Anda di halaman 1dari 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Instalasi Farmasi Rumah Sakit


Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 44 tahun 2009 tentang rumah
sakit, instalasi farmasi merupakan bagian dari rumah sakit yang harus menjamin
ketersediaan sediaan farmasi dan alat kesehatan yang bermutu, bermanfaat, aman
dan terjangkau yang bertugas menyelenggarakan, mengkoordinasikan, mengatur
dan mengawasi seluruh kegiatan pelayanan farmasi serta melaksanakan
pembinaan teknis kefarmasian di rumah sakit, seperti pengelolaan alat kesehatan,
sediaan farmasi dan bahan habis pakai yang dilakukan dengan cara sistem satu
pintu. Adapun yang dimaksud dengan sistem satu pintu adalah rumah sakit hanya
memiliki satu kebijakan kefarmasian termasuk pembuatan formularium
pengadaan dan pendistribusian alatkesehatan, sediaan farmasi dan bahan habis
pakai yang bertujuan untukmengutamakan kepentingan pasien. Instalasi farmasi
rumah sakit adalah suatu departemen atau unit atau bagian di suatu rumah sakit
dipimpin oleh seorang apoteker yang memiliki tugas melaksanakan kegiatan
kefarmasian, seperti mengawasi pembuatan obat, pengadaan obat, pendistribusian
obat/perbekalan farmasi, berperan dalam program pendidikan dan penelitian,
pembinaan kesehatan masyarakat melalui pemantauan keamanan, efektifitas,
efisiensi biaya dan ketepatan penggunaan obat oleh pasien. Dengan demikian
apoteker di rumah sakit dapat membantu tercapainya suatu pengobatan yang aman
dan rasional yang berorientasi pada pasien dan bukan hanya berorientasi pada
produk (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2004).

Universitas Sumatera Utara

Konsep Pendapatan
Konsep Pendapatan Secara Umum
Pendapatan meliputi semua sumber-sumber ekonomi yang diterima oleh
perusahaan, dari transaksi penjualan barang dan penyerahan jasa kepada pihak
lain. Berbagai pendapatan yang timbul dalam suatu perusahaan meliputi penjualan
barang, penjualan jasa, penggunaan aktiva oleh pihak lain yang menghasilkan,
pendapatan dari penghentian aktiva selain barang dagangan
pendapatan diukur dengan jumlah kenaikkan bruto dari aktiva atau berkurangnya
hutang (selain dari transaksi modal), atau kombinasi keduanya. Berbagai
pendapatan yang timbul
dalam perusahaan meliputi :
1. Penyerahan barang (penjualan)
2. Penyerahan jasa
3. Penggunaan aktiva perusahaan oleh pihak lain yang menghasilkan :
a. Pendapatan bunga
b. Pendapatan deviden
c. Pendapatan royalti dan atau sewa
4. Pendapatan dari penghentian aktiva selain barang dagangan.
Berdasarkan sumbernya pada umumnya pendapatan dibedakan menjadi :
1. Pendapatan yang berasal dari usaha pokok (operating revenue)
2. Pendapatan diluar usaha pokok (non operating income)
3. Pendapatan luar biasa (extra ordinary gain) yaitu pendapatan dari aktifitas
yang tidak rutin dan jarang terjadi.
Pendapatan harus melebihi biaya, selain itu laba yang dihasilkan harus cukup
besar untuk dapat memuaskan pemilik perusahaan (Mowen, 2004). Jadi biaya dan
pendapatan berkaitan dalam pengertian bahwa pendapatan (hasil kali harga dan
produk)harus melebihi biaya agar menghasilkan cukup banyak laba
Konsep Pendapatan Rumah sakit
Pendapatan rumah sakit (revenue) adalah penjumlahan total harga yang
dibebankan kepada setiap pasien, sedangkan surplus (profit) merupakan
pendapatan setelah dikurangi pengeluarannya (Supriyanto, 2005). Menurut
Trisnantoro (2005), penerimaan (revenue) adalah penerimaan produsen dari hasil

Universitas Sumatera Utara

penjualan outputnya. Beberapa konsep revenue yang penting untuk analisis


perilaku produsen :
1. Total Revenue(TR) adalah penerimaan total produsen dari hasil penjualan
outputnya.TotalRevenue adalah output (Q) dikalikan harga jual output
(Pq)
Rumus :
TR = Q x Pq
2.

Average Revenue (AR) adalah penerimaan produsen per unit output yang
dijual.

Rumus :
AR = TR/Q = Q x Pq/Q = Pq
Dengan demikian AR tidak lain adalah harga (jual) output per unit = Pq
3. Marginal Revenue (MR) adalah kenaikan TR yang disebabkan oleh
tambahan penjualan 1 unit output.
Rumus :
MR = dTR/dQ
Menurut Sabarguna (2003), sektor yang berperan dalam pendapatan suatu
rumah sakitar dalah :
1. Pemanfaatan, seperti BOR, kunjungan pasien, pemakaian laboratorium.
2. Peningkatan pelayanan, penambahan pelayanan.
3. Pengaturan tarif
4. Cost Containment
Sedangkan upaya untuk meningkatkan pendapatan adalah :
1. Peningkatan pemanfaatan, antara lain pengembangan layanan, peningkatan
keindahan, dan peningkatan pelayanan makanan.
2. Intensifikasi pelayanan, yaitu pengembangan pelayanan, seperti bagian
dapur

(gizi)

menjual

makanan

diet,

bagian

laundry

berusaha

mengembangkan usaha cucian bagi pasien dan keluarganya.


3. Ekstensifikasi pelayanan, dalam hal ini membentuk atau menjalankan
pelayanan yang sebelumnya tidak ada kaitannya berbeda dengan yang ada
sebelumnya, missal membuat kantin, konsultasi medik, dan sebagainya.

Universitas Sumatera Utara

4. Menaikkan tarif, dalam rangka menaikkan tarif yang utama harus diingat
adalah struktur tarif dan cara menaikkan.

Konsep Biaya di Bidang Kesehatan


Pengertian biaya di bidang pelayanan kesehatan adalah nilai sejumlah input(faktor
produksi) yang dipakai untuk menghasilkan suatu produk (output). Biaya juga
sering diartikan sebagai nilai suatu pengorbanan untuk memperoleh suatu output
tertentu. Pengorbanan dapat berupa uang, barang, tenaga, waktu maupun
kesempatan ( Pudjirahardjo, 1998)
Biaya pelayanan merupakan dasar dari penentuan tarif. Biaya harus dapat
menggambarkan besarnya pengeluaran secara jelas dan dasar penentuannya harus
seimbang dapat dijelaskan pembebanan dari sektor pendukung. Dalam kaitannya
dengan biaya dikenal 2 pusat keuangan yang saling terkait yaitu :
a. Pusat penerimaan (Revenue Centre) yaitu pelayanan atau kegiatan yang
menghasilkan masukkan bagi Rumah sakit, misalnya Rawat Jalan, Rawat
Inap,dan sebagainya.
b. pusat Biaya (Cost Centre) yaitu pelayanan atau kegiatan yang merupakan
tempat keluarnya keuangan Rumah sakit tanpa menghasilkan penerimaan,
misalnya administrasi, pemeliharaan, dan sebagainya

Universitas Sumatera Utara