cepat dari waktunya atau rangsangan yang
1

memudahkan terjadinya kontraksi uterus sebelum cukup bulan. Bayi lahir kurang bulan
mempunyai organ dan alat tubuh yang belum berfungsi normal untuk bertahan hidp di
luar rahim. Semakin muda umur kehamilan, fungsi organ tubuh semakin berkurang dan
prognosanya semakin kurang baik. Kelompok BBLR ini sering mendapatkan penyulit
atau komplikasi akibat kurang matangnya organ karena masa gestasi yang kurang
(prematur).

Bayi lahir kecil untuk masa kehamilan


Bayi lahir kecil untuk masa kehamilan adalah bayi yang mengalami hambatan

pertumbuhan saat dalam kandungan (janin tumbuh lambat atau retardasi pertumbuhan
intrauterin) dengan berat lahir < persentil ke 3 grafik pertumbuhan janin (Lubchenco).
Hal ini dapat disebabkan oleh terganggunya sirkulasi dan efisiensi plasenta, kurang
baiknya keadaan umum ibu atau gizi ibu, atau hambatan pertumbuhan yang berasal dari
bayinya sendiri. Kondisi bayi lahir kecil sangat tergantung pada usia kehamilan saat
dilahirkan dan berapa lama terjadinya hambatan pertumbuhan itu dalam kandungan.
Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu yang
lain adalah umur, paritas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler,
kehamilan kembar/ganda, serta faktor janin juga merupakan penyebab terjadinya BBLR.

a. Faktor ibu

Penyakit Seperti malaria, anaemia, sipilis, infeksi TORCH, dan lain-lain

Komplikasi pada kehamilan Komplikasi yang tejadi pada kehamilan ibu


seperti perdarahan antepartum, pre-eklamsia berat, eklamsia, dan kelahiran
preterm.

Usia Ibu dan paritas Angka kejadian BBLR tertinggi ditemukan pada
bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu dengan usia muda

Faktor kebiasaan ibu Faktor kebiasaan ibu juga berpengaruh seperti ibu
perokok, ibu pecandu alkohol dan ibu pengguna narkotika.
2

b. Faktor Janin
Prematur, hidramion, kehamilan kembar/ganda (gemeli), kelainan kromosom.
c. Faktor Lingkungan
Yang dapat berpengaruh antara lain; tempat tinggal di daratan tinggi, radiasi,
sosio-ekonomi dan paparan zat-zat racun

1.4 Komplikasi
Komplikasi langsung yang dapat terjadi pada bayi berat lahir rendah antara lain :

Hipotermia

Hipoglikemia

Gangguan cairan dan elektrolit

Hiperbilirubinemia

Sindroma gawat nafas

Paten duktus arteriosus

Infeksi

Perdarahan intraventrikuler

Apnea of Prematurity

Anemia

Masalah jangka panjang yang mungkin timbul pada bayi-bayi dengan berat lahir rendah
(BBLR) antara lain:

Gangguan perkembangan dan pertumbuhan

Gangguan penglihatan (Retinopati)

Gangguan pendengaran Penyakit paru kronis

Kenaikan angka kesakitan dan sering masuk rumah sakit

Kenaikan frekuensi kelainan bawaan

1.5 Diagnosis
Menegakkan diagnosis BBLR adalah dapat diketahui dengan dilakukan anamesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
I.

Anamnesis

Umur ibu

Riwayat persalinan sebelumnya

Jumlah paritas, jarak kelahiran sebelumnya

Kenaikan berat badan ibu selama hamil

Aktivitas ibu yang berlebihan

Trauma pada ibu (termasuk post coital trauma)

Penyakit yang diderita selama hamil

Obat-obatan yang diminum selama hamil

II.

Pemeriksaan fisik

Berat badan lahir <2500 g


Untuk BBLR kurang bulan

Tanda prematuritas

Tulang rawan telinga belum terbentuk

Masih terdapat lanugo (rambut halus pada kulit)

Refleks masih lemah

Alat kelamin luar : pada perempuan labium mayus belum menutup


labium minus, pada laki-laki belum terjadi penurunan testis dan kulit
testis rata (rugae testis belum terbentuk)

Untuk BBLR Kecil untuk Masa Kehamilan

Tanda janin Tumbuh Lambat

Tidak dijumpai tanda prematuritas seperti tersebut diatas


4

Kulit keriput

Kuku lebih panjang

1.6 Penatalaksanaan Umum


Setiap menemukan BBLR, lakukan manajemen umum sebagai berikut :
1. Stabilisasi suhu, jaga bayi tetap hangat (KMC)
2. Jaga jalan nafas tetap bersih dan terbuka
3. Nilai segera kondisi bayi tentang tanda vital : pernafasan, denyut jantung,
warna kulit dan aktifitas
4. Bila bayi mengalami gangguan nafas, dikelola dengan gangguan nafas
5. Bila bayi kejang, hentikan kejang dengan antikonvulsan
6. Bila bayi dehidrasi, pasang jalur intravena, berikan cairan rehidrasi IV
7. Kelola sesuai dengan kondisi spesifik atau komplikasinya

1.6.1 Pemantauan
1. Kenaikan berat badan dan pemberian minum setelah umur 7 hari

Bayi akan kehilangan berat badan selama 7-10 hari pertama. Bayi
dengan berat lahir >1500 gram dapat kehilangan berat sampai 10%.
Berat lahir biasanya tercapai kembali dalam 14 hari kecuali apabila
terjadi komplikasi.

Setelah berat lahir tercapai kembali, kenaikan berat badan selama


tiga bulan seharusnya :

2. 150-200 g seminggu untuk bayi <1500 g (misalnya 20-30 g/hari)


3. 200-250 g seminggu untuk bayi 1500-2500 g (misalnya 30-35 g/hari)

Bila bayi sudah mendapat ASI secara penuh (pada semua kategori
berat) dan telah berusia lebih dari 7 hari :

4. Tingkatkan jumlah ASI dengan 20 mL/kg/hari sampai tercapai jumlah 180


mL/kg/hari
5. Apabila kenaikan berat tidak adekuat, tingkatkan jumlah pemberian ASI sampai
200 mL/kg/hari
6. Apabila kenaikan berat tetap kurang dari batas yang telah disebutkan di atas
dalam waktu lebih dari seminggu padahal bayi sudah mendapat ASI 200
mL/kg/hari, tangani sebagai Kemungkinan kenaikan berat bdan tidak adekuat.
7. Tanda kecukupan pemberian ASI
8. Buang air kecil minimal 6 kali dalam 24 jam
9. Bayi tidur lelap setelah pemberian ASI
10. Peningkatan berat badan setelah 7 hari pertama sebanyak 20 gram setiap hari
11. Periksa pada saat ibu meneteki, apabila pada satu payudara dihisap, ASI akan
menetes dari payudara yang lain.

1.6.2 Pemulangan penderita


1. Suhu bayi stabil
2. Toleransi minum per oral baik, diutamakan pemberian ASI
3. Ibu sanggup merawat BBLR di rumah.

II. IKTERIK NEONATORIUM


2.1 Pendahuluan
Ikterus terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah. Pada sebagian
besar neonatus, ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya.
Dikemukakan bahwa angka kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi cukup bulan dan
80% bayi kurang bulan. Di RSU Dr. Soetomo Surabaya ikterus patologis 9,8% (tahun
2002) dan 15,66% (tahun 2003). RSAB Harapan Kita Jakarta melakukan transfusi tukar
14 kali/bulan (tahun 2002). Di Hospital Bersalin Kualalumpur dengan tripple
phototherapy tidak ada lagi kasus yang memerlukan tindakan transfusi tukar (tahun
2004), demikian pula di Vrije Universitiet Medisch Centrum Amsterdam dengan double
phototherapy (tahun 2003).
Ikterus ini pada sebagian penderita dapat bersifat fisiologis dan pada sebagian lagi
mungkin bersifat patologis yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau
menyebabkan kematian. Oleh karena itu, setiap bayi dengan ikterus harus mendapatkan
perhatian, terutama apabila ikterus ditemukan dalam 24 jam pertama kehidupan bayi atau
bila kadar bilirubin meningkat > 5 mg/dL (> 86mol/L) dalam 24 jam. Proses hemolisis
darah, infeksi berat, ikterus yang berlangsung lebih dari 1 minggu serta bilirubin direk >1
mg/dL juga merupakan keadaan yang menunjukkan kemungkinan adanya ikterus
patologis. Dalam keadaan tersebut penatalaksanaan ikterus harus dilakukan sebaikbaiknya agar akibat buruk ikterus dapat dihindarkan. Walaupun pada tahun 1970-an kasus
kernikterus sudah tidak ditemukan lagi di Washington, namun pada tahun 1990-an
ditemukan 31 kasus kernikterus (data Georgetown University Medical Centre
Washington D.C. tahun 2002).
2.2 Definisi

Ikterus atau jaundice terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah,
sehingga kulit dan atau sklera bayi (neonatus) tampak kekuningan. Pada orang dewasa,
ikterus akan tampak apabila serum bilirubin >2 mg/dL (>17 mol/L), sedangkan pada
neonatus baru tampak apabila serum bilirubin >5 mg/dL ( >86mol/L).
Hiperbilirubinemia adalah istilah yang dipakai untuk ikterus neonatorum setelah
ada hasil laboratorium yang menunjukkan peningkatan kadar serum bilirubin.
Hiperbilirubinemia fisiologis yang memerlukan terapi sinar, tetap tergolong non patologis
sehingga

disebut

Excessive

Physiological

Jaundice.

Digolongkan

sebagai

hiperbilirubinemia patologis Non Physiological Jaundice apabila kadar serum bilirubin


terhadap usia neonatus >95% menurut Normogram Bhutani.
2.3 Metabolisme Bilirubin
Bilirubin merupakan produk yang bersifat toksik dan harus dikeluarkan oleh
tubuh. Sebagian besar bilirubin tersebut berasal dari degradasi hemoglobin darah dan
sebagian lagi dari hem bebas atau proses eritropoesis yang tidak efektif. Pembentukan
bilirubin tadi dimulai dengan proses oksidasi yang menghasilkan biliverdin serta
beberapa zat lain. Biliverdin inilah yang mengalami reduksi dan menjadi bilirubin bebas
atau bilirubin IX (Gambar 2). Zat ini sulit larut dalam air tetapi larut dalam lemak,
karenanya mempunyai sifat lipofilik yang sulit diekskresi dan mudah melalui membran
biologik seperti plasenta dan sawar darah otak.
Bilirubin bebas tersebut kemudian bersenyawa dengan albumin dan dibawa ke
hepar. Dalam hepar terjadi mekanisme ambilan, sehingga bilirubin terikat oleh reseptor
membran sel hepar dan masuk ke dalam hepar. Segera setelah ada dalam sel hepar terjadi
persenyawaan ligandin (protein Y), protein Z dan glutation hepar lain yang membawanya
ke retikulum endoplasma hepar, tempat terjadinya konjugasi. Proses ini timbul berkat
adanya enzim glukoronil transferase yang kemudian menghasilkan bentuk bilirubin direk.
Jenis bilirubin ini dapat larut dalam air dan pada kadar tertentu dapat diekskresi melalui
ginjal. Sebagian besar bilirubin yang terkonjugasi ini diekskresi melalui duktus hepatikus
ke dalam saluran pencernaan dan selanjutnya menjadi urubilinogen dan keluar dengan

tinja sebagai sterkobilin. Dalam usus, sebagian di absorpsi kembali oleh mukosa usus dan
terbentuklah proses absorpsi entero hepatik.
Sebagian besar neonatus mengalami peninggian kadar bilirubin indirek pada harihari pertama kehidupan. Hal ini terjadi karena terdapatnya proses fisiologis tertentu pada
neonatus. Proses tersebut antara lain karena tingginya kadar eritrosit neonatus, masa
hidup eritrosit yang lebih pendek (80-90 hari) dan belum matangnya fungsi hepar.
Peninggian kadar bilirubin ini terjadi pada hari ke 2 3 dan mencapai puncaknya
pada hari ke 5 7, kemudian akan menurun kembali pada hari ke 10 14. Kadar
bilirubinpun biasanya tidak > 10 mg/dL (171 mol/L) pada bayi kurang bulan dan < 12
mg/dL (205 mol/L) pada bayi cukup bulan.
Masalah timbul apabila produksi bilirubin ini terlalu berlebihan atau konjungasi
hepar menurun sehingga terjadi kumulasi di dalam darah. Peningkatan kadar bilirubin
yang berlebihan dapat menimbulkan kerusakan sel tubuh tertentu, misalnya kerusakan sel
otak yang akan mengakibatkan gejala sisa dikemudian hari, bahkan terjadinya kematian.
Karena itu bayi ikterus sebaiknya baru dianggap fisiologis apabila telah dibuktikan bukan
suatu keadaan patologis. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pada hiperbilirubinemia,
pemeriksaan lengkap harus dilakukan untuk mengetahui penyebabnya, sehingga
pengobatanpun dapat dilaksanakan dini. Tingginya kadar bilirubin yang dapat
menimbulkan efek patologis tersebut tidak selalu sama pada tiap bayi. Di RS Dr.
Soetomo Surabaya, bayi dinyatakan menderita bilirubinemia apabila kadar bilirubin total
> 12 mg/dL (> 205 mol/L) pada bayi cukup bulan, sedangkan pada bayi kurang bulan
bila kadarnya > 10 mg/dL (>171 mol/L).

2.4 Etiologi
Hiperbilirubinemia dapat disebabkan oleh berbagai keadaan:
A. Penyebab yang sering:
1. Hiperbilirubinemia fisiologis
2. Inkompatibilitas golongan darah ABO
3. Breast Milk Jaundice
4.

Inkompatibilitas golongan darah rhesus

5. Infeksi
6. Hematoma sefal, hematoma subdural, excessive bruising
7. IDM (Infant of Diabetic Mother)
8. Polisitemia / hiperviskositas
9. Prematuritas / BBLR
10. Asfiksia (hipoksia, anoksia), dehidrasi asidosis, hipoglikemia
11. Lain-lain
B. Penyebab yang jarang:
1. Defisiensi G6PD (Glucose 6 Phosphat Dehydrogenase)
2. Defisiensi piruvat kinase
3. Sferositosis kongenital
10

4. Lucey Driscoll syndrome (ikterus neonatorum familial)


5. Hipotiroidism
6. Hemoglobinopathy

2.5 Diagnosis
Dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium terdapat beberapa
faktor risiko terjadinya hiperbilirubinemia berat.

Ikterus yang timbul dalam 24 jam pertama (usia bayi <24 jam)

Inkompatibilitas golongan darah (dengan Coombs test positif)

Usia kehamilan < 38 minggu

Penyakit-penyakit hemolitik (G6PD, end tidal CO )

Ikterus / terapi sinar / transfusi tukar pada bayi sebelumnya

Hematoma sefal, bruising

ASI eksklusif (bila berat badan turun >12% BB lahir)

Ras Asia Timur, jenis kelamin laki-laki, usia ibu < 25 tahun

kterus sebelum bayi dipulangkan

Infant Diabetic Mother, makrosomia

Polisitemia

Anamnesis

Riwayat kehamilan dengan komplikasi (obat-obatan, ibu DM, gawat janin,


malnutrisi intra uterin, infeksi intranatal)

Riwayat persalinan dengan tindakan / komplikasi

Riwayat ikterus / terapi sinar / transfusi tukar pada bayi sebelumnya

Riwayat inkompatibilitas darah


11

Riwayat keluarga yang menderita anemia, pembesaran hepar dan limpa.

Pemeriksaan Fisik
Secara klinis ikterus pada neonatus dapat dilihat segera setelah lahir atau beberapa
hari kemudian. Amati ikterus pada siang hari dengan lampu sinar yang cukup. Ikterus
akan terlihat lebih jelas dengan sinar lampu dan bisa tidak terlihat dengan penerangan
yang kurang, terutama pada neonatus yang kulitnya gelap. Penilaian ikterus akan lebih
sulit lagi apabila penderita sedang mendapatkan terapi sinar.
Tekan kulit secara ringan memakai jari tangan untuk memastikan warna kulit dan
jaringan subkutan. Waktu timbulnya ikterus mempunyai arti penting pula dalam diagnosis
dan penatalaksanaan penderita karena saat timbulnya ikterus mempunyai kaitan erat
dengan kemungkinan penyebab ikterus tersebut.
Tabel 1. Perkiraan klinis derajat ikterus
Usia

Ikterus terlihat pada

Klasifikasi

Hari 1

Setiap ikterus yang terlihat

Ikterus berat

Hari 2

Lengan dan tungkai

Hari 3 dst.

Tangan dan kaki

(Dikutip dari Peter Cooper, A.Suryono, Indarso F, et al. Jaundice. In : Managing


Newborn Problems : a guide for doctor, nurses and midwives, WHO, 2003 : F-77-F-89)

Tabel 2. Klasifikasi Ikterus


Tanya dan Lihat

Tanda / Gejala

Klasifikasi

Mulai kapan ikterus ?

Ikterus segera setelah lahir

Ikterus patologis

Daerah
ikterus ?

mana

yang Ikterus pada


pertama

Bayinya kurang bulan ?

hari

Ikterus pada usia > 14 hari

12

Warna tinja ?

Ikterus lutut/ siku/ lebih


Bayi kurang bulan
Tinja pucat

Ikterus usia 3-13 hari

Ikterus fisiologis

Tanda patologis (-)


(Dikutip dari Depkes RI. Klasifikasi Ikterus Fisiologis dan Ikterus Patologis. Dalam :
Buku Bagan MTBM (Manajemen Terpadu Bayi Muda Sakit). Metode Tepat Guna untuk
Paramedis, Bidan dan Dokter. Depkes RI, 2001)

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan serumbilirubin (bilirubin total dan direk) harus dilakukan pada
neonatus yang mengalami ikterus. Terutama pada bayi yang tampak sakit atau bayi-bayi
yang tergolong risiko tinggi terserang hiperbilirubinemia berat. Namun pada bayi yang
mengalami ikterus berat, lakukan terapi sinar sesegera mungkin, jangan menunda terapi
sinar dengan menunggu hasil pemeriksaan kadar serumbilirubin.
Transcutaneous bilirubin (TcB) dapat digunakan untuk menentukan kadar serum
bilirubin total, tanpa harus mengambil sampel darah. Namun alat ini hanya valid untuk
kadar bilirubin total <15mg/dL (<257mol/L), dan tidak reliable pada kasus ikterus
yang sedang mendapat terapi sinar.
Pemeriksaan tambahan yang sering dilakukan untuk evaluasi menentukan
penyebab ikterus antara lain :
1 Golongan darah dan Coombs test
2 Darah lengkap dan hapusan darah
3 Hitung retikulosit, skrining G6PD atau ETCOc

13

4 Bilirubin direk
Pemeriksaan serum bilirubin total harus diulang setiap 4-24 jam tergantung usia
bayi dan tingginya kadar bilirubin. Kadar serum albumin juga perlu diukur untuk
menentukan pilihan terapi sinar ataukah tranfusi tukar.

2.6 Gejala dan tanda klinis


Gejala utamanya adalah kuning di kulit, konjungtiva dan mukosa. Disamping itu dapat
pula disertai dengan gejala-gejala:
i. Dehidrasi Asupan kalori tidak adekuat (misalnya: kurang minum, muntah-muntah)
ii. Pucat Sering berkaitan dengan anemia hemolitik (mis. Ketidakcocokan golongan
darah ABO, rhesus, defisiensi G6PD) atau kehilangan darah ekstravaskular.
iii. Trauma lahir Bruising, sefalhematom (peradarahan kepala), perdarahan tertutup
lainnya.
iv. Pletorik (penumpukan darah) Polisitemia, yang dapat disebabkan oleh
keterlambatan memotong tali pusat, bayi KMK
v. Letargik dan gejala sepsis lainnya
vi. Petekiae (bintik merah di kulit) Sering dikaitkan dengan infeksi congenital, sepsis
atau eritroblastosis
vii. Mikrosefali (ukuran kepala lebih kecil dari normal) Sering berkaitan dengan
anemia hemolitik, infeksi kongenital, penyakit hati
viii. Hepatosplenomegali (pembesaran hati dan limpa)
ix. Omfalitis (peradangan umbilikus)
x. Hipotiroidisme (defisiensi aktivitas tiroid)
xi. Massa abdominal kanan (sering berkaitan dengan duktus koledokus)
14

xii. Feses dempul disertai urin warna coklat Pikirkan ke arah ikterus obstruktif,
selanjutnya konsultasikan ke bagian hepatologi.

2.7 Komplikasi
Terjadi kernikterus yaitu keruskan otak akibat perlengketan bilirubin indirek pada otak.
Pada kernikterus gejala klinik pada permulaan tidak jelas antara lain : bayi tidak mau
menghisap, letargi, mata berputar-putar, gerakan tidak menentu (involuntary movements),
kejang tonus otot meninggi, leher kaku, dan akhirnya opistotonus. bayi yang selamat
biasanya menderita gejala sisa berupa paralysis serebral dengan atetosis, gengguan
pendengaran, paralysis sebagian otot mata dan displasia dentalis.
Gejala kernikterus dikelompokkan menjadi :
Gejala akut : gejala yang dianggap sebagai fase pertama kernikterus pada
neonatus adalah letargi, tidak mau minum dan hipotoni.
Gejala kronik : tangisan yang melengking (high pitch cry) meliputi hipertonus
dan opistonus (bayi yang selamat biasanya menderita gejala sisa berupa paralysis
serebral dengan atetosis, gengguan pendengaran, paralysis sebagian otot mata dan
displasia dentalis).
2.8 Penatalaksanaan
Tujuan utama dalam penatalaksanaan ikterus neonatorum adalah untuk
mengendalikan agar kadar bilirubin serum tidak mencapai nilai yang dapat
menbimbulkan kern-ikterus/ensefalopati bilirubin, serta mengobati penyebab langsung
ikterus tadi. Pengendalian kadar bilirubin dapat dilakukan dengan mengusahakan agar
konjugasi bilirubin dapat lebih cepat berlangsung. Hal ini dapat dilakukan dengan
merangsang terbentuknya glukoronil transferase dengan pemberian obat-obatan
(luminal).
Phenobarbital dapat menstimulus hati untuk menghasilkan enzim yang
meningkatkan konjugasi bilirubin dan mengekskresikannya. Obat ini efektif baik
15

diberikan pada ibu hamil untuk beberapa hari sampai beberapa minggu sebelum
melahirkan. Penggunaan Phenobarbital pada post natal masih menjadi pertentangan
karena efek sampingnya (letargi). Coloistrin dapat mengurangi bilirubin dengan
mengeluarkannya lewat urine sehingga menurunkan siklus enterohepatika.
Pemberian substrat yang dapat menghambat metabolisme bilirubin (plasma atau
albumin), mengurangi sirkulasi enterohepatik (pemberian kolesteramin), terapi sinar atau
transfusi tukar, merupakan tindakan yang juga dapat mengendalikan kenaikan kadar
bilirubin. Dikemukakan pula bahwa obat-obatan (IVIG : Intra Venous Immuno Globulin
dan Metalloporphyrins) dipakai dengan maksud menghambat hemolisis, meningkatkan
konjugasi dan ekskresi bilirubin.

Tabel 3. Penanganan ikterus berdasarkan kadar serum bilirubin


Terapi sinar
Usia Bayi sehat

Transfusi tukar
Faktor Risiko*

Bayi sehat

Faktor Risiko*

mg/dL mol/L mg/dL mol/L mg/dL mol/L mg/dL mol/L


Hari Setiap ikterus yang terlihat
1
Hari 15
260
13
2
Hari 18
310
16
3
Hari 20
340
17
4 dst
(Dikutip dari American Academy

15

260

13

220

220

25

425

15

260

270

30

510

20

340

290

30

510

20

340

of Pediatrics. Subcommittee on Hyperbilirubinemia.

Management of hyperbilirubinemia in the newborn infant 35 or more weeks of gestation.


Pediatrics 2004 ; 114 : 294)

Terapi Sinar
Pengaruh sinar terhadap ikterus telah diperkenalkan oleh Cremer sejak 1958.
Banyak teori yang dikemukakan mengenai pengaruh sinar tersebut. Teori terbaru
16

mengemukakan bahwa terapi sinar menyebabkan terjadinya isomerisasi bilirubin. Energi


sinar mengubah senyawa yang berbentuk 4Z, 15Z-bilirubin menjadi senyawa berbentuk
4Z, 15E-bilirubin yang merupakan bentuk isomernya. Bentuk isomer ini mudah larut
dalam plasma dan lebih mudah diekskresi oleh hepar ke dalam saluran empedu.
Peningkatan bilirubin isomer dalam empedu menyebabkan bertambahnya pengeluaran
cairan empedu ke dalam usus, sehingga peristaltik usus meningkat dan bilirubin akan
lebih cepat meninggalkan usus halus.
Di RSU Dr. Soetomo Surabaya terapi sinar dilakukan pada semua penderita
dengan kadar bilirubin indirek >12 mg/dL dan pada bayi-bayi dengan proses hemolisis
yang ditandai dengan adanya ikterus pada hari pertama kelahiran. Pada penderita yang
direncanakan transfusi tukar, terapi sinar dilakukan pula sebelum dan sesudah transfusi
dikerjakan.
Peralatan yang digunakan dalam terapi sinar terdiri dari beberapa buah lampu
neon yang diletakkan secara pararel dan dipasang dalam kotak yang berfentilasi. Agar
bayi mendapatkan energi cahaya yang optimal (380-470 nm) lampu diletakkan pada jarak
tertentu dan bagian bawah kotak lampu dipasang pleksiglass biru yang berfungsi untuk
menahan sinar ultraviolet yang tidak bermanfaat untuk penyinaran. Gantilah lampu setiap
2000 jam atau setelah penggunaan 3 bulan walau lampu masih menyala. Gunakan kain
pada boks bayi atau inkubator dan pasang tirai mengelilingi area sekeliling alat tersebut
berada untuk memantulkan kembali sinar sebanyak mungkin ke arah bayi.
Pada saat penyinaran diusahakan agar bagian tubuh yang terpapar dapat seluasluasnya, yaitu dengan membuka pakaian bayi. Posisi bayi sebaiknya diubah-ubah setiap
6-8 jam agar bagian tubuh yang terkena cahaya dapat menyeluruh. Kedua mata ditutup
namun gonad tidak perlu ditutup lagi, selama penyinaran kadar bilirubin dan hemoglobin
bayi di pantau secara berkala dan terapi dihentikan apabila kadar bilirubin <10 mg/dL
(<171 mol/L). Lamanya penyinaran biasanya tidak melebihi 100 jam.
Penghentian atau peninjauan kembali penyinaran juga dilakukan apabila
ditemukan efek samping terapi sinar. Beberapa efek samping yang perlu diperhatikan
antara lain : enteritis, hipertermia, dehidrasi, kelainan kulit, gangguan minum, letargi dan
17

iritabilitas. Efek samping ini biasanya bersifat sementara dan kadang-kadang penyinaran
dapat diteruskan sementara keadaan yang menyertainya diperbaiki.

Transfusi Tukar
Transfusi tukar merupakan tindakan utama yang dapat menurunkan dengan cepat
bilirubin indirek dalam tubuh selain itu juga bermanfaat dalam mengganti eritrosit yang
telah terhemolisis dan membuang pula antibodi yang menimbulkan hemolisis. Walaupun
transfusi tukar ini sangat bermanfaat, tetapi efek samping dan komplikasinya yang
mungkin timbul perlu di perhatikan dan karenanya tindakan hanya dilakukan bila ada
indikasi (Tabel 3). Kriteria melakukan transfusi tukar selain melihat kadar bilirubin, juga
dapat memakai rasio bilirubin terhadap albumin (Tabel 4).

Tabel 4. Kriteria Transfusi Tukar Berdasarkan Berat Bayi dan Komplikasi


Berat Bayi Tidak Komplikasi Rasio

Ada Komplikasi Rasio

(gram)

(mg/dL)

Bili/Alb

(mg/dL)

Bili/Alb

< 1250
1250 1499
1500 1999
2000 2499
2500

13
15
17
18
20

5.2
6
6.8
7.2
8

10
13
15
17
18

4
5.2
6
6.8
7.2

Konversi mg/dL menjadi mmol/L dengan mengalikan 17.1


18

(Dikutip dari American Academy of Pediatrics. Subcommittee on Hyperbilirubinemia.


Management of hyperbilirubinemia in the newborn infant 35 or more weeks of gestation.
Pediatrics 2004 ; 114 : 294)
Yang dimaksud ada komplikasi apabila :
11. Nilai APGAR < 3 pada menit ke 5
22. PaO2 < 40 torr selama 1 jam
33. pH < 7,15 selama 1 jam
44. Suhu rektal 35 O C
55. Serum Albumin < 2,5 g/dL
66. Gejala neurologis yang memburuk terbukti
77. Terbukti sepsis atau terbukti meningitis
88. Anemia hemolitik
99. Berat bayi 1000 g
Dalam melakukan transfusi tukar perlu pula diperhatikan macam darah yang akan
diberikan dan teknik serta penatalaksanaan pemberian. Apabila hiperbilirubinemia yang
terjadi disebabkan oleh inkompatibilitas golongan darah ABO, darah yang dipakai adalah
darah golongan O rhesus positip. Pada keadaan lain yang tidak berkaitan dengan proses
aloimunisasi, sebaiknya digunakan darah yang bergolongan sama dengan bayi. Bila
keadaan ini tidak memungkinkan, dapat dipakai darah golongan O yang kompatibel
dengan serum ibu. Apabila hal inipun tidak ada, maka dapat dimintakan darah O dengan
titer anti A atau anti B yang rendah. Jumlah darah yang dipakai untuk transfusi tukar
berkisar antara 140-180 cc/kgBB.
Macam Transfusi Tukar:
11. Double Volume artinya dibutuhkan dua kali volume darah, diharapkan dapat
mengganti kurang lebih 90 % dari sirkulasi darah bayi dan 88 % mengganti Hb
bayi.

19

22. Iso Volume artinya hanya dibutuhkan sebanyak volume darah bayi, dapat
mengganti 65 % Hb bayi.
33. Partial Exchange artinya memberikan cairan koloid atau kristaloid pada kasus
polisitemia atau darah pada anemia.

Tabel 5. Volume Darah pada Transfusi Tukar


Kebutuhan

Rumus*

Double Volume
Single Volume
Polisitemia

BB x volume darah x 2
BB x volume darah
BB x volume darah x (Hct sekarang Hct yang diinginkan)
Hct sekarang

Anemia

BB x volume darah x (Hb yang diinginkan Hb sekarang)


(Hb donor Hb sekarang)
BB x volume darah x (PCV yang diinginkan PCV
sekarang)
(PCV donor)

* Volume darah bayi cukup bulan 85 cc / kg BB


* Volume darah bayi kurang bulan 100 cc /kg BB

Dalam melaksanakan transfusi tukar tempat dan peralatan yang diperlukan harus
dipersiapkan dengan teliti. Sebaiknya transfusi dilakukan di ruangan yang aseptik yang
dilengkapi peralatan yang dapat memantau tanda vital bayi disertai dengan alat yang
dapat mengatur suhu lingkungan. Perlu diperhatikan pula kemungkinan terjadinya
komplikasi transfusi tukar seperti asidosis, bradikardia, aritmia, ataupun henti jantung.

20

Untuk penatalaksanaan hiperbilirubinemia berat dimana fasilitas sarana dan


tenaga tidak memungkinkan dilakukan terapi sinar atau transfusi tukar, penderita dapat
dirujuk ke pusat rujukan neonatal setelah kondisi bayi stabil (transportable) dengan
memperhatikan syarat-syarat rujukan bayi baru lahir risiko tinggi.

21