Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

KONSELING REHABILITASI DAN IMPLEMENTASINYA


TERHADAP KONSELING ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bimbingan Konseling
Anak Berkebutuhan Khusus yang diampu oleh Dr. Musjafak Assjari, M.Pd

Oleh :

Adam Ghozali

(1304301)

Novitiara

(1304146)

Nurjannah

(1305732)

DEPARTEMEN PENDIDIKAN KHUSUS


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2016

Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 1

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat rahmat
serta hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan MAKALAH: KONSELING
REHABILITASI DAN IMPLEMENTASINYA TERHADAP KONSELING
ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Penyusunan makalah ini tidak luput dari bantuan, bimbingan, serta arahan dari
berbagai pihak, maka dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang
sebesar- besarnya kepada tim dosen mata kuliah Bimbingan Konseling Anak
Bekebutuhan Khusus yang ditanggung-jawabi oleh Dr. Musjafak Assjari, M.Pd
Penyusun menyadari bahwa tidak ada yang sempurna, begitu juga dengan
makalah ini yang masih jauh dari kesempurnaan, baik isi maupun dari sistematika
penulisannya.Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran
yang membanngun. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya
dan pembaca umumnya.
Terima kasih.

Bandung, Februari 2016

Penyusun
DAFTAR ISI

COVER............................................................................................................i

Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 2

KATA PENGANTAR......................................................................................ii
DAFTAR ISI....................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......................................................................................1
B. Rumusan Masalah.................................................................................1
C. Tujuan Penulisan...................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.

Pengertian Konseling Rehabilitasi........................................................3


Sasaran Konseling Rehabilitasi............................................................9
Peran, Fungsi, dan Ruang Lingkup Konseling Rehabilitasi.................10
Implementasi Konseling Rehabilitasi Terhadap Konseling Anak
Berkebutuhan Khusus...........................................................................12

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan...........................................................................................20
B. Saran.....................................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................22

Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 3

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seperti juga anak pada umumnya, anak berkebutuhan khusus juga memiliki hak
untukmendapat layanan bimbingan konseling sebgai seorang peserta didik.
Layanan bimbingan konseling ini tentunya disesuikan dengan kebutuhan mereka
dan mencakup segala hal yang berkenaan dalam tujuannya untuk mencapai
pendidikan yang optimal serta lebih umum untuk mengembangkan kehidupannya.
Anak Bekebutuhan Khusus pada kehidupannya sering mengalami kendala yang
selain datang sebagai akibat dari hambatannya, juga dari perilaku masyarakat
terhadapnya. Deskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan sering membuat Anak
Berkebutuhan Khusus mengalami kesulitan dan akhirnya kehilangan kepercayaan
diri mereka. Merasa berbeda membuat mereka kemudian menarik diri dari
masyarakat umum. Padahal, sebagai makhluk sosial, mereka juga butuh terhadap
kehidupan sosiual yang sama dengan masyarakat umumnya.
Konseling rehabiliktasi merupakan salah satu dari sekian banyak bentuk konseling
yang dapat dipraktikan dalam menangani anak berkebutuhan khusus. ABK perlu
bimbingan dan arahan dalam menemukan tujuan hidupnya, serta hal-hal lain yang
berkenaan dengan aspek sosial, psikologis, dan vokasionalnya. Atas dasar itulah,
dianggap penting untuk mengkaji lebih dalam tentang konseling rehabilitasi dan
implementasinya terhadap konseling bagi Anak Berkebutuhan Khusus.
B.
1.
2.
3.
4.

Rumusan Masalah
Apa itu konseling rehabilitasi?
Siapa sasaran dari konseling rehabilitasi?
Bagaimana peran, fungsi dan ruang lingkup konseling rehabilitasi?
Bagaimana implementasi konseling rehabilitasi pada konseling Anak
Berkebutuhan Khusus?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari disusunnya makalah ini ialah untuk:
1. Mengetahui seputar konseling rehabilitasi
2. Mengetahui siapa sasaran dari konseling rehabilitasi
3. Mengetahui bagaimana peran, fungsi dan ruang lingkup konseling rehabilitasi
Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 1

4. memahami implementasi konseling rehabilitasi pada konseling Anak


Berkebutuhan Khusus

Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 2

5. BAB II
PEMBAHASAN
6.
A. Pengertian Konseling Rehabilitasi
1. Pengertian Konseling
7. Konseling adalah semua bentuk hubungan antara dua orang,
dimana seseorang yaitu klien dibantu untuk lebih mampu menyesuaikan
diri secara efektif terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya, hubungan
konseling menggunakan wawancara untuk memperoleh dan memberikan
berbagai informasi, melatih atau mengajar, meningkatkan kematangan,
memberikan bantuan melalui pengambilan keputusan. (ROBINSON,
1986).
8. Menurut Shertzer & Stone, 1974 Konseling adalah interaksi yang
terjadi antara dua orang individu, masing - masing disebut konselor dan
klien, terjadi dalam suasana yang profesional, dilakukan dan dijaga
sebagai alat memudahkan perubahan dalam tingkah laku klien..
Sedangkan menurut Prayitno & Erman Antu, 1999; Konseling ialah
proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling
proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling
oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang sedang mengalami
sesuatu masalah (klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang
dihadapi oleh klien.
9. Jadi, konseling dapat diartikan sebagai interaksi antara dua orang,
dimana salah satunya berperan sebagai konselor yang memberikan
bantuan dan arahan dalam upaya mengatasi permasalahan yang dihadapi
oleh klien.
10.
2. Pengertian Rehabilitasi
11.Rehabilitasi didefinisikan sebagai satu program holistik dan
terpadu atas intervensi-intervensi medis, fisik, psikososial, dan vokasional
yang memberdayakan seorang (individu penyandang disabilitas) untuk
meraih pencapaian pribadi kebermaknaan sosial, dan interaksi efektif yang
fungsional dengan dunia. ( Banja, 1990:615 )
12. Menurut Soewito dalam (Sri Widati, 1984:5) menyatakan bahwa :

Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 3

13.
Rehabilitasi penderita disabilitas merupakan segala daya upaya,
baik dalam bidang kesehatan, sosial, kejiwaan, pendidikan, ekonomi,
maupun bidang lain yang dikoordinir menjadi continous process ,dan yang
bertujuan untuk memulihkan tenaga penderita disabilitas baik jasmaniah
maupun rohaniah, untuk menduduki kembali tempat di masyarakat sebagai
anggota penuh yang swasembada, produktif yang berguna bagi masyarakat
dan negara.
14.
15.
Menurut Peraturan Pemerintah No. 36/1980, tentang usaha
kesejahteraan Sosial Bagi penderita Disabilitas, rehabilitasi didefinisikan
sebagai

suatu

proses

fungsionalisasi

dan

pengembangan

untuk

memungkinkan penderita disabilitas mampu melaksanakan fungsi


sosialnya secara wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Sedangkan
menurut PP No. 72/1991 tentang PLB dan SK Mendikbud No.
0126/U/1994

pada lampiran

1 tentang

landasan,

Program,

dan

Pengembangan Kurikulum Pendidikan Luar Biasa disebutkan bahwa


rehabilitasi merupakan upaya bantuan medik, sosial.Dan keterampilan
yang diberikan kepada peserta didik agar mampu mengikuti pendidikan. 6
Dari definisi tentang rehabilitasi tersebut, ada beberapa hal penting yang
dapat dibahas secara singkat yaitu:
a. Usaha rehabilitasi merupakan proses rangkaian kegiatan yang dilaksanakan
oleh petugas rehabilitasi secara bertahap, berkelanjutan dan terus menerus
sesuai dengan kebutuhan.
b. Sifat kegiatan yang dilakukan oleh petugas rehabilitasi. berupa bantuan.
dengan pengertian setiap usaha rehabilitasi harus selalu berorientasi pada
pemberian kesempatan kepada peserta didik yang dibantu untuk mencoba
melakukan dan memecahkan sendiri masalah-masalah yang disandangnya
(clien centered). Jadi bukan berorientasi pada kemampuan pelaksana atau tim
rehabilitasi (privider centered)
c. Arah kegiatan rehabilitasi adalah refungsionalisasi dan pengembangan.
Refungsionalisasi dimaksudkan bahwa rehabilitasi lebih diarahkan pada
pengembalian

fungsi

dari

kernampuan

peserta

didik,

sedangkan

pengembangan diarahkan untuk menggali/menemukan dan memanfaatkan


kemampuan siswa yang masih ada serta potensi yang dimiliki untuk
memenuhi fungi dari dan fungsi sosial dimana ia hidup dan berada. Baik yang
bersifat kekinian maupun yang akan datang.
Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 4

d. Bidang layanan rehabilitasi, adalah pada aspek medik, sosial, dan


keterampilan
Usaha rehabilitasi di bidang medik, meliputi aspek medik pada umumnya
(sama seperti peserta didik normal) maupun aspek medik yang berkaitan
dengan kedisabilitasan yang disandang, agar menjadi berfungsi dan / atau
mencegah kemungkinan terjadinya akumulasi kedisabilitasan yang lebih
berat.
Usaha rehabilitasi di bidang sosial, mencakup eksistensi diri sebagai
pribadi dan sebagai warga masyarakat. Usaha rehabilitasi, dimaksudkan
sebagai upaya pengembangan bakat, daya inisiatif dan kreativitas,
kemampuan bercitacita.berkarsa dan berkarya. Usaha rehabilitasi juga
dimaksudkan sebagai sarana pendekatan diri, penyesuaian diri dengan
lingkungan, suasana kerjasama. 7 jiwagotong. royong, sikap tenggang
rasa, sikap menghargai orang lain kenal berbagaicorak hubungan antar
personal, ketahanan terhadap keadaan, dan sebagainya.
Usaha rehabilitasi di bidang keterampilan meliputi usaha menanamkan
memupuk, dan mengembangkan keterampilan peserta didik melalui
latihan keterampilan tertentu yang memiliki nilai ekonomis dan produktif
e. Bahwa impacts dari seluruh kegiatan rehabilitasi agar mereka mampu
melaksanakan fungsi: sosial secara wajar dalam kehidupan bermasyarakat
dan mampu mengikuti - pendidikan dengan baik. (dalam Wirawan, Isman.
dkk: 2008;5-7)
16.
3. Konseling Rehabilitasi
17.

Konseling rehabilitasi adalah pendekatan yang dibatasi

waktu dan berorientasi pada outcome untuk membantu individu


penyandang disabilitas, baik dengan hambatan

fisik, mental, dan

emosional guna memperoleh keterampilan dan sumber daya yang


dibutuhkan untuk hidup, belajar, dan bekerja dalam masyarakat (Fabian &
MacDonald-Wilson - dalam Parker et al, 2004). Dalam berbagai macam
setting,

konselor

rehabilitasi

berkolaborasi

dengan

klien

dalam

mengidentifikasi tujuan karir dan vokasionalnya, sumber daya yang


dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut, dan mengidentifikasi
dukungan dan layanan yang tersedia di masyarakat untuk itu.

Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 5

18.

Konseling rehabilitasi adalah suatu proses sistematis yang

membantu orang dengan kedisabilitasan fisik, mental, perkembangan,


kognitif, dan emosi untuk mencapai tujuan personal, karier, dan hidup
mandiri di dalam setting yang seintegrasi mungkin melalui aplikasi dari
proses konseling. Proses konseling melibatkan komunikasi, penentuan
tujuan, dan pertumbuhan atau perubahan ke arah yang lebih baik
melalui self-advocacy,

intervensi

psikologi,

intervensi

vokasional,

intervensi sosial, dan intervensi behavioral. Untuk itu seorang konselor


rehabilitasi perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus serta
sikap yang dibutuhkan untuk berkolaborasi dalam hubungan profesional
dengan penyandang disabilitas.
19.
Istilah konseling rehabilitasi yang dipergunakan dalam
disertasi

ini

merupakan

rehabilitation.

The

terjemahan

Commission

langsung

on

dari

Rehabilitation

counseling
Counselor

Certification (CRCC), Amerika Serikat, sebagaimana dikutip oleh Parker


et al. (2004:4) mendefinisikan counseling rehabilitation sebagai a
systematic process which assists persons with physical, mental,
developmental, cognitive, and emotional disabilities to achieve their
personal, career, and independent living goals in the most integrated
setting possible through the application of the counseling process. The
counseling process involves communication, goal setting, and beneficial
growth or change through self-advocacy, psychological, vocational,
social, and behavioral interventions. (Konseling rehabilitasi adalah suatu
proses sistematis yang membantu penyandang kedisabilitasan fisik,
mental, perkembangan, kognitif, dan emosi untuk mencapai tujuan
personal, karir, dan kehidupan mandiri dalam setting yang seintegrasi
mungkin melalui penerapan proses konseling. Proses konseling tersebut
melibatkan komunikasi, penetapan tujuan, dan pertumbuhan atau
perubahan ke arah yang lebih baik melalui self-advocacy, intervensi
psikologis, intervensi vokasional, intervensi sosial, dan intervensi
behavioral).
20.
Rehabilitation

Sejalan

dengan

Counseling

pengertian

Consortium,

itu,
sebuah

The

International

kelompok

yang

Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 6

beranggotakan beberapa organisasi profesi yang terkait dengan konseling


rehabilitasi

(Virginia

Commonwealth

University

Department

of

Rehabilitation Counseling, 2005), mendefinisikan konselor rehabilitasi


sebagai berikut: A rehabilitation counselor is a counselor who possesses
the specialized knowledge, skills and attitudes needed to collaborate in a
professional relationship with people who have disabilities to achieve
their personal, social, psychological and vocational goals. (Konselor
rehabilitasi adalah konselor yang memiliki pengetahuan dan keterampilan
yang terspesialisasi serta memiliki sikap yang dibutuhkan untuk
berkolaborasi dalam hubungan profesional dengan individu yang
menyandang kedisabilitasan untuk mencapai tujuan personal, sosial,
psikologis dan vokasionalnya).
21.
Di samping itu, Szymanski (Parker et al., 2004:4)
mendefinisikan rehabilitation counseling sebagai "a profession that assists
individuals with disabilities in adapting to the environment, assists
environments in accommodating the needs of the individual, and works
toward full participation of persons with disabilities in all aspects of
society, especially work." (Konseling rehabilitasi adalah sebuah profesi
yang membantu individu penyandang disabilitas dalam beradaptasi dengan
lingkungan, dan membantu lingkungan dalam mengakomodasi kebutuhan
individu tersebut, dan mengupayakan partisipasi penuh penyandang
disabilitas dalam segala aspek kehidupan masyarakat, terutama dalam
pekerjaan).
22.

Definisi-definisi

tersebut

mencerminkan

perbedaan

pendekatan terhadap kedisabilitasan, yaitu pendekatan individual dan


pendekatan lingkungan/sosial. Akan tetapi, kedua pendekatan tersebut ada
dalam praktek profesional konseling rehabilitasi saat ini (Parker et al.,
2004).
23.

Konseling

rehabilitasi

adalah

sebuah

profesi

yang

menerapkan proses konseling untuk membantu individu penyandang


disabilitas dalam beradaptasi dengan lingkungan, dan membantu
lingkungan dalam mengakomodasi kebutuhan individu tersebut agar dapat
mencapai tujuan personal, vokasional, dan kehidupan yang mandiri, dan

Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 7

mampu berpartisipasi penuh dalam segala aspek kehidupan masyarakat.


(dalam Tarsidi, Didi. Definisi dan ruang Lingkup Praktek Konseling
Rehabilitasi.)
24.
Prinsip

dasar

profesi

konseling

rehabilitasi

adalah

membantu individu penyandang kedisabilitasan fisik, mental, kognitif


dan/atau sensori agar menjadi atau tetap menjadi warga masyarakat yang
mandiri dan produktif dalam lingkungan masyarakat pilihannya sendiri.
Konselor membantu penyandang disabilitas merespon secara konstruktif
terhadap berbagai tantangan masyarakat, merencanakan karir, dan
mendapatkan atau mempertahankan pekerjaan yang memberi kepuasan
(The Virginia Commonwealth University Department of Rehabilitation
Counseling, 2005).
25.
Pengetahuan khusus tentang kedisabilitasan dan faktorfaktor lingkungan yang berinteraksi dengan kedisabilitasan, serta berbagai
pengetahuan dan keterampilan lain di samping konseling, membedakan
konselor rehabilitasi dari jenis-jenis konselor lainnya (Parker et al, 2004).
4. Konselor Rehabilitasi
26.

The International Rehabilitation Counseling Consortium

mendefinisikan konseling rehabilitasi sebagai berikut: A rehabilitation


counselor is a counselor who possesses the specialized knowledge, skills
and attitudes needed to collaborate in a professional relationship with
people who have disabilities to achieve their personal, social,
psychological

and

vocational

goals.

(Virginia

Commonwealth

University Department of Rehabilitation Counseling, 2005). [Konselor


Rehabilitasi adalah suatu profesi yang memiliki pengetahuan, ketrampilan
dan sikap khusus yang diperlukan untuk bekerja sama (berkolaborasi)
dalam suatu hubungan profesional dengan orang-orang yang menyandang
kedisabilitasan untuk mencapai tujuan personal, sosial, psikologis dan
vokasional] A profession that assists persons with disabilities in adapting
to the environment, assists in accommodating the needs of the individual
and works toward full participation of persons with disabilities in all
aspects of society, especially work (Szymanski & Danek, 1985) [Suatu
profesi yang membantu orang - orang dengan kedisabilitasan dalam

Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 8

beradaptasi dengan lingkungan, membantu dalam mengakomodasi


kebutuhan individu tersebut, dan mengupayakan partisipasi penuh
penyandang disabilitas dalam sgala aspek kehidupan masyarakat, terutama
dalam pekerjaan.]
27.
Konselor

Rehabilitasi

bertugas

membantu

individu

penyandang disabilitas dengan memaksimalkan potensi dan kemandirian


mereka. Mereka bekerja dengan individu yang memiliki barbagai
hambatan fisik, mental dan emosional. Mereka membantu individu yang
menyandang kedisabilitasan pada vokasional, hidup mandiri dan
pengejaran bidang pendidikan.
B. Sasaran Konseling Rehabilitasi
28. Sasaran dalam Konseling Rehabilitasi meliputi:
1. Physical disabilities
29.
Orang yang mengalami hambatan/ kedisabilitasan fisik (Tuna
daksa) sehingga mengalami gangguan pada koordinasi gerak. Contoh :
cerebral Palsy
2. Sensory disabilities
30.
Orang yang mengalami hambatan/ kedisabilitasan sensori seperti
pengelihatan atau pendengaran.
3. Developmental disabilities
31.
Orang yang mengalami

hambatan/

perkembangannya, contoh: Retardasi Mental


4. Cognitive disabilities
32.
Orang yang mengalami hambatan/

kedisabilitasan

kedisabilitasan

dalam

pada

kognitifnya.
5. Emotional disabilities
33.
Orang yang mengalami hambatan, gangguan/ kedisabilitasan pada
emosinya.
6. Chronic illness (Penderita / mantan penderita penyakit kronis)
34.

Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 9

35.
C. Peran, Fungsi dan Ruang Lingkup Konseling Rehabilitasi
36.

Konselor dapat bekerja dalam seting yang berbeda - beda

contohnya di sekolah atau perusahaan. Meskipun begitu, dengan tanpa


melihat situasi lapangan kerja mereka, konselor rehabilitasi harus mampu :
1. mengkaji kebutuhannya individu
2. mengembangkan program atau rencana untuk memenuhi kebutuhan yang ada
3. menyediakan atau merancang pelayanan, yang mungkin meliputi penempatan
kerja dan pelayanan tindak lanjut.
37.

Keterampilan konseling adalah suatu komponen kritis dari

semua aktivitas berikut ini. Meskipun tidak terbatas hanya pada wilayah
berikut, CRCC mendaftar ruang lingkup praktek konselor rehabilitasi
sebagai berikut :
1. Assessment dan appraisal (pengukuran);
2. Diagnosis dan rencana treatment; Konseling karir (vokasional);
3. Intervensi treatment konseling individual dan kelompok yang berpusat pada
memfasilitasi penyesuaian diri klien pada dampak medis dan dampak
psychosocial kedisabilitasan ;
4. Manajemen kasus, rujukan, dan koordinasi pelayanan;
5. Evaluasi program dan Penelitian;
6. Intervensi untuk merubah lingkungan, ketenaga-kerjaan, dan penghalang
sikap;
7. Jasa konsultasi antara berbagai pihak dan para pembuat kebijakan ;
8. Analisis pekerjaan, pengembangan pekerjaan, dan penempatan, termasuk
mengakomodasi individu untuk memenuhi tuntutan pekerjaan ;
9. dan Memberikan konsultasi mengenai dan mengakses teknologi rehabilitasi
38.

Profesi Konselor Rehabilitasi telah meningkat dari awal

sejarahnya sebagai satu pekerjaan yang praktek hanya pada setting yang
terbatas sampai akhirnya saat ini dimana statusnya menjadi sebuah profesi
yang praktek di berbagai setting yang berbeda dengan berbagai sasaran
individu yang jangkauannya luas. Disarankan bahwa hakekat dari konselor
rehabilitasi profesional adalah yang memiliki rasa yang kuat terhadap
identitas keprofesionalannya, memiliki kemampuan untuk berfungsi pada
keadaan

yang

membingungkan,

kemampuan

untuk

melakukan

pertimbangan dan mengambil keputusan di kondisi yang tidak selalu ideal

Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 10

(dimana konselor memiliki informasi yang cukup / lengkap), kemampuan


untuk berhubungan baik dengan orang-orang dengan kepedulian dan
empati, namun mampu untuk menyatakan diri mereka sendiri sebagai
konselor yang efektif. Karakteristik ini penting di berbagai konteks dimana
koselor rehabilitasi bekerja.
39.
Bidang dan ruang lingkup konseling rehabilitasi
40.
41.

Bidang

42.

Ruang Lingkup

43.

Outcome

Praktek
74.
Perencanaan karier
99.
Bekerja
da
75.
Penentuan sasaran
Mendapat Gaji di dala
76.
Perencanaan asesmen
suatu lapangan kerja
vokasional
100.
77.
Pengembangan
101.
pekerjaan
102.
78.
Pelatihan penempatan 103.
104.
pekerjaan
Jasa
pelatihan
105.
Pendidikan
keterampilan
106.
79.
107. Didapatnya
80.
Mengembangkan
pengetahuan, keterampila
akomodasi
pekerjaan
dan surat kepercayaan
Penentuan sasaran
108.
81.
Penilaian akademis
109.
82.
Perencanaan peralihan, 110.
111.
keterampilan hidup
112.
83.
Pendidikan konseling
113.
karir
114.
Hidup Bermasyarakat 84.
Pelatihan keterampilan
115.
85.
Mengembangkan
116. Keterlibatan dala
Akademis
86.
komunitas
Integra
87.
Asesmen ekologis
Pemberdayaan
88.
Asesmen fungsional
117.
89.
Pelatihan keterampilan
Entitlements
118.
Koordinasi
sumber
daya 119.
(Pemberian Hak menurut
120.
Advokasi
Hukum)
and
Pelayanan
121. Kebutuhan
das
90.
Kesehatan
91.
akan makanan, berlindun
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
66.
67.
68.
69.
70.
71.
72.
73.

Karir dan Pekerjaan

Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 11

92.
93.
94.
95.

Asesmen ekologis
dan
Bertahan
Hidu
Asesmen fungsional
Meningkatkan kesehatan
Pelatihan keterampilan
Koordinasi
sumber

daya
96.

Advokasi

Asesmen

pemenuhan syarat keuntungan


perencanaani
97.
Advokasi Manajemen
sumber

daya

Hidup
98.
Evaluasi

Perencanaan
bebas

tak

terikat Perlindungan hak hak


122.
123.
D. Implementasi

Konseling

Rehabilitasi

terhadap

Konseling

Anak

Berkebutuhan Khusus
124. Selama sejarah perkembanganya, konseling rehabilitasi telah
memperluas ruang lingkup prakteknya, memasukkan sejumlah seting baru,
bekerja dengan bermacam-macam profesional, dan mengangkat isu
pemberdayaan dan pilihan dalam proses rehabilitasi. Namun demikian,
bidang ini tetap berakar pada filosofi yang mendukung kesempatan dan
integrasi bagi individu penyandang disabilitas. Dalam hal ini, konselor
rehabilitasi diharapkan selalu bekerjasama dengan klien dan asosiasi profesi
lain dalam mengadvokasi untuk hak-hak individu penyandang disabilitas.
125. Secara umum, ruang lingkup praktek konselor rehabilitasi adalah
membantu individu penyandang disabilitas mencapai tujuan personal, karir
dan kemandirian hidupnya dalam setting yang seintegrasi mungkin (CRCC
dalam Parker et al., 2004). Untuk itu, konselor rehabilitasi menggunakan
berbagai metode dan teknik.
126. The Virginia Commonwealth

University

Department

of

Rehabilitation Counseling (2005) menggariskan bahwa peran konselor


rehabilitasi mencakup:
1. Mengevaluasi potensi individu untuk hidup mandiri dan bekerja;
2. Mengatur pelaksanaan perawatan medis dan psikologis, asesmen
vokasional, pelatihan dan penempatan kerja;

Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 12

3. Mewawancarai

dan

mengadvis

individu,

menggunakan

prosedur

asesmen, mengevaluasi laporan medis dan psikologis, dan berkonsultasi


dengan anggota keluarga;
4. Berunding dengan dokter, psikolog dan profesional lain tentang jenisjenis pekerjaan yang dapat dilakukan individu;
5. Merekomendasikan layanan rehabilitasi yang tepat termasuk pelatihan
khusus untuk membantu individu penyandang disabilitas menjadi lebih
mandiri dan lebih siap kerja;
6. Bekerjasama dengan pengusaha

untuk

mengidentifikasi

dan/atau

memodifikasi kesempatan kerja dan jenis pelatihan yang memungkinkan;


dan
7. Bekerjasama dengan individu, organisasi profesi dan kelompokkelompok advokasi untuk membahas berbagai hambatan lingkungan dan
sosial yang menciptakan halangan bagi para penyandang disabilitas.
127.

Kedisabilitasan merupakan bagian alami dari eksistensi manusia

(Smart & Smart, 2006), dan jumlahnya terus meningkat. Berkat kemajuan
ilmu kedokteran dan teknologi, ketersediaan asuransi kesehatan yang lebih
luas, dan standar kehidupan yang pada umumnya lebih tinggi yang
memberikan lebih banyak pelayanan dan dukungan, orang yang di masa
lampau akan meninggal, kini dapat bertahan hidup dengan kedisabilitasan.
Perserikatan Bangsa-bangsa memperkirakan te Enable, 2006). Oleh karena
itu, peranan konseling rehabilitasi menjadi semakin penting. Terdapat 500 juta
penyandang disabilitas di seluruh dunia. Di kebanyakan Negara, sekurangkurangnya

satu

dari

setiap

sepuluh

orang

penduduk

menyandang

kedisabilitasan fisik, mental atau sensori, dan dalam semua segmen populasi,
sekurang-kurangnya 25 persen terpengaruh oleh adanya kedisabilitasan.
128. Konselor Rehabilitasi merupakan sebuah profesi yang bergerak
untuk membantu orang orang yang memiliki hambatan baik fisik, sensori,
perkembangan, social, dan emosi sehingga pada akhirnya mereka dapat hidup
mandiri di Masyarakat. Dari kesimpulan tersebut, terlihat bahwa Anak
Berkebutuhan Khusus adalah termasuk pada sasaran dari konseling
rehabilitasi ini. Untuk Anak Berkebutuhan Khusus, seting Konseling
Rehabilitasi lebih tepat diterapkan di Sekolah, meskipun begitu garapannya
tidak hanya pada bidang Pendidikan, Tetapi pada setiap bidang yang memang

Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 13

menjadi cakupan seorang konselor rehabilitasi. Pada Bidang Karir dan


Pekerjaan, meskipun di sekolah, orientasi mengenai bidang itu tentu sudah
diperlukan, contohnya untuk perencanaan karier. Sesuai dengan usianya yaitu
untuk menentukan Jurusan yang akan dipilih di Perguruan Tinggi. Dalam hal
ini ABK akan memerlukan gambaran gambaran mengenai jurusan dan
bidang pekerjaan yang ada dan sesuai dengan dirinya sendiri sehingga ia
mampumengembangkan diri. Pada Bidang Pendidikan, tentu sangat
diperlukan karena Konseling Rehabilitasi ini juga bergerak dalam Seting
Sekolah. Konseling ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan
keterampilan dan penilaian akademis. Dalam Hidup Bermasyarakat, konseling
ini akan membantu agar ABK mampu hidup didalam masyarakat, karena pada
hakekatnya tujuan dari Seluruh bantuan ini adalah agar ABK mampu hidup
mandiri dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya (masyarakat).
Entitlements (Pemberian Hak menurut Hukum) and Pelayanan Kesehatan, hal
ini diperlukan agar ABK benar benar mengerti akan hak hak yang
sebenarnya ia miliki. Dan agar ABK tidak merasa memiliki hak yang
dibedakan dengan perbedaan yang dimilikinya. Hak hak yang ia miliki di
kehidupan juga dilindungi di sini, serta disediakan Pelayanan kesehatan yang
tentunya untuk meningkatkan atau menjaga kesehatan ABK
129. Sasaran dari Konseling Rehabilitasi adalah orang-orang yang
memiliki hambatan diatas yaitu seperti Tunanetra, Tunarungu, Tunagrahita,
Tunadaksa, Tunalaras, dan lain sebagainya. Dengan tujuan tersebut diatas,
maka seorang konselor Rehabilitasi sebaiknya memiliki kemampuan untuk :
1. mengkaji kebutuhan individu
2. mengembangkan program atau rencana untuk memenuhi kebutuhan yang
ada
3. menyediakan atau merancang pelayanan, yang mungkin meliputi
penempatan kerja dan pelayanan tindak lanjut.
130.

Konselor rehabilitasi juga sebaiknya memiliki kemampuan untuk

berfungsi pada keadaan yang membingungkan, kemampuan untuk melakukan


pertimbangan dan mengambil keputusan di kondisi yang tidak selalu ideal
(dimana konselor memiliki informasi yang cukup / lengkap), kemampuan dari

Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 14

berhubungan baik dengan orang-orang dengan kepedulian dan empati, namun


mampu untuk menyatakan diri mereka sendiri sebagai konselor yang efektif.
131. Konseling Rehabilitasi memiliki bidang garapan yang cukup luas
yaitu, Bidang karir dan pekerjaan, bidang pendidikan, Hidup Bermasyarakat,
pemberian Hak menurut Hukum dan Layanan Kesehatan. Yang paling penting
adalah bagaimana membantu orang-orang yang mengalami hambatan
mengurangi kesulitan emosional dan meningkatkan penyesuaian diri dalam
satu kondisi.
A. Strategi Klinis dalam Konseling Rehabilitasi Sosial
132. Beberapa pendekatan klinis dalam konseling rehabilitasi adalah:
1. Intervensi Psikodinamic
133. Tujuan penting dari strategi ini yang diaplikasikan untuk
orang-orang yang memiliki hambatan:
a) Eksplorasi arti pribadi (personal meaning) terhadap
penyandang cacat. Biasanya memiliki tujuan yang terfokus
pada issu mengenai kehilangan, kesedihan, dan menenukan
arti hidup dengan hambatan yang dimiliki.
b) Penerimaan perubahan kesan tubuh, yang bertujuan agar
secara bertahap memiliki kesadaran mengenai kesan tubuh
sehingga mengurangi rasa penyangkalan atau tidak menerima
dan kesadaran atas berkurangnya suatu fungsi yang dimiliki
(fisik dan sensori) tetapi tidak pada kapasitas untuk kognitif
dan sosial.
c) Integrasi konsep diri. Sebagai suatu konsekuensi perubahan
kesan tubuh, orang yang memiliki hambatan harus secara
berangsur-angsur mengintegrasikan hakikat dan posisinya
yang tidak berubah lagi dan mulai menyususn kembali
konsep diri, yang mencerminkan membangun kembali nilai
diri dan suatu keyakinan pada aset dan potensi diri yang
masih dimiliki.
2. Coping Skill Training
134. Strategi ini mengajarkan personal dan interpersonal coping
skill, yang meliputi:
a) Keterampilan hidup untuk membantu klien menghadapi
hari-hari yang berat. Hal ini dipandang sebagai suatu
prasyarat kesuksesan beradaptasi, yaitu seringnya melatih
keterampilan untuk penguasaan ketegasan, komunikasi
interpersonal, pemecahan masalah, pembuatan keputusan,
penyesuaian vokasional.
b) Mengidentifikasi dan memahami dampak negatif dari
keyakinan yang tidak logis. Tujuan utama dari program ini
adalah membantu klien agar menjadi sadar dan dapat
melawan pikiran-pikiran tidak logis apapun yang
berhubungan dengan kepercayaan yang menyamakan
penyandang cacat dengan satu status dari ketidakberdayaan,
Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 15

keputusasaan,
ketidakmampuan,
ketergantungan
dan
kegagalan.
c) Ketetapan dengan keterangan medis. Pendekatan ini
memberikan pengetahuan yang berguna kepada klien sekitar
kondisi mereka. Konsumen diberikan kesempatan untuk
mendapatkan keterangan akutar dan relevan sekitar kondisi
medis mereka, meliputi: status saaat ini, antisipasi, dan
beberapa implikasi sebagai upaya mengurangi rasa bimbang,
deprasi, dan penolakan terhadap keadaan dirinya sekarang.
3. Supportive Group dan Family Treatment
135. Pendekatan ini menawarkan kesempatan bagi partisipan
untuk memperoleh pengertian mendalam ke berbagai dorongan dan
sumber kekuatan pribadi. Tiga tujuan utama konseling kelompok
ini adalah afektif, kognitif dan tingkah laku:
136. a) Tujuan afektif. Secara spesifik bergerak ke arah:
memberikan kesempatan bagi partisipan untuk pembersihan
emosional; mengijinkan partisipan menerima dukungan
emosional; mengurangi kebimbangan dan ketakutan dari
ketidakyakinan terhadap masa depan; membantu anggota
kelompok untuk menyadari bahwa mereka tidak sendiri;
membantu partisipan secara spiritual atas issu yang ada.
137. b) Tujuan kognitif. Arahnya adalah merubah kesalahan
persepsi partisipan tentang kondisi mereka, seperti
meningkatkan pemahaman, pilihan rehabilitasi dan treatmen,
dan implikasi terhadap masa depannya. Secara khusus
tujuannya adalah: membantu anggota dalam meningkatkan
penerimaan diri dan harga diri, membantu anggota menjajal
dan mengjadapi kenyataan secara lebih akurat, menyediakan
partisipan keterangan terbaru dan menyeluruh, dan
meningkatkan pandangan pribadi.
138. c) Tujuan behavioral. Berfokus kepada mengurangi
tingkah laku nonadaptive partisipan dan menggantinya
dengan yang adaptif. Pendekatan ini menekankan pada:
membantu anggota kelompok mengatasi keetrgantungan dan
penarikan diri dari masyarakatarakat, menyediakan
lingkungan yang aman dimana klien secara berangsur-angsur
dengan dukungan kelompok berlatih dan mempraktekkan
keteampilan yang baru dipelajari, meningkatkan ubungan
komunikasi interpersonal meningkatkan daftar perilaku
adaptif partisipan.
139.
B. Model-Model dalam Konseling Rehabilitasi Sosial
140. Secara umum modelmodel dalam rehabilitasi social mencakup hal
sebagai berikut :

Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 16

1. Rehabilitasi sosial dipandang sebagai segenap upaya


ditujukan untuk mengintegrasikan penyandang masalah ke
dalam
kehidupan
masyarakatarakat
dengam
cara
membantunya menyesuaikan diri dengan keluarga,
komunitas dan pekerjaan.
2. Penyandang masalah dapat berintegrasi dengan masyarakat
apabila ia memiliki kemampuan fisik, mental dan sosial
serta diberikan kesempatan unttuk berperan dan
berpartisipasi.
3. Rehabilitasi sosial merupakan kegiatan pelayanan sosial
secara utuh dan terpadu melalui pendekatan fisik, mental,
dan sosial agar penyandang masalah dpt melaksanakan
fungsi sosialnya secara optimal.
141.
142.
143.
144.
145.
Sedangkan untuk model pelayanan dalam rehabilitasi social adalah
sebagai berikut:
1. Institutional Based Rehabilitation (IBR), suatu sistem pelayanan rehabilitasi
sosial dengan menempatkan penyandang masalah dalam suatu institusi
tertentu.
2. Extra-institusional Based Rehabilitation, suatu sistem pelayanan dengan
menempatkan penyandang masalah pada keluarga dan masyarakat
3. Community Based Rehabilitation (CBR), suatu model tindakan yang
dilakukan pada tingkatan masyarakat dengan membangkitkan kesadaran
masyarakat dengan menggunakan sumber daya dan potensi yang dimilikinya.
146.
147. Untuk mencapai hal hal diatas, maka seorang konselor dalam praktik
pelaksanaan akan membutuhkan metode intervensi dalam layanan. Adapun
model model intervensi dalam konseling dapat menggunakan model model
sebagai berikut:
1. Behavior Therapy, berisikan penarapan secara sistematis prinsip-prinsip teori
belajar untuk tujuan perubahan tingkah laku yg sifatnya menyembuhkan.
Unsur-unsur tersebut yaitu:
a)
Inventarisasi permasalahan klien
b)
Penciptaan kontrak
c)
Perincian masalah
d)
Penentuan data
e)
Penguatan
f)Penentuan tujuan perubahan
g)
Penyembuhan
148.
2. Reality therapy. Tujuan dari terapi ini yaitu membantu orang untuk
menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar dalam
cara yang dapat diterima secara sosial. Penyembuhan kenyataan memberikan
suatu sarana seseorang dapat belajar hal sebagai berikut:
a)
Menghadapi kenyataan dan menerima tanggung jawab

Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 17

1.

2.

3.

4.

sehubungan tingkah lakunya.


b)
Tanggung jawab diartikan sebagai kemampuan memenuhi
kebutuhan sendiri tanpa mengganggu orang lain.
c)
Membedakan diantara yang benar dan yang salah.
149.
150.
Selain model intervensi diatas konselor juga dapat menggunakan
model intervensi yang lain seperti pendekatan person center teraphy, trait
factor teraphy ataupun jenis teraphy lain yang dikuasai oleh seorang
konselor rehabitasi. Selain pendekatan intervensi, dalam konseling
rehabilitasi social juga dapat menggunakan hal hal berikut:
Activity Group Therapy
151.
Tujuannya yaitu memberikan kepada klien suatu kesempatan untuk
mengembangkan dan memperbaiki relasi dengan menciptakan wadah untuk
menyalurkan ketegangan, kecemasan, secara spontan melakukan tindakan
berdasarkan perasaan-perasaan di hadapan teman-temannya. Lingkungan
kelompok ini diatur untuk memberikan kepuasan pengganti, memberikan
saluran terhadap agresi, mengembangkan harga diri, menghilangkan hambatan
untuk berekspresi, dan membentuk sikap menahan diri di hadapan orang lain.
Group Counseling
152.
Fungsi Konseling kelompok yaitu mendorong para anggota
kelompok untuk saling memberikan bantuan untuk pemecahan masalah secara
bersama.
Guided Group Interaction.
153.
Merupakan suatu metoda pengalihan nilai-nilai dan tujuan. Tehnik
interaksi kelompok secara terbimbing dilandasi oleh asumsi mengenai fungsifungsi kelompok remaja. Kelompok sebaya bertindak (1) sebagai sarana
penguat penanaman nilai-nilai sosial yang positif, (2) memaksakan kesamaan
norma-norma kelompok, (3) memberikan status dan identifikasi jenis kelamin
kepada kelompok.
Play therapy
154.
Play therapy yaitu suatu terapi dengan menggunakan situasi
permainan anak-anak sebagai sarana maupun sasaran perubahan tingkah laku.
Pekerja sosial dapat menggunakan kegiatan yang sama sekali tidak terarah
sampai pada yang terstruktur. Pekerja sosial dapat menggunakan pertemuanpertemuan permainan untuk tujuan diagnostik guna mengobservasi hal-hal
seperti relasi-relasi, lingkup perhatian, minat anak, arah agresi, fantasi,
persepsi terhadap diri sendiri.

Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 18

155.
156.

BAB III
PENUTUP

C. Kesimpulan
157.

Konseling rehabilitasi adalah suatu proses sistematis yang

membantu orang dengan kedisabilitasan fisik, mental, perkembangan,


kognitif, dan emosi untuk mencapai tujuan personal, karier, dan hidup
mandiri di dalam setting yang seintegrasi mungkin melalui aplikasi dari
proses konseling. Proses konseling melibatkan komunikasi, penentuan
tujuan, dan pertumbuhan atau perubahan ke arah yang lebih baik
melalui self-advocacy,

intervensi

psikologi,

intervensi

vokasional,

intervensi sosial, dan intervensi behavioral.


158.
Sasaran dalam Konseling Rehabilitasi adalah Physical
disabilities. Sensory disabilities, Developmental disabilities, Cognitive
disabilities, Emotional disabilities , dan Chronic illness (Penderita /
mantan penderita penyakit kronis). Adapun peran dan fungsi dari konselor
rehabilitasi ialah sebagai: (1) mengkaji kebutuhannya individu; (2)
mengembangkan program atau rencana untuk memenuhi kebutuhan yang
ada ; (3) menyediakan atau merancang pelayanan, yang mungkin meliputi
penempatan kerja dan pelayanan tindak lanjut. Sedangkan ruang lingkup
dari konseling rehabilitasi mencakup proses berkelanjutan yang dimulai
dari asesmen sebagai pengukuran hingga menganalisis pekerjaan,
pengembangan pekerjaan, dan penempatan, termasuk mengakomodasi
individu untuk memenuhi tuntutan pekerjaan dan memberikan konsultasi
mengenai dan mengakses teknologi rehabilitasi.
159.
Pada implementasinya terhadap

Anak

Berkebutuhan

Khusus, konseling rehabilitasi ini mencakup pada pengembangan


psikologis dengan peningkatan kepercayaan diri dan aspek sosial untuk
mendukung dalam segi vokasional sehingga penyandang disabilitas
mampu mencapai tujuannya untuk dapat hidup mandiri.
160.

Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 19

D. Saran
161.

Sebagai tenaga pendidikan di bidang pendidikan khusus,

sudah semestinya memiliki keahlian atau minimal sebatas pemahaman


mendalam dalam bidang konseling rehabilitasi yang dapat berguna dalam
praktek konseling pada Anak Berkebutuhan Khusus di lapangan.

Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 20

162.

DAFTAR PUSTAKA

163.Eukaristia. Konsep Konseling Rehabilitasi.. 2012.


http://animenekoi.blogspot.co.id/2012/06/konsep-konseling-rehabilitasi2.html [diakses pada 1 Mei 2016, 12.30.]
164.F, Indah. Pengertian dan Definisi Konseling
https://carapedia.com/pengertian_definisi_konseling_info2089.html [diakses
pada 12 Februari 2016, 16.00]
165.Istiningtyas,

Rian.

Pengertian

Rehabilitasi.

2012.

http://rian-

plbuns2012.blogspot.co.id/2012/10/pengertian-rehabilitasi.html [diakses pada


12 Februari 2016, 16.11]
166.Tarsidi, Didi. Definisi dan Ruang Lingkup Praktek Konseling Rehabilitasi.
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195106011979
031DIDI_TARSIDI/Makalah&Artikel_Tarsidi_PLB/Definisi_dan_Ruang_Lingk
up_Praktek_Konseling_Rehabilitasi.pdf [diakses pada 12 Februari 2016,
16:25]
167.Tarsidi, Didi. Model Konseling Rehabilitasi bagi Individu Tunanetra
Dewasa.

2010.

http://jasianakku-sampel.blogspot.co.id/2010/04/model-

konseling-rehabilitasi-bagi.html [diakses pada 1 Mei 2016.]


168.Wirawan,

Isman

dkk.

Konseling

Rehabilitasi.

2008.

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195505161981
011MUSYAFAK_ASSYARI/Konseling_ABK/konseling_rehabilitasi/konseling_r
ehabilitasi_Izman.pdf [diakses pada 12 Februari 2016, 16:33]
169.
170.

171.
172.
173.
174.
175.
Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 21

176.
177.
178.

Konseling Anak Berkebutuhan Khusus | 22