Anda di halaman 1dari 10

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN


POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN
TANGERANG SELATAN

VALUE CHAIN SEKSI PENGOLAHAN DATA DAN INFORMASI

UNTUK TUGAS MATA KULIAH SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

ANDREAS ROSSI DEWANTARA


KELAS IX A ALIH PROGRAM / 07
NPM 154060006616

2016

I. PENDAHULUAN
Dalam Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010, disebutkan bahwa Kementerian
Keuangan (Kemenkeu) mempunyai tugas membantu presiden dalam menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang keuangan dan kekayaan negara. Dalam bidang perpajakan,
tugas tersebut diamanatkan Kemenkeu kepada Direktorat Jenderal Pajak. Hal tersebut secara
spesifik juga menjadi salah satu visi Kemenkeu, yakni mengembangkan kebijakan fiskal yang
sehat, berkelanjutan, hati-hati (prudent), dan bertanggung jawab.
Tuntutan menuju tata kelola pemerintahan yang lebih baik ikut menggeser paradigma
organisasi pemerintah dari birokrasi menjadi lebih business-like. Hal ini memaksa organisasi
pemerintah, tak terkecuali Kementerian Keuangan untuk memilih strategi yang tepat. Salah
satunya adalah analisis rantai nilai (value chain analysis). Analisis rantai nilai dapat digunakan
sebagai salah satu alat analisis manajemen guna pengambilan keputusan strategis.
Analisis rantai nilai memandang organisasi sebagai salah satu bagian dari rantai nilai
produk (atau jasa). Rantai nilai produk merupakan aktifitas yang berawal dari input sampai
dengan penanganan purna jual. Analisis ini dapat diterapkan di tiap-tiiap divisi perusahaan.
Untuk Kemenkeu sendiri, analisis rantai nilai juga bisa diterapkan dari level kementerian
hingga ke eselon paling bawah (seksi) di tiap-tiap direktorat jenderal. Khusus untuk tulisan ini
akan dibahas mengenai analisis rantai nilai di Seksi Pengolahan Data dan Informasi.
II. LANDASAN TEORI
2.1. Value Chain
Rantai nilai (value chain) adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan suatu perusahaan
untuk menghasilkan produk atau jasa. Konsep ini dipopulerkan oleh Michael Porter pada buku
Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance (1985). Menurut
konsep value chain, kegiatan perusahaan dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu kegiatan
utama (primary activities) dan kegiatan pendukung (support activities).
Aktivitas utama (primary activities) pada konsep rantai nilai adalah sebagai berikut:
a. Inbound logistic (Logistik masuk): aktivitas yang dilakukan berhubungan dengan
penerimaan, penyimpanan, dan penyebaran.
b. Operations (Operasi): aktivitas yang mentransformasikan masukan jadi keluaran

c. Outbound logistic (Logistik keluar): aktivitas yang berhubungan dengan menyebarkan


produk/jasa kepada pelanggan
d. Marketing and sales (Pemasaran dan penjualan): kegiatan yang berhubungan dengan
pemasaran dan penjualan, diantaranya penelitian pasar dan promosi.
e. Service (Jasa): kegiatan yang berhubungan dengan penyedia layanan untuk meningkatkan
pemeliharaan produk seperti instalasi, pelatihan, perbaikan, suplai bahan, dan perawatan
Aktivitas pendukung (support activities) adalah kegiatan yang mendukung aktivitas
utama, tidak terlibat langsung dalam produksi, namun memiliki potensi meningkatkan efesiensi
dan efektifitas. Kegiatan pendukung yang digambarkan Porter adalah sebagai berikut:
a. Firm Infrastructure (Infrastruktur perusahaan): terdiri atas sistem dan fungsi pendukung,
diantaranya finance, planning, quality control, dan general senior management.
b. Human Resources Management (Manajemen SDM): berhubungan dengan aktivitas
rekruitment, pengembangan, pelatihan, memotivasi, serta pemberian penghargaan kepada
tenaga kerja.
c. Technology Development (Pengembangan teknologi): aktivitas yang terkait produk,
proses perbaikan, perancangan peralatan, pengembangan perangkat lunak komputer, sistem
telekomunikasi, kapabilitas basis data baru, dan pengembangan dukungan sistem berbasis
komputer.
d. Procurement (Pengadaan): kegiatan yang berhubungan dengan bagaimana sumber daya
diperoleh diantaranya fungsi pembelian input yang digunakan dalam value chain organisasi.
Aktivitas-aktivitas di atas digambarkan dengan diagram value chain sebagai berikut

Gambar 1. Diagram Value Chain

III. VALUE CHAIN ANALYSIS DI SEKSI PENGOLAHAN DATA DAN INFORMASI


3.1. Struktur Organisasi dan Tupoksi Seksi Pengolahan Data dan Informasi
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 206.2/PMK.01/2014 Tentang
Organisasi Dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak, Seksi Pengolahan Data
dan Informasi berada di bawah Kantor Pelayanan Pajak (baik KPP WP Besar, PMA, Madya,
maupun KPP Pratama).
Bagan kedudukan Seksi PDI adalah sebagai berikut:

Gambar 2 Bagan Kedudukan Seksi PDI


Seksi Pengolahan Data dan Informasi merupakan fungsi supporting di sebuah Kantor
Pelayanan Pajak. Artinya, Seksi PDI tidak secara langsung mencari penerimaan seperti halnya
fungsional pemeriksa atau Account Representative di Seksi Pengawasan dan Konsultasi. Seksi
PDI pada dasarnya mempunyai tugas :
1. melakukan pengumpulan, pencarian, dan pengolahan data, pengamatan potensi
perpajakan,
2. penyajian informasi perpajakan,
3. perekaman dokumen perpajakan,
4. pelayanan dukungan teknis komputer,
5. pemantauan aplikasi e-SPT dan e-Filing, dan
6. penyiapan laporan kinerja.

2.2. Value Chain Seksi PDI


Aktivitas utama (primary activities) pada Seksi PDI adalah sebagai berikut:
a. Inbound logistic (Logistik masuk): aktivitas yang dilakukan berhubungan dengan
pengumpulan data, baik data internal maupun eksternal.

Data internal berasal dari Wajib Pajak (dari SPT atau surat permohonan lain), internal
kantor dari seksi lain, maupun internal DJP dari direktorat/KPP lain.

Data eksternal berasal dari Instansi/Lembaga Pemerintah/ Swasta yang menurut bidang
kerjanya sedemikian rupa sehingga memproduksi alat keterangan yang bermanfaat bagi
intensifikasi ataupun ekstensifikasi di bidang perpajakan; pihak ketiga, yaitu berupa
temuan-temuan di dalam pemeriksaaan pajak yang sering disebut sebagai terminal data
(semua aparatur pajak adalah terminal data); maupun media, baik elektronik maupun
tulisan misalnya iklan-iklan dalam surat kabar.

b. Operations (Operasi): aktivitas yang mentransformasikan masukan jadi keluaran. Di Seksi


PDI berarti aktivitas pengolahan data, misalnya dengan membuat bank data atau masterfile.
c. Outbound logistic (Logistik keluar): aktivitas yang berhubungan dengan menyebarkan
informasi dari penyebaran data, dalam bentuk Alat Keterangan, masterfile, atau informasi lain
yang dapat dimanfaatkan untuk menggali potensi pajak.
d. Marketing and sales (Pemasaran dan penjualan): di Seksi PDI hal tersebut berupa
sosialisasi. Contohnya sosialisasi tentang aplikasi (e-Faktur, e-SPT, e-Filing), sosialisasi
kepada para AR/pemeriksa tentang pemanfaatan data.
e. Service (Jasa): kegiatan yang berhubungan pemeliharaan produk. Untuk Seksi PDI hal
tersebut berupa maintenance jaringan, hardware, software, dan server.

Aktivitas pendukung (support activities) dalam Seksi PDI adalah sebagai berikut:
a. Firm Infrastructure (Infrastruktur perusahaan): terdiri anggaran, SOP, serta
kebijakan/regulasi lainnya.
b. Human Resources Management (Manajemen SDM): berhubungan dengan aktivitas
rekruitment pelaksana dan operator console serta mendiklatkan mereka untuk meningkatkan
kapasitas pegawai-pegawai tersebut.
c. Technology Development (Pengembangan teknologi): aktivitas yang terkait produk,
proses perbaikan, perancangan peralatan, pengembangan perangkat lunak komputer (misalnya
pembuatan aplikasi baru seperti Agregat dan Phinisi), sistem telekomunikasi, kapabilitas basis
data baru, dan pengembangan dukungan sistem berbasis komputer.

d. Procurement (Pengadaan): kegiatan yang berhubungan dengan pengadaan barang dan jasa
terkait IT. Misal pengadaan komputer, pengadaan ISP.

Gambar 3. Value Chain Seksi PDI


3.3. Proses Bisnis Seksi PDI
Salah satu SOP Seksi PDI adalah Penatausahaan Alat Keterangan baik yang datang dari
instansi lain (eksternal) maupun dari dalam KPP sendiri (internal) serta pengiriman Alat
Keterangan ke unit kerja lain. Langkahnya sebagai berikut:
1). Seksi terkait mengirimkan Alat Keterangan kepada Kepala Seksi Pengolahan Data dan
Informasi.
2).Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi meneliti, memisahkan Alat Keterangan
untuk KPP lain atau untuk KPP sendiri.
3).Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi memberi disposisi dan menugaskan
Pelaksana untuk memproses lebih lanjut.
4).Pelaksana meneliti Alat Keterangan (Alket), untuk KPP Sendiri, pelaksana merekam dan
memvalidasi dalam Sistem Aplikasi Komputer,lalu mengarsipkan Alat Keterangan tersebut.

Sedangkan untuk alket untuk KPP Lain pelaksana membuat Surat Pengantar Pengiriman
Data Alat Keterangan.
5).Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi meneliti dan menandatangani Surat
Pengantar Pengiriman Data Alat Keterangan, kemudian mengembalikannya kepada
Pelaksana Seksi Pengolahan Data dan Informasi.
6). Pelaksana Seksi Pengolahan Data dan Informasi menyampaikan Alat Keterangan beserta
Surat Pengantarnya ke Subbagian Umum untuk dikirim ke KPP terkait melalui SOP Tata
Cara Penyampaian Dokumen di KPP.
Jika digambarkan dengan analisis rantai nilai, maka SOP tersebut adalah sebagai berikut:

Inbound
logistics

Operation

Outbond
logistics

Gambar 4. Proses Bisnis Penatausahaan Alat Keterangan di Seksi PDI

IV. SIMPULAN DAN SARAN


4.1. Simpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Adanya perubahan paradigma tata kelola pemerintah, berarti peran manajemen di
organisasi pemerintah juga berubah. Analisis rantai nilai merupakan alat analisis yang
berguna untuk memahami apa yang yang membentuk nilai suatu produk/jasa. Analisis
Value Chain merupakan analisis aktifitas-aktifitas yang menghasilkan nilai, baik yang
berasal dari dalam dan luar organisasi. Pembentukan nilai suatu produk dimulai pada
saat penanganan bahan input, kemudian proses, pemberian jasa, sampai dengan
pelayanan lainnya.
2. Untuk Seksi Pengolahan Data dan Informasi, input berupa data (eksternal maupun
internal), operasinya berupa pengolahan data, dan outputnya berupa alat keterangan
maupun informasi lain guna penggalian potensi pajak. Support activities dari segi
infrastruktur dan manajemen SDM kurang lebih serupa dengan seksi lain di KPP.
Namun, dari sudut pandang pengembangan teknologi dan pengadaan, Seksi PDI lebih
spesifik mengurusii hal-hal yang terkait IT.
4.2. Saran
Berdasarkan hasil analisis rantai nilai, sebetulnya terlihat bahwa Seksi PDI memiliki risiko
seperti hilangnya data, database yang tidak dapat diakses, data bocor ke pihak yang tidak
berwenang, sistem tidak bisa diakses, website down, kerusakan hardware dan software, dan
lain-lain. Terhadap risiko tersebut, Seksi PDI dibebani fungsi juga untuk melakukan pelayanan
berupa maintenance dan penanganan pada masing-masing risiko yang dihadapi.
Sayangnya yang acap kali menjadi salah kaprah adalah bahwa Seksi PDI adalah seksi
tukang mengurus jaringan dan komputer. Aktivitas service ini justru seringkali memakan porsi
dari core business PDI, yakni pengolahan data. Oleh karena itu perlu dipertimbangkan perlunya
manajemen sumber daya yang baik, misalnya alternatif untuk outsourcing tenaga maintenance
agar operator console dan pelaksana PDI dapat lebih berfokus dalam mengerjakan core
business Seksi PDI.

REFERENSI

Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010


Keputusan Menteri Keuangan Nomor 206.2/PMK.01/2014 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja
Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak
Kroenke, David M. 2011. Using MIS, 4th Edition. Prentice Hall
McLeod, Raymond dan George P. Schell, Jr. 2007. Management Information Systems, 10th
Edition. Prentice Hall
Porter, Michael E. 1985 Competitive Advantage. The Free Press New York