Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh protozoa (Plasmodium)
yang ditransmisikan melalui gigitan nyamuk Anophelesyang banyak terjadi pada
negara tropis dan subtropis seperti Afrika, Amerika Latin dan Asia (Nicholas,
2007).Umumnya tempat-tempat yang rawan malaria terdapat pada Negara-negara
berkembang dimana tidak memiliki tempat penampungan atau pembuangan air yang
cukup, sehingga menyebabkan air menggenang dandapat dijadikan sebagai tempat
ideal nyamuk untuk bertelur. Malaria disebabkan oleh parasit dari genus plasmodium.
Ada empat jenis plasmodium yang dapat menyebabkan malaria, yaitu plasmodium
falciparum dengan masa inkubasi 7-14 hari, plasmodium vivax dengan masa inkubasi
8-14 hari, plasmodium oval dengan masa inkubasi 8-14 hari, dan plasmodium malaria
dengan masa inkubasi 7-30 hari. Parasit-parasit tersebut ditularkan pada manusia
melalui gigitan seekor nyamuk dari genus anopheles. Gejala yang ditimbulkan antara
lain adalah demam, anemia, panas dingin, dan keringat dingin. Untuk mendiagnosa
seseorang menderita malaria adalah dengan memeriksa ada tidaknya plasmodium
pada sampel darah. Namun yang seringkali ditemui dalam kasus penyakit malaria
adalah plasmodium falciparum dan plasmodium vivax.
Kejadian malaria di dunia meningkat dari 233 juta pada tahun 2000menjadi
244 juta pada tahun 2005 (WHO, 2010).Penyakit malaria masih merupakan salah satu
masalah kesehatan yang dapat menyebabkan kematian terutama pada kelompok
resiko tinggi, diperkirakan pada 2009 dari 225 juta kasus malaria di seluruh dunia
781.000 diantaranya berakhir dengan kematian. Nyamuk dengan Plasmodium ini
tersebar luas di belahan dunia khususnya daerah tropis dan sub-tropis seperti sebagian
besar daerah Amerika Selatan, Sub-Sahara Afrika dan Asia. Indonesia merupakan
salah satu daerah tropis pada 2008 terdapat 2,47 per 1000 penduduk kasus malaria,
turun menjadi 1,85 per 1000 penduduk pada 2009 (Depkes RI, 2011).
Kejadian malaria di Indonesia menyebar merata di seluruh daerah dengan
prevalensi rata-rata sebesar 10,6% pada tahun 2010. Prevalensi tertinggi kejadian
malaria terjadi di Papua Barat (33,8%) dan terendah di Bali (4,6%). Populasi
terbanyak penderita malariaterjadi pada kelompok usia 1 sampai 4 tahun (23,9%) dan
pada jenis kelamin lakilaki (24,9%) (Riskesdas, 2010).
1

Angka kesakitan malaria di Kalimantan Barat pada 2010 mencapai 16,4 per
1.000 penduduk, dapat diartikan dari 1.000 penduduk terdapat 16,4 orang terjangkit
malaria. Bila dibandingkan dengan rencana strategis Kementrian Kesehatan 20102011, penderita positif malaria (API) pada tahun 2014 harus diturunkan menjadi 1 per
1.000 penduduk, maka angka kesakitan disebabkan nyamuk malaria di Kalimantan
Barat masih sangat tinggi. Kabupaten Ketapang pada 2009 menempati urutan pertama
dengan 24.203 penderita malaria klinis, 14.863 orang yang diperiksa sedian darahnya
terdapat 12.368 orang positif malaria (Dinkes. Prop. Kalbar, 2010).
Pemberantasan malaria menjadi salah satu sasaran

Millenium

DevelopmentGoals (MDGs) tahun 2015 mengingat tingginya penyebaran dan angka


kematian akibat malaria (Ahmadi, 2003). Oleh karena itu, pemerintah melakukan
upaya-upaya untuk memberantas dan meningkatkan kesembuhan malaria yaitu
denganmeningkatkan perlindungan perorangan misalnya dengan memakai kelambu
berinsektisida, repellent dan obat nyamuk bakar, optimalisasi pemanfaatan fasilitas
kesehatan, penegakan diagnosis dini serta pengobatan secara adekuat dengan obat
antimalaria (Riskesdas, 2010).
Berdasarkan paparan diatas maka penulis sekaligus sebagai tenaga kesehatan
yang akan membuat asuhan keperawatan langsung dengan klien malaria akan
menjelaskan asuhan keperawatan yang tepat serta etika keperawatan dalam pemberian
asuhan kepada klien malaria di makalah ini.

2. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, terdapat beberapa rumusan masalah yang
akan dibahas pada makalah ini.
1. Bagaimana proses pengkajian klien dengan malaria ?
2. Bagaimana proses diagnosa klien dengan malaria?
3. Bagaimana proses intervensi klien dengan malaria?
4. Bagaimana karakteristik etik keperawatan klien dengan malaria?

3. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisannya adalah:
1.
Mengetahui dan menjelaskan proses pengkajian klien dengan malaria.
2.
Mengetahui dan menjelaskan proses diagnosa klien dengan malaria.
3.
Mengetahui dan menjelaskan proses intervensi klien dengan malaria.
4.
Mengetahui dan menjelaskan karakteristik etik keperawatan klien dengan
malaria.
2

BAB II
PEMBAHASAN
A. Asuhan Keperawatan
1.
Pengkajian
Pada pengkajian dilakukan wawancara dan pemeriksaan laboratorium
untuk memperoleh informasi dan data yang nantinya akan digunakan sebagai
dasar untuk membuat rencana asuhan keperawatan klien.
a IDENTITAS
1 Identitas Klien
Nama
Usia
Jenis Kelamin
3

Agama
Suku/ Bangsa
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat asal
No. RM (Nomor Rekam Medik)
Tanggal Masuk
Tanggal Pengkajian
Diagnosa Medik
Golongan Darah
Penanggung Jawab & Biaya, seperti, asuransi, BPJS (Badan
Pelayanan Jaminan Sosial) dan umum
2 Identitas Penanggung Jawab
Nama
Usia
Jenis Kelamin
Agama
Suku/ Bangsa
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat Asal
Hubungan dengan Klien

KELUHAN UTAMA.
Demam,
Menggigil,
Berkeringat dan dapat disertai sakit kepala,
Mual dan muntah,
Diare,
Nyeri otot dan pegal-pegal.
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG.
a. Demam
Demam khas malaria terdiari atas 3 satdium
Menggigil (15 menit- 1 jam)
Puncak demam (2-6 jam)
Berkeringat (2-4 jam)
b. Kejang-kejang
Pasien atau penderita malaria akan mengalami kejang-kejang karena
suhu yang tinggi (40-410C)
c. Anemia

Pengrusakan eritrosit oleh parasit, hambatan eritrope lesis sementara,


penghambatan pengeluaran retifolosit dan pengaruh sitotoksin,
menyebabkan suplai darah menurun.
d. Nafas sesak.
e. Gangguan kesadaran
f. Hilangnya nafsu makan
d

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU.


Kajia apakah klien pernah mengalami malaria di masa lalu (jika ada, apa
nama obatnya). Apakah pasien pernah berjalan atau berkunjung ke daerah

pegunungan (daerah yang sedang wabah malaria).


RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA.
Dalam keluarga atau lingkungan sekitarnya, biasanya didapatkan
ada yang menderita penyakit malaria karena malaria merupakan penyakit
yang menular.

POLA AKTIVITAS/ ISTIRAHAT


Gejala : Keletihan, kelemahan, malaise umum
Tanda : Takikardi, Kelemahan otot dan penurunan kekuatan.

SIRKULASI
Tanda : Tekanan darah normal atau sedikit menurun. Denyut perifer kuat
dan cepat (fase demam) Kulit hangat, diuresis (diaphoresis ) karena
vasodilatasi. Pucat dan lembab (vaso kontriksi), hipovolemia,penurunan
aliran darah.

ELIMINASI
Gejala : Diare atau konstipasi; penurunan haluaran urin.
Tanda : Distensi abdomen.

MAKANAN DAN CAIRAN


Gejala : Anoreksia mual dan muntah
Tanda : Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan, dan Penurunan
masa otot. Penurunan haluaran urine, kosentrasi urine.

NEURO SENSORI
Gejala : Sakit kepala, pusing dan pingsan.
Tanda : Gelisah, ketakutan, kacau mental, disorientas deliriu atau koma.

POLA INTEGRITAS EGO

Gejala : Stress, tergantung pada orang lain, masalah finasnsial yang


berhubungandengan kondisi.
l

NYERI
Gejala : Nyeri yang dirasakan pada otot atau persendian.

m PERNAPASAN.
Tanda : Tackipnea dengan penurunan kedalaman pernapasan .
Gejala : Napas pendek pada istirahat dan aktivitas
n

PENYULUHAN/ PEMBELAJARAN
Gejala : Masalah kesehatan kronis, misalnya hati, ginjal, keracunan alkohol,
riwayat splenektomi, baru saja menjalani operasi/ prosedur invasif, luka
traumatik.

Sumber : Doenges. Marilyn E. 2012.


o

PEMERIKSAAN FISIK
1. TTV
2. Kepala
a. Bentuk dan kebersihan kulit
b. Karakteristik rambut
c. Keluhan yang dirasakan pada kepala, apakah ada edema di kepala
atau tidak.
3. Mata
a. Konjungtiva
: Apakah anemis atau tidak
b. Reaksi terhadap cahaya : Apakah reaksi positif atau negatif
c. Rasa sakit
: Apakah terasa sakit saat meglihat
d. Sklera
: Apakah ikterik atau tidak
4. Hidung
a. Reaksi alergi : Apakah terdapat reaksi alergi
b. Kesulitan dalam penciuman : Apakah ada kesulitan dalam
peciuman
c. Polip
: Apakah terdapat polip
5. Mulut, tenggorikan dan leher
a. Ggi
: Kebersihan gigi
b. Bentuk dan keadaan lidah : Bagaiman bentuk dan kebersihan lidah
c. Kesulitan menelan : Apakah ada kesulitan untuk menelan
d. Mukosa bibir : Apakah bibir klien tampak kering

6. Paru

a. Inpeksi

: Melihat pergerakan dada simetris atau tidak, frekuensi

pernafasan, bentuk dada dan apak menggunakan otot bantu atau


tidak
b. Palpasi : Apakah fremitus taktil simetris kiri dan kanan
c. Perkusi : Apakah sonor atau hipersonor
d. Auskultasi: Bagaimana bunyi nafas apakah ada wheezing
7. Jantung
a. Inpeksi
b. Palpasi

: Melihat denyut ictus cordis


: Untuk merasakan denyut iktus cordis dan apakh ada

nyeri tekan atau tidak


c. Perkusi : Untuk menentukan batas jantung baik kanan, kiri, atas
dan bawah
d. Auskultasi: Mendengarkan bunyi jantung, apakah teratur atau
tidak, apakah ada bunyi tambahan atau tidak
8. Nutrisi
a. BB
: Bagaimana BB sebelum dan saat sakit
b. Nafsu makan : Bagaimana nafsu makan klien
c. Intake cairan : Bagaimana pemenuhan cairan
9. Abdomen
a. Inpeksi : Apakah permukaan perut pada keadaan datar
b. Palpasi : Apakah ada nyeri tekan atau edema
c. Auskultasi: Berapa frekuensi bising usus
d. Perkusi : Apakah ada kembung atau disteri abdomen
10. Eliminasi
a. BAB

b. BAK

Frekuensi : Berapa kali frekuensi BAB


Warna
: bagaiman warna BAB
Keluhan saat BAB : Apakah ada keluhan saat BAB
Frekuensi : Berapa kali klien BAK
Warna
: Bagaimana warna BAK klien
Kesulitan BAK : Apakah ada kesulitan saat BAK
Alat bantu BAK : Apakah menggunakan alat bantu seperti
kateter
Keringat :

Apakah

klien

mengeluarkan

berlebihan
11. Genitalia dan anus
a. Inpeksi : Apakah terlihat membesar
b. Palpasi : Apakah terdapat benjolan (hemoroid)
12. Ekstremitas
7

keringat

a. Ekstremitas atas
Inspeksi : Bagaimana pergerakan lengan dan otot
Palpasi : Apakah ada nyeri tekan atau benjolan
Motorik : Mengamati besar dan bentuk otot
Reflek
: Memulai reflek fisiologi
Sensori : Apakah dapat membedakan nyeri dan sentuhan
b. Ekstermitas bawah
Inspeksi : Bagaimana pergerakan kaki
Palpasi
: Apakah ada nyeri tekan atau benjolan
Motorik : Mengamati besar dan bentuk otot
Reflek
: Memulai reflek fisiologi
Sensori : Apakah dapat membedakan nyeri dan sentuhan

13. Integumen
a. Inpeksi
b. Palpasi

: Bagaimana warna kulit, apakah ada bintik merah.


: Apakah turgor kulit lembab atau kering

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a Diagnostik
Diagnosis malaria
Diagnosis banding malaria
b

Laboratorium
Pemeriksaan tes darah
Pemeriksaan makroskopis darah tepi untuk meminimalkan
adanya

pemeriksaan darah tepi


Tes antigen P-F tes
Mendeteksi antigen apakah P-fl aparum/ P-afarum/P vivax
Tes serologis
Teknik indirect fluorescent antibody test, untuk mengetahi
adanya antibodi spesifik
Pemeriksaan PCR
Tes DNA untuk meneliti jumlah parasit yang terdapat dalam
tubuh.

Sumber : //www.academia.edu/6058471/MAKALAH_seminar_Malaria

2. DIAGNOSA
8

Diagnosa keperawatan pada pasien dengan malaria berdasarkan dari tanda dan
gejala yang timbul dapat diuraikan seperti dibawah ini (Doengoes, Moorhouse
dan Geissler, 1999) :
1. Hipertermi b.d peningkatan metabolisme, dehidrasi, efek
langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus.
2. Nyeri b.d respon inflamsi sistemik, myalgia, atralgia,
diaforesis.
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebuhan tubuh b.d
asupan makanan yang tidak adekuat, anoreksia mual/muntah.
4. Risiko ketidakseimbangan elektrolit b.d respon inflamsi
sistemik, myalgia, atralgia, diaforesis.
5. Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak b.d peningkatan
TIK.
6. Risiko syok (Hipovolemik) b.d oksigen dalam darah menurun.
7. Intoleransi aktifitas b.d kelemahan umum.
3. INTERVENSI (Doenges. Marilyn E. 2000)
Rencana keperawatan malaria berdasarkan masing-masing diagnosa
diatas adalah :
Hipertemi b.d peningkatan metabolism, dehidrasi, efek langsung sirkulasi kuman
pada hipotalamus
Tujuan :1x12 jam menurunkan suhu tubuh kedalam batas normal.
kriteria hasil : klien menunjukan suhu dalam batas normal, tidak ada tanda-tanda
infeksi dan tidak menunjukan adanya tanda dehidrasi.
intervensi
Rasional
Pantau suhu pasien (derajat dan pola,), Hipertermi menunjukan penyakit infeksius
peerhatian tanda-tanda menggigil.
Pantau suhu lingkungan

akut. Pola demam menunjukan diagnosis.


suhu ruangan/ jumlah selimut harus diubah
unutk mempertahankan suhu mendekati

Berikan

kompres

mandi

hangat

normal.
dan Dapat membantu mengurangi demam,

hindari penggunaan alcohol.

es/alcohol
kedinginan.

mungkin
selain

itu

menyebabkan
alcohol

dapat

Berikan antipiretik

mengeringkan kulit.
digunakan unutk mengurangi

Berikan selimut pendingim

dengan aksi sentralnya pada hipotalamus.


Digunakan untuk mengurangi demam
dengan hipertermi.
9

demam

Nyeri berhubungan dengan respon inflamasi sistemik, myalgia, atralgia,


diaphoresis.
Tujuan perawatan : nyeri berkurang atau teratasi
Criteria hasil : klien melaporkan penurunan nyeri, menunjukan perilaku rileks,
memperagakan keterampilan reduksi nyeri yang dipelajari dengan peningkatan
keberhasilan. Skala nyeri 0-1 atau teratasi.
intervensi
Rasional
Mandiri :
Nyeri merupakan respon subjektif yang
Kaji lokasi, intensitas, dan tipe nyeri.
dapat dikaji dengan menggunakan skala
Observasi kemajuan nyeri ke daerah yang
nyeri. Klien melaporkan nyeri biasanya di
baru. Kaji nyeri dengan skala 0-4.
atas tingkat cedera.
Bantu klien dalam mengidentifikasi Nyeri dipengaruhi oleh kecemasan dna
faktro pencetus.
peradangan pada sendi.
Jelaskan dan bantu klien terikat dengan Pendekatan dengan menggunakan relaksasi
tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan
dan non-invasif.

tindakan

nonfarmakologi

lain

menunjukan keefektifan dalam mengurangi

nyeri.
Ajarkan relaksasi : teknik mengurangi Akan

melancarkan

peredaran

darah

ketegangan otot rangka yang dapat sehingga kebutuhan oksigen pada jaringan
mengurangi

intensitas

nyeri

dan terpenuhi dan mengurangi nyeri.

tingkatkan relaksasi masase.


Ajarkan metode distraksi selama nyeri Mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri
akut.
ke hal yang menyenangkan.
Beri kesempatan waktu istirahat bila Istirahat merelaksasi semua

jaringan

terasa nyeri dan posisi yang nyaman. sehingga akan meningkatkan kenyamanan.
(mis. Ketika tidur, beri bantal kecil di
punggung klien).
Tingkatkan
pengetahuan

tentang Pengetahuan

tersebut

membantu

penyebab nyeri dan hubugan dengan mengurangi nyeri dan dapat membantu
berapa lama nyeri akan berlangsung.
Kolaborasi:
Kolaborasi

meningkatkan kepatuhan klien terhadap


rencana terapeutik.
NSAID menghambat sintesis prostaglandin

dengan

dokter

untuk

yang mempunyai efek analgesij efektif

pemberian analgesic NSAID oral.

sebagai pereda nyeri arthritis rheumatoid.


Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
asupan makanan yang tidak adekuat, anoreksia, mual dan muntah.
Tujuan : 3 x 24 jam nutrisi pada klien adekuat,
Kriteria hasil : menunjukan peningkatan berat badan menuju tujuan yang tepat
10

menunjukan perilaku, pola hidup unutk mempertahankan berat badan


Intervensi
Rasional
Auskultasi bunyi usus
Penurunan bising usus

menunjukan

penurunan mobilitas gaster dan konstipasi


Hindari makanan yang sangat panas atau Suhu ekstrem dapat mencetuskan spasme
dingin
batuk
Konsultasikan ke ahli gizi tetntang Untuk memberikan status nutrisi yang
makanan pasien
maksimal
Kaji riwayat nutrisi, terasuk makanan Mengawasi masukan kalori atau kualitas
yang

disukai.

Observasi

dan

catat kekurangan konsumsi klien.

masukan makanan klien.


Berikan makanan sedikit dan makanan Dilatasi gaster dapat terjadi pemberian
tambahan kecil yang tepat.

makan

terlalu

cepat

setelah

periode

anoreksia.
Pertahankan jadwal penimbangan berat Mengawasi penurunan berat badan atau
badan

secara

teratur. efektifitas nitervensi nutrisi.

Observasi dan catat kejadian mual/ Gejala GI dapat menunjukan efek anemia
muntah,

dan

gejala

lain

yang (hipoksia) pada organ.

berhubungan
Kolaborasi untuk melakukan rujukan ke Perlu bantuan dalam perencanaan diet yang
ahli gizi
memenuhi kebutuhan nutrisi.
Risiko ketidakseimbangan elektrolit b.d respon inflamsi sistemik, myalgia,
atralgia, diaphoresis
tujuan : dalam waktu 2x24 jam tidak ada tanda tanda edema
Kriteria hasil : Klien dapat menunjukan TD , BB, nadi, intake dan output cairan
dalam batas normal
intervensi

Rasional

Pertahankan secara ketat intake dan output Untuk


cairan.
Timban BB setiap hari

mencegah

dan

menidentifikasi

secara dini terjadinya kelebihan cairan


Peningkatan BB merupakan indikasi
berkembangnya atau bertambahnya edema
sebagai manifestasi dari kelebihan cairan
Kekurangan cairan dapat menunjukan

Monitor TTV

gejala peningkatan nadi dan TD menurun


Catat perubahan turgor kulit, kondisi Penurunan kardiak output berpengaruh
mukosa mulut dan karakter sputum.

pada perfusi otak. Kekurangn cairan selalu


11

diindentifikasi

dengan

turgor

kulit

berkurang, mukosa mulut kering, dan


secret yang kental.
Kolaborasi : berikan cairan per infuse jika Mempertahankan volume sirkulasi dan
diindikasikan
Monitr kadar elektrolit jika diindikasikan

teknan osmotis
Elektrolit khusunya potassium dan sodium
dapat berkurang jika klien mendapatkan

obat diuretic.
Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak b.d peningkatan TIK.
Tujuan : dalam waktu 3x24 jam setelah diberikan intervensi [erfusi jaringan otak
meningkat.
Kriteria hasil :
Tingkat kesadaranmeningkat menjadi sadar, disorientasi negative, konsentrasi baik,
perfusi dan oksigenasi baik, TTV dalam batas normal dan syok dapat dihindari.
Intervensi
Rasional
Monitor klien dengan ketat terutama Untuk mencegah nyeri kepala

yang

setelah lumbal pungsi. Anjurkan klien menyertai perubahan TIk


barbaring minimal 4-6 jam setelah lumbal
pungsi.
Monitor

tanda-tanda

PTIK

selama Untuk mendeteksi tanda-tanda syok, yang

perjalanan penyakit (nadi lambat, TD harus dilaporkan ke dokter untuk intervensi


meningkat, kesadaran menurun, nafas awal.
ireguler, pupil menurun, kelemahan).
Monitor TTV dan neurologis setiap 5-30 Perubahan perubahan ini menandakan ada
menit.

Catat

dan

laporkan

segera perubahan tekanan intracranial dan penting

perubahan TIK ke dokter.


untuk intervensi awal.
Hindari posisi tungkai ditekuk atau Mencegah PTIK
gerakan-gerakakn klien anjurkan untuk
tirah baring.
Tinggikan sedikit kepala klien dengan Mengurangi PTIK
hati-hati, cegah gerakan yang tiba-tiba
dan tidak perlu dari kepala dan leher,
hindari fleksi leher
Bantu seluruh aktivitas dan gerakan- Untuk mencegah keregangan otot yang
gerakan klien. Beri petunjuk untuk BAB. dapat menimbulkan PTIK
Anjurkan klien untuk menghembuskan
napas dalam bila miring dan bergerak di
12

tempat tidur.cegha posisi fleksi pada


lutut.
Beri

penjelasan

keadaan

tentang Unutk

mengurangi

disorientasi

dan

linkungan pada klien


klarifikasi persepsi sensori yang terganggu.
Kolaborasi pemberian steroid osmotik
Menurukan TIK
Risiko syok (Hipovolemik) b.d oksigen dalam darah menurun
Tujuan : syok hipovolemik tidak terjadi
Kriteria hasil : perdarahan berkurang. TTV normal, kesadraan kompos mentis
Intervensi
Rasional
Kaji perdarahan setiap 15-30 menit
Mengetahui adanya gejala syok sedini
mungkin
Monitor tekanan darah, nadi, pernafasan mengetahui keadaan pasien
setiap 15 menit, bila normal observasi
dilakukan setiap 30 menit.
Awasi adanya tanda-tanda syok, pucat, menentkan

intervensi

selanjutnya

dan

keringat dingin, kepala pusing

mencegah syok sedini mungkin

Kaji konsistensi abdomen dan tinggi

mengetahui perdarahan yang tersembunyi

fundur uteri.

produksi urine yang kurang dari 30 ml/jam


Catat intake dan output

merupakan penurunan fungsi ginjal.

Berikan cairan sesuai dengan program

mempertahanka volume cairan sehingga

terapi

sirkulasi bisa adekuat dan sebagian


persiapan bila diperlukan transfusi darah.

Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum


Tujuan : Dalam waktu 3x24 jam setelah diberikan intervensi pasien bebas beraktivitas
Kriteteria hasil : Melaporkan/ menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas
yang dapat diukur dengan tidak adanya dispnea, kelemahan berlebihan, dan tanda vital
dalam rentang normal.
Intervensi
Rasional
1. Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas. Menetapkan kemampuan/ kebutuhan pasien
Catat

laporan

dispnea,

peningkatan dan memudahkan memilih intervensi.

kelemahan / ,kelelahan dna perubahan


TTV selama dan setelah aktivitas.
13

2. Berikan lingkungan tenang dan batasi Menurunkan

stres

dan

rangsangan

pengunjung selama fase akut sesuai berlebihan, meningkatkan istirahat


indikasi. Dorong penggunaan manajemen
stres dna pengalih yang tepat.
3. Jelaskan pentingnya istirahat
rencana

pengobatan

dna

dalam Tirah baring dipertahankan selama fase


perlunya akut

keseimbangan aktivitas/ istirahat

untuk

metabolic,

menurunkan

menghemat

penyembuhan.

kebutuhan

energy

Pembatasan

untuk
aktivitas

ditentukan dengan respon individual pasien


terhadap aktivitas dna perbaikan kegagalan
pernapasan.
Bantu pasien memilih posisi nyaman Pasien mungkin nyaman dengan kepala
untuk istirahat dan/ tidur.

tinggi, tidur dan kursi,/ menunduk kedepan


meja/ bantal.

4. INTERVENSI NANDA NIC-NOC

14