Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

Medication error dapat terjadi dimana saja dalam rantai pelayanan obat pada
pasien,

mulai

dari

industri,

dalam

peresepan,

pembacaan

resep, peracikan,

penyerahan, dan monitoring pasien. Didalam setiap mata rantai ada beberapa tindakan,
setiap tindakan memepunyai potensi sebagai sumber kesalahan. Setiap tenaga kesehatan
dalam mata rantai ini memberikan kontribusi terhadap kesalahan (Cochen, 1999).
Medication error adalah sesuatu yang tidak benar, dilakukan melalui ketidak
tahuan atau ketidak sengajaan, kesalahan, misalnya dalam perhitungan, penghakiman,
berbicara, menulis, tindakan, dll atau kegagalan untuk menyelesaikan tindakan yang
direncanakan sebagaimana dimaksud, atau penggunaan yang tidak benar rencana
tindakan untuk mencapai tujuan tertentu (Aronson, 2009).
A. Pengertian Medication Error
Medication error adalah setiap kejadian yang sebenarnya dapat dicegah yang
dapat menyebabkan atau membawa kepada penggunaan obat yang tidak layak atau
membahayakan pasien, ketika obat berada diluar kontrol (Windarti, 2008).
Medication error merupakan suatu kesalahan pengobatan sebagai kegagalan
dalam proses pengobatan yang memiliki potensi membahayakan bagi pasien dalam
proses perawatan (Aronson, 2009).
Berdasarkan keputusan Mentri kesehatan

NO.1027/MENKES/SK/ IX/2004

medication error adalah kejadian yang merugikan pasien akibat pemakaian obat selama
dalam penanganan tenaga kesehatan, yang sebetulnya dapat dicegah. Kesalahan
pengobatan biasa terjadi di rumah sakit dan kesalahan dapat terjadi pada setiap tahap.
dari peresepan (dokter), melalui dispensing (apoteker atau staf dispensing), untuk
administrasi (staf keperawatan atau pasien sendiri) (Muhtar, 2003).
B. Penggolongan Medication Error
Berdasarkan tahap kejadianya, medication error dibagi menjadi prescribing error
(kesalahan

peresepan),

administration

error

dispensing

(kesalahan

error

(kesalahan

penyebaran/distribusi),

pemberian obat) dan patient compliance error

(kesalahan kepatuhan penggunaan obat oleh pasien) (Windarti, 2008).


Secara umum, tipe medication error dapat dibagi sebagai berikut :
a. Prescribing Error (kesalahan dalam peresepan)

Kesalahan pemilihan obat (berdasarkan indikasi, kontra indikasi, alergi yang tidak
diketahui, terapi obat yang sedang berlangsung, dan faktor lainya) dosis, bentuk
sediaan obat,

kuantitas, rute, konsentrasi, kecepatan pemberian, atau instruksi

untuk penggunaan obat, penulisan resep yang tidak jelas, dan lain-ain yang
menyebabkan terjadinya kesalahan pemberian obat kepada pasien.
b. Omission error (kesalahan karena kurang stok obat)
Kegagalan memberikan dosis obat kepada pasien sampai pada jadwal berikutnya.
c. Wrong time error (salah waktu pemberian)
Memberikan obat diluar waktu, dari interval waktu yang telah ditentukan.
d. Unauthorized drug error (kesalahan pemberiaan obat diluar kuasa)
Memberikan obat yang tidak diinstruksikan oleh dokter
e. Wrong patient (salah pasien)
Memberikan obat kepada pasien yang salah
f. Improper dose error (kesalahan karena dosis yang tidak tepat)
Memberikan dosis obat kepada pasien lebih besar atau lebih kecil dari pada dosis
yang diinstruksikan oleh dokter, atau memberikan dosis duplikasi.
g. Wrong dosage from error (kesalahan dari dosis yang salah
Memberikan obat dengan bentuk sediaan yang tidak sesuai
h. Wrong drug preparation error (kesalahan dari persiapan obat)
Mempersiapkan obat dengan cara yang tidak sesuai
i. Wrong administration thecnequi error (kesalahan dari teknik adminstrasi yang
salah)
Prosedur atau teknik yang salah atau tidak layak atau tidak benar saat memberikan
obat.
j. Deteriorated drug error (kesalahan pemberian obat yang aktifitasnya menurun)
Memberikan obat yang telah kadaluarsa atau yang telah mengalami penurunan
k. Monitoring error (kesalahan dalam pemantauan)
Kegagalan untuk memantau kelayakan dan deteksi problem dari regimen yang
diresepkan, atau kegagalan untuk menggunakan data klinis atau laboratorium untuk
asesmen respon pasien terhadap terapi obat yang diresepkan.
l. Compliance error (kesalahan kepatuhan penggunaan obat oleh pasien)
Sikap pasien yang tidak layak berkaitan dengan ketaatan penggunaan obat yang
diresepkan

C. Faktor Faktor Penyebab Medication Error


Penelitian di Amerika yang memperhitungkan kematian akibat kesalahan obat,
kebanyakan terjadi pada saat fase prescribing atau peresepan yang diakibatkan dari
kurangnya

dalam

pengetahuan,

komunikasi

yang

buruk,

dan

kurangnya

mempertimbangkan informasi penting pasien. Pada tingkat dispensing, kesalahan


mungkin timbul karena nama obat- obatan yang serupa, dan penampilan bahan
kemasan, Pemberian obat tidak teratur, karena beban kerja lebih dan gangguan.
Dispensing dosis obat tinggi, dan bentuk sediaan yang tidak benar, dapat menyebabkan
kondisi yang mengancam jiwa (Muhtar, 2003).
Selain pada saat prescribing atau dispensing, kesalahan juga dapat terjadi pada saat
administration. Kekurangan kinerja, kurangnya komunikasi perawat dengan profesional
kesehatan lainnya, tekanan pekerjaan yang berlebihan dan sering adanya gangguan
adalah faktor yang paling dominan terkait dengan kesalahan administrasi. Kesalahan
pengobatan tidak dapat dihindari, tetapi kesalahan tersebut dapat diminimalkan secara
signifikan dengan adanya pengawas, manajemen rumah sakit, pabrik farmasi, resep,
apoteker atau staf pemberian obat dan perawat bekerja sama untuk mengidentifikasi
kesalahan pengobatan dan mengadopsi strategi untuk menguranginya (Muhtar, 2003).
Menurut Kepmenkes 2004, faktor-faktor lain yang berkontribusi pada medication
error antara lain :
1.

Komunikasi (mis-komunikasi, kegagalan dalam berkomunikasi)


Kegagalan dalam berkomunikasi merupakan sumber utama terjadinya kesalahan.

Institusi pelayanan kesehatan harus menghilangkan hambatan komunikasi antar petugas


kesehatan dan membuat SOP bagaimana resep/permintaan obat dan informasi obat
lainnya dikomunikasikan. Komunikasi baik antar apoteker maupun dengan petugas
kesehatan lainnya perlu dilakukan dengan jelas untuk menghindari penafsiran ganda
atau ketidak lengkapan informasi dengan berbicara perlahan dan jelas. Perlu dibuat
daftar singkatan dan penulisan dosis yang berisiko menimbulkan kesalahan untuk
diwaspadai.
2. Kondisi Lingkungan
Untuk menghindari kesalahan yang berkaitan dengan kondisi lingkungan, area
dispensing harus didesain dengan tepat dan sesuai dengan alur kerja, untuk
menurunkan kelelahan dengan pencahayaan yang cukup dan temperatur yang nyaman.
Selain itu, area kerja harus bersih dan teratur untuk mencegah terjadinya kesalahan.
Obat untuk setiap pasien perlu disiapkan dalam nampan terpisah.
3. Gangguan/ interupsi pada saat bekerja
Gangguan/ interupsi harus seminimum mungkin dengan mengurangi interupsi baik

langsung maupun melalui telepon.


4. Beban kerja
Rasio antara beban kerja dan SDM yang cukup penting untuk mengurangi stres dan
beban kerja berlebihan sehingga dapat menurunkan kesalahan.
5. Edukasi staf
Meskipun edukasi staf merupakan cara yang tidak cukup kuat dalam menurunkan
insiden/kesalahan, tetapi mereka dapat memainkan peran penting ketika dilibatkan
dalam sistem menurunkan insiden/kesalahan (Muchid, 2008).
D. Upaya Pencegahan Medication Error
Berbagai metode pendekatan organisasi sebagai upaya menurunkan medication
error yang jika dipaparkan menurut urutan dampak efektifitas terbesar menurut depkes
RI (2008) adalah :
1.

Mendorong fungsi dan pembatasan (forcing function & constraints) : suatu upaya
mendesain sistem yang mendorong seseorang melakukan hal yang baik, contoh :
sediaan potasium klorida siap pakai dalam konsentrasi 10% Nacl 0.9%, karena
sediaan di pasar dalam konsentrasi 20% (>10%) yang mengakibatkan fatal (henti
jantung dan nekrosis pada tempat injeksi)

2.

Otomasi dan komputer (Computerized Prescribing Order Entry) : membuat statis/


robotisasi pekerjaan berulang yang sudah pasti dengan dukungan teknologi, contoh
: komputerisasi proses penulisan resep oleh dokter diikuti dengan tanda atau
tanda peringatan jika di luar standar (ada penanda otomatis ketika digoxin ditulis
0.5g)

3.

Standar dan protokol, standarisasi prosedur : menetapkan standar berdasarkan bukti


ilmiah dan standarisasi prosedur (menetapkan standar pelaporan insiden dengan
prosedur baku). Kontribusi apoteker dalam Panitia Farmasi dan Terapi serta
pemenuhan sertifikasi/ akreditasi pelayanan memegang peranan penting.

4.

Sistem daftar tilik dan cek ulang : alat kontrol berupa daftar tilik dan penetapan
cek ulang setiap langkah kritis dalam pelayanan. Untuk mendukung efektifitas
sistem ini diperlukan pemetaan analisis titik kritis dalam sistem.

5.

Peraturan dan Kebijakan : untuk mendukung keamanan proses manajemen obat


pasien. contoh : semua resep rawat inap harus melalui supervisi apoteker.

6.

Pendidikan dan Informasi : penyediaan informasi setiap saat tentang obat,


pengobatan dan pelatihan bagi tenaga kesehatan

tentang prosedur untuk

meningkatkan kompetensi dan mendukung kesulitan pengambilan keputusan saat


memerlukan informasi.
7.

Lebih hati-hati dan waspada : membangun lingkungan kondusif untuk mencegah


kesalahan, contoh : baca sekali lagi nama pasien sebelum menyerahkan.

BAB II
PEMBAHASAN KASUS

KASUS
Detiknews.com - Mahkamah Agung (MA) menolak kasasi jaksa atas kasus malpraktik
dengan terdakwa dr Wida Parama Astiti. MA memutuskan dr Wida telah melakukan
malpraktik sehingga pasien berusia 3 tahun meninggal dunia dan dijatuhi 10 bulan penjara.
Seperti dilansir dalam website Mahkamah Agung (MA), Jumat (22/3/2013), kasus tersebut
bermula saat dr Wida menerima pasien Deva Chayanata (3) pada 28 April 2010 pukul
19.00 WIB datang ke RS Krian Husada, Sidoarjo, Jatim. Deva datang diantar orang tuanya
karena mengalami diare dan kembung dan dr Deva langsung memberikan tindakan medis
berupa pemasangan infuse, suntikan, obat sirup dan memberikan perawatan inap. Keesokan
harinya, dr Wida mengambil tindakan medis dengan meminta kepada perawat untuk
melakukan penyuntikan KCL 12,5 ml. Saat itu, dr Wida berada di lantai 1 dan tidak
melakukan pengawasan atas tindakan perawat tersebut dan Deva kejang-kejang. Akibat hal
ini, Deva pun meninggal dunia. Berdasarkan keterangan ahli, seharusnya penyuntikan
KCL dapat dilakukan dengan cara mencampurkan ke dalam infuse sehingga cairan KCL
dapat masuk ke dalam tubuh penderita dengan cara masuk secara pelan-pelan, demikian
papar dakwaan jaksa.
Lantas, dr Wida diproses secara hukum dan pada 1 Juni 2011 Kejaksaan Negeri
Sidoarjo menuntut dr Wida dijatuhkan hukuman 18 bulan penjara karena melanggar Pasal
359 KUHP. Tuntutan ini dipenuhi majelis hakim Pengadilan Negeri Sidoarjo pada 19 Juli
2011. Namun terkait lamanya hukuman, majelis hakim memutuskan dr Wida harus
mendekam 10 bulan karena menyebabkan matinya orang yang dilakukan dalam melakukan
suatu jabatan atau pekerjannya. Putusan ini dikuatkan Pengadilan Tinggi Surabaya pada 7
November 2011. Namun jaksa tidak puas dan melakukan kasasi ke Mahkamah Agung
(MA). Putusan Pengadilan Tinggi sangat ringan sehingga tidak memenuhi rasa keadilan
yang hidup dalam masyarakat dan tidak membuat jera pelaku atau orang lain yang akan
melakukan perbuatan yang sama, demikian alasan kasasi jaksa. Namun, MA berkata lain.
Menolak permohonan kasasi dari Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Sidoarjo,
demikian putus MA yang diketok olah majelis hakim Dr Artidjo Alkostar, Dr Sofyan
Sitompul dan Dr Dudu D Machmuddin pada 28 September 2012 lalu.
(Sumber

http://news.detik.com/berita/2201025/pasien-meninggal-karena-malpraktik-

dokter-wida-dibui-10-bulan)

Pembahasan
a. Penyebab
Kelalaian Dokter atau Perawat hingga berakibat pasien meninggal dunia
Dalam kasus ini,

kesalahan paling fatal adalah pemberian KCl secara bolus

(langsung tanpa diencerkan). Hal tersebut memang harus dipilah-pilah bila dokter telah
menulis lengkap dalam advisnya bahwa harus diencerkan maka yang harus diperiksa atau
yang dituntut adalah perawatnya. Karena dokter tidak harus selalu menunggu setiap
pemberian obat. Dalam perawatan pasien perawat memberi obat lebih dari 3 kali perhari
dan setiap dalam pemberian tersebut dokter selalu tidak harus mendampingi perawat. Jadi
vonis hukum tidak benar apabila dokter tersebut salah karena tidak mendampingi perawat
saat pemberian injeksi. Sehingga dalam hal ini maka advis pemberian obat terhadap pasien
yang dilakukan dokter harus jelas tertulis dalam status pasien.
Dalam kasus tersebut dokter akan salah dan dianggap malpraktek bila salah
menuliskan advis dengan menulis jumlah dosis yang berlebihan dan ditulis advis injeksi
intra vena bolus maka dokter lalai dan benar mengalami malpraktek. Jadi hakim harus
memeriksa dengan cermat benarkah dokter menulis advis dalam status. Yang sudah sesuai
dokternya dalam menulis advis atau perawatnya tidak mengikuti advis yang ditulis dokter.
Memang tidak mudah memutuskan seorang dokter malpraktek atau tidak karena dalam
pelayanan medis banyak tenaga kesehatan yang terlibat. Jadi harus dicermati apakah
kesalahan dokter, kesalahan perawat ataukan kesalahan tenaga medis lainnya. Kesalahan
advis pemberian obat yang dilakukan dan beresiko terjadi kesalahan medis adalah
pemberiamn injeksi KCl dan pembian Natrium Bicarbonas bila tidak diencerkan
menimbulkan efek samping yang berbahaya.
b. Akibat
Hiperkalemia
Keadaan hiperkalemia dapat disebabkan oleh pemasukan kalium yang terlalu
banyak, keluarnya kalium dari intrasel ke ekstrasel yang terjadi pada keadaan asidosis,
katabolisme jaringan yang meningkat, destruksi sel dan gangguan ekskresi di ginjal
misalnya pada gagal ginjal dan insufisiensi adrenal.
Pada EKG dapat terlihat perubahan depolarisasi dan repolarisasi atrium dan
ventrikel. Pertama-tama dapat kita lihat gelombang T yang tinggi dan sempit, interval QT
yang memendek yang menunjukan repolarisasi yang cepat, ini terjadi pada kadar kalium 6
7 mEq/l.Bila kadar kalium 7 8 mEq/l akan terlihat melambatnya depolarisasi seperti

komplek QRS melebar dan gelombang P yang rendah, melebar atau menghilang. Bila kadar
kalum lebih meningkat lagi akan terjadi fibrilasi ventrikel dan cardiac standstil.
c. Pengobatan
1.

Semua pemberian kalium distop

2.

Suntikan natriun bicarbonas intravena 2,5 mEq/kgBB untuk menaikan PH yang


dapat menurunkan sementara kalium serum

3.

Berikan kalsium glukonas 10 % sebanyak 0,5 ml/kgBB secara intravena dalam


waktu 2 4 menit dengan maksud mengurangi efek buruk kalium pada jantung

4.

Berikan glukosa 10% intravena sebanyak 40ml/kgBB dan insulin 1 unit setiap 30
ml glukosa 10 %. Dengan pemberian glukosa ini diharapkan kalium akan masuk ke
dalam sel.

5.

Bila kadar kalium serum lebih dari 7 mEq/l dan terdapat anuria atau oliguria, harus
dilakukan dialisis peritoneal atau hemodialisis.

d. Pencegahan :
1. Pada saat pemberian obat ke perawat seharusnya Apoteker memberi informasi tentang
penggunaan obat yang benar dan memastikan agar perawat paham tentang cara
pemberian obat.
2. Mengusulkan kepada Rumah Sakit agar memberikan pelatihan secara berkala kepada
perawat mengenai penggunaan obat yang butuh perhatian khusus ( hight aler ).
3. Apoteker harus aktif berkomunikasi dengan perawat agar dapat terjalin kerjasama yang
baik antara Apoteker dengan perawat sehingga dapat terhindar dari kejadian-kejadian
yang tidak diinginkan dalam pengobatan.

DAFTAR PUSTAKA

Aronson, JK. 2009. Medication errors: what they are, how they happen ,and how to
avoid them: from http://qjmed.oxfordjournals.org/ by guest on januari 19,2013
Cochen, michael R. 1991. Medication Error. American Pharmacist Acociation
Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan Departemen kesehatan RI. 2008. Tanggung Jawab Apoteker Terhadap
Keselamatan Pasien (Patient Safety ).
Direktorat jendral pelayanan farmasi dan alat kesehatan. 2004. keputusan mentri
kesehatan republik indonesia tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek Nomor
1027/MENKES/ SK/IX/2004. Jakarta: mentri kesehatan republik indonesia
Windarti, M.I. Strategi Mencapai Keamanan Pemberian Obat Dalam Buku Suharjo
Dalam Cahyono. 2008. Membangun Budaya Keselamatan Pasien Dalam Praktik
Kedokteran. Kanisius (Anggota Ikappi): Yogyakarta