Anda di halaman 1dari 19

TUGAS PENDIDIKAN AGAMA

MENGGALI MAKNA DAN PANDANGAN


MGR.ALBERTUS SOEGIJAPRANATA, SJ

Disusun oleh :
Ignacio Randilana Valente M.G

14.B1.0032

Nanda Nyno Pratama Putra

14.B1.0043

Theovilla Arry KS

14.B1.0048

Narendra Dewa B

14.B1.0050

Roma Kusuma

14.B1.0087

FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2015

MENGGALI MAKNA DAN PANDANGAN


MGR. ALBERTUS SOEGIJAPRANATA,SJ
I.

PENDAHULUAN
Universitas Katolik Soegijapranata adalah universitas yang mempunyai
semangat pendirinya, yaitu Mgr. Soegijapranata, SJ. Semangat perjuangan dan
pengabdian bagi nusa dan bangsa. Mengedepankan Ajaran nilai kasih, cinta tanah
air, demokrasi, keadilan, serta keberpihakan pada yang miskin, lemah dan
tersingkir dalam mendidik mahasiswanya.
Sebagai mahasiswa Universitas Katolik Soegijapranta hendaknya mengenal
dan mengetahui riwayat dan kisah Mgr. Soegijopranata, SJ agar dapat lebih
mudah menjiwai semangat Mgr. Soegijopranata, SJ dalam kehidupan kampus
pada khususnya dan kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara pada
umumnya. Semangat yang tidak hanya mengandalkan intelektual saja tetapi juga
semangat peduli dengan sesama, berbangsa dan bernegara. Melihat keluar,
bagaimana keadaan disekeliling kita, sehingga kita dapat melakukan sesuatu yang
berguna

untuk

sesama

dan

negara

dengan

menjiwai

semangat

Mgr.

Soegijopranata, SJ. Menggali makna dan pandangan Mgr. Soegijapranata SJ akan


mempermudah kita menjiwai semangatnnya. Untuk itu kita perlu membaca
riwayat dan sejarah Mgr. Sogijapranata, SJ dari buku-buku atau dari internet,
mengunjungi museum yang menyimpan benda-benda yang menjadi saksi sejarah
perjalanan Mgr. Sogijapranata, SJ atau dapat langsung mengunjungi makan Mgr.
Sogijapranata, SJ.

II.

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN ...............................................................................
LAPORAN KUNJUNGAN.................................................................
PANDANGAN MGR.SOEGIJAPRANATA SJ................................
PENUTUP.............................................................................................
LAMPIRAN FOTO

III.

LAPORAN KUNJUNGAN
A. Kunjungan Museum Mgr. Soegijapranata
Universitas Katolik Soegijapranata adalah universitas yang mempunyai
semangat soegijapranata dalam mendidik mahasiswanya. Sebagai bentuk
penghargaan kepada soegijapranata dan untuk mengenalkan semangat soegija
kepada para mahasiswanya, universitas katolik soegijapranata mendirikan
museum Gedung Memorial (Museum) Mgr. Soegijapranata yang terletak di
Gedung Thomas Aquinas lantai 3 Universitas Katolik Soegijapranata.
3

Museum ini berisi koleksi yang ditata berdasarkan kronologis sejarah


kehidupan Mgr. Soegijapranata, SJ., Di museum itu dapat kita temukan cerita
serta koleksi-koleksi pribadi Mgr. Soegijapranata, yang berupa lukisan, fotofoto, dan gambar gambar beserta dengan keterangannya, silsilah keluarga
dan denah tempat kelahiran, pendidikan, pejalanan hidup sebagai seorang
religuis dan sebagai negarawan sampai beliau meninggal dunia.
Diawali dengan denah tempat kelahiran Mgr. Soegijapranata SJ beserta
gambar rumah dimana keluarga mereka tinggal. Silsilah keluarga digambarkan
dalam bentuk gunungan wayang. Soegija lahir di Surakarta, 25 November
1896. Ayahnya, Karijosoedarmo semula adalah abdi keraton, tetapi karena
sering sakit akhirnya pindah domisili ke kampung ngabean, Yogyakarta.
Dibesarkan dalam keluarga kejawen yang merupakan abdi keraton. Sedangkan
ibunya bekerja sebagai pedagang stagen nila.
Soegija adalah anak kelima dari sembilan bersaudara, dan mengalami ritus
pembuangan ditempat sampah . Suatu tradisi jawa yang dilakukan sebagai
permohonan kepada Tuhan agar dapat tumbuh sehat dan selamat.
Ada pula sejarah tentang pendidikan, pentahbisan Mgr. Soegijapranata
menjadi uskup Semarang, pelayanaan apostolis bersama imam imam yang
lain, sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan keterangan tentang wafatnya
Mgr. Soegijapranata. Di gedung ini ada pula miniatur Soegijapranata,
memorial yang berisi lukisan Mgr. Soegijapranata dan surat surat tulisan
tangan Mgr. Soegijapranata.
Soegija menempuh sekolah rakyat, di SR.Ngabean, kemudian pindah
ke SR. Wirongunan selanjutnya berpindah ke HIS. Sekolah Rakyat atau Angka
Loro yang diselenggarakan oleh pihak kesultanan. Di SR murid hanya dibekali
membaca, menulis dan berhitung. Bahasa yang digunakan adalah bahasa jawa
dan melayu sedangkan HIS adalah sekolah yang diselenggarakan oleh pihak
Belanda. Bahasa belanda mulai diperkenalkan, Dan yang dapat mengenyam
pendidikan ini hanya dari golongan pegawai dan istana. Pada tahun ketiga ia
mulai menempuh pendidikan di sebuah Hollands Inlands School di
Lempuyangan.Sekitar 1909 Soegija diminta oleh Pater Frans van Lith untuk
bergabung dengan sebuah sekolah Yesuit di Muntilan.
Mgr. Soegijapranata ditahbiskan menjadi Imam di Maastricht pada
tanggal 15 Agustus 1931 kemudian ditahbiskan menjadi Uskup Vikar
4

Apostolik di Semarang pada tanggal 6 November 1940 dan diangkat menjadi


Uskup Metropolit Semarang pada tanggal 3 Januari 1961 oleh Mgr Willekens
SJ (Vikaris Apostolik Batavia), Mgr AJE Albers O.Carm (Vikaris Apostolik
Malang), dan Mgr HM Mekkelholt, SCJ (Vikaris Apostolik Palembang).
Nasionalisme soegija tergambar dalam perjuangannya melawan Jepang
(1940) dan Belanda(197) mempertahankan kemerdekaan Indonesia sekaligus
menghindari pertumpahan darah, baik dipihak Jepang, Belanda dan Indonesia.
Mempersatukan pemuda-pemudi bangsa Indonesia dari segala latar belakang
agama dan suku, untuk melawan tentara Jepang yang semena-mena. Beliau
juga menentang pendudukan tentara Jepang atas aset-aset Gereja, yang juga
merupakan aset-aset Negara. Mgr. Soegijapranata mengajak seluruh rakyat
Indonesia untuk memiliki semangat nasionalisme Indonesia dalam membela
Negara Indonesia. Serta menyatakan pidatonya yang berisi desakan kepada
kedua belah pihak untuk melakukan gencatan senjata demi kemanusiaan;
pernyataan sikap umat Katolik Indonesia yang berjuang bersama seluruh
rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan dan kesejahteraan, dan ajakan
kepada umat Katolik Belanda untuk mendukung gerakan kemerdekaan Bangsa
Indonesia
Tampak gamblang perjuangan Mgr Soegijapranata untuk Sebagai
seorang Uskup pribumi pertama di Indonesia, Mgr Soegijapranata, SJ.
mewakili Gereja Katolik Indonesia untuk menghadiri siding-sidang Konsili
Vatikan II di Roma. Di tengah kesibukannya, beliau berkunjung ke Nederland
untuk berobat, sekaligus bertemu dengan keluarga-keluarga misionaris yang
bertugas di Indonesia. Pada tanggal 22 Juli 1963, beliau meninggal dunia saat
berusia 66 tahun pada pukul 22:20 waktu setempat, di Steyl Venlo, Belanda
karena kelelahan secara fisik. Atas jasa-jasanya bagi bangsa Indonesia,
Presiden Soekarno menganugerahi gelar Pahlawan Nasional, berdasarkan
Surat Keputusan Presiden RI No.152/Tahun 1963, tertanggal 26 Juli 1963.
Sebagai

bentuk

penghormatan

pemerintah

Indonesia,

jenasah

Mgr.

Soegijapranata dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giritunggal,


Semarang, Jawa Tengah.
Dalam museum Gedung Memorial (Museum) Mgr. Soegijapranata
Tersimpan juga perlengkapan pribadi Mgr. Soegijapranata terdiri dari :

Tas tangan Mgr. Soegijapranata,


Topi kasual,
Pipa Gading,
Pipa tulang putih,
Pipa tanduk,
Pematik api merah,
Pematik api kuningan,
Seperangkat pembersih pipa,
Sisir

B. Mengunjungi makam Mgr. Sogijapranata, SJ.


Makam Mgr. Sogijapranata, SJ yang terletak di Taman Makam Giri
Tunggal berada di Jl. Sriwijaya Semarang.
Sebagai bentuk penghargaan kepada Soegija yang telah berjuang demi negara
maka dimakamkan di Tanam Makam Pahlawan dengan upacara kenegaraan.
Dibandingkan dengan makam para pahlawan yang lain, makam Mgr. Soegija
tampak sangat berbeda, dimana terdapat sebuah bangunan pendapa yang
menaungi makam Mgr. Soegija.
Simbol-simbol yang mengandung arti pada sekitar dari makam Mgr.
Soegijapranata, SJ.

1. Mitra

yang

bagian atasnya terdapat salib pada puncak atap


Mitra sebagai simbol dari topi uskup dan salib diatas mitra sebagai lambang
kasih Allah pada manusia.
2. Tanda anak panah mengarah ke bawah
Tanda anak panah mengarah ke bawah yang terdapat pada atap bangunan
memiliki arti sebagai Tritunggal Maha Kudus atau Tut Wuri Handayani.
Makna dari tritunggal maha kudus adalah tiga Pribadi dalam satu kesatuan
esensi Allah, Tut Wuri Handayani adalah sebagai sebuah ungkapan penting
dari sebuah keteladanan bagi seorang pendidik atau pemimpin baik moral
maupun semangat bagi anak didiknya. Lambang Tut Wuri Handayani ini
6

menunjukan bahwa Soegija adalah tokoh yang cinta akan pengetahuan. Hal
ini juga ditunjukan demean nama baptis Soegija yaitu Albertus Magnus
yang merupakan tokoh pemikir pada abad XII.
3.Pada bagian yang pertama, terdapat pada bagian atas atap bagunan yang
memiliki 7 tingkat.
Melambangkan adanya 7 sakramen yang menjadi ciri khas Gereja
Katolik. Yang digunakan untuk mempersatukan Allah dengan umat-Nya.
Tujuh sakramen itu adalah sakramen babtis, sakramen ekaristi, sakramen
krisma, sakramen perkawinan, sakramen tobat, sakramen perminyakan orang
sakit dan sakramen imamat. Simbol sakramen yang terdapat pada makam Mgr.
Albertus Soegijapranata, SJ. Menunjukan bahwa Soegija sudah diselamatkan
dan bersatu kembali dengan Allah dan menunjukkan bahwa Mgr.
Soegijapranata, SJ adalah seorang tokoh katolik sejati.
4. Simbol sirih pada bagian sisi atap
Simbol yang berbentuk daun sirih yang melambangkan keabadian,
kerukunan, dan perdamaian. Hal ini digunakan untuk mengenang perjuangan
Soegija dalam menciptakan keabadian, kerukunan, dan perdamaian. Daun
sirih memiliki bentuk hati yang melambangkan cinta. Hal ini menunjukan
cinta Mgr. Soegijapranata yang penuh terhadap Gereja dan Negara.

5.Simbol sila pancasila pada kanan-kiri nisan


Simbol lambang pancasila yang terdapat dimakam Mgr. Soegijapranata SJ
menggambarkan adanya sikap nasionalisme dan patrotisme yang dijunjung
tinggi oleh Mgr. Soegijapranata SJ semasa hidupnya. Hal ini juga
menunjukan bahwa Soegija adalah pahlawan nasional yang membela Negara
Indonesia secara penuh. Meskipun Soegija beragama katolik, namun Soegija
tetap berpihak kepada Negara Indonesia karena sikap cinta tanah air yang
dimilikinya.
a. lambang bintang yang terdapat lingkaran pada melambangkan sila pertama
Pancasila mempunyai makna pengakuan bangsa Indonesia akan eksistensi
Tuhan sebagai pencipta dunia dengan segala isinya.

b. lambang Pancasila yang lainnya terdapat pada dasar tiang penyangga


pendapa. Sila kedua yang berbunyi memiliki simbol rantai dan bermakna
sebagai makhluk individu sebagai makhluk sosial.
c. Sila ketiga memiliki lambang pohon beringin yang mempunyai makna kita
sebagai bangsa Indonesia menjunjung tinggi persatuan bangsa sehingga
dalam persatuan bangsa kita ditempatkan diatas kepentingan pribadinya
sendiri.
d.Sila keempat memiliki lambang banteng yang bermakna dalam
pelaksanaan kehidupan kita lebih ditingkatkan akan musyawarah demi
mencapai tujuan kehidupan bermasyarakat, bernegara, bukan atas
kekuasaan mayoritas maupun minoritas.
e. Kemudian sila kelima mempunyai lambang padi dan kapas

yang

bermakna mencapai keadilan sosialbagi seluruh rakyat Indonesia.

sila yang mengelilingi makam Mgr Soegijapranata


6. Simbol sebuah meja altar yang diatasnya terdapat gunungan tepat
dibelakang makam Mgr. Soegijapranata SJ
Gunungan berdiri yang melambangkan tancep kayon yang

berarti

pertunjukan wayang sudah selesai. Dapat dikatakan


pertujukkan wayang sudah selesai karena jasad Mgr.
Soegijapranata SJ ditempatkan kembali ke dalam
kotak wayang yang dilambangkan oleh makam itu
sendiri. Simbol ini menunjukan Mgr. Soegijapranata,
SJ. yang dibesarkan dalam keluarga kejawen sehingga budaya jawa masih
melekat dalam dirinya. Pagelaran wayang kulit adalah salah satu budaya jawa
yang digemari oleh Soegija.
8

7. logo tabisan Uskup yang tertera tepat diatas makam uskup


mengandung arti bahwa Mgr. Soegijapranata, SJ. adalah seorang
uskup dengan semboyan In Nomine Jesu yang memilki artiDalam
Nama Yesus

8. Simbol ketujuh adalah bentuk pagar bangunan yang terdapat disekitar


makam
lambang salib yang berada pada pagar bangunan. Salib pada makam digunakan
untuk mengingatkan kembali hidup, wafat, dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.

C.

PANDANGAN MGR.SOEGIJAPRANATA
A. KELUARGA
Soegija
proses

mengisahkan

pendidikan

yang

dialaminya didalam keluarga,


dimasyarakat,

dan

diantara

teman-teman bermainnya, serta masa pendidikan di Kolose Xaverius


Muntilan. Dalam pendidikan dikeluarga, sekaligus diperlihatkan perbedaan
latihan oleh batin dan olah budaya yang diperoleh dari pihak ayah dan ibunya .
Dari ayahnya, Soegija mendapat didikan dalam bidang seni tradisional
terlebih berkaitan dengan kebijaksaan hidup lewat kesenian, khususnya lewat
9

tembang .Tembang-tembang yang dilatihkan setiap malam, dengan membaca


buku tembang, mengajarkan berbagai watak ksatria terhormat dan nilai luhur
yang perlu dimiliki oleh seorang pribadi.
Ada sejumlah praktik keutamaan yang juga menjadi kebiasaan dalam
hidup keseharian antara lain berupa aktivitas untuk membantu orang tua,
memberikan derma, pergi melayat jika ada kematian, membantu tetangga di
sekitar rumah. Soegija merumuskan bahwa pendidikan didalam keluarga
menekankan sikap untuk ajrih dan asih (hormat dan kasih) terhadap orang tua.
Hal inilah yang diajarkan oleh kedua orang tuanya dan telah dirasakan telah
membentuk dirinya. Pendidikan didalam keluarga dan masyarakat inilah yang
telah memperkaya Soegija sebagai seorang pribadi yang tahu sopan santun ,
lincah bergerak , mudah bergaul, sekaligus memiliki kenakalan dan kekritisan
tertentu.
B. PENDIDIKAN
Pengalaman diajar ibunya untuk berkomunikasi secara benar dalam
menggunakan unggah-ungguh mempengaruhi pandangan Soegija pedndidikan
etiked itu perlu terutama dalam berkomunikasi. Bukan hanya pengalaman dari
keluarga, tetapi juga dengan Rmo Van Lith guru Soegija : Pendidikan
menanamkan nilai kekristenan dalam diri orang muda jawa dengan pengajaran
bahasa jawa. Atau menggunakan bahasa dan cara pikir anak-anak yang
dilayani, belajar lewat teladan. Melalui budaya setempat kita bisa belajar nilainilai hidup, seperti kebijaksanaan, kebaikan, ketulusan, dsb.
Soegija dalam bidang pendidikan mempersiapkan para generasi muda
menyosong masa depan bangsa yang mau meraih harga diri sebagai bangsa
mandiri, merdeka dengan nilai-nilai positif yang telah ditanamkan dari
keluarga, lingkungan maupun sekolah. Selain itu, Soegija mempunyai
perhatian pada katekis sebagai tulang punggung karya pewartaan.
C. POLITIK HIDUP BERNEGARA
Jika kita sungguh-sungguh katolik sejati, kita sekaligus patriot sejati.
Karenanya, kita merasa bahwa kita 100% Patriot, justru karena kita adalah
100% katolik. Lagi pula, bukankah menurut perintah ke-4 dari 10 perintah
Allah kita wajib mencintai Gereja kudus, juga wajib mencintai negara
dengan seluruh hati kita. Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak
10

kaisar, dan berikanlah kepada Allah apa yang menjadi hak Allah (salah
satu pandangan soegijapranata dalam hidup politik dan bernegara dalam surat
gembala masa prapaskah, tanggal 6 Februari 1956)
100% Katolik 100% Indonesia menjadi suatu pandangan yang begitu
berlian dari Mgr. Soegijapranata dalam kehidupan bernegara. Ungkapan yang
mencerminkan ajakan untuk mengintegritaskan antara kakatolikan dan
nasionalisme. Mengapa demikian? Katolik adalah bagian dari Indonesia, maka
dari itu semua warga katolik adalah bagian dari Indonesia. Mempunyai
tanggungjawab pada bangsa dan negara Indonesia untuk membangun gereja
dan negara. Memberikan seluruh diri dan segala kemampuan untuk berbuat
sesuatu, sekecil apapun itu untuk negara serta berani bersikap, berani
melakukan sesuatu yang benar meskipun banyak tantangan. Semangat
nasionalisme soegija ini relevan untuk semua agama dan jaman kehidupan.
Semua warga indonesia tidak memandang agama dan kepercayaan apapun
mempunyai tanggungjawab untuk menjaga, memelihara dan melanjutkan
mengisi kemerdekaan yang telah diusahakan para pahlawan dan pejuang pada
jaman dulu. Dan untuk kita sebagai generasi muda, generasi penerus bangsa
bagaimana kita mempunyai tanggungjawab dan semangat untuk mengisi
kemerdekaan. Menjadi patriot sejati, menjadi generasi muda sejati dan
menjadi seorang pribadi yang sejati dengan segala talenta yang ada, yang
dapat kita gunakan untuk membangun negara sesuai dengan bidang masingmasing dengan semangat kasih.
Dan untuk mendukung perjuangan umatnya disegala bidang kehidupan Mgr,
Soegijapranata SJ menyampaikan prinsip hidup dalam hal yang belum pasti,
kebebasan, dalam hal penting, persatuan dan dalam segala hal, cinta kasih.

D. PENUTUP
Soegijapranata adalah tokoh yang mempunyai pandangan 100% katolik,
100% Indonesia. Banyak yang kami peroleh selama kunjungan ke makam dan
museum. Melalui kunjungan ini, kami menjadi lebih mengenal sosok soegija
yang dipilih unika menjadi lambang universitas dimana kami didik. Sehingga
kami dibisa menjiwai dan menghidupi semangat soegija dalam kehidupan sehari11

hari dalam kehidupan kampus, masyarakat maupun bernegara. Sosok yang


agamais dan nasionalis.
Di era modern yang penuh tantangan ini, semangat soegija dapat menjadi
inspirasi bagi kami untuk mengembangkan semangat kasih dalam kehidupan.
Zaman dulu soeija menunjukkan semangat agamais dan nasionalisme melawan
penjajah. Sedangkan kita?sebagai generasi muda diera sekarang, penjajah yang
kita lawan adalah bagaimana kita sebagai generasi muda mampu berjuang
melawan diri agar mampu mempertahankan nilai atau keutamaan yang ada
dalam diri. Seperti nilai kasih, kejujuran, kerja keras, ketekunan, kesetiaan yang
sudah ada dalam diri masing-masing. Hanya saja karena kita kurang mampu
bahkan maunya instan, kita mencari segala kemudahan dengan segala cara
dengan segala kemudahann tanpa mau berjuang keras. Kurang menyadari
tanggungjawab

kita

sebagai

seorang mahasiswa.

Soegija

mengajarkan

bagaimana kita harus memberi diri kita sebagai bagian dari negeri ini. Yaitu
berjuang melawan penjajah. Kita diera sekarang, sebagai bagian negeri ini dapat
berjuang sebagai bentuk tanggungjawab yaitu mengisi kemerdekaan, belajar
dengan tekun tanpa meninggalkan keutamaan-keutamaan yang diajarkan agama
kita masing-masing.
Penjajahan ini dilakukan tidak hanya dari negara asing yang berusaha merusak
mental dan karakter dari rakyat Indonesia tapi juga dilakukan oleh rakyat
Indonesia sendiri yang memiliki kekuasaan. Penjajahan pada dunia modern ini
mengakibatkan semakin pudarnya rasa cinta tanah air yang dimiliki rakyat
Indonesia. Rakyat Indonesia yang paling mudah terjerumus oleh hal hal tidak
baik adalah kaum muda yang menjadi masa depan Negara Indonesia sendiri.
Oleh karena itu, kaum muda Indonesia harus memiliki mental dan karakter yang
kuat dalam menghadapi tantangan pada zaman sekarang ini. Kaum muda juga
perlu memiliki iman yang kuat agar dapat membedakan hal hal yang baik
dengan hal hal yang tidak baik. Sesama manusia sudah sepantasnya kita
membantu sesama yang kesusahan, peduli terhadap kesulitan yang dihadapi
orang lain, dan tidak membeda bedakan satu sama lain. Dalam keragu raguan
: kebebasan, dalam hal hal yang pokok: kesatuan, dalam segala hal: cinta kasih.
Melalui perkataan ini, Soegija ingin menunjukan bahwa semua masalah yang
terjadi saat ini dapat diselesaikan dengan saling mengasihi satu sama lain.

12

Daftar Pustaka
Gunawan, Yohanes. 2014. Kepemimpinan Kristiani: Melayani dengan Sepenuh Hati.
Yogyakarta:Kanisius.
Subanar, Budi. 2003. Soegija Si Anak Betlehem van Java. Yogyakarta: Kanisius.

13

E. LAMPIRAN FOTO
A.

FOTO HASIL KUNJUNGAN KE MUSEUM UNIKA

14

15

16

BARANG-BARANG PENINGGALAN

17

B. FOTO HASIL KUNJUNGAN KE MAKAM

18

19