Anda di halaman 1dari 5

TUGAS TATA NIAGA HASIL PERIKANAN

PEMASARAN UDANG DI INDONESIA

Disusun oleh :
NASHIROTUS SAADAH
13/346000/PN/13136

DEPARTEMEN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

PEMASARAN UDANG DI INDONESIA

A. Ketersediaan
Pasokan udang vaname untuk pasar dalam negeri menyusut 25% lantaran tingginya
minat ekspor dan penurunan daya beli lokal seiring melonjaknya harga udang. Menurut Direktur
Pemasaran Dalam Negeri Kementerian Kelautan dan Perikanan Sadullah Muhdi mengatakan
udang vaname merupakan komoditas budidaya perikanan yang berorientasi pasar ekspor.
Berdasarkan data KKP, produksi udang vaname pada 2012 mencapai 251.763 ton. Dari total
produksi tersebut sebanyak 162.068 ton atau 64% diekspor senilai US$1,39 miliar. Pada JanuariJuni 2013, ekspor udang Indonesia mencapai 81.906 ton dengan nilai US$723,6 juta.
B. Sistem pemasaran
Sistem pemasaran udang vename ini dilakukan di dalam negeri maupun luar negeri.
Penjualan ekspor udang vename jauh lebih besar daripada penjualan di dalam negeri.
Berdasarkan data yang ada, ekspor udang vename mencapai 64% dari total penjualan. Hal ini
menandakan bahwa penjualan di dalam negeri hanya berkisar 36%.
C. Harga Udang Vename
Sejak pertengahan juni 2012 harga jual udang vannamei ditingkat petambak merosot
tajam. Pada awal juni 2012 harga udang vannamei size 60 masih berkisar antara Rp.42.000./kg.
Untuk harga benur pada tahun 2012 ; benur f1 Rp.34 s/d Rp.38/ekor. Benur lokal Rp.28 s/d
Rp.32/ekor. Harga pakan intensive Rp.10.000 s/d Rp.11.600/kg. Pakan semi intensivi Rp.8.250.
s/d Rp.9.000./kg. Pakan ekonomi Rp.6.500. s/d Rp.7.500/kg. Harga BBM ; solar Rp.8.500/liter
premiun Rp.10.000/liter LPG Rp.7.000/kg. Dengan kondisi neraca seperti diatas pada mei - juni
2012 para petambak masih bisa membukukan laba 75 % s/d 100% dari total biaya operasional
budidaya dalam satu siklus. Laba 75% dibukukan para petambak yang melakukan budidaya
dengan intensitas tebaran rendah. Sedangkan laba 100% lebih diperoleh para petambak yang
melakukan budidaya dengan intensitas tebaran tinggi.
Sementara saat ini harga udang vaname mencapai Rp 50.000-Rp 60.00 per kg sehingga
terdapat kenaikan 12,5% yaitu yang dahulu Rp 37.000 -Rp 38.000 perkilogram(KG), kini harga
mencapai Rp 50.000 hingga Rp 60.000 per kg. Lonjakan harga ini terjadi karna menurunnya
pasokan udang vanema, baik di pasar internasional maupun domestik. Faktor lainnya. Brasil dan
China, sebagai negara pengespor udang, menghentikan ekspornya karena konsumen udang
dinegara meningkat tajam.
Faktor utama meningkatkan harga udang yaitu karena pasokan berkurang. Di Indonesia
sendiri, produksi udang tahun 2010 lalu hanya mencapai 352.600 ton. Jumlah ini lebih rendah
dari pada target sebanyak 400.300 ton.Menurut Pelaksana tugas (PIt) Dirjen Perikanan Budidaya
Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) Ketut Sugama telah terjadi serangan virus MNV
menjadi penyebab utama gagalnya produksi udang vaneme sehingga mengakibatkan banyak
tambak di sentra produksi udang mengalami gagal panen. Selain itu, meningkatnya harga udang
vename di pasaran akan memberatkan para pelaku industri pengolahan ikan dan udang.

D. Larangan Proses Import Udang Vename


Untuk menstabilkan harga udang vename pemerintah harus mensubsidi pakan, listrik dan
BBM pada pertambak ataupun dengan import udang vename dari Negara Vietnam atau Cina.
Namun, pemerintah memberikan larangan impor udang vaname. Larangan ini didasarkan pada
keterangan Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) yang menyebutkan bahwa terdapat serangan
penyakit yang disebut EMS (early mortality syndroms) yang diduga disebabkan oleh sejenis

bakteri sehingga mengakibatkan terdapat 13 virus pada udang vaname yang berbahaya bagi
kesehatan udang dan manusia.

E. Peluang Usaha Udang Vename di Indonesia


Indonesia memiliki peluang usaha yang cukup bagus pada sektor udang vename. Banyak
daerah di Indonesia yang berpotensi membudidayakan udang vename yaitu Jawa Timur, Jawa
Barat, Banten, Sumatra Utara, Lampung dan yang terbesar yakni Sulawesi Tengah.
Sulawesi Tengah merupakan salah satu wilayah yang memiliki keunggulan komparatif
untuk menjadi salah daerah penghasil udang terkemuka di Indonesia. Keunggulan itu antara lain
adalah masih baiknya kondisi lingkungan perairan laut di tiga `cluster` pengembangan yaitu
Selat Makassar-Laut Sulawesi (meliuti Kabupaten Buol, Tolitoli dan Donggala); Teluk Tomini
(meliputi Kabupaten Parigi Moutong, Poso, Tojo Unauna dan Banggai bagian barat) serta Teluk
Tolo (Banggai bagian timur, Banggai Kepulauan, Banggai laut dan Morowali serta Morowali
Utara).
Keunggulan lainnya adalah terbitnya regulasi yang antara lain menetapkan Kota Palu
bersama Bitung sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Indonesia yang nantinya akan
memperkuat daya saing komoditi di Sulawesi tengah. Selain itu sejak 2013 ini, Sulawesi Tengah
telah memiliki cadangan energi listrik yang berlimpah yang memungkinkan industri tumbuh
lebih pesat, termasuk budidaya udang yang juga membutuhkan ketersediaan listrik yang
memadai dan terjamin suplainya.
Namun, terdapat beberapa faktor penghambat dalam pembudidayaan udang vename di
Sulawesi Tengah antara lain infrastruktur jalan, air bersih, dan masalah sosial termasuk di
dalamnya kemudahan, kenyamanan dan keamanan berinvestasi.
Dan apabila Sulawesi Tengah sudah tercipta iklim yang kondusif untuk berinvestasi,
maka daerah ini akan menjadi salah satu penghasil udang terkemuka di negeri ini dan paling
tidak bisa memproduksi udang sebanyak 200 ribu ton setahun dengan nilai 1,6 miliar dollar US
atau Rp16 triliun dan mampu menyerap tenaga kerja sampai 80 ribu jiwa.
Indonesia sendiri pada 2012 memproduksi sebesar 405.000 udang dan diprediksi tahun
2013 ini akan meningkat menjadi hampir 500.000 ribu ton. Selain itu ini Indonesia merupakan
salah satu negara penghasil utama udang yang dinyatakan bebas dari wabah EMS
Diperkirakan komoditi udang akan tetap menjadi primadona ekspor hasil perikanan
dalam dasawarsa ke depan. Alasannya, komoditas ini termasuk jenis yang paling banyak diminati
para konsumen di berbagai penjuru dunia. Ini artinya, peluang bagi dunia perudangan nasional.
Di sisi lain persaingan pasar global akan semakin ketat, sedangkan pola pemasaran ekspor
Indonesia masih tergolong single market, akibat tingginya ketergantungan pada pasar tradisional.
Maka sudah waktunya dirumuskan pola pengembangan pemasaran yang lebih agresif dengan
melibatkan seluruh komponen bangsa dalam wadah Indonesian Fisheries Incorporated. Dan
untuk mendorong kinerja ekspor hasil perikanan, Indonesia perlu meningkatkan kemampuan di
bidang market intelligence. Tujuannya, agar dapat mewaspadai pesaing-pesaing baru dan
mencari pasar-pasar baru / alternatif.
Sedangkan masalah utama dalam pengembangan industri udang di Indonesia yaitu:
1. Masalah sosial - terutama keamanan dan gejolak sosial,
2. Finansial - terbatasnya modal usaha khususnya bagi para petambak kecil dan investasi dari
luar negeri,
3. Masalah residu antibiotik,
4. Rencana pemberlakuan anti-dumping oleh Amerika Serikat,
5. Harga udang di pasar internasional yang sulit diramalkan
6. Maraknya kampanye anti udang tambak

Bauran pemasaran udang yang terjadi di indonesia terdiri atas:


1. Produk (product).
Udang di indonesia memiliki banyak potensi untuk dipasarkan, baik itu di pasar dalam
negeri maupun untuk dipasar kan ke luar negeri. Walupun pada saat ini sedang marak kasus
antibiotic pada udang, tetapi udang Indonesia masih mampu bersaing di pentas ekspor dunia.
2. Harga (price).
Walaupun volume udang yang dipasok di indonesia terus meningkat, sementara
penambahan konsumsi udang dunia cenderung tetap, sehingga harga udang cenderung turun.
Maka perlunya dilakukan penentuan harga yang tetap menurut standarisasi internasional agar
harga udang di dunia cendrung stabil.
3. Distribusi (place).
Indonesia bersama dengan negara-negara produsen udang di ASEAN yang tergabung
dalam ASEAN Shrimp Alliance (ASA) bersepakat untuk meningkatkan daya saing dan
mempertahankan diri sebagai produsen mayoritas udang dunia. Negara ASEAN sepakat untuk
bersama-sama memperluas pasar udang sehingga mendorong nilai ekspor, Achmad Poernomo.
Hal ini tentunya sangat menguntungkan bagi Negara-negara produsen udang, khususnya
Indonesia, karena Pendistribusian udang ke pasar dunia tidak lagi melalui saluran yang cukup
panjang dan komplek dan menyulitkan.
4. Promosi (promotion).
Produksi udang Indonesia sampai saat ini masih tetap diorientasikan ke pasar
internasional, dengan negara-negara tujuan ekspor Jepang, USA, dan uni eropa. Namun akhirakhir ini volume ekspor udang Indonesia mengalami penurunan. Turunnya ekspor udang
Indonesia tersebut dapat diakibatkan oleh turunnya penawaran udang domestik dan juga turunnya
ekspor udang Indonesia ke Negara-negara tujuan ekspor utama. Turunnya volume ekspor udang
domestik ini dimungkinkan akibat pengaruh eksternal seperti turunnya harga udang dunia
ataupun pengaruh internal di Indonesia akibat dari kebijakan makro ekonomi Indonesia yang
kurang mendukung, seperti tingkat bunga yang selalu meningkat. Maka dari itu perlunya bauran
pemasaran khususnya untuk promosi, dimana tingkat konsumsi udang Indonesia untuk Negaranegara seperti Jepang, USA dan lain-lain masih memiliki daya tampung yang besar dan Konsumsi
udang rata-rata di negara maju masih sangat rendah sehingga perlu langkah-langkah untuk
menggalakkan promosi, walaupun dalam beberapa tahun ini masih marak kasus anti dumping
serta pemakaian antibiotic yang berlebihan pada udang, namun Indonesia tidak terkana dampak
dampak yang signifikan, maka dari itu perlu dilakukan promosi besar-besaran untuk udang
Indonesia yang tidak memakai antibiotic serta mempunyai size dan kualitas udang yang dapat
diunggulkan dipasaran dunia bahkan domestic sekalipun.

DAFTAR PUSTAKA
http://em-ridho.blogspot.co.id/2011/12/makalah-management-agribisnis-komoditi.html . Diakses pada
tanggal 5 September 2016 pukul 11.59.
http://wijayahendra07.blogspot.co.id/2012/08/makalah-laporan-budidaya-udang-windu.html . Diakses
pada tanggal 5 September 2016 pukul 12.50.
http://dkp.lebakkab.go.id/strategi-pemasaran-produk-perikanan-dan-kelautan.html . Diakses pada
tanggal 5 September 2016 pukul 13.15.