Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Data WHO melaporkan bahwa kebutuhan akan darah secara global setiap tahunnya
meningkat 1%, sementara jumlah darah yang didonasikan turun 1% setiap tahunnya. Di
Indonesia, dari sekitar 4,8 juta kantong yang dibutuhkan per tahun (2% jumlah penduduk
Indonesia), jumlah donasi masih sekitar 2,3 juta kantong dan baru sekitar 85% di antaranya
yang berasal dari donor sukarela.
Unit Transfusi Darah merupakan suatu pelayanan yang masuk di dalam ruang
lingkup pelayanan kesehatan. Transfusi darah adalah pemberian darah kepada seseorang dari
orang lain atau biasa disebut juga istilah donor. Darah transfusi harus berasal dari donor
yang sehat jasmani dan rohani, oleh karena itu sebelum diambil darahnya donor harus
melalui sejumlah pemeriksaan. Transfusi dapat dilaksanakan bila memenuhi persyaratan;
yaitu, untuk donatur ditentukan dari umur, berat badan, golongan darah sistem ABO,
tekanan darah, Hb darah dan riwayat penyakit. Sedangkan untuk resipien ditentukan
golongan darah dan cross-match antara darah donatur dan resipien. Apabila persyaratan
tersebut telah dipenuhi, maka transfusi dapat dilaksanakan.
Darah terdiri dari beberapa komponen, yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah
putih (leukosit), keping darah (trombosit), dan plasma. Reaksi silang perlu dilakukan
sebelum melakukan transfusi darah untuk melihat apakah darah penderita sesuai dengan
darah donor. Pengertian Crossmatch adalah reaksi silang in vitro antara darah pasien dengan
darah donor yang akan ditransfusikan. Reaksi ini dimaksudkan untuk mencari tahu apakah
darah donor cocok dengan darah pasien yang akan menerima donor, hal ini berguna untuk
mencegah reaksi tranfusi darah bila darah didonorkan sehingga aman dan benar- benar
bermanfaat bagi kesembuhan pasien.
Dalam makalah ini kami akan membahas mengenai pelayanan yang dilakukan pada
Bagian Laboratorium Patient Service/ Distribusi Unit Donor Darah PMI Kabupaten Lombok
Barat mulai dari penerimaan sampel darah dan formulir permintaannya sampai pengiriman
darah ke Rumah sakit untuk ditransfusikan kepada pasien.

1.2.
Rumusan Masalah
1.2.1.Untuk mengetahui prosedur distribusi darah di PMI Kabupaten Lombok Barat.
1.2.2.Menjelaskan metode Cross Match antara darah pasien dan darah donor.
1.2.3.Menjelaskan hasil praktikum Cross Match yang dilakukan.
1.3.
Tujuan
1.3.1. Untuk mengetahui prosedur distribusi darah di PMI Kabupaten Lombok Barat.
1.3.2. Untuk mengetahui metode Cross Match antara darah pasien dan darah donor.
1.3.3. Untuk mengetahui hasil praktikum Cross Match yang dilakukan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Proses Pelayanan Permintaan Darah dari Rumah Sakit pada bagian Pasien Service
atau Distribusi
1. Penerimaan formulir permintaan darah beserta sampel darah pasien meliputi :
a. Nama Rumah Sakit tempat pasien dirawat
b. Nama Dokter yang meminta
c. Nama pasien harus sesuai dengan sampel darah yang dibawa oleh keluarga
d. Diagnose
e. Umur dan jenis kelamin
f. Indikasi tranfusi
g. Tanggal kapan diperlukan
h. Jenis komponen permintaan darah yang diminta meliputi : PRC, WB,
FFP,TROMBOCITE, AHF, PLASMA
i. Jumlah volume yang diminta
j. Nama dan tanda tangan dokter yang meminta
k. Cek golongan darah dan rhesus orang yang sakit, bila darah yang diminta tidak ada
persediaannya, informasikan keluarga pasien untuk mencari donor pengganti atau
donor keluarga.

2. Identifikasi/cocokkan nama yang ada pada contoh darah dengan nama yang ada pada
formulir permintaan darah
3. Lihat/ cek formulir permintaan darah apakah sudah diisi lengkap
- Nama Rumah Sakit
- Dokter yang meminta
- Nama Os
- Diagnose
- Umur
- Jenis kelamin
- Indikasi transfuse
- Tanggal diperlukan
- Jenis darah
- Volume darah
4. Registrasi nomor urut permintaan darah
5. Periksa golongan darah dan rhesus Os
Bila darah yang diminta tidak ada persediaannya mohon keluarga Os untuk mencari
donor pengganti/donor keluarga
6. Persiapan darah yang akan dilakukan uji cocok serasi yang sesuai dengan golongan
darah pasien, meliputi pemeriksaan golongan darah dan rhesus donor yang sesuai
dengan golongan darah dan rhesus pasien.
7. Pemeriksaan uji cocok serasi atau kawin silang antara donor dan pasien, yang
memerlukan waktu 1 jam untuk mendapatkan hasil compatible (cocok) atau
incompatible (tidak cocok), yang bertujuan:
a. Mencegah reaksi transfuse (seperti demam, kejang, urtikaria, dll).
b. Mengetahui kecocokan golongan darah ABO antara darah donor dengan penderita.
c. Untuk mendeteksi adanya antibody dalam serum pasien yang akan bereaksi dengan
antigen pada sel darah merah donor.
d. Untuk mengetahui apakah plasma donor akan bereaksi dengan sel darah merah
pasien.
8. Informasikan kepada keluarga Os agar menunggu proses pemeriksaan selama 1 jam
9. Melengkapi administrasi
Untuk pasien peserta JPS, melengkapi:
a. 2 lembar fotocopy kartu JPS
b. 2 lembar fotocopy surat penetapan dari ASKES
c. Formulir permintaan darah distempel JPS dari ruangan atau bangsal Rumah Sakit
tempat pasien dirawat
Untuk pasien peserta ASKES, melengkapi:
a. 1 lembar formulir kartu ASKES

b. Surat keterangan transfuse diisi lengkap, stempel Rumah Sakit dan tanda tangan
dokter
10. Pencatatan darah atau identitas data donor yang meliputi nomor kantong darah pada
formulir permintaan darah. Tulis isi tabel dan formulir permintaan darah yang meliputi:
a. Nomor AFTAP dan nomor kantong darah
b. Jenis komponen darah yang diberikan
c. Tanggal diberikan
d. Nama pasien
e. Nama Rumah Sakit
f. Golongan darah
g. Pemeriksa atau petugas distribusi
h. Crossmatch dijalankan atau tidak

11. Keluarga Os menandatangani Formulir permintaan darah dan mencantumkan nama


pengambil darah.
Cocokkan kembali nomor kantong darah, isi label dan formulir permintaan darah.
12. Keluarkan darah
13. Catat/ tulis pengeluaran darah pada formulir pengeluaran darah
2.2 Pemeriksaan Golongan Darah
Ada 2 macam metode pemeriksaan golongan darah dan rhesus yaitu metode plate
dan metode tabung, namun pada praktikum ini pemeriksaan dilakukan dengan
menggunakan metode plate :
Metode plate
6

Teteskan sel darah merah yang akan diperiksa pada slide test di tiga bagian

kemudian tambahkan reagen antisera pada masing-masing tetesan darah dengan:


1 tetes Anti A pada tetesan darah pertama
1 tetes Anti B pada tetesan darah kedua
1 tetes Anti D pada tetesan darah ketiga untuk mengetahui rhesusnya
Aduk perlahan dengan menggunakan spatula agar darah tercampur dengan
reagen antiseranya. Goyangkan slide test secara perlahan dan lihat reaksinya.
Pembacaan hasil:

Aglutinasi
Tidak aglutinasi

: ada antigen pada sel darah merah


: tidak ada antigen pada sel darah merah

Interpretasi hasil:
No

Anti-A

Anti-B

Gol.Darah

Anti-D

Rh

.
1
2
3
4

+
+

+
+

A
B
O
AB

+
-

Pos
Neg

2.3 Pemeriksaan Cross Match antara darah OS dan Donor


2.3.1 Definisi Cross Match
Menurut definisi, crossmatching atau yang biasa dikenal sebagai tes
kompatibilitas merupakan sebuah pemeriksaan darah yang dilakukan untuk
menetapkan kompatibilitas dari donor dan penerima darah. Pemeriksaan ini
merupakan uji deteksi antibodi terbaik yang tersedia untuk menghindari reaksi
tranfusi mematikan sehingga dilakukan sebelum melakukan tranfusi darah dan
2.3.2

apabila terjadi reaksi tranfusi darah.


Tujuan
a. Untuk mencegah reaksi transfusi (demam, kejang , urtikaria, dll)
b. Untuk mengetahui kecocokan golongan darah A, B, O antara donor dan
penderita
c. Untuk mengetahui adanya antibody dalam serum pasien yang akan bereaksi
dalam antigen pada sel darah merah donor

d. Untuk mengetahui apakah plasma donor bereaksi dengan sel darah merah
pasien
2.3.3 Jenis Metode Cross Match
a. Manual Cross atau Metode Tabung
Prinsip : menggunakan 2 tabung
o Mayor Cross Matching
Isinya yaitu 2 tetes serum pasien ditambah dengan 1 tetes suspensi sel
donor 5 %
o Minor Cross Matching
Isinya yaitu 2 tetes serum donor ditambah dengan 1 tetes suspensi sel
pasien 5 %
o Auto Control
Isinya 2 tetes serum pasien ditambah dngan 1 tetes suspensi sel pasien

5%
Tujuan : penggunaan metode tabung setelah dilakukan metode gell adalah

untuk ketidakcocokan antara darah pasien dan pendonor.


Alat dan Bahan
Alat-alat
o Tabung reaksi
o Rak tabung
o Water bath/incubator
o Pipet Pasteur
o Labu semprot
o Mikroskop
o Centrifuge
o Etiket/label
o Tissue
o Slide/objek glass
Bahan :
o Antisera (anti A, anti B, dan anti D)
o NaCL 09 %
o Coombs serum
o Coombs control cell (CCC)
Cara Kerja
Tahap Awal Cross Match Metode Tabung
o Periksa golongan darah pasien
o Cari darah yang sesuai dengan darah pasien dan donornya, baik golongan
darah A, B, O dan RH nya

o Pisahkan antara sel dengan serumnya baik darah pasien maupun


donornya dengan cara diputar dengan centrifuge pada kecepatan 3000
rpm selama 1 menit
o Buat suspense sel 5% baik donor ataupun pasien denga cara 1 tetes sel
darah merah pekat ditambahkan dengan 1 tetes NaCL 0,9%
o Buat suspense 5% baik donor ataupun pasien dengan cara 1 tetes sel
darah merah pekat ditambahakan dengan 1 tetes NaCL 0,9%
Adapun beberapa macam suspensi :
o 5% (untuk teknik cross matching) : 1 tetes sel darah merah pekat
ditambahkan dengan 19 tetes NaCL 0,9%
o 10% (untuk teknik pemeriksaan golongan darah) : 1 tetes sel darah merah
pekat ditambahkan dengan 9 tetes NaCL 0,9%
o 40% (untuk teknik pemeriksaan golongan darah Rhesus) : 2 tetes sel

darah merah pekat ditambahkan 3 tetes NaCL 0,9%


Fase Pemeriksaan :
o Fase I : (Fase Medium Saline)
Fase I tujuannya untuk mendeteksi antibody yang bersifat IgM (natural)

1) Siapkan 2 tabung yaitu tabung 1 (mayor) dan tabung 2 (minor)


2) Masukkan ke dalam tabung yaitu :
Tabung 1 : 2 tetes serum pasien ditambahkan dengan 1 tetes sespensi
sel donor 5%
Tabung 2 : 2 tetes serum donor ditambahakan dengan 1 tetes suspensi
sel pasien 5%
3) Kedua tabung dikocok-kocok supaya tercampur baik
4) Putar keduanya pada 3400 rpm selama 15 detik
5) Baca: adakah reaksi hemolysis (compatible) atau adakah reaksi
aglutinasi (incompatible)
6) Bila hasilnya compatible maka dapat dilanjutkan ke fase berikutnya
(Fase II)
o Fase II : (Fase Inkubasi 37C)
Fase II tujuannya untuk mendeteksi antibody yang bersifat IgG pada saat
inkubasi 15 menit dengan penambahan bovine albumin 22%
1) Tambahkan masing-masing 2 tetes bovine albumin 22% dimana fungsi
bovine albumin yaitu untuk menekan zat potensial dengan
menguraikan ion-ion positif dan negative sehingga antigen dan
antibody lebih ceoat meningkat untuk memudahkan proses sensititasi
(aglutinasi)
9

2) Kedua tabung dikocok-koco supaya tercampur baik


3) Inkubasi didalam Water bath/incubator pada suhu 37% selama 15
menit
4) Putar keduanya pada 3400 rpm selama 15 detik dalam mesin
centrifuge
5) Baca : Adakah reaksi hemolisis (compatible/cocok) atau adakah reaksi
aglutinasi (incompatible/tidak cocok)
6) Bila hasilnya compatible maka dapat dilanjutkan ke fase berikutnya
(Fase III)
o Fase III : (Fase Antiglobulin)
Fase III tujuannya untuk mendeteksi antibody yang bersifat IgG pada
fase II yang disensitisasi oleh antibody yang bersifat ireguler.
1) Cuci sel darah merah pada kedua tabung sebanyak 3 kali dengan
saline (pada centrifuge selama 2 menit dengan kecepatan 3000 rpm)
2) Pada saat pencucian terakhir buanglah supernatant dengan cara cepat
agar semua supernatant terbuang dan yang tersisa hanya sel yang
menempel di dinding tabung.
3) Tambahkan tabung 1 dan 2 tetes coombs serum (antiglobulin) yang
berfungsi sebagai jembatan coatednya antibody yang satu dengan
yang lainnya
4) Kedua tabung dikocok-kocok supaya tercampur baik
5) Putar keduanya pada 3400 rpm selama 15 detik
6) Baca : adakah reaksi hemolisis (compatible/cocok) atau adakah reaksi
aglutinasi (incompatible/tidak cocok)
Hasil :
o Compatible : bila semua tabung pada fase 1 sampai 3 hasilnya negative
(hemolisis)
o Incompatible : bila salah satu dari fase tersebut diatas hasilnya positif

(aglutinasi)
Interpretasi hasil Cross Matching

MAYOR

MINOR

(AC)

KESIMPULAN

O
1
2
3

+
-

Darah keluar
Ganti darah donor
Ganti darah donor atau disesuaikan, jika

permintaan WB
Lakukan direct coombs test pada pasien,
10

jika minor = auto control, atau minor >


auto control pada pemberian PRC
Untuk mengetahui pemeriksaan yang dilakukan valid atau tidak maka dilakukan
uji coombs control cell, yaitu :
1) Teteskan 1 tetes cc pada kedua tabung
2) Putar 3400 rpm selama 15 detik
3) Baca hasil :
o Bila terjadi aglutinasi berarti pemeriksaan yang dilakukan benar/valid.
Hasilnya juga dapat dilihat secara mikroskopis.
o Bila hasilnya tidak terjadi aglutinasi berarti pemeriksaan yang dilakukan
tidak benar/invalid
4) Jika Direct Coombs test OS positif
Hasil positif pada cross match minor berasal dari auto antibody.
5) Jika derajat positif pada minor sama dengan derajat positif pada DTC maka
darah boleh diambil/dikeluarkan.
Keterangan :
o Hasil positif pada cross match Mayor
1) Periksa sekali lagi golongan darah OS apakah sudah sama dengan donor
2) Artinya ada irregular antibody pada serum OS
3) Harus dilakukan screening dan identifikasi antibody pada serum OS
o Hasil positif pada cross match minor, AC = negative
1) Artinya ada irregular antibody pada serum donor
2) Solusi : ganti dengan darah donor yang lain
o Hasil positif pada cross minor, AC = positif
1) Artinya pada auto antibody pada serum OS
2) Bandingkan : positif pada minor AC, jika sama, darah dapat dikeluarkan,
dan jika positif minor lebih besar dari AC maka ganti donor
b. Gell Cross Match (dyamed) / metode gell)
Prinsip : menggunakan gell yang sudah ada pada ID card nya dan sudah
mengandung IgM dan IgG.
Mayor cross match
Isinya 2 tetes sel donor ditambahkan dengan 1 tetes serum pasien
o Minor cross match
Isinya 2 tetes sel pasien ditambahkan dengan 1 tetes serum donor
Tujuan : untuk pemeriksaan yang lebih akurat dan teliti dalam melihat
o

kecocokan antara sel pendonor dengan serum os atau sel os dengan serum
pendonor, dimana hasil yang didapatkan lebih cepat dan memerlukan waktu
1 jam.
11

Alat dan bahan :


Alat :
o Tabung reaksi yang sudah terisi larutan diluents, untuk proses
pengenceran/suspens (sebanyak 2 tabung)

o Pipet mikro 25 l
o Pipet mikro 50 l

o Gell Card
12

o Rak tabung
o Water bath/incubator

o Mikroskop

o Centrifuge

o Etiket / label
o Tissue
o Slide/ objek glass
Bahan :
o Antisera (anti A, anti B, anti D

13

Cara kerja :
o Periksa golongan darah pasien, setelah didapatkan golongan darah
pasien cross dengan donor yang sesuai golongan darah tersebut
kemudian periksa golongan darah donor ulang dengan tujuan untuk
memastikan.
o Pisahkan serum dengan darah, baik psien maupun donor dengan
centrifuge
o Siapkan 2 tabung reaksi yang amsing masing tabung berisi diluents

1)
2)
3)
4)

5% dengan volume 100 l


o Tulis identitas pasien pada tabung yang berisi diluents, meliputi :
Tabung 1 (Mayor) ditulis no AFTAP
Tabung 2 (Minor) ditulis dengan MN
Nama pasien
Rumah sakit yang meminta
o Buat suspensi
Masukan 5 ul SDM donor ke tabung I dan 5 ul SDM pasien ke tabung
II, campur kemudian homogenkan dengan diluents, maka jadilah
suspense 5%.
o Siapkan dan beri identitas ID Card Gell
o Masukkan masing masing 50 l suspense ke tabung gell. Kemudian
masukkan 25 l serum pasien pada tabung 1 atau mayor dan 25 l
serum donor pada tabung 2 atau minor.
o Masukkan ke dalam incubator selama 15 menit dengan suhu 37oC
o Putar pada alat centrifuge selama 10 menit
o Baca dan intrepretasikan hasil :
14

Compatible : terjadi hemolisis antara darah donor dengan serum


pasien maupun darah pasien dengan serum donor sehingga darah
bisa dikeluarkan (cocok)
Incompatible : terjadi aglutinasi antara darah donor dengan serum
pasien maupun darah pasien dengan serum donor sehingga darah
tidak bisa dikeluarkan (tidak cocok).
2.4 Praktikum Cross Match
1. Penrimaan formulir permintaan darah beserta sampel darah pasien

Gambar 1 sampel darah pasien

15

Gambar 2 Formulir permintaan darah yang telah terisi lengkap


2. Identifikasi atau cocokan nama yang ada yang ada pada contoh darah dengan nama
yang ada pada formulir prmintaan darah.
3. Lihat atau cek formulir permintaan darah apakah sudah diisi lengkap
4. Periksa golongan darah dan rhesus os
16

Ada 2 macam metode pemeriksaan golongan darah dan rhesus yaitu metode plate
dan metode tabung, namun pada praktikum ini pemeriksaan dilakukan dengan
menggunakan metode plate.
a. Metode plate
Teteskan sel darah merah yang akan diperiksa pada slide test di tiga
bagiankemudian tambahkan reagen antisera pada masing-masing tetesan darah
dengan:
1 tetes Anti A pada tetesan darah pertama
1 tetes Anti B pada tetesan darah kedua
1 tetes Anti D pada tetesan darah ketiga untuk mengetahui rhesusnya

Gambar 3 Serum Anti A, Anti B, dan Anti D untuk pmriksaan golongan darah

Aduk perlahan dengan menggunakan spatula agar darah tercampur denganreagen


antiseranya
Goyangkan slide test secara perlahan dan lihat reaksinya
Interpretasi :
o Tidak terjadi aglutinasi pada anti A
o Tidak terjadi aglutinasi pada anti B
o Terjadi aglutinasi pada anti D

Kesimpulan : golongan darah pasien adalah A dengan Rhesus positif.

17

Gambar 4 Hasil pemeriksaan golongan darah pasien dan golongan darah donor adalah
golongan darah A Rhesus positif
5. Persiapan darah yang akan dilakukan uji cocok serasi yang sesuai dengan golongan
dara pasien, meliputi pemeriksaan golongan darah dan rhesus donor yang sesuai
dengan golongan darah dan rhesus pasien.

18

Gambar 5 Darah siap pakai yang telah tertera label golongan darah, non reaktif
terhadap anti HIV, anti HCV, HbsAg, Sifilis srta tanggal belum melewati tanggal
kadaluarsa.

6. Pemeriksaan cross match


a. Cara Keja
o Pisahkan serum dengan darah, baik pasien maupun donor dengan
centrifuge
o Siapkan 3 tabung reaksi yang amsing masing tabung berisi diluents 5%
dengan volume 100 l
o Tulis identitas pasien pada tabung yang berisi diluents, meliputi :
a) Tabung 1 (Mayor) ditulis no AFTAP
b) Tabung 2 (Mayor) ditulis no AFTAP
c) Tabung 3 (Minor) ditulis dengan MN
d) Nama pasien
e) Rumah sakit yang meminta
19

o Buat suspensi
Masukan 5 ul SDM donor ke tabung I dan 2 dan 5 ul SDM pasien ke tabung
3, campur kemudian homogenkan dengan diluents, maka jadilah suspense
5%.

Gambar 6 Proses pembuatan suspensi


o Siapkan dan beri identitas ID Card Gell
o Masukkan masing masing 50 l suspense ke tabung gell. Kemudian
masukkan 25 l serum pasien pada tabung 1 dan 2 atau mayor dan 25 l
serum donor pada tabung 3 atau minor.
o Masukkan ke dalam incubator selama 15 menit dengan suhu 37oC
o Putar pada alat centrifuge selama 10 menit
o Baca dan intrepretasikan hasil :
Dari gambar didapatkan hasil adalah Kompatibel.

20

Gambar 7 Interpretasi hasil pemeriksaan cross match yang


menunjukkan hasil kompatibel.

BAB III
21

PENUTUP
3.1.

Kesimpulan
3.1.1 Dalam proses pelayanan atau distribusi darah di PMI, darah tidak langsung
memberikan darah yang diminta, namun harus dengan proses uji cocok serasi atau
cross match
3.1.2 Dalam proses uji cocok serasi atau cross match hasil yang didapatkan haruslah
compatible (cocok) agar darah dapat dikeluarkan atau didistribusikan. Apabila hasil
incompatible (tidak cocok) maka darah tidak bisa dikeluarkan.
3.1.3 Dalam praktikum ini hasil yang didapatkan pada proses uji serasi adalah

3.2.

compatible (cocok)
Saran
3.1.4 Dalam uji cocok serasi atau cross match, sebaiknya petugas haruslah teliti dalam
pengerjaan prosesnya agar hasil yang didapatkantepat dan tidak membahayakan
pasien.
3.1.5 Sebagai dokter muda, dalam proses pembelajaran distribusi darah penting untuk
mengetahui langkah-langkahnya agar tahu bahwa setiap darah yang diberikan untuk
pasien sudah melalui proses yang tepat.

22

DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim, 2009. Manfaat Donor Darah. Jakarta. Diakses tanggal 21 Juni 2016 dari
www.kabarindonesia.co.id.
2. Anonim. 2013. Pemeriksaan Sederhana Golongan Darah dan Rhesus. Diakses tanggal
21 Juni 2016
3. Contreras Marcella, MD. 1995. Petunjuk Penting Transfusi Darah. Edisi Kedua,
EGC, Jakarta.
4. Munandar, Haris. 2008. Mengenal Palang Merah Indonesia (PMI) & Badan
SARNasional (BASARNAS). Erlangga . Jakarta.
5. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 83.2014. Unit Transfusi Darah, Bank Darah
Rumah Sakit, dan Jejaring Pelayanan Transfusi Darah. Jakarta: Mntri Keshatan
6. PMI
Pusat.
1998.
Kumpulan
Peraturan
perundang-Undangan

Bidang

Kesehatan/Transfusi Darah dan Surat Keputusan Pengurus PMI Tentang Transfusi


Darah. Jakarta.
7. PMISumut.2009.PelayananPenyediaanDarah,antaraFaktadanKenyataan.
Medan
8. Sadikin,Moh.2001.BiokimiaDarah.WidyaMedika,Jakarta.

23

Anda mungkin juga menyukai