Anda di halaman 1dari 33

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DAERAH ACEH
RESOR ACEH BESAR

PERAN SATLANTAS POLRES ACEH BESAR DALAM MENCIPTAKAN


KONDISI KAMSELTIBCAR LANTAS YANG KONDUSIF DI KAB. ACEH
BESAR GUNA MEWUJUDKAN KEAMANAN DALAM NEGERI YANG
MANTAP
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang.
permasalahan di bidang lalu lintas khususnya lalu lintas jalan raya
di Kab. Aceh Besar semakin hari semakin berkembang seiring dengan
berkembangnya jumlah kendaraan bermotor dan populasi jumlah
penduduk yang memerlukan alat transportasi sebagai sarana mobilitas
dalam memenuhi kebutuhan hidup, permasalahan di bidang lalu lintas
tersebut pada akhirnya bermuara pada terjadinya gangguan keamanan,
keselamatan dan ketertiban lalu lintas seperti pelanggaran lalu lintas,
kecelakaan lalu lintas dan kemacetan lalu lintas.
Faktor manusia menduduki peringkat Pertama sebagai penyebab
terjadinya laka lantas di Wilkum Polres Aceh Besar, hal ini di sebabkan
oleh Masih kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya tertib
berlalu Lintas, hal ini di Picu oleh Sikap Apatis dalam diri Pribadi
masyarakat, Ketidakpatuhan masyarakat ini sering kali terlihat dari cara
masyarakat menggunakan / mengoperasikan kendaraannya, Seperti
memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, berbelok tidak aman, dan
mendahului tidak aman / di tempat di larang. Masih minimnya kesadaran
masyarakat dalam menggunakan helm SNI (Standar NasionalIndonesia)
Juga turut andil dalam meningkatnya jumlah korban laka lantas,
Banyaknya korban laka lantas yang berujung meninggal dunia di
akibatkan oleh benturan kepala
Dinamika

situasi

dan

kondisi

ini

menyebabkan

Kepolisian

khususnya Satlantas dituntut untuk mampu menciptakan keamanan,

keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas dengan menunjukkan


performa dan kinerja yang profesional. Selain ituKepolisian juga harus
mengedepankan tindakan persuasif dan edukatif yang dilandasi oleh
penghormatan terhadap supremasi hukum, perlindungan hak asasi
manusia, adanya transparansi dan pertanggung jawaban kepada publik
serta adanya pembatasan dan pengawasan kewenangan.
Polri sesuai tugas pokoknya yang tercantum dalam Undang-Undang
Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah
sebagai pemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, pelindung,
pengayom dan pelayan masyarakat serta aparat penegak hukum, yang
berlandaskan pada moralitas, profesionalisme dan pelayanan kepada
masyarakat

untuk

mendapatkan

dipertanggungjawabkanberlandaskan

legitimasi

yang

padademokratisasi,

dapat

perlindungan

HAM, transparansi, akuntabilitas, sebagai pelayan rakyat, pemerintah yang


bersih dari KKN.
2. Pokok Permasalahan.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat disimpulkan
permasalahan dalam penulisan ini yaitu: Peranan Satlantas dalam
menciptakan kondisi Kamtibmas dan meningkatkan kesadaran dan
kepatuhan hukum masyarakatdalam rangka mewujudkan kamseltibcar
lantas guna memantapkan keamanan dalam negeri
3. Pokok Persoalan
Dari pokok permasalahan tersebut maka disimpulkan persoalannya adalah
Bagaimanaimplementasi Tugas Pokok Satlantas yang profesional sesuai
harapan masyarakat dalam rangka menciptakan Kamseltibcar lantas saat
ini guna menciptakan stabilitas nasional sehingga terwujudnya keamanan
dalam negeri yang mantap?
4. Ruang Lingkup.
Dalam penulisan Naskah Karya Kelompok ini dibatasi dengan ruang
lingkup pembahasan tentang peranan satlantas dalam menciptakan kondisi
kamtibmas

melalui

peningkatan

kesadaran

dan

kepatuhan

hukum

masyarakat, pelayanan prima bidang lalu lintas dan penegakkan hukum


yang tegas, menjunjung tinggi HAM dan anti KKN dalam rangka

mewujudkan kamseltibcar lantas guna memantapkan keamanan dalam


negeri.
5. Maksud Dan Tujuan.
a. Maksud.
Penulisan Naskah Karya Kelompok ini selain merupakan salah
satu bagian daripersyaratan untuk mengikuti pendaftaran seleksi
Sekolah Inspektur Polisi (SIP) angkatan 44 tahun 2015 khususnya
serta untuk memberikan gambaran kepada pimpinan sejauhmana
peranan penting satlantas dalam menciptakan situasi kamseltibcar
lantas guna menjamin stabilitas nasional agar keamanan dalam negeri
dapat

terwujud

output

dari

profesionalitas

satlantas

dalam

mengimplementasikan tugas Pokok Polrisehingga peranannya dapat


dirasakan masyarakat dan pada akhirnya dapat mendukung upaya
mewujudkan kamseltibcarlantas.
b. Tujuan.
Naskah Karya Kelompok ini bertujuan untuk memberikan
sumbangan pemikiran kepada Pimpinan Polri tentang hal-hal yang
perlu

dijadikan

pertimbangan

dalam

kebijaksanaan dimasa yang akan datang.

rangka

menentukan

BAB II
PEMBAHASAN
1.

Kondisi saat Ini


A. SUMBER DAYA MANUSIA
Dalam rangka menciptakan situasi Kamseltibcar lantas di Kab. Aceh
Besar, berdasarkan data Urmintu Satlantas Polres Aceh Besar Jumlah
personil satuan lalu lintas yang melaksanakan tugas pokok lalu lintas
sebanyak 49 Personil yang terdiri dari Pama sebanyak 3 orang dan
Brigadir 46 Orang dengan rincian bidang tugas sebagai berikut :
a. Unsur Pimpinan sebanyak 2 Personil
b. Urusan Administrasi dan ketata usahaan sebanyak 3 Personil
c. Unit Turjawali sebanyak 14 Personil
d. Unit Laka sebanyak 10 Personil
e. Unit Regident 20 Personil, terdiri atas ;
- Urs. Pelayanan Samsat sebanyak 14 Personil
- Urs. Pelayanan SIM sebanyak 6 Personil
dengan perbandingan letak geografis dan populasi penduduk dan
kendaraan bermotor di Kab. Aceh Besar dengan rincian sebagai
berikut :
a. Luas wilayah 2.974.12 Km
b. panjang jalan
- Jalan Nasional 140 Km
- Jalan Provinsi 12 Km
c. Jumlah Penduduk 350.225 Jiwa

Sehingga dari kenyataan tersebut diatas menunjukkan bahwa dengan


jumlah personil yang terbatas Satlantas diharapkan mampu untuk
menciptakan Kamseltibcar lantas yang kondusif di Wilkum Aceh Besar
melalui

inovasi

inovasi

dan

strateginya

permasalahan lalu lintas yang semakin majemuk.

dalam

menghadapi

B. SUMBER ANGGARAN
Dukungan anggaran dalam pelaksanaan tugas Satlantas bersumber
dari APBN Tahun 2015 yang tertera pada Dipa Polres Aceh Besar
Nomor: Sp Dipa 060.01.2.640139/2015 Tentang Surat Pengesahan
Daftar

Isian

Pelaksanaan

Anggaran

Tahun

2015

berjumlah

Rp.356.443.000,- dengan rincian sebagai berikut :


a. Honor Turjawali

Rp.

7.150.000,-

b. Dana Dikmas Lantas

Rp. 40.000.000,-

c. Sidik / lidik laka lantas

Rp. 131.053.000,-

d. Honor petugas pelaksana Samsat

Rp. 39.000.000,-

e. Honor petugas pelaksana SIM

Rp. 21.600.000,-

f. Honor Benma

Rp.

6.000.000,-

g. Honor pembantu benma Sim

Rp.

4.440.000,-

h. Honor pembantu benma STNK

Rp. 4.440.000,-

i. Honor pembantu benma TNKB

Rp.

3.000.000,-

j. Honor pembantu benma Tilang

Rp.

3.000.000,-

2.

Faktor Yang mempengaruhi


dalam rangka menciptakan situasi Kamseltibcar lantas di Kab. Aceh

Besar saat ini telah mulai berjalan dengan adanya peran dari Pemkab Aceh
Besar yang tergabung dalam sebuah wadah Forum Lalu Lintas yang
dibentuk berdasarkan Keputusan Bupati Aceh Besar, namun juga dalam
kenyataannya masih ditemukan kurang optimalnya tanggung jawab dari
Instansi

pemerintahan

dalam

pembinaan

Keamanan,

keselamatan,

ketertiban dan kelancaran lalu lintas hal tersebut berdampak terhadap


belum maksimalnya ketersediaan sarana dan prasarana lalu lintas jalan,
regulasi angkutan umum serta rendahnya tingkat kesadaran dan disiplin
masyarakat dalam mematuhi aturan ataupun ketetntuan perundang
undangan lalu lintas.
masih terdapat beberapa permasalahan lainnya yang terjadi
sehingga upaya pembinaan tersebut masih belum bisa berjalan dengan
optimal. Apabila diuraikan dalam analisis SWOT, maka dapat diketahui
beberapa kekuatan dan kelemahan yang berasal dari faktor internal serta
peluang dan ancaman yang berasal dari faktor eksternal. Adapun faktorfaktor tersebut diantaranya meliputi:
A.

Faktor internal

a.

Kekuatan (Strength)
1)

undang undang nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas


dan angkutan jalan.

2)

Kebijakan Pemerintah RI melalui Inspres nomor 4 tahun


2013 tentang Dekade Aksi Keselamatan yang menerangkan
bahwa adanya lima pilar keselamatan lalu lintas yang
menjadi tanggung jawab bersama.

3)

Kebijakan

pimpinan

Polri

yang

makin

kuat

dalam

Menciptakan situasi Kamseltibcar lantas dengan upaya dan


inovasi yang strategis.
4)

Peraturan Pemerintah nomor 80 tahun 2012 tentang tata


cara

memeriksa

kendaran

pelanggaran lalu lintas jalan.

bermotor

dan

penindakan

5)

Adanya standart pemberian tunjangan kinerja bagi Pegawai


di lingkungan Polri sesuai dengan Perkap No. 6 Tahun 2011
tentang Tata Cara Pemberian Tunjangan Bagi Pegawai
Negeri di Lingkungan Polri.

6)

Adanya standart pemberian penghargaan di lingkungan


Polri sesuai dengan Perkap No. 3 Tahun 2011 tentang
Pemberian Penghargaan di Lingkungan Polri.

b. Kelemahan (Weaknessess)

1)

Terdapatnya Personil yang mengalami tugas Simultan, hal


ini disebabkan terbatasnya jumlah Personil sedangkan tugas
yang dihadapi cukup banyak.

2)

Keterbatasan Sarana dan prasarana yang belum memadai


dibandingkan dengan luasnya Wilayah.

3)

kurangnya peranan dari instansi terkait lainnya dalam


mensosialisasikan peraturan lalu lintas.

4).

Kurangnya Kesadaran dan kepatuhan masyarakat terhadap


peraturan lalu lintas.

5)

kurangnya peran serta pemangku kepentingan (stakeholder)


lainnya dalam mewujudkan Kamseltibcar Lantas di Kab.
Aceh Besar.

6)

Letak Geografis Kab. Aceh Besar yang merupakan Jalur


Utama / akses untuk menuju Ibukota Provinsi Aceh

B.

Faktor eksternal

a.

Peluang (Opportunities)
1)

Dukungan pemerintah baik pusat maupun daerah terhadap


kamseltibcar lantas salah satunya dengan di gelorakannya
Gerakan Nasional Keselamatan lalu lintas yang secara
serentak dilaksanakan di seluruh Nusantara.

2)

Terjalinnya kerjasama dan koordinasi Polri baik lingkup


formal maupun non-formal guna meningkatkan kualitas
kinerja Polri

3)

Perkembangan teknologi dan informasi yang memberi


kemudahan

informasi

Kamseltibcar

lantas

kepada

masyarakat.
b.

Ancaman (Threats)
1)

Perkembangan media massa yang kurang diberdayakan


secara optimal sehingga cenderung memojokan posisi Polri
dalam setiap pelaksanaan tugas.

2)

Masih adanya sikap skeptis masyarakat terhadap Polri


dalam pemberian pelayanan.

3)

Masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran hukum


masyarakat.

4)

Masih adanya perbedaan persepsi yang menonjol antara


lintas sektoral dan Satlantas Polres Aceh Besar dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat.

5)

Masih kurangnya keinginan lintas sektoral untuk bersinergi


dengan Satlantas Polres Aceh Besar dalam memberikan
pelayanan prima kepada masyarakat

3.

Kondisi yang diinginkan

4.

Upaya yang dilakukan


Dalam mewujudkan situasi Kamseltibcar lantas yang kondusif Satuan
lalu lintas beserta perkuatannya melaksanakan kegiatan turjawali lalu
lintas, pendidikan masyarakat lalu lintas (dikmaslantas), pelayanan
registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor dan pengemudi,
penyidikan kecelakaan lalu lintas dan penegakan hukum di bidang
lalu lintas dan aktifitas lainnya di wilayah hukum polres Aceh Besar
dengan mengedepankan kegiatan Prefentif dan Preemtif dengan
didukung penegakkan hukum terhadap pelanggaran lalu lintas.
Adapun kegiatan yang telah dilaksanakan oleh unit pada satlantas
polres aceh besar sebagai berikut :
1) Unit Turjawali Lantas.
a. Melaksanakan pengaturan di daerah rawan kecelakaan dan
pelanggaran serta kemacetan arus lalu lintas.
b. Melaksanakan penjagaan di daerah rawan kecelakaan,
pelanggaran, kemacetan arus lalu lintas dan penjagaan
mako.
c. Melaksanakan pengawalan kegiatan masyarakat dan
giat pejabat vvip / vip.
d. Melaksanakan patroli jalan raya.
e. Melaksanakan penindakan terhadap pelanggar aturan lalu
lintas dengan blangko tilang dan teguran.
f. Ikut serta dalam kegiatan operasi kepolisian bidang lalu
lintas dalam rangka menegakan hukum dan kamseltibcar
lantas.

10

2) Unit Dikyasa Lantas.


a. melakukan pemasangan spanduk-spanduk dan papan
himbauan

tentang

kerawanan

laka

lantas,

untuk

memudahkan para pengguna jalan sampai ketempat tujuan.


b. Melakukan

penerangan

keliling

(meupeppep)

untuk

menginformasikan tentang kamseltibcar lantas.


c. Melakukan kegiatan koordinasi lintas sektoral dengan
instansi terkait.
3) Unit Laka lantas
a. Melaksanakan penyelidikan dan penyidikan terhadap kasus
kecelakaan lalu lintas.
b. Melaksanakan pendataan terhadap barang bukti, tersangka
dan korban serta segala sesuatu yang berhubungan dengan
kejadian kecelakaan lalu lintas sehingga terdata dengan
baik.
c. Melaksanakan koordinasi dengan jaksa penuntut umum
mengenai perkembangan kasus kecelakaan lalu lintas.
d. Melaksanakan administrasi berkaitan dengan kasus
kecelakaan lalu lintas.
4) Unit Regident lantas
a. Melakukan

pemeriksaan

Dokumen

kendaraan

baik

pendaftaran baru, mutasi keluar maupun mutasi masuk


b. Melaksanakan pelayanan penerbitan BPKB, STNK, TNKB
dan SIM bagi masyarakat melalui proses pengujian dan
dokumen.
c. Bekerjasama dengan instansi terkait (dispenda dan jasa
raharja) dalam proses pembayaran Pajak kendaraan dan
Asuransi serta sat Reskrim pada kasus curanmor dan unit
laka lantas dalam hal kasus laka lantas / tabrak lari.

11

BAB III
PENUTUP
V. KESIMPULAN :
Faktor manusia yang menjadi Penyebab Utama terjadinya kecelakaan lalu
lintas menjadi Prioritas Utama Sat Lantas Polres Aceh Besar, dalam melakukan
Upaya

Pencegahan.

Dalam

Hal

Ini

Sat

Lantas

Polres

Akan

lebih

mengoptimalkan Sosialisasi terhadap Obyek tsb, dan akan memberikan tindakan


tegas terhadap para Pelanggar Lalu Lintas yang berpotensi terjadinya Laka
Lantas. Serta akan melakukan rapat koordinasi dengan Instansi Terkait untuk di
teruskan ke Tingkat Provinsi tentang Penempatan rambu Rambu lalu Lintas,
Marka Jalan dan Badan Jalan yang sesuai dengan Standar nasional, Apalagi
baru baru ini, beberapa ruas jalan di Lintas Timur telah dilakukan perbaikan,
sehinggga banyak Rambu - Rambu yang di copot, dan marka jalan yang tidak
ada lagi, sehingga sangat mengganggu pengguna jalan.
VI. SARAN

Di mohonkan kepada KA, agar dapat menyampaikan kepada Instansi yang


memiliki wewenang menyangkut Sarana dan Pra Sarana di jalan nasional, agar
segera memasang Rambu - rambu dan marka jalan, serta ruas Jalan yang tidak
sesuai Standar nasional, karena mayoritas Laka lantas yang Terjadi di Wilkum
Polres Aceh besar terjadi di Jalan Nasional, Sehingga antara POLRI dan Instansi
Terkait dapat bersama sama mencari Solusi terbaik dalam mencegah Terjadinya
laka lantas, agar terciptanya Kamseltibcar yang kondusif.

12

6. Metode dan Pendekatan


Penulisan Naskah Karya Kelompok ini mempergunakan Metode
Deskriptif Analitis, yaitu suatu metode yang menggambarkan, mencatat dan
menganalisa serta menginterpretasikan kondisi saat ini terjadi, untuk
memperoleh informasi mengenai keadaan saat ini dan melibatkan kaitan
kaitan antara variabel yang ada.
Penulisan ini mempergunakan pendekatan empiris. Pendekatan
empiris

adalah

pendekatan

berdasarkan

pengalaman

dan

kajian

kepustakaan.

7. Tata Urut.
BAB I

Pendahuluan.

BAB II

Kajian Teori.

BAB III

Implementasi Tugas Pokok Polri yang profesional sesuai


paradigma baru guna Harkamtibmassaat ini

BAB IV

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi.

BAB V

Implementasi Tugas Pokok Polri yang profesional sesuai


paradigma baru guna Harkamtibmasyang diharapkan.

BAB VI

Implementasi Tugas Pokok Polri yang profesional sesuai


paradigma

baru

guna

Harkamtibmas

dalam

rangka

pengamanan Pemilu 2009.


BAB VII

Penutup

8. Pengertian
Dalam rangka menyamakan persepsi, dalam penjelasan naskah ini
perlu dibahas beberapa pengertian antara lain :
Implementasi
Implementasi berasal dari kata implementation, yang berarti
pelaksanaan.

Menurut

Kamus

Umum

Bahasa

Indonesia,

implementasi diartikan sebagai pelaksanaan atau penerapan.


Profesional

13

Menurut Marry Ann (1988), profesional mempunyai karakteristik :


1) Ahli di bidangnya (Expertise).
2) Bersikap mandiri (Otonomy).
3) Bertanggung jawab (Commitment).
4) Bekerja sepenuh kemampuan.
5) Memegang teguh kode etik profesi.
Menurut buku Refleksi Pemikiran Jenderal Sutanto (2005),
profesional Polri adalah sikap cara berpikir, tindakan dan perilaku
dalam melaksanakan tugas yang dilandasi ilmu kepolisian untuk
melindungi harkat dan martabat manusia sebagai asset utama bangsa
dalam wujud terpeliharanya keamanan, ketertiban dan tegaknya
hukum.
Kamtibmas
Menurut UU No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Republik
Indonesia, Keamanan dan Ketertiban Masyarakat adalah suatu kondisi
dinamis masyarakat sebagai salah satu prasyarat terselenggaranya
proses pembangunan nasional dalam rangka tercapainya tujuan
nasional yang ditandai oleh terjaminnya keamanan, ketertiban, dan
tegaknya hukum serta terbinanya ketentraman, yang mengandung
kemampuan membina serta mengembangkan potensi dan kekuatan
masyarakat dalam menangkal, mencegah dan menanggulangi segala
bentuk pelanggaran hukum dan bentuk-bentuk gangguan lainnya yang
dapat meresahkan masyarakat.

BAB II
KAJIAN TEORI
1. Konsep Profesionalisme

14

Pengembangan profesionalisme didefinisikan sebagai upaya yang


sengaja dilakukan untuk meningkatkan kemampuan agar mampu bekerja
secara baik sesuai dengan bidang pekerjaannya. Bila kita menyimak
beberapa literatur, karakteristik seorang profesional akan dapat kita
temukan. Pertama, ahli di bidangnya (expertise). Kedua, bersikap mandiri
(autonomy).

Ketiga,

bertanggungjawab

terhadap

pekerjaannya

(commitment to the work), bekerja dengan sepenuh kemampuan, bukan


asal-asalan dan tidak asal jadi. Keempat, memperlihatkan bahwa dirinya
adalah seorang profesional. Kelima memegang teguh etika profesi (ethics),
bersikap jujur, tidak berdusta, dan tidak berbuat curang. Keenam, mampu
memelihara hubungan baik dengan pihak lain termasuk klien atau kolega,
(Mary Ann : 1988). Karakteristik profesional tersebut dapat ditafsirkan
secara lebih mendalam karena memuat nilai-nilai moral dan mental yang
sangat kaya. Apalagi bagi aparat birokrat yang berprofesi sebagai pelayan
masyarakat. Jelaslah bahwa seseorang dikatakan profesional bila ia
menguasai pekerjaannya dengan baik, bekerja dengan prinsip kerja yang
cerdas (smartwork). Seorang aparat dapat digelari profesional bila ia
mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

2. Teori Fungsi dan Peran Kepolisian


Untuk mengkaji penelitian ini penulis menggunakan teori fungsi dan
peran Kepolisian dari Prof. Parsudi Suparlan (2004:68) yang menyatakan
bahwa:
Polisi adalah sebuah departemen pemerintah yang didirikan untuk
memelihara keteraturan dan ketertiban (dalam masyarakat), menegakan
hukum dan mendeteksi kejahatan serta mencegah terjadinya kejahatan.
Hal ini sama dengan pernyataan Richardson (1974) (Parsudi
2004:68) yang menyatakan bahwa :
Fungsi utama dari Polisi adalah memelihara keteraturan dan setiap saat
siap untuk memberikan pelayanan pada warga masyarakat yang
memerlukan, bukan melawan kejahatan dan menegakkan hukum atau
mengatur moralitas publik. Penekanan pada pentingnya pemeliharaan
keteraturan serta ketertiban masyarakat, agar masyarakat tersebut

15

beradab.

Hubungan

mempengaruhi

atau

masyarakat
keberadaan

dengan
polisi

polisi

dalam

adalah

saling

masyarakat

adalah

fungsional dalam struktur kehidupan.


Sedangkan menurut Reksodiputro (1988), (Suparlan 2004:162) yang
menyebutkan bahwa :
Fungsi Polisi dalam pemeliharaan keteraturan, sebagai pengayom, berada
pada perbatasan antara prilaku warga masyarakat yang bersifat kriminal
dengan yang bersifat non kriminal. Dalam pemahaman seperti ini, sebagai
alat perlengkapan negara Polisi bertangung jawab melaksanakan sebagian
dari tugas pemerintah sehari-hari yaitu menimbulkan rasa aman pada
masyarakat. Tugas pemerintah ini dilakukan oleh polisi melalui penegakan
hukum

pidana,

khususnya

melalui

pencegahan

kejahatan

dan

menyelesaikan kejahatan yang terjadi.


Menurut B. Mardjono Reksodiputro (2001:75-76), polisi tidak mudah
memisahkan antara fungsi menegakkan hukum pidana dan memelihara
keteraturan. Pada fungsi yang pertama, polisi berperan mencegah dan
menyidik kejahatan, dan akan tampil wajah polisi sebagai alat negara
penegak hukum. Pada fungsi yang kedua, polisi berperan memelihara
keteraturan dan ketertiban masyarakat dan yang diinginkan wajah polisi
sebagai pengayom yang memberikan perlindungan dan pelayanan kepada
masyarakat.
Lebih lanjut B. Mardjono Reksodiputro menyatakan : Citra Polisi
sebagai penegak hukum dipersulit pula oleh sikap ambivalen masyarakat.
Pada satu pihak warga masyarakat mengharapkan perlindungan dari polisi
terhadap orang-orang jahat yang berada dalam masyarakat, tetapi pada
pihak lain mereka tidak suka apabila polisi menggunakan upaya paksa
(menggeledah, menangkap dan menahan) terhadap diri mereka sendiri.
Sikap ambivalen (mendua, simpati tetapi juga tidak suka) ini membuat polisi
tidak mudah untuk memahaminya. Hal ini dapat menimbulkan konflik pada
diri seorang polisi dalam menemukan jati dirinya. Wajah polisi yang
angker sebagai crime fighter harus dibarengi dengan wajah yang
tersenyum dan sikap membantu melayani warga masyarakat sebagai
pengayom. Warga yang mengharapkan dapat hidup dalam masyarakat

16

yang aman dan tertib akan berpaling kepada polisi untuk perlindungan dan
pelayanan.

Tugas

polisi

disini

adalah

menjaga

ketertiban

(order

maintenance) dan kedamaian (peace keeping). Secara singkat dapat


dikatakan bahwa sebagai pengayom, polisi harus menjaga agar ada
keteraturan dalam masyarakat, dalam keadaan serba teratur warga dapat
mengantisipasi

keadaan

dan

merasa

aman.

Fungsi

polisi

dalam

pemeliharaan keteraturan, sebagai pengayom, berada pada perbatasan


antara prilaku masyarakat yang bersifat kriminal dengan yang bersifat non
kriminal. Disini pula terdapat keadaan (peristiwa) dimana polisi harus
bertindak menurut penilaiannya sendiri, polisi harus membuat keputusan
individual dan tidak dapat menunggu komando dari atasannya. Dalam
pemahaman seperti ini, fungsi polisi adalah mengatasi situasi (handling the
situation). Disini pula peranan polisi dalam memecahkan masalah dilakukan
baik melalui penegakan hukum maupun dengan cara lain. Istilah polisi yang
berperan sebagai community problem solver dalam kaitannya dengan
fungsinya dapat mengatasi setiap situasi yang memerlukan bantuannya
(sebagai

pengayom).

memelihara
tambahan

Dalam

keteraturan,
(additional

fungsinya

sering

role).

pula

Dikatakan

sebagai

polisi

pengayom

melaksanakan

peranan

tambahan

yang

peranan
karena

sebenarnya ada instansi publik lain yang juga membantu dan melayani
masyarakat memelihara keteraturan. Peranan polisi yang lain adalah
menciptakan lingkungan yang aman (yang juga merupakan tugas pamong
praja dan ketua RT sampai Kepala kelurahan), mengatur kelancaran lalu
lintas dijalan raya (disamping dinas lalu lintas jalan raya), menyalurkan
permasalahan kenakalan remaja (yang seharusnya ditangani pula oleh
dinas sosial), menyelesaikan konflik dalam keluarga atau antar tetangga
(pertama-tama tugas ketua RT dan RW), mengatur ketertiban sipil (civil
order) dalam kerumunan umum (pawai, pemogokan buruh, demontrasi
damai) dan kadang-kadang pula membantu warga dalam keadaan darurat
(kecelakaan, sakit dan kematian).
Dari uraian tersebut diatas, jelas tergambar bahwa tugas polisi
demikian kompleks, heterogen, dan penuh dengan situasi yang dilematis.
Demikian berat tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepada polisi,

17

sehingga dalam implementasinya tidak dapat dilaksanakan secara optimal


sebagaimana harapan masyarakat.

BAB III
IMPLEMENTASI TUGAS POKOK POLRI YANG PROFESIONAL SESUAI
PARADIGMA BARU GUNA HARKAMTIBMASSAAT INI

Profesionalisme Polri khususnya dalam menjalankan tugas pokoknya


sebagai pemelihara Kamtibmas saat ini dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Sebagai pengayomdan pelindung masyarakat
a. Masih ditemukan sikap yang tidak Correct, dalam menjalankan
tugas penjagaan dan patroli.
b. Patroli tidak tepat sasaran
c. Bersikap kasar dan tidak jujur pada saat menemukan pelanggaran
lalulintas.

18

d. Bersikap arogan.
e. Kurangnya pengetahuan tentang teknis pengamanan proyek vital.
2. Sebagai pelayanmasyarakat
a. Kehadiran polisi di tengah-tengah masyarakat masih dirasakan
kurang.
b. Masih ditemukan sikap kurang tanggap dalam memberikan respons
terhadap laporan masyarakat, sehingga terkesan lambat.
c. Masih ditemukan pungutan liar dalam pelayanan kepada masyarakat
d. Masih ditemukan sikap yang kurang ramah, kurang simpatik dalam
tugas-tugas pelayanan kepada masyarakat.
3. Sebagai penegak hukum
a. Tidak akuntabel
b. diskriminatif
c. Tidak transparan
d. Tidak jujur dan adil
e. Masih ada kolusi, korupsi dan nepotisme
f. Sering melanggar HAM
4. Khusus dalam penyelenggaraan Pemilu 2009, ditemukan hal-hal sebagai
berikut:
1) Masih ditemukan kurangnya pengetahuan perundang-undangan yang
berkaitan dengan Pemilu.
2) Masih dikhawatirkan terjadinya ketidak-netralan seperti yang terjadi di
masa lalu.
3) Masih ditemukan ketidaksiapan menghadapi kontinjensi.
4) Penjabaran pelaksanaan operasi yang terlalu kaku dan kurangnya
pengawasan terhadap karakteristik wilayah.

19

BAB IV
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
1. Faktor Internal
a. Kekuatan
1) Sumber Daya Manusia
a) Adanya

komitmen

meletakkan

landasan

untuk

pembenahan SDM Polri dengan berorientasi strategi


mewujudkan Polisi berwibawa dan berkinerja profesional.
b) Adanya komitmen meningkatkan kuantitas anggota Polri
pada rasio jumlah Polisi terhadap pertumbuhan penduduk
menjadi 1 : 500 pada tahun 2009.
c) Adanya upaya peningkatan kualitas Polisi dengan prinsip
Mahir, Terpuji dan Patuh Hukum.

20

2) Sistem dan Metode


a) Reformasi di tubuh Polri menuju lembaga Kepolisian sipil,
profesional

dan

berkelanjutan

mandiri

pada

dengan

reformasi

pembenahan

struktural,

reformasi

instrumental dan reformasi kultural.


b) Dalam pelaksanaan tugas Polri lebih mengedepankan
sistem pemeliharaan Kamtibmas daripada penegakan
hukum.
c) Ada pembenahan manajemen keuangan dan budget
dengan sistem penganggaran berbasis kinerja sehingga
pelayanan Polri pada masyarakat akan semakin efektif.
3) Sarana Prasarana
a) Adanya penataan sarana dan prasarana Polri yang sesuai
kondisi wilayah peruntukannya.
b) Mengembangkan sistem komunikasi pada semua jajaran
kerja Polri dengan didukung teknologi komunikasi, mulai
dari kecepatan respon, komunikasi persuasif, sampai pada
pengendalian peristiwa kejahatan.
c) Adanya dukungan bantuan peralatan dari luar negeri untuk
pemeliharaan kamtibmas.
b. Kelemahan
1) Sumber Daya Manusia
a) Masih terdapat sikap sebagian anggota Polri yang
memberikan pelayanan yang kurang optimal. (mutu
pelayanan rendah) dan sikap diskriminatif terhadap
masyarakat yang menerima pelayanan.
b) Anggota

Polri

masih

melakukan

tindakan

KKN,

pelanggaran HAM dalam melaksanakan tugasnya.


c) Masih banyak Anggota Polri yang kurang memiliki
keterampilan di lapangan dalam menghadapi kualitas dan
kuantitas kejahatan yang semakin canggih.

21

2) Sistem Dan Metode


a) Sistem pengawasan terhadap anggota Polri masih kurang
optimal.
b) HTCK dan Pilun belum optimal sehingga Polri seringkali
lambat dalam memberikan jaminan keamanan kepada
masyarakat.
c) Perubahan sistem piranti lunak dan fungsional dalam
organisasi Polri sebagai pedoman operasionalisasi fungsi
belum dilaksanakan secara optimal.
3) Sarana Prasarana
a) Alat komunikasi dan transportasi masih belum optimal,
sehingga kurang mendukung operasional yang makin
dituntut menghadapi perubahan pola kejahatan nasional.
b) Manajemen Teknologi dan Informasi masih terbatas.
c) Pemeliharaan sarpras kurang optimal karena terbatasnya
anggaran.
2. Faktor Eksternal
a. Peluang
1) Hukum dan Peraturan
a)

UU No. 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana telah


mengatur hubungan dan pengawasan antara aparat
penegak hukum (Polri, Kejaksaan, Peradilan, Lembaga
Pemasyarakatan, Pengacara) dan hubungan antara Polri
dengan masyarakat secara transparan, khususnya tentang
upaya paksa yang dilakukan oleh Polri.

b)

Ditetapkannya TAP MPR RI No. XI/MPR/1998 tentang


Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi,
Kolusi dan Nepotisme, dan UU No. 28 Tahun 1999 tentang
Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi,
Kolusi dan Nepotisme, dengan

adanya asas umum

penyelenggaraan negara meliputi asas kepastian hukum,


asas proporsionalitas, asas profesionalitas dan asas

22

akuntabilitas, memberikan peluang bagi Polri untuk


meningkatkan profesionalisme tugas pokok terhadap
masyarakat secara lebih luas.
c)

Undang Undang No. 2 tahun 2002 Tentang Kepolisian


Negara Republik Indonesia merupakan acuan dalam
pelaksanaan tugas pokok Polri.

2) Dukungan Pemerintah
a) Adanya dukungan pemerintah dalam anggaran sehingga
memberikan peluang bagi Polri untuk meningkatkan
kemampuan dan profesionalismenya.
b) Adanya

tekad Pemerintah untuk memperkokoh sendi

sendi kehidupan demokrasi yang dilandasi rasa aman, adil


dan sejahtera merupakan pegangan bagi Polri untuk
mereformasi diri.
c) Adanya komitmen pemerintah untuk menyelenggarakan
tata pemerintahan yang baik dan pemerintahan yang
bersih, dengan diterbitkannya Inpres No 7 tahun 1999
tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP),
merupakan landasan berpijak Polri melakukan tindakan
penegakan hukum.
3) Dukungan Masyarakat
a) Makin aktifnya kontrol eksternal dari berbagai pihak terkait
seperti Komnas HAM, LSM, merupakan kepedulian
masyarakat terhadap Polri yang mampu memotivasi
peningkatan sumberdaya dan kinerja Polri.
b) Peningkatan tuntutan standard service pada berbagai
public

service

providers

di

masyarakat

perkotaan,

mendorong Polri memfokuskan pada upaya meningkatkan


service excellence dalam penanggulangan kejahatan dan
ketidak tertiban.

23

c) Partisipasi elemen masyarakat menekuni pemantapan


institusi

sipil

membawa

dampak

positif

pada

pengembangan lembaga Polri yang berorientasi sipil,


dalam arti bertanggung jawab melindungi kehidupan,
orang dan harta benda warga masyarakat serta keamanan
dan ketertiban masyarakat, melalui penegakan hukum
yang adil, menghormati HAM dan berbasis penyidikan
ilmiah serta mempererat interaksi dengan semua potensi
masyarakat untuk menjalankan fungsi fungsi Kepolisian
b. Kendala
1) Hukum dan Peraturan
a) Masih adanya aturan hukum yang tumpang tindih dan
bertentangan dengan aturan hukum yang lebih tinggi,
menjadikan penegakan hukum semakin kompleks.
b) Masih adanya ketidak sejajaran landasan hukum

yang

mengatur hubungan antara Polri dan TNI dimana hanya


satu Undang Undang bagi Polri dihadapkan pada multi
perangkat hukum bagi TNI.
c) Masih kurang tersedianya kebijakan/bahan hukum yang
sesuai dengan aspirasi masyarakat dan mengandung
perlindungan serta penghormatan terhadap hak asasi
manusia.
2) Dukungan Pemerintah
a) Masih rendahnya tekad pengutamaan kepentingan publik
dan komitmen akuntabilitas para elit politik dan birokrasi,
telah

melemahkan

upaya

pemberantasan

korupsi

terhadap kekayaan negara dan kekayaan masyarakat,


sekaligus pula memotivasi demonstrasi dan ketidak
tertiban masyarakat.
b) Komitmen pemerintah untuk melaksanakan sistem check
dan balances belum dilaksanakan secara optimal.

24

c) Akibat

lambannya

sistem

pemulihan

ekonomi

oleh

pemerintah belum dapat memecahkan secara nyata


pengangguran

dan

kemiskinan

sehingga

kejahatan

konvensional makin meluas, serta masih merupakan


potensi

perekayasaan

masyarakat

bawah

untuk

kepentingan destabilisasi politik terhadap kekuasaan, atau


menjadi kendala bagi munculnya berbagai gangguan
Kamtibmas.
3) Dukungan Masyarakat
a) Masyarakat masih memiliki anggapan keliru bahwa
kewibawaan Polri hanya pada senjata dan wewenang
formalnya.
b) Masyarakat tidak takut melanggar peraturan sehingga
seringkali melakukan tindakan yang mengambil jalan
pintas (kasus suap, KKN dll).

25

BAB V
IMPLEMENTASI TUGAS POKOK POLRI YANG PROFESIONAL SESUAI
PARADIGMA BARU GUNA HARKAMTIBMASYANG DIHARAPKAN
Guna memelihara Kamtibmas sesuai dengan yang diharapkan, maka
implementasi tugas pokok Polri yang profesional sesuai dengan paradigma baru
polisi sipil adalah sebagai berikut :
1.

Sebagai pengayom / pelindung masyarakat


a.

Dapat

memberikan

jaminan,

ketentraman,

keamanan

dan

keselamatan setiap warga dan masyarakat.


b.

Dapat melindungi harta benda dan kegiatan masyarakat dari setiap


gangguan yang datang.

c.

Membantu

menolong

kesulitan

masyarakat

dan

membimbing

masyarakat dalam ikut serta melakukan pengamanan secara


Swakarsa.
d.

Bersifat sebagai pamong.

e.

Dalam

melakukan

penertiban

tidak

menonjolkan

sikap-sikap

penguasa.
f.

Harus jadi contoh bagi yang ditertibkan.

g.

Dalam melakukan penertiban menampilkan sikap-sikap persuasif,


edukatifdan simpatik.

2.

Sebagai pelayan masyarakat


a.

Memberikan pelayanan terbaik.

b.

Menyelamatkan jiwa seseorang pada kesempatan pertama.

c.

Mengutamakan kemudahan tidak mempersulit.

d.

Bersikap hormat kepada siapapun dan tidak menunjukan sikap


congkak / arogan karena kekuasaan.

e.

Tidak membeda-bedakan pelayanan kepada semua orang.

f.

Tidak mengenal waktu istirahat atau tidak mengenal hari libur.

26

g.

Tidak membebani biaya kecuali diatur dalam peraturan perundangundangan.

h.

Tidak

boleh

menolak

permintaan

pertolongan

bantuan

dari

masyarakat dengan alasan bukan wilayah hukumnya atau karena


kekurangan alat atau personil.
i.

Tidak mengeluarkan kata-kata atau melakukan gerakan-gerakan


anggota tubuhnya yang mengisyaratkan meminta imbalan atas
bantuan polisi yang telah diberikan kepada masyarakat.

3.

Pelaksanaan tugas sebagai penegak hukum


a.

Melaksanakan

pembinaan

terhadap

masyarakat

untuk

dapat

meningkatkan pertisipasi masyarakat, kesadaran hukum masyarakat


serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan
perundang undangan.
b.

Turut serta dalam pembinaan hukum nasional.

c.

Memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum.

d.

Melakukan koordinasi, pengawasan dan pembinaan teknis terhadap


penyidik pegawai negeri sipil.

e.

Melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak


pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundangundangan lainnya. (Ketentuan Undang-undang hukum acara pidana
memberikan peranan utama kepada Polri dalam penyelidikan dan
penyidikan sehingga secara umum diberikan kewenangan untuk
melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak
pidana)

f.

Menyelenggarakan identifikasi kepolisian, kedokteran kepolisian,


laboratorium forensik dan psikologi kepolisian untuk kepentingan
tugas kepolisian, diantaranya untuk penyelidikan dan penyidikan
kasus pidana.

g.

Melaksanakan tugas-tugas lain sesuai dengan peraturan perundangundangan.

27

BAB VI
IMPLEMENTASI TUGAS POKOK POLRI YANG PROFESIONAL
SESUAI PARADIGMA BARU GUNA HARKAMTIBMAS
DALAM RANGKA PENGAMANAN PEMILU 2009
1. Tahapan Pemilu 2009
Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary, telah menetapkan bahwa
pemungutan suara Pemilu legislatif akan berlangsung pada tanggal 5 April
2009, sementara pendaftaran partai politik peserta Pemilu akan dibuka
mulai tanggal 7 April 2008 hingga 12 Mei 2008 (Kompas, 6 April 2008, Hal.
1).
Selanjutnya beliau juga menyampaikan 10 (sepuluh) tahapan Pemilu
2009 sesuai Undang-Undang No. 10 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum
anggota DPR, DPD dan DPRD, yakni sebagai berikut:
a. Pemutakhiran data pemilih dan penyusunan daftar pemilih 5 April- 20
Oktober 2008.
b. Pendaftaran dan penelitian peserta Pemilu untuk partai politik : 7 April
26 Juni 2008. Pendaftaran dan penelitian peserta Pemilu untuk
calon anggota DPD : 21 Mei 23 Agustus 2008.
c. Penetapan Parpol peserta Pemilu 4 Juli 2008. Penetapan peserta
calon anggota DPD : 27 September 2009.
d. Penetapan jumlah kursi dan daerah pemilihan : 1 Mei 12 Juni 2008.
e. Pencalonan anggota DPR, DPRD propinsi dan DPR kabupaten/Kota :
6 Juli 2008 - 4 April 2009.
f. Masa kampanye : 11 Maret 1 April 2009.
g. Masa tenang : 2 April 4 April 2009.
h. Pemungutan suara dan penghitungan suara : 5 April 20 April 2009.
i. Penetapan hasil Pemilu : 21 April 30 April 2009.
j. Pengucapan sumpah dan janji : 1 Oktober 2009.

2. Implementasi Tugas Pokok Polri yang profesional sesuai paradigma


baru guna Harkamtibmas dalam rangka pengamanan Pemilu 2009

28

a. Sebagai pelindung dan pengayom masyarakat


1) Mempersiapkan peta kerawanan daerah yang dapat dipedomani
untuk mengarahkan route patroli.
2) Mempersiapkan data waktu kerawanan yang dapat dipedomani
untuk menggerakkan anggota kapan harus melaksanakan
patroli.
3) Melaksanakan
meningkatkan

pelatihan-pelatihan
kemampuan

untuk

untuk

memelihara

melaksanakan

dan
tugas

pembimbingan, pengayoman dan perlindungan, antara lain:


a) Pelatihan cara berkomunikasi sosial yang baik.
b) Pemahaman peraturan perundang-undangan khususnya
Undang-Undang Pemilu.
c) Pelatihan beladiri, menembak.
d) Pelatihan penyelesaian konflik
4) Menyiapkan anggaran yang cukup untuk mendukung kegiatan.
5) Menyiapkan sarana prasarana yang diperlukan untuk tugastugas tersebut.
b. Sebagai pelayan masyarakat
1) Menyederhanakan birokrasi pelayanan khususnya di tingkat
Polres dan Polsek dengan membuka akses seluas mungkin bagi
masyarakat

dengan

mengaktifkan/mengoptimalisasikan

call

centre atau nomor panggilan polisi (110, 911, 199, dan lain-lain).
2) Meniadakan pungutan dalam bentuk apapun yang dapat
membebani masyarakat yang membutuhkan pengamanan polisi.
3) Mempersiapkan sarana prasarana yang diperlukan untuk
memberikan pelayanan.
4) Mempersiapkan data kerawanan yang akurat sebagai bahan
bagi kegiatan pelayanan masyarakat.
5) Melaksanakan pelatihan secara rutin/berkala untuk memelihara
dan meningkatkan kemampuan personel dalam pemberian
pelayanan.
a) Pelatihan beladiri.
b) Pelatihan penjagaan/pengawalan.

29

c) Pelatihan menembak.
d) Pelatihan penanganan unjuk rasa.
6) Meningkatkan kehadiran polisi di tengah-tengah masyarakat.
7) Mempersiapkan anggaran yang cukup untuk mendukung
pelaksanaan kegiatan.
c. Sebagai Penegak hukum
1) Tingkatkan akuntabilitas.
Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat
negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan
ketertiban masyarakat, menegakan hukum, serta memberikan
perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat
dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri. Dengan
demikian dalam penegakan hukum Polri bertanggung jawab
kepada negara maupun kepada masyarakat.
2) Tidak diskriminatif.
Diskriminasi

dalam

penindakan

hukum

merupakan

pembatasan, pelecehan atau pengucilan yang langsung ataupun


tidak

langsung

didasarkan

pada

perbedaan

manusia.

Perbedaan tersebut dapat atas dasar agama, suku, ras, etnik,


kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis
kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang dapat mengakibatkan
pengurangan, penyimpagan atau penghapusan pengakuan,
pelaksanaan

atau

penggunaan

hak

azasi

manusia

dan

kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun


kolektif dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya, hukum,
dan aspek kehidupan lainnya.
3) Transparan.
UU No. 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana
merupakan suatu langkah maju bagi pemerintah dalam usaha
meningkatkan dan menyempurnakan pemeliharaan hukum
nasional dengan mengadakan pembaharuan

kodifikasi serta

unifikasi hukum acara pidana. Dalam hukum acara tersebut


selain mengatur hubungan dan pengawasan antara aparat

30

penegak

hukum

(Polri,

Kejaksaan,

Peradilan,

Lembaga

Pemasyarakatan, Pengacara) juga mengatur hubungan antara


Polri degan masyarakat secara transparan, khususnya tentang
upaya paksa yang dilakukan oleh Polri.
4) Jujur dan adil.
Polri diberikan kekuasaan oleh negara untuk melaksanakan
penegakan hukum, tanpa mengurangi hak azasi manusia.
Kejujuran dan keadilan merupakan suatu syarat yang harus
dimiliki oleh setiap individu Polri dalam penegakan hukum, oleh
karena penegakan hukum sangat berhubungan erat dengan Hak
Azasi Manusia. Penyimpangan yang dilakukan oleh setiap
anggota Polri dapat mengakibatkan lembaga

Polri tidak

dipercaya oleh masyarakat.


5) Bebas KKN.
Untuk melaksanakan penegakan hukum, undang-undang
memberikan kewenangan yang sangat besar kepada Polri
selaku institusi maupun individu. Kewenangan yang sangat
besar dapat menimbulkan kecenderungan korupsi, kolusi dan
nepotisme.
6) Menjunjung tinggi HAM.
a) Undang-undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Azasi
Manusia mengamanatkan kepada setiap warga negara
Indonesia untuk menghormati, menjunjung tinggi HAM.
Hak Azasi Manusia Indonesia dilindungi oleh negara,
hukum, pemerintah serta setiap warga negara.
b) Undang-undang No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian
Negara Republik IndonesiaPasal 4 UU No. 2 tahun 2002
berbunyi : Kepolisian Negara Republik Indonesia bertujuan
untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi
terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib
dan tegaknya hukum terselenggaranya perlindungan,
pengayoman dan pelayanan masyarakat, serta terbinanya

31

ketentraman masyarakat dengan menjunjung tinggi Hak


Azasi Manusia.
Sementara itu strategi pengamanan Pemilu 2009 yang perlu
dipersiapkan adalah sebagai berikut :
a. Bidang Pre-emtif
Ditujukan untuk menciptakan situasi dan kondisi yang kondusif
yang memungkinkan diselenggarakannya Pemilu pada tahun 2009
melalui kegiatan di bidang :
1)

Intelijen

2)

Polmas

3)

Kerjasama instansi terkait khususnya Komisi Pemilihan umum


(KPU) dan Panitia Pengawasan Pemilu (Panwaslu).

4)

Melaksanakan

operasi

cipta

kondisi

terhadap

kejahatan

konvensional, kejahatan transnasional, kejahatan terhadap


kekayaan negara, dan kejahatan yang implikasi kontinjensi.
5)

Pengembangan teknologi informasi.

b. Bidang Preventif
Ditujukan untuk menangani kerawanan-kerawanan yang ada
untuk mempersempit ruang terjadinya pelanggaran pidana, melalui
kegiatan:
1)

Pelayanan kepolisian

2)

Pengaturan, penjagaan, pengawalan dan patroli.

3)

Kerjasama dengan instansi terkait, pengamanan swakarsa, TNI.

4)

Modernisasi peralatan.

5)

Mempersiapkan posko pengamanan.

c. Bidang Represif
Ditujukan untuk menindak setiap pelanggaran yang terjadi di
setiap tahapan Pemilu melalui kegiatan:
1) Penyelidikan
proporsional.

dan

penyidikan

secara

profesional

dan

32

2) Kerjasama KPU dan Panwaslu serta CJS.


3) Memanfaatkan teknologi informasi.

BAB VII
PENUTUP
1. Kesimpulan
Dari uraian dan pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut:
a. Implementasi pelaksanaan tugas pokok Polri baik berupa pelayanan,
pengayoman,

perlindungan

serta

penegakkan

hukum

guna

Harkamtibmas saat ini masih jauh perwujudan sikap dan perilaku yang
sesuai dengan paradigma baru polisi sipil.
b. Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan tugas Polri, baik
itu faktor internal dengan kekuatan dan kelemahannya, maupun faktor
eksternal dengan peluang dan kendalanya.
c. Implementasi pelaksanaan tugas yang diharapkan adalah pelaksanaan
tugas Polri yang sesuai dengan paradigma baru sebagai polisi sipil.

33

d. Dalam rangka pengamanan Pemilu 2009, implementasi tugas pokok Polri


baik itu pelayanan, pelindung, pengayom serta penegakan hukum
harus sudah sesuai dengan paradigma baru polisi sipil serta perlu
dipersiapkan strategi dalam bidang preemtif, preventif serta represif
sebagai strategi pengamanan Pemilu tersebut.
2. Rekomendasi
Sosialisasi tentang paradigma baru polisi sipil maupun tugas pokok
Polri yang sesuai dengan paradigma tersebut harus makin ditingkatkan.
Karena, salah satu penyebab kurangnya penerapan paradigma baru polisi
sipil dalam pelaksanaan tugas adalah kurangnya pemahaman anggota.

Lembang, 28 Agustus 2008


Penulis,
KELOMPOK 2 D