Anda di halaman 1dari 8

KOMUNIKASI TERAPEUTIK

KOMUNIKASI TERAPEUTIK
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMUNIKASI TERAPEUTIK :
1.
Faktor sumber pesan, diantaranya:
bahasa yang digunakan
faktor tekhnis adalah cara kita memperoleh informasi dari berbagai sumber.
contoh: internet, birokrasi.
ketersediaan dan keterjangkauan sumber adalah memanfaatkan fasilitas
yang ada.
misal: surat kabar, televisi, internet dan buku
2.
Faktor komunikator meliputi:
penampilan dan sikap
penguasaan masalah
penguasaan bahasa
kesempatan adalah adanya waktu dan tempat serta suasana psikologis yang
memungkinkan terlaksananya komunikasi secara dinamis.
saluran. Yang dimaksud adalah alat indera sebagai komunikator dalam
mendapatkan dan menyampaikan pesan.
misal : pasien tuna rungu, kita menggunakan bahasa isyarat.
3.
Faktor pesan
teknik penyampaian pesan yang digunakan yaitu faktor bahasa dan faktor
tekhnis
bentuk pesan disampaikan dapat bersifat informatif, persuasif dan koersif
(memaksa dengan menggunakan sanksi-sanksi, misal: perintah, instruksi)
pesan sesuai kebutuhan
jelas
simple adalah isi pesan tidak terlalu banyak dan berbelit-belit.
4.
Faktor media
adalah memanfaatkan panca indera kita
5.
Faktor umpan balik
adalah apabila kita berbicara, kemudian lawan bicara kita merespon berarti
dengan menerima informasi kita dengan baik.
6.
Faktor komunikan
Penampilan dan sikap
adalah kita sebagai komunikator akan merasa senang bila si komunikan
bersikap terbuka.
Pengetahuan
Saluran
Panca indera
7.
Faktor efek
adalah hasil akhir apakah komunikasi itu berhasil atau tidak
Faktor yang mempengaruhi komunikasi dalam pelayanan masyarakat:
1.
Persepsi
adalah cara seseorang menyerap tentang sesuatu yang terjadi di
sekelilingnya,dan dipengaruhioleh faktor personal dan situasional.
2.
Nilai

adalah keyakinan yang dianut seseorang dipengaruhi oleh pikiran dan tingkah
lakunya
3.

4.
5.
6.
7.

Emosi
adalah subjektif seseorang dalam merasakan situasi yang terjadi di
sekelilingnya dan dipengaruhi oleh bagaimana kemampuan atau seseorang
dalam berhubungan dengan orang lain.
Latar belakang sosial budaya
faktor ini memang sedikit pengaruhnya. Tetapi paling tidak ini menjadi pegangan
bagi perawat dalam tutur kata, dan bersikap.
Pengetahuan
Peran dan hubungan
dalam komunikasi akan sangat baik bila mengenal dengan siapa ia berbicara
Kondisi lingkungan
adalah berkaitan dengan lingkungan sosial tempat. Komunikasi berlangsung dan
dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial.
misal: ruangan ramai, penyampaian kita kurang jelas, penggunaan bahasa kita
berbeda antara pasien yang usianya muda dan lanjut.

Hambatan dalam komunikasi :


- Kurangnya penggunaan sumber komunikasi yang tepat
- Kurangnya perencanaan dalam berkomunikasi
- Penampilan, sikap dan kecakapanyang kurang tepat selama berkomunikasi
- Kurangnya pengetahuan
- Perbedaan persepsi
- Perbedaan harapan
- Kondisi fisik dan mental yang kurang baik
- Pesan yang tidak jelas
- Prasangka yang buruk
- Transmisi atau media yang kurang baik
- Penilaian yang prematur
- Tidak ada kepercayaan
- Ada ancaman
- Perbedaan pengetahuan dan bahasa
- Distorsi (kesalahan informasi)
Hambatan fisik
merupakan hambatan yang berhubungan dengan alat indera
Hambatan semantic
Hambatan semantik dibagi menjadi 3, diantaranya:
1. Salah pengucapan kata atau istilah karena terlalu cepat berbicara
contoh: partisipasi menjadi partisisapi
2. Adanya perbedaan makna dan pengertian pada kata-kata yang diucapkan
sama
Contoh: bujang (Sunda: sudah; Sumatera: anak laki-laki)
3. Adanya pengertian konotatif
Contoh: pengertian anjing
Jadi apabila ini disampaikan secara denotatif sedangkan komunikan
menangkap secara konotatif maka komunikasi kita gagal.

Hambatan psikologis
Hambatan psikologi dibagi menjadi 4 :
1.
Perbedaan kepentingan atau interest
dalam komunikasi kita dengan komunikan terkhusus klien, sebaiknya informasi
yang memang dibutuhkan untuk klien sehingga pesan yang disampaikan
diterima.
2.
Prasangka / persepsi
adalah pengalaman objek pribadi, peristiwa faktor dari hambatan : personal dan
situasional. Komunikan sudah curiga atau tidak percaya atas informasi
3.
Stereotip
gambaran atau tanggapan mengenai sifat atau watak bersifat negatif. Stereotip
bergandengan dengan prasangka
4.
Motivasi
dorongan dalam seseorang untuk berbuat sesuatu hambatan apabila yang
disampaikan komunikator tidak sesuai dengan motivasi komunikan.
Jadi, kita harus tau keinginan dan kelebihan pasien.
Untuk mengetahui hambatan tersebut dapat ditanggulangi dengan cara sebagai
berikut :
Mengecek arti atau maksud yang disampaikan
Meminta penjelasan lebih lanjut
Mengecek umpan balik atau hasil
Mengulangi pesan yang disampaikan memperkuat dengan bahasa isyarat
Mengakrabkan antara pengirim dan penerima
Membuat pesan secara singkat, jelas dan tepat
Mengurangi informasi atau pesan yang meluas
KRITERIA KOMUNIKASI
Ciri-ciri komunikasi terapeutik
- Empati
- Rasa percaya Trust
- Validasi
- Perhatian
TEKNIK KOMUNIKASI

PENERAPAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK


ANAK-ANAK
Cara komunikasi dengan anak
Komunikasi dengan anak merupakan sesuatu yang penting dalam menjaga
hubungan dengan anak,melalui komunikasi ini pula perawat dapat memudahkan
mengambil berbagai data yang terdapat pada diri anak yang selanjutnya digunakan
dalam penentuan masalah keperawatan atau tindakan keperawatan. Beberapa cara
dapat digunakan dalam berkomunikasi dengan anak, antara lain :
1. Melalui orang lain atau pihak ketiga
Cara berkomunikasi ini pertama dilakukan oleh anak dalam menumbuhkan

kepercayaan diri anak, dengan menghindari secara langsung berkomunikasi


dengan melibatkan orang tua secara langsung yang sedang berada di samping
anak. Selain itu dapat digunakan cara dengan memberikan komentar tentang
mainan, baju yang sedang dipakainya serta hal lainnya, dengan catatan tidak
langsung pada pokok pembicaraan.
2. Bercerita
Melalui cara ini pesan yang akan disampaikan kepada anak dapat mudah
diterima, mengingat anak sangat suka sekali dengan cerita, tetapi cerita yang
disampaikan hendaknya sesuai dengan pesan yang akan disampaikan, yang
dapat diekspresikan melalui tulisan maupun gambar.
3. Memfasilitas
Memfasilitasi anak adalah bagian cara berkomunikasi, melalui ini ekspresi anak
atau respon anak terhadap pesan dapat diterima. Dalam memfasilitasi kita harus
mampu mengekspresikan perasaan dan tidak boleh dominan, tetapi anak harus
diberikan respons terhadap pesan yang disampaikan melalui mendengarkan
dengan penuh perhatian dan jangan merefleksikan ungkapan negatif yang
menunjukkan kesan yang jelek pada anak.
4. Biblioterapi
Melalui pemberian buku atau majalah dapat digunakan untuk mengekspresikan
perasaan, dengan menceritakan isi buku atau majalah yang sesuai dengan
pesan yang akan disampaikan kepada anak.
5. Meminta untuk menyebutkan keinginan
Ungkapan ini penting dalam berkomunikasi dengan anak, dengan meminta anak
untuk menyebutkan keinginan dapat diketahui berbagai keluhan yang dirasakan
anak dan keinginan tersebut dapat menunjukkan perasaan dan pikiran anak
pada saat itu.
6. Pilihan pro dan kontra
Penggunaan teknik komunikasi ini sangat penting dalam menentukan atau
mengetahui perasaan dan pikiran anak, dengan mengajukan pasa situasi yang
menunjukkan pilihan yang positif dan negatif sesuai dengan pendapat anak.
7. Penggunaan skala
Penggunaan skala atau peringkat ini digunakan dalam mengungkapkan
perasaan sakit pada anak seperti penggunaan perasaan nyeri, cemas, sedih dan
lain-lain, dengan menganjurkan anak untuk mengekspresikan perasaan sakitnya.
8. Menulis
Melalui cara ini anak akan dapat mengekspresikan dirinya baik pada keadaan
sedih, marah atau lainnya dan biasanya banyak dilakukan pada anak yang
jengkel, marah dan diam. Cara ini dapat dilakukan apabila anak sudah memiliki
kemampuan untuk menulis.
9. Menggambar
Seperti halnya menulis menggambar pun dapat digunakan untuk
mengungkapkan ekspresinya, perasaan jengkel, marah yang biasanya dapat
diungkapkan melalui gambar dan anak akan mengungkapkan perasaannya
apabila perawat menanyakan maksud dari gambar yang ditulisnya.
10.Bermain
Bermain alat efektif pada anak dalam membantu berkomunikasi, melalui ini
hubungan interpersonal antara anak, perawat dan orang di sekitarnya dapat
terjalin, dan pesan-pesan dapat disampaikan.

ANAK ABNORMAL
Anak autistik termasuk pada tipe berpikir visual (visual thinking). Segala sesuatu
harus melalui visualisasi. Kata-kata yang sifatnya abstrak harus divisualisasikan.
Untuk memahami kata pelanggaran seorang anak autistik harus melalui visualisasi
tanda dilarang masuk tanpa ijin. Hampir semua ingatan anak Mohamad sugiarmin
autistik berkaitan dengan bayangan-bayangan visual dan kejadian-kejadian
tertentu. Anak autistik harus mengkaitkan suatu kejadian dengan sesuatu yang
dibaca. Seperti perkelahian dua orang manusia dikaitkan dengan apa yang
dibacanya seperti percekcokan dua negara tentang persetujuan perdangangan
Tahap perkembangan anak autis :
1.
The Own Agenda Stage
Pada tahap ini, anak dengan sindrom autis cenderung bermain sendiri dan tidak
tertarik pada orang sekitar. Biasanya di tahap ini, anak baru dapat berinteraksi
dengan baik pada orang-orang yang sudah dikenalnya. Ia akan menangis,
marah, ataupun menolak berkegiatan bila merasa terganggu aktivitasnya.
2.

The Requester Stage


Tahap ini, anak sudah menyadari bahwa perilakunya berdampak pada orang lain.
Bila ia menginginkan sesuatu, biasanya anak menarik tangan dan menunjuk
benda yang ia inginkan. Anak pun sudah mulai membuat suara untuk
menenangkan dirinya dan mengerti perintah sederhana. Kegiatan yang disukai
saat berinteraksi masih bersifat fisik seperti cilukba, berlari bersama, dan
tertawa bersama.

3.

The Early Communication Stage


Pada tahap ini, kemampuan berkomunikasi anak autis sudah mulai melibatkan
gerakan, suara, dan gambar. Anak sudah dapat berkomunikasi lebih lama, dan
menggunakan media khusus untuk berkomunikasi dengan orang lain mengenai
kebutuhannya. Walaupun komunikasinya masih terbatas seperti ingin makan
atau minum dan melakukan permainan yang ia sukai, ia sudah mulai memahami
kalimat dan isyarat visual sederhana.

4.

The Partner Stage


Di tahap keempat ini, kemampuan bicaranya sudah semakin baik, ia mampu
melakukan percakapan sederhana dengan orang lain. Anak autisme di tahap ini
pun sudah mulai mampu mengungkapkan perasaan dan kejadian yang telah
terjadi secara langsung maupun melalui media seperti tulisan atau gambar.
Namun, mereka masih cenderung menghafal kalimat dan kesulitan membuat
topik baru dalam percakapan. (SM)

Ciri-ciri anak abnormal :


- Tidak merespons bila diajak bicara, walaupun tak ada gangguan pendengaran.
- Kontak mata kurang
- Menyendiri/tidak tertarik bermain dengan anak- anak lain.

Ekspresi wajah kurang hidup.


Tak bisa berbagi minat/kegembiraan dengan orang lain.
Tak tertarik dengan mainan tetapi bermain dengan benda yang bukan mainan.
Tak tahu fungsi mainan.
Bergabung tetapi tidak ada interaksi
Tak suka dipeluk.
Tak tertarik pada makanan

ORANG CACAT
REMAJA
Tahapan Dalam Komunikasi Dengan Remaja
1. Tahap Prainteraksi
Mengumpulkan data tentag klien dengan mempelajari status atau
bertanyakepada orang tua tentang masalah yang ada.
2. Tahap Perkenalan
Memberi salam dan senyum pada klien melakukan validasi mencari kebenaran
data yang ada mengobservasi memperkenalkan nama dengan tujuan, waktu dan
menjelaskan kerahasiaan klien
3. Tahap Kerja
- Memberi kesempatan pada klien untuk bertanya , karena akan memberitahu
tentang hal yang kurang dimengerti dalam komunikasi.
- Menanyakan keluhan utama.
- Saat berkomunikasi dengan klien remaja, usahakan berdiskusi atau
curahpendapat seperti teman sebaya.
- Hindari beberapa pertanyaan yang dapat menimbulkan rasa malu.
- Jaga kerahasiaan dalam komunikasi ( masa transisi dalam bersikap dewasa ).
4. Tahap Terminasi
Menyimpulkan hasil wawancara meliputi evaluasi proses dan hasil,memberikan
reinforcement positif, tindak lanjut,kontrak, dan mengakhiri wawancara dengan
cara yang baik.
LANSIA
Keterampilan Komunikasi Terapeutik, dapat meliputi :
- Perawat membuka wawancara dengan memperkenalkan diri dan menjelaskan
tujuan dan lama wawancara.
- Berikan waktu yang cukup kepada pasien untuk menjawab, berkaitan dengan
pemunduran kemampuan untuk merespon verbal.
- Gunakan kata-kata yang tidak asing bagi klien sesuai dengan latar belakang
sosiokulturalnya.
- Gunakan pertanyaan yang pendek dan jelas karena pasien lansia kesulitan
dalam berfikir abstrak.
- Perawat dapat memperlihatkan dukungan dan perhatian dengan memberikan
respon nonverbal seperti kontak mata secara langsung, duduk dan menyentuh
pasien.
- Perawat harus cermat dalam mengidentifikasi tanda-tanda kepribadian pasien
dan distress yang ada.
- Perawat tidak boleh berasumsi bahwa pasien memahami tujuan dari wawancara
pengkajian.

Perawat harus memperhatikan respon pasien dengan mendengarkan dengan


cermat dan tetap mengobservasi.
Tempat mewawancarai diharuskan tidak pada tempat yang baru dan asing bagi
pasien.
Lingkungan harus dibuat nyaman dan kursi harus dibuat senyaman mungkin.
Lingkungan harus dimodifikasi sesuai dengan kondisi lansia yang sensitif
terhadap, suara berfrekuensi tinggi atau perubahan kemampuan penglihatan.
Perawat harus mengkonsultasikan hasil wawancara kepada keluarga pasien atau
orang lain yang sangat mengenal pasien.
Memperhatikan kondisi fisik pasien pada waktu wawancara.

Bahasa isyarat adalah sistem gestural banyak digunakan dalam kelompok


tunarungu. Bahasa isyarat terbentuk dari bahasa isyarat Amerika (ASL) dan
Penandatanganan English Exact (SEE). ASL adalah bahasa visual-gestural.
Melihat tanda-tanda tambahan yang digunakan untuk akhiran (misalnya,
untuk menunjukkan bentuk kata kerja) dan pada dasarnya mengikuti pola
yang tepat dari bahasa Inggris yang diucapkan.
Eye-Gaze Boards sering berguna bagi anak-anak yang tidak bisa berbicara.
Anak-anak berkomunikasi menggunakan papan dengan melihat objek di
papan tulis. Papan dapat dibuat dalam berbagai cara. Papan gambar sering
termasuk foto-foto orang, benda, dan kegiatan yang namanya anak-anak
akan mengatakan itu mereka mampu menggunakan kata-kata. Sebuah tipe
khusus Eye-Gaze Boards adalah Picture Exchange Commnunication System
(PECS). Sistem ini awalnya menggunakan gambar dan kemudian
menambahkan frase kata atau kalimat untuk memungkinkan anak-anak
untuk memilih pilihan dan kebutuhan komunikasi.
PECS adalah sistem komunikasi augmentatif dirancang untuk membantu
anak-anak memperoleh komunikasi fungsional. Hal ini telah sesuai untuk
anak-anak yang tidak berbicara atau yang memiliki pidato yang sangat
terbatas, memiliki artikulasi atau kesulitan motorik perencanaan, atau
menunjukkan kurangnya inisiatif dalam komunikasi.

Komunikasi efektif
Komunikasi Efektif dimaksud agar pesan yang disampaikan mencapai
sasaran. Komunikasi efektif adalah komunikasi yang berhasil mencapai
sasaran dengan feedback(respon) yang sesuai dengan tujuan individu
berkomunikasi
Yg perlu dperhtikn
Openess: Adanya keterbukaan
Supportiveness: Saling mendukung
Positiviness: Bersikap positif
Emphaty: Memahami perasaan orang lain
Equality: Kesetaraan