Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemampuan menalar menyebabkan manusia sebagai satusatunya makhluk yang mampu
mengembangkan pengetahuan secara terusmenerus dan dengan sungguhsungguh. Manusia
mengembangkan pengetahuannya untuk mengatasi hambatan pemenuhan kebutuhankebutuhan hidupnya. Manusia memikirkan halhal baru, menjelajah ufuk baru, karena
manusia hidup bukan sekedar untuk kelangsungan hidup, namun lebih dari itu. Manusia
mengembangkan kebudayaan yang memberikan makna kepada kehidupannya. Manusia
harus memanusiakan diri dalam hidupnya. Dengan demikian manusia memiliki tujuan
tertentu yang lebih tinggi dari sekedar kelangsungan hidupnya. Dengan pengetahuan inilah
manusia menjadi makhluk yang multidimensi dan unik di muka bumi ini.
Ilmu merupakan salah satu dari pengetahuan manusia. Untuk dapat menghargai suatu
ilmu, misalnya ilmu keperawatan atau kesehatan masyarakat maka kita harus mengerti
hakikat ilmu itu sebenarnya. Pengertian yang mendalam terhadap hakikat ilmu yang kita
pelajari, akan mampu meningkatkan apresiasi kita serta membuka mata kita terhadap
berbagai kekurangan yang ada padanya.
Filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berfikir radikal dalam arti mulai dari radix suatu gejala
dari akar suatu hal yang hendak dimasalahkan, dan dengan jalan penjajagan yang radikal
filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan yang universal.
Filsafat saat ini telah berkembang lebih maju dalam berbagai bidang dan mempunyai
peranan penting dalam kehidupan. Cabang filsafat sendiri saat ini telah berkembang dalam
berbagai bidang yaitu filsafat pengetahuan, filsafat moral, filsafat seni, metafisika, politik,
filsafat agama, filsafat ilmu, filsafat pendidikan, filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat
matematika dan lain sebagainya. Filsafat juga sangat berperan dalam bidang kesehatan
khususnya keperawatan. Filsafat dalam bidang keperawatan ini dapat dipandang atau dilihat
dari dua sisi yaitu dari sisi filsafat pendidikannya dan filsafat ilmu keperawatannya serta
pelayanannya. Sehingga perlu dikaitkan atau dipahami dengan filsafat untuk mencari
kebenaran tentang ilmu keperawatan guna memajukan ilmu keperawatan.
Filsafat dalam bidang pendidikan keperawatan mampu memberikan pedoman kepada
para pendidik (dosen/guru) sehingga akan dapat mewarnai sikap perilakunya dalam
mengelola proses belajar mengajar (PBM). Selain itu dengan adanya filsafat akan didapatkan

pengetahuan yang murni atau kemajuan pengetahuan di bidang pelayanan keperawatan untuk
dapat diaplikasikan demi kesembuhan pasien dengan didasarkan pada premis-premis
pendukung hal tersebut. Oleh karena itu, inilah alasan mengapa ilmu filsafat itu sangat
penting untuk dipelajari terutama filsafat keperawatan, sebagai tuntunan atau dasar untuk
melakukan penalaran yang tepat dan berpikir secara mandiri, logika, kritis.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud dengan konsep filsafat keperawatan?
2. Bagaimana keperawatan sebagai ilmu dilihat dari objek formal dan material?
3. Apa itu ilmu keperawatan (ontology)?
4. Bagaimana lahirnya ilmu keperawatan (epistimologi)?
5. Untuk apa ilmu keperawatan itu digunakan (aksiologi)?
6. Manfaat filsafat dalam ilmu keperawatan?
C. Tujuan
a. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum penyusunan tugas ini adalah mendukung mengetahui dan
memahami dan berpikir kritis tentang konsep mata kuliah filsafat

dalam ilmu

keperawatan.
b. Tujuan Khusus
Untuk mengetahui dan memahami tentang pengertian filsafat dan filsafat keperawatan,
ontology, epistimologi dan aksiologi ilmu keperawatan, hakekat keperawatan, peranan
filsafat dalam ilmu keperawatan serta relevansi antara filsafat ilmu dengan keperawatan.
D. Manfaat
Mendapatkan pengetahuan tentang filsafat keperawatan dan mahasiswa akan dapat
menggunakan logika dalam berfikir dam memiliki kemampuan merumuskan pemikiran
dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar.
BAB II
KONSEP TEORI TERKAIT

2.1 Filsafat Ilmu


2.1.1 Pengertian Filsafat
Filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia dan philoshophos. Menurut
bentuk kata, philosophia diambil dari kata philos dan shopia atau philos dan sophos.
2

Philos berarti cinta dan shopia atau shopos berarti kebijaksanaan, pengetahuan, dan
hikmah. Dalam pengertian ini seseorang dapat disebut telah berfilsafat apabila seluruh
ucapannya dan perilakunya mengandung makna dan ciri sebagai orang yang cinta
terhadap kebijaksanaan, terhadap pengetahuan dan terhadap hikmah. Pada awalnya,
kata sofia lebih sering diartikan sebagai kemahiran dan kecakapan dalam suatu
pekerjaan, seperti perdagangan dan pelayaran. Dalam perkembangan selanjutnya,
makna dari kata kemahiran ini lebih dikhususkan lagi untuk kecakapan di bidang syair
dan musik. Makna ini kemudian berkembang lagi kepada jenis pengetahuan yang dapat
mengantarkan manusia untuk mengetahui kebenaran murni. Sofia dalam arti yang
terakhir ini, kemudian dirumuskan oleh Pythagoras bahwa hanya Dzat Maha Tinggi
(Allah) yang mampu melakukannya.
Oleh karena itu, manusia hanya dapat sampai pada sifat pencipta kebijaksanaan.
Pythagoras menyatakan: cukup seorang menjadi mulia ketika ia menginginkan hikmah
dan berusaha untuk mencapainya. Harun Hadiwijono berpendapat bahwa filsafat
diambil dari bahasa Yunani, filosofia. Struktur katanya berasal dari kata filosofien yang
berarti mencintai kebijaksanaan. Dalam arti itu, menurut Hadiwijono filsafat
mengandung arti sejumlah gagasan yang penuh kebijaksanaan. Artinya, seseorang dapat
disebut berfilsafat ketika ia aktif memperoleh kebijaksanaan. Kata filsafat dalam
pengertian ini lebih memperoleh kebijaksanaan. Kata filsafat dalam pengertian ini lebih
berarti sebagai Himbauan kepada kebijaksanaan. Harun Nasution beranggapan bahwa
kata filsafat bukan berasal dari struktur kata Philos dan shopia, philos dan shophos atau
filosofen. Tetapi kata filsafat berasal dari bahasa Yunani yang struktur katanya berasal
dari kata philien dalam arti cinta dan shofos dalam arti wisdom. Orang Arab menurut
Harun memindahkan kata Philosophia ke dalam bahasa mereka dengan menyesuaikan
tabiat susunan kata-kata bahasa Arab, yaitu filsafat dengan pola (wajan) falala,
falalah, dan fila. Berdasarkan wajan itu, maka penyebutan kata filsafat dalam bentuk
kata benda seharusnya disebut falsafat atau Filsaf. Harun lebih lanjut menyatakan
bahwa kata filsafat yang banyak dipakai oleh masyarakat Indonesia, sebenarnya bukan
murni berasal dari bahasa Arab sama seperti tidak murninya kata filsafat terambil dari
bahasa Barat, philosophy.
Harun justru membuat kompromi bahwa filsafat terambil dari dua bahasa, yaitu
Fil diambil dari bahasa Inggris dan Safah dari bahasa Arab. Sehingga kata filsafat,
3

adalah gabungan antara bahasa Inggris dan Arab. Berfilsafat artinya berpikir menurut
tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma serta agama) dan
dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalannya.
Atas dasar itu, maka menurut Harun, secara etimologi filsafat dapat didefinisikan
sebagai : Pengetahuan tentang tentang hikmah, Pengetahuan tentang prinsip atau dasar,
mencari kebenaran, Membahas dasar dari apa yang dibahas Ali Mudhafir berpendapat
bahwa kata filsafat dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata Falsafah (Arab),
Phyloshophy (Inggris), Philosophie (Jerman, Belanda dan Perancis).
Semua kata itu, berasal dari bahasa Yunani Philosphia. Kata philosophia sendiri
terdiri dari dua suku kata, yaitu Philien, Philos dan shopia. Philien berarti mencintai,
philos berarti teman dan sophos berarti bijaksana, shopia berarti kebijaksanaan. Dengan
demikian, menurut Ali Mudhafir ada dua arti secara etimologi dari kata filsafat yang
sedikit berbeda. Pertama, apabila istilah filsafat mengacu pada asal kata philien dan
shopos, maka ia berarti mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana (ia menjadi sifat).
Kedua, apabila filsafat mengacu pada asal kata philos dan shopia, maka ia berarti teman
kebijaksanaan (filsafat menjadi kata benda).
Filsafat dalam bahasa Inggris, yaitu philosophy, adapun istilah filsafat berasal dari
bahasa Yunani, philosophia, yang terdiri atas dua kata: philos (cinta) atau philia
(persahabatan, tertarik kepada) dan shopia (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan,
keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi). Jadi secara etimologi, filsafat berarti
cinta kebijaksanaan atau kebenaran. Plato menyebut Socrates sebagai philosophos
(filosof) dalam pengertian pencinta kebijaksanaan. Kata falsafah merupakan arabisasi
yang berarti pencarian yang dilakukan oleh para filosof. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, kata filsafat menunjukkan pengertian yang dimaksud, yaitu pengetahuan dan
penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab asal dan
hukumnya. Manusia filosofis adalah manusia yang memiliki kesadaran diri dan akal
sebagaimana ia juga memiliki jiwa yang independen dan bersifat spiritual. Sebelum
Socrates ada satu kelompok yang menyebut diri mereka sophist (kaum sofis) yang
berarti cendekiawan. Mereka menjadikan persepsi manusia sebagai ukuran realitas dan
menggunakan hujah-hujah yang keliru dalam kesimpulan mereka. Sehingga kata sofis
mengalami reduksi makna yaitu berpikir yang menyesatkan. Socrates karena
kerendahan hati dan menghindarkan diri dari pengidentifikasian dengan kaum sofis,
4

melarang dirinya disebut dengan seorang sofis (cendekiawan). Oleh karena itu istilah
filosof tidak pakai orang sebelum Socrates (Muthahhari, 2002).
Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki
manusia. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni, filsafat teoretis dan filsafat
praktis. Filsafat teoretis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam, seperti: fisika, biologi,
ilmu pertambangan, dan astronomi; (2) ilmu eksakta dan matematika; (3) ilmu tentang
ketuhanan dan metafisika. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak); (2)
urusan rumah tangga; (3) sosial dan politik.
Secara umum filsafat berarti upaya manusia untuk memahami segala sesuatu
secara sistematis, radikal, dan kritis. Berarti filsafat merupakan sebuah proses bukan
sebuah produk. Maka proses yang dilakukan adalah berpikir kritis yaitu usaha secara
aktif, sistematis, dan mengikuti prinsip-prinsip logika untuk mengerti dan mengevaluasi
suatu informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi itu diterima atau ditolak.
Dengan demikian filsafat akan terus berubah hingga satu titik tertentu (Takwin, 2001).
Defenisi kata filsafat bisa dikatakan merupakan sebuah masalah falsafi pula.
Menurut para ahli logika ketika seseorang menanyakan pengertian (defenisi/hakikat)
sesuatu, sesungguhnya ia sedang bertanya tentang macam-macam perkara. Tetapi
paling tidak bisa dikatakan bahwa falsafah itu kira-kira merupakan studi yang
didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan,
tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk ini,
memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu dan akhirnya dari
proses-proses sebelumnya ini dimasukkan ke dalam sebuah dialektika. Dialektika ini
secara singkat bisa dikatakan merupakan sebuah bentuk daripada dialog.
Adapun beberapa pengertian pokok tentang filsafat menurut kalangan filosof
adalah:
1. Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap
tentang seluruh realitas.
2. Upaya untuk melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar secara nyata.
3. Upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan sumber daya,
hakikatnya, keabsahannya, dan nilainya.
4. Penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan pernyataan-pernyataan yang
diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.
5. Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu Anda melihat apa yang Anda katakan
dan untuk menyatakan apa yang Anda lihat.
5

Plato (427348 SM) menyatakan filsafat ialah pengetahuan yang bersifat untuk
mencapai kebenaran yang asli. Sedangkan Aristoteles (382322 SM) mendefenisikan
filsafat ialah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya
ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Sedangkan
filosof lainnya Cicero (106043 SM) menyatakan filsafat ialah ibu dari semua ilmu
pengetahuan lainnya. Filsafat ialah ilmu pengetahuan terluhur dan keinginan untuk
mendapatkannya. Menurut Descartes (15961650), filsafat ialah kumpulan segala
pengetahuan di mana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikannya.
Sedangkan Immanuel Kant (17241804) berpendapat filsafat ialah ilmu pengetahuan
yang menjadi pokok dan pangkal segala pengetahuan yang tercakup di dalamnya 4
persoalan:
a. Apakah yang dapat kita ketahui?
Jawabannya termasuk dalam bidang metafisika.
b. Apakah yang seharusnya kita kerjakan?
Jawabannya termasuk dalam bidang etika.
c. Sampai di manakah harapan kita?
Jawabannya termasuk pada bidang agama.
d. Apakah yang dinamakan manusia itu?
Jawabannya termasuk pada bidang antropologi.
Setidaknya ada tiga karakteristik berpikir filsafat yakni:
1. Sifat menyeluruh: seseorang ilmuwan tidak akan pernah puas jika hanya
mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin tahu hakikat
ilmu dari sudut pandang lain, kaitannya dengan moralitas, serta ingin yakin
apakah ilmu ini akan membawa kebahagian dirinya. Hal ini akan membuat
ilmuwan tidak merasa sombong dan paling hebat. Di atas langit masih ada langit.
contoh: Socrates menyatakan dia tidak tahu apa-apa.
2. Sifat mendasar: yaitu sifat yang tidak saja begitu percaya bahwa ilmu itu benar.
Mengapa ilmu itu benar? Bagaimana proses penilaian berdasarkan kriteria
tersebut dilakukan? Apakah kriteria itu sendiri benar? Lalu benar sendiri itu apa?
Seperti sebuah pertanyaan yang melingkar yang harus dimulai dengan
menentukan titik yang benar.

3. Spekulatif: dalam menyusun sebuah lingkaran dan menentukan titik awal sebuah
lingkaran yang sekaligus menjadi titik akhirnya dibutuhkan sebuah sifat spekulatif
baik sisi proses, analisis maupun pembuktiannya. Sehingga dapat dipisahkan
mana yang logis atau tidak. Sir Isacc Newton, seorang ilmuwan yang sangat
terkenal, President of the Royal Society memiliki ketiga karakteristik ini. Ada
banyak penyempurnaan penemuan-penemuan ilmuwan sebelumnya yang
dilakukannya. Dalam pencariannya akan ilmu, Newton tidak hanya percaya pada
kebenaran yang sudah ada (ilmu pada saat itu). Ia menggugat (meneliti ulang)
hasil penelitian terdahulu seperti logika Aristotelian tentang gerak dan kosmologi,
atau logika cartesian tentang materi gerak, cahaya, dan struktur kosmos. Saya
tidak mendefenisikan ruang, tempat, waktu dan gerak sebagaimana yang
diketahui banyak orang ujar Newton. Bagi Newton tak ada keparipurnaan, yang
ada hanya pencarian yang dinamis, selalu mungkin berubah dan tak pernah
selesai. ku tekuni sebuah subjek secara terus menerus dan ku tunggu sampai
cahaya fajar pertama datang perlahan, sedikit demi sedikit sampai betul-betul
terang.

2.1.2

Pengertian Filsafat Ilmu


Filsafat mengambil peran penting karena dalam filsafat kita bisa menjumpai
pandangan-pandangan tentang apa saja (kompleksitas, mendiskusikan dan menguji
kesahihan

dan

akuntabilitas

pemikiran

serta

gagasan-gagasan

yang

bisa

dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan intelektual (Bagir, 2005). Menurut kamus


Webster New World Dictionary, kata science berasal dari kata latin, scire yang artinya
mengetahui. Secara bahasa science berarti keadaan atau fakta mengetahui dan sering
diambil dalam arti pengetahuan (knowledge) yang dikontraskan melalui intuisi atau
kepercayaan. Namun kata ini mengalami perkembangan dan perubahan makna sehingga
berarti pengetahuan yang sistematis yang berasal dari observasi, kajian, dan percobaanpercobaan yang dilakukan untuk menetukan sifat dasar atau prinsip apa yang dikaji.
Sedangkan dalam bahasa Arab, ilmu (ilm) berasal dari kata alima yang artinya
mengetahui. Jadi ilmu secara harfiah tidak terlalu berbeda dengan science yang berasal
dari kata scire. Namun ilmu memiliki ruang lingkup yang berbeda dengan science (sains).
7

Sains hanya dibatasi pada bidang-bidang empirisme positiviesme sedangkan ilmu


melampuinya dengan nonempirisme seperti matematika dan metafisika (Kartanegara,
2003).
Begitu

banyak

komprehensif.

pengertian

Karena

begitu

ilmu

jika

kita

banyaknya

telusuri

secara

pendapat

yang

mendefinisikan hal tersebut. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,


ilmu diartikan sebagai suatu pengetahuan tentang suatu bidang yang
disusun secara sistematis menurut metode-metode tertentu, yang
dapat digunakan untuk menerapkan gejala-gejala tertentu dibidang
(pengetahuan) tersebut, seperti ilmu hukum, ilmu pendidikan, ilmu
ekonomi dan sebagainya. Ilmu juga diartikan sebagai pengetahuan
atau

kepandaian,

tentang

duniawi,

akhirat,

lahir,

batin,

dan

sebagainya.
Ilmu merupakan buah dari pemikiran manusia dalam menjawab
pertanyaan-pertanyaan. Ilmu merupakan salah satu dari pengetahuan
manusia. Untuk bisa menghargai ilmu sebagaimana mestinya, maka
kita

harus

mengerti

apakah

hakikat

ilmu

sebenarnya.

Seperti

peribahasa Perancis, Mengerti berarti memaafkan segalanya, maka


pengertian yang mendalam terhadap hakekat ilmu, bukan saja akan
mengingatkan apresiasi kita terhadap ilmu namun juga membuka
mata kita terhadap berbagai kekurangannya.
Menurut Stefanus Supriyanto, ilmu adalah rangkaian aktivitas
pemikiran manusia yang rasional (akal) atau aktivitas riset dengan
metode ilmiah, sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang
sistematis, berteknologi dan berseni mengenai gejala kealaman,
kemasyarakatan atau keorangan untuk tujuan mencapai kebenaran,
pemahaman, memberikan penjelasan maupun melakukan penerapan.
Dari beberapa pendapat tentang definisi ilmu tersebut, dapat
diperoleh definisi ilmu secara sederhana yaitu suatu kumpulan
pengetahuan mengenai suatu bidang tertentu, yang merupakan suatu
kesatuan

yang

tersusun

secara

sistematis,

serta

memberikan

penjelasan yang bisa dipertanggungjawabkan dengan menunjukkan


8

sebab-sebabnya. Setiap cabang ilmu membatasi diri pada salah satu


bidangnya itu dari segi tertentu. Pertanyaan yang terus menerus di
ajukan adalah apa yang terjadi, bagaimana dan mengapa. Menjelaskan
sesuatu berarti menunjukkan bagaimana yang satu berhubungan
dengan hal-hal lain.
Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan
khusus tentang apa penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan
ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu. Sifat ilmiah sebagai
persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang
telah ada lebih dahulu.
1. Objektif
Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan
masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun
bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin
ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji
objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu
dengan objek, sehingga disebut kebenaran objektif; bukan subjektif
berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.
2. Metodis
Upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan
terjadinya

penyimpangan

dalam

mencari

kebenaran.

Konsekuensinya, harus ada cara tertentu untuk menjamin kepastian


kebenaran. Metodis berasal dari bahasa Yunani Metodos yang
berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu
yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
3. Sistematis
Dalam perjalanannya untuk mencoba mengetahui dan menjelaskan
suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan
yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang
berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu, dan mampu menjelaskan
rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang

tersusun

secara

sistematis

dalam

rangkaian

sebab

akibat

merupakan syarat ilmu yang ketiga.


4. Universal
Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang
bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga
bersudut 180. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang
keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umuman (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam
mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk
mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus
tersedia konteks dan tertentu pula.
Berbicara mengenai ilmu (sains) maka tidak akan terlepas dari filsafat. Tugas
filsafat pengetahuan adalah menunjukkan bagaimana pengetahuan tentang sesuatu
sebagaimana adanya. Will Duran dalam bukunya The story of Philosophy
mengibaratkan bahwa filsafat seperti pasukan marinir yang merebut pantai untuk
pendaratan pasukan infanteri. Pasukan infanteri inilah sebagai pengetahuan yang di
antaranya ilmu. Filsafat yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan.
Semua ilmu baik ilmu alam maupun ilmu sosial bertolak dari pengembangannya
sebagai filsafat. Nama asal fisika adalah filsafat alam (natural philosophy) dan nama asal
ekonomi adalah filsafat moral (moral philosophy). Issac Newton (1642-1627) menulis
hukum-hukum fisika sebagai Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (1686) dan
Adam Smith (1723-1790) Bapak Ilmu Ekonomi menulis buku The Wealth Of Nation
(1776) dalam fungsinya sebagai Professor of Moral Philosophy di Universitas Glasgow.
Agus Comte dalam Scientific Metaphysic, Philosophy, Religion and Science, 1963
membagi tiga tingkat perkembangan ilmu pengetahuan yaitu: religius, metafisic dan
positif. Dalam tahap awal asas religilah yang dijadikan postulat ilmiah sehingga ilmu
merupakan deduksi atau penjabaran religi. Tahap berikutnya orang mulai berspekulasi
tentang metafisika dan keberadaan wujud yang menjadi obyek penelaahan yang terbebas
dari dogma religi dan mengembangkan sistem pengetahuan di atas dasar postulat
metafisik. Tahap terakhir adalah tahap pengetahuan ilmiah (ilmu) di mana asas-asas yang
digunakan diuji secara positif dalam proses verifikasi yang obyektif. Tahap terakhir Inilah
karakteristik sains yang paling mendasar selain matematika.

10

Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat pengetahuan atau sering juga disebut
epistimologi. Epistimologi berasal dari bahasa Yunani yakni episcmc yang berarti
knowledge, pengetahuan dan logos yang berarti teori. Istilah ini pertama kali
dipopulerkan oleh J.F. Ferier tahun 1854 yang membuat dua cabang filsafat yakni
epistemology dan ontology (on = being, wujud, apa + logos = teori ), ontology ( teori
tentang apa). Epistemology adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal
muasal, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam
kaitan dengan ilmu, landasan epistemology mempertanyakan bagaimana proses yang
memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu ? Bagaimana prosedurnya ?
Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita menndapatkan pengetahuan yang benar ?
Apa yang disebut kebenaran itu sendiri ? Apakah kriterianya ? Cara atau teknik atau
sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu ?
(Jujun S. Suriasumantri, 1985 dalam Surajiyo, 2007).
Landasan epistemology ilmu tercermin secara operasional dalam metode ilmiah.
Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh
pengetahuannya berdasarkan : (a) Kerangka Pemikiran yang bersifat logis dengan
argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil
di susun ; (b) Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran
tersebut; (c) melakukan verifikasi terhadap hipotesis termasuk untuk menguji kebenaran
pertanyaannya secara factual. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984/1985
dalam Surajiyo, 2007).
Kerangka pemikiran yang logis adalah argumentasi yang bersifat rasional dalam
mengembangkan penjelasan terhadap fenomena alam. Verifikasi secara empiris berarti
evaluasi secara objektif dari suatu pernyataan hipotesis terhadap kenyataan factual.
Verifikasi ini berarti bahwa ilmu terbuka untuk kebenaran lain selain yang terkandung
dalam hipotesis (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984/1985 dalam Surajiyo,
2007). Dalam kaitan dengan moral, dalam proses kegiatan ilmuwan setiap upaya ilmiah
harus ditunjukkan untuk menemukan kebenaran, yang dilakukan dengan penuh kejujuran,
tanpa mempunyai kepentingan langsung tertentu dan hak hidup yang berdasarkan
kekuatan argumentasi secara individual. Jadi, ilmu merupakan sikap hidup untuk
mencintai kebenaran dan membenci kebohongan (Surajiyo, 2007 hlm. 152).

11

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa filsafat ilmu adalah dasar yang menjiwai
dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Ini berarti bahwa
terdapat pengetahuan yang ilmiah dan tak-ilmiah. Adapun yang tergolong ilmiah ialah
yang disebut ilmu pengetahuan atau singkatnya ilmu saja, yaitu akumulasi pengetahuan
yang telah disistematisasi dan diorganisasi sedemikian rupa; sehingga memenuhi asas
pengaturan secara prosedural, metologis, teknis, dan normatif akademis. Dengan
demikian teruji kebenaran ilmiahnya sehingga memenuhi kesahihan atau validitas ilmu,
atau secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. Sedang pengetahuan tak-ilmiah adalah
yang masih tergolong prailmiah.
Dalam hal ini berupa pengetahuan hasil serapan inderawi yang secara sadar
diperoleh, baik yang telah lama maupun baru didapat. Di samping itu termasuk yang
diperoleh secara pasif atau di luar kesadaran seperti ilham, intuisi, wangsit, atau wahyu
(oleh nabi).
Pengetahuan Manusia
Pengetahuan
Sains
Filsafat
Mistis

Obyek
Paradigma
Empiris
Sains
Abstrak Rasional Rasional
Abstrak
Mistis

Metode
Metode Ilmiah
Metode Rasional
Latihan percaya

Kriteria
Rasional Empiris
Rasional
Rasa, iman, logis,

Suprarasional
kadang empiris
Dengan lain perkataan, pengetahuan ilmiah diperoleh secara sadar, aktif,
sistematis, jelas prosesnya secara prosedural, metodis dan teknis, tidak bersifat acak,
kemudian diakhiri dengan verifikasi atau diuji kebenaran (validitas) ilmiahnya.
Sedangkan pengetahuan yang prailmiah, walaupun sesungguhnya diperoleh secara sadar
dan aktif, namun bersifat acak, yaitu tanpa metode, apalagi yang berupa intuisi, sehingga
tidak dimasukkan dalam ilmu. Dengan demikian, pengetahuan pra-ilmiah karena tidak
diperoleh secara sistematis-metodologis ada yang cenderung menyebutnya sebagai
pengetahuan naluriah.
Dalam sejarah perkembangannya, di zaman dahulu yang lazim disebut tahapmistik, tidak terdapat perbedaan di antara pengetahuan-pengetahuan yang berlaku juga
untuk obyek-obyeknya. Pada tahap mistik ini, sikap manusia seperti dikepung oleh
kekuatan-kekuatan gaib di sekitarnya, sehingga semua obyek tampil dalam kesemestaan
dalam artian satu sama lain berdifusi menjadi tidak jelas batas-batasnya. Tiadanya
perbedaan di antara pengetahuan-pengetahuan itu mempunyai implikasi sosial terhadap
12

kedudukan seseorang yang memiliki kelebihan dalam pengetahuan untuk dipandang


sebagai pemimpin yang mengetahui segala-galanya. Fenomena tersebut sejalan dengan
tingkat kebudayaan primitif yang belum mengenal berbagai organisasi kemasyarakatan,
sebagai implikasi belum adanya diversifikasi pekerjaan. Seorang pemimpin dipersepsikan
dapat merangkap fungsi apa saja, antara lain sebagai kepala pemerintahan, hakim, guru,
panglima perang, pejabat pernikahan, dan sebagainya. Ini berarti pula bahwa pemimpin
itu mampu menyelesaikan segala masalah, sesuai dengan keanekaragaman fungsional
yang dicanangkan kepadanya.
Tahap berikutnya adalah tahap-ontologis, yang membuat manusia telah terbebas
dari kepungan kekuatan-kekuatan gaib, sehingga mampu mengambil jarak dari obyek di
sekitarnya, dan dapat menelaahnya.
Ontologi adalah dasar untuk mengklasifikasi pengetahuan dan sekaligus bidangbidang ilmu. Selain itu, ontologi dapat diartikan sebagai ilmu yang membahas tentang
hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality yang berbentuk jasmani/kongkret
maupun rohani/abstrak.
Orang-orang yang tidak mengakui status ontologis obyek-obyek metafisika pasti
tidak akan mengakui status-status ilmiah dari ilmu tersebut. Itulah mengapa tahap
ontologis dianggap merupakan tonggak ciri awal pengembangan ilmu. Dalam hal ini
subyek menelaah obyek dengan pendekatan awal pemecahan masalah, semata-mata
mengandalkan logika berpikir secara nalar. Hal ini merupakan salah satu ciri pendekatan
ilmiah yang kemudian dikembangkan lebih lanjut menjadi metode ilmiah yang makin
mantap berupa proses berpikir secara analisis dan sintesis. Dalam proses tersebut
berlangsung logika berpikir secara deduktif, yaitu menarik kesimpulan khusus dari yang
umum. Hal ini mengikuti teori koherensi, yaitu perihal melekatnya sifat yang terdapat
pada sumbernya yang disebut premis-premis yang telah teruji kebenarannya, dengan
kesimpulan yang pada gilirannya otomatis mempunyai kepastian kebenaran. Dengan lain
perkataan kesimpulan tersebut praktis sudah diarahkan oleh kebenaran premis-premis
yang bersangkutan. Walaupun kesimpulan tersebut sudah memiliki kepastian kebenaran,
namun mengingat bahwa prosesnya dipandang masih bersifat rasionalabstrak, maka
harus dilanjutkan dengan logika berpikir secara induktif. Hal ini mengikuti teori

13

korespondensi, yaitu kesesuaian antara hasil pemikiran rasional dengan dukungan data
empiris melalui penelitian, dalam rangka menarik kesimpulan umum dari yang khusus.
Sesudah melalui tahap ontologis, maka dimasukan tahap akhir yaitu tahap
fungsional. Pada tahap fungsional, sikap manusia bukan saja bebas dari kepungan
kekuatan-kekuatan gaib, dan tidak semata-mata memiliki pengetahuan ilmiah secara
empiris, melainkan lebih daripada itu. Sebagaimana diketahui, ilmu tersebut secara
fungsional dikaitkan dengan kegunaan langsung bagi kebutuhan manusia dalam
kehidupannya. Tahap fungsional pengetahuan sesungguhnya memasuki proses aspel
aksiologi filsafat ilmu, yaitu yang membahas amal ilmiah serta profesionalisme terkait
dengan kaidah moral.
Sementara itu, ketika kita membicarakan tahap-tahap perkembangan pengetahuan
dalam satu nafas tercakup pula telaahan filsafat yang menyangkut pertanyaan mengenai
hakikat ilmu. Pertama, dari segi ontologis, yaitu tentang apa dan sampai di mana yang
hendak dicapai ilmu. Ini berarti sejak awal kita sudah ada pegangan dan gejala sosial.
Dalam hal ini menyangkut yang mempunyai eksistensi dalam dimensi ruang dan waktu,
dan terjangkau oleh pengalaman inderawi. Dengan demikian, meliputi fenomena yang
dapat diobservasi, dapat diukur, sehingga datanya dapat diolah, diinterpretasi,
diverifikasi, dan ditarik kesimpulan. Dengan lain perkataan, tidak menggarap hal-hal
yang gaib seperti soal surga atau neraka yang menjadi garapan ilmu keagamaan.
Telaahan kedua adalah dari segi epistimologi, yaitu meliputi aspek normatif
mencapai kesahihan perolehan pengetahuan secara ilmiah, di samping aspek prosedural,
metode dan teknik memperoleh data empiris. Kesemuanya itu lazim disebut metode
ilmiah, meliputi langkah-langkah pokok dan urutannya, termasuk proses logika berpikir
yang berlangsung di dalamnya dan sarana berpikir ilmiah yang digunakannya. Telaahan
ketiga ialah dari segi aksiologi, yang sebagaimana telah disinggung di atas terkait dengan
kaidah moral pengembangan penggunaan ilmu yang diperoleh.
Epistemologi, Ontologi, dan Aksiologi
Tahapan
Ontologi
(Hakikat Ilmu)

Obyek apa yang telah ditelaah ilmu?


Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut?
Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti
14

berpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?


Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa
ilmu?
Epistemologi
(Cara

Bagaimana prosedurnya?
Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa
ilmu?

Mendapatkan

Bagaimana prosedurnya?

Pengetahuan)

Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan


dengan benar?
Apa yang disebut dengan kebenaran itu sendiri?
Apa kriterianya?
Sarana/cara/teknik apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan

Aksiologi
(Guna

yang berupa ilmu?


Untuk apa pengetahuan tersebut digunakan?
Bagaiman kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral?

Pengetahuan)

Bagaimana penetuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?


Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi
metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional?
Teori pengetahuan yang bersifat subjektif akan memberikan jawaban TIDAK,

kita tidak akan mungkin mengetahui, menemukan hal-hal yang ada di balik pengaman
dan ide kita. Sedangkan teori pengetahuan yang bersifat obyektif akan memberikan
jawaban YA.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Filsafat Ilmu Keperawatan (Konsep Filsafat Keperawatan)


3.1.1 Paradigma Keperawatan, Perawat, dan Praktik Keperawatan
Pada lokakarya nasional 1983 telah disepakati pengertian keperawatan sebagai
berikut, keperawatan adalah pelayanan professional yang merupakan bagian integral
15

dari pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk


pelayanan bio psiko sosio spiritual yang komprehensif yang ditujukan kepada
individu, kelompok dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh
proses kehidupan manusia.
Florence Nightingale (1895) mendefinisikan keperawatan sebagai berikut,
keperawatan adalah menempatkan pasien alam kondisi paling baik bagi alam dan
isinya untuk bertindak. Calissta Roy (1976) mendefinisikan keperawatan merupakan
definisi ilmiah yang berorientasi kepada praktik keperawatan yang memiliki
sekumpulan pengetahuan untuk memberikan pelayanan kepada klien.
Dalam Standar Kompetensi Perawat Indonesia tahun 2005, yang dimaksud
dengan keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan
bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan
ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat baik sehat maupun
sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa keperawatan adalah
upaya pemberian pelayanan/asuhan yang bersifat humanistic dan professional,
holistic berdasarkan ilmu dan kiat, standart pelayanan dengan berpegang teguh
kepada kode etik yang melandasi perawat professional secara mandiri atau memalui
upaya kolaborasi.
Definisi perawat menurut UU RI. No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan,
perawat adalah mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan
tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimiliki diperoleh melalui pendidikan
keperawatan.
Taylor C Lillis C Lemone (1989) mendefinisikan perawat adalah seseorang
yang berperan dalam merawat atau memelihara, membantu dengan melindungi
seseorang karena sakit, luka dan proses penuaan.
Definisi perawat menurut ICN (international council of nursing) tahun 1965,
perawat adalah seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan keperawatan yang
memenuhi syarat serta berwenang di negeri bersangkutan untuk memberikan
pelayanan keperawatan yan bertanggung jawab untuk meningkatkan kesehatan,
pencegahan penyakit dan pelayanan penderita sakit.
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik

Indonesia

Nomor

HK.02.02/MENKES/148/I/2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Perawat

16

Pasal 1, yang dimaksud dengan perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan
perawat baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan perundang undangan
yang berlaku.
Menurut konsorsium Ilmu-ilmu Kesehatan (1992) praktik keperawatan adalah
tindakan mandiri perawat professional/ners melalui kerjasama yang bersifat
kolaboratif baik dengan klien maupun tenaga kesehatan lain dalam upaya
memberikan asuhan keperawatan yang holistic sesuai dengan wewenang dan
tanggung jawabnya pada berbagai tatanan pelayanan, termasuk praktik keperawatan
individu dan berkelompok.
Sementara praktik keperawatan profesional adalah tindakan mandiri perawat
professional dengan menggunakan pengetahuan teoritik yang mantap dan kokoh
mencakup ilmu dasar dan ilmu keperawatan sebagai landasan dan menggunakan
proses keperawatan sebagai pendekatan dalam melakukan asuhan keperawatan (Pokja
Keperawatan CHS, 2002).
Sedangkan pelayanan

keperawatan

adalah

suatu

bentuk

pelayanan

professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang


didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosiospiritual yang komprehensif (holistic), di tujukan kepada individu, keluarga, dan
masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencagkup seluruh proses kehidupan
manusia.
Pelayanan keperawatan yang di berikan berupa bantuan karena adanya
kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan dan kurangnya kemauan
menuju kepada kemampuan melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri.
Praktik keperawatan sudah di atur dalam surat keputusan Menteri Kesehatan
No.1239 tentang registrasi dan praktik keperawatan yang mengatur hak, kewajiban,
dan kewajiban perawat, tindakan-tindakan keperawatan yang dapat dilakukan oleh
perawat dalam menjalankan praktiknya, dan persyaratan praktik keperawatan dan
mekanisme pembinaan dan pengawasan.
3.1.2

Perkembangan Ilmu Keperawatan


Pohon ilmu dari keperawatan adalah ilmu keperawatan itu sendiri. Pendidikan
keperawatan sebagai pendidikan profesi harus dikembangkan sesuai dengan kaidahkaidah ilmu dan profesi keperawatan, yang harus memiliki landasan akademik dan
landasan professional yang kokoh dan mantap.
17

Pengembangan pendidikan keperawatan bertolak dari pengertian dasar tentang


ilmu keperawatan seperti yang dirumuskan oleh Konsorsium Ilmu kesehatan (1991)
yaitu : Ilmu keperawatan mencakup ilmu-ilmu dasar seperti ilmu alam, ilmu social,
ilmu perilaku, ilmu biomedik, ilmu kesehatan masyarakat, ilmu dasar keperawatan,
ilmu keperawatan komunitas dan ilmu keperawatan klinik, yang apluikasinya
menggunakan pendekatan dan metode penyelesaian masalah secara ilmiah, ditujukan
untuk mempertahankan, menopang, memelihara dan meningkatkan integritas seluruh
kebutuhan dasar manusia .
Wawasan ilmu keperawatan mencakup ilmu-ilmu yang mempelajari bentuk
dan sebab tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, melalui pengkajian mendasar
tentang hal-hal yang melatar belakangi, serta mempelajari berbagai bentuk upaya
untuk mencapai kebutuhan dasar tersebut melalui pemanfaatan semua sumber yang
ada dan potensial. Bidang garapan dan fenomena yang menjadi objek studi
keperawatan adalah penyimpangan dan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia
(bio-psiko-sosio-spiritual), mulai dari tingkat individu tang utuh (mencakup seluruh
siklus kehidupan), sampai pada tingkat masyarakat, yang juga tercermin pada tidak
terpenuhinya kebutuhan dasar pada tingkat system organ fungsional sampai sub
seluler atau molekuler.
Dari uraian diatas dapat dijelaskan bahwa hakikat dari ilmu keperawatan
adalah mempelajari tentang respon manusia terhadap sehat dan sakit yang difokuskan
pada kepedulian perawat terhadap tidak terpenuhinya kebutuhan dasar pasien atau
disebut dengan care. Hal ini berbeda dengan hakikat kedokteran adalah pengobatan
atau disebut cure.

3.2 Keperawatan Sebagai Ilmu


3.2.1 Ontologi Keilmuan Keperawatan
Ontologi adalah dasar untuk mengklasifikasi pengetahuan dan sekaligus
bidang-bidang ilmu. Selain itu, ontologi dapat diartikan sebagai

ilmu yang

membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality yang berbentuk
jasmani/kongkret maupun rohani/abstrak.
Dua aspek penting dari ontology keilmuan dalam keperawatan yaitu (1)
prinsip penafsiran tentang realitas dan (2) batas batas telaahan. Prinsip penafsiran
18

tentang realitas keilmuan keperawatan antara lain mencakup beberapa pernyataan


seperti realitas adalah gejala fisik yang berwujud sebagai fakta data. Realitas yang
kita ketahui hanya merupakan perkiraan dari kenyataan yang sebenarnya. Realitas itu
diungkapkan sebagaimana adanya (das Sein) tanpa terikat oleh nilai nilai tertentu di
luar kenyataan tersebut. Dalam menafsirkan realitas, keilmuan keperawatan
mempunya beberapa anggapan dasar (asumsi, premis) yakni uniformitas, relative
tetap, dan memiliki pola kejadian yang baku. Uniformitas ialah bahwa setiap wujud
kehidupan manusia mempunyai keseerupaan dengan wujud lainnya dilihat dari
kriteria tertentu seperti kuantitas, kualitas, atau modus. Relative tetap artinya bahwa
dalam jangka waktu tertentu setiap wujud memiliki bentuk yang tetap misalnya
ketegangan (tension), kecemasan, depresi, kesedihan, penolakan (denial), dan coping,
sebelum berubah bentuk menjadi wujud lain misalnya : stress, gembira, penerimaan.
Setiap kejadian mempunyai pola baku yang tetap dan tidak bersifat kebetulan
misalnya kandungan air dan elektrolit berhubungan dengan energy tubuh, oksigen
berkaitan dengan keadaan sesak nafas dan kematian jaringan.
Batas batas telaahan kegiatan keilmuan secara umum adalah wilayah
empiric, dalam arti daerah yang dapat ditangkap oleh pancaindera manusia. Dunia
keilmuan dibagi dua golongan yaitu (1) pengetahuan ilmiah dan (2) sarana
pengetahuan ilmiah. Sarana pengetahuan ilmiah adalah alat yang membantu kegiatan
dalam memperoleh dan menyusun pengetahuan ilmiah, misalnya : bahasa, logika,
matematika, statistika, dan metode penelitian. Ontology ini berbeda dengan sarana
pengetahuan ilmiah, demikian pula dengan epistemology dan aksiologinya. Kegiatan
penelitian yang menyangkut sarana pengetahuan ilmiah adalah bersifat ilmiah, sebab
merupakan bagian integral dari dunia keilmuan.
Setiap disiplin keilmuan termasuk pengetahuan ilmiah memiliki objek forma
dan objek material mengenai wujud yang menjadi focus penelaahannya, yang
seharusnya berbeda dari obyek formal dan obyek material disiplin keilmuan lainnya.
Obyek formal adalah cara pandang terhadap sesuatu, misalnya bahwa perawat
memandang masalah kliennya berfokus pada tidak atau kurang adekuatnya
pemenuhan kebutuhan kebutuhan yang terkait dengan kesehatan potensial maupun
kesehatan aktual. Obyek material adalah substansi dari obyek formal, misalnya
apabila obyek formalnya klien dengan masalah gangguan pernafasan, maka obyek
19

materialnya adalah saluran pernafasan, oksigen, karbondioksida, dan sebagainya.


Pertanyaan yang sering muncul ialah perbedaan obyek formal dan obyek material
antara pengetahuan ilmiah keperawatan, kedokteran, dan kesehatan masyarakat.
Walaupun diakui batas batasnya, namun dalam praktik seringkali sulit dibedakan
yang disebabkan komponen aksiologi yang tumpang tindih dan bertautan erat antara
tujuan pengasuhan (caretive) dengan tujuan pengobatan (curative) dan pencegahan
(preventive). Inilah tolok ukur pertama untuk menilai keberadaan dan kemandirian
disiplin pengetahuan keperawatan ilmiah dari pengetahuan ilmiah lainnya (misalnya
ilmu kedokteran dan ilmu kesehatan masyarakat). Dengan perkataan lain, objek
formal dan objek material yang jelas dan tegas dari pengetahuan keperawatan akan
merupakan ciri ciri yang spesifik dari disiplin keilmuan keperawatan.

3.2.2

Epistemologi Keilmuan Keperawatan


Epistemologi keilmuan keperawatan secara lebih rinci dapat dilihat dari aspek
aspek sifat, proses, dan fungsi pengetahuan keperawatan ilmiah yang telah diperoleh
dan tersusun secara rasional, logis, dan sistematis. Ketiga aspek di atas bersifat saling
berhubungan, kait mengkait dengan arti dimulai dari sifat, namun sebaliknya bahwa
proses (pengetahuan keilmuan) ditentukan oleh sifat (pengetahuan keilmuan) dan
bahwa fungsi (pengetahuan keilmuan) turut menentukan bagaimana proses perolehan
dan penyusunan pengetahuan keilmuan itu dilakukan.
Masyarakat ilmiah keperawatan seyogyanya

lebih

terorganisir

dengan

mengharapkan untuk memperoleh dan menyusun pengetahuan keilmuan yang memiliki


sifat sifat bahwa pengetahuan keilmuan yang (biasanya) dihasilkan secara individual
itu adalah untuk dan milik umum (public knowledge). Untuk ini diperlukan komunikasi
ilmiah, yang artinya bahwa pengetahuan keilmuan yang diperolehnya wajib
dikomunikasikan kepada masyarakat ilmuwan lewat publikasi ilmiah. Jadi apabila
ilmuwan yang menyimpan penemuannya dikantung baju atau di perpustakaan
pribadinya, belum bisa dikategorikan sebagai pengetahuan keilmuan. Masyarakat
ilmiah keperawatan juga tidak boleh terlalu bersifat skeptic dan eksklusif, yang hanya
melihat kebenaran ilmiah dari sudut pandang pribadi atau profesinya saja, sebab pada
dasarnya pengetahuan keilmuan memiliki akar dan metode ilmiah yang sama. Hal
20

inilah yang merupakan salah satu kelemahan umum yang sering terjadi pada setiap
kelompok ilmuwan dan profesi, namun perlu diupayakan untuk diredusir dan
dihilangkan. Pengetahuan keilmuan itu haruslah bersifat obyektif, dalam arti bahwa
setiap orang yang mempelajari obyek yang sama dengan cara yang sama akan sampai
kepada kesimpulan yang sama pula. Pengetahuan keilmuan yang disusun merupakan
abstraksi yag mereduksikan realitas menjadi konsep, dengan tingkat generalisasi yang
tinggi.
Mekanisme yang memproses pengetahuan keilmuan tersebut adalah metode
ilmiah yang mengandung tiga bagian, yaitu :
-

proses keabsahan (validitas)

proses kebenaran

proses penyusunan.
Proses keabsahan pengetahuan keilmuan menetapkan persyaratan yang harus

dipenuhi oleh suatu kegiatan agar dianggap sah secara keilmuan. Persyaratan ini ialah :
logis, analitis, dan sistematis adalah sah menurut criteria ilmiah. Selanjutnya suatu
pengetahuan diperlukan pula kriteria kebenaran ilmiah, yang ditentukan melalui
pengujian secara empiris, yang sifatnya logis, analitis, dan sistematis.
Pengetahuan keilmuan bidang keperawatan yang diperoleh dan disusun
sedemikian

rupa

memiliki

fungsi

yang

jelas

bagi

dunia

keilmuan

untuk

mendeskripsikan, menjelaskam, memprediksikan, serta mengontrol gejala atau


fenomena bio-psiko-sosial-kultural-spiritual manusia sebagai individu, keluarga dan
kelompok dalam kaitan dengan tujuan kesehatan dan kesejahteraan yang optimal bagi
mereka. Teori keperawatan yang dihasilkan akan bermutu tinggi apabila memiliki
keempat kriteria di atas, dan di sinilah tolok ukur kedua, dalam menilai konsep
konsep yang diajukan oleh disiplin keilmuan baru seperti pengetahuan keperawatan
ilmiah yang mulai tumbuh untuk berkembang. Memang, seringkali terdapat beberapa
macam teori atau pendekatan yang diajukan, dan hal itu adalah wajar wajar saja,
malah menggembirakan sebab suatu fokus permasalahan terkadang tidak dapat
diselesaikan oleh hanya satu pendekatan saja. Yang penting adalah kita harus bisa
membedakan gradasi, efisiensi, dan efektivitas berbagai pendekatan yang diajukan.

21

Keperawatan lahir sejak naluriah keperawatan lahir bersamaan dengan penciptaan


manusia. Orang-orang pada zaman dahulu hidup dalam keadaan primitive. Namun
demikian mereka sudah mampu sedikit pengetahuan dan kecakapan dalam merawat
atau mengobati. Pekerjaan "merawat" dikerjakan berdasarkan naluri (instink) naluri
binatang "mother instinct" (naluri keibuan) yang merupakan suatu naluri dalam yang
bersendi pada pemeliharaan jenis (melindungi anak, merawat orang lemah).
Perkembangan keperawatan dipengaruhi dengan semakin maju peradaban
manusia maka semakin berkembang keperawatan. Diawali oleh seorang Florence
Nightingale yang mengamati fenomena bahwa pasien yang dirawat dengan keadaan
lingkungan yang bersih ternyata lebih cepat sembuh dibanding pasien yang dirawat
dalam kondisi lingkungan yang kotor. Hal ini membuahkan kesimpulan bahwa
perawatan lingkungan berperan dalam keberhasilan perawatan pasien yang kemudian
mejadi paradigma keperawatan berdasar lingkungan.
Semenjak itu banyak pemikiran baru yang didasari berbagai tehnik untuk
mendapatan kebenaran baik dengan cara Revelasi (pengalaman pribadi), otoritas dari
seorang yang ahli, intusisi (diluar kesadaran), common sense (pengalaman tidak
sengaja), dan penggunaan metode ilmiah dengan penelitian-peneltian dalam bidang
keperawatan. Sehingga muncullah paradigma lain diantaranya:
1. Peplau (1952) : Teori interpersonal sebagai dasar perawatan
2. Orlando (1961) : Teori komunikasi sebagai dasar perawatan
3. Johnson (1961) : Stabilitas sebagai tujuan perawatan
4. Roy (1970) : Teori adaptasi sebagai dasar perawatan
5. Rogers (1970) : konsep manusia yang unik
6. King (1971) : Proses transaksi perawat-klien
7. Orem (1971) : Kemandirian pasien untuk merawat dirinya sebagai tujuan perawatan

3.2.3

Aksiologi Keilmuan Keperawatan


Aksiologi keilmuan menyangkut nilai nilai yang berkaitan dengan pengetahuan
ilmiah : baik internal, eksternal, maupun social. Baik nilai nilai yang berkaitan
dengan wujud maupun kegiatan ilmiah dalam memperoleh pengetahuannya. Lain
halnya dengan landasan ontologism yang mengungkapkan dan menyatakan realitas
22

sebagaimana adanya (das Sein) yang dalam konteks ini ditafsirkan sebagai bebas nilai,
maka landasan aksiologis baik internal, eksternal, maupun social adalah sarat nilai.
Secara internal, misalnya disebutkan bahwa tidak setiap wujud empirik dapat dijadikan
sebagai objek penelitian, terutama yang berkaitan dengan fitrah (hak hak azasi)
manusia. Rekayasa genetic dalam bentuk kloning, telah menimbulkan masalah moral.
Penelitian dalam ilmu kedokteran ini dikontrol dengan ketat oleh nilai nilai aksiologis
yang sifatnya internal. Penelitian keperawatan (nursing research) dan penelitian dalam
keperawatan. (research in nursing), memang belum dikembangkan secara sungguh
sungguh, yang sama sekali berbeda dengan pendekatan penelitian bidang kedokteran,
psikologi, sosiologi, antropologi, pendidikan, dan sebagainya, walaupun beberapa
bagian dari pengetahuan ilmiah tentang ilmu ilmu tersebut dipinjam dan dimasukkan
ke dalam ilmu keperawatan.
Nilai eksternal menyangkut nilai nilai yng berkaitan dengan penggunaan
pengetahuan ilmiah. Seperti juga ditemukannya atom atau nuklir yang bisa membawa
berkah atau bencana bagi hidup dan kehidupan manusia. Hal ini sangat tergantung dari
manusia yang menggunakannya. Oleh karena itulah maka kode etik merupakan suatu
persyaratan mutlak bagi eksistensi praktik profesi.
3.2.4

Karakteristik Spesifik Keilmuan Keperawatan


Dari definisi keperawatan yang telah diakui dan digunakan sebagai dasar
pengembangan keperawatan di Indonesia, maka objek material ilmu keperawatan
adalah manusia, dalam wujudnya sebagai individu, keluarga dan komunitas, yang tidak
dapat berfungsi (atau berpotensi tidak dapat berfungsi) opyimal dalam kaitan dengan
kondisi kesehatan dalam proses penyembuhan, rehabilitasi, pencegahan penyakit, dan
peningkatan kesehatan. Sedangkan objek formalnya adalah sebagai bantuan terhadap
individu, keluarga dan komunitas itu yang tidak dapat berfungsi atau yang secara
potensial tidak dapat berfungsi optimal dalam kaitan dengan kondisi kesehatan serta
proses penyembuhan, rehabilitasi, pencegahan timbulnya masalah kesehatan serta
peningkatan kesehatan mereka secara optimal.
Postulat yang diajukan adalah bahwa manusia yang tidak (potensial tidak) dapat
berfungsi secara optimal dalam kaitan dengan kondisi kesehatan, proses penyembuhan,
rehabilitasi, pencegahan timbulnya masalah kesehatan serta peningkatan kesehatan
23

secara optimal yang memiliki perangkat kebutuhan. Asumsi yang diajukan adalah
bahwa manusia sebagai makhluk bio-psiko-sosial-spiritual yang tidak dapat (potensial
tidak dapat) berfungsi optimal dalam kaitan dengan kondisi kesehatan dan proses
penyembuhan, rehabilitasi, pencegahan timbulnya masalah, dan promosi kesehatan.
Selanjutnya di atas landasan postulat, asumsi, dan prinsip prinsip kita dapatkan
prinsip bahwa efektivitas bantuan terhadap individu, keluarga, dan kelompok
komunitas yang tidak dapat berfungsi optimal dalam kaitan dengan kondisi kesehatan,
proses penyembuhan, rehabilitasi, pencegahan timbulnya masalah dan promosi
kesehatan merupakan pendekatan bio-psiko-sosial-spiritual secara holistik.
Apabila kita nilai, maka ketiga proposisi mengenai pikiran dasar ini, untuk
menentukan apakah semua ini spesifik atau khas bersifat ilmu keperawatan, atau
mungkin milik disiplin pengetahuan lain yang telah ada seperti ilmu ekonomi,
psikologi, sosiologi, kedokteran, kesehatan masyarakat atau mungkin antropologi.
Jawabannya adalah mungkin saja, namun tetap tidak mengurangi sifat khas atau
spesifiknya ilmu keperawtan sebab baik kebutuhan manusia maupun sifat bio-psikososial dan spiritual itu dikaitkan dalam konteks manusia yang tidak dapat berfungsi
(potensial tidak dapat berfungsi) dengan optimal dalam kaitan dengan kondisi
kesehatan, penyembuhan, pencegahan, dan promosi kesehatan. Dan pada gilirannya
akan menyebabkan perbedaan kerangka konseptual makro yang dibangun.
Kerangka konsep ilmu keperawatan baik makro maupun mikro (hanya
menyangkut salah satu aspek dari ilmu keperawatan) di Amerika telah berkembang
sejak sebelum 1950-an, dan symposium mengenai model dan teori keperawatan
dilakukan untu pertama kalinya tahun 1966. Dalam kurun waktu 1970-an model, teori
dan ilmu keperawatan berkembang dengan kecepatan tinggi. Di Indonesia, Lokakarya
Nasional Keperawatan tahun 1983, yang disponsori Departemen Kesehatan dan WHO,
merupakan tonggak sejarah perkembangan ilmu keperawatan di Indonesia. Dari data itu
dapat disimpulkan bahwa ilmu keperawatan sebagai disiplin keilmuan yang mandiri
memiliki latar belakang yang sangat solid.
Pendidikan keperawatan di Negara Negara Anglo Saxon atau yang berkiblat
Anglo Saxon seperti Amerika, Canada, Australia, Filipina, dan Thailand pada umumnya
mencakup program diploma, asosiate, dan program bakloreat (S1). Nampaknya
pendidikan perawat Indonesia sedang dan akan mengikuti pendidikan perawat (Ners)
24

model spesifik pendidikan dokter Indonesia dengan merujuk pada pendidikan model
Amerika Australia-Thailand. Sedangkan di daratan Eropa, termasuk Belanda (sebagai
leluhur yang melahirkan mantra dan zuster keperawatan) yang menganut system
pendidikan continental, ilmu keperawatan tidak dikembangkan sebagai ilmu yang
mandiri, namun bersama sama dengan keperawatan midwifery. Berbeda dengan di
Indonesia, di mana pendidikan bidan misalnya, dimasukkan ke dalam lingkup
pendidikan Obstetric-Gynekologi, bagian dari ilmu kedokteran.
3.2.5

Tafsir Konstraktual Ilmu Keperawatan


Tafsir konstraktual bagi ilmu keperawatan antara lain :
-

Hadits Nabi : Bila suatu pekerjaan diserahkan kepada bukan ahlinya tunggu saja
kehancurannya.

Hadis ini menunjukkan bahwa setiap muslim harus memiliki keprofesionalan yang
tinggi, begitu juga dengan perawat. Saat ini, isu perawat professional menjadi bahasan
utama di bidang keperawatan. Perawat dituntut dapat bekerja secara professional.
Perawat yang professional adalah tenaga professional yang mandiri, bekerja secara
otonom dan berkolaborasi dengan yang lain dan telah menyelesaikan program
pendidikan profesi keperawatan, terdiri dari ners generalis, ners spesialis dan ners
konsultan. Jika telah lulus uji kompetensi yang dilakukan oleh badan regulatori yang
bersifat otonom, selanjutnya disebut Registered Nurse (RN).

3.3 Manfaat Filsafat dalam Ilmu Keperawatan


Manfaat filsafat ilmu (Jujun S. Suriasumantri, 1987) antara lain:
-

seseorang akan mengenal bidang keilmuan dengan berbagai aspeknya.

mempercepat berkembangnya paradigma keilmuan dalam kehidupan kita

mengenal alur-alur berpikir dalam kegiatan keilmuan

meningkatkan kemampuan mendiagnosis persoalan dan mencari alternatif pemecahannya


Manfaat mempelajari filsafat menurut Liza, 2006 antara lain :

terlatih berfikir serius


mampu memahami filsafat
memungkinkan menjadi filosof
menjadi warga negara yang baik

25

Dalam pengembangan ilmu keperawatan tidak bisa terlepas dari peranan filsafat
didalamnya. Adapun manfaat atau peranan filsafat dalam keperawatan antara lain adalah:
1. Memudahkan proses keperawatan karena tanpa mempelajari filsafat ilmu keperawatan
maka akan semakin sulit melaksanakan proses keperawatan
2. Dengan mengetahui dan melaksanakan perilaku yang mengandung makna, rasa cinta
terhadap kebijaksanaan, terhadap pengetahuan, terhadap hikmah dan ucapannya yang
baik dan sopan seseorang dapat mengetahui bagaimana landasan dasar dari ilmu
keperawatan tersebut
3. Dapat memecahkan suatu permasalahan meliputi dampak teknologi, sosial budaya,
ekonomi, pengobatan alternatif, kepercayaan spritual dan masih banyak yang lainnya
mengenai seluk beluk lingkup profesi keperawatan yang semuanya digunakan dalam hal
pencapaian profesionalisme seorang perawat
4. Menghindari dan meminimalisasi kesalahpahaman dan konflik dalam pencarian
kebenaran tentang ilmu keperawatan
5. Sebagai dasar dalam penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan untuk bertindak
melalui pengalaman-pengalaman yang sudah ada
6. Mendapatkan kebenaran tentang hal-hal yang dianggap belum pasti apakah tindakan yang
kita lakukan dan pendapat yang kita keluarkan itu adalah benar atau salah, misalnya jika
kita melakukan tindakan seperti injeksi terhadap klien kita harus tahu terlebih dahulu
prosedur-prosedur apa saja yang dilakukan, jadi setelah kita mengetahuinya maka kita
akan melakukan tindakan itu secara benar
7. Dengan filsafat seorang perawat dapat menggunakan kebijaksanaan yang dia peroleh dari
filsafat sehingga perawat tersebut dapat lebih berfikir positif (positif thinking) dan dengan
positif thinking tersebut seorang perawat dapat menjalankan tugasnya dengan baik
sehingga pasien yang tadinya susah berkomunikasi dapat menjadi lebih dapat
berkomunikasi dengan baik dan akhirnya dapat mempercepat proses penyembuhan
pasien tersebut.

26

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Filsafat dalam keperawatan mempunyai peranan yang sangat penting. Keperawatan
sendiri bisa dilihat dari dua sudut yaitu tentang ilmu keperawatan itu sendiri dan tentang
pendidikan keperawatan. Peran filsafat dalam pendidikan bagi mahasiswa dalam perguruan
tinggi yaitu supaya

tahu

bagaimana

cara

berpikir kritis

dan

bagaimana cara

mengaplikasikannya, Sedangkan filsafat dalam keperawatan adalah keyakinan dasar tentang


pengetahuan keperawatan yang mengandung pokok pemahaman biologis manusia dan
perilakunya dalam keadaan sehat dan sakit terutama berfokus kepada respon mereka terhadap
situasi. Manfaat filsafat dalam keperawatan salah satunya adalah mendapatkan kebenaran
tentang hal-hal yang dianggap belum pasti apakah tindakan yang kita lakukan dan pendapat
yang kita keluarkan tentang dunia keperawatan itu adalah benar atau salah.
B. Rekomendasi
Setelah mendapatkan ilmu filsafat keperawatan di sarankan mahasiswa mampu
mengembangkan dan lebih berpikir kritis tentang konsep ilmu filsafat dalam keperawatan.

27

DAFTAR PUSTAKA
Ann Marrien, dkk. 2014. Nursing Teorhiests and Their Work. Eighth Edition. USA : Mosby
Hidayat A.A. 2002. Pengantar Dokumentasi Proses Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Liza. 2006. Pengantar Filsafat dan Ilmu. Dapat diunduh dalam http://www.foxitsoftware.com
Muhammad. 2010. Filsafat Ilmu Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu
Pengetahuan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Naziruddin, Udin. 2004. Buku Ajar : Filsafat Keilmuan dalam Keperawatan dan Kesehatan.
Bandung : PSIK UNPAD.
Noname. Filsafat Ilmu dan Metode Riset Normal. Dapat diunduh dalam
http://usupress.usu.ac.id/files/Filsafat%20Ilmu%20dan%20Metode%20Riset_Normal_bab
%2010.pdf
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/148/I/2010
tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Perawat. Dapat diunduh dalam
http://www.gizikia.depkes.go.id/wp-content/uploads/2011/04/permenkes-no-148-ttg-praktikpwt-2010.pdf
Poedjiadi, A. 2008. Peranan Filsafat Pendidikan dalam Pengembangan Ilmu Pendidikan.
http://www.education.com/filsafat. Diakses 16 september 2016.
Potter & Perry. 2009. Fundamentals of Nursing. USA : Mosby
PPNI. 2005. Standar Kompetensi Perawat Indonesia. Tidak Diterbitkan.
Sadulloh, U. 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung : CV Alfabeta
Soemowinoto, S. 2008. Pengantar Filsafat Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Soewardi, Herman. 1999. Roda Berputar Dunia Bergulir: Kognisi Baru tentang Timbul
Tenggelamnya Sivilisasi. Bandung: Bakti Mandiri.
Supriyanto, S. 2013. Filsafat Ilmu. Jakarta : Prestasi Pustaka
28

29