Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN TETAP

SATUAN OPERASI 2

DISUSUN OLEH :

ALMER SUDHIARTA

(061430400316)

BELLA DWI AULINA

(061430401245)

MUHAMMAD RICKY

(061430400325)

NOVITA SARI

(061430401231)

SHANTY NURMEUTIA

(061430401238)

YONADA KHAIRUNNISA

(061430400334)
KELAS :
4KB

INSTRUKTUR :
IR. SELASTIA YULIATI, M. SI
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2016

EKTRAKSI CAIR-CAIR 2
Intsruktur : Ir. Jaksen M Amin, M. Si

EKTRAKSI CAIR-CAIR 1
Intsruktur : Ir. Jaksen M Amin, M. Si

EVAPORATOR 2
Intsruktur : Ir. Jaksen M Amin, M. Si

EVAPORATOR 1
Intsruktur : Ir. Jaksen M Amin, M. Si

PENGERINGAN ZAT PADAT 1


Intsruktur : Ir. Selastia Yuliati, M. Si

PENGERINGAN ZAT PADAT 2


Intsruktur : Ir. Selastia Yuliati, M. Si

REACTOR CONTINUE 1 DAN 2


Intsruktur : Endang Supraptiah, S.T, M.T

DISTILASI CONTINUE 1
Intsruktur : Endang Supraptiah, S.T, M.T

DISTILASI CONTINUE 2
Intsruktur : Endang Supraptiah, S.T, M.T

HEAT EXCHANGER 1
Intsruktur : Ir. Selastia Yuliati, M. Si

HEAT EXCHANGER 2
Intsruktur : Ir. Selastia Yuliati, M. Si

EKSTRAKSI CAIR-CAIR 2
I.

TUJUAN PERCOBAAN
Mahasiswa mampu mengoperasikan alat Liqiud Extraction dengan baik
Mahasiswa mapu mengetahui cara kerja alat ekstraksi cair-cair dengan aliran
counter current
Mahasiswa mampu menentukkan koefisien pemisahan dan neraca massa.

II.

ALAT DAN BAHAN

Alat yang digunakan


Seperangkat alat ekstraksi cair-cair
Buret
Gelas ukur
Gelas kimia
Erlenmeyer
Pipet ukur
Pipet tetes
Bola karet
Corong pisah
Corong kaca

Bahan yang digunkan


NaOH
Asam Asetat
Indikator PP
Air
Etil Asetat

III.

DASAR TEORI
1. Pengertian Ekstraksi
Ekstraksi adalah salah satu proses pemisahan atau pemurnian suatu senyawa
dari campurannya dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat
mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material suatu bahan
lainnya. Ekstraksi merupakan salah satu metode pemisahan yang menggunakan sifat
fisis, yaitu perbedaan kelarutan komponen-komponen dalam larutan dengan
menggunakan larutan lain sebagai media pemisah. Pemisahan larutan dengan
ekstraksi

digunakan

untuk

memisahkan

komponen-komponen

yang

mempunyai perbedaan titik didih yang relatif kecil tetapi mempunyai perbedaan
kelarutan yang cukup besar dengan suatu pelarut.
Ekstraksi cair-cair menggunakan prinsip kesetimbangan dengan perpindahan
massa zat terlarut (fasa disperse) dan larutan yang diekstraksi kelarutan yang
digunakan sebagai pelarut (fasa kontinu). Menurut Ladda (1976), ekstraksi cair-cair
digunakan jika pemisahan denganoperasi lainnya tidak dapat dicapai seperti: distilasi,
evaporasi, kristalisasi dan lain-lain Ekstraksi cair-cair adalah proses pemisahan suatu
komponen dari fasa cair kefasa cair lainnya.
Hal yang perlu diperhatikan ada 4 faktor:
a. Ukuran partikel
Ukuran partikel mempengaruhi laju ekstraksi dalam beberapa hal. Semakin
kecil ukurannya, semakin besar lusa permukaan antara padat dan cair; sehingga laju
perpindahannya menjadi semakin besar. Dengan kata lain, jarak untuk berdifusi yang
dialami oleh zat terlarut dalam padatan adalah kecil.
b. Zat pelarut
Larutan yang akan dipakai sebagai zat pelarut seharusnya merupakan pelarut
pilihan yang terbaik dan viskositasnya harus cukup rendah agar dapat dapat
bersikulasi dengan mudah. Biasanya, zat pelarut murni akan diapaki pada awalnya,
tetapi setelah proses ekstraksi berakhir, konsentrasi zat terlarut akan naik dan laju
ekstraksinya turun, pertama karena gradien konsentrasi akan berkurang dan kedua zat
terlarutnya menjadi lebih kental.

c. temperatur
Dalam banyak hal, kelarutan zat terlarut (pada partikel yang diekstraksi) di
dalam pelarut akan naik bersamaan dengan kenaikan temperatur untuk memberikan
laju ekstraksi yang lebih tinggi.
d. Pengadukan fluida
Pengadukan pada zat pelarut adalah penting karena akan menaikkan proses
difusi, sehingga menaikkan perpindahan material dari permukaan partikel ke zat
pelarut.
Pemilihan juga diperlukan tahap-tahap lainnya. pada ektraksi padat-cair
misalnya, dapat dilakukan pra-pengolahan (pengecilan) bahan ekstraksi atau
pengolahan lanjut dari rafinat (dengan tujuan mendapatkan kembali sisa-sisa pelarut).
Pemilihan pelarut pada umumnya dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini :
Selektivitas
Pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan, bukan
komponen-komponen lain dari bahan ekstraksi. Dalam praktek, terutama pada
ekstraksi bahan-bahan alami, sering juga bahan lain (misalnya lemak, resin) ikut
dibebaskan bersama-sama dengan ekstrak yang diinginkan. Dalam hal itu larutan
ekstrak tercemar yang diperoleh harus dibersihkan, yaitu misalnya di ekstraksi
lagi dengan menggunakan pelarut kedua.
Kelarutan
Pelarut sedapat mungkin memiliki kemampuan melarutkan ekstrak yang
besar (kebutuhan pelarut lebih sedikit).
Kemampuan tidak saling bercampur
Pada ekstraksi cair-cair pelarut tidak boleh (atau hanya secara terbatas)
larut dalam bahan ekstraksi.
Kerapatan
Terutama pada ekstraksi cair-cair, sedapat mungkin terdapat perbedaaan
kerapatan yaitu besar amtara pelarut dan bahan ekstraksi. Hal ini dimaksudkan

agar kedua fasa dapat dengan mudah dipisahkan kembali setelah pencampuran
(pemisahan dengan gaya berat). Bila beda kerapatan kecil, seringkali pemisahan
harus dilakukan dengan menggunakan gaya sentrifugal (misalnya dalam
ekstraktor sentrifugal).
Reaktifitas
Pada umumnya pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan secara kimia
pada komponen-komponen bahan ekstraksi. Sebaliknya dalam hal-hal tertentu
diperlukan adanya reaksi kimia (misalnya pembentukan garam) untuk
mendapatkan selektivitas yang tinggi. Seringkali ekstraksi juga disertai dengan
reaksi kimia. Dalam hal ini bahan yang akan dipisahkan mutlak harus berada
dalam bentuk larutan.
-

Titik didih
Karena ekstrak dan pelarut biasanya harus dipisahkan dengan cara
penguapan, destilasi atau rektifikasi, maka titik didih kedua bahan it tidak boleh
terlalu dekat, dan keduanya tidak membentuk aseotrop. ditinjau dari segi ekonomi,
akan menguntungkan jika pada proses ekstraksi titik didih pelarut tidak terlalu
tinggi (seperti juga halnya dengan panas penguapan yang rendah).

Kriteria yang lain pelarut sedapat mungkin harus:


-

murah

tersedia dalam jumlah besar

tidak beracun

tidak dapat terbakar

tidak eksplosif bila bercampur dengan udara

tidak korosif

tidak menyebabkan terbentuknya emulsi

memilliki viskositas yang rendah

stabil secara kimia dan termis.

2. Ekstraksi Cair-Cair
Ekstraksi

cair-cair (liquid

extraction,

solvent

extraction):

yaitu

pemisahan solute dari cairan pembawa (diluen) menggunakan solven cair. Campuran
diluen dan solven tersebut bersifat heterogen (immiscible, tidak saling campur), dan
jika dipisahkan terdapat 2 fase, yaitu fase diluen (rafinat) dan fase solven (ekstrak).

Fase rafinat = fase residu, berisi diluen dan sisa solut.

Fase ekstrak = fase yang berisi solut dan solven.


Pemilihan solven menjadi sangat penting. Dipilih solven yang memiliki sifat

antara lain:
a.

Solut mempunyai kelarutan yang besar dalam solven, tetapi solven sedikit atau
tidak melarutkan diluen,

b.

Tidak mudah menguap pada saat ekstraksi,

c.

Mudah dipisahkan dari solut, sehingga dapat dipergunakan kembali,

d.

Tersedia dan tidak mahal.


Pada ekstraksi cair-cair, satu komponen bahan atau lebih dari suatu campuran

dipisahkan dengan bantuan pelarut. Proses ini digunakan secara teknis dalam skala
besar misalnya untuk memperoleh vitamin, antibiotika, bahan-bahan penyedap,
produk-produk minyak bumi dan garam-garam. logam. Proses inipun digunakan
untuk membersihkan air limbah dan larutan ekstrak hasil ekstraksi padat cair.
Ekstraksi cair-cair terutama digunakan, bila pemisahan campuran dengan cara
distilasi tidak mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan aseotrop atau karena
kepekaannya terhadap panas) atau tidak ekonomis. Seperti ekstraksi padat-cair,
ekstraksi cair-cair selalu terdiri atas sedikitnya dua tahap, yaltu pencampuran secara
intensif bahan ekstraksi dengan pelarut, dan pemisahan kedua fasa cair itu sesempurna
mungkin.
Pada

saat

pencampuran

terjadi

perpindahan

massa,

yaitu

ekstrak

meninggalkan pelarut yang pertarna (media pembawa) dan masuk ke dalam pelarut
kedua (media ekstraksi). Sebagai syarat ekstraksi ini, bahan ekstraksi dan pelarut
tidak saling melarut (atau hanya dalam daerah yang sempit). Agar terjadi perpindahan
masa yang baik yang berarti performansi ekstraksi yang besar haruslah diusahakan

agar terjadi bidang kontak yang seluas mungkin di antara kedua cairan tersebut.
Untuk itu salah satu cairan distribusikan menjadi tetes-tetes kecil (misalnya dengan
bantuan perkakas pengaduk).
Tentu saja pendistribusian ini tidak boleh terlalu jauh, karena akan
menyebabkan terbentuknya emulsi yang tidak dapat lagi atau sukar sekali dipisah.
Turbulensi pada saat mencampur tidak perlu terlalu besar. Yang penting perbedaan
konsentrasi sebagai gaya penggerak pada bidang batas tetap ada. Hal ini berarti bahwa
bahan yang telah terlarutkan sedapat mungkin segera disingkirkan dari bidang batas.
Pada saat pemisahan, cairan yang telah terdistribusi menjadi tetes-tetes hanis menyatu
kembali menjadi sebuah fasa homogen dan berdasarkan perbedaan kerapatan yang
cukup besar dapat dipisahkan dari cairan yang lain.
Berbagai jenis metode pemisahan yang ada, ekstraksi pelarut atau juga disebut
juga ekstraksi air merupakan metode pemisahan yang paling baik dan popular.
Pemisahan ini dilakukan baik dalam tingkat makro maupun mikro. Prinsip distribusi
ini didasarkan pada distribusi zat terlarut dengan perbandingan tertentu antara dua zat
pelarut yang tidak saling bercampur. Batasannya adalah zat terlarut dapat ditransfer
pada jumlah yang berbeda dalam kedua fase terlarut. Teknik ini dapat digunakan
untuk kegunaan preparatif, pemurnian, pemisahan serta analisis pada semua kerja.
Berbeda dengan proses retrifikasi, pada ekstraksi tidak terjadi pemisahan
segera dari bahan-bahan yang akan diperoleh (ekstrak), melainkan mula-mula hanya
terjadi pengumpulan ekstrak (dalam pelarut). Suatu proses ekstraksi biasanya
melibatkan tahap-tahap berikut:
1.

Mencampurkan bahan ekstrak dengan pelarut dan membiarkannya saling kontak.


Dalam hal ini terjadi perpindahan massa dengan cara difusi pada bidang antar
muka bahan ekstraksi dan pelarut. Dengan demikian terjadi ekstraksi yang
sebenarnya, yaitu pelarut ekstrak.

2. Memisahkan larutan ekstrak dari refinat, kebanyakan dengan cara penjernihan


atau filtrasi.
3. Mengisolasi ekstrak dari larutan ekstrak dan mendapatkan kembali pelarut.
Umumnya dilakukan dengan mendapatkan kembali pelarut. Larutan ekstrak
langsung dapat diolah lebih lanjut atau diolah setelah dipekatkan.

IV.

PROSEDUR KERJA
1. Menyiapkan bahan yang akan digunakan (Feed serta Solvent)
2. Menghubungkan kabel ke sumber kontak
3. Memutar tombol ke posisi on
4. Memutar katup pompa 1 dan pompa 2, kemudian memutar katup ekstrak dan
rafinat ke posisi terbuka
5. Mengambil rafinat dan ekstrak awal
6. Melakukan titrasi asam basa dengan NaOH dan indikator pp, mencatat volume
titran
7. Menampung ekstrak dan rafinat setiap 15 menit dan melakukan titrasi asam basa
serta mencatat volume titran
8. Memutar katup/valve ke posisi off
9. Mematikan pompa
10. Memutar tombol ke posisi off
11. Mencabut kabel dari sumber listrik

V.

DATA PENGAMATAN
V.1 Data Pengamatan Decanter
N
o
1
2
N

Sampel

Vol. Titran (mL)

5 ml Etil Asetat + 3 tetes Indikator PP


5 ml CH3COOH + 3 tetes Indikator PP

11,9
1,8

Sampel dalam Dec.

Menit

Vol. Titran

Ekstrak

Rafinat

Ekstrak

Rafinat

t1

98

101

2,8

5,8

t2

97

102

2,5

4,8

t3

97

101

4,9

Massa yang Diperoleh


No

Massa (gr)

Ekstrak 1

94,39

Rafinat 1

106,81

Ekstrak 2

84,55

Rafinat 2

100,21

Ekstrak 3

83,85

Rafinat 3

100,29

V.2 Data Pengamatan Alat Continue

N
o

Sampel

Vol. Titran (mL)

5 ml Etil Asetat + 3 tetes Indikator PP

18

5 ml CH3COOH + 3 tetes Indikator PP

7,5

N
o

Sampel dalam Dec.

Menit

Vol. Titran

Ekstrak

Rafinat

Ekstrak

Rafinat

35

5 mL

5 mL

9,5

50

5 mL

5 mL

10

65

5 mL

5 mL

10,5

N
o
1
2

Data Volume
1. Volume Solvent awal (Etil Asetat)

= 8 liter

2. Volume Feed awal (air + CH3COOH)

= 8 liter

3. Volume Solvent akhir

= 5520 mL

= 5,5 L

4. Volume Feed akhir

= 1260 mL

= 1,2 L

5. Volume Rafinat

= 1140 mL

= 1,1 L

6. Volume Ekstrak

= 7150 mL

= 7,1 L

Data Akhir
Sampel

Vol. Titran (mL)

5 ml Etil Asetat + 3 tetes Indikator PP


5 ml CH3COOH + 3 tetes Indikator PP

18 mL
7,5 mL

VI.

PERHITUNGAN
a. Perhitungan Proses Continue
VI.1

Menghitung Densitas
Awal
Dik

: m. pikno kosong
V. Pikno

A . solven=

B . feed =

= 33,05 gr
= 24, 7806 mL

( 57, 4733, 05 ) gr
gr
=0,9855
24,7806 ml
ml

( 57,3733, 05 ) gr
gr
=0,9814
24,7806 ml
ml

C . ekstrak 1=

( 62,1333, 05 ) gr
gr
=1,1735
24,7806 ml
ml

Ekstrak 2=

( 62,0433, 05 ) gr
gr
=1,1699
24,7806 ml
ml

Ekstrak 3=

( 61,9833, 05 ) gr
gr
=1,1674
24,7806 ml
ml

D . Rafinat 1=

( 62,3033, 05 ) gr
gr
=1,1803
24,7806 ml
ml

VI.2

Rafinat 1=

( 62,1833,05 ) gr
gr
=1,1755
24,7806 ml
ml

Rafinat 1=

( 62,1233,05 ) gr
gr
=1,1731
24,7806 ml
ml

Perhitungan Konsentrasi Awal

A. Asam Asetat + Air


V C H COOH N C H COOH +H o =V NaOH N NaOH
3

5 ml X=7,5 mL1 N

X =1,5 N
B. Etil Asetat
V C H COOH N C H COOH +H o =V NaOH N NaOH
3

5 ml X=18 mL 1 N
X =3,6 N

VI.3

Konsentrasi
Ekstrak
A. 35 menit
V ekstrak N ekstrak=V NaOH N NaOH
5 ml X=5 mL 1 N
X =1 N

B. 50 menit
V ekstrak N ekstrak=V NaOH N NaOH

5 ml X=4 mL 1 N
X =0,8 N

C. 65 menit
V ekstrak N ekstrak=V NaOH N NaOH
5 ml X=4 mL 1 N
X =0,8 N

Rafinat
A. 35 menit
V ekstrak N ekstrak=V NaOH N NaOH
5 ml X=9,5 mL 1 N
X =1,9 N

B. 50 menit
V ekstrak N ekstrak=V NaOH N NaOH
5 ml X=10 mL 1 N
X =2 N

C. 65 menit
V ekstrak N ek strak =V NaOH N NaOH
5 ml X=10,5 mL 1 N
X =2,1 N

VI.4

Mencari Nilai Xf, Xc, XE, dan XR


X f =1,5
X c =3,6
X E=

1+0,8+0,8
=0,86
3

X f=

VI.5

1,9+2+2,1
=2
3

Menghitung Koefisien Distribusi


A. 35 menit
konsentrasi zat terlarut dalam ekstrak
Kd=
konsentrasi zat terlarut dalamrafinat

0,8 N
=0,53
2N

B. 50 menit
konsentrasi zat terlarut dalam ekstrak
Kd=
konsentrasi zat terlarut dalamrafinat

0,8 N
=0,4
2N

C. 65 menit
konsentrasi zat terlarut dalam ekstrak
Kd=
konsentrasi zat terlarut dalamrafinat

0,8 N
=0,38
2,1 N

VI.6

Menghitung Selektifitas
Fraksi massa solut dalam rafinat
Fraksi massa diluent dalam ekstrak
=
Fraksi massa solut dalam rafinat
Fraksi massa diluent dalam ektsrak

X 1=

8387,6 /148
1000
8387,6 /148( 0,949
)
18

X 1=10,51830=0,4817

=0,51830

X 2=

1340/60
1000
1340/60( 0,949
)
18

=0,3

X 2=10,3=0,7

VI.7

Menghitung Massa

Data Awal
Feed= V
0,9814

gr
8000 mL
ml

8145,62 gr

Solvent = V

0,9855 8000 mL
7174,44 gr

Massa Ekstrak
gr
E=1,1731 7150 ml
ml
8387,6 gr

Massa Rafinat
gr
E=1,1763
1140 ml
ml
1340,982 gr

Data Akhir
A . Feed=0,9814
1236,56 gr

gr
1260 mL
mL

B . Solven=0,9855

gr
5520 m L
mL

5439,7 gr

Neraca Massa

F X F + C X C =E X E + R X R

8145,62 (1,5 )+7174,44 ( 3,6 )=8387,6 ( 0,86 )+ 1340,98(2)

38046,41=9895,26

Komponen

Feed

1,5

Solvent

Input

Output

gr

gr x

gr

gr x

0,9814

8145,62

12218,43

1236,56

1854,84

3,6

0,9855

7174,44

25827,98

5439,7

19582,92

Ekstrak

0,86

1,1731

8387,6

7213,336

Rafinat

1,1763

1340,9

2681,8

38046,41

b. Perhitungan Proses Batch


VI.1

Perhitungan Konsentrasi Awal

A. Asam Asetat + Air


V C H COOH N C H COOH =V NaOH N NaOH
3

5 ml N =1,8 mL 1 N
N=0,36 N

B. Etil Asetat
V C H COOH N C H COOH =V NaOH N NaOH
3

5 ml N =11,9 mL 1 N

N=2,4 N

31319,89

VI.2

Konsentrasi
Ekstrak
A. t1
V ekstrak N ekstrak=V NaOH N NaOH
5 ml N =2,8 mL 1 N
N=0,56 N

B. t2

V ekstrak N ekstrak=V NaOH N NaOH


5 ml N =2,5 mL 1 N
N=0,5 N

C. t3

V ekstrak N ekstrak=V NaOH N NaOH


5 ml N =2 mL 1 N
N=0,4 N

Rafinat
A. t1
V ekstrak N ekstrak=V NaOH N NaOH
5 ml N =5,8 mL 1 N
N=1,1 N

B. t2

V ekstrak N ekstrak=V NaOH N NaOH


5 ml N =4,8 mL 1 N
N=0,96 N

C. t3
V ekstrak N ekstrak=V NaOH N NaOH
5 ml N =4,9 mL 1 N
N=0,98 N

VI.3

Mencari Nilai Xf, Xc, XE, dan XR


X f =0,36
X c =2,4

VI.4

X E=

0,56+0,5+0,4
=0,48
3

X f=

1,1+0,96+0,98
=1,01
3

Menghitung Koefisien Distribusi


D. t1
Kd=

0,56 N
=0,5
1,1 N

E. t2
Kd=

konsentrasi zat terlarut dalam ekstrak


konsentrasi zat terlarut dalamrafinat

0,5 N
=0,52
0,96 N

F. t3
Kd=

konsentrasi zat terlarut dalam ekstrak


konsentrasi zat terlarut dalamrafinat

konsentrasi zat terlarut dalam ekstrak


konsentrasi zat terlarut dalamrafinat

0,4 N
=0,4
0,98 N

VI.5

Menghitung Selektifitas
Fraksi massa solut dalam rafinat
Fraksi massa diluent dalam ekstrak
=
Fraksi massa solut dalam rafinat
Fraksi massa diluent dalam ektsrak

X 1=

262,79/148
1000
262,79/ 148(0,949
)
18

=0,0325

X 1=10,0325=0,9675

X 2=

307,31/60
1000
307,31/ 60(0,949
)
18

X 2=10,088=0,912

X1: X1

X2: X2

0,0325 :0,9675
0,088:0,912

0,033
0,096

0,348

=0,088

VII.

ANALISA PERCOBAAN
Praktikum kali ini mengenai ekstraksi memiliki tujuan yaitu mampu
menentukkan koefisien pemisahan dan neraca massa maka dilakukan dua percobaan
berbeda yakni ekstraksi continue dengan menggunakan alat ekstraksi continue dan
ekstraksi batch dengan menggunakan corong pisah (decanter). Sesuai dengan teori
ekstraksi dimana ekstraksi merupakan pemisahan zat dengan menggunakan suatu
pelarut atau solvent dari suatu campuran. Bahan yang digunakan sebagai pelarut
adalah Etil Asetat yang akan memisahkan Asam Asetat dari campuran Air-Asam
Asetat. Pada alat ekstraksi continue memiliki packing didalamnya agar bidang kontak
larutan lebih besar dan perpindahan massa yang terjadi semakin baik.
Pada proses continue tidak terlalu jelas terlihat perbedaan fasa namun pada
proses batch sangat terlihat jelas dua lapisan yang terjadi. Dari praktikum didapat
perhitungan pada nilai koefisien distribusi rata-rata sebesar 0,4367 dan nilai
selektifitas 2,5140 untuk proses continue sedangkan selektifitas pada proses batch
sebesar 0,348.
Pada proses continue masih sama dengan praktikum sebelumnya yakni
mengambil data sebanyak 5 ml setiap 15 menit dan melakukan titrasi dengan NaOH
untuk analisa. Pada proses batch tidak jauh berbeda dengan continue mengambil 3
sampel sebanyak 5 ml tetapi waktu yang ditentukan setia sampelnya sama yaitu 25
menit dan untuk analisa juga dilakukan titrasi.
Dari praktikum yang diakukan dapat dilihat dari data perhitungan berdasarkan
koefisien distribusi dan selektifitas dapat dianalisa bahwa proses continue mengalami

perpindahan massa yang lebi baik dan prosesnya pun lebih baik hal ini disebabkan
oleh bidang kontak dari larutan lebih besar disbanding batch yang hanya
menggunakan decanter.

VIII.

KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat dismipulkan bahwa :
1. Ekstraksi cair merupakan suatu metode pemisahan atau pengambilan zat terlarut
dalam larutan dengan menggunakan pelarut lain.
2. Ekstraksi cair-cair menggukan solvent yaitu Etil Asetat, Solut yaitu Asam Asetat,
dan diluent yaitu air.
3. Proses continue mengalami perpindahan massa yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Snura, aya. 2011. Kumpulan Buku-Buku Wajib Dimiliki Bagi, (Online), (


http://tekimstil. blog
spot.com/2011/12/umpulan-buku-buku-wajib-dimiliki-bagi.html, Diunduh 24 Mei 2016).

Mardika, Siti Fauziah. 2012. Ekstraksi Cair-Cair, (Online), (


http://sitifauziahmardika.blog
spot.com/2012/08/ekstraksi-cair-cair-i.html#sthash.tkTDExFS.dpuf, Diunduh 24 Mei
2016).

GAMBAR ALAT

Seperangkat Alat Ekstraksi Cair - Cair