Anda di halaman 1dari 23

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada akhir abad ke-13, pengaruh Islam di Timur Tengah berkembang pesat
di Nusantara. Kerajaan-kerajaan islam pun mulai berdiri di sumatra, serta
menyebar ke Jawa dan Semenanjung Malaya lewat penaklukan dan penyebaran
sistematis oleh kelompok ulama yang dikenal dengan sebutan Walisongo.
Pada saat yang sama, Majapahit mengalami kemunduran akibat perang
saudara dan perebutan takhta, yang membuat negara-negara taklukan satu per satu
lepas dari Majapahit. Di tengah kemunduran tersebut, pengaruh islam masuk
dengan mudah dan cepat. Islam masuk ke indonesia melalui jalur perdagangan.
Tampaknya posisi strategis indonesia memudahkan masuknya pengaruh-pengaruh
dari luar. Penyebarannya yang cepat di dukung pula oleh kenyataan islam tidak
menuntut syarat yang terlalu ketat untuk memeluk islam; selain itu, islam menarik
minat masyarakat kecil oleh karena dalam islam tidak dikenal kasta (kelas-kelas
sosial).
Masuknya islam ke indonesia juga membawa pengaruh terhadap tatanan
politik dan sosial-budaya Nusantara. Peran kerajaan-kerajaan islam (kesultanan)
sangat menentukan dalam penyebaran pengaruh islam di segala bidang itu. Meski
demikian, aspek-aspek tertentu dari kebudayaan sebelumya (Hindu dan Buddha)
tetap hidup di tengah masyarakat yang telah menganut islam. Hal ini menunjukan
adanya proses akulturasi.
.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses awal masuknya Islam ke Indonesia ?
2. Bagaimana cara Islam masuk ke Indonesia ?
3 . Bagaimanakah perkembangan Islam diberbagai wilayah di Indonesia ?
4. Bagaimana Corak dan Perkembangan Islam di Indonesia ?
5 . Siapa sajakah Tokoh-tokoh dalam perkembangan Islam di Indonesia ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui proses awal masuknya Islam ke Indonesia
2. Untuk mngetahui cara Islam masuk ke Indonesia
3. Untuk mengetahui perkembangan Islam diberbagai wilayah di
Indonesia
4. Corak dan Perkembangan Islam di Indonesia
5. Untuk mengetahui tokoh-tokoh dalam perkembangan Islam di
Indonesia

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Proses awal masuknya Islam ke Indonesia


1. Sekilas tentang Agama Islam
Agama islam lahir di Mekkah, Saudi Arabia. Agama ini diyakini sebagai agama
yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada umat manusia melalui utusan-Nya,
yaitu Nabi Muhammad SAW. Ia lahir pada tahun 570 M. Sejak umur tujuh tahun
ia telah menjadi yatim piatu dan diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib dan
selanjutnya oleh pamannya Abu Thalib. Sejak usia 12 tahun ia sering mengikuti
dan membantu pamannya bedagang, dan pada usia 25 tahun ia menikahi
Khadijah.
Pada bulan ramadhan tahun 610 M (menjadi tahun lahirnya Islam), saat berusia
40 tahun, Muhammad didatangi oleh malaikat Jibril di sebuah gua yang disebut
gua Hira. Malaikat Jibril menyerukan kata Iqra, yang artinya Bacalah!.
Terjadilah dialog panjang antara Muhammad diangkat menjadi rasul Allah dan
dari situ mulailah proses turunya Al-Quran, kitab suci agama Islam.
Di Madinah, Islam berkembang pesat. Untuk mendapatkan Mekkah, Nabi
Muhammad terpaksa terlibat serangkaian perang dengan orang-orang kafir di
Mekkah. Pada tahun 630 Nabi berhasil membebaskan Kota Mekkah dari
kekuasaan kaum kafir. Pasca perang, orang-orang Quraisy dan penduduk Mekkah
mulai memeluk agama islam, dan Kabah menjadi kiblat ibadah umat islam. Hal
ini kemudian diikuti banyak suku lain yang berdiam di Jazirah Arab. Nabi
muhammad SAW wafat pada tanggal 6 Juni 632 dalam usia 63 tahun.

2. Teori-teori tentang Masuknya Agama Islam ke Indonesia


Ada tiga teori mengenai proses masuknya agama Islam ke Indonesia, yaitu:
a. Teori Gujarat
Menurut teori ini, yang didukung oleh Snouck Hurgronje, W.F Suttherheim, dan
B.H.M Vlekke, Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-13, dibawa oleh para
pedagang islam dari Gujarat, India. Ada dua bukti untuk mendukung teori ini:
pertama, batu nisan Sultan Malik Al-Saleh, sultan Samudra Pasai (meniggal tahun
1297) yang bercorak Gujarat (India); kedua tulisan Marcopolo pedagang dari
Venesia, yang menyatakan pernah singgah di perlak (peureula) pada tahun 1292
dan mendapat banyak penduduknya beragama islam serta peran pedagang India
dalam penyebaran agama tersebut.
3

b. Teori Mekkah
Menurut teori ini, yang didukung oleh Buya Hamka dan J.C. van Leur, pengaruh
islam telah masuk ke Indonesia sekitar abad ke-7, dibawa langsung oleh para
pedagang Arab. Buktinya adalah adanya pemukiman Islam tahun 674 di Baros,
pantai sebelah barat Sumatra. Menyanggah teori Gujarat, teori ini meyakini islam
yang berkembang di Samudra Pasai menganut mazhab Syafii, mazhab besar di
Mesir dan Mekkah pada masa itu, sedangkan daerah Gujarat menurut mazhab
Hanafi; selain itu, sultan-sultan Pasai menggunakan gelar Al-Malik, gelar yang
lazim dipakai di Mesir saat itu.
Bukti lain terkait munculnya islam sebelum abad ke-13 adalah makam seorang
wanita di Gersik Jawa Timur yang tertulis atas nama Fatimah binti Maimun
(berangka tahun 1082) serta temuan sejumlah makam Islam di Tralaya (wilayah
Majapahit), Trowulan, Jawa Timur yang menggunakan tahu sakka, bukan tahun
Hijriyah dengan angka Jawa Kuno. Diperkirakan pada masa jayanya banyak
warga Majapahit beragama Islam. Meski demikian, tidak ada petunjuk siapa yang
menyebarkan Islam di Majapahit atau di Gresik itu.
c. Teori Persia
Menurut teori ini, yang didukung oleh Hoesein Djajadiningrat, Islam di Indonesia
dibawa masuk oleh orang-orang Persia sekitar abad ke-13. Bukti untuk
mendukung teori ini adalah adanya upacara Tabot, yaitu upacara memperingati
meninggalnya imam Husain bin Ali cucu Nabi Muhammad di Bengkulu dan
Sumatra Barat (tabuik) setiap tanggal 10 Muharam atau 1 Asyura; upacara ini
juga merupakan ritual tahunan di Persia; selain itu, ada kesamaan antara ajaran
sufi yang dianut Syekh Siti Jenar dan sufi Iran beraliran Al-Hllaj.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa agama islam
masuk ke indonesia pada abad ke-7 M. Pada abad ke-13 agama islam berkembang
dengan pesat ke seluruh indonesia. Hal itu di tandai dengan adanya penemuanpenemuan batu nisan atau makam yang berciri khas Islam, misalnya di Leran
(dekat Gresik) terdapat sebuah batu berisi keterangan tentang meninggalnya
seorang perempuan bernama Fatimah binti Maimun pada tahun 1082 dan di
Samudra Pasai terdapat makam-makam Raja Islam, di antaranya Sultan Malik asShaleh yang meninggal pada tahun 676 H atau 1292 M. Berbeda dengan pendapat
di atas, dua orang sarjana barat yaitu Prof. Gabriel Ferrand dan Prof. Paul
Wheatly. Bersumber pada keterangan para musafir dan pedagang Arab tentang
Asia Tenggara, maka ke-2 sarjana tersebut bahwa agama Islam masuk ke
Indonesia sejak awal ke-8 M, langsung dibawa oleh para pedagang dan musafir
Arab.

2.2 Cara Islam Masuk ke Indonesia

Proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Islam ke Indonesia


pada umumnya berjalan dengan damai; oleh karena itu, mendapat sambutan yang
baik dari masyarakat baik kalangan raja, bangsawan, maupun rakyat biasa. Hal itu
didukung faktor-faktor berikut ini:
Syarat memeluk Islam sangat mudah: cukup dengan mengucapkan kalimat
syahadat.
Tata cara peribadatan Islam sederhana, tidak perlu persiapan yang rumit.
Islam tidak mengenal pelapisan sosial seperti halnya agama Hindu dengan
sistem kastanya. Tidak heran, orang indonesia apalagi yang berasal dari
golongan bawah secara ekonomi dan sosial mudah menerima agama ini.
Penyebaran islam yang berlangsung damai itu dapat terlihat pada cara-cara
penyebarannya, yaitu melalui saluran perdagangan, perkawinan, pendidikan,
ajaran tasawuf, dakwah, dan kesenian. Pedagang, mubalig, wali, ahli tasawuf,guru
agama, dan haji berperan penting dalam proses tersebut.

1. Saluran Perdagangan
Perdagangan merupakan metode penyebaran islam yang paling kentara,
bahkan dapat dikatakan sebagai aluran pertama dan utama penyebaranawal Islam.
Tome Pires, sekitar abad ke-7 sampai abad ke-16 lalu lintas perdagangan yang
melalui indonesia sangat ramai. Dalam proses ini, pedagang Nusantara dan
pedagang asing (Islam) dari Gujarat dan Timur Tengah (Arab dan Persia) bertemu
dan saling bertukar pengaruh. Sebagian dari para pedagang asing ini tinggal di
wilayah dekat pantai, yang di sebut pekojan. Lama-lama jumlah mereka semakin
banyak, demikian juga pengaruh Islam di tempat tinggal mereka. Hal ini juga
menjelaskan mengapa kerajaan-kerajaan Islam Nusantara seperti Bone, Banjar,
Banten, Demak, Cirebon, Samudra Pasai, Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo, Hitu,
dan Deli selalu berawal dari wilayah pesisir.
Para pedagang itu menjalin kontak dengan para adipati wilayah pesisir,
dan perlahan-lahan masuk kelingkaran pusat istana. Ketika raja-raja dan para
bangsawan memeluk Islam, rakyatnya dengan mudah mengikuti. Setelah
memeluk Islam, baik rakyat biasa, pedagang Nusantara maupun anggota keluarga
istana ikut menyebarkan Islam ke kota-kota pelabuhan dan pesisir yang lain.
Sementara itu, karakteristik kultur pesisir, yang mudah menerima serta terbuka
terhadap hal-hal baru, merupakan faktor lain yang memudahkan penyebaran
agama dan kebudayaan Islam.
2. Saluran Perkawinan
Saluran penyebaran Islam selanjutnya adalah melalui perkawinan. Pedagangpedagang itu dan juga keluarganya menikah dengan perempuan pribumi, putri-

putri para bangsawan (adipati), dan bahkan dengan anggota keluarga kerajaan.
Hal ini berdampak positif terhadap perkembangan islam; (keluarga) pedagang
atau ulama itu mensyaratkan perempuan idamannya untuk mengucapkan kalimat
syahadat terlebih dahulu. Anak-anak hasil pernikahan itu pun cenderung
mengikuti agama Islam yang dianut orang tuannya.
Perkawinan anak-anak kaum bangsawan (adipati) ataupun raja punya dampak
lebih. Mereka lebih mudah memengaruhi istana anggota keluarga istana memeluk
Islam. Maka, kerajaan yang tadinya bercorak Hindu-Buddha perlahan-lahan
menjadi bercorak Islam.
Perkawinan juga tidak hanya terjadi antara para saudagar dengan rakyat
pribumi biasa atau antara para saudagar dengan kaum darah biru, melainkan juga
di antara putra-putri kesultanan Islam itu sendiri. Contoh: perkawinan antara
Kerthabumi (Brawijaya V) raja Majapahit dengan putri Champa. Putri yang cantik
dan cerdas ini adalah persembahan tanda persahabatan dari kaisar Tiongkok Yan
Lu dari Dinasti Ming (Islam).
3. Saluran Pendidikan
Perkembangan islam yang semakin meluasmendorong munculnya para
ulama dan mubaligh. Para ulama dan mubaligh menyebarkan Islam melalui
pendidikan dengan mendirikan pondok-pondok pesantren diberbagai daerah.
Dipondok-pondok pesantrenkaum muda (santri) dari berbagai daerah dan
kalangan menimba pengetahuan tentang islam. Mereka lalu kembali kedaerah asal
dan menyebarkan ajaran-ajarn tentang agama islam. Saluran ini sangat efektif
untuk mempercepat dan memperluas penyebaran Islam hingga ke daerah-daerah
yang terpencil. Pesantren-pesantren awal itu diantaranya :
Pesantren Ampel Denta (Surabaya), yang didirikan oleh Sunan Ampel
Pesantren Sunan Giri (Surabaya), yang didirikan oleh Sunan Giri. Pesantren
ini terkenal hingga Maluku. Banyak santri dari Maluku (khusus wilayah Hitu)
datang berguru pada Sunan Giri, atau para kiai dari Giri diundang mengajar
ke Hitu.
Selain menjadi pendidikan dipesantren, beberapa ulama atau kiai diminta menjadi
penasehat agama atau guru bagi para Bangsawan keraton. Contoh : Kiai Ageng
Selo menjadi penasehat dan guru Sutawijaya (pendiro Kesultanan Materan), atau
maulana Yusuf menjadi penasehat Sultan Ageng Tirtayasa (Kesultanan Banten).
4. Saluran Ajaran Tasawuf
Tasawuf adalah ajaran ketuhanan yang telah bercampur dengan mistik atau hal-hal
yang bersifat magis. Ahli-ahli tasawuf biasanya memilik kekuatan magis dan
keahlian dalam bidang pengobatan. Kata tasawuf sendirinya berasal dari kata
sufi yang berarti kain wol. Ajaran tsawuf ini diperkirakan masuk ke indonesia
sekitar abad ke-13, tetapi baru berkembang pesat sekitar abad ke-17. Ajaran
tasawuf banyak dijumpai dalam cerita-cerita babad dan hikayat dari masyarakat
setempat. Ajaran ini mudah berkembang terutama di jawa karena ajaran islam
6

melelui tasawuf disesuaikan dengan pola pikir masyarakat yang masih


berorientasi agama Hindu. Lewat tasawuf. Bentuk islam yang diperkenalkan
menunjukkan kesamaan dengan alam pikiran orang-orang jawa-Hindu, Siwa, dan
Buddah. Tokoh-tokoh tasawuf yang terkenal diantaranya Hamzah Fansuri,
Syamsudin as Sumatrani, Nurrudin ar Raniri, Sunan Bonang, Syekh Siti Jenar,
dan Sunan Panggung.
5. Saluran Dakwah
Penyebaran islam tidak dapat dilepaskan dari peranan para wali. Ada sembilan
wali yang menyebarkan islam dengan cara berdakwah, yang disebut juga
Walisange. Mereka dikenal telah memiliki ilmu serta penghayatan yang tinggi
terhadap agama islam.
a) Maulana Malik Ibrahim
Dikenal juga dengan nama Maulana Maghribi, wali asal Persia ini menyebarkan
agama Islam di Jawa Timur. Ia wafat dan dimakamkan di Gersik tahun 1419.
b) Sunan Gunung Jati
Dikenal juga dengan nama Syarif Hidayattulah atou Falatehan, wali keturunan
arab dari Gujarat in (bapaknya seorang mubaligh dan musafur besar bernama
Syarif Abdullah ibu Rara Santang Putri Pranbu Silawangi) berjasa menyebarkan
agama Isalam di Jawa Barat. Pada masa Pemerintah Terenggana, Ia pindah ke
Demak. Sultan mengangkatnya menjadi panglima angkatan perang yang bertugas
menguasai Sunda Kelapa dan Cirebon. Ia menatap ke Gunung Jati di wilayah
Cirebon.
c) Sunan Ampel
Sunan yang lahir tahun 1401 dengan nama asli Raden Rahmat ini adalah pendiri
pesantren Ampel Denta (Surabaya) dan juga salah seorang pemrakaras
pembangunan mesjid Demak.
d) Sunan Giri
Sunan bernama asli Raden Paku ini adalah salah seorang santri suanan Ampel. Ia
mendirikan posantren Giri. Banyak santrinya berasal dari Maluku, yang setelah
berguru dengannya kembali ke Maluku menyebarkan agama islam di sana. Ia juga
dikenal sebagai senima yang menciptakan gending Jawa, Asmaradana dan
Pucung. Dimakamkan di Gersik, Surabaya.
e) Sunan Bonang
Sunan dengan nama asli Radwn Maulana Makdum Ibrahim ini juga seorang
seniman yang menciptakan gending Jawa Sunan Bonang dan Durma. Ia berasal
dari Tuban, wafat dan dimakamkan di Tuban pada tahun 1525.
f) Sunan Kudus
Sunan dengan nama asli Jafar Sodik ini adalah Putra dari RM Usman Haji atou
Sunan Ngundung dari Jipang (Blora, Jawa Tegah). Selain menguasai ilmu agama,
7

ia juga paham fiqih (hukum hukum islam) dan ilmu tauhid. Sunan Kudus banyak
berguru pada Sunan Kalijaga. Ia berkelana berbagai daerah tandus di Jawa Tengah
seperti Srangen, simo, hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya meniru
pendekatan sunan Kalijaga: toleran pada budaya setempat dengan memanfaatkan
simbol-simbol Hindu dan Buddah (akulturasi). Hal itu terlihat dari arsitektur
masjid Kudus: bentuk menara, gerbang, dan pancuran/padasan wudhu
melambangkan delapan jalan Buddah.
g) Sunan Kalijaga
Suanan dengan nama asli Raden Said ini awalnya seorang Tumenggung
Majapahitm, yang masukn islam karena pengaruh Sunan Bonang. Dalan
menyebarkan agama islam, ia memanfaatkan media wayang, yang sudah sangat
dikenal masyarakat sejak masa praaksara hingga masukanya Hindu-Buddah.
Cerita-cerita dalam Mahabarata dan Ramayana disadur dengan masakan nafas
islami. Pendekatan ini terbukti efektif. Sunan Kalijaga juga mengenalkan tradisi
acara Maulid atou tradisi Sekaten, yaitu peringatan hari lahirnya Nabi Muhammad
SAW yang sampai sekarang masih dilaksanakn oleh beberapa keraton di Jawa. Ia
dimakamkan di desa Kadilangu, Demak, Jawa Tengah.
h) Sunan Muria
Sunan dengan nama asli Raden Prawata ini adalah putra dari sunan Kalijaga.
Tinggal di kaki Guinung Muria, Jawa Tengah,. Gaya berdakwahnya banyak
mengambil cara ayahnya. Namun berbedah sang ayah, Sunan Muria lebih suka
tinggal dan menyebarkan islam di daerah sangat terpencil. Ia banyak bergaul
dengan rakyat jelata sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok
tanam, berdagang dan melaut. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu
Ssinom dan Kinanti.
i) Sunan Drajat
Sunan dengan nama Maunat Syarifuddin ini menyebarkan agama Islam di daerah
Jwa Timur. Ia dikenal berjiwa sosial: sangat perduli terhadap kaummiskin dan
duafa. Ia menciptakan gending jawa, pangkur.

6. Saluran Kesenian
Agama Islam juga disebarkan melalui kesenian. Beberapa bentuknya telah
disebutkan, seperti wayang (oleh Sunan Kalijaga), gamelan (oleh Sunan Bonang),
serta gending (lagi-lagu) berisi syair-syair nasihat dan dasar-dasar ajaran Islam.
Kesenian yang telah berkembang sebelumya tidak musnah tetapi diperkaya
dengan seni Islam (disebut Alkuturasi). Seni sastra juga berkembang pesat:
banyak buku tentang tasawuf, hikayat, dan babad disadur ke dalam bahasa
Melayu.

2.3 Perkembangan Islam diberbagai wilayah di Indonesia


1. Sumatera
Daerah pertama dari kepulauan Indonesia yang dimasuki Islam adalah
pantai barat pulau Sumatra dan daerah Pasai yang terletak di Aceh utara . Hal ini
mudah diterima akal, karena wilayah Sumatera bagian Utara letaknya di tepi Selat
Malaka, tempat lalu lintas kapal-kapal dagang dari India ke Cina.
Para pedagang dari India, yakni bangsa Arab, Persi dan Gujarat, yang juga
para mubalig Islam, banyak yang menetap di bandar-bandar sepanjang Sumatera
Utara. Mereka menikah dengan wanita-wanita pribumi yang sebelumnya telah diIslamkan, sehingga terbentuklah keluarga-keluarga muslim. Selanjutnya mereka
mensyiarkan Islam dengan cara yang bijaksana, baik dengan lisan maupun sikap
dan perbuatan, terhadap sanak famili, para tetangga, dan masyarakat sekitarnya.
Sikap dan perbuatan mereka yang baik, kepandaian yang lebih tinggi, kebersihan
jasmani dan rohani, sifat kedermawanan serta sifat-sifat terpuji lainnya yang
mereka miliki menyebabkan para penduduk hormat dan tertarik pada Islam, dan
tertarik masuk Islam.
Hingga akhirnya berdiri kerajaan Islam pertama, yaitu Samudra Pasai.
Kerajaan ni berdiri pada tahun 1261 M, di pesisir timur Laut Aceh Lhokseumawe
(Aceh Utara), rajanya bernama Marah Silu, bergelar Sultan Al-Malik As-Saleh.
Seiring dengan kemajuan kerajaan Samudra Pasai yang sangat pesat,
pengembangan agama Islam pun mendapat perhatian dan dukungan penuh. Para
ulama dan mubalignya menyebar ke seluruh Nusantara, ke pedalaman Sumatera,
peisir barat dan utara Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Ternate, Tidore, dan pulaupulau lain di kepulauan Maluku. Itulah sebabnya di kemudian hari Samudra Pasai
terkenal dengan sebutan Serambi Mekah.
2. Jawa
Benih-benih kedatangan Islam ke tanah Jawa sebenarnya sudah dimulai pada abad
pertama Hijriyah atau abad ke 7 M. Hal ini dituturkan oleh Prof. Dr. Buya Hamka
dalam bukunya Sejarah Umat Islam, bahwa pada tahun 674 M sampai tahun 675
M. sahabat Nabi, Muawiyah bin Abi Sufyan pernah singgah di tanah Jawa
(Kerajaan Kalingga) menyamar sebagai pedagang. Bisa jadi Muawiyah saat itu
9

baru penjajagan saja, tapi proses dakwah selanjutnya dilakukan oleh para dai
yang berasal dari Malaka atau kerajaan Pasai sendiri. Sebab saat itu lalu lintas
atau jalur hubungan antara Malaka dan Pasai disatu pihak dengan Jawa dipihak
lain sudah begitu pesat.
Namun, penemuan nisan makam Siti Fatimah binti Maimun di daerah
Leran/Gresik yang wafat tahun 1101 M dapatlah dijadikan tonggak awal
kedatangan Islam di Jawa.
Hingga pertengahan abad ke-13, bukti-bukti kepurbakalaan maupun
berita-berita asing tentang masuknya Islam di Jawa sangatlah sedikit. Baru sejak
akhir abad ke-13 M hingga abad-abad berikutnya, terutama sejak Majapahit
mencapai puncak kejayaannya, bukti-bukti proses pengembangan Islam
ditemukan lebih banyak lagi.
Dan untuk masa-masa selanjutnya pengembangan Islam di tanah Jawa
dilakukan oleh para ulama dan mubalig yang kemudian terkenal dengan sebutan
Wali Sanga (sembilan wali).
3. Sulawesi
Pulau Sulawesi sejak abad ke-15 M sudah didatangi oleh para pedagang muslim
dari Sumatera, Malaka dan Jawa. Menurut berita Tom Pires, pada awal abad ke-16
di Sulawesi banyak terdapat kerajaan-kerajaan kecil yang sebagian penduduknya
masih memeluk kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Di antara kerajaankerajaan itu yang paling besar dan terkenal adalah kerajaan Gowa Tallo, Bone,
Wajo, dan Sopang.
Pada tahun 1562 1565 M, di bawah pimpinan Raja Tumaparisi Kolama,
Kerajaan Gowa Tallo berhasil menaklukkan daerah Selayar, Bulukumba, Maros,
Mandar dan Luwu.
Kerajaan Gowa ini mengadakan hubungan baik dengan kerajaan Ternate
dibawah pimpinan Sultan Babullah yang telah menerima Islam lebih dahulu Pada
masa itu, di Gowa Tallo telah terdapat kelompok-kelompok masyarakat muslim
dalam jumlah yang cukup besar. Kemudian atas jasa Dato Ribandang dan Dato
Sulaemana, penyebaran dan pengembangan Islam menjadi lebih intensif dan
mendapat kemajuan yang pesat. Pada tanggal 22 September 1605 Raja Gowa

10

yang bernama Karaeng Tonigallo masuk Islam yang kemudian bergelar Sultan
Alaudin. dan diikuti oleh perdana menteri atau Wazir besarnya, Karaeng Matopa.
Setelah resmi menjadi kerajaan bercorak Islam, Gowa melakukan perluasan
kekuasaannya. Daerah Wajo dan Sopeng berhasil ditaklukan dan di-Islamkan.
Demikian juga Bone, berhasil ditaklukan pada tahun 1611 M.
4.

Kalimantan
Sebelum Islam masuk ke Kalimantan, di Kalimantan Selatan terdapat kerajaankerajaan Hindu yang berpusat di Negara Dipa, Daha, dan Kahuripan yang terletak
di hulu sungai Nagara dan Amuntai Kimi. Kerajaan-kerajaan ini sudah menjalin
hubungan dengan Majapahit, bahkan salah seorang raja Majapahit menikah
dengan Putri Tunjung Buih. Hal tersebut tercatat dalam Kitab Negara
Kertagama karya Empu Prapanca.
Islam masuk ke Kalimantan atau yang lebih dikenal dengan Borneo
melalui tiga jalur. Jalur pertama melalui Malaka yang dikenal sebagai kerajaan
Islam setelah Perlak dan Pasai. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis kian membuat
dakwah semakin menyebar sebab para mubalig dan komunitas muslim
kebanyakan mendiami pesirir barat Kalimantan.
Jalur kedua, Islam datang disebarkan oleh para muballig dari tanah Jawa.
Ekspedisi dakwah ke Kalimantan ini mencapai puncaknya saat kerajaan Demak
berdiri. Demak mengirimkan banyak Muballig ke negeri ini. Para dai tersebut
berusaha mencetak kader-kader yang akan melanjutkan misi dakwah ini. Maka
lahirlah ulama besar, salah satunya adalah Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.
Jalur ketiga para dai datang dari Sulawesi (Makasar) terutama dai yang terkenal
saat itu adalah Datuk Ri Bandang dan Tuan Tunggang Parangan.
a.

Kalimantan Selatan

Masuknya Islam di Kalimantan Selatan adalah diawali dengan adanya krisis


kepemimpinan dipenghujung waktu berakhirnya kerajaan Daha Hindu. Saat itu
Raden Samudra yang ditunjuk sebagai putra mahkota oleh kakeknya, Raja
Sukarama minta bantuan kepada kerajaan Demak di Jawa dalam peperangan
melawan pamannya sendiri, Raden Tumenggung Sultan Demak (Sultan
Trenggono) menyetujuinya, asal Raden Samudra kelak bersedia masuk Islam.
11

Dalam peperangan itu Raden Samudra mendapat kemenangan. Maka sesuai


dengan janjinya ia masuk Islam beserta kerabat keraton dan penduduk Banjar.
Saat itulah tahun (1526 M) berdiri pertama kali kerajaan Islam Banjar dengan
rajanya Raden Samudra dengan gelar Sultan Suryanullah atau Suriansyah. Rajaraja Banjar berikutnya adalah Sultan Rahmatullah (putra Sultan Suryanullah),
Sultan Hidayatullah (putra Sultan Rahmatullah dan Marhum Panambahan atau
Sultan Mustain Billah. Wilayah yang dikuasainya meliputi daerah Sambas,
Batang Lawai, Sukadana, Kota Waringin, Sampit Medawi, dan Sambangan.
b. Kalimantan Timur
Berdasarkan hikayat Kutai, pada masa pemerintahan Raja Mahkota, datanglah dua
orang ulama besar bernama Dato Ribandang dan Tuanku Tunggang Parangan.
sehingga raja Kutai (raja Mahkota) tunduk kepada Islam diikuti oleh para
pangeran, para menteri, panglima dan hulubalang. Untuk kegiatan dakwah ini
dibangunlah sebuah masjid.
Kedua ulama itu datang ke Kutai setelah orang-orang Makasar masuk
Islam. Proses penyebaran Islam di Kutai dan sekitarnya diperkirakan terjadi pada
tahun 1575 M. raja Mahkota berusaha menyebarkan Islam ke daerah-daerah
sampai ke pedalaman Kalimantan Timur sampai daerah Muara Kaman,
dilanjutkan oleh Putranya, Aji Di Langgar dan para penggantinya.

12

5. Maluku.
Kepulauan Maluku terkenal di dunia sebagai penghasil rempah-rempah, sehingga
menjadi daya tarik para pedagang asing, tak terkecuali para pedagang muslim baik
dari Sumatra, Jawa, Malaka atau dari manca negara. Hal ini menyebabkan
cepatnya perkembangan dakwah Islam di kepulauan ini.Islam masuk ke Maluku
sekitar pertengahan abad ke 15 atau sekitar tahun 1440 dibawa oleh para
pedagang muslim dari Pasai, Malaka dan Jawa (terutama para dai yang dididik
oleh para Wali Sanga di Jawa). Tahun 1460 M, Vongi Tidore, raja Ternate masuk
Islam. Namun menurut H.J De Graaft (sejarawan Belanda) bahwa raja Ternate
yang benar-benar muslim adalah Zaenal Abidin (1486-1500 M). Setelah itu Islam
berkembang ke kerajaan-kerajaan yang ada di Maluku. Tetapi diantara sekian
banyak kerajaan Islam yang paling menonjol adalah dua kerajaan , yaitu Ternate
dan Tidore.
Raja-raja Maluku yang masuk Islam seperti :
a.

Raja

Ternate

yang

bergelar

Sultan

Mahrum

(1465-1486).

b. Setelah beliau wafat digantikan oleh Sultan Zaenal Abidin yang sangat besar
jasanya dalam menyiarkan Islam di kepulauan Maluku, Irian bahkan sampai ke
Filipina.
c.
d.

Raja
Raja

Tidore
Jailolo

yang
yang

kemudian
berganti

nama

bergelar
dengan

Sultan

Jamaluddin.

Sultan

Hasanuddin.

e. Pada tahun 1520 Raja Bacan masuk Islam dan bergelar Zaenal Abidin.
Selain Islam masuk dan berkembang di Maluku, Islam juga masuk ke Irian yang
disiarkan oleh raja-raja Islam di Maluku, para pedagang dan para muballig yang
juga berasal dari Maluku. Daerah-daerah di Irian Jaya yang dimasuki Islam
adalah: Miso, Jalawati, Pulau Waigio dan Pulau Gebi.

13

2.4 Corak dan Perkembangan Islam di Indonesia


A. Masa Kesulthanan
Untuk melihat lebih jelas gambaran keislaman di kesultanan atau kerajaankerajaan Islam akan di uraikan sebagai berikut.
Di daerah-daerah yang sedikit sekali di sentuh oleh kebudayaan Hindu-Budha
seperti daerah-daerah Aceh dan Minangkabau di Sumatera dan Banten di Jawa,
Agama Islam secara mendalam mempengaruhi kehidupan agama, sosial dan
politik penganut-penganutnya sehingga di daerah-daerah tersebut agama Islam itu
telah menunjukkan diri dalam bentuk yang lebih murni.
Di kerajaan Banjar, dengan masuk Islamnya raja, perkembangan Islam
selanjutnya tidak begitu sulit karena raja menunjangnya dengan fasilitas dan
kemudahan-kemudahan lainnya dan hasilnya mebawa kepada kehidupan
masyarakat Banjar yang benar-benar bersendikan Islam. Secara konkrit,
kehidupan keagamaan di kerajaan Banjar ini diwujudkan dengan adanya mufti
dan qadhi atas jasa Muhammad Arsyad Al-Banjari yang ahli dalam bidang fiqih
dan tasawuf. Di kerajaan ini, telah berhasil pengkodifikasian hukum-hukum yang
sepenuhnya berorientasi pada hukum islam yang dinamakan Undang-Undang
Sultan Adam. Dalam Undang-Undang ini timbul kesan bahwa kedudukan mufti
mirip dengan Mahkamah Agung sekarang yang bertugas mengontrol dan kalau
perlu berfungsi sebagai lembaga untuk naik banding dari mahkamah biasa.
Tercatat dalam sejarah Banjar, di

berlakukannya hukum bunuh bagi orang

murtad, hukum potong tangan untuk pencuri dan mendera bagi yang kedapatan
berbuat zina.
Guna memadu penyebaran agama Islam dipulau jawa, maka dilakukan
upaya agar Islam dan tradisi Jawa didamaikan satu dengan yang lainnya, serta
dibangun masjid sebagai pusat pendidikan Islam.
Dengan kelonggaran-kelonggaran tersebut, tergeraklah petinggi dan
penguasa kerajaan untuk memeluk agama Islam. Bila penguasa memeluk agama
Islam serta memasukkan syariat Islam ke daerah kerajaannya, rakyat pun akan
masuk agama tersebut dan akan melaksanakan ajarannya. Begitu pula dengan
kerajaan-kerajaan yang berada di bawah kekuasaannya. Ini seperti ketika di

14

pimpin oleh Sultan Agung. Ketika Sultan Agung masuk Islam, kerajaan-kerajaan
yang ada di bawah kekuasaan Mataram ikut pula masuk Islam seperti kerajaan
Cirebon, Priangan dan lain sebagainya. Lalu Sultan Agung menyesuaikan seluruh
tata laksana kerajaan dengan istilah-istilah keislaman, meskipun kadang-kadang
tidak sesuai dengan arti sebenarnya.
Berikut ini adalah beberapa kerajaan-kerajaan yang bercorak islam dan
berpengaruh besar terhadap perkembangan Islam di Indonesia, yaitu:
1. Kesultanan Samudra Pasai (1267-1521)
a. Lokasi dan sumber sejarah
Samudra Pasai atau Samudra Darussalam adalah kerajaan pertama di Indonesia
yang bercorak Islam. Ini mulai diperhitungkan (Aceh), dekat perlak (Malaysia).
Kesultanan ini mulai diperhitungkan sebagai sebuah kesultanan yang berpengaruh
sejak dikuasai oleh Dinasti Meurah Silu. Meurah Silu sendiri menjadi raja
pertama dengan gelar Sultan Malik as-Saleh, sekitar tahun 1267. Sumber sejarah
yang menyebut tentang keberadaan kerajaan ini antara lain:

Berita Marcopolo (1297), menyebutkan saat singgah di Sumatra mendapati


penduduk setempat disekitar Perlak beragama Islam. Ia juga menggagumi

kemajuan yang dicapai kesultanan tersebut.


Berita Ibnu Batutah (1304-1368), musafir dari Maroko. Dalam kunjungan
pertamanya tahun 1326, ia menuturkan masyarakat pedaganag dikerajaan ini
sebagian besar beragama Islam. Saat singgah kembali pada 1345 (pada masa
kekuasaan Al-Zahir), ia menyebutkan kerajaan ini sebagai sebuah pelabuhan
yang ramai dan banyak disinggahi kapal-kapal dagang dari Cina, India, serta
dari Nisantara sendiri.

b. Kondisi sosial-politik kesultanan


Menurut perkirssn para ahli seperti Snock Hurgronje dan J.L Moena,
Kesultanan Samudra pasai diperkirakan beridiri pada pertengahan abad ke-11.
Pada awalnya. Samudra Pasai ini berada dibawah kekuasaan Dinasti Meurah
Khair. Meurah Khair adalah pendiri dan sultan pertama Samudra Pasai, dan
bergelar Maharaja Mahmud Syah (1042-1078). Pengantinya adalah Maharaja
Mansyur Syah yang berkuasai dari tahun 1078-1133. Sultan terakhir Pasai adalah

15

Teuku Samudra atau Nazimuddin al-Kamil. Sultan ini berasal dari Mesir yang
ditugaskan sebagai laksamana untuk merebut pelabuhan di Gujarat. Ia tidak
memiliki keturunan sehingga ketika ia wafat Pasai dilanda kekacauan karena
perebutan takhta.
Menurut Hikayat Raja-raja Pasai dan Hikayat Raja-raja Melayu,
penguasa Pasai berikutnya adalah keturunan dari Dinasti Meurah Silu, dengan
sultan pertama Malik al-Saleh (memerintah 1267-1292). Ia keturunan sultan
Perlak (sekarang Malaysia). Pada masa pemerintahnya, sisitem pemerintahan
kerajaan dan angkatan perang laut serta darat sudah terstrukturrapi. Kesultanan
makmur terutama setelah Pelabuhan Pasai dibuka, apalagi posisinya sangat
strategis: berdekatan dengan Selat Malaka.
2. Kesultanan Malaka (1396-1511)
a. Lokasi dan sumber sejarah
Kesultanan Malaka merupakan kesultanan islam kedua setelah samudra Pasai.
Berdiri di akhir abad ke-14, pusatnya adalah didaerah Malaka, suatu wilayah yang
sekarang menjadi bagian dari Malaysia (sekarang menjadi salah satu dari tiga
belas negara bagian Malaysia dengan nama Malaka). Meski demikian, wilayah
kekuasaan dan pepengaruhnya meliputi tidak saja semenanjung Malaya,
melainkan juga sampai ke Riau (Indonesia).
Kesultanan ini didirikan oleh Parameswara antara tahun 1390-1403.
Keberadaannya ini dapat diketahui melalui beberapa sumber:

Sulalatus salatin, yaitu semacam kitab raja-raja yang ditulis dalam bahasa
Melayu dengan menggunakan abjad Jawi). Kitab ini juga menggambarkan
kedekatan hubungan Malaka dengan Samudra Pasai. Hal ini dipererat dengan
adanya pernikahan putri sultan pasai dengan sultan Malaka, selain bahwa
sulyan Malaka ikut membantu memadamkan pemberontakan internal di
Pasai. Kedua kawasan tersebut juga telah menjadi tempat pemukiman

komunitas muslim di Selat Malaka.


Berita Cina/Tiongkok (Dinasti Ming). Kronik Dinasti Ming mencatat,
Parasmewara sebagai pendidri mMalaka mengunjungi Kaisar Yongle di
Nanjing pada tahub 1405

dan meminta pengakuan atas wilayah

kedaulatannya\. Sebagai balasan upeti yang diberikan, kaisar setuju


16

melindungi Malaka, bahkan membangun armada di Malaka. Tercatat 29 kali


utusan Malaka mengunjungi kaisar Cina. Dampaknya : Malaka terhindar dari
kemungkinan serangan kerajaan Sian dari Utara (Thailand), yang ikut
membuat Malaka stabil secara sosial-politik. Kestabilan ini pulalah yang

memungkinkan Malaka menjadi pusat perdagangan di Asia Tenggara.


Laporan kunjungan Laksamana Cheng Ho (Dinasti Ming) Pada 1409
menggambarkan islam telah mulai dianut masyarakat Malaka, sementara
berdasarkan catatan Ming, penguasa Malaka mulai menggunakan gelar
Sultan pada tahun 1445.

B.

Masa Penjajahan

Ditengah-tengah proses transformasi sosial yang relatif damai, datanglah


pedagang-pedagang Barat, yaitu portugis, kemudian spanyol, di susul Belanda dan
Inggris. Tujuannya adalah menaklukkan kerajaan-kerajaan Islam Indonesia di
sepanjang pesisir kepulauan Nusantara ini.
Pada mulanya mereka datang ke Indonesia hanya untuk menjalinkan
hubungan dagang karena Indonesia kaya akan rempah-rempah, tetapi kemudian
mereka ingin memonopoli perdagangan tersebut dan menjadi tuan bagi bangsa
Indonesia.
Apalagi setelah kedatangan Snouck Hurgronye yang ditugasi menjadi
penasehat urusan pribumi dan Arab, pemerintah Hindia-Belanda lebih berani
membuat kebijaksanaan mengenai masalah Islam di Indonesia karena Snouck
mempunyai pengalaman dalam penelitian lapangan di Negeri Arab, Jawa dan
Aceh. Lalu ia mengemukakan gagasannya yang di kenal dengan politik Islam di
Indonesia. Dengan politik itu ia membagi masalah Islam dalam tiga kategori,
yaitu:
1.

Bidang agama murni atau ibadah;

2.

Bidang sosial kemasyarakatan; dan

3.

Politik.

17

Terhadap bidang agama murni, pemerintah kolonial memberikan kemerdekaNan


kepada umat Islam untuk melaksanakan ajaran agamanya sepanjang tidak
mengganggu kekuasaan pemerintah Belanda.
Dalam bidang kemasyarakatan, pemerintah memanfaatkan adat kebiasaan yang
berlaku sehingga pada waktu itu dicetuskanlah teori untuk membatasi keberlakuan
hukum Islam, yakni teori reseptie yang maksudnya hukum Islam baru bisa
diberlakukan apabila tidak bertentangan dengan alat kebiasaan. Oleh karena itu,
terjadi kemandekan hukum Islam.
Sedangkan dalam bidang politik, pemerintah melarang keras orang Islam
membahas hukum Islam baik dari Al-Quran maupun Sunnah yang menerangkan
tentang politik kenegaraan atau ketatanegaraan.

2.5 Tokoh-tokoh dalam perkembangan Islam di Indonesia


Proses penyebaran Islam di wilayah Nusantara tidak dapat dilepas dari peran aktif
para ulama. Melalui merekalah Islam dapat diterima dengan baik dikalangan
masyarakat. Di antara Ulama tersebut adalah sebagai berikut:
a.

Hamzah Fansuri

Ia hidup pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda sekitar tahun 1590.
Pengembaraan intelektualnya tidak hanya di Fansur-Aceh, tetapi juga ke India,
Persia, Mekkah dan Madinah. Dalam pengembaraan itu ia sempat mempelajari
ilmu fiqh, tauhid, tasawuf, dan sastra Arab.
b.

Syaikh Muhammad Yusuf Al-Makasari

Beliau lahir di Moncong Loe, Gowa, Sulawesi Selatan pada tanggal 3 Juli 1626
M/1037 H. Ia memperoleh pengetahuan Islam dari banyak guru, di antaranya
yaitu; Sayid Ba Alwi bin Abdullah Al-allaham (orang Arab yang menetap di
Bontoala), Syaikh Nuruddin Ar-Raniri (Aceh), Muhammad bin Wajih As-Sadi
Al-Yamani (Yaman), Ayub bin Ahmad bin Ayub Ad-Dimisqi Al-Khalwati
(Damaskus), dan lain sebagainya.

c.

Syaikh Abdussamad Al-Palimbani

18

Ia merupakan salah seorang ulama terkenal yang berasal dari Sumatra Selatan.
Ayahnya adalah seorang Sayid dari Sana, Yaman. Ia dikirim ayahnya ke Timur
Tengah untuk belajar. Di antara ulama sezaman yang sempat bertemu dengan
beliau adalah; Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Abdul Wahab Bugis,
Abdurrahman Bugis Al-Batawi dan Daud Al-Tatani.
d.

Syaikh Muhammad bin Umar Nawawi Al-Bantani

Beliau lahir di Tanar, Serang, Banten. Sejak kecil ia dan kedua saudaranya, Tamim
dan Ahmad, di didik oleh ayahnya dalam bidang agama; ilmu nahwu, fiqh dan
tafsir. Selain itu ia juga belajar dari Haji Sabal, ulama terkenal saat itu, dan dari
Raden Haji Yusuf di Purwakarta Jawa Barat. Kemudian ia pergi ke Mekkah untuk
menunaikan ibadah haji dan menetap disana kurang lebih tiga tahun. Di Mekkah
ia belajar Sayid Abmad bi Sayid Abdurrahman An-Nawawi, Sayid Ahmad
Dimyati dan Sayid Ahmad Zaini Dahlan. Sedangkan di Madinah ia berguru
kepada Syaikh Muhammad Khatib Sambas Al-Hambali. Selain itu ia juga
mempunyai guru utama dari Mesir.
Pada tahun 1833 beliau kembali ke Banten. Dengan bekal pengetahuan
agamanya ia banyak terlibat proses belajar mengajar dengan para pemuda di
wilayahnya yang tertarik denga kepandaiannya.. tetapi ternyata beliau tidak betah
tinggal di kampung halamannya. Karena itu pada tahun 1855 ia berangkat ke
Haramain dan menetap disana hingga beliau wafat pada tahun 1897 M/1314 H.
e.

Wali Songo

Dalam sejarah penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di pulau Jawa terdapat


sembilan orang ulama yang memiliki peran sangat besar. Mereka dikenal dengan
sebutan wali songo.
Para wali ini umumnya tinggal di pantai utara Jawa sejak dari abad ke-15
hingga pertengahan abad ke-16. Para wali menyebarkan Islam di Jawa di tiga
wilayah penting, yaitu; Surabaya, Gresik dan Lamongan (Jawa Timur), Demak,
Kudus dan Muria (Jawa Tengah), serta di Cirebon Jawa Barat. Wali Songo adalah
para ulama yang menjadi pembaru masyarakat pada masanya. Mereka

19

mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru seperti, kesehatan, bercocok tanam,


niaga, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.
Adapun wali-wali tersebut yaitu; Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel,
Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati, Sunan Drajat,
Sunan Kudus dan Sunan Muria.

20

BAB 3
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat kami simpulkan sebagai berikut:

Islam telah masuk ke Nusantara sejak abad ke-7, namun baru


berkembang pesat sekitar abad ke-13. Bangsa Arab, Persia, dan
Gujarat memainkan peran yang besar. Penyebarannya berjalan
secara bertahap dan melalui beberapa saluran, seperti perdagangan,

pendidikan, perkawinan, dakwah, ajaran tasawuf, dan kesenian.


Perkembangan Islam di Indonesia adalah berkat peran para
pedagang dari Jazirah Arabia melalui jalan perdagangan, dakwah

dan perkawinan.
Perkembangan Islam di Indonesia terbagi menjadi beberapa
wilayah diantaranya yaitu Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan,

dan Maluku.
Kesultanan pasai juga memiliki kontribusi yang besar dalam
pengembangan dan penyebaran Islam di Tanah Air. Samudra Pasai
banyak

mengirimkan

para

ulama

serta

mubaligh

untuk

menyebarkan agama Islam ke pulau Jawa. Selain itu, banyak juga

ulama Jawa yang menimba ilmu agama di Pasai.


Kesultanan Malaka merupakan kesultanan islam kedua setelah
Pasai.

Posisi Malaka yang strategis

membuatnya

banyak

dikunjungi saudagar-saudagar mancanegara yang kebanyakan


beragama Islam. Parameswara adalah peletak dasar kesultanan

Malaka.
Para ulama awal yang menyebarkan Islam di Indonesia di
antaranya yaitu; Hamzah Fansuri, Syaikh Muhammad Yusuf AlMakasari, Syaikh Abdussamad Al-Palimbani, Syaikh Muhammad
bin Umar n-Nawawi Al-Bantani dan wali songo (Maulana Malik
Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan
Kalijaga, Sunan Gunung Jati, Sunan Drajat, Sunan Kudus dan
Sunan Muria).

21

3.2 SARAN
Demikian pembahasan dari makalah ini. penulis berharap semoga
pembahasan dalam makalah ini dapat membantu dan bermanfaat
bagi pembaca. Dan penulis pun berharap pula kritik dan saran dari
pembaca untuk kesempurnaan dalam tugas penulis selanjutnya.
Sekian dan terima kasih.

22

DAFTAR PUSTAKA

Haludi, Khuslan dan abdirrohim. 2007. Integrasi Budi Pekerti

dalam Pendidikan Agama Islam. Solo: Tiga Serangkai.


Guilot, Claude. 2008. Inskripsi Islam Tertua di Indonesia. Jakarta:

Kepustakaan Populer Gramedia.


Moh. Ali. 2005. Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia. Yogyakarta:

LKSI Pelangi Aksara.


Hapsari, Ratna. 2012. Sejarah Indonesia. Jakarta: Penerbit
Erlangga.

23