Anda di halaman 1dari 19

PENDAHULUAN

Tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan, dan


kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat
yang optimal yang ditandai oleh penduduknya berperilaku sehat dan dalam lingkungan
sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu
secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang optimal di seluruh
wilayah Republik Indonesia.
Walaupun telah menunjukan berbagai perbaikan, jika dibandingkan dengan
Negara negara tetangga, status kesehatan dan gizi masyarakat Indonesia masih
tertinggal. Selain itu, terjadi disparitas yang cukup mencolok antar wilayah, kota-desa,
dan tingkat social ekonomi. Indikator kesehatan dan gizi yang telah dicapai selama ini
masih jauh dari sasaran yang telah ditargetkan dalam Millennium Development Goals
(MDGs). MDG merupakan suatu kesepakatan global, sebagai benchmarks untuk
mengukur perkembangan dalam pencapaian Deklarasi Millenium 2000.
Berbagai faktor atau determinan yang mempengaruhi derajat kesehatan antara
lain adalah lingkungan, perilaku dan gaya hidup, faktor genetis, dan pelayanan
kesehatan. Dalam system kesehatan itu sendiri, menurut Sistem Kesehatan
Nasional (Depkes, 2004), paling tidak terdapat enam subsistem yang turut menentukan
kinerja sistem kesehatan nasional yaitu subsistem upaya kesehatan, pembiayaan
kesehatan, sumber daya manusia (SDM) kesehatan, obat dan perbekalan kesehatan,
pemberdayaan masyarakat, dan manajemen kesehatan

Dalam subsistem SDM kesehatan, tenaga kesehatan merupakan unsur utama


yang mendukung subsistem kesehatan lainnya. Yang dimaksud dengan tenaga
kesehatan adalah semua orang yang bekerja secara aktif dan profesional di bidang
kesehatan, yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan dalam melakukan upaya
kesehatan. Subsistem SDM kesehatan bertujuan pada tersedianya tenaga kesehatan
yang bermutu secara mencukupi, terdistribusi secara adil, serta termanfaatkan secara
berhasil-guna dan berdayaguna, untuk menjamin terselenggaranya pembangunan
kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Berdasarkan pemaparan diatas, maka dilakukan kajian mengenai perencanaan tenaga
kesehatan.

PEMBAHASAN
A . Definisi Tenaga Kesehatan
Tenaga kesehatan adalah semua orang yang bekerja secara aktif dan profesional
di bidang kesehatan, baik yang memiliki pendidikan formal kesehatan maupun tidak,
yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan dalam melakukan upaya kesehatan.
Dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN), tenaga kesehatan merupakan pokok dari
subsistem SDM kesehatan, yaitu tatanan yang menghimpun berbagai upaya
perencanaan, pendidikan dan pelatihan, serta pendayagunaan kesehatan secara terpadu
dan saling mendukung, guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya. Unsur utama dari subsistem ini adalah perencanaan, pendidikan dan
pelatihan, dan pendayagunaan tenaga kesehatan.
B. Keadaan Tenaga Kesehatan
Pengembangan SDM merupakan salah satu prioritas dari 8 (delapan) fokus
prioritas pembangunan kesehatan dalam kurun waktu 2010 2014. Penetapan
pengembangan SDM Kesehatan sebagai salah satu prioritas adalah karena Indonesia
masih menghadapi masalah tenaga kesehatan, baik jumlah, jenis, kualitas maupun
distribusinya.
Dari pendataan tenaga kesehatan pada tahun 2010, ketersediaan tenaga
kesehatan di rumah sakit milik pemerintah (Kementerian Kesehatan dan Pemerintah
Daerah), telah tersedia 7.336 dokter spesialis, 6.180 dokter umum, 1.660 dokter gigi,
68.835 perawat/bidan, 2.787 S-1 farmasi/apoteker, 1.656 asisten apoteker, 1.956 tenaga
kesehatan masyarakat, 4.221 sanitarian, 2.703 tenaga gizi, 1.598 tenaga keterapian

fisik, dan 6.680 tenaga keteknisian medis. Dengan memperhatikan standar ketenagaan
rumah sakit yang berlaku, maka pada tahun 2010 masih terdapat kekurangan tenaga
kesehatan di rumah sakit milik pemerintah (Kementerian Kesehatan dan Pemerintah
Daerah), sejumlah 2.098 dokter spesialis, 902 dokter umum, 443 dokter gigi, 6.677
perawat/bidan, 84 orang S-1 farmasi/apoteker, 979 asisten apoteker, 149 tenaga
kesehatan masyarakat, 243 sanitarian, 194 tenaga gizi, 800 tenaga keterapian fisik, dan
2.654 tenaga keteknisian medis. Dengan demikian kekurangan tenaga kesehatan di
rumah sakit akan lebih besar lagi bila dihitung kebutuhan tenaga kesehatan di RS milik
kementerian teknis lainnya, Rumah Sakit/Lembaga Kesehatan TNI dan POLRI serta
Rumah Sakit Swasta. (Kemenko Kesra, 2013)
Tabel 1. Ketersedian & Kekurangan Tenaga Kesehatan di RS Milik Kemenkes dan
Pemda pada tahun 2010

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

JENIS TENAGA
Dokter Spesialis
Dokter Umum
Dokter Gigi
Perawat/Bidan
Farmasi
Asistem Apoteker
SKM
Sanitarian
Gisi
Keterampilan Fisik
Keteknisian Medic

KETERSEDIAAN
7.336
6.180
1.660
68.835
2.787
1.656
1.956
4.221
2.703
1.598
6.680

KEKURANGAN
2.098
902
443
6.677
84
979
149
243
194
800
2.654
Sumber : Diolah dari badan PPSDM Kesehatan Kemenkes tahun 2011
Sedangkan di Puskemas pada tahun 2010 telah tersedia 14.840 dokter umum,

6.125 dokter gigi, 78.675 perawat, 7.704 perawat gigi, 83.000 bidan, 6.351 orang S-1
farmasi/apoteker, 8.601 asisten apoteker, 1.356 tenaga kesehatan masyarakat, 6.031
sanitarian, 7.547 tenaga gizi, dan 2.609 tenaga keteknisian medis. Pada tahun yang

sama, di Puskesmas di Daerah Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) telah


tersedia tenaga kesehatan sebanyak 130 dokter umum, 42 dokter gigi, 955 perawat, 53
perawat gigi, 496 bidan, 60 asisten apoteker, 54 tenaga kesehatan masyarakat, 76
sanitarian, 67 tenaga gizi, dan 54 tenaga keteknisian medis. Dengan memperhatikan
standar ketenagaan Puskesmas yang berlaku, maka pada tahun 2010 masih terdapat
kekurangan tenaga kesehatan di Puskesmas, sejumlah 149 dokter umum, 2.093 dokter
gigi, 280 perawat gigi, 21.797 bidan, 5.045 asisten apoteker, 13.019 tenaga kesehatan
masyarakat, 472 sanitarian, 303 tenaga gizi, dan 5.771 tenaga keteknisian medis.
(Kemenko Kesra, 2013)
Tabel 2. Ketersedian & Kekurangan Tenaga Kesehatan Puskesmas pada
tahun 2010

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

JENIS TENAGA
Dokter Umum
Dokter Gigi
Perawat
Perawat Gigi
Bidan
Farmasi
Asistem Apoteker
SKM
Sanitarian
Gisi
Keteknisian Medic

KETERSEDIAAN
14.840
6.125
78.675
7.704
83.000
6.351
8.601
1.356
6.031
7.547
2.609

KEKURANGAN
149
2.093
280
21.797
5.045
13.019
472
303
5.771

Sumber : Diolah dari badan PPSDM Kesehatan Kemenkes tahun 2011

Sedangkan untuk Puskesmas DTPK juga masih dihadapi kekurangan tenaga


kesehatan sejumlah 64 dokter umum, 59 dokter gigi, 48 perawat gigi, 35 asisten
apoteker, 249 tenaga kesehatan masyarakat, 25 sanitarian, 34 tenaga gizi, dan 47 tenaga
keteknisian medis. Pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan untuk daerah tertinggal,

terpencil, perbatasan dan kepulauan tahun demi tahun diupayakan untuk ditingkatkan,
namun belum dapat mencapai harapan.
Tabel 3. Ketersedian & Kekurangan Tenaga Kesehatan Puskesmas Di DTPK pada tahun
2010

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

JENIS TENAGA
Dokter Umum
Dokter Gigi
Perawat
Perawat Gigi
Bidan
Asistem Apoteker
SKM
Sanitarian
Gisi
Keteknisian Medic

KETERSEDIAAN
130
42
955
53
493
60
54
76
67
54

KEKURANGAN
64
59
48
41
57
25
34
47

Sumber : Diolah dari badan PPSDM Kesehatan Kemenkes tahun 2011

C. Perencanaan Kebutuhan Tenaga Kesehatan


Yang dimaksud dengan perencanaan tenaga kesehatan adalah upaya penetapan
jenis, jumlah, dan kualifikasi tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pembangunan
kesehatan.(Depkes, 2004).
Perencanaan tenaga kesehatan diatur melalui PP No.32 tahun 1996 tentang
Tenaga Kesehatan. Dalam Peraturan Pemerintah ini dinyatakan antar lain bahwa
pengadaan dan penempatan tenaga kesehatan dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan
tenaga kesehatan yang merata bagi masyarakat. Perencanaan nasional tenaga kesehatan
disusun dengan memperhatikan jenis pelayanan yang dibutuhkan, sarana kesehatan,
serta jenis dan jumlah yang sesuai. Perencanaan nasional tenaga kesehatan ditetapkan
oleh Menteri Kesehatan.

Sebagai turunan dari PP tersebut, telah diterbitkan beberapa Keputusan Menteri


Kesehatan (Kepmenkes). Kepmenkes No.850/Menkes/SK/XII/2000 Tahun 2000
(Depkes, 2004) antara lain mengatur tentang kebijakan perencanaan tenaga kesehatan
untuk meningkatkan kemampuan para perencanan pemerintah, masyarakat dan semua
profesi disemua tingkatan. Kepmenkes No. 81/Menkes/SK/I/2004 Tahun 2004
(Depkes, 2004) antara lain mengatur tentang pedoman penyusunan perencanaan
sumberdaya kesehatan di tingkat provinsi, kabupaten/kota, serta rumah sakit. Pada
Kepmenkes tersebut disediakan pula menu tentang metode perencanaan tenaga
kesehatan untuk dipilih sesuai dengan kemauan dan kemampuan.
Dalam hal perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan terdapat empat metoda
penyusunan yang dapat digunakan yaitu;
1. Health Need Method, yaitu perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan yang
didasarkan atas epidemiologi penyakit utama yang ada pada masyarakat.
2. Health Service Demand, yaitu perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan yang
didasarkan atas permintaan akibat beban pelayanan kesehatan.
3. Health Service Target Method yaitu perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan
yang didasarkan atas sarana pelayanan kesehatan yang ditetapkan, misalnya
Puskesmas, dan Rumah Sakit.
4. Ratios Method, yaitu perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan yang didasarkan
pada standar/rasio terhadap nilai tertentu.
Dalam prakteknya di Departemen Kesehatan lebih banyak menggunakan Ratios
Method dengan proses perhitungan sebagai berikut:

1. Menentukan/memperkirakan rasio terhadap suatu nilai, misalnya rasio tenaga


kesehatan dengan penduduk, dengan jumlah tempat tidur RS, dengan
Puskesmas,
2. Membuat proyeksi nilai tersebut kedalam sasaran/ target tertentu,
3. Menghitung perkiraan, yaitu dengan cara membagi nilai proyeksi dengan rasio.
Contoh, ratio tenaga kesehatan: tempat tidur di RS, di Indonesia, misalnya
1:5000, di India 1: 2000, di Amerika 1:500 (Suseno, 2005)
Dari analisis perencanaan kebutuhan tenaga, secara umum dapat dikatakan
tenaga kesehatan di Indonesia baik dari segi jumlah, jenis, kualifikasi, dan mutu dan
penyebarannya masih belum memadai. Beberapa jenis tenaga kesehatan yang baru
masih diperlukan pengaturannya. Beberapa jenis tenaga kesehatan masih tergolong
langka, dalam arti kebutuhannya besar tetapi jumlah tenaganya kurang karena jumlah
institusi pendidikannya terbatas dan kurang diminati.
D. Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan
Pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan adalah upaya pengadaan tenaga
kesehatan sesuai jenis, jumlah dan kualifikasi yang telah direncanakan serta
peningkatan kemampuan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan (Depkes,
2004). Berdasarkan PP No.32 Tahun 1996 dan Kepmenkes No.1192 Tahun 2004
(Depkes, 2004) terdapat enam kelompok pendidikan tenaga kesehatan yaitu:
1. Keperawatan yang meliputi Sekolah Perawat Kesehatan, Sekolah Pengatur
Rawat Gigi, Keperawatan, Kebidanan, dan Kesehatan Gigi
2. Kefarmasiaan, meliputi Sekolah Menengah Farmasi, Analis Farmasi
3. Kesehatan Masyarakat (Kesehatan Lingkungan)
4. Gizi

5. Keterapian Fisik meliputi Fisioterapi, Okupasi Terapi, Terapi Wicara,


Akupuntur
6. Keteknisan Medis meliputi SMAK, Analis Kesehatan, Teknik Gigi, Ortotik
Prostetik, Teknik Elektro Medik, Teknik Radiologi, Pendidikan Teknologi
Transfusi Darah, Perekam dan Informatika Kesehatan, dan Kardiovaksuler.
Jumlah Institusi pendidikan tenaga kesehatan seluruhnya 846 terdiri atas 199
Politeknik Kesehatan (Poltekes) dan 647 non Poltekes. Distribusi institusi pendidikan
tenaga kesehatan berdasarkan kelompok jenis tenaga kesehatan dapat dilihat pada Tabel
4 dibawah ini.
Tabel 4. Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan Berdasarkan Kelompok Jenis Tenaga
Kesehatan di Indonesia Tahun 2005

Poltekes
Jumlah
%
128
64,3
7
3,5
20
10,1
23
11,6
3
1,5
18
9,0
199
100

Kelompok
Keperawatan
Kefarmasian
Kesehatan Masyrakat
Gisi
Keterampilan Fisik
Keteknisian Medis
jumlah

Non Poltekes
Jumlah
%
457
70,3
73
11,3
19
2,9
11
1,7
17
2,6
70
10,8
647
100

Sumber : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan, Depkes 2015

Menurut kepemilikannya, 32 institusi milik pemerintah pusat, 102 milik


pemerintah daerah, 34 milik TNI, dan bagian terbesar (511) adalah milik swasta. Pada
tahun 2005 jumlah peserta didik seluruhnya sebanyak 146.220 orang terdiri dari 36.387
peserta

didik

poltekes,

dan

109.833

non

Poltekes.

Tujuan yang ingin dicapai oleh institusi pendidikan tenaga kesehatan adalah
menghasilkan tenaga kesehatan yang profesional dengan karakteristik sebagai berikut:
1. Memiliki bekal kemampuan dalam berhubungan dengan orang lain

2. Bekerja dengan benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik


3. Sanggup menggunakan wewenang secara arif dan bijaksana, dan
4. Mampu berperan aktif sebagai perencana, pelaksana dan penggerak
pembangunan.
Untuk mencapai tujuan tersebut maka dirumuskan empat strategi dasar yaitu:
1. Meningkatkan mutu lulusan pendidikan tenaga kesehatan
2. Meningkatkan mutu institusi pendidikan tenaga kesehatan
3. Meningkatkan kemitraan dan kemandirian institusi pendidikan tenaga
kesehatan.
Dalam hal peningkatan mutu lulusan tenaga kesehatan acuannya adalah PP No.
32 Tahun 1996 yang menetapkan bahwa tenaga kesehatan wajib memiliki pengetahuan
dan keterampilan di bidang kesehatan yang dinyatakan dengan ijazah dari lembaga
pendidikan. Setiap tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya juga berkewajiban
untuk

mematuhi

standar

profesi

tenaga

kesehatan.

Peningkatan mutu institusi pendidikan tenaga kesehatan diatur pada PP yang


sama. Dalam PP ini dinyatakan bahwa tenaga kesehatan dihasilkan melalui pendidikan
di bidang kesehatan. Lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan di
bidang kesehatan bisa pemerintah atau masyarakat. Penyelenggaraan pendidikan di
bidang kesehatan harus dilaksanakan berdasarkan izin sesuai dengan ketentuan
perundangan yang berlaku. Izin penyelenggaraan pendidikan profesional dikeluarkan
bersama oleh Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan Nasional.
Selanjutnya, izin penyelenggaraan pendidikan akademik dikeluarkan oleh Departemen
Pendidikan Nasional. Beberapa isu yang perlu mendapat perhatian dalam pendidikan
tenaga kesehatan antara lain:

1. Perencanan kebutuhan tenaga kesehatan dengan produksi lulusan yang


2.
3.
4.
5.

dihasilkan belum serasi


Kemampuan produksi belum sejalan dengan daya serap tenaga lulusan
Produksi lulusan belum sesuai dengan mutu yang diinginkan oleh pengguna
Kebijakan dan pengelolaan antara Poltekes dan Non Poltekses belum sinkron
Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan yang dilakukan oleh Pemerintah

belum sepadan dengan penyelenggaraan oleh swasta


6. Perundangan antara yang dikeluarkan oleh Depkes dan Depdiknas belum
selaras.
Penetapan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, telah
berdampak terhadap penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan oleh berbagai
instansi diluar Depdiknas termasuk Departemen Kesehatan. (Soeparan, 2005)
E. Pendayagunaan Tenaga Kesehatan
Pendayagunaan tenaga kesehatan adalah upaya pemerataan, pembinaan, dan
pengawasan tenaga kesehatan. Beberapa permasalahan klasik dalam pendayagunaan
tenaga kesehatan antara lain:
1. Kurang serasinya antara kemampuan produksi dengan pendayagunaan
2. Penyebaran tenaga kesehatan yang kurang merata
3. Kompetensi tenaga kesehatan kurang sesuai dengan kebutuhan pelayanan
kesehatan
4. Pengembangan karir kurang berjalan dengan baik
5. Standar profesi tenaga kesehatan belum terumuskan dengan lengkap
6. Sistem penghargaan dan sanksi tidak berjalan dengan semestinya.
Dalam hal pendayagunaan dan penempatan tenaga dokter tercatat paling tidak
tiga periode perkenmbangan kebijakan. Pada periode tahun 1974-1992, tenaga medis
harus melaksanakan kewajiban sebagai tenaga Inpres, diangkat sebagai PNS dengan
golongan kepangkatan III A atau dapat ditugaskan sebagai tenaga medis di ABRI. Masa

bakti untuk PNS Inpres selama 5 tahun di Jawa, dan 3 tahun di luar Jawa. Pada periode
ini berhasil diangkat sekitar 8.300 tenaga dokter dan dokter gigi dengan menggunakan
formasi Inpres dan hampir semua Puskesmas terisi oleh tenaga dokter.
Periode 1992-2002 ditetapkan kebijakan zero growth personel. Dengan
demikian hampir tidak ada pengangkatan tenaga dokter baru. Sebagai gantinya
pengangkatan tenaga medis dilakukan melalui program pegawai tidak tetap (PTT) yang
didasarkan atas Permenkes No. 1170.A/Menkes/Per/SK/VIII/1999. Masa bakti dokter
PTT selama 2 sampai 3 tahun. Dalam periode ini telah diangkat sebanyak 30.653
dokter dan 7.866 dokter gigi yang tersebar di seluruh tanah air. Pada tahun 2002 terjadi
beberapa permasalahan dalam penempatan dokter PTT yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Daftar tunggu PTT untuk provinsi favorit terlalu lama


Usia menjadi penghambat untuk melanjutkan pendidikan ke dokter spesialis
Terjadi kelambatan pembayaran gaji
Besarnya gaji tidak signifikan jika dibandingkan dengan dokter PNS
Adanya persyaratan jabatan sebagai Kepala Puskesmas
Ada anggapan melanggar hak azasi masusia (HAM) karena dianggap sebagai
kerja paksa.
Pada perode mulai tahun 2005 pengangkatan dokter dan dokter gigi PTT

mempunyai ciri sebagai berikut:


1.
2.
3.
4.

Bukan merupakan suatu kewajiban, tetapi bersifat sukarela


Tidak lagi memberlakukan kebijakan antrian/daftar tunggu
Semua provinsi terbuka untuk pelaksanaan PTT sesuai kebutuhan
Rekrutmen, seleksi administratif berdasarkan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif),

domisili, tahun kelulusan dan lamanya menunggu dalam antrian


5. Diprioritaskan bagi dokter dan dokter gigi yang belum melaksanakan masa
bakti

6. Dokter pasca PTT dapat diangkat kembali untuk provinsi yang kebutuhannya
belum terpenuhi
7. Pengurangan lama masa bakti bagi daerah yang kurang diminati seperti daerah
terpencil dan daerah pemekaran.
Kebijakan ini berpotensi menimbulkan permasalahan kompensasi gaji yang
tidak cukup menarik dan peminatan cenderung ke provinsi yang besar dan kaya
(misalnya Jabar, Jateng, Kepulauan Riau, DI Yogyakarta, dan Kaltim). Provinsiprovinsi di kawasan timur Indonesia pada umumnya kurang peminat karena adanya
alternatif pilihan di provinsi lain.
Dalam hal penempatan dokter spesialis, sampai dengan Desember 2004 jumlah
dokter spesialis (PNS) di seluruh wilayah Indonesia sebanyak 11.057 orang. Jumlah RS
vertikal dan Daerah sebanyak 420 RS. Jumlah dokter spesialis yang bertugas di RS
milik 22 Pemerintah sebanyak 7.461 orang, terdapat kekurangan sebanyak 3.868 orang.
Rata-rata produksi dan penempatan tenaga dokter spesialis per tahun sebanyak 509
orang.
Sejak diterapkannya otonomi daerah, penempatan dokter spesialis harus terlebih
dulu ditawarkan melalui pejabat pembina kepegawaian (PP No.9 Tahun 2003). Pada
akhir tahun 1999 diberlakukan kebijakan penundaan masa bakti bagi dokter spesialis
yang langsung diterima pendidikan spesialis. Dengan adanya pengurangan masa bakti
bagi dokter spesialis bagi daerah tertentu, misalnya di provinsi NAD cukup menarik
minat untuk bertugas di daerah.

Tenaga kesehatan lainnya yang cukup penting adalah bidan, sebagai tenaga
yang diharapkan berperan dalam penurunan angka kematian bayi dan kematian ibu
melahirkan. Seperti halnya dengan dokter, pengangkatan tenaga bidan menggunakan
sistem PTT dengan karakteristik kebijakan sebagai berikut:
1. Penugasan selama 3 tahun di daerah biasa dan 2 tahun di daerah terpencil
2. Penugasan dapat diperpanjang dua kali di desa yang sama dan dimungkinkan
untuk diangkat kembali sebagai bidan PTT sesuai kebutuhan.
Sampai dengan bulan April 2005 keberadaan Bidan PTT di seluruh tanah air
sebanyak 32.470 orang, berarti kurang dari 50 % dari jumlah desa. Beberapa
permasalahan yang berkaitan dengan Bidan PTT antara lain pada umumnya mereka
berharap dapat diangkat sebagai PNS (peningkatan status), kompensasi gaji relatif tidak
memadai, dan besaran gaji antara daerah terpencil dengan sangat terpencil relatif kecil
sehingga tidak menarik. (Ruswendi, 2005)
Pembinaan dan pengawasan praktik profesi tenaga kesehatan belum terlaksana
dengan baik. Pada masa mendatang, pembinaan dan pengawasan tersebut dilakukan
melalui sertifikasi, registrasi, uji kompetensi, dan pemberian lisensi. Sertifikasi
dilakukan oleh institusi pendidikan, registrasi dilakukan oleh komite registrasi tenaga
kesehatn, uji kompetensi dilakukan oleh setiap organisasi profesi, sedangkan pemberian
lisensi dilakukan oleh pemerintah. Pengaturan ini memerlukan dukungan peraturan
perundangan yang kuat. Sampai saat ini baru profesi kedokteran yang sudah memiliki
UU Praktik Kedokteran.
F.

Proses Penyelenggaraan Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka penyelenggaraan Rencana


Pengembangan Tenaga Kesehatan dilaksanakan melalui proses :
1. Penetapan Rencana Pengembangan Tenaga Kese-hatan.
Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan yang merupakan acuan bagi
semua pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan pengembangan tenaga
kesehatan, perlu ditetapkan sebagai produk peraturan perundang-undangan yang
mempunyai kepastian hukum yang mengikat sebagai pedoman atau acuan bagi
semua pemangku kepentingan.
2. Sosialisasi Rencana Pengembangan Tenaga Kese-hatan.
Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan perlu disosialisasikan kepada
semua

pemangku

kepentingan,

guna

memperoleh

komitmen

dan

kontribusi/dukungan dalam penyelenggaraan pengembangan tenaga kesehatan.


Sasaran sosialisasi adalah semua penentu kebijakan dan penanggung jawab
kegiatan pengembangan tenaga kesehatan, baik di lingkungan pemerintah secara
lintas sector, dan masyarakat termasuk swasta.
Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat melaksanakan
sosialisasi Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan.
3. Fasilitasi penyelenggaraan Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan.
Agar penyelenggaraan pengembangan tenaga kesehatan dapat lebih terarah
dalam mencapai tujuan dan sasaran seperti tercantum dalam Rencana
Pengembangan Tenaga Kesehatan.
Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat melakukan
fasilitasi sesuai keperluannya. Dalam operasionalnya, Kementerian Koordinator

Bidang Kesejahteraan Rakyat dibantu oleh Tim Koordinasi dan Fasilitasi


Pengembangan Tenaga Kesehatan yang dibentuk di pusat dan provinsi.

PENUTUP
Kesimpulan
Penyelenggaraan Rencana Tenaga Kesehatan perlu menerapkan prinsip-prinsip
koordinasi, integrasi dan sinergisme antar para pemangku kepentingan dalam
pengembangan tenaga kesehatan itu sendiri. Dalam penyelenggaraan pengembangan
tenaga kesehatan diperlukan sumber daya yang memadai, utamanya sumber daya
manusia dan pembiayaan. Semua pemangku kepentingan dalam pengembangan tenaga
kesehatan mengupayakan ketersediaan sumber daya termaksud untuk melaksanakan
kegiatan, peran dan kontribusinya dalam pengembangan tenaga kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan RI. 2005. Analisis Situasi dan Kecenderungan Pembangunan
Kesehatan 2000-2005 (Rancangan 12 Desember 2005)
Departemen Kesehatan RI. 2004. Keputusan Menteri Kesehatan RI No.81/
Menkes/SK/I/2004 tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan Sumberdaya
Manusia Kesehatan Di Tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota Serta Rumah
Sakit
Departemen Kesehatan RI. 2004. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
1199/Menkes/Per/X/2004 Tentang Pedoman Pengadaan Tenaga Kesehatan
Dengan Perjanjian Kerja di Sarana Kesehatan Milik Pemerintah.
Kemenko Kesra. 2013. Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan Tahun 2011-2025.
Nomor 54 Tahun 2013.
Soeparan, S. 2005. Kebijakan Pengadaan Tenaga Kesehatan Melalui Pendidikan
Tenaga Kesehatan. (Makalah disampaikan pada Pertemuan Kebijakan
Perencanaan
Tenaga Bidang Kesehatan di Hotel Jayakarta, Jakarta, 4 Agustus 2005
Suseno, Untung. 2005. Kebijakan Perencanaan Kebutuhan Tenaga Kesehatan.
(Makalah disampaikan pada Pertemuan Kebijakan Perencanaan Tenaga
Bidang
Kesehatan di Hotel Jayakarta, Jakarta, 4 Agustus 20050