Anda di halaman 1dari 7

A.

PENGERTIAN ANTIBIOTIK KLORAMFENIKOL


kloramfenikol (chloramphenicol) adalah antibiotik yang digunakan secara luas pada
infeksi bakteri. kloramfenikol (chloramphenicol) adalah antibiotika jenis
bakteriostatik dengan menghambat sistesis protein dengan cara menghambat aktivitas
peptidil transferase dari ribosom bakteri, secara spesifik mengikat residu A2451 dan
A2452 dari 23s rRNA subunit ribosom 50s untuk mencegah terjadinya ikatan peptida.
Kloramfenikol [1-(p-nirofenil)-2-diklorasetamido-1,3-propandiol] berasal
dari Streptomyces venezuelae, Streptomyces phaeochromogenes, dan Streptomyces
omiyamensis.

struktur kimia kloramfenikol


Kloramfenikol berkhasiat untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh Salmonella
thypi dan Salmonella parathypi. Namun demikian, kloramfenikol tidak aktif terhadap
virus, jamur, dan protozoa.

B. BIOSINTESIS ANTIBIOTIK KLORAMFENIKOL


Pada siklus hidupnya yang normal, Streptomyces venezuelae akan tumbuh dalam
medium yang sesuai dan menghasilkan jumlah sel maximum, setelah itu berhenti
pertumbuhannya, dan memasuki fase stasioner, akhirnya diikuti oleh kematian sel
vegetatif atau pembentukan spora. Pada stadium ini, setelah sel-sel berhenti
mambelah, metabolit sekunder mulai diproduksi. Metabolit sekunder mulai di
produksi dalam jumlah besar dan kebanyakan disekresikan ke dalam medium biakan.
Kebanyakan antibiotik merupakan metabolit sekunder.
Jalur biosintesis merupakan urutan pembentukan suatu metabolit
darimolekul yang paling sederhana hingga molekul yang paling kompleks.Penget
ahuan akan jalur biosintesis ini memungkinkan untuk melakukanmodifikasi dari
jalur tersebut sehingga dapat diproduksi metabolit dalam jumlah yang lebih banyak

dan dalam waktu yang lebih singkat, mengetahui struktur metabolit yang dihasilkan,
kemudian dapat dilakukan sintesis untuk menghasilkan derivatnya. Jalur yang
biasanya dilalui dalam pembentukan metabolit sekunder ada tiga jalur,yaitu:
1.jalur asam asetat,
2. jalur asam sikimat, dan
3. jalur asam mevalonat
Waktu penggunaan jalur biosintesis saat:1. Rendahnya ekspresi dari gen-gen yang
mengontrol tahap-tahap penting dari jalur biosintesis 2. Untuk mendapatkan senyawa
tertentu yang sangat dibutuhkan
dalam suatu obat. Dengan demikian dalam jalur biosintesis tanaman tersebut dita
mbahkan suatu prekursor seperti menggunakan jalur biosintesis triptofan untuk
menyediakan prekursor terhadap sintesis hormon auksin (Indole-3-aceticacid/ IAA),
fitoaleksin, glukosinolat, dan indole- serta anthranilat yang keduanya merupakan
derivat alkaloid.
Biosintesis mengubah senyawa awal menjadi senyawa baru yang lebih bermanfaat
dengan pertolongan suspensi sel. Berdasarkan biosintesis, metabolit sekunder
dapat diumpankan dengan prazat untuk menjadi produk yang lebih cepat dengan
kultur suspensi sel. Prazat dapat merangsang aktivitas enzim tertentu yang terlibat
dalam jalur biosintesis, sehingga dapat meningkatkan produksi metabolit sekunder.
Selain itu juga senyawa yang dikehendaki dapat ditingkatkan jumlahnya dengan cara
memanipulasi media maupun dengan penambahan
senyawa prekursor/prazat, merangsang aktivitas enzim tertentu yang
terlibat dalam jalur biosintesis, sehingga dapat meningkatkan produksi metabolit
sekunder.
C. MEKANISME KERJA ANTIBIOTIK KLORAMFENIKOL
Mekanisme kerja kloramfenikol menghambat sistesis portein pada bakteri dan dalam
jumlah terbatas, pada sel eukariot. Obat ini segera berpenetrasi ke sel bakteri,
kemungkinan melalui difusi terfasilitasi. Kloramfenikol terutama bekerja dengan
memikat subunit ribosom 50 S secara reversibel (di dekat tempat kerja antibiotic
makrlida dan klindamisin, yang dihambat secara kompetitif oleh obat ini). Walaupun
pengikatan tRNA pada bagian pengenalan kodon ini ternyata menghalangi pengikatan
ujung tRNA aminosil yang mengandung asam amino ke tempat akseptor pada subunit
ribosom 50 S. interkasi antara pepdiltranferase dengan substrat asam aminonya tidak
dapat terjadi, sehingga pembentukan ikatan peptide terhambat.
Kloramfenikol juga dapat menghambat sistesis protein mitokondria pada sel mamalia,
kemungkinan karena ribosom mitokondria lebih menyerupai ribosom bakteri

(keduanya 70 S) dari pada ribosom sitoplasma 80 S pada sel mamalia.


Peptidiltransferase ribosom mitokondria, dan bukan ribosom sitoplasma, rentan
terhadap kerja penghambtan kloramfenikol. Sel eritropoietik mamalia tampaknya
terutama peka terhadap obat ini.
Kerja antimikroba.
Kloramfenikol memiliki aktivitas antimikroba berspektrum luas. Galur dianggap peka
apabila dapat dihambat oleh konsentrasi 8 g/ml atau kurang, kecuali N.
gonnorhoeae, S. pneumoniae, dan H. influenza,yang memiliki batas MIC yang lebih
rendah. Kloramfenikol terutama bersifat bakteriostatik, walupun dapat bersifat
bakterisida terhadap spesies tertentu, seperti N. gonnorhoeae, S. pneumoniae, dan H.
influenza. Lebih dari 95% galur bakteri gram-negatif berikut ini dihambat secara in
vitro oleh kloramfenikol 8,0 g/ml atau kurang., yakni N. gonnorhoeae, S.
pneumoniae, dan H. influenza. Demikian juga, kebanyakan juga bakteri anaerob,
termasuk kokus gram-positif dan Clostridium spp, serta batang-batang negative
termasuk B. fragilisdihambat oleh obat ini pada konsentrasi tersebut. Beberapa kokus
gram-positif aerob, termasuk Streptococcus pyogenes, Streptococcus
agalactiae (streptokokus kelompok B), dan S. pneumonia peka terhadap 8 g/ml.
galur S. aerus cenderung tidak begitu rentan, dengan MIC yang lebih besar dari 8
g/ml. kloramfenikol aktif terhadapMycoplasma, Chlamydia, dan Rickettsia..
Penggunaan terapeutik.
Terapi dengan kloramfenikol hanya boleh digunakan pada infeksi yang manfaat obat
tersebut lebih besar dibandingkan resiko toksiksitas potensialnya. Jika tersedia obat
antimikroba yang sama-sama efektif dan secara potensial tidak begitu toksik
dibandingkan kloramfenikol, maka sebaiknya obat tesebut digunakan.
D. EFEK SAMPING ANTIBIOTIK KLORAMFENIKOL
1. Reaksi Hematologik

Terdapat dua bentuk reaksi:


1.

Reaksi toksik dengan manifestasi depresi sumsum tulang. Berhubungan dengan dosis,

progresif dan pulih bila pengobatan dihentikan.


2.

Prognosisnya sangat buruk karena anemia

yang timbul bersifat ireversibel. Timbulnya tidaktergantung dari besarnya dosis atau lama pen
gobatan.
2. Reaksi Alergi

Kemerahan pada kulit, angioudem, urtikaria dan anafilaksis.

Kelainan yang menyerupai reaksi Herxheimer dapat terjadi pada pengobatan demamt
yphoid.
3. Reaksi Saluran Cerna

Mual, muntah, glositis, diare dan enterokolitis.

4. Syndrom Gray

Pada neonatus, terutama bayi prematur yang mendapat dosis tinggi (200 mg/kgBB).
5. Reaksi Neurologis

Depresi, bingung, delirium dan sakit kepala.


Neuritis perifer atau neuropati optik dapatjuga timbul terutama setelah pengobatan lama.

6. Interaksi dengan Obat Lain

Kloramfenikol menghambat enzim sitokrom P450 irreversibel memperpanjang T


(dicumarol, phenytoin, chlorpopamide, dan tolbutamide).

Mengendapkan berbagai obat lain dari larutannya,


merupakan antagonis kerjabakterisidal penisilin dan aminoglikosida.

Phenobarbital dan rifampin mempercepat eliminasi dari kloramfenikol.


E. KEGUNAAN ANTIBIOTIK KLORAMFENIKOL
Obat ini digunakan pada infeksi dimana diketahui kuman penyebabnya sensitive
terhadap kloramfenikol dan obat lain yang kurang toksik tidak tersedia. Beberapa
penyakit dimana sering digunakan kloramfenikol adalah demam typhoid, radang
selaput otak atau meningitis yang disebabkan oleh bakteri, penyakit yang diakibatkan
oleh infeksi ricketsia, dan brucellosis. Penggunaan pada ibu hamilharus berhati hati
dan hanya diberikan bila tidak dapat diberikan obat lain.
F. SEDIAAN ANTIBIOTIK KLORAMFENIKOL
Macam-macam sediaan antibiotika kloramfenikol yaitu :
a.. Kapsul 250 mg,
Dengan cara pakai untuk dewasa 50 mg/kg BB atau 1-2 kapsul 4 kali sehari.
Untuk infeksi berat dosis dapat ditingkatkan 2 x pada awal terapi sampai didapatkan
perbaikan klinis.

1. Salep mata 1 %
2. Obat tetes mata 0,5 %
3. Salep kulit 2 %
4. Obat tetes telinga 1-5 %
Keempat sediaan di atas dipakai beberapa kali sehari.
b. Kloramfenikol palmitat atau stearat
Biasanya berupa botol berisi 60 ml suspensi (tiap 5 l mengandung Kloramfenikol palmitat
atau stearat setara dengan 125 mg kloramfenikol). Dosis ditentukan oleh dokter.
c

Kloramfenikol natrium suksinat

Vial berisi bubuk kloramfenikol natrium suksinat setara dengan 1 g kloramfenikol yang harus
dilarutkan dulu dengan 10 ml aquades steril atau dektrose 5 % (mengandung 100 mg/ml).
d

Tiamfenikol

Terbagi dalam bentuk sediaan :


1. Kapsul 250 dan 500 mg.
2. Botol berisi pelarut 60 ml dan bubuk Ttiamfenikol 1.5 g yang
setelah dilarutkan mengandung 125 mg Tiamfenikol tiap 5 ml.
Untuk pemilihan antibiotika Kloramfenikol dan dosis/cara pakainya yang tepat ada baiknya
anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter.

1. Dosis dan Aturan pakai

Dewasa: 50 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam.

Anak: 50-75 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam.

Bayi <

2 minggu:

25

mg/kgBB/hari dalam 4 dosis terbagi tiap 6

jam. Setelah umur 2minggu bayi dapat menerima dosis sampai 50


mg/kgBB/ hari dalam 4 dosis tiap 6 jam.
2. Farmakokinetik
A. Absorbsi

Diabsorbsi secara cepat di GIT, bioavailability 75% sampai 90%.

Kloramfenikol oral : bentuk aktif dan inaktif prodrug,

Mudah berpenetrasi melewati membran luar sel bakteri.

Pada sel eukariotik menghambat sintesa protein mitokondria sehingga


menghambatperkembangan sel hewan & manusia.

Sediaan kloramfenikol untuk penggunaan parenteral (IV) adalah water-soluble.


B. Distribusi

Kloramfenikol berdifusi secara cepat dan dapat menembus plasenta.

Konsentrasi tertinggi : hati dan ginjal

Konsentrasi terendah : otak dan CSF (Cerebrospinal fluid).

Dapat juga ditemukan di pleura dan cairan ascites,

saliva,

air susu, dan aqueous danvitreous humors.

C. Metabolisme

Metabolisme : hati dan ginjal

Half-life kloramfenikol berhubungan dengan konsentrasi bilirubin.

Kloramfenikol terikat dengan plasma protein 50%; pasien sirosis dan pada bayi.
D. Eliminasi

Rute utama dari eliminasi kloramfenikol adalah pada metabolisme hepar ke inaktif
glukuronida.
4. Farmakodinamik

Mekanisme:menghambat sintesis protein kuman.

Masuk ke sel bakteri melalui diffusi terfasilitasi.

Mekanisme resistensi : inaktivasi obat oleh asetil trensferase yang diperantarai olehfac
tor R. Resistensi terhadap P. aeruginosa,
Proteus dan Klebsielaterjadi karenaperubahan permeabilitas membran yang mengurangi ma
suknya obat ke dalam selbakteri

Toleransi terhadap kehamilan


studi pada reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin. tidak ada studi yang
memadai dan terkendali dengan baik pada manusia, namun jika potensi manfaat penggunaan
obat lebih tinggi pemberian pada ibu hamil dapat diberikan meski terdapat potensi resiko
Perhatian
kloramfenikol (chloramphenicol) terdeteksi ikut keluar bersama ASI, sehingga jika
memungkinkan pemakaian kloramfenikol (chloramphenicol) selama menyusui sebaiknya
dihindari. Hati-hati memberikan kloramfenikol (chloramphenicol) kepada wanita hamil,
pasien dengan fungsi ginjal yang buruk, neonatus, dan bayi prematur. Pemakaian dengan
jangka waktu lama perlu dilakukan pemeriksaan hematologik berkala. Hati-hati terhadap
kemungkinan super infeksi dengan jamur dan bakteri.

DAFTAR PUSTAKA
Harvey A. Richard.Farmakologi.1995.Widya Medika : Jakarta.
Mardjono Mahar.Farmakologi dan Terapi.1995.Gaya Baru : Jakarta.
Http//:www.scribd.com/kloramfenikol.
Sumber : Buku farmakologi dan Terapi, edisi 4, Bagian farmakologi Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia 1995.