Anda di halaman 1dari 12

Manifestasi Klinis

1. Perdarahan per-uretra post trauma.


2. Retensi urine.
3. Lebih khusus pada ruptur ureta posterior dan ruptur ureta anterior :
a. Pada Posterior
Perdarahan per uretra
Retensi urine.
Pemeriksaan Rektal Tuse : Floating Prostat.
Ureterografi: ekstravasasi kontras dan adanya fraktur pelvis.
b. Pada Anterior:
Perdarahan per-uretra/ hematuri.
Sleeve Hematom/butterfly hematom.
Kadang terjadi retensi urine.
Ruptur Uretra Anterior
1) Patologi
Uretra anterior terbungkus dalam corpus spongiosum penis. Corpus
spongiosum bersamaan dengan corpora cavernosum dibungkus oleh fascia
buck dan fascia colles. Apabila terjadi ruptur uretra beserta corpus
spongiosum, darah dan urine keluar dari uretra tetapi masih terbatas pada fasia
buck, dan secara klinis terlihat hematoma yang terbatas pada penis. Namun
apabila robek terjadi hingga ke fascia buck, ekstravasasi darah dan urin dapat
menjalar hingga ke scrotum atau ke dinding abdomen dengan gambaran
seperti kupu-kupu sehingga sering disebut butterfly hematoma. (Purnomo,
2011)
Trauma uretra pars bulbosa terjadi akibat jatuh terduduk atau
terkangkang sehingga uretra terjepit antara objek yang keras, seperti batu,
kayu atau palang sepeda dengan tulang simfisis (Rosesntein et al, 2006).

Gambar. Mekanisme trauma tumpul pada uretra anterior. A) Ilustrasi Straddle injury dimana
uretra terjepit diantara tulang pelvis dengan benda tumpul. Cedera selangkangan
menyebabkan rupture uretra pars bulbolosa . B. lapisan yang membungkus uretra
mulai dari korpus spongiosum (k.s), fasia Buck (fB), dan fasia Colles (fC). C dan
D. robekan uretra dengan fasia Buck masih utuh menyebabkan hematom berbatas
pada penis (h.p). E dan F. Robekan fasia Buck menyebabkan hematom meluas
sampai ke skrotum sebagai hematom kupu-kupu (h.k)

2) Diagnosis
-

Pada kontusio uretra pasien mengeluh adanya perdarahan per-uretram


atau hematuria. Jika terjadi robekanpada korpus spongiosum, terlihat
adanya hematom pada penis atau hematom kupu-kupu. Pada keadaan
ini seringkali pasien tidakdapat miksi.

Gambar Butterfly Hematom pada Straddle Injury

Pemeriksaan uretrografi retrograd, gambaran ruptur uretra berupa


adanya ekstravasasi kontras di pars bulbosa. Namun pada keadaan
kontusio uretra, biasanya tidak menunjukan adanya ekstravasasi
kontras .(Purnomo, 2010).

Gambar Ekstravasasi kontras di urethra pars bulbaris pada straddle


injury (Ramchandani, 2009).
3) Tindakan
a) Pada Kontusio uretra umumnya tidak memerlukan tindakan khusus.
b) Pada ruptur uretra parsial dengan ekstravasasi ringan, dapat dilakukan
sistotomi dan pemasangan kateter foley untuk mengalihkan aliran
urine. Kateter dipertahankan hingga 2 minggu, kemudian dievaluasi
dengan pemeriksaan uretrografi hingga dipastikan tidak ditemukan lagi
ekstravasasi kontras maupun striktur uretra.
c) Pada ruptur uretra anterior total, langsung dilakukan pemulihan uretra
dengan anastomosis ujung ke ujung melalui sayatan perineal. Dipasang
kateter silicon selama 3 minggu.
d) Pada ruptur dengan ekstravasasi urine dan hematom yang luas perlu
dilakukan debridement dan incisi hematoma untuk mencegah
terjadinya infeksi. Apabila luka sudah membaik, baru dilakukan
reparasi uretra
e) Apabila terjadi striktur uretra, dilakukan reparasi uretra atau sachse.
(Sjamjuhidajat, 2005)
Ruptura Uretra Posterior
Penyebab terseringnya adalah akibat fraktur tulang pelvis.
1) Patologi
Fraktur yang mengenai ramus atau simfisis pubis dan menimbulkan
kerusakan pada cincin pelvis, menyebabkan robekan uretra pars prostato
membranasea. Fraktur pelvis dan pembuluh darah yang berada di dalam
kavum pelvis menyebabkan hematoma yang luas di cavum retzius sehingga

apabila ligamentum pubo prostatikum ikut robek, maka prostat dan vesica
urinaria akan terangkat ke atas (Rosesntein et al, 2006).
2) Diagnosis
Pasien yang menderita cedera uretra posterior seringkali dating dalam
keadaan syok karena terdapat fraktur pelvis/ cedera organ lain yang
menimbulkanbanyak

perdarahan.

Rupture

uretra

posterior

sering

memberikan gambaran yang khas berupa: (1) perdarahan per uretram, (2)
retensi urin, (3) pada pemeriksaan rectal touch didapatkan prostat
mengapung (floating prostate) dalam suatu hematom akibat rupture total dari
urethra pars membranacea oleh karena terputusnya ligament puboprostatika.
Pada pemeriksaan uretrografi retrograd mungkin terdapat elongasi uretra atau
ekstravasasi kontras pada pars prortato membranasea. (Purnomo, 2010)
Derajat Ruptura uretra posterior berdasarkan Colapinto dan McCollum
(1976) adalah sebagai berikut (Rosesntein et al, 2006):
a) Colapinto I
- Uretra posterior masih utuh dan hanya mengalami peregangan
(stretching).
Gambaran uretrogram : Tidak ada ekstravasasi, uretra tampak
memanjang.

Gambar Gambaran urethra posterior yang teregang tetapi masih intak


tanpa adanya ekstravasasi kontras pada uretrogram
ascending (Ramchandani, 2009).

b) Colapinto II
Uretra posterior

terputus

pada

perbatasan

prostato

membranasea, sedagkan diafragma urogenitalia masih utuh.


Gambaran uretrogram : menunjukkan ekstravasasi kontras
yang masih terbatas pada diafragma urogenital.

Gambar. Tampak ekstravasasi kontras (panah putih) dengan gambaran


diafragma urogenital yang masih intak (panah hitam).
Menunjukan trauma urethra posterior (Ramchandani,
2009).

c) Colapinto III
Uretra posterior, diafragma urogenital dan uretra pars bulbosa
proksimal ikut rusak.
Gambaran uretrogram : menunjukkan ekstravasasi kontras
meluas sampai bawah diafragma urogenital hingga ke
perineum.

Gambar Gambaran ekstravasasi kontras meluas sampai bawah diafragma


urogenital hingga ke perineum (Ramchandani, 2009).

3) Tindakan
Ruptura uretra posterior biasanya diikuti oleh trauma mayor pada
organ lain (abdomen dan fraktur pelvis) dengan disertai ancaman jiwa berupa
perdarahan. Oleh karena itu sebaiknya di bidang urologi tidak perlu
melakukan tindakan yang invasive pada uretra. Tindakan yang berlebihan
akan menimbulkan perdarahan yang lebih banyak pada kavumpelvis dan
prostat serta menambah kerusakan pada uretra dan struktur neurovaskular

disekitarnya. Kerusakan neurovascular menambah kemungkinan terjadinya


disfungsi ereksi dan inkontenensia.
Pada keadaan akut tindakan yang dilakukan adalah sistostomi untuk
diversi urin.setelah keadaan stabil sebagian urologi melakukan primary
endoscopic realignment (PER) yaitu melakukan pemasangan kateter uretra
sebagai splint melalui tuntunan uretroskopi. Dengan cara ini diharapkan kedua
ujung uretra yang terpisah dapat saling didekatkan. Tindakan ini
dilakukansebelum 1 minggu pasca rupture dan kateter uretra dipertahankan

selama 14 hari. Sebagain ahli lain mengerjakan reparasi uretra (uretroplasti)


setelah 3 bulan pasca trauma dengan asumsi bahwa jaringan parut pada uretra
telah stabil dan matang sehingga tindakan rekonstruksi membuahkan hasil
yang baik. (Purnomo, 2011)

Gambar Teknik kateterisasi railroading (Rosesntein et al, 2006)

Keterangan (rail roading) :


A. Selang karet atau plastik diikat ketat pada ujung sonde dari meatus
uretra.
B. Sonde uretra pertama masuk dari meatus eksternus dan sonde
kedua melalui sistostomi yang dibuat lebih dahulu saling bertemu,
ditandai bunyi denting yang juga dirasa di tempat rupture.
C. Selanjutnya sonde dari uretra masuk ke kandung kemih dengan
bimbingan sonde dari buli-buli.
D. Sonde dicabut dari meatus uretra.
E. Sonde dicabut dari kateter Nelaton dan diganti dengan ujung
kateter Foley yang dijepit pada kateter Nelaton
F. Ujung kateter ditarik kearah buli-buli sehingga ujung kateter Foley
muncul di buli-buli.
G. Kateter Nelaton dilepas, kemudian balon dikembangkan dan
diklem.
H. Selanjutnya dipasang kantong penampung urin dan traksi ringan
sehingga balon kateter Foley tertarik dan menyebabkan luka
rupture merapat. Insisi di buli-buli ditutup.
(Rosesntein et al, 2006)
Komplikasi Trauma Uretra
Penyulit yang dapat terjadi pada rupture uretra adalah striktur uretra
yang seringkali kambuh, disfungsi ereksi, inkontinensia urine. Disfungsi

ereksi terjadi pada 13-30% kasus disebabkan karena kerusakan saraf


parasimpatis atau insufisiensi arteria yang disebabkan oleh kerusakan
neurovaskuler disekitar uretra saat terjadi trauma. Inkontenesia urin lebih
jarang terjadi, yaitu 2-4% yang disebabkan karena kerusakan sfingter uretra
eksterna yang disebabkan oleh kerusakan neurovaskuler disekitar uretra saat
terjadi trauma. Setelah dilakukan rekonstruksi seringkali masih timbul
striktura (12-15%) yang dapat diatasi dengan uretrotomia interna (sachse).
Meskipun masih bisa kambuh kembali,striktur ini biasanya tidak memerlukan
tindakan uretroplasti ulangan. (Purnomo, 2011).
Prognosis
Ruptur uretra anterior mempunyai prognosis yang lebih baik ketika
diketahui tidak menimbulkan striktur uretra karena apabila terjadi infeksi
dapat membaik dengan terapi yang tepat. Sedangkan pada ruptur uretra
posterior ketika disertai dengan komplikasi yang berat maka prognosis akan
lebih buruk (Palinrungi. 2009).

BAB 3
PENUTUP
Kesimpulan

1. Trauma uretra dapat diklasifikasikan menjadi 2 kategori yaitu trauma


uretra anterior dan trauma uretra posterior.
2. Perbedaan jenis trauma uretra berdasarkan lokasi anatomi berhubungan
pula dengan perbedaan faktor etiologi trauma, tanda dan gejala klinis
serta tindakan yang perlu dilakukan dalam pengelolaan masing-masing
kasus.
3. Diagnosis trauma uretra ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik
serta hasil dari pemeriksaan penunjang.
4. Tindakan dalam penanganan trauma uretra disesuaikan berdasarkan jenis

traumanya.

Daftar Pustaka

Palinrungi AM. 2009. Lecture notes on urological emergencies & trauma. Makassar:
Division of Urology, Departement of Surgery, Faculty of Medicine, Hasanuddin
University. p. 131-6
Purnomo, B. 2010. Trauma Uretra dalam Dasar-dasar Urologi. Jakarta : Sagung
Seto.
Purnomo, B. 2011. Trauma Uretra dalam Dasar-dasar Urologi. Jakarta : Sagung
Seto.

Ramchandani P and Buckler P. 2009. Imaging of Genitourinary Trauma. American


Journal of Roentgenology. AJR Vol. 192, Issue 6: 12-17
Rosesntein, D et al. 2006. Diagnosis and Classification of Uretral Injuries. America
Journal of Urology Clinic. Urol Clin N Am 33: 73-85.
Sjamsuhidajat R, Jong WM. Buku ajar ilmu bedah. Edisi 2.Jakarta : EGC; 2005