Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMAKOKINETIKA DASAR

PERCOBAAN 5
PENENTUAN PARAMETER FARMAKOKINETIKA SALISILAT DENGAN
DATA URIN

Disusun oleh :
Golongan / Kelompok

:I/1

Nama Mahasiswa

: 1. Oki Lia Saputri

(G1F014001)

2. Melani Dian Arini

(G1F014017)

3. Ismah Maziyah

(G1F014033)

4. Amyda Ayu Dianritami

(G1F014053)

5. Irenne Agustina Tanto

(G1F014071)

Tanggal Praktikum

: 1 Juni 2016

Nama Asisten

: Farah K., Pramita Putri, Catherine

Nama Dosen Pembimbing

: Tunggul Adi Purwonugroho, M.Sc., Apt.

LABORATORIUM FARMASI KLINIK


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2016

PERCOBAAN 5
PENENTUAN PARAMETER FARMAKOKINETIKA SALISILAT DENGAN DATA
URIN
A. TUJUAN
Tujuan umum

: Menentukan parameter farmakokinetika suatu obat dengan

menggunakan data urin


Tujuan Khusus :
Mampu menerapkan cara mendapatkan data ekskresi obat dalam urin yang sahih

untuk parameter farmakokinetika


Dapat menghitung parameter farmakokinetika berdasarkan data ekskresi obat
dalam urin

B. DATA PENGAMATAN
Obat diberikan secara intravena dengan dosis 300 mg
METODE T MID
Time

Volume

(hour)

urine (ml)

0-2
2-4
4-6
6-8
8-10
10-12
12-18
18-24
24-

Urine
Concentratio

Du (mg)

Du / dt

T mid

Ln Du/dt

50
46
48
49
46
48
134
144

n (mg/ml)
1,666
1,069
0,592
0,335
0,210
0,116
0,047
0,009

83,3
49,174
28,416
16,415
9,66
5,568
6,298
1,296

41,65
24,587
14,208
8,2075
4,83
2,784
1,049
0,216

1
3
5
7
9
11
15
21

3,729
3,202
2,653
2,105
1,574
1,023
0,047
-1,532

T mid vs Ln Du/dt
5
4
f(x) = - 0.26x + 3.97
R = 1

Ln Du/dt

2
1
0
-1

a = 3,966
0

10

15

20

25

-2

y = 3,966 0,262 x

T mid (hour)

b = -0,262

= Ln (Ke. Db0) k . t

Ln (Ke. Db0) = 3,966


Ke. Db0

= 52,77

Ke

52,77
Db 0

52,77
300

t1/2

0,693
0,262

= 2,64 jam
7 x t1/2

= 7 x 2,64
= 18,48 jam

= 0,176 / jam
Keliminasi

= K ekskresi + K metabolisme

0,262

= 0,176 + k metabolisme

K metabolisme

= 0,086

Bentuk tidak berubah =

K ekskresi
K eliminasi

Bentuk berubah

K ekskresi
K eliminasi

0,176
0,262

= 0,67

0,086
0,262

= 0,33

METODE ARE
Time

Volume

(hour)

urine (ml)

Urine
Concentratio
n (mg/ml)

Du (mg)

Du

Du -

kumulatif

Du

Ln Du
- Du

0-2
2-4
4-6
6-8
8-10
10-12
12-18
18-24
24-

50
46
48
49
46
48
134
144

1,666
1,069
0,592
0,335
0,210
0,116
0,047
0,009

83,3
49,174
28,416
16,415
9,66
5,568
6,298
1,296

83,3
132,474
160,89
177,305
186,965
192,533
198,831
200,271

116,827
67,653
39,237
22,822
13,162
7,594
1,296
0

4,760
4,214
3,669
3,127
2,577
2,027
0,259
-

T vs Ln Ln Du- Du
5
f(x) = - 0.28x + 5.35
R = 1

4
3

Ln Ln Du- Du 2

a = 5,350

1
0

10 12 14 16 18 20

T (hour)

Ln Du - Du
Ln Du
Du
K

= Ln Du - k. t

= 5,350
= 210,608
= b = 0,280 / jam

b = -0,280
y = 5,350 0,280 x

C. PEMBAHASAN
Kompartemen farmakokinetik dari obat pada setiap tahap perlu ditetapkan secara
kuantitatif

dan

dijelaskan

dengan

bantuan

parameter

farmakokinetik.

Parameter

farmakokinetik ditentukan dengan perhitungan matematika dari data kinetika obat di dalam
plasma atau di dalam urin yang diperoleh setelah pemberian obat melalui berbagai rute
pemberian, baik secara intravaskular atau ekstravaskular (Sukmadjaya, 2006).
Terdapat tiga jenis parameter farmakokinetik yaitu parameter primer, sekunder, dan
turunan. Parameter farmakokinetik primer meliputi kecepatan absorbsi, Vd (volume
distribusi), Cl (klirens). Parameter farmakokinetik sekunder antara lain adalah t 1/2 eliminasi
(waktu paruh eliminasi), Ke (konstanta kecepatan eliminasi). Sedangkan parameter
farmakokinetik turunan harganya tergantung dari dosis dan kecepatan pemberian obat
(Donatus, 2008).
Penilaian ketersediaan hayati pada sukeralawan dapat dilakukan dengan beberapa
metode (Donatus, 2008):
1. Metode menggunakan data darah
2. Data urin
3. Data efek farmakologis
4. Data respon klinis
Pemilihan metode bergantung pada tujuan studi, metode analisis utntuk penetapan
kadar obat dan sifat produk obat. Data darah dan data urin lazim digunakan untuk menilai
ketersediaan hayati sedian obat yang metode analisis zat berkhasiatnya telah diketahui cara
dan validitasnya (Rowland, 1980).
Tetapan laju eliminasi (Ke) dapat dihitung dari data eksresi urin menggunakan Rate
Method (T MID) dan metode sigma minus (ARE). Metode rate adalah perhitungan parameter
farmakokinetika dilakukan berdasarkan perkiraan data tengah (mid point time) tiap interval
pengambilan sampel urin. Sedangkan, metode sigma minus adalah perhitungan parameter
farmakokinetika langsung menggunakan data yang diperoleh tanpa mencari data tengah
(Hakim, 2013).
Pada praktikum kali ini adalah praktikum dry lab untuk menentukan parameter
farmakokinetik dengan menghitung serta membandingkan Ke pada suatu data dengan
menggunakan data ekskresi obat melalui urin dengan metode yang berbeda yaitu metode
kecepatan ekskresi urin (Rate Method) dan metode sigma minus (ARE). Data yang dipakai

lewat urin dapat dipakai untuk memperkirakan bioavailabilitas obat. Data urin dengan
menggunakan laju ekskresi digunakan untuk menghitung parameter farmakokinetik pada
pemberian intravaskuler. Data urin yang digunakan adalah dosis obat, bukan kadar obat
seperti dalam data darah (Sweetman, 2007).
Pemberian intravaskuler dengan data urin lazim digunakan pada sampel, sehingga
pada akhirnya obat akan terdistribusi dalam ginjal dan metabolitnya akan dikeluarkan melalui
organ ginjal dalam urin. Keunggulan pengambilan sampel melalui urin tidak memerlukan alat
khusus (seperti jarum kupu-kupu), dan bersifat tidak menyakitkan (non-infasive). Beberapa
ketentuan yang harus dipenuhi adalah obat tidak memiliki waktu paro yang pendek serta
tidak mengalaami metabolisme yang ekstensif (Ritschell, 2004).
Faktor-faktor tertentu dapat mempersulit untuk mendapatkan data ekskresi urin yang
sahih. Beberapa faktor tersebut adalah :
1. Suatu fraksi yang bermakna dari obat tidak berubah harus diekskresi dalam urin.
2. Teknik penetapan kadar harus spesifik untuk obat tidak berubah, dan harus tidak
dipengaruhi oleh metabolit-metabolit obat yang mempunyai struktur kimia yang serupa.
3. Diperlukan pengambilan cuplikan yang seringuntuk mendapatkan gambaran kurva yang
baik.
4. Cuplikan hendaknya dikumpulkan secara berkala sampai hamper semua obat diekskresi.
Suatu grafik dari kumulatif obat yang diekskresi vs waktu akan menghasilkan kurva yang
mendekati asimtot pada waktu yang tak berhingga. Dalam praktek diperlukan kurang
lebih 7 t1/2 eliminasi untuk mengeliminasi 99% obat.
5. Perbedaan pH urin dan volume dapat menyebabkan perbedaan laju ekskresi urin yang
bermakna.
(Shargel et al., 2005).
Pada metode rate perhitungan parameter farmakokinetika dilakukan berdasarkan
perkiraan data tengah (mid point time) tiap interval pengambilan sampel urin. Pada tetapan
kecepatan eliminasi orde pertama (k) bisa juga dihitung dengan data urin setelah obat
diberika secara intravaskuler dosis tunggal yang farmakokinetikanya diterangkan dengan
model 1 kompartemen terbuka (Hakim, 2013). Sedangkan pada metode sigma minus
perhitungan parameter farmakokinetika langsung menggunakan data yang diperoleh tanpa
mencari data tengah. Pada pengambilan sampel urin dengan metode sigma minus akan
berpengaruh pada jumlah kumulasi obat yang dieksresikan melalui urin, karena pada metode
ini nilai kumulasi obat pada waktu tak terhingga dianggap sama dengan nilai kumulasi obat

pada waktu pengambilan terakhir urin. Hal tersebut ayng menjadi dasar lamanya waktu
pengambilan urin pada metode sigma minus (Paradkar & Bakliwal, 2008; Hakim, 2013).
Perbandingan antara Rate Method dan Sigma Minus adalah:
1. Pada Rate method, Du

tidak perlu diketahui dan hilangnya satu spesimen

urin tidak mempengaruhi analisis

2. Sigma minus methode, membutuhkan penentuan akurat Du


ekskresi obat selesai
3. Fluktuasi tingkat eliminasi

obat

dan

kesalahan

dari urin hingga

eksperimental

(seperti

pengosongan lamnung kurang lengkap) menyebabkan peningkatan besar dari


linearitas dalam rate method
4. Sigma minus kurang dipengaruhi oleh fluktuasi nilai eliminasi obat
5. Rate method berlaku proses eliminasi obat orde 0, sigma minus tidak
6. Tetapam laju eliminasi (K) dapat diperoleh dari Rate method, tidak pada Sigma
minus
(Sweetman, 2007)
Hasil
Metode T Mid
Pada Rate Method, dari kurva diatas dapat diperoleh persamaan regresi linear y=
3,966 - 0,262x dengan R2 sebesar 0,9997, waktu paruh sebesar 2,64 jam. Dari hasil waktu
paruh diketahui bahwa waktu yang diperlukan obat untuk tereliminasi separuh dari
konsentrasi awal adalah 2,64 jam, Ke (eksresi) sebesar 0,176/jam, K (eliminasi) sebesar 0,
262/jam. Dari nilai K dan Ke yang diketahui dapat tentukan nilai Km (tetapan laju
metabolisme) untuk mengetahui seberapa besar obat yang termetabolisme sehingga
strukturnya menjadi berubah. Didapatkan nilai Km adalah 0,086/jam. Sehingga dapat
ditentukan prosentase obat yang berubah strukturnya sebesar 33% dan yang tidak berubah
sebesar 67%. Kemudian pada tabel data pengamatan didapatkan Du

adalah sebesar

200,127 mg. Nilai tersebut merupakan nilai dari dosis obat yang utuh atau tidak berubah
strukturnya dari dosis awal obat yaitu 300 mg, dan sisanya mengalami perubahan struktur.
Fluktuasi pada kecepatan eliminasi obat menyebabkan kurva tidak linear. Interval waktu
pengambilan sampel sebaiknya lebih pendek atau maksimal mendekati waktu paruh. Karena
jika semakin panjang akan menyebabkan tingkat kesalahan K dan Ke menjadi lebih besar.

Metode ini lebih peka terhadap perubahan eliminasi obat, misal terhadap perubahan pH atau
volume urin.
Metode ARE
Pada metode Sigma minus, dari kurva diatas dapat diperoleh persamaan regresi linear
y = 5,350 0,280 x dengan R2 sebesar 0,9996 , K (eliminasi) sebesar 0,280/jam, K dapat
dihitung dari data ekskresi urin. Dalam perhitungan ini laju ekskresi obat dianggap sebagai
orde kesatu. Ke adalah tetapan laju ekskresi ginjal, dan Du adalah jumlah obat yang
diekskresi dalam urin. Du adalah jumlah kumulatif obat tidak berubah yang diekskresi dalam
urin. Jumlah obat tidak berubah yang akhirnya diekskresi dalam urin Du , dapat
ditentukan dengan membuat waktu t tak terhingga. Dosis obat dalam urine 210,608 mg,
sedangkan dosis obat yang diberikan adalah 300 mg secara intravena. Hal ini menunjukkan
bahwa obat dalam urin dalam bentuk yang tidak berubah, atau obat yang diberikan adalah
obat yang disekresikan melalui urin sehingga jumlahnya hampir mendekati dosis awal.
Sedangkan sisanya yang kurang 100 mg tersebut, adalah obat dalam urin yang dalam bentuk
berubah.
D. KESIMPULAN
Pada praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan data ekskresi urin
dapat dilakukan menggunakan parameter farmakokinetika dengan Rate Method dan metode
Sigma minus. Pada metode rate didapatkan parameter farmakokinetika yaitu t = 2,64 jam,
Ke = 0,176 /jam, K = 0,262/jam. Pada metode sigma minus didapatkan parameter
farmakokinetika yaitu K = 0,280/ jam dan Du = 210,608.

E. DAFTAR PUSTAKA
Donatus, I. A., 2008, Strategi Penelitian Farmakokinetika, Cermin Dunia Kedokteran,
Jakarta.
Hakim L., 2013, Farmakokinetika, Bursa Ilmu, Yogyakarta
Paradkar, A. & Bakliwal, S., 2008, Biopharmaceutics and Pharmacokinetics, Nirali
Prakashan, New Delhi.
Ritschel, W. A., 2004, Handbook of bassic pharmacokinetics, drug intelligence, Illinois Press,
Hamilton

Rowland, M. and Tozer., T. M., 1980, Clinical Pharmacokinetics : Concept and Application,
Lea and Febiger, Philadelphia.
Shargel, Leon, 2005, Biofarmasetika Dan Farmakokinetika Terapan, Airlangga
University Press, Surabaya
Sukmadjaja, A, dkk., 2006, Pengembangan Aplikasi Komputer Pengolah Data Konsentrasi
Obat dalam Plasma Untuk Studi Pemodelan Parameter Farmakokinetik. Fakultas
Farmasi Universitas Indonesia, Depok.
Sweetman, S. C., 2007, Martindale The Complete Drug Reference, 35th edition.
Pharmaceutical Press, London.
LAMPIRAN
PERTANYAAN
1. Jelaskan

mengapa

data

urin

dapat

digunakan

untuk

menentukan

parameter

farmakokinetika suatu obat!


Jawab

: Sebenarnya pengukuran atau penggunaan cuplikan urin ini dapat lebih baik
dari cuplikan darah,

terutama jika obat diekskresikan ke dalam urin secara

sempurna dalam bentuk tidak berubah. Hal tersebut dikarenakan:


1.
2.
3.
4.

Data urin mengukur langsung jumlah obat yang berada di dalam badan
Kadar obat dalam urin lebih besar daripada dalam darah
Volume yang tersedia lebih besar
Variabilitas kliren renal dapat diabaikan

2. Jelaskan Persyaratan validitas data urin untuk penentuan parameter farmakokinetika!


Jawab : Persyaratan data urin :

Obat diekskresi melalui urin dalam bentuk tidak berubah secara bermakna
Teknik penetapan kadar harus spesifik untuk obat tidak berubah
Frekuensi cuplikan seharusnya besar
Cuplikan urin diambil sampai semua obat diekskresi (7 10 t)
Perbedaan pH urin dan volume dapat menyebabkan perbedaan laju ekskresi

3. Jelaskan prinsip perhitungan tetapan laju eliminasi dengan metode sigma minus dan mid
poin time!
Jawab

: metode mid poin time perhitungan parameter farmakokinetika dilakukan


berdasarkan perkiraan data tengah (mid point time) tiap interval pengambilan
sampel urin. Sedangkan pada metode sigma minus perhitungan parameter
farmakokinetika langsung menggunakan data yang diperoleh tanpa mencari
data tengah. sigma minus akan berpengaruh pada jumlah kumulasi obat yang
dieksresikan melalui urin, karena pada metode ini nilai kumulasi obat pada

waktu tak terhingga dianggap sama dengan nilai kumulasi obat pada waktu
pengambilan terakhir urin.

4. Jelaskan pengaruh perubahan pH urin terhadap kecepatan eliminasi suatu obat!


Jawab : Perubahan pH urin mengakibatkan perubahan bersihan ginjal, melalui perubahan
jumlah reabsorbsi pasif di tubuli ginjal, yang hanya bermakna secara klinis bila:

Fraksi obat yang diekskresikan melalui ginjal cukup besar, lebih dari 30%
Obat berupa basa lemah dengan pKa 7,5 10 atau asam lemah dengan pKa 3,0 7,5.
Bila terjadi perubahan pH urin maka akan menyebabkan perubahan klirens ginjal. Jika

harga pH urin naik akan meningkatkan eliminasi obat-obat yang bersifat asam lemah,
sedangkan jika harga pH turun akan meningkatkan eliminasi obat-obat yang bersifat basa
lemah. Contoh: pemberian pseudoefedrin (obat basa lemah) diberikan bersamaan
ammonium klorida maka akan meningkatkan ekskersi pseudoefedrin. Terjadi ammonium
klorida akan mengasamkan urin sehingga terjadi peningkatan ionisasi pseudorfedrin dan
eliminasi dari pseudoefedrin juga meningkat.