Anda di halaman 1dari 42

JAWABAN SOAL TUGAS 2 TEORI KOMUNIKASI

2. Pendekatan dalam Keilmuan

Sebelum sampai pada pembahasan tentang berbagai teori dan model dalam ilmu komunikasi,
ada baiknya apabila kita terlebih dahulu membahas mengenai pendekatan pendekatan atau
pandangan pandangan tersebut merupakan kerangka dasar berbagai teori dan model yang ada
dalam komunikasi.
Menurut Littlejohn dalam bukunya Theories of Human Communication yang diterbitkan tahun
1989, secara umum dunia masyarakat ilmiah menurut cara pandang serta objek pokok
pengamatannya dapat dibagi dalam 3(tiga) kelompok atau aliran pendekatan, yaitu pendekatan
scientific, Pendekatan Humanistic, dan Pendekatan Social Science.
1.
a.
Pendekatan Scientific
Pada umumnya berlaku di kalangan ahli ilmu eksakta. Menurut pandangan ini, ilmu
diasosiasikan sebagai objektivitas. Objektivitas yang dimaksud adalah objektivitas yang
menekankan pada prinsip standarisasi observasi dan konsistensi. Landasan philosofisnya adalah
bahwa dunia ini pada dasarnya mempunyai bentuk dan struktur. Secara individual, para peneliti
boleh jadi berbeda satu sama lainnya tentang bagaimana rupa atau macam dari bentuk dan
struktur tersebut. Namun apabila para peneliti melakukan penelitian terhadap suatu fenomena
dengan menggunakan metode yang sama, maka akan dihasilkantemuan yang sama.
Ciri dari kelompok ini adalah adanya pemisahan antara known (objek atau hal yang ingin
diketahui) dan knower (subjek pelaku atau pengamat). Salah satu metode yang lazim dilakukan
adalah metode eksperimen.
Dan ketentuan dari pendekatan Scientific:
1) Bagi aliran scientific ilmu bertujuan untuk menstandardisasikan observasi
2) Aliran Scientific berpandangan bahwa tujuan ilmu adalah mengurangi perbedaan
perbedaan pandangan tentang hassil pengamatan
3) Aliran Scientific memandang ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang berada disana (out
there) diluar diri pengamatan/peneliti
4) Aliran Scientific memfokuskan perhatiannya pada dunia hasil penemuan (discovered
world)
5) Aliran Scientific berupaya memperoleh konsesus
6) Aliran Scientific membuat pemisahan yang tegas antara known dan knower
1.
b.
Pendekatan Humanistic
Dalam konteks ilmu-ilmu sosial, salah satu bentuk metode penelitian yang lazim dipergunakan
dari aliran humanistic ini adalah partisipasi observasi. Melalui metode ini, si pelaku dapat
mengamati sikap dan perilaku dari orang-orang yang ditelitinya, membaur dan melibatkan diri
secara aktif dalam kehidupan dari orang-orang yang ditelitinya.
Pandangan klasik aliran humanistic ini adalah bahwa cara pandang seseorang tentang sesuatu
hal akan menentukan penggambaran dan uraiannya tentang hal tersebut. Karena sifatnya yang
subjektif dan interpretative, maka pendekatan ini lazimnya cocok diterapkan untuk mengkaji
persoalan-persoalan yang menyangkut sistem nilai, kesenian, kebudayaan, sejarah dan
pengalaman pribadi.
Ketentuan Pendekatan Humanistic:
1) Bagi aliran pendekatan Humanistic mengutamakan kreatifitas individual
2) Aliran Humanistic bertujuan untuk memahami tanggapan dan hasil temuan subjektif
individual
3) Aliran Humanistic melihat ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang berada disini( in here),
dalam arti berada dalam diri (pemikiran,interpretasi) pengamat
4) Aliran Humanistic mengutamakan interpretasi interpretasi alternatif

5) Aliran Humanistic menitiberatkan perhatiannya pada dunia para penemunya (diuscovering


person)
6) Aliran Humanistic cenderung tidak memisahkan kedua hal tersebut
1.
c.
Pendekatan Khusus Ilmu Pengetahuan Sosial / Social Science
Aliran ketigaini adalah pendekatan khusus ilmu pengetahuan sosial. Pendekatan yang diterapkan
oleh para pendukung kelompok aliran ini pada dasarnya merupakan gabungan atau kombinasi
dari pendekatan-pendekatan yang ada. Dalam banyak hal, pendekatan ilmu osial merupakan
perpanjangan dari pendekatan ilmu alam, karena beberapa metoda yang diterapkan banyak
diantaranya yang diambil dari ilmu alam. Namun, metode-metode pendekatan humanistic juga
diterapkan di sini.
Dipergunakan dua pendekatan scientific dan humanistic yang masing-masing berbeda prinsip ini
adalah karena untuk menjadi objek studi dalam ilmu pengetahuan sosial adalah kehidupan
manusia. Untuk memahami tingkah laku manusia, diperlukan pengamatan yang cermat dan
akurat. Untuk ini jelas bahwa pengamatan harus dilakukan seobjektif mungkin agar hasilnya
dapat berlaku umum dan tidak berlaku khusus. Dengan kata lain, para ahli ilmu sosial, seperti
halnya para ahli ilmu alam harus mampu mencapai kesepakatan atau konsesus mengenai hasil
temuan pengamatannya, meskipun kesepakatan yang dicaai bersifat relatif dalam arti dibatasi
oleh factor-faktor waktu, situasi dan kondisi tertentu. Di samping factor objektivitas, ilmu
pengetahuan sosial juga mengutamakan factor penjelasan dan interpretasi. Hal ini disebabkan
oleh manusia yang menjadi objek pengamatan adalah makhluk yang aktif, memiliki daya pikir,
berpengetahuan, memiliki prinsip dan nilai-nilai tertentu serta sikap tindakannya bisa berubah
sewaktu-waktu. Oleh karena itu maka interpretasi subjektif terhadap kondisi-kondisi spesifik
tingkah alku manusia yang menjadi objek pengamatan juga diperlukan guna menangkap makna
dari tingkah laku tersebut. Seringkali perbuatan seseorang bersifat semu dalam arti tidak
mencerminkan keingian hati yang sebenarnya dari orang tersebut.
Interpretasi dan penjelasan juga diperlukan karena meskipun berdasarkan cirri-ciri biologis,
sosial, atau cirri-ciri lainnya manusia dapat dibai dalam beberapa kelompok dengan kategorikategori tertentu, tidak berarti bahwa masing-masing baik secara individual ataupun kelompok
akan mempunyai persamaan dalamhal sikap dan perilakunya.
Dalam perkembangan selanjutnya, pendekatan ilmu sosial ini kemudian secara uum terbagi lagi
dalam dua kubu, yaitu Ilmu Pengetahuan Tingkah Laku dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Kubu
pertama umumnya menekankan pengkajiannya pada tingkah laku individual manusia,
sedangkan kubu yang kedua pada interaksi antar manusia. Perbedaan antara kedua kubu
tersebut pada dasarnya hanya menyangkut aspek permasalahan yang diamati, sementara metode
pengamatannya relative sama.
Bidang kajian ilmu komunikasi sebagai salah satu ilmu pengetahuan sosial, pada dasarnya
difokuskan pada pemahanman tentang bagaimana tinkah laku manusia dalam
menciptakan,mempertykarkan dan menginterpretasikan pesan-pesan untuk tujuan tertentu.
Dengan adanya pendekatan yaitu scientific dan humanistic yang diterapkan muncu dua
kelompok masyarakat ilmuwan komunikasi yang berbeda baik dalam spesifikasi objek
permasalahannya yang diamatinya, maupun dalam aspek metodologis serta teori dan model
yang dihasilkannya.
Kalangan ilmuwan komunikasi yang mendalami bidang studi speech comunicationumumnya
banyak menerapkan metode aliran pendekatan humanistic. Teori-teori yang dihasilkannya pun
lazimnya disebut sebagai teori retorika. Sementara para ahli ilmu komunikasi yang meneliti
bidang bidang studi lainnya seperti komunikasi antar pribadi, komunikasi antar kelompok,
komunikasi organisasi, komunikasi amssa dan lain-lain. Umumnya banyak menggunakan
pendekatan-pendekatan scientific.
Teori yang dihasilkannya biasanya disebut teori komunikasi. Namun demikian, pengelompokkan
semacam ini sekarang sudah tidak jelas lagi. Karena dalam prakteknya, kalangan ilmuwan yang
mendalami bidang kajian komunikasi ujaran seringpula menerapkan pendekatan scientific.
Sementara pendekatan humanistic banyak diterapkan dalam penelitian masalah-masalah
komunikasi antar pribadi, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi massa dan lain-lain.

Tentang iklan-iklan ini

Memahami Teori Komunikasi: Pendekatan,


Pengertian, Kerangka Analisis, dan Perspektif
3.

Pemahaman Konseptual: Pendekatan dan


Pengertian
Sebelum sampai pada pembahasan tentang berbagai teori dan model
dalam ilmu komunikasi, terlebih dahulu kita membahas mengenai
pendekatan - pendekatan atau pandangan - pandangan dalam keilmuan
yg berlaku di kalangan masyarakat akademis.
Menurut Littlejohn, dalam bukunya "Theories of Human Communication",
secara umumdunia masyarakat ilmiah menurut cara pandang serta objek
pokok pengamatannya dapat dibagi dalam 3 kelompok atau aliran
pendekatan,
yaitu:
pendekatan scientific (ilmiah
empiris),
pendekatan humanistic (humanoria
interperatif),
serta
pendekatan social sciences (ilmu - ilmu sosial).
Aliran pendekatan scientific umumnya berlaku di kalangan para ahli ilmu
- ilmu eksakta (seperti fisika, biologi, kedokteran, matematika, dll).
Menurut
pandangan
ini
ilmu
diasosiasikan
dengan objektivitas.
Maksudnya adalah objektivitas yg menekankan prinsip standarisasi
observasi dan konsistensi. Landasan filosofisnya adalah bahwa dunia ini
pada dasarnya mempunyai bentuk dan struktur.
Ciri utama lainnya dari kelompok pendekatan ini adalah adanya pemisahan yg tegas
antara known (objek atau hal yg ingin diketahui dan diteliti) danknower (subjek
pelaku/pencari pengetahuan atau pengamat)
Apabila aliran pendekatan scientific mengutamakan prinsip objektivitas, maka
kelompok
pendekatan humanistic mengasisiasikan
ilmu
dengan
prinsip subjektivitas. perbedaan - perbedaan pokok antara kedua aliran pendekatan
ini antara lain sebagai berikut:
1.
Aliran scientific, ilmu bertujuan untuk menstandarisasi observasi, sedangkan
aliran humanistic mengutamakan kreativitas individual.
2.
Aliran scientific berpandangan bahwa tujuan ilmu adalah mengurangi
perbedaan - perbedaan pandangan tentang hasil pengamatan, sementara
aliran humanistic bertujuan untuk memahami tanggapan dan hasil temuan
subjektif individual.
3.
Aliran scientific memandang ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yg berada di
sana
(out
there),
di
luar
diri
pengamat/peneliti.
Sedangkan
aliran humanistic melihat ilmu pengetahuannya sebagai sesuatu yg berada di sini
(in here), berarti dalam diri pengamat/peneliti (pemikiran, interpretasi)
4.
Aliran scientific memfokuskan perhatiannya pada dunia hasil penemuan
(discovered world), sedangkan aliran humanisticmenitikberatkan perhatiannya
pada dunia para penemunya (discovering person).
5.
Aliran scientific berupaya
memperoleh
konsensus,
sementara
aliranhumanistic mengutamakan interpretasi - interpretasi alternatif.
6.
Aliran scientific membuat pemisahan yg tegas antara known danknower,
sedangkan aliran humanistic cenderung tidak memisahkan kedua hal tersebut.

Pandangan klasik dari aliran humanistic adalah bahwa cara pandang seseorang
tentang sesuatu hal akan menentukan penggamabaran dan uraiannya tentang hal
tersebut. Karena sifatnya subjektif dan interperatif, maka pendekatan
aliran humanistic ini lazimnya cocok diterapkan untuk mengkaji persoalan persoalan yg menyangkut sistemnilai kesenian, kebudayaan, sejarah, dan
pengalaman pribadi.
Kelompok aliran yg ketiga adalah pendekatan khusus ilmu pengetahuan sosial
(social sciences). Pendekatan ini yg di terapkan oleh para pendukung kelompok
aliran ini pada dasarnya merupakan gabungan atau kombinasi dari pendekatan pendekatan aliran scientific dan humanistik. Pendekatan ilmu sosial merupakan
perpanjangan (extension) dari pendekatan ilmu alam (natural science).
Dipergunakannya 2 pendekatan scientific dan humanistic yg masing - masing
berbeda prinsip ini adalah kerena yg menjadi objek studi dalam ilmu pengetahuan
sosial dalah kehidupan manusia. Para ahli ilmu sosial, seperti para ahli ilmu alam
harus mampu mencapai kesepakatan atau konsensus mengenai hasil temuan
pengamatannya, meskipun kesepakatan atau konsensus yg dicapai tersebut sifatnya
"relatif", dalam arti dibatasi oleh faktor - faktor waktu, situasi, dan kondisi tertentu.
Para ahli ilmu komunikasi yg meneliti bidang studi seperti komunikasi antarpribadi,
komunikasi dalam kelompok. komunikasi organisasi, komunikasi massa, dan lain lain umumnya banyak menerapkan metode - metode pendekatan scientifc. Teori teori yg dihasilkannya biasanya disebut sebagai teori komunikasi (communication
theory). Sementara itu pendekatan - pendekatan humanistic juga banyak
diterapkan dalam penelitian tentang masalah - masalah komunikasi antar pribadi,
komunikasi kelompok. komunikasi organisasi, komunikasi massa, dan lain - lain.

Teori Komunikasi
Secara umum istilah teori dalam ilmu sosial mengandung beberapa
pengertian, yaitu:
1.
Teori adalah abstraksi dan realitas
2.
Teori terdiri dari sekumpulan prinsip - prinsip dan definisi - definisi
yg secara konseptual mengorganisasikan aspek - aspek dunia empiris
secara sistematis
3.
Teori terdiri dari asumsi - asumsi, proposisi - proposisi, dan aksioma
- aksioma dasar yg saling berkaitan
4.
Teori terdiri dari teorema - teorema, yakni generalisasi - generalisasi
yg diterima / terbukti secara empiris
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa teori pada dasarnya
merupakan "konseptualisasi atau penjelasan logis dan empiris tentang
suatu fenomena". Teori memiliki 2 ciri umum, yaitu:
1.
Semua teori adalah "abstraksi" mengenai suatu hal. Dengan
demikian teori sifatnya terbatas.
2.
Semua teori adalah konstruksi ciptaan individual manusia. Oleh
sebab itu sifatnya relatif tergantung pada cara pandang si pencipta teori.
Berdasarkan uraian diatas, secara sederhana teori komunikasi pada
dasarnya merupakan "Konseptualisasi atau penjelasan logis tentang
fenomena peristiwa komunikasi dalam kehidupan manusia".
Menurut Littlejohn, penjelasan dalam teori berdasarkan pada "prinsip
keperluan" (the principle of necessity), yakni suatu penjelasan yg

menerangkan variabel - variabel apa yg kemungkinan di perlukan untuk


menghasilkan sesuatu. Selanjutnya Littlejohn menjelaskan bahwa prinsip
keperluan ini ada 3 macam: (1) casual necessity (keperluan kasual);
(2) practical necessity(keperluan praktis); (3) logical necessity (keperluan
logis).
Sifat dan tujuan teori menurut Abraham Kaplan (1964), adalah bukan
semata untuk menemukan fakta yg tersembunyi, tetapi juga suatu cara
untuk melihat fakta, mengorganisasikan serta merepresentasikan fakta
tersebut. Suatu teori harus sesuai dengan dunia ciptaan Tuhan, dalam arti
dunia yg sesuai dengan ciri yg dimilikinya sendiri.
Menurut Littlejohn, fungsi teori ada 9, yaitu:
1.
Mengorganisasikan dan menyimpulkan pengetahuan tentang suatu
hal. Ini berarti bahwa dalam hal mengamati realitas kita tidak boleh
melakukannya secara sepotong - sepotong.
2.
Memfokuskan, artinya hal - hal atau aspek - aspek dari suatu objek
yg diamati harus jelas fokusnya.
3.
Menjelaskan, maksudnya adalah bahwa teori harus mampu
membuat suatu penjelasan tentang hal yg diamatinya.
4.
Pengamatan, menunjukkan bahwa teori tidak saja menjelaskan
tentang apa yg sebaiknya diamati, tetapi juga memberikan petunjuk
bagaimana cara mengamatinya.
5.
Membuat prediksi, meskipun kejadian yg diamati berlaku pada masa
lalu, namun berdasarkan data dan hasil pengamatan ini harus dibuat
suatu perkiraan ttentang kadaan yg akan terjadi apabila hal - hal yg
digambarkan oleh teori juga tercerminkan dalam kehidupan di masa
sekarang.
6.
Fungsi heuristic atau heurisme. Aksioma umum menyebutkan
bahwa teori yg baik adalah teori yg mampu merangsang penelitian. Ini
berarti bahwa teori yg diciptakan dapat merangsang timbulnya upaya upaya penelitian selanjutnya.
7.
Komunikasi, menunjukkan bahwa teori seharusnya tidak menjadi
monopoli si penciptanya. Teori harus di publikasiikan, didiskusikan, dan
terbuka terhadap kritikan - kritikan.
8.
Fungsi kontrol, bersifat normatif. Hal ini dikarenakan bahwa asumsi asumsi teori dapat kemudian berkembang menjadi norma - norma atau
nilai - nilai yg dipegang dalam kehidupan sehari - hari.
9.
Fungsi Generatif, fungsi ini sangat menonjol di kalangan pendukung
tradisi / aliran pendekatan interperatif dan teori kritis.
Proses pengembangan atau pembentukan teori umumnya mengikuti
model pendekatan eksperimental yg lazim dipergunakan dalam ilmu
pengetahuan alam. Menurut pendekatan ini, biasa disebut hypothetico deductive method(metode hipotetis-deduktif), proses pengembangan
teori melibatkan empat tahap sebagai berikut:
1.
Developing questions (mengembangkan pertanyaan).
2.
Forming hypotheses (menyusun hipotesis).

Testing the hypotheses (menguji hipotesis).


4.
Formulating theory (memformulasikan teori).
Proses dari keempat tahap pengembangan teori
oleh Littlejohnsebagai berikut:
3.

ini

dijelaskan

Gambar di atas menunjukkan bahwa pertama, asumsi - asumsi teori


dideduksi menjadi hipotesis. Kemudian hipotesis ini dirinci lagi ke dalam
konsep - konsep operasional yg dapat dijadikan sebagai patokan untuk
pengamatan / observasi. Berdasarkan hasil - hasil temuan pengamatan yg
dilakukan melalui metode dan pengukuran tertentu, kemudian dibuat
generalisasi - generalisasi. Dan dari generalisasi - generalisasi ini akhirnya
diinduksi menjadi teori.
Ada beberapa patokan yg dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam
mengevaluasi kesahihan teori, yaitu:
1.
Cakupan Teoretis (theoretical scope). Dengan demikian persoalan
pokok di sini adalah apakah suatu teori yg dibangun memiliki
prinsip generalityatau keberlakuan umum.
2.
Kesesuaian (appropriateness), yakni apakah isi teori sesuai dengan
pertanyaan - pertanyaan / permasalahan - permasalahan teoretis yg
diteliti.
3.
Heuristic. Pertanyaannya adalah apakah suatu teori yg dibentuk
punya potensi untuk menghasilkan penelitian atau teori - teori lainnya yg
berkaitan.
4.
Validitas (validity) atau konsistensi internal dan eksternal.
Konsistensi internal mempersoalkan apakah konsep dan penjelasan teori
konsisten dengan pengamatan. Konsistensi eksternal mempertanayakan
apakah teori yg dibentuk didukung oleh teori - teori lainnya yg telah ada.

Parsimony (kesederhanaan). Inti pemikirannya adalah bahwa teori


yg baik adalah teori yg berisikan penjelasan - penjelasan yg sederhana.
5.

Lingkup Teori Komunikasi


Menurut Littlejohn (1989), secara umum teori - teori komunikasidapat
dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama disebut kelompok "teori teori umum" (general theories). Kelompok kedua adalah kelompok "teori teori kontekstual" (contextual theories).
Teori - Teori Umum (general theories)
1.
Teori - Teori Fungsional dan Struktural. Ciri dari jenis teori ini
(meskipun istilah fungsional dan struktural barangkali tidak tepat) adalah
adanya kepercayaan atau pandangan tentang berfungsinya secara nyata
struktur yg berada di luar diri pengamat. Menurut pandangan ini, seorang
pengamat adalah bagian dari struktur. Oleh karena itu cara pandangnya
juga akan dipengaruhi oleh struktur yg berada di luar dirinya.
2.
Teori - Teori Behavioral dan Cognitive. Teori - teori ini
merupakan gabungan dari dua tradisi yg berbeda. Asumsinya tentang
hakikat dan cara menentukan pengetahuan juga sama dengan aliran
strukturalis dan fungsional.
3.
Teori - Teori Konvensional dan Interaksional. Teori - teori ini
berpandangan bahwa kehidupan sosial meruapakan suatu proses interaksi
yg membangun, memelihara serta mengubah kebiasaan - kebaisaan
tertentu, termasuk dalam hal ini bagasa dan simbol - simbol. Komunikasi,
menurut teori ini dianggap sebagai alat perekat masyarakat (the glue of
society). Kelompok teori ini berkebamng dari aliran pendekatan
"interaksionisme simbolis" (symbolic interactionism) sosiologi dan filsafat
bahasa ordiner. Bagi kalangan pendukung teori - teori ini, pengetahuan
dapat ditemukan melalui metode interpretasi.
4.
Teori - Teori Kritis dan Interpretif. Gagasan - gagasannya
banyak berasal dari berbagai tradisi, seperti sosiologi interpretif
(interpretive
sociology),
pemikiran Max
Weber, phenomenology dan hermeneutics,
Marxisme
dan
aliran
"Frankfurt School", serta berbagai pendekatan tekstual, seperti teori teori retorika, biblical, dan kesusastraan. Pendekatan kelompok teori ini
terutama sekali populer di negara - neara eropa.
Teori - Teori Kontekstual (contextual theories)
1.
Komnikasi Intrapribadi (intrapersonal communication) adalah
proses komunikasi yg terjadi dalam diri seseorang. Yang menjadi pusat
perhatian disini adalah bagaimana jalannya proses pengolahan informasi
yg dialami seseorang melalui sistem syaraf dan inderanya.
2.
Komunikasi Antarpribadi (interpersonal communication) adalah
komunikasi antar perorangan dan bersifat pribadi, baik yg secara
langsung (tanpa medium) ataupun tidak langsung (melalui medium).
3.
Komunikasi Kelompok (group communication) memfokuskan
pembahasannya pada interaksi di antara orang - orang di dalam kelompok
- kelompok kecil. Komunikasi kelompok juga melibatkan komunikasi antar

pribadi. Teori - trori komunikasi kelompok antara lain membahas tentang


dinamika kelompok, efisiensi, dan efektivitas penyampaian informasi
dalam kelompok, pola dan bentuk interaksi, serrta pembuatan keputusan.
4.
Komunikasi Organisasi (organizational communication) menunjuk
pada pola dan bentuk komunikasi yg terjadi dalam konteks dan jaringan
organisasi. Komunikasi organisasi melibatkan bentuk - bentuk komunikasi
formal dan informal.
5.
Komunikasi Massa (mass communication) adalah komunikasi
melalui media massa yg ditujukan kepada sejumlah khalayak yg besar.
Proses komunikasi massa melibatkan aspek - aspek komunikasi
intrapribadi, komunikasi antar pribadi, komunikasi kelompok, dan
komunikasi organisasi. Teori komunikasi massa umumnya memfokuskan
perhatiannya pada hal - hal yg menyangkut struktur media, hubungan
media dan masyarakat, hubungan antar media dan khalayak, aspek aspek budaya dari kmunikasi massa, serta dampak atau hasil komunikasi
massa terhadap individu.

Memahami Teori Komunikasi : Pendekatan - Pendekatan


dalam keilmuan
Modul 1

Memahami Teori Komunikasi : Pendekatan, Pengertian, Kerangka


Analisis dan Perspektif. ( Rangkuman)

Kegiatan Belajar 1.

Pendekatan-Pendekatan dalam Keilmuan

Menurut Littlejohn, dalam bukunya Theories of Human Communication


(diterbitkan dalam beberapa edisi: tahun 1989, 1995, 2002) secara umum dunia
masyarakat ilmiah menurut cara pandang serta objek pokok pengamatannya
dapat dibagi dalam 3 kelompok atau aliran pendekatan., yaitu :
1.

Pendekatan scientific ( ilmiah-empiris)


Berlaku dikalangan para ahli ilmu eksata seperti fisika, biologi, kedokteran,
matematika
dll.
Menurut
pandangan
ini
ilmu
diasosiasikan
denganobjektivitas (menekankan prinsip standardisasi observasi dan konsistensi)
yaitu metode yang sama maka akan dihasilkan temuan yang sama.

2.

Pendekatan humanistic ( humaniora interpretatif )


Salah
satu
bentuk
metode
penelitian
yang
lazim
digunakan
aliran humanisticadalah partisipasi observasi. Metode ini, peneliti dalam
mengamati sikap dan perilaku dari orang-orang yang ditelitinya, membaur dan
melibatkan diri secara aktif dalam kehidupan orang yang ditelitinya.
Pandangan klasik dari dari humanistic adalah bahwa cara pandang seseorang
akan menentukan penggambaran dan uraiannya tentang hal tersebut. Sifatnya
subjektif dan interpretative maka cocok untuk mengkaji persoalan yang

menyangkut
pribadi.
3.

system nilai, kesenian, kebudayaan, sejarah dan pengalaman

Pendekatan social sciences ( ilmu-ilmu social )


Merupakan gabungan atau kombinasi antara scientific dan humanistic. Hal ini
karena yang menjadi objek studi ilmu pengetahuan social adalah kehidupan
manusia. Ilmu pengetahuan sendiri dibagi 2 yaitu:

i.

Ilmu pengetahuan tingkah laku (behavioral science), mengkaji tingkah laku


individual manusia.
ii.

Ilmu pengetahuan social (social science), mengkaji interaksi antar manusia.

Perbedaan terletak pada aspek permasalahan yang diamati sementara metode


pengamatannya relative sama.

Apabila aliran pendekatan scientific mengutamakan prinsip objektivitas


maka
kelompok
pendekatan humanistic mengasosiasikan
ilmu
dengan
prinsip subjektivitas.Perbedaan pokok antara kedua aliran ini sbb :
1.

Bagi aliran pendekatan scientific, ilmu bertujuan untuk menstandarisasikan


observasi, sementara aliran humanistic mengutamakan kreativitas individual.

2. Aliran scientific berpandangan bahwa tujuan ilmu adalah mengurangi perbedaan


pandangan tentang hasil pengamatan, sementara aliran humanisticbertujuan
untuk memahami tanggapan dan hasil temuan subjektif individual.
3.

Aliran scientific memandang ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang berada


disana (out there) diluar diri pengamat/ peniliti. Sedangkan aliran humanistic,
ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang berada dalam disini (in here) dalam diri
pengamat.

4.

Aliran scientific memfokuskan perhatiannya pada hasil penemuan (discovered


world). Humanistic menitikberatkan pada dunia para penemunya (discovered
person).

5.

Scientific membuat
pemisahan
yang
antara known dan knower,humanistic cendrung tidak memisahkan.

6.

Scientific berupaya
interpretasi alternatif.

memperoleh

tegas

konsesus, humanistic menggunakan

Kalangan ilmuwan komunikasi yang mendalami bidang studi speech


communication (komunikasi
ujaran)
umumnya
menerapkan
metode
aliran humanistic. Teori yang dihasilkannya disebut sebagai teori retorika.
Sementara ahli komunikasi yang meneliti bidang studi seperti, komunikasi antar
pribadi, komunikasi antar pribadi, komunikasi dalam kelompok, komunikasi

organisasi,
komunikasi
pendekatan scientific.

massa

dll

umumnya

menerapkan

metode

Tes Formatif 1

1.

Pendekatan ilmu pengetahuan social pada dasarnya, mengikuti pendekatan


aliran .
Ilmiah empiris dan humaniora interpretative.

2.

Ilmu komunikasi mengikuti pendekatan aliran ilmu pengetahuan social

3.

Menurut pandangan ilmiah empiris, ilmu diasosiasikan dengan objektivitas

4.

Menurut pandangan ilmiah empiris antara known (objek yang diamati) dan
knower (subjek peneliti).. ada pemisahan yang tegas

5.

Menurut pandangan humaniora interpretatif antara known dan knower


(objek yang diamati dan subjek peneliti).. tidak boleh dipisahkan

6.

Salah satu bentuk metode penelitian yang lazim digunakan dalam pendekatan
humaniora-interpretatif adalah. Partisipasi observasi.

7.

Aliran pendekatan ilmiah empiris memfokuskan perhatiannya pada. Hasil


penemuan(discovered world)

8.

Kalangan ilmuwan komunikasi yang mendalami bidang studi komunikasi


ujaran
umumnya
menerapkan
metode
pendekatan. Humaniora
interpretative

PENGERTIAN MENGENAI ILMU DAN


TEORI KOMUNIKASI
4.

Dalam upaya memperoleh pemahaman mengenai ilmu dan teori


komunikasi, maka di awal pembahasan yang perlu kita pahami
bersama adalah pemahaman mengenai apa itu ilmu secara umum.
Banyak sekali pengertian yang bisa dikemukakan mengenai ilmu.
Di
bawah
ini
akan
diuraikan
beberapa
pengertian
yang
mencerminkan indikasi sebuah ilmu.
1. Ilmu adalah pengetahuan yang bersifat umum dan sistematis,
pengetahuan dari mana dapat disimpulkan dalil-dalil tertentu
menurut kaidah-kaidah umum. (Nazir, 1988)

2. Konsepsi ilmu pada dasarnya mencakup tiga hal, yaitu adanya


rasionalitas, dapat digeneralisasi dan dapat disistematisasi
(Shapere, 1974)
3. Pengertian
ilmu
mencakup
logika,
adanya
interpretasi
subjektif dan konsistensi dengan realitas sosial (Schulz,
1962)
4. Ilmu tidak hanya merupakan satu pengetahuan yang terhimpun
secara sistematis, tetapi juga merupakan suatu metodologi
(Tan, 1954)
Dari empat pengertian di atas dapatlah disimpulkan bahwa
ilmu pada dasarnya adalah pengetahuan tentang sesuatu hal atau
fenomena, baik yang menyangkut alam atau sosial (kehidupan
masyarakat), yang diperoleh manusia melalui proses berfikir.
Itu artinya bahwa setiap ilmu merupakan pengetahun tentang
sesuatu yang menjadi objek kajian dari ilmu terkait.
Pengertian ilmu identik dengan dunia ilmiah, karenanya ilmu
mengindikasikan tiga ciri:
1. Ilmu harus merupakan suatu pengetahuan yang didasarkan pada
logika.
2. Ilmu harus terorganisasikan secara sistematis.
3. Ilmu harus berlaku umum.
PENGERTIAN MENGENAI ILMU KOMUNIKASI
Pengertian mengenai ilmu komunikasi, pada dasarnya mempunyai
ciri yang sama dengan pengertian ilmu secara umum. Yang
membedakan adalah objek kajiannya, di mana perhatian dan
telaah difokuskan pada peristiwa-peristiwa komunikasi antar
manusia. Mengenai hal itu Berger & Chafee (1987) menyatakan
bahwa Ilmu komunikasi adalah suatu pengamatan terhadap
produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan
lambang melalui pengembangan teori-teori yang dapat diuji dan
digeneralisasikan dengan tujuan menjelaskan fenomena yang
berkaitan dengan produksi, proses dan pengaruh dari sistemsistem
tanda
dan
lambang.
Pengertian di atas memberikan tiga pokok pikiran:
1. Objek pengamatan yang jadi fokus perhatian dalam ilmu
komunikasi adalah produksi, proses dan pengaruh dari sistemsistem tanda dan lambang dalam konteks kehidupan manusia.

2. Ilmu komunikasi bersifat ilmiah empiris (scientific) dalam


arti pokok-pokok pikiran dalam ilmu komunikasi (dalam bentuk
teori-teori) harus berlaku umum.
3. Ilmu komunikasi bertujuan menjelaskan fenomena sosial yang
berkaitan dengan produksi, proses dan pengaruh dari sistem
tanda
dan
lambang.
Sehingga secara umum ilmu komunikasi adalah pengetahuan
tentang peristiwa komunikasi yang diperoleh melalui suatu
penelitian tentang sistem, proses, dan pengaruhnya yang dapat
dilakukan secara rasional dan sistematis, serta kebenarannya
dapat diuji dan digeneralisasikan.
PENGERTIAN MENGENAI TEORI KOMUNIKASI
Secara umum istilah teori dalam ilmu sosial mengandung
beberapa pengertian sebagai berikut:
1. Teori adalah abstraksi dari realitas.
2. Teori terdiri dari sekumpulan prinsip dan defenisi yang
secara konseptual mengorganisasikan aspek-aspek dunia empiris
secara sistematis.
3. Teori terdiri dari asumsi-asumsi, proposisi-proposisi, dan
aksioma-aksioma dasar yang saling berkaitan.
4. Teori
terdiri
dari
teorema-teorema
yakni
generalisasigeneralisasi yang diterima/terbukti secara empiris.
Dari unsur di atas dapat disimpulkan bahwa teori pada
dasarnya merupakan konseptualisasi atau penjelasan logis dan
empirik
tentang
suatu
fenomena.
Bentuknya
merupakan
pernyataan-pernyataan yang berupa kesimpulan tentang suatu
fenomena.
Teori memiliki dua ciri umum:
1. Semua teori adalah abstraksi tentang sesuatu hal, yang
berarti suatu teori bersifat terbatas.
2. Semua teori adalah konstruski ciptaan individual manusia.
Oleh karena itu sifatnya relatif dalam arti tergantung pada
cara pandang sipencipta teori, sifat dan aspek yang diamati,
serta kondisi-kondisi lain yang mengikat seperti waktu, tempat
dan lingkungan sekitarnya.
Jadi berdasarkan hal di atas teori komunikasi adalah
konseptualisasi
atau
penjelasan
logis
tentang
fenomena
peristiwa komunikasi dalam kehidupan manusia.

1.
2.

3.

1.
2.

1.

PENJELASAN DALAM TEORI


Penjelasan dalam teori tidak hanya menyangkut penyebutan
nama
dan
pendefenisian
variable-variabel,
tetapi
juga
mengidentifikasikan keberaturan hubungan diantara variable.
Menurut Litlejohn (1987), penjelasan dalam teori berdasarkan
pada prinsip keperluan (the principle of necessity)
yakni suatu penjelasan yang menerangkan variable-variabel apa
yang mungkin diperlukan untuk menjelaskan atau menghasilkan
sesuatu. Misalnya untuk menghasilkan variable X, mungkin
diperlukan variable Y dan Z. selanjutnya dijelaskan pula bahwa
prinsip ini terdiri dari 3 macam, yaitu:
Causal necessity (keperluan kausal). Berdasarkan pada azas
sebab-akibat. Misalnya karena ada X dan Z maka ada Y.
Practical
necessity
(keperluan
praktis).
Mengacu
pada
hubungan tindakan-konsekuensi. Menurut prinsip ini X dan Z
memang bertujuan untuk, atau praktis untuk menghasilkan Y.
Logical necessity (keperluan logis). Prinsip ini berdasarkan
asas konsistensi logis. Artinya X dan Z secara konsisten dan
logis akan selalu menghasilkan Y.
SIFAT & TUJUAN TEORI
Menurut Abraham Kaplan (1964) sifat dan tujuan teori bukan
semata-mata untuk menemukan fakta yang tersembunyi, tetapi
juga suatu cara untuk melilhat fakta, mengorganisasikan serta
merepresentasikan fakta tersebut. Karenanya teori yang baik
adalah teori yang konseptualisasi dan penjelasannya didukung
oleh fakta serta dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Bila
sebaliknya, maka teori demikian tergolong teori semu. Jadi
teori yang baik harus memenuhi kedua unsure tersebut:
Teori yang sesuai dengan realitas kehidupan
Teori yang konseptualisasi dan penjelasannya didukung oleh
fakta serta dapat diterapkan dalam kehidupan yang nyata.
FUNGSI TEORI
Mengenai fungsi teori, secara rinci Littlejohn menyatakan 9
fungsi dari teori:
Mengorganisasikan dan menyimpulkan pengetahuan tentang suatu
hal. Ini berarti bahwa dalam mengamati realitas kita tidak
boleh
melakukan
secara
sepotong-sepotong.
Kita
perlu
mengorganisasikan dan mensintesiskan hal-hal yang terjadi

2.
3.

4.

5.

6.

7.

8.

dalam kehidupan nyata. Pola-pola dan hubungan-hubungan harus


dapat dicari dan ditemukan. Pengetahuan yang diperoleh dari
pola atau hubungan itu kemudian disimpulkan. Hasilnya (berupa
teori) akan dapat dipakai sebagai rujukan atau dasar bagi
upaya-upaya studi berikutnya.
Memfokuskan. Teori pada dasarnya menjelaskan tentang sesuatu
hal, bukan banyak hal.
Menjelaskan. Teori harus mampu membuat suatu penjelasan
tentang hal yang diamatinya. Misalnya mampu menjelaskan polapola hubungan dan menginterpretasikan peristiwa-peristiwa
tertentu.
Pengamatan. Teori tidak sekedar memberi penjelasan, tapi juga
memberikan
petunjuk
bagaimana
cara
mengamatinya,
berupa
konsep-konsep operasional yang akan dijadikan patokan ketika
mengamati hal-hal rinci yang berkaitan dengan elaborasi teori.
Membuat predikasi. Meskipun kejadian yang diamati berlaku
pada masa lalu, namun berdasarkan data dan hasil pengamatan
ini harus dibuat suatu perkiraan tentang keadaan yang bakal
terjadi apabila hal-hal yang digambarkan oleh teori juga
tercermin dalam kehidupan di masa sekarang. Fungsi prediksi
ini
terutama
sekali
penting
bagi
bidang-bidang
kajian
komunikasi terapan seperti persuasi dan perubahan sikap,
komunikasi
dalam
organisasi,
dinamika
kelompok
kecil,
periklanan, public relations dan media massa.
Fungsi heuristik atau heurisme. Artinya bahwa teori yang baik
harus mampu merangsang penelitian selanjutnya. Hal ini dapat
terjadi apabila konsep dan penjelasan teori cukup jelas dan
operasional sehingga dapat dijadikan pegangan bagi penelitianpenelitian selanjutnya.
Komunikasi. Teori tidak harus menjadi monopoli penciptanya.
Teori harus dipublikasikan, didiskusikan dan terbuka terhadap
kritikan-kritikan, yang memungkinkan untuk menyempurnakan
teori. Dengan cara ini maka modifikasi dan upaya penyempurnaan
teori akan dapat dilakukan.
Fungsi kontrol yang bersifat normatif. Asumsi-asumsi teori
dapat berkembang menjadi nilai-nilai atau norma-norma yang
dipegang dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, teori

9.

1.
2.
3.
4.

a.

b.

c.

dapat berfungsi sebagai sarana pengendali atau pengontrol


tingkah laku kehidupan manusia.
Generatif. Fungsi ini terutama menonjol di kalangan pendukung
aliran interpretif dan kritis. Menurut aliran ini, teori juga
berfungsi sebagai sarana perubahan sosial dan kultural serta
sarana untuk menciptakan pola dan cara kehidupan yang baru.
PENGEMBANGAN TEORI
Proses pengembangan atau pembentukan teori umumnya mengikuti
model pendekatan eksperimental yang lazim dipergunakan dalam
ilmu pengetahuan alam. Menurut pendekatan ini, biasa disebut
Hyphotetif-deductive
method,
proses
pengembangan
teori
melibatkan empat tahap sebagai berikut:
Developing questions (mengembangkan pertanyaan),
Forming hyphotheses (membentuk hipotesis)
Testing the hyphotheses (menguji hipotesis)
Formulating theory (memformulasikan theory) (lihat bagan
siklus
empirik
)
Siklus empiris menunjukan bahwa:
Asumsi-asumsi teori dideduksi menjadi hipotesis. Asumsi
disusun berdasarkan suatu teori yang kemudian digunakan
sebagai landasan pikir dalam menganalisa suatu fenomena yang
menjadi objek pengamatan kita. Hipotesa merupakan asumsi atau
dugaan sementara terhadap hal yang diamati yang berupa suatu
pernyataan yang terdiri dari sejumlah konsep atau variabel.
Hipotesis dirinci lagi ke dalam konsep-konsep operasional
(variabel)
yang
dapat
dijadikan
sebagai
patokan
untuk
pengamatan/observasi.
Berdasarkan
itu
dibuat
parameter
penelitian dan instrumen penelitian, contohnya quesioner.
Hasil-hasil temuan dari pengamatan yang dilakukan melalui
metode dan pengukuran tertentu kemudian dibuat generalisasi
yang akhirnya diinduksi menjadi teori.
Ada beberapa patokan yang dapat dijadikan sebagai tolok ukur
dalam mengevaluasi kesahihan teori:
Cakupan teoritis (theoritical scope). Teori yang dibangun
harus memiliki keberlakuan umum. Artinya dapat dijadikan
standar untuk mengamati fenomena yang berkaitan dengan teori
tersebut.

Kesesuaian (appropriatness). Apakah isi teori sesuai dengan


pertanyaan-pertanyaan
atau
permasalahan
teoritis
yang
diteliti. Artinya landasan pikirnya dapat memberikan cara yang
sesuai dan benar untuk menjawab pertanyaan penelitian.
Heuristic. Apakah suatu teori yang dibentuk punya potensi
untuk menghasilkan penelitian atau teori-teori lainnya yang
berkaitan. Sebagaimana telah dijelaskan diawal suatu teori
merupakan hasil konstruksi atau ciptaan manusia, maka suatu
teori sangat terbuka untuk diperbaiki.
Validity. Konsistensi internal dan eksternal. Artinya memiliki
nilai-nilai objektivitas yang akurat, karena teori merupakan
suatu acuan berpikir. Konsistensi internal mempersoalkan
apakah
konsep
dan
penjelasan
teori
konsisten
dengan
pengamatan, sementara itu konsistensi eksternal mempertanyakan
apakah teori yang dibentuk didukung oleh teori-teori lainnya
yang telah ada.
Parsimony. Kesederhanaan, artinya teori yang baik adalah teori
yang berisikan penjelasan-penjelasan yang sederhana.
Diposkan oleh Heber Panca Pagewang di 23.13 0 komentar
Link
ke posting ini
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke
FacebookBagikan ke Pinterest
Reaksi:

BERPIKIR KREATIF
Setiap upaya perencanaan kreatif dalam periklanan selalu
didahului dengan proses kreatif daiam arti proses penciptaan
ide-ide / gagasan kreatif iklan. Proses ini pada dasarnya
adalah proses berpikir kreatif.
Kreativitas seringkali dianggap sebagai sesuatu ketrampilan
yang didasarkan pada bakat alam, dimana hanya mereka yang
berbakat saja yang bisa menjadi kreatif, Anggapan ini tidak
sepenuhnya benar, walaupun memang dalam kenyataannya terlihat
bahwa
orang-orang
tertentu
memiliki
kemampuan
untuk
menciptakan ide-ide baru dengan cepat dan beragam.
Namun demikian, sesungguhnya kemampuan berpikir kreatif pada
dasarnya dimiliki semua orang. Berpikir kreatif adalah
kemampuan untuk menciptakan gagasan-gagasan baru dan orisinil.
Bahkan pada orang yang merasa tidak mampu menciptakan ide baru

pun sebenarnya bisa berpikir secara kreatif, asalkan dilatih.


Untuk itu, perlu diketahui terlebih dahulu mengenai cara
berpikir dan cara berpikir kreatif.
Berpikir adalah proses mengolah dan memanipulasikan informasi
untuk memenuhi suatu kebutuhan atau memberikan respons. Dalam
berpikir seseorang mengolah informasi-informasi yang ada
dengan menggunakan lambang-lambang visual, lambang grafis atau
lambang verbal.
Berpikir adalah suatu aktivitas mental. Proses berpikir
manusia memiliki dua ciri utama, yaitu :
1. Covert / unobservable (tidak terlihat).
Proses berpikir terjadi pada otak manusia dan secara fisik
tidak dapat dilihat prosesnya (dalam pengertian pemrosesan
informasinya). Sejumlah ahli yang mencoba memantau proses
berpikir secara fisik hanya menemukan aktivitas listrik arus
lemah dan proses kimiawi pada otak manusia yang sedang
berpikir.
Dengan demikian, proses pengolahan informasi tak dapat diamati
dan dilihat secara fisik maupun secara kimiawi. Pengolahan
makna, baik semantic maupun visual bersifat abstrak sehingga
tidak dapat dideteks denan panca indera.
2. Symbolic (melibatkan manipulasi dan penggunaan simbol)
Dalam berpikir, manusia mengolah (memanipulasikan) informasi
yang berupa symbol-simbol, (baik symbol verbal maupun visual).
Simbol-simbol itu akan memberikan makna pada informasi yang
diolah.
Diposkan oleh Heber Panca Pagewang di 23.11 0 komentar
Link
ke posting ini
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke
FacebookBagikan ke Pinterest
Reaksi:

CIRI HUMAN RELATIONS


Human relations merupakan salah satu unsure penting bagi keberhasilan komunikasi
baik dalam komunikasi antar personal maupun dalam komunikasi kelompok dan dalam
public relations. Bahkan human relations juga sangat penting bagi seorang pemimpin yang
sehari-harinya banyak melakukan komunikasi baik vertical maupun horizontal.
Di dalam pergaulan sehari-hari antara individu dengan individu, baik dalam lingkungan
kecil maupun lingkungan besar human relations merupakan factor penting.

Di Negara-negara yang sudah maju human relations semakin mendapat perhatian para
manajer dalam organisasi apapun, karena semakin diasakan pentingnya dalam rangka
memecahkan berbagai masalah yang menyangkut factor manusia dalam manajemen.
Benturan-benturan psikologis dan konfli-konflik antara kepentingan pribadi dan
kepentingan organisasi sering terjadi. Bukan saja antara manajer dengan karyawan tetapi juga
antara karyawan dengan karyawan, yang benar-benar mengganggu jalannya roda organisasi
dalam mencapai tujuannya.
Human relations juga dirasakan pentingnya oleh para manajer untuk menghilangkan
luka-luka aibat salah komunikasi (mis-communication) dan salah interpretasi (misinterpretation) yang terjadi antar manajer beserta karyawannya dengan public di luar
organisasi.
Ciri hakiki human relations bukan human dalam pengertian wujud manusia (human
being), melainkan dalam makna proses rohaniah yang tertuju pada kebahagiaan berdasarkan
watak, sifat, perangai, kepribadian, sikap, tingkah laku, dan lain-lain aspek kejiwaan yang
terdapat pada diri manusia.
Human relations dapat dilakukan atau terjadi dalam segala situasi dan dalam semua
bidang kehidupan serta terhadap siapa saja.
Menurut Keith Davis ada tiga tujuan yang hendak dicapai oleh human relations yaitu
mengusahakan agar para pegawai atau pekerja dapat :
1. To cooperate (selalu bekerja sama)
2. To produce ( menghasilkan produksi yang baik)
3. To gain Statisfaction (dapat merasakan kepuasan dalam pekerjaan mereka yang meliputi
segi-segi ekonomis, psikologis dan social)
Di tinjau dari segi pimpinan yang bertanggung jawab untuk pemimpin kelompok, human
relations adalah interaksi dari orang-orang ke dalam suasana kerja dengan motivasi, mereka
akan bekerja bersama-sama secara produktif, cooperative dengan kepuasan, baik mengenai
segi-segi ekonominya, maupun psikologisnya dan sosialnya.
Terdapat 3 faktor yang mendasari interaksi manusia dengan manusia lainnya. Ketiga
faktor tersebut adalah :
1.
Imitasi adalah tanggapan yang dipelajari, hasil nteraksi, pengaruh lingkungan dan
bukan pembawaan sejak lahir. Imitasi tidak selalu bersifat positif. Misalnya sesorang
dapat terpengaruh dengan tingkah laku orang lain yang tidak sesuai dengan norma dan
aturan-aturan yang ada. Misalnya terpengaruh dari gaya hidup selebritis yang negatif
dan dari lungkungan sekitarnya yang tidak sesuai dengan norma hidup masyarakat.
2.

Sugesti

Sugesti diterima seseorang dari orang lain yang mempunyai otoritas, prestise sosila yang
tinggi atau ahli dalam lapangan tertentu. Sugesti ini memegang peranan penting dalam hidup
kelompok karyawan, karena terdapat orang-orang yang mempunyai otoritas, mempunyai

a.

b.
c.
d.
e.

a.
b.
1.
2.

prestise sosial yang tinggi atau yang mempunyai keahlian dalam lapangan tertentu terutam
dalam organisasi.
3. Simpati
Simpati adalah perasaan tertariknya seseorang kepada orang lain. Perasaan simpati ini dapat
timbul secara tiba-tiba atau secara lambat laun. Timbulnya simpati adalah sebagai proses
yang disadari dan timbulnya tidak atas dasar logis rasional melainkan berdasarkan penilaian
perasaan. Pada simpati dorongan utama adalah ingin mengerti dan ingin kerjasama dengan
orang lain.
Perbedaanya cukup jelas. Imitasi adalah prilaku seseorang untuk ingin sama atau mengikuti
sesuatu dari orang lain. Sedangkan sugesti adalah sikap mengajak atau mempengaruhi orang
lain. Dan simpati adalah perasaan suka atau tertariknya seseorang kepada orang lain.
Ciri-ciri adanya Human Relations
Human Relatuions dalam teori dan praktek
Gaya Komunikasi
Ciri adanya Human Relations
Ciri adanya Human Relations yaitu hubungan kerja yang baik dalam suatu kantor dapat
dilakukan dengan dengan cara antara lain :
Mengupayakan agar hubungan di dalam kantor atau lembaga jangan terlalu kaku, jangan
terlalu formal sehingga menimbulkan jarak tang terlalu jauh antara sesama karyawan, antara
atasan dan bawahan atau sebaliknya.
Ciptakan suaana kerja yang menyenangkan
Bagilah tugas pekerjaan sesuai dengan bidangnya masing-masing
Ediakan perlengkapan yang cukup memadai dengan jenis pekerjaan masing-masing.
Berilah kesempatan para karyawan untuk mengembangkan karirnya masing-masing sesuai
dengan batas-batas kemampuannya.
Ada dua Peran Human Relatioins dalam membantu keberhasilan seorang manajer atau
pemimpin dalamn melaksanakan tugasnya sehari-hari yaitu :
Human Relations sebagai teknik atau alat konseling keberhasilan seorang manajer antara lain
di tentukan bagaimana menerapkan Human Relations sebagai alat konseling.
Human Relations adalah teknik pendekatan dan melakukan konseling yang banyak
digunakan, serta dibagi menjadi 2 macam yaitu :
Konseling terarah
Konseling terarah yaitu apabilah dalam proses konseling yang aktif adalah konselor
Konseling tak terarah
Apabilah dalam proses yang aktif adalah konseling itu sendiri dan konselor hanya
memancing masalah yang dihadapi konselor.
Diamping hal tersebut diatas sepertinya manajer juga menggunakan Human Relations dalam
situasi kelompok untuk memecahkan masalah yang timbul dan situasi kerja pada karyawan.

Gaya Komunikasi

Setiap orang mempunyai kecenderungan tertentu sehubungan dengan orientasi nilainya, ada 4
orientasi nilai yang sangat besar pengaruhnya kepada cara orang berkomunikasi yaitu :
Orientasi kepada tindakan
Orientasi kepada proses
Orientasi kepada orang
Orientasi kepada Ide
Batas-batas maksimal untuk dicapai oleh seseorang dalam karirnya yaitu karena manusia
kepribadian :
Kepribadiannya diatur
Keinginannya diprhatikan
Kebutuhan yang material dan non material
Kemampuannya di kembangkan secara teratur.
Mengembangkan kemampuan bawahan sampai tingkat yang maksimal. Untuk

mengembangkan prinsip ini adalah tugas pimpinan untuk mengetahui bakat dan keahlian
bawahannya dan pimpinan harus pula mengetahui batas-batas kemampuannya, agar dalam
usaha pengembangan kemampuan itu.
Pekerjaan yang menarik dan penuh tantangan maksudnya adalah seorang yang sungguh-

sungguh mau bekerja dan tidak mengarungi pekerjaan yang bersifat rutin.
Pengakuan dan penghargaan atas pelaksanaan tugas dengan baik, kemungkinan harus capat

mengakui dan menghargai pelaksanaan tugas seorang bawahan.


Alat perlengkapanyang cukup seiring keterlambatan terjadi dalam pelaksanaan tugas
Setiap orang harus ditempatkan menurut keahliannya dan kecakapannya untuk itu sangat

penting bagi seorang pemimpin, untuk mengetahui bakat dan keahlian bawahannya dan juga
haru mengetahui batas-batas kemampuan bawahannya.
Batas jasa harus setimpal dengan jasa yang diberikan setiap organisasi harus memperhatikan

1.
2.
3.
4.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

hidup yang layak baginya dan keluarganya.


9 Cara untuk memotivasi orang :
Pujian : awalilah dengan pujian dan ucapan terimah kasih dengan tulus
Jangan menuduh
Intropeksi
Pertanyaan positif
Harga diri
Contoh yang baik
Berfikir positif
Bahagi
Diposkan oleh Heber Panca Pagewang di 23.08 0 komentar
ke posting ini

Link

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke


FacebookBagikan ke Pinterest
Reaksi:

Consumer Sales Promotion


Definisi Promosi Penjualan:
Sales Promotion: Merupakan suatu bujukan langsung yang
menawarkan insentif atau nilai lebih untuk suatu produk pada
sales force, distributor atau konsumen langsung dengan tujuan
utama
yaitu
menciptakan
penjualan
yang
segera.
Definisi
promosi
penjualan
menurut
institute
of
sales
promotion
in England:
Promosi
penjualan
terdiri
dari
serangkaian teknik yang digunakaan untuk mencapai sasaransasaran penjualan/ pemasaran dengan menggunakan biaya yang
efektif, dengan memberikan nilai tambah pada produk atau jasa
baik kepada para perantara maupun pemakai langsung, biasanya
tidak dibatasi dalam jangka waktu tertentu.
Inti dari kegiatan promosi adalah manfaat, atau alasan
mengapa calon pembeli harus membeli produk atau jasa yang kita
tawarkan. Manfaat yang dimiliki setiap produk atau jasa dapat
dikelompokkan menjadi 3 yaitu:
- Fungsi. Apa yang dapat dilakukan oleh produk atau jasa
tersebut, (contoh: makanan ringan yang hanya membutuhkan waktu
3 menit untuk menyiapkannya)
- Citra. Gaya, prestise dan nilai emosional dari produk atau
jasa tersebut
- Manfaat extra. Manfaat lain yang bukan bagian utama dari
produk atau jasa tersebut (contoh: tambahan buku tulis gratis
dan kupon potongan harga)
Promosi penjualan menggambarakan insentif-insentif dan
hadiah-hadiah
untuk membuat para pelanggan membeli barang-barang perusahaan
sekarang ketimbang nanti. Jika iklan adalah alat jangka
panjang untuk membentuk perilaku pasar terhadap suatu merk,
promosi penjualan dimaksudkan sebagai alat jangka pendek untuk
memicu
terjadinya
tindakan
pembelian.
Promosi
penjualan
menghasilkan respons-respons yang lebih cepat dan terukur
dalam penjualan daripada yang dapat dilakukan oleh iklan.

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Sekarang ini pembagian antara periklanan dan promosi penjualan


adalah 30-70.
Pertumbuhan promosi penjualan yang mencerminkan prioritas
perusahaan yang lebih tinggi berkaitan dengan penjualan saat
ini daripada terhadap pembentukan merk jangka panjangnya. Ini
adalah satu bentuk hasil dari transaction marketing (TM)
ketimbang relationship marketing (RM).
Promosi penjualan dapat diarahkan pada pengecer, pelangan
dan tenaga penjualan. Pengecer akan bekerja lebih keras jika
diberi penawaran diskon harga, jatah iklan dan display, dan
produk-produk gratis. Mungkin pelanggan membeli produk kita
jika disediakan kupon-kupon potongan harga, paket harga,
hadiah-hadiah
dan
jaminan-jaminan.
Tenaga
penjual
akan
beroperasi
dengan
lebih
giat
sebagai
respons
atas
diselenggarakannya
kontes-kontes
berhadiah
untuk
kinerja
terbaik.
Tujuan Sales-Promotion
Peningkatan uji coba dan pengulangan pembelian
Peningkatan frekuensi dan kuantitas
Menghitung penawaran-penawaran dari pesaing
Membangun Customer database dan peningkatan ingatan
konsumen
Cross-selling dan perluasan dari penggunaan dari suatu merk
Memperkuat brand image dan Memperkuat brand relationship
Keterangan:
Peningkatan
uji
coba
dan
pengulangan
pembelian
Untuk menarik perhatian calon konsumen baru, alat dari sales
promotion dapat menurunkan resiko dari konsumen yang berusaha
mencoba sesuatu yang baru.seperti menawarkan harga yang murah
atau buy one get one free.
Peningkatan
frekuensi
dan
kuantitas
Untuk menaikkan frekuensi dari pemebelian, Hal pertama yang
harus
dilakukan
perusahaan
adalah
menghitung
frekuensi
pembelian secara teratur, pada pesanan utuk mengatur suatu
tujuan, lalu harus menyusun strategi yang akan membuat
konsumen
akan
membeli
produk
lebih
sering.
Menghitung
penawaran-penawaran
dari
pesaing

Pergunakan frekuensi yang berhubungan tinggi dengan para


pesaing pada kategori produk tertentu.
Contohnya: Perusahaan-perusahaan penerbangan berusaha untuk
memberikan
penawaran-penawaran
menarik.
Garuda
airlines
membuka devisi City link
memberikan
harga
murah
untuk
penerbangan ke Surabaya, itu dimaksud untuk mengimbangi lion
air yang juga memberikan harga yang murah.
Membangun Customer database dan peningkatan ingatan
konsumen
Dengan menggunakan Promosi untuk membangun pusat data yang
berhubungan
dengan
informasi
konsumen.
Dengan
begitu
perusahaan dapat merencanakan program-program reward
dan memelihara hubungan dengan konsumen, yang terutama sekali
adalah memilih yang paling menguntungkan perusahaan.
Cross-selling dan perluasan dari penggunaan dari suatu merk
Konsumen yang sudah terbiasa dengan suatu merk dan percaya,
itu sudah cukup untuk membuat pembelian berulang, jika menjual
kepada konsumen suatu produk lain tetapi dibawah merk yang
sama atau yang membuat produk tersebut adalah perusahaan yang
sama dapat lebih efektif dari pada menjual kepada konsumen
yang
tidak
terbiasa
dengan
merk.
Memperkuat brand image dan Memperkuat brand relationship
Bagaimana Mc Donalds melakukan promosi untuk memperkuat
image bahwa McDonalss adalah tempat yang sesuai
untuk
anak-anak?
SAlah
satu
caranya
adalah
menawarkan
figure dari film terbaru Disney yaitu Teenie Beanies
(versi yang lebih kecil dari mainan yang popular). Di beberapa
restaurant Mc D banyak para konsumen yang sudah menunggu toko
dibuka sejak jam 5.30 pagi.
Consumer-market
Sales
Promotion
Techniques
1.Coupons
(kupon)
Sertifikat yang memberi hak pada pemegangnya untuk mendapat
pengurangan harga seperti yang tercetak untuk pembelian produk
tertentu. Kupon dapat dikirim, disertakan atau dilampirkan
pada produk, atau diselipkan dalm iklan di majalah dan Koran.
Kupon agar efektif sebaiknya memberika penghematan 15% sampai
20%

2.Price-off
Deals
Memberikan potongan harga langsung di tempat pembelian,
biasanya potongan harga berkisar dari 10% -25%.
3.Premium
and
advertising
specialties
Barang yang ditawarkan dengan biaya yang relative rendah atau
gratis sebagai insentif untuk membeli produk tertentu. Premi
dengan paket menyertai produk di dalam atau pada kemasan.
Kemasan itu sendiri, jika berupa wadah yang dapat digunakan
kembali dapat berfungsi sebagai premi. Contohnya: sabun lux
melakukan promosi yang menyelipkan cincin berlian dalam
kemasannya.
advertising specialties mempunya 3 elemen kunci, yaitu: a
message, place on a useful item, and given to consumers with
no obligation. Contohnya kalender, t-shirts, coffe mugs, topi
base ball, pens and computer mose pad.
4.Contest
and
sweepstakes
(Kontes
dan
Undian)
Hadiah adalah tawaran kesempatan untuk memenangkan uang tunai,
perjalanan atau barang-brang karena membeli sesuatu. Ada juga
beberapa kontes tentang mebuat jingle suatu produk.
5.Sampling
and
trial
offers
(pemberian
contoh
produk)
Penawaran gratis untuk sejumlah produk atau jasa. Sampel itu
dapat dikirim dari rumah ke rumah, dikirim lewat pos, diambil
di toko, disertakan pada produk lain atau dipajang dalam suatu
penawaran iklan. Pemberian sample adalah cara yang paling
efektif dan paling mahal untuk memperkenalkan suatu produk
baru.
6
teknik
yang
dipergunakan
pada
sampling
a.In-store
sampling
Yang umum digunakan untuk produk-produk makanan dan kosmetika.
b.Door-to-door
sampling
Teknik ini lumayan mahal karena besarnya biaya tenaga kerja,
tetapi dapat efektif jika pemasar mempunyai informasi lokasi
yang sesuai dengan segmentasi dan target yang akan dicapai
pada
area
geografi
tertentu.
c.Mail
sampling
Mengirimkan sample melalui jasa pos. Sekali lagi perusahaan
harus mengetahui kode daerah pos yang dapat ditargetkan. Bisa
juga jasa layanan pos merupakan alternative dari distribusi

door-to-door.
d.Newspaper
sampling
Teknik yang popular pada beberapa tahun terakhir ini dan
hampir
42%
konsumen
melapor
menerima
sample
e.On-Package
sampling
Teknik dimana sample barang disisipkan pada kemasan
produk lain, sangat berguna untuk Brands Targeted
Contohnya: Pembelian RInso Berhadiah Molto Softener kemasan
kecil.
Pembelian
shampoo
pantene
berhadiah
conditioner
pantene.
f.Mobile
sampling
Membawa keluar logo untuk menghiasi mall, area rekreasi, pekan
raya dan pusat perbelanjaan.
6.Brand
(Product)
placement
Salah satu teknik dari sales promotion untuk mencapai pasar
dengan memasukan produk pada sebuah acara televise atau film.
Contoh: agent inggris 007, james bond, menggantikan mobil
Aston martin sports dengan New BMW Z3, suatu penempatan merk
pada film golden eye sehingga pihak promosi BMW menghasilkan
6000 pesanan untuk tipe Z3.
7.Rebates
(Rabat/
tawaran
pengembalian
tunai)
Memberikan pengurangan harga setelah pembelian terjadi dan
bukab
pada
took
pengecer.
Konsumen
mengirim
bukti
pembelian
tertentu
kepada
produsen.
Dikenal dalam tawaran barang konsumsi sebagai beli tiga,
dapat satu gratis.
8.Frequency
(Continuity)
programs
Ini merupakan salah satu teknik sales promotion yang
popular diantara konsumen. Frequency programs, juga mengarah
kepada program-program yang berkelanjutan, seperti menawarkan
konsumen discount atau hadiah produk gratis untuk mencapai
terjadinya pengulangan dalam pembelian atau langganan dari
merk atau perusahaan yang sama.
9.Event
Sponsorship
Ketika
perusahaan
mensponsori
suatu
acara,
seperti
pertandingan balap mobil, konser musik atau acara amal, itu
membuat merk sangat ditonjolkan pada acara tersebut sehingga
membuat kredibilitas Merk meningkat bersamaan dengan para

penonton di acara tersebut.Contoh: Bank Mandiri mensponsori


acara berbagi dengan aceh, Wishmilak mengadakan pertandingan
Tennis international di Bali.
Penentuan
dari
strategi
Consumer
sales
promotion:
1.Mengerakkan
motivasi
melalui
partnership
strategi
2.Mengerakkan motivasi melalui loyalty strategi
Partnership
Strategies
Cross
promotion
is
the
promotion
of
two
or
more
products
together
Contoh: cheese dan crakers
Tie-in
promotion
Is the linking of two products in advertising and in store
merchandising
promotion
Contoh: Promosi film Lord of the Rings movies pada 10.000
restoran Burger King. Demikian juga dengan JVC, sebuah
perusahaan yang bergerak dibidang elektronik yang menanda
tangani kontrak eksklusif mensponsori trilogy dari film lord
of The Rings. Produk dari JVC adalah DVD players dan VCR paket
yg mempromosikan The Fellowship of The New Line.
Loyalty
Strategies
In loyalty promotion, a company offers premiums or other
incentive
when
customer
makes
multiple
purchase
over
time.
Sebuah program kesetiaan dapat menjadi kelengkapan yang baik
sebagai bagian dari suatu program pengelolaan hubungan
pelanggan, Namun banyak program kesetiaan sejenis itu yang
tidak menghasilkan kesetiaan.
Contohnya: bagaimana seorang penumpang pesawat yangs sering
terbang dapat menjadi konsumen yang loyal jika pelanggan masih
dihadapkan
pada
masalah-masalah
penerbangan
dibatalkan,
kehilangan bagasi dan awak pesawat yang tidak peduli?
Loyalty atau di dunia marketing dikenal dengan istilah brand
loyalty dapat di indikasikan dari tingkat ketahanan pelanggan
berada pada satu perusahaan (Customer retention rate). Ratarata perusahaan kehilangan setengah dari pelanggannya dalam
waktu kurang dari limatahun. Perusahaan-perusahaan dengan
tingkat kesetiaan merk yang tinggi akan kehilangan kurang dari
20%
pelanggan
salam lima tahun.
Namun
tingkat
Customer

retention rate yang tinggi dapat juga mengindikasikan hal-hal


lain selain dari kesetiaan. Beberapa konsumen tetap setia pada
suatu produk karena malas mencari alternative lain atau tidak
peduli akan pilihan-pilihan tersebut atau sedang tersandera
dalam suatu kontrak jangka panjang.
Untuk menciptakan pelanggan-pelanggan yang setia, perusahaan
dituntut
untuk
melakukan
diskriminasi
antara
pelangganpelanggan yang menguntungkan dan yang tidak menguntungkan bagi
perusahaan. Tidak ada perusahaan yang dapat diharapkan untuk
memberikan perhatian yang sama pada seorang pelanggan yang
tidak menguntungkan seperti pada pelanggan yang menguntungkan.
Perusahaan yang cerdik akan mendefinisikan tipe-tipe pelanggan
yang sedang mereka cari, mana yang akan paling diuntungkan
oleh penawaran-penawaran perusahaan; pelangan-pelangan inilah
yang paling munkin menjadi setia. Dan pelanggan setia akan
memberi keuntungan pada perusahaan di kemudian hari melalui
arus kas jangka panjang dan akan menghasilkan sebarisan
pelanggan baru bagi perusahaan sebagai hasil rekomendasi
darinya.
Perusahaan memang sudah seharusnya berusaha untuk membangun
pelanggan-pelanggan setia, meskipun begitu kesetiaan akan
tidak dapat menjadi sebegitu kuatnya sehingga pelanggan dapat
menahan godaan dari seseorang pesaing yang mendatangi mereka
dengan proposisidengan nilai-nilai lebih kuat serta dapat
memberikan pelanggan semua yang sudah mereka dapatkan sekarang
ini, ditambah dengan keuntungan-keuntungan lainnya.
Keuntungan dari Frequent shopper programs/Loyalty Programs:
1.Kelengkapan data dari konsumen seperti data demografi dan
informasi lainnya ketika para konsumen ikut serta pada program
dan ketika mereka termotivasi untuk mengidentifikasikan diri
mereka
sendiri
pada
setiap
transaksi.
2.Konsumen termotivasi oleh tawaran reward untuk meningkatkan
jumlah pada setiap jumlah pembelian pada setiap datang.
Masalah yang utama pada penggunaan Frequent shopper Card
adalah
Ketika konsumen lupa membawa kartunya pada waktu belanja.
Ketika konsumen terburu-buru kemungkinan memutuskan untuk
tidak
menunjukkan
kartu
pada
transaksi
pembelian.

Kartu sering terselip pada dompet konsumen oleh kartu-kartu


yang lain.
Kekuatan
dan
Keterbatasan
dari
sales
Promotion
secara
keseluruhan
Kekuatan utama dari consumer sales promotion adalah menaikan
angka penjualan. Keuntungan hanya terjadi jika pada kasuskasus di mana promosi penjualan berhasil mengajak pelangganpelanggan baru untukmencoba produk mereka dan di mana para
pelanggan baru tersebut lebih menyukai produk baru tersebut
dibandingkan dengan produk merk lama yang biasa mereka pakai.
Namun banyak promosi penjualan hanya dapat menarik minat
orang-orang yang suka berganti merk, yaitu mereka yang mencari
harga yang paling murah, yang secara alamiah akan mencampakkan
satu merk jika suatu merk lain sedang diobral. Promosi
penjualan biasanya kurang memungkinkan untuk membujuk pengunapengguna loyal dari merk lain dan pindak ke merk perusahaan
anda.
Promosi penjualan bekerja sangat buruk pada pasar produk yang
memiliki kemiripan merk yang tinggi. Promosi cenderung untuk
menarik minat orang-orang yang suka beralih merk yang mencarai
harga murah atau hadiah-hadiah dan mereka yang tidak setia
pada satu merk. Lebih baik menggunakan promosi penjualan pada
pasar-pasar produk yang memiliki ketidakmiripan merk yang
tinggi, dimana pelanggan baru akan merasa bahwa mereka lebih
menyukai produk anda dan fitur-fitur yang terdapat didalamnya
daripada produk-produk yang menjadi pilihan mereka sebelumnya.
Promosi penjualan cenderung untuk lebih banyak digunakan oleh
merk-merk yang lebih kecil memiliki lebih sedikit dana untuk
dibelanjakan dalam iklan, dan dengan biaya yang sedikit dana
untuk dibelanjakan dalam iklan, dan dengan biaya yang sedikit
mereka dapat membuat orang-orang minimal mencoba produk
mereka.
Promosi penjualan secara umum seharusnya dipergunakan dengan
hemat, pemberian harga murah, kupon,potongan-potongan harga
dan hadiah-hadiah yang dilakukan secara terus menerus dapat
mengurangi nilai suatu merk dalam pikiran pelanggan. Hal ini
akan membuat para pelanggan cenderung menunggu promosi

penjualan berikutnya dan tidak membeli produk-produk tersebut


sekarang juga.
Pilihlah promosi penjualan yang sesuai atau menambah citra
merk dan menambah menambah nilai produk anda. Cobalah untuk
menggunakan promosi penjualan bersama-sama dengan iklan. Iklan
akan menjelaskan mengapa pelanggan sebaiknya membeli produk
tersebut dan promosi penjualan menyediakan insentif-insentif
yang mendorong calon pelanggan untuk membeli. Jika keduanya
digunakan secara bersama-sama, iklan dan promosi penjualan
akan menjadai kombinasi yang luar biasa.
Diposkan oleh Heber Panca Pagewang di 23.06 0 komentar
Link
ke posting ini
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke
FacebookBagikan ke Pinterest
Reaksi:

Kekuasaan Dalam Organisasi Dan


Beberapa Pendekatan
Orang-orang yang berada pad pucuk pimpinan suatu organisasi
seperti manajer, direktur, kepala dan sebagainya, memiliki
kekuasaan power) dalam konteks mempengaruhi perilaku orangorang yang secara struktural organisator berada di bawahnya.
Sebagian
pimpinan
menggunakan
kekuasaan
dengan
efektif,
sehingga mampu menumbuhkan motivasi bawahan untuk bekerja dan
melaksanakan tugas dengan lebih baik.
Namun, sebagian
pimpinan lainnya tidak mampu memakai kekuasaan dengan efektif,
sehingga aktivitas untuk melaksanakan pekerjaan dan tugas
tidak dapat dilakukan dengan baik. Oleh karena itu, sebaiknya
kita bahas secara erperinci tentang jenins-jenis kekuasaan
yang sering digunakan dalam suatu organisasi.
Dalam pengertiannya, kekuasaan adalah kualitas yang melekat
dalam satu interaksi antara dua atau lebih individu (a quality
inherent in an interaction between two or more individuals).
Jika setiap individu mengadakan interaksi untuk mempengaruhi
tindakan satu sama lain, maka yang muncul dalam interaksi
tersebut adalah pertukaran kekuasaan.
Menurut French dan Raven, ada lima tipe kekuasaan, yaitu :

Reward power
Tipe kekuasaan ini memusatkan perhatian pada kemampuan untuk
memberi ganjaran atau imbalan atas pekerjaan atau tugas yang
dilakukan orang lain.
Kekuasaan ini akan terwujud melalui
suatu kejadian atau situasi yang memungkinkan orang lain
menemukan kepuasan. Dalam deskripsi konkrit adalah jika anda
dapat menjamin atau memberi kepastian gaji atau jabatan saya
meningkat, anda dapat menggunkan reward power anda kepada
saya. Pernyataan ini mengandung makna, bahwa seseorang dapat
melalukan reward power karena ia mampu memberi kepuasan kepada
orang lain.

Coercive power
Kekuasaan yang bertipe paksaan ini, lebih memusatkan pandangan
kemampuan untuk memberi hukuman kepada orang lain.
Tipe
koersif ini berlaku jika bawahan merasakan bahwa atasannya
yang mempunyai lisensi untuk menghukum dengan tugas-tugas
yang sulit, mencaci maki sampai kekuasaannya memotong gaji
karyawan.
Menurut David Lawless, jika tipe kekuasaan yang
poersif ini terlalu banyak digunakan akan membawa kemungkinan
bawahan melakukan tindakan balas dendam atas perlakuan atau
hukuman yang dirasakannya tidak adil, bahkan sangat mungkin
bawahan atau karyawan akan meninggalkan pekerjaan yang menjadi
tanggung jawabnya.

Referent power
Tipe kekuasaan ini didasarkan pada satu hubungan kesukaan
atau liking, dalam arti ketika seseorang mengidentifikasi
orang lain yang mempunyai kualitas atau persyaratan seperti
yang diinginkannya. Dalam uraian yang lebih konkrit, seorang
pimpinan akan mempunyai referensi terhadap para bawahannya
yang mampu melaksanakan pekerjaan dan bertanggung jawab atas
pekerjaan yang diberikan atasannya.

Expert power
Kekuasaa yang berdasar pada keahlian ini, memfokuskan diripada
suatu keyakinan bahwa seseorang yang mempunyai kekuasaan,
pastilah ia memiliki pengetahuan, keahlian dan informasi yang
lebih banyak dalam suatu persoalan.
Seorang atasan akan
dianggap memiliki expert power tentang pemecahan suatu
persoalan tertentu, kalau bawahannya selalu berkonsultasi

dengan pimpinan tersebut dan menerima jalan pemecahan yang


diberikan pimpinan.
Inilah indikasi dari munculnya expert
power.

Legitimate power
Kekuasaan yang sah adalah kekuasaan yang sebenarnya (actual
power), ketika seseorang melalui suatu persetujuan dan
kesepakatan diberi hak untuk mengatur dan menentukan perilaku
orang lain dalam suatu organisasi.
Tipe kekuasaan ini
bersandar pada struktur social suatu organisasi, dan terutama
pada nilai-nilai cultural.
Dalam contoh yang nyata, jika
seseorang dianggap lebih tua, memiliki senioritas dalam
organisasi, maka orang lain setuju untuk mengizinkan orang
tersebut
melaksanakan
kekuasaan
yang
sudah
dilegitimasi
tersebut.
Dari lima tipe kekuasaan di atas mana yang terbaik?
Scott
dan Mitchell menawarkan satu jawaban.
Harus dingat bahwa
kekuasaan hampir selalu berkaitan dengan praktik-praktik
seperti
penggunaan
rangsangan
(insentif)
atau
paksaan
(coercion) guna mengamankan tindakan menuju tujuan yang telah
ditetapkan.
Seharusnya orang-orang yang berada di pucuk
pimpinan, mengupayakan untuk sedikit menggunakan insentif dan
koersif. Sebab secara alamiah cara yang paling efisien dan
ekonomis supaya bawahan secara sukarela dan patuh untuk
melaksanakan pekerjaan adalah dengan cara mempersuasi mereka.
Cara-cara koersif dan insentif ini selalu lebih mahal,
dibanding jika karyawan secara spontas termotivasi untuk
mencapai tujuan organisasi yang mereka pahami berasal dari
kewenangan yang sah (legitimate authority).
Memperbaiki Kemampuan Berkomunikasi dalam Organisasi
Salah satu karakteristik antarmanusia (human comunication)
menegaskan, bahwa tindak komunikasi akan mempunyai efek yang
dikehendaki
(intentional
effect)
dan
efek
yang
tidak
diehendaki
(unintentional
effect).
Pernyataan
tersebut
bermakna, bahwa apa yang kita katakan dan apa yang kita
lakukan pada orang lain tidak selalu diinterpretasi dan sama
seperti yang kita kehendaki. Kenyataan ini dapat terjadi pada
setiap
konteks
komunikasi,
baik
konteks
komunikasi
antarpribadi, kelompok, massa, ataupun komunikasi organisasi.

1)

2)

Mengakhiri uraian pada kegiatan belajar 2 ini, kita akan


membahas prinsip-prinsip umum untuk memperbaiki kemampuan
berkomunikasi dalam organisasi, yaitu :
Prinsip yang pertama adalah bagaimana mendefinisikan tujuan
kita berkomunikasi. Orang berkounikasi untuk memperoleh hasil
yang diharapkan, namun mereka tidak selalu tahu dengan tepat
hasil-hasil apa yang mereka cari.
Untuk inilah, memberi
batasan terhadap tujuan kita berkomunikasi merupakan faktor
yang menentukan keberhasilan kita berkomunikasi dalam suatu
organisasi.Ada
dua
cara
yang
bisa
dilakukan
untuk
mendefinisikan tujuan berkomunikasi, yaitu:
Apa yang kita inginkan untuk terjadi. Artinya pastikan bahwa
tujuan kita berkomunikasi sudah specifik, karena kalau tujuan
kita tidak jelas, maka kita tidak akan selalu siap untuk
menyampaikan pesan kepada orang lain.
Memastikan apa tujuan kita realistis, dalam arti apakah tujuan
yang kita harapkan memiliki peluang untuk berhasil atau
tidak.
Misalnya, apakah atasan kita akan mempromosikan
jabatan kita atau menaikkan gaji kita, kalau penampilan dan
prestasi kerja kita masih di bawah ukuran normal? Kalau itu
yang terjadi, maka tujuan kita tidak realistis.
Prinsip kedua dalam memperbaiki kemampuan berkomunikasi dalam
organisasi adalah bagaimana memilih audiens yang terbaik.
Setiap pesan yang kita sampaikan, akan mempunyai beberapa
audiens yang potensial, karena berkomunikasi dengan setiap
orang
mensyaratkan
satu
pendekatan
yang
berbeda
dan
kemungkinan akan mendapatkan hasil yang berbeda-beda pula.
Dalam
suatu
organisasi,
prosedur
yang
ada
biasanya
mensyaratkan orang untuk menjelaskan setiap gagasan ataupun
persoalannya kepada orang lain dengan tegas. Kalau pimpinan
suatu organisasi terlalu sibuk, tidak ramah ataupun tidak
tertarik
dengan
gagasan
atau
pun
persoalan
yang
kita
lontarkan, masih ada cara lain untuk menyampaikan keinginan
itu, misalnya dalam suatu pertemuan yang diadakan.
Oleh
karena itu, memilih siapa audiens yang memungkinkan kita dapat
menyampaikan persoalan, pendapat ataupun gagasan secara bebas,
perlu kita perhatikan kalau kita menginginkan pesan-pesan

organizational yang kita sampaikan sesuai dengan apa yang kita


harapkan.
3)
Prinsip ketiga adalah menggunakan saluran (channel)
yang terbaik. Ada beberapa saluran komunikasi baik secara
lisan maupun tertulis yang dapat digunakan untuk menyampaikan
pesan-pesan
organisasional.
Memilih
satu
dari
beberapa
saluran komunikasi yang ada seharusnya tidak menjadi keputusan
yang dilakukan sambil lalu, karena setiap saluran komunikasi
mempunyai keuntungan sekaligus kerugian.
Ada dua jenis saluran, yaitu:
a.
saluran komunikasi lisan (oral communication).
Saluran komunikasi lisan mempunyai beberapa keuntungan yaitu:
(1)
Keuntungan
terbesar
dari
komunikasi
lisan
adalah
kecepatannya,
dalam
arti
ketika
kita
melakukan
tindak
komunikasi dengan orang lain, pesan dapat disampaikan dengan
segera. Aspek kecepatan ini akan bermakna kalau waktu menjadi
persoalan yang esensial.
(2) Munculnya umpan balik segera
(instant feedback).
Artinya penerima pesan dapat dengan
segera
memberi
tanggapan
atas
pesan-pesan
yang
kita
sampaikan. (3) Meberi kesempatan kepada pengirim pesan untuk
mengendalikan situasi, dalam arti sender dapat melihat keadaan
penerima pesan pada saat berlangsungnya tindak komunikasi
tersebut. Jika kita memiliki kemampuan berbicara yang lebih
baik, memungkinkan pesan-pesan yang kita sampaikan akan
menjadi lebih jelas dan cukup efektif untuk dapat diterima
oleh receiver.
b.
Saluran
komunikasi
tertulis
(written
communication).
Pada
komunikasi
tertulis,
keuntungannya
adalah
bahwa
ia
bersifat
permanen,
karena
pesan-pesan
organisasional yang disampaikan dilakukan secara tertulis.
Selain itu, catatan-catatan tertulis juga mencegah kita untuk
melakukan penyimpangan (distorsi) terhadap gagasan-gagasan
yang kita sampaikan. Dengan perkataan lain, ada jaminan bahwa
pa yang kita katakan adalah apa yang akan diterima receiver.
Mana yang terbaik dari kedua saluran komunikasi di atas?
Tidak ada jawaban atas pertanyaan tersebut, karena eberapa
pesan hanya akan efektif kalau disampaikan secara lisan dan
beberapa pesan lain akan lebih mudah kalau disampaikan secara

tertulis.
Oral
communication
biasanya
disarankan
untuk
dilakukan, kalau pesan yang ingin disampaikan bersifat
pribadi. Ia juga berguna kalau kita membutuhkan umpan balik
yang cepat. Sementara komunikasi tertulis merupakan pilihan
terbaik kalau kita menginginkan pesan yang kita sampaikan
menjadi lebih formal atau resmi. Juga saluran tertulis akan
lebih baik jika kita harus memilih kata-kata dengan cermat, di
samping juga kalau kita ingin mengkomunikasikan gagasangagasan yang rumit (complicated).
Beberapa Pendekatan Dalam Komunikasi Organisasi
Sosiolog Aimitai Etzioni mengatakan bahwa masyarakat kita
adalah
masyarakat
organisasi.
Kita
dilahirkan
dalam
organisasi dan dididik dalam suatu organisasi pula serta
sebagian besar dari kita menghabiskan mayoritas hidupnya
dengan bekerja untuk organisasi.
Dalam kegiatan belajar 3 ini, kita akan mempelajari beberapa
pendekatan yang berhubungan dengan pelaksanaan komunikasi
dalam
suatu
organisasi.
Pendekatan-pendekatan
tersebut
meliputi:
1.

Pendekatan Struktur dan Fungsi Organisasi

Teori pertama yang memiliki berkaitan dengan pendekatan ini


adalah teori birokrasi yang diperkenalan oleh Max Weber,
seorang teoritis terkenal sepanjang zaman. Ia mendefinisikan
organisasi sebagai sistem dari suatu aktivitas tertentu yang
bertujuan dan berkesinambungan.
Inti dari teori Weber mengenai birokrasi adalah konsep
mengenai kekuasaan, wewenang dan leitimasi.
Menurut Weber,
kekuasaan adalah kemampuan seseorang dalam setiap hubungan
sosial guna mempengaruhi orang lain.
Ia juga mengemukakan
adanya tiga jenis kewenangan (otoritas) yaitu:
a)
Kewenangan tradisional terjadi ketika perintah atasan
dirasakan sebagi sesuatu yang sudah pantas atau sudah benar
menurut ukuran tradisi.
b)
Kewenangan birokratik merupakan bentuk yang paling
relevan dalam birokrasi, karena kekuasan diperoleh dari
aturan-aturan birokrasi yang disepakati oleh seluruh anggota
organisasi.

c)
Kewenangan karismatik merupakan kekuasaan yang
diperoleh karena karisma dari kepribadian seseorang.
Selain itu, Weber juga mengemukakan pandangannya mengenai enam
prinsip birokrasi yang terdiri atas:
1)
Birokrasi
didasarkan
pada
aturan-aturan
yang
memungkinkan diseselasikannya suatu persoalan.
2)
Birokrasi mengenal pembagian kerja secara sistematis
terhadap tenaga kerja. Setiap tenaga kerja memiliki hak dan
kekuasaan yang terdefenisikan secara jelas.
3)
Inti dari birokrasi adalah adanya penjenjangan
(hirarki).
4)
Pimpinan
diangkat
berdasarkan
kemampuan
dan
pendidikan mereka.
5)
Birokraasi
harus
memiliki
kebebasan
untuk
mengalokasikan
sumber-sumber
yang
ada
dalam
lingkup
pengaruhnya.
6)
Birokrasi mensyaratkan pengelolaan arsip yang rapi.
Teori lain yang berhubungan dengan pendekatan struktur dan
fungsi organisasi adalah teori sistem.
Menurut Chester
Barnard, organisasi hanya dapat berlangsung melalui kerjasama
antarmanusia, dan bahwa kerjasama adalah sarana di mana
kemampuan individu dipadukan guna ,mencapai tujuan bersama
atau tujuan yang lebih tinggi.
Sementara menurut Daniel Katzdan Robert Kahn, sebagai suatu
sistem
sosial
organisasi
memiliki
keunikan
di
dalam
kebutuhannya guna memelihara berbagai masukan untuk menjaga
agar berbagai perilaku manusia di dalam organisasi tersebut
tetap terkendali. Itu artinya, sistem memiliki tujuan-tujuan
bersama yang mengharuskan menomor duakan kebutuhan individuindividu.
1.

Pendekatan Hubungan Manusiawi (Human Relation).

Pendekatan struktural dan fungsional mengenai organisasi


dianggap hanya menekankan pada produktivitas dan penyelesaian
tugas, sedangkan faktor manusia yang diabaikan. Menurut Chris
Agrys, praktik organisasi yang demikian dipandang tidak
manusiawi,
karena
penyelesaian
suatu
pekerjaan
telah
mengelahkan perkebangan individu dan keadaan ini berlangsung
secara berulang. Ketika kompetensi teknis dinomorsatukan maka

kompetensi antarpribadi dikurangi. Berdasarkan pemikiran itu


maka pendekatan human realtions ini muncul. Ada beberapa
anggapan dasar dari pendekatan ini:
1)
Produktivitas ditentukan oleh norma sosial, bukan
psikologis.
2)
Seluruh imbalan yang bersifat non ekonomis, sangat
penting dalam memotivasi para karyawan.
3)
Karyawan biasanya memberikan suatu reaksi persoalan,
mengutamakan kelompok daripada individu.
4)
Kepemimpinan memberikan peranan yang sangat penting
dan mencakup aspek formal dan informal.
5)
Komunikasi merupakan proses penting dalam pengambilan
keputusan.
1.

pendekatan Komunikasi sebagai Proses Pengorganisasian

didasarkan pada anggapan bahwa komunikasi organisasi sebagai


suatu
proses
pengorganisasian.
Teori
pengorganisasian
memandang organisasi bukan sebagai suatu struktur atau
kesatuan, tetapi suatu aktivitas.
Jadi organisasi adalah
sesuatu yang akan dicapai oleh sekelompok orang melalui proses
yang terus menerus dilaksanakan. Artinya sekelompok orang
melakukan apa yang harus dilakukan secara berkesinambungan.
Inti dari setiap organisasi adalah bahwa orang bertindak dalam
suatu cara tertentu, sehingga perilaku mereka saling terkait,
perilaku seseorang bergantung pada perilaku yang lain. Ukuran
dari itu komunikasi memainkan peran di dalamnya.
Jadi
aktivitas pengorganisasian terdiri dari interaksi ganda,
yaitu suatu tindakan yang diiukuti oleh suatu respon dan
kemudian tindakan penyesuaian.
Pemikiran strukturasi dalam organisasi oleh Poole dan McPhee
dijelaskan
bahwa
struktur
organisasi
diciptakan
ketika
sekelompok
orang
saling
berkomunikasi
melalui
saluran
tertentu.
Komunikasi tersebut terbagi dalam tiga jenjang,
yaitu:
1)
konsepsi, pemikiran yang meliputi seluruh bagian dari
kehidupan organisasi di mana orang-orang membuat berbagai
keputusan dan pilihan. Tahap ini dilakukan oleh top manajemen.

2)
Implementasi, yaitu penjabaran formal dari konsep
yang diputuskan atau dipillih. Taha ini dilakukan oleh midle
manajemen.
3)
Penerimaan, yaitu tindakan-tindakan yang mengacu pada
keputusan-keputusan organisasi. Tahap ini biasanya dilakukan
oleh karyawan.
1.

Pendekatan Organisasi sebagai Kultur.

Dikemukakan oleh Michael Paconowsky dan Nock oDonnelTrijullo


yang memandang organiasasi sebagai suatu kultur, dalam arti
bahwa komunikasi organisasi merupakan pandangan hidup (way of
life)
bagi
para
anggotanya..
Menurut
Pacanowsky
dan Trujillo ada lima bentuk penampilan organisasi, yaitu:
a)
Ritual yaitu merupakan bentuk penampilan yang
diulang-ulang secara teratur, suatu aktuvutas yang dianggap
oleh suatu kelompok sebagai sesuatu yang sudah biasa dan
rutin. Ritual merupakan bentuk penampilan yang penting karena
secara
tetap
akan
memperbarui
pemahaman
kita
mengenai
pengalaman bersama dan memberikan legitimasi terhadap sesuatu
yang kita pikirkan, rasakan dan kita lakukan.
b)
Hasrat yaitu bagaimana para karyawan dapat mengubah
pekerjaan-pekerjaan rutin dan membosankan menjadi menarik dan
merangsang minat.
Cara yang biasa digunakan adalah dengan
penuturan pengalaman pribadi, rekan sekerja ataupun pengalaman
yang diorganisasi ataupun perusahaan tempat ia bekerja.
c)
Sosialitas yaitu bentuk penampilan yang memperkuat
suatu pengertian bersama mengeni kebenaran ataupun norma-norma
dan penggunaan aturan-aturan dalam organisasi, seperti kata
susila dan sopan santun. Aspek lain dari sosialitas adalah
privacy, yaitu penampilan sosialitas yang dikomunikasikan
dengan penuh perasaan dan bersifat sangat pribadi seperti
pengakuan, memberi nasihat dan penyampaian kritik.
d)
Politik organisasi yaitu merupakan bentuk penampilan
yang menciptakan dan memperkuat minat terhadap kekuasaan dan
pengaruh, seperti memperlihatkan kakuatan diri, kekuatan untuk
mengadakan proses tawar menawar (bargaining power) dan
sebagainya.
e)
Enkulturasi yaitu proses mengajarkan budaya kepada
para anggota organisasi. Contoh bentuk penampilan ini adalah

learning theropes yang terdiri dari urut-urutan penampilan


ketika orang mengajarkan kepada orang lain tentang bagaimana
mengerjakan sesuatu.
Teori Integritas dalam Komunikasi Organisasi
Teori system dalam komunikasi organisasi biasanya dipandang
pula sebagai strutural fungsional, seperti yang telah
sedikit dibahas pada bagian awal kegiatan belajar 3.
Berangkat dari kerangka pikir klasik yang dikemukakan oleh
Weer mengenai struktur dan fungsi organisasi, Katz dan Robert
Kahn, Herbert Simon dan James March, dianggap telah memberikan
semacam otot dan daging bagi kerangka yang telah disusun oleh
Weber.
Teori-teori yang mereka kemukakan telah memberikan
lebih banyak subtansi, kompleksitas dan reliabilitas mengenai
organisasi daripada yang dilakukan oleh aliran klasik.
Pada bagian barikut kita akan membahas lebih lanjut suatu
pendekatan system yang menekankan pada proses integrative dari
konsep-konsep system.
Teori Integratif
Teori yang dikemukakan oleh Richard Farace, Peter Monge, dan
Hamish Russel ini menunjukkan suatu pandangan umum yang sangat
menarik mengenai konsep-konsep sistem dari organisasi. Karya
mereka merupakan integrasi dari berbagai gagasan terbaik ke
dalam suatu bentuk yang secara internal telah memberikan suatu
sintetis mengenai pandangan sistem. Sebagai tambahan, karya
mereka
juga
menyatukan
sejumlah
besar
pemikiran
yang
didasarkan atas penelitian, yang terakhir mereka menempatkan
komunikasi sebagai pusat dari struktur organisasai.
Mereka mendefinisikan suatu organisasi sebagai suatu sistem
yang setidaknya terdiri dari dua orang (atau lebih), ada
saling ketergantungan, input, proses dan output. Kelompok ini
berkomunikasi dan bekerja sama untuk menghasilkan suatu hasil
akhir dengan menggunakan energi, informasi, dan bahan-bahan
lain dari lingkungan.
Salah satu sumber daya penting dalam organisasi adalah
informasi. Dengan menggunakan teori informasi sebagai dasar,
Farace dan rekannya mendefinisikan informasi dalam pengertian
untuk mengurangi ketidakpastian.
Ketika orang mampu untuk
memperkirakan pola-pola yang akan terjadi dalam aliran tugas

dan hubungan-hubungannya, maka ketidakpastian dapat dikurangi


dan informasi berhasil diperoleh. Komunikasi sendiri sebagian
merupakan pengurai ketidakpastian melalui informasi, karena
komunikasi mencakup penggunaan bentuk-bentuk simbolis umum
yang saling dimengeri oleh para partisipannya.
Dalam teorinya, mereka mengemukakan dua bentuk komunikasi yang
berkaitan dengan dua bentuk informasi, yaitu:
1.
informasi absolut adalah keseluruhanan informasi
yang dikomunikasikan suatu dalam organisasi.
Informasi ini
terdiri dari keseluruhan kepingan pengetahuan yang ada dalam
sistem.
2.
informasi yang didistribusikan adalah informasi yang
telah disebarkan melalui organisasi.
Kenyataan bahwa informasi yang ada dalam suatu organisasi,
tidak menjamin bahwa informasi tersebut cukup dikomunikasikan
di dalam sistem.
Pertanyaan mengenai informasi absolut
berkenaan dengan apa yang diketahui, sedangkan pertanyaan
mengenai informasi distribusi berkenaan dengan siapa yang
mengetahuinya. Implikasi praktis dari perbedaan teoritis ini
adalah bahwa kegagalan dalam kebijakan distribusi informasi
disebabkan oleh kegagalan manajer untuk mengenali kelompok
mana yang perlu mengetahui suatu hal tertentu, atau kesalahan
untuk
mengarahkan
di
mana
seharusnya
kelompok-kelompok
tersebut dapat memperoleh informasi yang mereka butuhkan.
Kerangka struktural fungsional bagi komunikasi organisasi
terletak pada dimensi analitis yang terdiri atas:
1)
System level yang terdiri atas empat sub-evel:
individual, dyadic, kelompok, dan organisasional, dalam suatu
prinsip hierarki system. Individu berkomunikasi satu dengan
yang lain dalam dyadic, beberapa dyadic berkerumun bersamasama ke dalam kelompok. Organisasi sebagai suatu keseluruhan
adalah suatu sistem dari kelompok-kelompok yang saling
berhubungan dan membentuk suatu jaringan kerja makro.
2)
Level analisis.
Pada setiap level analisis,
kita
dapat
mengamati
fungsi-fungsi
komunikasi
sekaligus
juga
merupakan dimensi analisis yang kedua.
Di antara berbagai
fungsi komunikasi yang ada, Farace menekankan pada tiga
fungsi, yaitu:

a.
Produksi yang mengacu pada pengarahan, koordinasi
kontrol terhadap aktivitas organisasi.
b.
Inovasi yang membangkitkan atau mendorong perubahan
dan gagasan baru dalam sistem.
c.
Pemeliharaan diartikan untuk melindungi nilai-nilai
individual dan hubungan antarpribadi yang dibutuhkan untuk
mempertahankan sistem.
3)
Dimensi struktur. Jika fungsi berkaitan dengan isi
pesan, maka struktur berkaitan dengan tumbuhnya pola-pola atau
aturan-aturan dalam penyampaian pesan.
Pada setiap level organisasi (individual, dyadic, kelompok dan
organisasional)
kita
dapat
meneliti
cara-cara
bagaimana
komunikasi dapat berfungsi dan distrukturkan.
Selanjutnya,
Ferace mengemukakan secara terperinci masing-masing dari
keempat level pengorganisasian. Tetapi, pada bagian berikut
ini kita hanya akan membahas level, individu, dyadic, dan
kelompok secara ringkas, sekedar untuk memperoleh gambaran
umum sebagai latar belakang.
Oleh karena fokus perhatian
Ferace lebih kepada jaringan kerja makro, sebagai kontribusi
terpenting teori ini, maka kita akanlebih banyak memusatkan
perhatian pada masalah tersebut.
Konsep kunci yang berhubungan dengan komunikasi individu dalam
organisasi adalah beban (load).
Beban/muatan komunikasi
adalah tingkatan dan kompleksitas dari masukan informasi
terhadap seseorang.

Tingkatan adalah kuantitas dari masukan seperti pesan-pesan atau pemintaanpermintaan.

Kompleksitas adalah jumlah faktor-faktor yang harus diperhitungkan dalam


memproses informasi.
Ada dua lingkup persoalan berkaitan dengan muatan tersebut,
yaitu:
1.
underload, yaitu yang terjadi ketika aliran pesan
kepada seseorang berada di bawah kapasitas orang tersebut
untuk memprosesnya.
2.
overload, yaitu terjadi ketika muatan melampaui
kapasitas.
Sementara pengertian mengenai load, underload, dan overload
berhubungan secara optimal dengan komuniksi yang diterima

individu tunggal, sehingga konsep ini juga dapat diterapkan


pada seluruh level lainnya, termasuk dyadic, kelompok, dan
organisisonal.
Jadi,
ada
kemungkinan
suatu
keseluruhan
organisasi dapat menadi underload atau overload.
Konsep kunci yang dapat diterapkan pada level dyadic adalah
aturan-aturan (rush). Paraanggota dyadic saling berhubungan
sesuai dengan pola-pola harapan/tuntutan, di samping aturanaturan eksplisit maupun implisit untuk berkomunikasi. Aturanaturan ini secara eksplisit maupun implisit menunjukkan
kebijakan komunikasi dari organisasi. Isinya mengajarkan pada
anggota organisasi bagaimana harus berkomunikasi, kapan harus
dikomunikasikan.
Beberapa topik umum mengenai aturan-aturan
tersebut antara lain meliputi siapa yang berinisiatif untuk
berinteraksi, bagaimana memperlakukan penundaan, topik-topik
apa yang dibicarakan dan bagaimana menyeleksinya, bagaimana
menangani perubahan topik, bagaimana mengakhiri interaksi, dan
seberapa sering komunikasi terjadi.
Melalui kontak setiap hari antarangota organisasi, individuindividu dalam berbagai kelompok cenderung untuk bekrja
berinteraksi, dan berkmunikasi satu bersama-sama.
Kenyataan
menunjukkan
bahwa
struktur
dari
keseluruhan
organisasi
tergantung pada pengelompokkan ini.
Sejak orang bekerja
bersama-sama dalam kelompok dan fungsi yang berbeda, maka
muncul berbagai jenis kelompok yang berbeda dalam suatu
organisasi.
Dan seseorang secara bersamaan dapat menjadi
anggota dari beberapa kelompok sekaligus. Dengan menganalisis
lebih jauh, kita harus menyadari bahwa organisasi terdiri dari
banyak struktur (multiple sructures).
Misalnya; struktur
dapat dibentuk berdasarkan hubungan tugas, hubungan kekuasaan,
kesukaandan sebagainya.
Kita akan kembali pada struktur
organisasional kemudian, namun sebelumnya kita akan elihat
pada beberapa aspek dari berbagai kelompok individual.
5.