Anda di halaman 1dari 10

Turbin Angin sebagai Alternatif Pembangkit Listrik

Turbin Angin sebagai Alternatif Pembangkit Listrik


Abstrak
Tenaga angin merupakan sumber energi yang sangat potensial untuk
dikembangkan menjadi sebuah pembangkit listrik. Berdasarkan data yang ada, bahwa
pembangkit listrik tenaga angin adalah jenis pembangkitan energi dengan laju
pertumbuhan tercepat di dunia dewasa ini. Kapasitas pembangkitan listrik yang telah
dicapai di seluruh dunia sampai saat ini berkisar 17,5 GW. Dan diperkirakan bahwa
30% pasokan listrik dunia diperoleh dari pembangkit listrik tenaga angin.
Di negara-negara maju teknologi ini sudah banyak dikembangkan, dan Jerman
merupakan negara dengan kapasitas pembangkit listrik tenaga angin terbesar sampai
saat ini, yakni 6 GW. Umumnya mereka percaya bahwa energi angin merupakan sumber
energi masa depan di samping energi matahari. Selain karena berupa energi terbarukan
yang tidak akan pernah habis, dampak lingkungan yang diakibatkan dari pemakaian
energi angin pun hampir tidak ada. Beberapa keuntungan tambahan dari pembangkitan
listrik tenaga angin diantaranya adalah pemakaian turbin angin yang sangat cocok
untuk mendukung kegiatan pertanian dan perikanan, seperti untuk keperluan irigasi,
aerasi tambak ikan, dan sebagainya.
Kata kunci: tenaga angin, pembangkit listrik tenaga angin, Jerman, turbin angin
1. Latar Belakang
Belakangan ini harga minyak dunia terus melambung tinggi dan hal ini akan
semakin memberatkan bagi bangsa Indonesia, jika ketergantungan terhadap sumber
energi minyak masih sangat tinggi. Sebenarnya hal tersebut dapat dihindarkan dengan
mulai mengubah pola konsumsi energi masyarakat Indonesia. Pengenalan pada berbagai
jenis energi terbarukan selain minyak dan gas merupakan salah satunya. Sebenarnya
Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber energi terbarukan. Diantaranya
potensi sumber energi angin yang dapat diperoleh dibeberapa lokasi daerah di Indonesia.
Terutama di pantai selatan Jawa, pantai barat Sumatra, dan wilayah Indonesia Timur.
Pemanfaatan teknologi energi angin sebagai salah satu sumber energi yang
dapat diperbarui juga sudah dilakukan di Indonesia. Tetapi energi listrik
yang

dihasilkan

dari

angin

masih

relatif

kecil

kapasitasnya.

Sehingga

umumnya teknologi ini hanya diterapkan di daerah terpencil atau di pedesaan


yang belum terjangkau aliran listrik PLN. Padahal, di berbagai negara, pemanfaatan
energi angin sebagai sumber energi alternatif nonkonvensional sudah semakin

Turbin Angin sebagai Alternatif Pembangkit Listrik


mendapatkan perhatian. Hal ini tentu saja didorong oleh kesadaran terhadap timbulnya
krisis energi dengan kenyataan bahwa kebutuhan energi terus meningkat sedemikian
besarnya. Di samping itu, angin merupakan sumber energi yang tak ada habisnya
sehingga pemanfaatan sistem konversi energi angin akan berdampak positif terhadap
lingkungan.
Dengan potensi angin yang berlimpah tersebut, pembangunan pembangkit listrik
tenaga angin sangat mungkin untuk dilaksanakan. Tentunya tidak mudah untuk
mengembangkan pembangkit listrik dengan mengeksplorasi angin sebagai sumber
energinya. Selain karena teknologinya yang belum dikuasai dan biaya investasi
pembangunannya yang cukup tinggi. Indonesia pun belum memiliki peta penyebaran
angin yang komprehensif, sehingga belum dapat diperoleh data yang akurat mengenai
besarnya fluktuasi kecepatan angin yang ada.
Namun apabila penelitian mengenai pembangkit listrik tenaga angin ini dilakukan
dengan tepat dan adanya kemauan serius dari pihak-pihak yang berkepentingan untuk
mulai mengembangkan teknologinya. Maka hal-hal yang menjadi permasalahan dalam
pembangunannya dapat sedikit dikurangi. Dan apabila hambatan-hambatan pada awal
dalam pembangunannya yang menjadi masalah. Maka diperlukan sebuah pemikiran bijak
mengenai keuntungan jangka panjang yang dapat diberikan oleh sebuah pembangkit
listrik tenaga angin.
2. Referensi
Pembangkit listrik tenaga angin disinyalir sebagai jenis pembangkitan energi
dengan laju pertumbuhan tercepat di dunia dewasa ini. Saat ini kapasitas total
pembangkit listrik yang berasal dari tenaga angin di seluruh dunia berkisar 17.5 GW.
Jerman merupakan negara dengan kapasitas pembangkit listrik tenaga angin terbesar,
yakni 6 GW, kemudian disusul oleh Denmark dengan kapasitas 2 GW. Listrik tenaga
angin menyumbang sekitar 12% kebutuhan energi nasional di Denmark; angka ini hendak
ditingkatkan hingga 50% pada beberapa tahun yang akan datang. Berdasar kapasitas
pembangkitan listriknya, turbin angin dibagi dua, yakni skala besar (orde beberapa ratus
kW) dan skala kecil (dibawah 100 kW). Perbedaan kapasitas tersebut mempengaruhi
kebutuhan kecepatan minimal awal (cut-in win speed) yang diperlukan: turbin skala besar

Turbin Angin sebagai Alternatif Pembangkit Listrik


beroperasi pada cut-in win speed 5 m/s sedangkan turbin skala kecil bisa bekerja mulai 3
m/s.
Untuk Indonesia dengan estimasi kecepatan angin rata-rata sekitar 3 m/s, turbin
skala kecil lebih cocok digunakan, meski tidak menutup kemungkinan bahwa pada
daerah yang berkecepatan angin lebih tinggi (Sumatra Selatan, Jambi, Riau, dsb) bisa
dibangun turbin skala besar. Perlu diketahui bahwa kecepatan angin bersifat fluktuatif,
sehingga pada daerah yang memiliki kecepatan angin rata-rata 3 m/s, akan terdapat saatsaat dimana kecepatan anginnya lebih besar dari 3 m/s - pada saat inilah turbin angin
dengan cut-in win speed 3 m/s akan bekerja. Selain untuk pembangkitan listrik, turbin
angin sangat cocok untuk mendukung kegiatan pertanian dan perikanan, seperti untuk
keperluan irigasi, aerasi tambak ikan, dan sebagainya.
2.1

Asal Energi Angin


Karena matahari memanaskan permukaan bumi secara tidak merata, maka

terbentuklah angin. Energi kinetik dari angin dapat digunakan untuk menjalankan turbin
angin, beberapa mampu memproduksi tenaga 5 MW. Tenaga keluaran adalah fungsi
kubus dari kecepatan angin, maka turbin tersebut paling tidak membutuhkan angin dalam
kisaran 5,5 m/d (20 km/j), dan dalam praktek sangat sedikit wilayah yang memiliki angin
yang bertiup terus menerus. Namun begitu di daerah pesisir atau daerah di ketinggian,
tersedia angin yang cukup konstan.
Semua energi yang dapat diperbaharui dan bahkan energi pada bahan bakar fosilkecuali energi pasang surut dan panas bumi berasal dari Matahari. Matahari meradiasi
1,74 x 1.014 kilowatt jam energi ke Bumi setiap jam. Dengan kata lain, Bumi menerima
1,74 x 1.017 watt daya. Sekitar 1-2 persen dari energi tersebut diubah menjadi energi
angin. Jadi, energi angin berjumlah 50-100 kali lebih banyak daripada energi yang diubah
menjadi biomassa oleh seluruh tumbuhan yang ada di muka Bumi.
Sebagaimana diketahui, pada dasarnya angin terjadi karena ada perbedaan
temperatur antara udara panas dan udara dingin. Daerah sekitar khatulistiwa, yaitu pada
busur 0, adalah daerah yang mengalami pemanasan lebih banyak dari Matahari
dibanding daerah lainnya di Bumi. Daerah panas ditunjukkan dengan warna merah,
oranye, dan kuning pada gambar inframerah dari temperatur permukaan laut yang

Turbin Angin sebagai Alternatif Pembangkit Listrik


diambil dari satelit NOAA-7 pada Juli 1984. Udara panas lebih ringan daripada udara
dingin dan akan naik ke atas sampai mencapai ketinggian sekitar 10 kilometer dan akan
tersebar ke arah utara dan selatan.
Jika Bumi tidak berotasi pada sumbunya, maka udara akan tiba di kutub utara dan
kutub selatan, turun ke permukaan lalu kembali ke khatulistiwa. Udara yang bergerak
inilah yang merupakan energi yang dapat diperbaharui, yang dapat digunakan untuk
memutar turbin dan akhirnya dapat menghasilkan listrik.
2.2

Mekanisme Turbin Angin


Sebuah pembangkit listrik tenaga angin dapat dibuat dengan menggabungkan

beberapa turbin angin sehingga menghasilkan listrik ke unit penyalur listrik. Listrik
dialirkan melalui kabel transmisi dan didistribusikan ke rumah-rumah, kantor, sekolah,
dan sebagainya. Turbin angin dapat memiliki tiga buah bilah turbin. Jenis lain yang
umum adalah jenis turbin dua bilah.
Turbin angin bekerja sebagai kebalikan dari kipas angin. Bukannya menggunakan
listrik untuk membuat angin, seperti pada kipas angin, turbin angin menggunakan angin
untuk membuat listrik. Angin akan memutar sudut turbin, kemudian memutar sebuah
poros yang dihubungkan dengan generator, lalu menghasilkan listrik. Turbin untuk
pemakaian umum berukuran 50-750 kilowatt. Sebuah turbin kecil, kapasitas 50 kilowatt,
digunakan untuk perumahan, piringan parabola, atau pemompaan air.
2.3

Jenis Turbin Angin


Dalam perkembangannya, turbin angin dibagi menjadi jenis turbin angin

Propeler dan turbin angin Darrieus. Kedua jenis turbin inilah yang kini memperoleh
perhatian besar untuk dikembangkan. Pemanfaatannya yang umum sekarang sudah
digunakan adalah untuk memompa air dan pembangkit tenaga listrik. Turbin angin
propeler adalah jenis turbin angin dengan poros horizontal seperti baling- baling pesawat
terbang pada umumnya. Turbin angin ini harus diarahkan sesuai dengan arah angin yang
paling tinggi kecepatannya.
Kecepatan angin diukur dengan alat yang disebut anemometer. Anemometer jenis
mangkok adalah yang paling banyak digunakan. Anemometer mangkok mempunyai

Turbin Angin sebagai Alternatif Pembangkit Listrik


sumbu vertikal dan tiga buah mangkok yang berfungsi menangkap angin. Jumlah putaran
per menit dari poros anemometer dihitung secara elektronik. Biasanya, anemometer
dilengkapi dengan sudut angin untuk mendeteksi arah angin.
Jenis anemometer lain adalah anemometer ultrasonik atau jenis laser yang mendeteksi
perbedaan fase dari suara atau cahaya koheren yang dipantulkan dari molekul-molekul
udara. Turbin angin Darrieus merupakan suatu sistem konversi energi angin yang
digolongkan dalam jenis turbin angin berporos tegak. Turbin angin ini pertama kali
ditemukan oleh GJM Darrieus tahun 1920. Keuntungan dari turbin angin jenis Darrieus
adalah tidak memerlukan mekanisme orientasi pada arah angin (tidak perlu mendeteksi
arah angin yang paling tinggi kecepatannya) seperti pada turbin angin propeler.
Di Indonesia telah mulai dikembangkan proyek percontohan baik oleh lembaga
penelitian maupun oleh pusat studi beberapa perguruan tinggi. Proyek ini perlu
memperoleh perhatian dari pihak yang terkait untuk dikembangkan karena membutuhkan
riset yang cukup intensif mengenai kecepatan angin, lokasi penempatan turbin angin,
serta cara untuk mengatur pembebanan turbin yang tidak merata. Misalnya pada malam
hari angin cukup kencang, sedangkan pada pagi dan siang hari kecepatan angin turun
sehingga harus ada mekanisme penyimpanan energi serta mekanisme untuk menstabilkan
fluktuasi tegangan listrik yang dihasilkan. Dalam situasi yang serba kekurangan pasokan
listrik seperti sekarang, tampaknya alternatif energi angin perlu dikaji ulang. Selain
hasilnya selalu berkelanjutan, harganya pun kompetitif dibanding pembangkit listrik
lainnya.
3. Permasalahan
Indonesia sesungguhnya memiliki potensi sumber energi terbarukan dalam jumlah
besar. Beberapa diantaranya bisa segera diterapkan di tanah air, seperti: bioethanol
sebagai pengganti bensin, biodiesel untuk pengganti solar, tenaga panas bumi,
mikrohidro, tenaga surya, tenaga angin, bahkan sampah/limbah pun bisa digunakan untuk
membangkitkan listrik. Hampir semua sumber energi tersebut sudah dicoba diterapkan
dalam skala kecil di tanah air. Momentum krisis BBM saat ini merupakan waktu yang
tepat untuk menata dan menerapkan dengan serius berbagai potensi tersebut. Meski saat

Turbin Angin sebagai Alternatif Pembangkit Listrik


ini sangat sulit untuk melakukan substitusi total terhadap bahan bakar fosil, namun
implementasi sumber energi terbarukan sangat penting untuk segera dimulai.
Ada beberapa persoalan yang dapat dibahas mengenai kelayakan pembangunan
pembangkit listrik dengan tenaga angin di Indonesia. Yang pertama adalah bahwa tidak
semua daerah di Indonesia memiliki potensi angin yang cukup untuk sumber energi yang
memadai bagi sebuah pembangkit. Sebagian besar wilayah Indonesia hanya memiliki
potensi angin dengan kecepatan 3 meter/detik sampai dengan 5 meter/detik. Selain itu,
yang menjadi persoalan adalah Indonesia belum memiliki peta angin yang komprehensif.
Sehingga belum dapat diprediksi dengan akurat besarnya fluktuasi kecepatan angin untuk
lokasi-lokasi yang potensi kecepatan anginnya memadai. Namun berdasarkan
pengamatan, fluktuasi kecepatan angin di Indonesia cukup tinggi. Beda halnya dengan
negara-negara Eropa dan Amerika dengan fluktuasi kecepatannya anginnya yang rendah.
Masalah lainnya mengenai pembangkit listriknya adalah listrik yang dihasilkan oleh
pembangkit listrik tenaga angin masih belum stabil dan tidak sama untuk tiap-tiap turbin.
Jika energi yang dihasilkan akan diintegrasikan dengan sistem daya yang sudah ada,
maka masih diperlukan pengukuran besarannya dengan lebih baik. Disamping itu juga
masih diperlukan pengembangan suatu cara untuk mengatur daya yang dihasilkan
pembangkit listrik tenaga angin sehingga sewaktu-waktu siap digunakan jika diperlukan.
Selain beberapa masalah diatas, hal yang menjadi pertimbangan untuk
pembangunan pembangkit listrik tenaga angin adalah biaya investasi pembangunannya
yang cukup tinggi. Biaya investasinya bisa mencapai Rp 50 juta/kW. Ini mengacu pada
pengalaman pembangunan pembangkit listrik di daerah Nusa Penida dan Talaud yang
berkapasitas 80 kW. Mahalnya biasa investasi disebabkan karena peralatan-peralatan
pembangkitannya masih harus dibeli dari luar negeri.
4. Pembahasan
Potensi angin yang tidak terlalu besar untuk beberapa lokasi di Indonesia memang
memegang peranan yang penting untuk membangun sebuah pembangkit listrik. Akan
tetapi di beberapa daerah, potensi kecepatan angin itu cukup memadai. Misalnya di pantai
selatan Jawa, pantai barat Sumatra, dan wilayah Indonesia Timur, yang kecepatan
anginnya mencapai rata-rata di atas 6 meter/detik. Tapi hal tersebut tidak menutup

Turbin Angin sebagai Alternatif Pembangkit Listrik


kemungkinan untuk membangun pembangkit listrik pada lokasi dengan potensi
kecepatan angin yang tidak terlalu besar. Karena saat ini telah dikembangkan turbin angin
dengan efisisensi tinggi, yang mana dalam operasi tidak memerlukan kecepatan yang
terlalu tinggi. Adalah sebuah perusahaan lokal yang bernama Terra Moya Aqua (TMA)
Inc. di Wyoming, Amerika Serikat yang mengembangkan teknologi ini. Bahkan mereka
mengklaim telah menghasilkan desain turbin vertikal yang lebih efisien daripada model
propeler yang banyak dipakai sekarang. Selainjuga desain turbin anginnya yang tidak
mengeluarkan suara yang berisik.
Menurut perusahaan tersebut, turbin yang dikendalikan propeler rata-rata dapat
mengubah 25 hingga 40 persen energi angin menjadi energi yang dapat disimpan dan
disalurkan, misalnya listrik. Tapi, desain yang dikembangkan TMA dapat menghasilkan
efisiensi 43 hingga 45 persen sehingga menghasilkan energi 80 persen lebih besar dari
sumber yang sama. Energi lebih besar dihasilkan meskipun siripnya bergerak lebih
lambat daripada model tradisional berupa propeler. Artinya, turbin yang diputar
menghasilkan suara yang lebih kecil dan tidak begitu berbahaya bagi burung. Dengan
panjang tidak lebih dari 30 meter, turbin lebih mudah digunakan langsung di industri
dibandingkan model propeler yang lebih panjang. Biaya pembuatannya juga lebih murah
dibandingkan turbin model propeler atau turbin vertikal yang dikembangkan sebelumnya.
Selanjutnya adalah belum stabilnya listrik yang dihasilkan dan keluaran listrik
yang tidak sama pada turbin-turbinnya. Tapi untuk mengatasi hal ini, telah dilakukan
penelitian oleh seorang Insinyur elektro dan asisten profesor University of Texas di
Austin, Dr. Surya Santoso. Dr Surya Santoso sedang mengembangkan metode untuk
menentukan seberapa besar kebutuhan kapasitas daya yang dihasilkan oleh pembangkit
listrik tenaga angin, guna menggantikan pembangkit listrik konvensional.
Dr. Surya Santoso saat ini sedang mengembangkan dua strategi yaitu untuk
mengatur sekaligus mengatasi masalah ketidakstabilan pembangkit listrik tenaga angin.
Dia mengembangkan metode komputasi untuk menghitung kontribusi kapasitas aktual
pembangkit listrik tenaga angin. Hal ini memudahkan perencana sistem untuk
menghitung berapa besar sebuah pembangkit listrik tenaga angin bisa memenuhi
kebutuhan daya yang dibutuhkan. Laboratorium yang dipimpinnya juga menggunakan
dana tersebut untuk mengembangkan sistem penyimpanan energi yang berfungsi sebagai

Turbin Angin sebagai Alternatif Pembangkit Listrik


baterai'' sementara untuk menyalurkan energi pada waktu yang optimum. Dengan sistem
penyimpanan energi yang sesuai, energi angin dapat dipanen dimanapun sumber
energinya berada. Dan bisa melepaskan energi pada saat yang tepat dan besaran yang
sesuai. Sistem penyimpanan energi angin juga memberikan kontribusi terhadap kapasitas
pembangkit serta mengurangi pembebanan yang berlebihan terhadap jaringan transmisi
listrik.
Permasalahan terakhir untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga angin
adalah biaya investai untuk pembangunan yang cukup tinggi. Memang tak bisa
dipungkiri bahwa sebuah pembangkit listrik tenaga angin membutuhkan biaya yang tidak
sedikit untuk pembangunannya. Selain karena teknologinya yang belum dikuasai,
peralatan-peralatan yang berhubungan dengan pembangkit listriknya yang masih harus
dibeli dari luar negeri.
Tetapi besarnya biaya investasi yang menghalangi pembangunan suatu
pembangkit listrik tenaga angin. Hal itu harusnya tidak perlu dirisaukan apabila kita
melihat investasi yang dipakai dapat menjadi investasi jangka panjang. Karena selain
hanya membutuhkan sumber energi yang tersedia dengan mudah di alam. Pembangkit
listrik tenaga angin pun dapat mengurangi dampak lingkungan yang disebabkan oleh
pembangkit-pembangkit listrik yang sumber energinya berasal dari fosil, seperti minyak
bumi, gas, batubara, dan sebagainya.
5. Kesimpulan
Dari bahasan yang telah diungkapkan di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan.
Bahwa krisis energi saat ini sekali lagi mengajarkan kepada bangsa Indonesia bahwa
usaha serius dan sistematis untuk mengembangkan dan menerapkan sumber energi
terbarukan guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil perlu segera
dilakukan. Penggunaan sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan juga berarti
menyelamatkan lingkungan hidup dari berbagai dampak buruk yang ditimbulkan akibat
penggunaan BBM. Kerjasama antar Departemen Teknis serta dukungan dari industri dan
masyarakat sangat penting untuk mewujudkan implementasi sumber energi terbarukan
tersebut.

Turbin Angin sebagai Alternatif Pembangkit Listrik


6. Rekomendasi
Beberapa saran yang dapat penulis ajukan sebagai acuan untuk pembangunan
pembangkit listrik tenaga angin, antara lain:
1. Mulai untuk mengembangkan teknologi pembangkit listrik tenaga angina yang
akhir ini perkembangannya sangat cepat sekali. Yaitu dengan melakukan studi
banding dengan negara-negara yang lebih dulu mengembangkan sumber energi
angina sebagai pembangkit listrik.
2. Keseriusan dari pihak-pihak yang berwenang untuk memulai langkah baru dalam
pemanfaatan energi-energi terbarukan dan ramah lingkungan. Dalam hal ini
sumber tenaga angin. Sehingga ketergantungan terhadap sumber energi fosil yang
akhir-akhir ini harganya terus melonjak dapat dikurangi. Karena memang
faktanya bahwa penggunaan sumber energi yang berasal dari fosil tetap tidak bisa
dihilangkan.
7. Daftar Pustaka
1. Yamani,Zaki, Pembangkit Listrik Tenaga Angin belum Optimal, Pikiran Rakyat, 09
April 2007.
2. Sasmito, Agus P., Energi Terbarukan di Indonesia, Komunitas Teknik Fisika, 07
November 2007
3. Energi portal, Mengatur ketidakstabilan daya listrik pembangkit listrik tenaga
angina, 23 Oktober 2007.
4. www.wikipedia.com/energi terbaharui.html
5. www.kompas.com/sains & teknologi/turbin angin efisiensi tinggi.html
6. www.kompas.com/inspirasi/alternatif pembangkit listrik.html
7. www.inovasi.com/topik utama/krisis energi di Indonesia: mengapa dan harus
bagaimana..html

Turbin Angin sebagai Alternatif Pembangkit Listrik

Profil Singkat:
Nama

: Cepi Sukmayara

TTL

: Garut, 06 Juli 1984

Jabatan
Unit PLN

: Peserta OJT
: PLN Jasa Enjiniring

10