Anda di halaman 1dari 101

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sanitasi adalah suatu cara untuk mencegah berjangkitnya suatu penyakit
menular dengan jalan memutuskan mata rantai dari sumber. Menurut Kamus
Bahasa Indonesia, sanitasi diartikan sebagai pemelihara kesehatan. Sedangkan
menurut WHO, sanitasi adalah upaya pengendalian semua faktor lingkungan fisik
manusia, yang mungkin menimbulkan atau dapat menimbulkan hal-hal yang
merugikan, bagi perkembangan fisik, kesehatan, dan daya tahan hidup manusia.
Sanitasi tempat-tempat umum merupakan usaha untuk mengawasi kegiatan
yang berlangsung di tempat-tempat umum terutama yang erat hubungannya
dengan timbulnya atau menularnya suatu

penyakit, sehingga kerugian yang

ditimbulkan oleh kegiatan tersebut dapat dicegah. Sanitasi tempat-tempat umum


menjadi masalah kesehatan masyarakat yang cukup mendesak, karena tempat
umum merupakan tempat bertemunya segala macam masyarakat dengan segala
penyakit yang dimiliki oleh masyarakat. Oleh sebab itu, tempat umum merupakan
tempat menyebarnya segala penyakit terutama penyakit yang medianya adalah
makanan, minuman, udara, dan air.
Salah satu tempat umum yang sering menjadi tujuan adalah pasar tradisional.
Pasar merupakan area tempat jual beli barang dengan jumlah penjual lebih dari
satu, yang di dalamnya terjadi proses interaksi antara pembeli dan penjual
sehingga terjadi penetapan harga dan jumlah yang disepakati oleh penjual dan
pembeli. Bangunan pasar terdiri dari kios-kios atau gerai, los, dan dasaran terbuka
yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Pasar tradisional
sebagian besar menjual kebutuhan sehari-hari, seperti bahan-bahan makanan
berupa ikan, buah, sayur, telur, daging, kain, barang elektronik, pakaian, dan lainlain.
Pasar Pucang Anom adalah salah satu pasar tradisional yang terletak di
Surabaya. Pasar Pucang Anom merupakan tempat umum sebagai tempat
bertemunya segala macam masyarakat dengan segala penyakit yang dimiliki dan
dapat menyebarkan segala penyakit terutama penyakit yang medianya melalui
makanan, minuman, udara, dan air. Oleh karena itu, sanitasi Pasar Pucang Anom

harus memenuhi persyaratan kesehatan dalam arti melindungi, memelihara, dan


meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Sebagai bentuk upaya partisipasi
dalam mewujudkan pasar sehat, maka kami dilaksanakanlah inspeksi sanitasi
Pasar Pucang Anom Surabaya. Dasar pelaksanaan dari inspeksi sanitasi Pasar
Tradisional Pucang Anom adalah Keputusan Menteri Kesehatan nomor
519/Menkes/SK/VI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat.
Inspeksi ini bertujuan untuk mengetahui apakah Pasar Pacar Pucang Anom telah
memenuhi kriteria pasar sehat atau belum.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana gambaran umum sanitasi di Pasar Pucang Anom Surabaya?
2. Bagaimana keadaan lokasi dan bangunan di Pasar Pucang Anom
Surabaya?
3. Bagaimana kondisi lingkungan di Pasar Pucang Anom Surabaya?
4. Bagaimana keamanan dari Pasar Pucang Anom Surabaya?
5. Bagaimana keadaan fasilitas yang ada di Pasar Pucang Anom Surabaya?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk menganalisis kondisi dan gambaran umum sanitasi lingkungan Pasar
Tradisional Pucang Anom Surabaya.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengobservasi gambaran umum sanitasi Pasar Pucang Anom
Surabaya.
2. Untuk mengobservasi lokasi dan bangunan Pasar Pucang Anom
Surabaya.
3. Untuk mengobservasi kondisi lingkungan Pasar Pucang Anom Surabaya.
4. Untuk mengobservasi aspek keamanan Pasar Pucang Anom Surabaya.
5. Untuk mengobservasi fasilitas Pasar Pucang Anom Surabaya.

1.4 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat dari inspeksi yang kami lakukan di Pasar Tradisional
Pucang Anom Surabaya antara lain:
1. Manfaat bagi pengelola Pasar Tradisional Pucang Anom
Hasil laporan inspeksi ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi
pengelola Pasar Pucang Anom dalam upaya perbaikan dan peningkatan
kondisi pasar serta sanitasi lingkungan di Pasar Pucang Anom agar kualitas

pasar dapat menjadi lebih baik dan menjadi tempat berjualan dan berbelanja
yang nyaman bagi pedagang dan pengunjung yang sesuai dengan peraturan
penyelenggaraan pasar sehat.
2. Manfaat bagi pembaca
Hasil laporan inspeksi ini memberikan informasi, pengetahuan, wawasan bagi
pembaca sehingga diharapkan dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam
melakukan tindakan lanjut dan referensi untuk penelitian selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Sanitasi
Sanitasi adalah suatu cara untuk mencegah berjangkitnya suatu penyakit
menular dengan jalan memutuskan mata rantai dari sumber. Sanitasi merupakan
usaha kesehatan masyarakat yang menitik beratkan pada penguasaan terhadap
berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan (Arifin, 2009).
Sanitasi adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi
kebersihan lingkungan dari subjeknya, misalnya menyediakan air bersih untuk
keperluan mencuci tangan, menyediakan tempat sampah agar tidak dibuang
sembarangan (Depkes RI, 2004).
Pengertian sanitasi menurut kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai
pemelihara kesehatan. Sedangkan menurut WHO, sanitasi adalah upaya
pengendalian

semua

menimbulkan

atau

faktor
dapat

lingkungan
menimbulkan

fisik

manusia,

hal-hal

yang

yang

mungkin

merugikan,

bagi

perkembangan fisik, kesehatan, dan daya tahan hidup manusia.


Sanitasi sering juga disebut dengan sanitasi lingkungan dan kesehatan
lingkungan, sebagai suatu usaha pengendalian semua faktor yang ada pada
lingkungan fisik manusia yang diperkirakan dapat menimbulkan hal-hal yang
mengganggu perkembangan fisik, kesehatannya ataupun kelangsungan hidupnya
(Adisasmito, 2006).
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sanitasi adalah perilaku
disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud mencegah manusia
bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya
dengan harapan usaha ini akan menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia.
2.2 Pengertian Sanitasi Tempat Umum
Tempat-tempat umum adalah suatu tempat dimana umum (semua orang)
dapat masuk ke tempat tersebut untuk berkumpul mengadakan kegiatan baik
secara insidentil maupun terus menerus (Suparlan 1977).
Sanitasi tempat-tempat umum merupakan usaha untuk mengawasi kegiatan
yang berlangsung di tempat-tempat umum terutama yang erat hubungannya

dengan timbulnya atau menularnya suatu penyakit, sehingga kerugian yang


ditimbulkan oleh kegiatan tersebut dapat dicegah.
Menurut Mukono (2006), Sanitasi tempat umum merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang cukup mendesak. Karena tempat umum merupakan
tempat bertemunya segala macam masyarakat dengan segala penyakit yang
dipunyai oleh masyarakat. Oleh sebab itu, tempat umum merupakan tempat
menyebarnya segala penyakit terutama penyakit yang medianya makanan,
minuman, udara dan air. Dengan demikian sanitasi tempat-tempat umum harus
memenuhi persyaratan kesehatan dalam arti melindungi, memelihara, dan
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Tempat-tempat umum harus
mempunyai kriteria sebagai berikut.
1. Diperuntukkan bagi masyarakat umum, artinya masyarakat umum boleh
keluar masuk ruangan tempat umum dengan membayar atau tanpa membayar.
2. Harus ada gedung atau tempat peranan, artinya harus ada tempat tertentu
dimana masyarakat melakukan aktivitas tertentu.
3. Harus ada aktivitas, artinya pengelolaan dan aktivitas dari pengunjung tempattempat umum tersebut.
4. Harus ada fasilitas, artinya tempat-tempat umum tersebut harus sesuai dengan
ramainya, harus mempunyai fasilitas tertentu yang mutlak diperlukan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku di tempat-tempat umum.
Sarana dan bangunan umum dinyatakan memenuhi syarat kesehatan
lingkungan apabila memenuhi kebutuhan fisiologis, psikologis, dan dapat
mencegah penularan penyakit antar pengguna, penghuni dan masyarakat
sekitarnya. Selain itu, bangunan tersebut juga harus memenuhi persyaratan dalam
pencegahan terjadinya kecelakaan. Dari sanitasi tempat-tempat umum ada dua
usaha yang dapat dilakukan, yaitu:
1. Pengawasan dan pemeriksaan faktor lingkungan dari tempat-tempat umum
dan faktor manusianya sendiri yang melakukan kegiatan.
2. Penyuluhan terhadap masyarakat (edukasi), terutama yang menyangkut
pengertian dan kesadaran masyarakat terhadap bahaya-bahaya yang timbul
dari tempat-tempat umum.
Tempat atau sarana layanan umum yang wajib menyelenggarakan sanitasi
lingkungan antara lain, tempat umum atau sarana umum yang dikelola secara
komersial, tempat yang memfasilitasi terjadinya penularan penyakit, atau tempat
layanan umum yang intensitas jumlah dan waktu kunjungannya tinggi. Tempat
5

umum semacam itu meliputi hotel, terminal angkutan umum, pasar tradisional
atau swalayan pertokoan, bioskop, salon kecantikan atau tempat pangkas rambut,
panti pijat, taman hiburan, gedung pertemuan, pondok pesantren, tempat ibadah,
objek wisata, dan lain-lain (Febriyanti 2011).
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
dengan sanitasi tempat umum adalah usaha yang secara sengaja dilakukan dalam
upaya pembudayaan hidup bersih yang diterapkan di fasilitas-fasilitas atau
tempat-tempat umum.
2.3 Pengertian Pasar Tradisional
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor:
519/MENKES/SK/VI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat, Pasar
tradisional adalah pasar yang sebagian besar dagangannya adalah kebutuhan dasar
sehari-hari dengan praktek perdagangan yang masih sederhana dengan fasilitas
infrastukturnya juga masih sangat sederhana dan belum mengindahkan kaidah
kesehatan.
Menurut Cyril S Belshaw (1981), Pasar tradisional adalah suatu tempat atau
proses interaksi antara permintaan (pembeli) dan penawaran (penjual) dari suatu
barang/jasa tertentu, sehingga akhirnya dapat menetapkan harga keseimbangan
(harga pasar) dan jumlah yang diperdagangkan.
Sedangkan menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 112 tahun
2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan
Toko Modern, Pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh
Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan
Usaha Milik Daerah termasuk kerjasama dengan swasta dengan tempat usaha
berupa toko, kios, los dan tenda yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil,
menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal
kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar menawar.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa Pasar
tradisional adalah area tempat jual beli barang atau jasa dengan penjual lebih dari
satu orang yang di dalamnya terjadi proses transaksi penjual pembeli secara
langsung dan ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios atau

gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola
pasar.
2.4 Fungsi Pasar Tradisional
Pasar tradisional memiliki fungsi yang hampir sama dengan pasar pada
umumnya, fungsi tersebut antara lain:
1. Sebagai tempat jual beli
Pasar tradisional merupakan tempat berlangsungnya interaksi antara penjual
dan pembeli, yaitu transaksi jual beli barang dagangan.
2. Sebagai sarana sosialisasi
Sosialisasi

merupakan

proses

bagaimana

memperkenalkan

atau

menyampaikan sistem sosial pada seseorang dan bagaimana orang tersebut


menentukan tanggapan serta reaksinya terhadap gejala-gejala sosial tersebut.
Di pasar akan banyak informasi yang didapat baik oleh penjual maupun
pembeli. Proses penyampaian informasi di pasar meliputi: perkembangan
ekonomi masyarakat, perkembangan harga barang, perkembangan situasi
kota, dan lain-lain.
3. Sebagai tempat eksistensi masyarakat menengah bawah
Pasar memungkinkan seluruh lapisan masyarakat untuk mencari kehidupan
(member peluang bagi masyarakat, khususnya komunitas masyarakat kelas
menengah ke bawah untuk mencari nafkah).
4. Sebagai sarana hubungan sosial
Dalam hal ini, pasar dapat memungkinkan terjadinya bentuk kerja
sama, kompetisi, serta benturan-benturan yang melibatkan banyak pihak
antar pedagang

maupun

pembeli.

sama, kompetisi, dan

lain-lain

mempererat hubungan

sosial

Dengan

antar

kata

penjual

(hubungan

lain
dan

pertemanan,

adanya

kerja

pembeli

dapat

persaudaraan,

kekeluargaan dan lain-lain).


5. Sebagai sarana kontruksi budaya
Hal ini diartikan sebagai suatu upaya menyatukan beberapa unsur yang
berbeda sebagai upaya membentuk hal yang dapat difungsikan sebagai
media yang dapat digunakan oleh individu atau kelompok masyarakat.

Pasar tradisional kalangan merupakan suatu bentuk kebudayaan terutama di


pedesaan yang masih di pegang teguh sampai saat ini.
6. Sebagai tempat rekreasi
Di pasar tradisional pengunjung tidak semata-mata bertujuan untuk membeli,
namun pasar tradisional dapat juga dijadikan tempat rekreasi (sekedar
melihat-lihat saja).
2.5 Pengertian Pasar Sehat
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor:
519/MENKES/SK/VI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat, Pasar
Sehat adalah kondisi pasar yang bersih, aman, nyaman, dan sehat yang terwujud
melalui kerjasama seluruh stakeholder terkait dalam menyediakan bahan pangan
yang aman dan bergizi bagi masyarakat.
Pengembangan pasar sehat adalah strategis sebagai upaya memperkuat
biosekuriti pada rantai pangan yang akan meningkatkan keamanan pangan sejak
produksi hingga konsumsi, mendidik produsen, pemasok, pedagang, dan
konsumen, dan sebagai konsekuensinya, kesadaran mereka akan meningkat
terhadap risiko keamanan pangan, seperti kontaminasi silang, penularan flu
burung dan penyakit-penyakit lain yang dihantarkan pangan, dan perilaku berisiko
tinggi.
2.6 Manfaat Pasar Sehat
Manfaat pasar sehat menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia nomor: 519/MENKES/SK/VI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan
Pasar Sehat adalah sebagai berikut.

Tabel 2.1 Manfaat Pasar Sehat Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia nomor: 519/MENKES/SK/VI/2008
No

Pihak
Pemanfaat

Manfaat

1.

Produsen
primer
(petani dan
nelayan)

1. Meningkatnya praktek produksi pangan yang


berkualitas.
2. Meningkatnya kualitas dan nilai jual produk
3. Pangsa pasar yang lebih besar.
4. Lebih ekonomis karena berkurangnya biaya akibat
penarikan kembali pangan atau pangan yang terbuang /
tidak laku.

2.

Pedagang

3.

Pemerintah
daerah

1. Meningkatnya penjualan.
2. Meningkatnya kualitas produk.
3. Lebih ekonomis karena berkurangnya biaya akibat
penarikan kembali atau produk yang terbuang / tidak
laku.
4. Lingkungan kerja yang lebih sehat dan ergonomis.
5. Pemberdayaan yang lebih luas.
6. Meningkatnya kepuasan kerja.
7. Lestarinya budaya dan tradisi pasar tradicional.
1. Menurunnya angka penyakit yang disebabkan pangan.
2. Meningkatnya status gizi masyarakat.
3. Menurunnya biaya perawatan kesehatan.
4. Merupakan akses efektif untuk promosi dan
perlindungan kesehatan pada masyarakat luas.
5. Meningkatnya pendapatan daerah.

4.

Manajer
pasar

1. Meningkatnya perdagangan pangan.


2. Meningkatnya hubungan kerjasama antara para
pedagang, kontraktor dan konsumen.
3. Pemahaman yang lebih baik tentang isu perlindungan
kesehatan.
4. Memahami praktek yang sesuai di dalam dan di luar
lingkungan pasar.
5. Perhatian yang lebih baik akan tanggungjawab atas
masalah keamanan pangan dan kesehatan.
6. Berlangsungnya sistem yang lebih efektif.

5.

Masyarakat
Sekitar

1. Meningkatnya kesehatan masyarakat.


2. Berkurangnya biaya perawatan kesehatan masyarakat.
3. Meningkatnya tingkat pengetahuan (khususnya tentang
keamanan pangan serta higiene dasar, kesehatan, dan
manajemen).
4. Meningkatnya
peranan
kaum
wanita
dalam
mengahadapi permasalahan di masyarakat.

No

Pihak
Pemanfaat

Manfaat

6.

Masyarakat
umum

7.

Konsumen

1. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan komitmen


kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
2. Meningkatnya status gizi dan kesehatan masyarakat.
3. Menurunnya biaya perawatan kesehatan masyarakat.
4. Menguatnya ekonomi masyarakat melalui penjualan
yang meningkat dan jumlah turis yang lebih banyak.
5. Adanya kegiatan sebagai sumber pendapatan baru dan
peningkatan standar sosial ekonomi dan lingkungan.
1. Akses untuk memperoleh pangan yang lebih aman
dan bergizi.
2. Meningkatnya pemahaman bagaimana memilih
pangan yang aman dan bergizi.
3. Meningkatnya
pengetahuan
tentang
praktek
keamanan pangan di rumah.
4. Lingkungan belanja yang aman dan sehat.
5. Akses terhadap fasilitas higiene dan sanitasi.
6. Mendapatkan informasi/pesan-pesan promosi higiene
sanitasi.
7. Status kesehatan dan gizi yang lebih baik bagi diri
sendiri dan anggota keluarganya.

2.7 Peraturan Terkait Sanitasi Pasar Tradisional


Berikut adalah beberapa peraturan yang terkait dengan sanitasi pasar
tradisional.
1.

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

519/MENKES/SK/VI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat.


2.

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

942/MENKES/SK/VII/2003 tentang Pedoman Persyaratan Hygiene Sanitasi


Makanan Jajanan.
3.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2012


tentang Pengelolaan dan Pemberdayaan Pasar Tradisional.

4.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 tahun 2007 tentang


Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional Pusat Perbelanjaan dan Toko
Modern.

5.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 6 tahun


2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adipura.

10

2.8 Indikator Kesehatan Lingkungan Pasar Tradisional


Berikut adalah indikator kesehatan lingkungan pasar tradisional berdasarkan
Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

519/MENKES/SK/VI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat dan


Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 6 tahun 2014
tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adipura.
A. Lokasi
1. Lokasi sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang setempat (RUTR).
2. Tidak terletak pada daerah rawan bencana alam seperti: bantaran sungai,
aliran lahar, rawan longsor, banjir dan sebagainya.
3. Tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan atau daerah jalur pendaratan
penerbangan termasuk sempadan jalan.
4. Tidak terletak pada daerah bekas tempat pembuangan akhir sampah atau
bekas lokasi pertambangan.
5. Mempunyai batas wilayah yang jelas antara pasar dan lingkungannya .
B. Bangunan
1. Umum
Bangunan dan rancang bangun harus dibuat sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
2. Penataan ruang dagang
a. Pembagian area sesuai dengan jenis komoditi, sesuai dengan sifat dan
klasifikasinya seperti : basah, kering, penjualan unggas hidup,
pemotongan unggas
b. Pembagian zoning diberi identitas yang jelas.
c. Tempat penjualan daging, karkas unggas, ikan ditempatkan di tempat
khusus.
d. Setiap los memiliki lorong yang lebarnya minimal 1,5 meter.
e. Setiap los/kios memiliki papan identitas yaitu nomor dan nama pemilik
yang mudah dilihat.
f. Jarak tempat penampungan dan pemotongan unggas dengan bangunan
pasar utama minimal 10 meter atau dibatasi tembok pembatas dengan
ketinggian minimal 1,5 meter.

11

g.

Khusus untuk jenis pestisida, bahan berbahaya dan beracun (B3) dan
bahan berbahaya lainnya ditempatkan terpisah dan tidak berdampingan
dengan zona makanan dan bahan pangan.

3. Ruang kantor pengelola


a. Ruang kantor memiliki venilasi minimal 20% dari luas lantai.
b. Tersedia ruangan kantor pengelola dengan tinggi langit-langit dari
lantai sesuai ketentuan yang berlaku.
c. Tersedia toilet terpisah bagi laki-laki dan perempuan.
d. Tersedia tempat cuci tangan dilengkapi sabun dan air mengalir.
4. Tempat penjualan bahan pangan dan makanan
a. Tempat penjualan bahan pangan basah
1) Mempunyai meja tempat penjualan dengan permukaan yang rata
dengan kemiringan yang cukup sehingga tidak menimbulkan
genangan air dan tersedia lubang pembuangan air, setiap sisi
memiliki sekat pembatas dan mudah dibersihkan dengan tinggi
minimal 60 cm dari lantai dan terbuat dari bahan tahan karat dan
bukan dari kayu.
2) Penyajian karkas daging harus digantung.
3) Alas pemotong (telenan) tidak terbuat dari bahan kayu, tidak
mengandung bahan beracun, kedap air dan mudah dibersihkan.
4) Pisau untuk memotong bahan mentah harus berbeda dan tidak
berkarat.
5) Tersedia tempat penyimpanan bahan pangan, seperti: ikan dan
daging menggunakan rantai dingin (cold chain) atau bersuhu
rendah (4-10 C).
6) Tersedia tempat untuk pencucian bahan pangan dan peralatan.
7) Tersedia tempat cuci tangan yang dilengkapi dengan sabun dan air
yang mengalir.
8) Saluran pembuangan limbah tertutup, dengan kemiringan sesuai
ketentuan yang berlaku sehingga memudahkan aliran limbah serta
tidak melewati area penjualan.

12

9) Tersedia tempat sampah kering dan basah, kedap air, tertutup dan
mudah diangkat.
10) Tempat penjualan bebas vektor penular penyakit dan tempat
perindukannya, seperti: lalat, kecoa, tikus, nyamuk.
b. Tempat penjualan bahan pangan kering
1) Mempunyai meja tempat penjualan dengan permukaan rata dan
mudah dibersihkan, dengan tinggi minimal 60 cm dari lantai.
2) Meja terbuat dari bahan yang tahan karat dan bukan dari kayu.
3) Tersedia tempat sampah kering dan basah, kedap air, tertutup dan
mudah diangkat.
4) Tersedia tempat cuci tangan yang dilengkapi dengan sabun dan air
yang mengalir.
5) Tempat penjualan bebas binatang penular penyakit (vektor) dan
tempat perindukannya (tempat berkembang biak).
c. Tempat penjualan makanan jadi/siap saji
1) Tempat penyajian makanan tertutup dengan permukaan yang rata
dan mudah dibersihkan, dengan tinggi minimal 60 cm dari lantai
dan terbuat bahan yang tahan karat dan bukan dari kayu.
2) Tersedia tempat cuci tangan yang dilengkapi dengan sabun dan air
yang mengalir.
3) Tersedia tempat cuci peralatan dari bahan yang kuat, aman, tidak
mudah berkarat dan mudah dibersihkan.
4) Saluran pembuangan air limbah dari tempat pencucian harus
tertutup dengan kemiringan yang cukup.
5) Tersedia tempat sampah kering dan basah, kedap air, tertutup dan
mudah diangkat.
6) Tempat penjualan bebas vektor penular penyakit dan tempat
perindukannya, seperti : lalat, kecoa, tikus, nyamuk.
7) Pisau

yang

basah/matang

digunakan
tidak

untuk
boleh

kering/mentah.
5. Pedagang Kaki Lima (PKL)

13

memotong
digunakan

bahan
untuk

makanan
makanan

a. Lapak tertata rapi, tidak mengganggu lalu lintas dan pejalan kaki serta
ditempatkan pada area khusus.
b. Tidak ada sampah di area PKL.
c. Tempat sampah tidak bertumpuk dan berserakan di area PKL.
6. Area parkir
a. Adanya pemisah yang jelas pada batas wilayah pasar.
b. Adanya parkir yang terpisah berdasarkan jenis alat angkut, seperti:
mobil, motor, sepeda, andong/delman dan becak.
c. Tersedia area parkir khusus untuk pengangkut hewan.
d. Tersedia area bongkar muat yang terpisah dari tempat parkir.
e. Tidak ada genangan air.
f. Tersedia tempat sampah yang terpisah antara sampah kering dan basah
dalam jumlah yang cukup, minimal setiap radius 10 meter.
g. Ada tanda masuk dan keluar kendaraan secara jelas, yang berbeda
antara jalur masuk dan keluar.
h. Adanya tanaman penghijauan.
i. Adanya area resapan air di pelataran parkir.
7. Ruang Terbuka Hijau (RTH)
a. Ada pohon peneduh di seluruh lokasi pasar.
b. Pohon peneduh memenuhi fungsi peneduh di seluruh lokasi.
c. Terdapat penghijauan yang memenuhi fungsi penghijauan di sekitar
tiga perempat lokasi (75%).
8. Konstruksi
a. Atap
1) Atap harus kuat, tidak bocor dan tidak menjadi tempat
berkembangbiaknya binatang penular penyakit.
2) Kemiringan

atap

harus

sedemikian

rupa

sehingga

tidak

memungkinkan terjadinya genangan air pada atap dan langit-langit.


3) Ketinggian atap sesuai ketentuan yang berlaku.
4) Atap yang mempunyai ketinggian 10 meter atau lebih harus
dilengkapi dengan penangkal petir.
b. Dinding

14

1) Permukaan dinding harus bersih, tidak lembab dan berwarna


terang.
2) Permukaan dinding yang selalu terkena percikan air harus terbuat
dari bahan yang kuat dan kedap air.
c. Lantai
1) Lantai terbuat dari bahan yang kedap air, permukaan rata, tidak
licin, tidak retak dan mudah dibersihkan.
2) Lantai yang selalu terkena air, misalnya kamar mandi, tempat cuci
dan sejenisnya harus mempunyai kemiringan ke arah saluran dan
pembuangan air sesuai ketentuan yang berlaku sehingga tidak
terjadi genangan air.
9. Tangga
a. Tinggi, lebar dan kemiringan anak tangga sesuai dengan ketentuan.
b. Ada pegangan tangan di kanan dan kiri tangga.
c. Terbuat dari bahan yang kuat dan tidak licin.
10. Ventilasi
Ventilasi harus memenuhi syarat minimal 20% dari luas lantai dan saling
berhadapan (cross ventilation).
11. Pencahayaan
Intensitas pencahayaan setiap ruangan harus cukup untuk melakukan
pekerjaan pengelolaan bahan makanan secara efektif dan kegiatan
pembersihan makanan.
C. Sanitasi
a. Air bersih
a. Tersedia air bersih dengan jumlah yang cukup setiap hari secara
berkesinambungan, minimal 40 liter per pedagang.
b. Kualitas air bersih yang tersedia memenuhi persyaratan.
c. Jarak sumber air bersih dengan pembuangan limbah minimal 10 meter.
d. Kualitas air bersih diperika setiap enam bulan sekali.
b. Kamar mandi dan toilet
a. Harus tersedia toilet laki-laki dan perempuan yang terpisah dilengkapi
dengan tanda/simbol yang jelas dengan proporsi sebagai berikut:

15

Tabel 2.2 Prosporsi Kamar Mandi dan Toilet


No
Jumlah Pedagang Jumlah Kamar Mandi Jumlah Toilet
1.
1 s/d 25
1
1
2.
25 s/d 50
2
2
3.
51 s/d 100
3
3
Setiap penambahan 40-100 orang harus ditambah satu kamar mandi dan
satu toilet.
b. Didalam kamar mandi harus tersedia bak dan air bersih dalam jumlah
yang cukup dan bebas jentik.
c. Didalam toilet harus tersedia jamban leher angsa, peturasan dan bak
air.
d. Tersedia tempat cuci tangan dengan jumlah yang cukup yang
dilengkapi dengan sabun dan air yang mengalir.
e. Air limbah dibuang ke septic tank (multi chamber), riol atau lubang
peresapan yang tidak mencemari air tanah dengan jarak 10 meter dari
sumber air bersih.
f. Lantai dibuat kedap air, tidak licin, mudah dibersihkan dengan
kemiringan sesuai ketentuan sehingga tidak terjadi genangan.
g. Letak toilet terpisah minimal 10 meter dengan tempat penjualan
makanan dan bahan pangan.
h. Tersedia tempat sampah yang cukup.
c. Pengelolaan sampah
a. Setiap kios/los/lorong terseia tempat sampah basah dan kering.
b. Terbuat dari bahan kedap air, tidak mudah berkarat, kuat, tertutup, dan
mudah dibersihkan.
c. Tersedia alat angkut sampah yang kuat, mudah dibersihkan dan mudah
dipindahkan.
d. Tersedia tempat pembuangan sampah sementara (TPS) yang kuat,
kedap air atau kontainer, mudah dibersihkan, dan mudah dijangkau
oleh petugas pengangkut sampah.
e. TPS tidak menjadi tempat perindukan binatang penular penyakit.
f. Lokasi TPS tidak berada di jalur utama pasar dan berjarak minimal 10
meter dari bangunan pasar.

16

g. Sampah diangkut minimal 1 x 24 jam.


d. Drainase
a. Selokan/drainase sekitar pasar tertutup dengan kisi yg terbuat dari
logam sehingga mudah dibersihkan
b. Limbah cair yg berasal dari setiap kios disalurkan ke instalasi
pengolahan air limbah (IPAL), sebelum akhirnya dibuang ke saluran
pembuangan umum
c. Kualitas limbah outlet harus memenuhi baku mutu sebagaimana diatur
dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup nomor 112 tahun 2003
tentang kualitas air limbah
d. Saluran drainase memiliki kemiringan sesuai dengan ketentuan yang
berlaku sehingga mencegah genangan air
e. Tidak ada bangunan los/kios diatas saluran drainase
f. Dilakukan pengujian kualitas air limbah cair secara berkala setiap 6
bulan sekali
e. Tempat cuci tangan
a. Fasilitas cuci tangan ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau.
b. Fasilitas cuci tangan dilengakpi dengan sabun dan air mengalir dan
limbahnya dialirkan ke saluran pembuangan yang tertutup.
f. Binatang penular penyakit (vektor)
a. Pada los makanan siap saji dan bahan pangan harus bebas dari lalat,
kecoa dan tikus.
b. Pada area pasar angka kepadatan tikus harus nol.
c. Angka kepadatan kecoa maksimal 2 ekor per plate di titik pengukuran
sesuai dengan area pasar.
d. Angka kepadatan lalat di tempat sampah dan drainase maksimal 30 per
gril net.
g. Kualitas makanan dan bahan pangan
a. Tidak basi.
b. Tidak mengandung bahan berbahaya seperti pengawet borax, formalin,
pewarna tekstil yang berbahaya.
c. Tidak mengandung residu pestisida diatas ambang batas.

17

d. Makanan dalam kemasan tertutup dan disimpan dalam suhu rendah (410C), tidak kadaluwarsa, berlabel jelas.
e. Ikan, daging dan olahannya disimpan dalam suhu 0-4C, sayur, buah
dan minuman disimpan dalam suhu 10 C, telur, susu dan olahannya
disimpan dalam suhu 5-7 C.
f. Penyimanan bahan makanan harus ada jarak dengan lantai, dinding
dan langit-langit : jarak dengan lantai 15 cm, dengan dinding 5 cm,
dengan langit-langit 60 cm.
D. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
1. Pedagang dan Pekerja
a. Bagi pedagang karkas daging/unggas, ikan dan pemotong unggas
menggunakan alat pelindung diri sesuai dengan pekerjaanannya.
b. Berpola hidup bersih dan sehat (cuci tangan dengan sabun, tidak
merokok, mandi sebelum pulang terutama bagi pedagang dan
pemotong unggas, tidak buang sampah sebarangan, tidak meludah dan
membuang dahak sembarangan).
c. Pedagang makanan siap saji tidak sedang menderita penyakit menular
langsung, seperti: diare, hepatitis, TBC, kudis, ISPA, dan lain-lain.
2. Pengunjung
a. Berpola hidup bersih dan sehat, seperti: tidak buang sampah
sebarangan, tidak merokok, tidak meludah dan membuang dahak
sembarangan.
b. Cuci tangan dengan sabun terutama setalah memegang unggas/hewan
hidup, daging, ikan.
3. Pengelola
Mempunyai pengetahuan dan keterampilan di bidang hygiene sanitasi dan
keamanan pangan.
E. Keamanan
1. Pemadam kebakaran
a. Tersedia peralatan pemadam kebakaran yang cukup dan berfungsi serta
tidak kadaluwarsa.

18

b. Tersedia hidran air dengan jumlah cukup menurut ketentuan berlaku.


c. Letak peralatan pemadam kebakaran mudah dijangkau dan ada
petunjuk arah penyelamatan diri.
2. Keamanan
Tersedia pos keamanan dilengkapi dengan personil dan peralatannya.
F. Fasilitas Lain
1. Tempat sarana ibadah
a. Tersedia tempat ibadah dan tempat wudlu dengan lokasi yang mudah
dijangkau dengan sarana yang bersih dan tidak lembab.
b. Tersedia air bersih dengan jumlah dan kualitas yang cukup.
c. Ventilasi dan pencahayaan sesuai dengan persyaratan.
2. Tempat penjualan unggas hidup
a. Tersedia tempat khusus yang terpisah dari pasar utama.
b. Mempunyai akses masuk dan keluar kendaraan pengangkut unggas.
c. Kandang tempat penampungan sementara unggas terbuat dari bahan
yang kuat dan mudah dibersihkan.
d. Tersedia fasilitas pemotongan unggas umum yang memenuhi
persyaratan yang ditetapkan oleh Departemen Pertanian.
e. Tersedia sarana cuci tangan dilengkapi dengan sabun dan air besih.
f. Tersedia saluran pembuangan limbah cair khusus.
g. Tersedia penampungan sampah yang terpisah dari sampah pasar.
h. Tersedia peralatan desinfektan khusus untuk membersihkan kendaraan
pengangkut dan kandang unggas.

3. Pos pelayanan kesehatan


Tersedia pos pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau dan peralatan
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) yang memadai.
2.9 Potensi Penyakit di Pasar Tradisional serta Solusi Pencegahannya
Berikut adalah beberapa contoh penyakit yang dapat terjadi di pasar
tradisional.

19

1.

Diare
Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal ditandai
dengan peningkatan volume, keenceran serta frekuensi lebih dari 3 kali sehari
(Aziz, 2006). Di pasar tradisonal, sering sekali terjadi penularan penyakit
diare akibat makanan dan minuman yang dijual terkontaminasi bakteri
Escherichia Coli. Pengendalian penyakit diare yang terjadi di pasar
tradisional adalah:
a. Setiap pedagang di pasar tradisional harus mencuci tangan sebelum
mengolah bahan dagangan dan melayani konsumen.
b. Setiap pedagang makanan dan minuman di pasar tradisional harus
mencuci peralatan memasak dan dagangannya dengan air bersih.
c. Setiap penjual makanan dan minuman harus memasak bahan tersebut
dengan air matang, sehingga dalam makanan dan minuman tersebut tidak
mengandung bakteri Escherichia coli.
Parameter yang digunakan terkait penyakit diare adalah kadar bakteri
Escherichia Coli dan bakteri koliform. Untuk terbebas dari penyakit diare,
maka air yang dikonsumsi harus terbebas dari bakteri Escherichia Coli dan
tidak ditemukannya bakteri koliform dalam air tersebut (kadar Escherichia

Coli dan bakteri koliform harus nol).


2. Typus
Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada
saluran pencernaan (Mansjoer, 2000). Penyakit ini disebabkan oleh bakteri
Salmonella typhii. Kuman ini dapat hidup lama di air yang kotor dan makanan
tercemar. Penularan bakteri Salmonella typhii dapat melalui makanan, jari
tangan atau kuku, muntah, lalat, dan feses. Kuman tersebut dapat ditularkan
melalui perantara lalat Musca domestica, dimana lalat akan hinggap di
makanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat.
Pengendalian penyakit typus yang terjadi di pasar tradisional adalah:
a. Setiap pedagang makanan hendaknya membungkus makanan dan
minuman yang ia jual dengan kemasan tertutup atau menutup barang
dagangannya dengan tudung saji agar tidak dihinggapi lalat.
b. Setiap pedagang di pasar tradisional harus mencuci tangan sebelum
mengolah bahan dagangan dan melayani konsumen.

20

c. Setiap pedagang makanan dan minuman di pasar tradisional harus


mencuci peralatan memasak dan dagangannya dengan air bersih.
d. Setiap penjual makanan dan minuman harus memasak bahan tersebut
dengan air matang, sehingga dalam makanan dan minuman tersebut tidak
mengandung bakteri Salmonella typhii.
Parameter yang digunakan terkait penyakit typus adalah kadar bakteri
Salmonella typhii. Untuk terbebas dari penyakit typus, maka air yang
dikonsumsi harus terbebas dari bakteri Salmonella typhii (kadar Salmonella
typhii harus nol).
3. Demam berdarah
Demam berdarah adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue
dan ditularkan melalui perantara vektor nyamuk Aedes aegypti yang ditandai
dengan demam mendadak 2-7 hari.
Pengendalian penyakit demam berdarah yang terjadi di pasar tradisional
adalah:
a. Melakukan Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) pada setiap bak mandi di
pasar tradisional
b. Melakukan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk)
c. Melakukan 3M (Menimbun, Mengubur, dan Menguras)
d. Melakukakan fogging untuk membunuh vektor nyamuk
Parameter penyakit demam berdarah adalah adanya jentik nyamuk dan vektor
nyamuk Aedes aegypti. Untuk terbebas dari penyakit demam berdarah, maka
air dalam bak mandi harus bebas jentik dan terhindar dari vektor nyamuk
Aedes aegypti.
4. PES
Pes adalah penyakit yang disebabkan oleh Enterobacteria yersinia pestis
(Depkes, 1987). Penyakit pes biasanya dihasilkan dari gigitan kutu yang
terinfeksi (kutu tikus). Para kutu sering ditemukan pada hewan pengerat
seperti tikus. Penyakit ini dapat ditularkan dengan batuk atau bersin, serta
kontak fisik dengan korban wabah tikus atau kutu-bantalan yang membawa
wabah.
Pengendalian penyakit pes yang terjadi di pasar tradisional adalah:
a. Setiap pedagang di pasar tradisional hendaknya menyimpan semua
makanan atau bahan makanan dengan rapi di tempat yang bebas dari tikus.
b. Setiap pedagang di pasar tradisional hendaknya menampung sampah dan
sisa makanan di tempat sampah yang terbuat dari bahan yang kuat, kedap
air, mudah dibersihkan, tertutup rapi, dan terpelihara dengan baik. Tempat

21

sampah tersebut hendaknya diletakkan diatas fondasi beton atau semen,


rak atau tonggak. Sampah harus selalu diangkut secara rutin minimal
sekali sehari.
c. Setiap pedagang di pasar tradisional hendaknya meningkatkan sanitasi
tempat penyimpanan barang atau alat, sehingga tempat tersebut tidak dapat
dipergunakan tikus untuk berlindung atau bersarang.
Parameter yang digunakan terkait penyakit pes adalah adanya tikus yang
menularkan Enterobacteria yersinia pestis. Untuk terbebas dari penyakit PES,
maka angka kepadatan tikus pada area tersebut harus nol.
5. Flu Burung
Flu burung adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus
influenza yang ditularkan oleh unggas. Penularan virus flu burung dari unggas
ke manusia dapat terjadi ketika manusia kontak dengan kotoran unggas yang
terinfeksi flu burung, atau dengan permukaan atau benda-benda yang
terkontaminasi oleh kotoran unggas sakit yang mengandung virus H5N1.
Orang yang berisiko tinggi tertular flu burung adalah pekerja di peternakan
ayam, pemotong ayam, orang yang kontak dengan unggas hidup yang sakit
atau terinfeksi flu burung, serta orang yang menyentuh produk unggas yang
terinfeksi flu burung.
Pengendalian penyakit flu burung yang terjadi di pasar tradisional adalah:
a. Menghimbau pedagang atau pengunjung pasar tradisional yang terpaksa
kontak dengan itik/unggas dan atau produknya untuk selalu menggunakan
Alat Pelindung Diri (APD) seperti: masker, sarung tangan, kacamata,
sepatu booth.
b. Mengisolasi serta tidak memelihara itik/unggas yang terjangkit flu burung
bersama dengan ayam atau unggas lainnya berada dalam satu kandang.
c. Pihak pasar tradisional melaporkan bila menemukan itik/unggas yang sakit
atau mati mendadak ke Dinas Peternakan atau dinas yang bertanggung
jawab terhadap peternakan dan Puskesmas setempat.
d. Setiap penjual ayam di pasar tradisional hendaknya melaksanakan Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
e. Setiap pedagang ayam di pasar tradisional hendaknya memasak
itik/unggas dan atau produknya sampai benar-benar matang.
Parameter yang digunakan terkait flu burung adalah adanya kotoran unggas
yang mengandung virus H5N1. Untuk terbebas dari penyakit flu burung, maka

22

area tersebut harus terbebas dari kotoran unggas sakit yang mengandung virus
H5N1.
2.10 Potensi Kecelakaan di Pasar Tradisional serta Solusi Pencegahan
Kecelakaan yang mungkin terjadi di pasar tradisional adalah sebagai berikut.
1.

Kecelakaan pada koridor atau lorong


Karena kurang disiplinnya para pedagang, banyak koridor yang digunakan
untuk menggelar

dagangan sehingga

koridor menjadi

sempit

dan

memungkinkan terjadinya kecelakaan berupa terbentur atau bertabrakan.


Pengendalian terhadap kecelakaan pada koridor atau lorong yang terjadi di
pasar tradisional adalah: Menghimbau para pedagang untuk tidak menggelar
dagangannya di kordior, sehingga luas koridor tidak berkurang dan menjadi
sempit dan koridor menjadi cukup untuk berjalan dua orang berlawanan arah.
Parameter yang digunakan terkait kecelakaan pada koridor atau lorong adalah
lorong memiliki lebar kurang dari 1,5 meter.
2.

Terpeleset
Penataan ruang dagang tidak sesuai dengan jenis komoditinya dapat
memungkinkan terjadinya kecelakaan di pasar tradisional misalnya terpeleset
atau tergelincir.
Pengendalian terhadap kejadian terpeleset yang terjadi di pasar tradisional
adalah: Dilakukannya pengklasifikasian tempat sesuai dengan barang yang
dijual dan pemberian papan identitas agar mudah untuk dilihat, misal
pedagang bahan basah diberikan tempat yang berbeda dengan pedagang
bahan kering. Selain itu, sebaiknya dibuat lubang pembuangan air pada setiap
sisi pembatas dan dibuat lantai dari bahan yang kedap air, sehingga
permukaan lantai pasar rata, tidak licin, dan mudah dibersihkan.
Parameter yang digunakan terkait terpeleset adalah permukaan lantai tidak
rata, licin, retak, dan tidak mudah dibersihkan.

3.

Tebentur
Atap pasar yang terlalu pendek dan kemiringan atap yang tidak sesuai
memungkinkan pengunjung pasar untuk terbentur.

23

Pengendalian terhadap kejadian terbentur atau tertimpa atap yang terjadi di


pasar tradisional adalah: Membangun atap dengan ketinggian dan kemiringan
yang sesuai sehingga tidak memungkinkan pengunjung terbentur.
Parameter yang digunakan terkait terbentur atau tertimpa atap adalah:
Ketinggian dan kemiringan atap tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
4.

Jatuh dari tangga


Kebanyakan tangga di pasar tradisional hanya berupa tangga tanpa ada
pegangan tangan di kanan dan kirinya. Hal tersebut dapat mengakibatkan
pengunjung jatuh dari tangga.
Pengendalian terhadap kejadian jatuh dari tangga yang terjadi di pasar
tradisional adalah: pada saat pembuatan tangga, harus membangunnya dari
bahan yang kuat dan tidak licin serta memperhitungkan tinggi, lebar, dan
kemiringan anak tangga sesuai ketentuan yang berlaku.
Parameter yang digunakan terkait jatuh dari tangga adalah: Tangga terbuat
dari bahan yang tidak kuat dan licin, tinggi, lebar dan kemiringan anak
tangga tidak sesuai dengan ketentuan, tidak terdapat pegangan tangan di
kanan dan kiri tangga.

5.

Tersandung
Pencahayaan yang kurang akan mengakibatkan pengunjung jatuh atau
tersandung dan para pedagang dapat terkena pisau karena ruangan yang
terlalu gelap.
Pengendalian terhadap kejadian tersandung yang terjadi di pasar tradisional
adalah: dilakukan pemantauan rutin mengenai pencahayaan dan mengukur
pencahayaan secara berkala agar diketahui apakah terdapat lampu yang perlu
dibenahi, karena jika terdapat lampu yang rusak maka hal itu dapat
menyebabkan pencayahaan kurang.
Parameter yang digunakan terkait tersandung adalah: Intensitas pencahayaan
setiap ruangan kurang.

24

BAB III
METODE PELAKSANAAN
3.1 Jenis dan Rancangan Pelaksanaan Kegiatan
Berdasarkan sifat, kegiatan inspeksi sanitasi lingkungan di Pasar Tradisional
Pucang Anom ini adalah deskriptif, yaitu menggambarkan kondisi sanitasi Pasar
Tradisional Pucang Anom. Sedangkan menurut tempat, pelaksanaan kegiatan ini
termasuk observasi karena pengamat langsung turun ke lapangan yaitu tempat
tujuan inspeksi.
3.2 Lokasi dan Waktu Pelaksanaan
Lokasi kegiatan inspeksi dilakukan di Pasar Tradisional Pucang Anom Jalan
Pucang Anom Surabaya. Waktu pelaksanaan kegiatan inspeksi adalah hari Sabtu,
25 April 2015 pukul 06.30-11.00 WIB. Sedangkan waktu pelaksanaan wawancara
dengan pihak pengelola Pasar Pucang Anom adalah hari Senin, 27 April pukul
11.00 WIB.
3.3 Jadwal Pelaksanaan Kegiatan
Berikut adalah jadwal pelaksanaan kegiatan inspeksi sanitasi Pasar
Tradisional Pucang Anom yang kami lakukan.
Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Inspeksi Sanitasi Pasar Pucang Anom.

No

Bulan Maret
Minggu ke-

Kegiatan
I

1.

2.

3.

II

III

Bulan April
Minggu ke-

IV

Pengumpulan
alamat Pasar
Pucang
Anom
Pengajuan
Surat
Perijinan
Inspeksi
Sanitasi
Pasar ke
Fakultas
Memperoleh
surat
25

II

III

IV

Bulan Mei
Minggu keI

II

III

IV

4.

5.
6

Perijinan
Inspeksi
Sanitasi
Pasar dari
Fakultas
Pengumpulan
peraturanperaturan
terkait
sanitasi pasar
Perizinan ke
Pasar Pucang
Anom
Menyusun
makalah
(studi
literatur)
dengan topik
Penyakit dan
kecelakaan
yang dapat
terjadi di
Pasar Pucang
Anom
Mengumpul
kan makalah
(studil
iteratur)
dengan topik
Penyakit dan
kecelakaan
yang dapat
terjadi di
Pasar Pucang
Anom
Penyusunan
instrumen
inspeksi
sanitasi Pasar
Pucang
Anom
Mengumpul
kan
instrumen
inspeksi
sanitasi Pasar
Pucang
Anom
26

10
11

12

13

Inspeksi ke
Pasar Pucang
Anom
Penyusunan
laporan
inspeksi
sanitasi Pasar
Pucang
Anom
Pengumpulan
laporan
inspeksi
sanitasi Pasar
Pucang
Anom
Presentasi
hasil laporan
inspeksi
sanitasi Pasar
Pucang
Anom

3.4 Metode Penelitian


Metode penelitian yang digunakan dalam hal ini adalah observatif analitik
karena hanya melakukan observasi dan menganalisis hasil tanpa memberi
perlakuan apapun terhadap objek observasi.
3.5 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data inspeksi sanitasi pasar tradisional yang dilaksanakan di
Pasar Pucang Anom Surabaya dilakukan melalui pengumpulan data primer.
Metode yang digunakan untuk memperoleh data primer di Pasar Pucang Anom
adalah sebagai berikut.
1. Observasi
Pengamatan yang dilakukan terhadap Pasar Tradisional Pucang Anom
menggunakan lembar observasi sebagai instrumen inspeksi. Observasi juga
dilengkapi dengan kamera untuk mempublikasikan hal-hal apa saja yang
dianggap penting dalam kegiatan inspeksi tersebut.
2. Wawancara
27

Wawancara dilakukan secara langsung kepada pihak pengelola Pasar Pucang


Anom Surabaya.
3.6 Instrumen Observasi
Berikut adalah alat dan bahan yang dibutuhkan untuk mengambil data dalam
observasi Pasar Pucang Anom.
1. Alat :
a. Fly Gril
b. Meteran
c. Senter
d. Alat tulis
e. Kamera handphone
f. Turbidimeter
2. Bahan :
Instrumen penilaian sanitasi Pasar Tradisional Pucang Anom.
3.7 Pelaksanaan Observasi
Langkah-langkah yang dilakukan dalam observasi di Pasar Tradisional
Pucang Anom adalah sebagai berikut.
1.

Pengumpulan alamat Pasar Tradisional Pucang Anom.

2.

Pengajuan Surat Perijinan Inspeksi Sanitasi Pasar Pucang Anom ke Fakultas.

3.

Memperoleh surat Perijinan Inspeksi Sanitasi Pasar Pucang Anom dari


Fakultas.

4.

Pengumpulan peraturan -peraturan terkait sanitasi pasar tradisional.

5.

Perizinan ke Pasar Tradisional Pucang Anom.

6.

Menyusun makalah (studi literatur) dengan topik penyakit dan kecelakaan


yang dapat terjadi di Pasar Tradisional Pucang Anom.

7.

Mengumpulkan makalah (studil literatur) dengan topik penyakit dan


kecelakaan yang dapat terjadi di Pasar Tradisional Pucang Anom.

8.

Penyusunan instrumen inspeksi sanitasi Pasar Tradisional Pucang Anom.

9.

Mengumpulkan instrumen inspeksi sanitasi Pasar Tradisional Pucang Anom.

10. Melaksanakan kegiatan inspeksi sanitasi Pasar Tradisional Pucang Anom.

28

11. Penyusunan laporan inspeksi sanitasi Pasar Tradisional Pucang Anom.


12. Pengumpulan laporan inspeksi sanitasi Pasar Tradisional Pucang Anom.
13. Persentasi hasil laporan inspeksi sanitasi Pasar Tradisional Pucang Anom.
3.8 Petunjuk Penilaian
Penyusunan instrumen sanitasi Pasar Pucang Anom mengacu pada Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519/MENKES/SK/VI/2008
tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat dan Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 6 tahun 2014 tentang Pedoman
Pelaksanaan Program Adipura. Lembar observasi disusun dengan memasukkan
enam komponen utama dengan setiap komponen mempunyai bobot berbeda
sesuai prioritas pada sub-komponen. Sub-komponen memiliki jumlah 100 angka
yang menandakan kondisi sanitasi yang sempurna. Komponen dan sub-komponen
yang dimaksud yakni:
1. Lokasi (5)
2. Kontruksi Bangunan (20), terdiri atas beberapa variabel, yaitu:
a. Bangunan secara umum (0,5)
b. Penataan ruang dagang (3)
c. Ruang kantor pengelola (0,5)
d. Tempat Penjualan Bahan Pangan Basah (3)
e. Tempat Penjualan Bahan Pangan Kering (3)
f. Tempat Penjualan Makanan Jadi/Siap Saji (3)
g. Pedagang Kaki Lima (PKL) (2)
h. Area Parkir (1)
i. Ruang Terbuka Hijau (RTH) (1)
j. Konstruksi Atap (0,5)
k. Konstruksi Dinding (0,5)
l. Konstruksi Lantai (0,5)
m. Tangga (0,5)
n. Ventilasi (1)
3. Sanitasi (30), terdiri atas beberapa variabel, yaitu:

29

a. Air bersih (4)


b. Kamar mandi dan toilet (4)
c. Pengelolaan sampah (4)
d. Tempat cuci tangan (5)
e. Drainase (4)
f. Binatang penular penyakit/vektor (5)
g. Kualitas makanan dan bahan pangan (4)
4. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) (30), terdiri atas beberapa variabel,
yaitu:
a. Pedagang dan pekerja (15)
b. Pengunjung (10)
c. Pengelola (5)
5. Keamanan (5), terdiri atas beberapa variabel, yaitu:
a. Pemadam kebakaran (3)
b. Keamanan (2)
6. Fasilitas (10), terdiri atas beberapa variabel, yaitu:
a. Tempat ibadah (2)
b. Tempat penjualan unggas (5)
c. Tersedia pos pelayanan kesehatan dan P3K (3)
Bobot total sejumlah 100. Bobot dan nilai maksimal yang diberikan pada
masing-masing variabel di lembar observasi ditentukan atas kesepakatan bersama.
Bobot dan nilai maksimal setiap variabel didasarkan pada seberapa besar variabel
tersebut dapat menimbulkan masalah kesehatan. Berikut adalah cara pengisian
instrumen sanitasi Pasar Pucang Anom:
1. Mengisi nilai pada kolom nilai sesuai keadaan yang ditemui saat observasi.
2. Isi kolom skor variabel dengan cara mengkalikan antara nilai observasi
dengan bobot tiap variabel. Rumus skor variabel adalah sebagai berikut.
Skor variabel = Jumlah Nilai Observasi x Bobot tiap variabel.
3. Menjumlahkan seluruh skor yang telah dihitung.
4. Menentukan kategori sesuai dengan total skor penilaian.
5. Membuat kesimpulan dari hasil penilaian.

30

Adapaun cara untuk mengetahui kategori sanitasi Pasar Pucang Anom adalah
sebagai berikut.
1. Menentukan total nilai observasi atau total skor dengan cara menjumlahkan
seluruh skor observasi tiap variabel.
2. Menentukan kategori nilai sesuai dengan total skor berdasarkan ketentuan
berikut.
a. Apabila total skor 820 : Tidak memenuhi persyaratan Pasar Sehat.
b. Apbila total skor 821 1640 : Kurang memenuhi persyaratan Pasar Sehat.
c. Apabila total skor 1641 2460 : Cukup Memenuhi persyaratan Pasar
Sehat.
d. Apabila total skor 2461-3280 : Sudah Memenuhi persyaratan Pasar Sehat.
e. Apabila total skor 3281 : Sangat Memenuhi persyaratan Pasar Sehat.

31

BAB IV
HASIL INSPEKSI PASAR
4.1 Lokasi Pasar Pucang Anom
Lokasi Pasar Pucang Anom tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan dan
tidak terletak pada daerah bekas pembuangan akhir, sehingga aspek tersebut
mendapatkan nilai maksimal yaitu masing-masing 5.
Tabel 4.1 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait Lokasi

Variabel

Lokasi

Komponen yang
Dinilai

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

Tidak terletak pada


daerah
rawan
kecelakaan

25

Tidak terletak pada


daerah
bekas
pembuangan akhir

25

Bobot

4.2 Bangunan Pasar Pucang Anom


1. Bangunan Umum
Bangunan dan rancang bangun Pasar Pucang Anom sudah sesuai dengan
peraturan yang telah berlaku, sehingga mendapat nilai maksimal 7.
Tabel 4.2 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait Bangunan Umum.

32

Variabel
Umum

Bobot
0,5

Komponen yang
dinilai

Nilai
Maksim
al

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot
x Nilai
Observ
asi)

Bangunan dan rancang


bangun sesuai dengan
peraturan yang berlaku

2. Penataan Ruang Dagang


Pembagian area pada penataan ruang dagang sudah sesuai dengan
peruntukannya, tetapi ada sebagian kecil letak los yang tidak sesuai pada
peruntukannya, sehingga pada aspek tersebut memperoleh nilai 5. Di Pasar
Pucang Anom sudah ada pembagian zoning dengan diberi identitas yang
jelas, namun ada beberapa letak los yang tidak sesuai dengan pembagian
zoning, sehingga aspek tersebut mendapat nilai 5. Lebar lorong sudah
memenuhi syarat yaitu minimal 1,5 meter, sehingga mendapat nilai maksimal
6. Jarak tempat penampungan dan pemotongan unggas dengan bangunan
pasar utama belum memenuhi syarat karena sebagian besar tempat
pemotongan unggas tidak memiliki batasan tembok dengan bangunan pasar
utama, sehingga pada aspek tersebut hanya memperoleh nilai 2. Berdasarkan
wawancara dengan pihak pengelola pasar, Pasar Pucang Anom tidak menjual
pestisida dan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), sehingga aspek tersebut
tidak termasuk dalam penilaian kami.

Gambar 4.1 Identitas pembagian zoning untuk area unggas


Tabel 4.3 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait Penataan Ruang
Dagang.
33

Variabel

Penataan
Ruang
Dagang

Variabel

Penataan
Ruang
Dagang

Nilai
Maksimal

Nilai
ObserVasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

15

15

Lebar lorong antar los


minimal 1.5 meter

18

Bobot

Komponen yang
dinilai

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

Jarak
tempat
penampungan
dan
pemotongan
unggas
dengan bangunan pasar
utama minimal 10
meter atau dibatasi
tembok.
Pestisida dan bahan
berbahaya
beracun
terpisah dengan zona
makanan dan bahan
pangan.

Bobot

Komponen yang
dinilai
Pembagian area sesuai
dengan
jenis
komoditinya seperti :
basah,
kering,
penjualan
unggas
hidup,
pemotongan
unggas.
Pembagian
zoning
diberi identitas yang
lengkap dan jelas

3. Ruang Kantor Pengelola


Pada variabel ruang kantor pengelola, ventilasi di ruang kantor pengelola
belum memenuhi syarat, yaitu kurang dari 20% dari luas lantai kantor,
sehingga aspek tersebut hanya memperoleh nilai 3. Pada ruang kantor
pengelola sudah tersedia toilet, namun belum tersedia tempat cuci tangan
atau washtaffel, sehingga pada aspek tersebut diberi nilai 4.
Tabel 4.4 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait Ruang Kantor
Pengelola.

34

Variabel
Ruang
Kantor
Pengelola

Bobot

Komponen yang
dinilai

0,5

Ventilasi
minimal
20% dari luas lantai
Tersedia toilet dan
tempat cuci tangan

Nilai
MaksiMal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

1.5

4. Tempat Penjualan Bahan Pangan Basah


Meja tempat penjualan bahan pangan basah sudah terbuat dari bahan tahan
karat sehingga memperoleh nilai 6. Meja para pedagang bahan pangan basah
ada yang rata dan ada juga yang tidak rata, sehingga aspek tersebut
memperoleh nilai 4. Meja para pedagang tersebut pun ada yang
kemiringannya sesuai dan ada yang tidak sesuai, sehingga memperoleh nilai
4. Tinggi meja sudah memenuhi syarat yaitu 60 cm, maka memperoleh nilai
5. Karkas daging sudah digantung, maka mendapat nilai sempurna yaitu 6.
Kebanyakan pisau yang digunakan pedagang untuk memotong bahan mentah
tidak dibedakan tetapi tahan karat sehingga hanya mendapatkan nilai 4.
Hampir seluruh pedagang daging menggunakan telenan yang terbuat dari
kayu dan tidak kedap air sehingga dapat tumbuh jamur dan tidak mudah
dibersihkan, oleh karena itu memperoleh nilai 0. Di tempat penjualan
makanan basah, sebagian besar tidak menyediakan tempat untuk menyimpan
bahan pangan, namun ada beberapa pedagang yang menggunakan box
steroform untuk menyimpan bahan pangan, maka aspek tersebut memperoleh
nilai 2. Untuk tempat pencucian bahan pangan dan peralatan, sudah ada
pedagang yang menyediakan dan ada pedagang yang tidak menyediakan,
sehingga nilai observasinya mendapat nilai 6. Di penjualan bahan pangan
basah Pasar Pucang Anom tidak disediakan tempat pencuci tangan atau
washtaffel tetapi hanya berupa bak penampung air dan sabun, sehingga pada
aspek tersebut memperoleh nilai 0 dan 6. Disana terdapat saluran
pembuangan limbah, namun kondisinya tidak tertutup dan kemiringannya
tidak sesuai sehingga mengakibatkan aliran limbah tidak dapat menggalir,
oleh karena itu aspek tersebut memperoleh nilai 2. Selain itu, disana juga
tidak ditemukan tempat sampah yang memisahkan antara sampah basah dan

35

sampah kering, maka aspek tersebut memperoleh nilai 0. Tempat sampah


sudah terbuat dari bahan yang kedap air, maka memperoleh nilai 5. Disana
terdapat tempat sampah yang tertutup dan ada yang tidak tertutup, sehingga
memperoleh nilai 3. Tempat sampah tersebut tampak banyak lalat sehingga
tempat sampah tersebut tidak bebas dari vektor penyakit dan dapat menjadi
tempat perindukannya, oleh karena itu aspek tersebut memperoleh nilai 0.

Gambar 4.2 Meja tempat penjualan bahan pangan basah

Gambar 4.3 Telanan dan pisau yang digunakan untuk bahan pangan basah
Tabel 4.5 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait Tempat Penjualan
Bahan Pangan Basah.

36

Variabel

Tempat
Penjualan
Bahan
Pangan
Basah

Variabel

Tempat
Penjualan
Bahan
Pangan
Basah

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

6
5
5
5

6
4
4
5

18
12
12
15

18

12

Terdapat
tempat
untuk
pencucian
bahan pangan dan
peralatan

18

Bobot

Komponen yang
dinilai

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

6
7

6
0

18
0

6
6

2
2

6
6

Tersedia tempat cuci


tangan dengan :
a. Sabun
b. Air mengalir
Saluran pembuangan
limbah :
a. Tertutup
b. Kemiringan
sesuai ketentuan
Tempat sampah :
a. Terpisah (basah
dan kering)
b. Kedap air
c. Tertutup
Tempat
penjualan
bebas vektor penular
37
penyakit dan tempat
perindukannya

5
5

5
3

15
9

Bobot

Komponen yang
dinilai
a. Meja
tempat
penjualan :
1) Tahan karat
2) Rata
3) Kemiringan
4) Tinggi 60 cm
Karkas
daging
digantung
Pisau
untuk
memotong
bahan
mentah
harus
berbeda dan tidak
berkarat
Telenan tidak terbuat
dari kayu, tidak
beracun, kedap air
dan
mudah
dibersihkan
Tersedia
tempat
penyimpanan bahan
pangan

5. Tempat Penjualan Bahan Pangan Kering


Pada tempat penjualan kering, meja penjualan memiliki permukaan yang
rata, sehingga memperoleh nilai 7. Meja memiliki tinggi lebih dari 60 cm,
sehingga memperoleh nilai 5. Meja tidak mudah dibersihkan maka mendapat
nilai 3. Meja terbuat dari bahan yang mudah berkarat, sehingga memperoleh
nilai 4. Selain itu, pedagang bahan pangan kering ada yang menggunakan
meja dari bahan kayu dan ada yang menggunakan etalase, maka pada aspek
tersebut memperoleh nilai 4. Tempat sampah di area penjualan bahan pangan
kering tidak dipisahkan antara basah dan kering, sehingga memperoleh nilai
0. Kebanyakan para penjual hanya menggunakan tempat yang dilapisi oleh
plastik kedap air dan tertutup, sehingga memperoleh nilai masing-masing 3.
Disana tidak terdapat tempat cuci tangan yang dilengkapi oleh sabun dan air
mengalir, maka memperoleh nilai 0. Pada tempat penjualan bahan pangan
kering, jarang ditemukan adanya lalat atau vektor penyakit lainnya, sehingga
pada aspek tersebut memperoleh nilai 6.

Gambar 4.4 Tempat penjualan bahan pangan kering


Tabel 4.6 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait Tempat Penjualan
Bahan Pangan Kering

Variabel

Bobot

Tempat
Penjualan
Bahan
Pangan
Kering

Komponen yang
dinilai
Meja tempat penjualan:
a. Permukaannya
rata
b. Tinggi minimal 60
cm
38

Nilai
Maksi
mal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x Nilai
Observasi)

21

15

Variabel

Bobot

Komponen yang
dinilai
c. Mudah
dibersihkan
d. Bahan tahan karat
e. Bukan dari kayu
Tempat sampah :
1) Terpisah basah
dan kering
2) Kedap air
3) Bertutup
Tempat cuci tangan
dilengkapi dengan :
1) Sabun
2) Air mengalir
Tempat
penjualan
bebas vektor penyakit
dan
tempat
perindukannya

Nilai
Maksi
mal
5

Skor
(Bobot x Nilai
Observasi)
9

8
8

4
4

12
12

5
5

3
3

9
9

6
7

0
0

0
0

18

Nilai
Observasi

6. Tempat Penjualan Makanan Jadi/Siap Saji


Tempat penyajian makanan jadi/siap saji ada yang tertutup dan ada yang
tidak tertutup, sehingga aspek tersebut memperoleh nilai 5. Permukaan meja
tempat penyajian sudah rata, maka mendapat nilai 5. Tingginya sudah
memenuhi persyaratan yaitu 60 cm, maka mendapat nilai 5. Meja mudah
dibersihkan dan terbuat dari bahan tahan karat, sehingga memperoleh nilai
masing-masing 5. Tempat pencucian peralatan tidak kuat, tidak aman, tidak
berkarat dan mudah untuk dibersihkan, sehingga pada aspek tersebut
memperoleh nilai 2,2,5,dan 5. Di tempat penjulan makanan jadi/siap saji
disediakan tempat mencuci tangan dilengkapi dengan sabun tetapi airnya
tidak menggalir, sehingga pada aspek tersebut memperoleh nilai 6 dan 0.
Disana tempat sampah tidak dibedakan antara sampah kering dengan sampah
basah, maka nilainya adalah 0. Tempat sampah tersebut sudah cukup kedap
air dan bertutup, maka mendapat nilai 6 dan 4. Saluran pembuangan limbah
tidak tertutup dan alirannya kurang lancar, sehingga aspek tersebut

39

memperoleh nilai 0 dan 3. Selain itu, tempat penjualan tersebut ditemukan


banyak vektor penular penyakit sehingga pada aspek tersebut mendapat nilai
0.

Gambar 4.5 Tempat penjualan makanan jadi/siap saji

40

Tabel 4.7 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait Tempat Penjualan
Makanan Jadi / Siap Saji.

Variabel

Tempat
Penjualan
Makanan
Jadi/Siap
Saji

Bobot

Komponen yang Dinilai

Tempat penyajian makanan


a. Tertutup
b. Permukaan rata
c. Tinggi minimal 60 cm
d. Mudah dibersihkan
e. Bahan tahan karat
Tempat pencucian peralatan :
a. Kuat
b. Aman
c. Tidak berkarat
d. Mudah dibersihkan
Tempat
cuci
tangan
dilengkapi dengan :
a. Sabun
b. Air mengalir
Tempat sampah :
a. Terpisah basah dan kering
b. Kedap air
c. Tertutup
Saluran pembuangan limbah :
a. Tertutup
b. Aliran Lancar
Tempat
penjualan
bebas
vektor penular penyakit dan
tempat perindukannya

Nilai
Mak
simal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observas
i)

8
5
5
5
5

5
5
5
5
5

15
15
15
15
15

6
5
5
6

2
2
5
5

6
6
15
15

6
7

6
0

18
0

7
7
8

0
6
4

0
18
12

7
7

0
3

0
9

7. Pedagang Kaki Lima (PKL)


Lapak pedagang kaki lima pada area Pasar Pucang Anom tidak tertata rapi,
mengganggu lalu lintas dan pejalan kaki, dan tidak ditempatkan pada area
khusus, sehingga aspek tersebut mendapat nilai 3. Pada area PKL, masih banyak
terdapat sampah yang berserakan, sehingga aspek tersebut mendapat nilai 3.
Selain itu, disana sudah terdapat tempat sampah yang cukup rapi, tidak
bertumpuk, dan berserakan, sehingga aspek tersebut mendapat nilai 6.

41

Tabel 4.8 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait Pedagang Kaki
Lima (PKL).

Variabel

Pedagang
Kaki
Lima
(PKL)

Bobot

Komponen yang
dinilai

Nilai
Maksimal

Nilai
ObserVasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

12

Lapak tertata rapi,


tidak mengganggu lalu
lintas dan pejalan kaki
serta ditempatkan pada
area khusus
Tidak ada sampah di
area PKL
Tempat sampah tidak
bertumpuk
dan
berserakan di area PKL

8. Area Parkir
Pada area parkir Pasar Pucang Anom, sudah ada pemisahan wilayah parkir
dengan pasar yang sudah cukup jelas, sehingga memperoleh nilai 6. Parkir
sudah terpisah berdasarkan jenis alat angkut seperti mobil, motor, sepeda, dan
becak, maka mendapat nilai 7. Di Pasar Pucang Anom sudah ada area parkir
khusus untuk pengangkut hewan yaitu di sebelah tempat penjualan unggas,
namun

masih

ada

motor

pengangkut

unggas

yang

memarkirkan

kendaraannya di depan pintu masuk pasar, sehingga pada aspek tersebut


memperoleh nilai 7. Pada area parkir tidak ada tempat khusus untuk bongkar
muat barang. Kendaraan bongkar muat barang parkir di tempat yang sama
dengan parkir pengunjung, sehingga pada aspek tersebut memperoleh nilai 3.
Di sekitar area parkir terdapat tempat sampah setiap radius 10 meter, namun
tempat sampah tersebut belum ada pemisahan sampah kering dengan sampah
basah, sehingga pada aspek tersebut mendapat nilai 5. Lahan parkir cukup
rata sehingga tidak ditemukan adanya genangan air, maka mendapatnilai 8.
Salah satu yang menjadi masalah di area parkir tidak adanya tanda masuk dan
keluar kendaraan secara jelas sehingga banyak pengendara motor yang keluar
dari area pasar melalui jalur masuk begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu,

42

aspek tersebut mendapat nilai 0. Di sekitar area parkir sudah terdapat


tanaman hijau sebagai area resapan air di pelataran parkir, maka aspek
tersebut memperoleh nilai 4 dan 5.

Gambar 4.6 Area parkir sepeda Pasar Pucang Anom

Gambar 4.7 Area parkir mobil Pasar Pucang Anom


Tabel 4.9 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait Area Parkir.
Variabel

Area
Parkir

Bobot

Komponen yang
Dinilai
Ada pemisahan yang
jelas dengan wilayah
Pasar
Tersedia parkir yang
terpisah
berdasarkan
jenis
alat
angkut,
seperti: mobil, motor,
sepeda, andong/delman
dan becak

43

Skor
Nilai
Nilai
(Bobot x
Maksimal Observasi
Nilai)
6

Variabel

Area
Parkir

Bobot

Komponen yang
Dinilai

Tersedia area parkir


khusus
untuk
pengangkut hewan
Tersedia area khusus
bongkar muat barang
Tersedia
tempat
sampah yang terpisah
antara sampah kering
dan basah minimal
setiap radius 10 m
Tidak ada genangan air
Ada tanda masuk dan
keluar
kendaraan
secara
jelas,
yang
berbeda antara jalur
masuk dan keluar
Adanya
tanaman
penghijauan
Adanya area resapan
air di pelataran parkir

Skor
Nilai
Nilai
(Bobot x
Maksimal Observasi
Nilai)
7

9. Ruang Terbuka Hijau (RTH)


Pada area Pasar Pucang Anom sudah banyak ditemukan pohon peneduh,
sehingga aspek tersebut mendapat nilai 5. Namun, pohon-pohon peneduh
tersebut kurang memenuhi fungsi peneduh, sehingga aspek tersebut mendapat
nilai 5. Selain itu, pohon tersebut kurang memenuhi fungsi penghijauan di sekitar
tiga perempat lokasi (75%), sehingga aspek tersebut mendapat nilai 4.
Tabel 4.10 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait Tempat Ruang
Terbuka Hijau (RTH).

Variabel

Bobot

Komponen yang
dinilai

Nilai
Maksimal

Ruang
Terbuka
Hijau
(RTH)

Ada pohon peneduh di


seluruh lokasi pasar

44

Nilai
ObserVasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

Variabel

Variabel

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)
Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

Bobot

Komponen yang
dinilai

Nilai
Maksimal

Nilai
ObserVasi

Bobot

Komponen yang
dinilai

Nilai
Maksimal

Nilai
ObserVasi

Pohon
peneduh
memenuhi
fungsi
peneduh di seluruh
lokasi
Terdapat penghijauan
yang memenuhi fungsi
penghijauan di sekitar
tiga perempat lokasi
(75%)

Ruang
Terbuka
Hijau
(RTH)

10. Konstruksi Atap


Atap Pasar Pucang Anom terbuat dari seng sehingga kurang kuat, maka
mendapat nilai 5. Selain itu, pada atap banyak yang berlubang sehingga
memungkinkan terjadinya kebocoran, oleh karena itu memperoleh nilai 4.
Namun berdasarkan pengamatan kami, atap tidak menjadi tempat
berkembang biaknya binatang penular penyakit, sehingga aspek tersebut
mendapat nilai 6. Kemiringan atap sudah cukup sesuai dan tidak
memungkinkan adanya genangan air, maka memperoleh nilai 7. Atap pasar
sudah memiliki ketinggian lebih dari 10 meter dan sudah dilengkapi dengan
alat penangkal petir, sehingga aspek tersebut memperoleh nilai masingmasing 7.

Gambar 4.8 Konstruksi Atap Pasar Pucang Anom terbuat dari seng

45

Gambar 4.9 Konstruksi Atap Pasar Pucang Anom terlihat ada yang berlubang
Tabel 4.11 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait Konstruksi Atap
Variabel

Konstruk
si Atap

Bobot

Komponen yang
Dinilai

0,5

Atap
a. Kuat
b. Tidak bocor
c. Tidak
menjadi
tempat
berkembangbiaknya
binatang
penular
penyakit
Kemiringan atap cukup
dan
tidak
memungkinkan
genangan air
Atap dengan ketinggian
lebih
10
meter
dilengkapi penangkal
petir

Skor
Nilai
Nilai
(Bobot x
Maksimal Observasi
Nilai)
7
7

5
4

2.5
2

3.5

3.5

11. Konstruksi Dinding


Keadaan dinding Pasar Pucang Anom banyak yang sudah kusam dan kotor,
sehingga memperoleh nilai 3. Selain itu dinding juga terlihat cukup lembab
sehingga memperoleh nilai 5. Mayoritas dinding pasar sudah dicat dengan
warna terang seperti putih dan kuning, namun ada juga dinding yang
berwarna gelap, oleh karena itu aspek tersebut memperoleh nilai 5.

46

Gambar 4.10 Konstruksi Dinding Pasar Pucang Anom


Tabel 4.12 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait Konstruksi
Dinding
Variabel
Konstruk
si
Dinding

Komponen yang
Dinilai

Bobot

0,5

Keadaan dinding:
a. Bersih
b. Tidak Lembab
c. Berwarna Terang

Skor
Nilai
Nilai
(Bobot x
Maksimal Observasi
Nilai)
6
6
6

3
5
5

1.5
2.5
2.5

12. Konstruksi Lantai


Lantai Pasar Pucang Anom masih ada yang beralaskan tanah dan ada yang
terbuat dari keramik. Lantai pasar mayoritas beralaskan tanah, sehingga tidak
kedap air, oleh karena itu aspek tersebut memperoleh nilai 4. Selain itu lantai
juga kurang rata, sehingga memperoleh nilai 4, lantai pasar cukup licin maka
memperoleh nilai 5, lantai pasar yang terbuat dari keramik ada yang retak
maka memperoleh nilai 4, dan lantai pasar cukup susah dibersihkan maka
memperoleh nilai 5. Lantai yang selalu terkena air seperti kamar mandi,
tempat cuci dan sejenisnya sudah memiliki kemiringan yang baik ke arah
saluran pembuangan air sehingga memperoleh nilai 6.

47

Gambar 4.11 Konstruksi Lantai Pasar Pucang Anom yang masih beralaskan tanah

Gambar 4.12 Konstruksi Lantai Pasar Pucang Anom yang terbuat dari keramik
Tabel 4.13 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait Konstruksi
Lantai.
Variabel

Bobot

Konstruk
si Lantai

0,5

Konstruk
si Lantai

0,5

Komponen yang
Dinilai
Konstruksi Lantai:
a. Kedap air
b. Rata
c. Tidak Licin
d. Tidak Retak
e. Mudah dibersihkan
Lantai yang selalu
terkena air, mempunyai
kemiringan ke arah
saluran
dan
pembuangan air.
48

Skor
Nilai
Nilai
(Bobot x
Maksimal Observasi
Nilai)
7
7
7
7
7

4
4
5
4
5

2
2
2.5
2
2.5

13. Tangga
Pada Pasar Pucang Anom terdapat dua jenis tangga, yang pertama, tangga
yang terletak di pintu depan Pasar Pucang Anom terbuat dari plat bordes dan
yang kedua, tangga yang terletak pada beberapa sudut pasar terbuat dari
beton. Rata-rata tangga Pasar Pucang Anom sudah memiliki tinggi, lebar,
dan kemiringan yang sesuai dengan peraturan yang berlaku, sehingga
memperoleh nilai 7. Tangga juga sudah memiliki pegangan tangan yang kuat
maka memperoleh nilai 7. Kondisi tangga yang terbuat dari plat bordes
dirasa kurang kuat, karena banyak lubang, sedangkan tangga yang terbuat
dari beton sudah dirasa kuat dan tidak licin, sehingga aspek tersebut
memperoleh nilai 4.

Gambar 4.13 Tangga yang terbuat dari plat bordes

Gambar 4.14 Tangga yang terbuat beton

49

Tabel 4.14 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait Tangga.
Variabel

Bobot

Komponen yang
Dinilai

0,5

Tinggi, lebar,
kemiringan sesuai
dengan ketentuan yang
berlaku
Terdapat pegangan
tangan
Kuat dan tidak licin.

Tangga

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot
x Nilai)

3.5

3.5

14. Ventilasi
Berdasarkan pengamatan kami, seluruh kios di Pasar Pucang Anom tidak
memiliki ventilasi karena Pasar Pucang Anom merupakan ruangan terbuka
yang memungkinkan sirkulasi udara yang cukup lancar, sehingga aspek
ventilasi memperoleh nilai 0.

Gambar 4.15 Kios perhiasaan di Pasar Pucang Anom yang tidak memiliki
ventilasi
Tabel 4.15 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait Ventilasi.
Variabel

Ventilasi

Bobot

Komponen yang
Dinilai

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot
x Nilai)

Memenuhi
syarat
minimal 20% dari
luas lantai dan saling
berhadapan

4.3 Sanitasi Pasar Pucang Anom


50

1.

Air Bersih
Air bersih yang dimiliki para pedagang sudah cukup yaitu 40 liter tiap
pedagang, sehingga aspek tersebut memperoleh nilai 7. Persediaan air bersih
yang ada di Pasar Pucang Anom sudah cukup memenuhi syarat kebersihan,
sehingga memperoleh nilai 6. Berikut adalah dengan hasil uji laboratorium
dua air kamar mandi yang ada di Pasar Pucang Anom.
a. Kamar mandi 1 (lokasi depan pasar)
1) Uji 1
a) PH
: 7,57
b) EC
: 842
c) ORP
: 95,9
d) Temperatur : 27,6
2) Uji 2
a) DO
: 78,6
b) Temperatur : 28,2
3) Uji 3
a) Kekeruhan : 0,5
b. Kamar mandi 2 (lokasi dalam pasar)
1) Uji 1
a) PH
: 7,78
b) EC
: 393
c) ORP
: 123,5
d) Temperatur : 27,6
2) Uji 2
a) DO
: 79,0
b) Temperatur : 28,3
3) Uji 3
a) Kekeruhan : 0,7
Jarak antara sumber air bersih dengan septic tank kurang dari 10 meter dan
dapat menyebabkan pencemaran sumber air, sehingga aspek tersebut
memperoleh nilai 4. Selain itu pengujian air bersih tidak pernah dilakukan
sehingga aspek tersebut memperoleh nilai 0.

Gambar 4.16 Uji Pertama Air Kamar Mandi 2


51

Gambar 4.17 Uji Kedua Air Kamar Mandi 2

Gambar 4.18 Uji Ketiga Air Kamar Mandi 3


Tabel 4.16 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait Air Bersih
Variabel

Air Bersih

2.

Bobot

Komponen yang
dinilai

a. Air bersih tersedia


dalam
jumlah
cukup
(minimal
40L/ pedagang)
b. Kualitas air bersih
memenuhi syarat
kebersihan
c. Jarak sumber air
bersih
dengan
septic
tank
minimal 10 meter
d. Pengujian
air
bersih dilakukan 6
bulan sekali

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

28

24

16

Kamar Mandi dan Toilet


Kamar mandi dan toilet di Pasar Pucang Anom tidak dipisah antara toilet
laki-laki dan perempuan, sehingga aspek tersebut memperoleh nilai 0.
Jumlah kamar mandi yang terdapat di lingkungan Pasar Pucang Anom sudah
cukup yaitu ada dua, di depan pasar dan di dalam pasar, sehingga
memperoleh nilai 5. Dalam kamar mandi tersedia bak dan air bersih dengan

52

jumlah yang cukup, kamar mandi yang ada di depan pasar sudah bebas
jentik, namun kamar mandi yang ada di dalam pasar masih ditemukan
adanya jentik, sehingga aspek tersebut kami beri nilai 5. Kemiringan lantai
sudah cukup baik dan kedap air, namun kondisi lantainya agak licin
sehingga dapat membahayakan pengguna, oleh karena itu memperoleh nilai
4. Toiletnya sudah menerapkan model leher angsa, sehingga memperoleh
nilai 5. Disana tidak tersedia tempat sampah yang tertutup, sehingga
memperoleh nilai 0. Letak kamar mandi ini kurang dari 10 meter dari tempat
penjualan makanan, sehingga memperoleh nilai 2. Ventilasinya juga sudah
memenuhi standar minimal yaitu 20 % dari luas lantai, sehingga
memperoleh nilai 6.

Gambar 4.19 Kamar Mandi yang Terletak di Depan Pasar Pucang Anom

Gambar 4.20 Kamar Mandi yang Terletak di Dalam Pasar Pucang Anom
53

Tabel 4.17 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait Kamar Mandi.
Variabel

Kamar
Mandi
dan
Toilet

3.

Bobot

Komponen yang
dinilai

a. Toilet laki-laki dan


perempuan:
1) Terpisah
2) Jumlah cukup
b. Tersedia bak dan air
bersih dengan jumlah
cukup dan bebas
jentik
c. Lantai kedap air,
tidak licin, mudah
dibersihkan
dan
kemiringan cukup
d. Toilet dengan leher
angsa
e. Tersedia
tempat
sampah yang tertutup
f. Letak toilet minimal
10 meter dari tempat
penjualan makanan
g. Ventilasi
minimal
20% dari luas lantai

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

6
6

0
5

0
20

20

16

20

7
7

0
2

0
8

24

Pengelolaan Sampah
Ketersediaan tempat sampah di setiap lorong masih kurang dan tidak
dipisahkan antara sampah basah dan sampah kering, sehingga memperoleh
nilai 3. Tempat sampah tidak terbuat dari bahan kedap air, tidak mudah
berkarat, cukup kuat, terbuka, dan cukup mudah dibersihkan. Aspek tersebut
masing-masing memperoleh nilai 2,4,5,2, dan 3. Alat pengangkut sampah
cukup kuat dan mudah dibersihkan, sehingga memperoleh nilai 4 dan 3.
Tempat pembuangan sampah sementara (TPS) terletak di belakang pasar,
terbuat dari bahan yang kurang kuat, tidak kedap air, kurang mudah
dibersihkan, dan cukup mudah dijangkau, sehingga aspek tersebut
memperoleh nilai 3,2,4, dan 5. Lokasi TPS tidak berada di jalur utama pasar,
sehingga memperoleh nilai 6. Pada TPS ditemukan banyak lalat dan dapat
menjadi tempat perindukan vektor penyakit, oleh karena itu aspek tersebut
memperoleh nilai 0. Proses pengangkutan sampah dari pasar ke tempat
54

pembuangan sampah sementara minimal 2 kali sehari, sedangkan


pengangkutan sampah dari tempat pembuangan sampah sementara diangkut
minimal 1x24 jam, sehingga memperoleh nilai 5.

Gambar 4.21 Tempat sampah yang ada di Pasar Pucang Anom

Gambar 4.22 TPS yang terletak di belakang Pasar Pucang Anom


Tabel 4.18 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait Pengelolaan
Sampah.

Variabel

Bobot

Komponen yang dinilai

Pengelola
an
Sampah

a. Tersedianya
tempat
sampah
basah
dan
kering di tiap lorong
b. Tempat sampah terbuat
dari :
1) Bahan kedap air
2) Tidak
mudah
berkarat
3) Kuat
4) Tertutup

55

Nilai
Maks
7

Skor
Nilai
(Bobot x
ObservaNilai
si
Observas
i)
3
12

7
6

2
4

8
16

6
7

5
2

20
8

Variabel

Bobot

c.

d.

e.

f.
g.

4.

Nilai
Maks

Komponen yang dinilai


5) Mudah dibersihkan
Tersedia
alat
pengangkut sampah:
1) Kuat
2) Mudah dibersihkan
Tersedia
tempat
pembuangan
sampah
sementara:
1) Kuat
2) Kedap air
3) Mudah dibersihkan
4) Mudah dijangkau
Lokasi
TPS
tidak
berada di jalur utama
pasar (minimal 10 m
dari bangunan pasar)
TPS tidak menjadi
tempat
perindukan
vektor penyakit
Sampah
diangkut
minimal 1x24 jam

Skor
Nilai
(Bobot x
ObservaNilai
si
Observas
i)
3
12

7
7

4
3

16
12

6
7
7
7

3
2
4
5

12
8
16
20

24

20

Tempat Cuci Tangan


Di Pasar Pucang Anom tidak tersedia tempat cuci tangan, sehingga seluruh
aspek dalam variabel tempat cuci tangan memperoleh nilai 0.

Tabel 4.19 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait Tempat Cuci
Tangan.
Variabel

Tempat
Cuci
Tangan

Bobot

Komponen yang
dinilai

a. Lokasi
mudah
dijangkau
b. Dilengkapi dengan
sabun
c. Tersedia
air
mengalir

56

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)
0

5.

Drainase
Selokan/drainase sekitar pasar sebagian besar tertutup dengan kisi yg terbuat

dari logam sehingga cukup mudah dibersihkan, sehingga memperoleh nilai 4.


Limbah cair yang berasal dari setiap kios disalurkan ke instalasi pengolahan air
limbah (IPAL), sehingga memperoleh nilai 7. Kemiringan saluran drainase
memiliki kurang sesuai dengan ketentuan yg berlaku sehingga masih banyak
genangan air, sehingga memperoleh nilai 5. Tidak ada bangunan los/kios diatas
saluran drainase, sehingga memperolah nilai 8. Pada area pasar, tidak pernah
dilakukan pengujian kualitas air limbah cair secara berkala setiap 6 bulan sekali,
sehingga aspek tersebut mendapat nilai 0.
Tabel 4.20 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait Tempat Drainase.

Variabel

Drainase

6.

Bobot

Komponen yang
dinilai

Selokan/drainase
sekitar pasar tertutup
dengan kisi yang
terbuat dari logam
sehingga mudah
dibersihkan
Limbah cair yg berasal
dari
setiap
kios
disalurkan ke instalasi
pengolahan air limbah
(IPAL)
Saluran
drainase
memiliki kemiringan
sesuai
dengan
ketentuan yang berlaku
Tidak ada bangunan
los/kios di atas saluran
drainase
Dilakukan pengujian
kualitas air limbah cair
secara berkala setiap 6
bulan sekali

Binatang Penular Penyakit (Vektor)

57

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

16

28

32

32

Di Pasar Pucang Anom tidak bebas dari vektor karena disana masih
dijumpai hewan penular penyakit seperti tikus, kecoa, dan lalat, sehingga
aspek tersebut memperoleh nilai 2. Angka kepadatan tikus tidak nol, karena
masih terdapat tikus di beberapa area pasar namun tidak begitu banyak,
sehingga aspek tersebut memperoleh nilai 0. Los makanan siap saji dan
bahan pangan masih belum terbebas dari lalat. Berdasarkan uji kepadatan
lalat menggunakan Fly Gril diperoleh hasil yaitu 2 ekor lalat tiap 30 detik,
sehingga aspek tersebut memperoleh nilai 4. Disana masih terdapat kecoa
namun jumlahnya sangat sedikit, sehingga aspek tersebut memperoleh nilai
4. Selain itu, pada area pasar masih ditemukan adanya binatang pengganggu
seperti kucing, sehingga aspek tersebut memperoleh nilai 3.

Gambar 4.23 Penggunaan Fly gril untuk menghitung angka kepadatan lalat
Tabel 4.21 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait Tempat Cuci
Tangan.

Variabel

Bobot

Binatang
Penular
Penyakit
(Vektor)

Komponen yang
dinilai
a. Terbebasnya
los
makanan siap saji
dan bahan pangan
dari tikus, lalat dan
kecoa
b. Angka
kepadatan
tikus harus nol
c. Angka
kepadatan
lalat maksimal 30
per gril net di tempat
sampah dan drainage
d. Angka
kepadatan
58

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observas
i)
10

20

Variabel

Bobot

Komponen yang
dinilai

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observas
i)
20

15

kecoa maksimal 2
ekor per plate di titik
pengukuran sesuai
dengan area pasar.
e. Tidak
terdapat
binatang
pengganggu
7. Kualitas Makanan dan Bahan Pangan

Berdasarkan hasil inspeksi kami dan hasil wawancara dengan pengelola


pasar, kualitas bahan makanan dan bahan pangan yang dihasilkan memiliki
kualitas yang baik dan tidak basi, sehingga aspek tersebut memperoleh nilai
7. Berdasarkan pemeriksaan yang pernah dilakukan, makanan maupun
bahan makanan yang dijual di Pasar Pucang Anom terbebas dari pewarna
tekstil, formalin, boraks, sehingga aspek tersebut mendapat nilai 7. Selain itu
makanan dan bahan makanan disana pun tidak mengandug residu pestisida
maka memperoleh nilai 7. Penyimpanan ikan dan daging masih belum
memenuhi syarat, karena masih banyak ditemukan ikan dan daging yang
dibiarkan terbuka dan sebagian diberi es batu, namun ada juga beberapa
pedagang yang sudah menyimpan dalam freezer, oleh karena itu aspek
tersebut memperoleh nilai 3. Penyimpanan bahan makanan cukup jauh dari
permukaan lantai, sehingga mendapat nilai 6.

Gambar 4.24 Penjual ayam di Pasar Pucang Anom

59

Gambar 4.25 Penjual daging di Pasar Pucang Anom

Tabel 4.22 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait Tempat Cuci
Tangan.

Variabel

Kualitas
Makanan
dan
Bahan
Pangan

Bobot

Komponen yang dinilai

a. Makanan dan bahan


pangan tidak basi
b. Bahan pangan tidak
mengandung
bahan
berbahaya
seperti
boraks, formalin dan
pewarna tekstil
c. Makanan dan bahan
pangan
tidak
mengandung
residu
pestisida.
d. Ikan
dan
daging
disimpan dalam suhu 04o C
e. Penyimpanan
bahan
makanan dengan jarak
15cm dari lantai, 5 cm
dari dinding, dan 60 cm
dari langit-langit

Nilai
Maksi
mal

Nilai
Obser
Vasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observa
si)
28

28

28

12

24

4.4 PHBS Pengelola, Pedagang dan Pengunjung Pasar Pucang Anom


1.

PHBS Pedagang dan Pekerja


Pedagang masih banyak yang tidak menggunakan Alat Pelindung Diri
(APD), namun ada beberapa pedagang yang menggunakan apron, terutama
pada pedagang bahan pangan basah, oleh karena itu mendapat nilai 3. Para
pedagang memiliki bak penampung air dan sabun untuk mencuci tangan,
60

namun mereka tidak mencuci tangan pada air yang mengalir, sehingga aspek
tersebut memperoleh nilai 4. Ada beberapa pedagang yang merokok sehingga
memperoleh

nilai

5.

Banyak

pedagang

yang

membuang

sampah

sembarangan, sehingga memperoleh nilai 2. Selain itu,ada juga yang meludah


sembarangan, sehingga memperoleh nilai 5. Karena PHBS yang tergolong
kurang baik, maka beberapa pedagang ada yang mengalami penyakit seperti
flu, batuk sehingga aspek tersebut memperoleh nilai 5.
Tabel 4.23 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait PHBS Pedagang
dan Pekerja

Variabel

PHBS
Pedagang
dan
pekerja

2.

Bobot

Komponen yang
Dinilai

15

Pedagang dan pekerja


menggunakan
alat
pelindung diri dalam
bekerja
Pedagang berperilaku
hidup bersih dan sehat
dengan :
a. Mencuci
tangan
dengan sabun dan
air mengalir
b. Tidak merokok
c. Tidak membuang
sampah
sembarangan
d. Tidak
meludah
sembarangan
Pedagang
tidak
menderita
penyakit
menular

Nilai
Maks

Nilai
Observ
asi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

45

60

8
8

5
2

75
30

75

75

PHBS Pengunjung
PHBS pengunjung masih belum diterapkan dengan baik karena tidak
ditemukan pengunjung yang mencuci tangan dengan sabun sesudah
memegang unggas, daging, atau ikan, sehingga aspek tersebut memperoleh
nilai 0. Selain itu, masih banyak pengunjung yang merokok, sehingga
memperoleh nilai 2. Ada sebagian pengunjung yang membuang sampah

61

sembarangan dan meludah sembarangan di kawasan pasar Pucang Anom,


sehingga aspek tersebut memperoleh nilai masing-masing 4.

Tabel 4.24 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait PHBS
Pengunjung.

Variabel

PHBS
Pengunjung

3.

Bobot

Komponen yang
dinilai

10

Pengunjung
berperilaku
hidup
bersih
dan
sehat
dengan :
a. Mencuci
tangan
dengan sabun dan
air mengalir setelah
memegang unggas,
daging atau ikan
b. Tidak merokok
c. Tidak
membuang
sampah
sembarangan
d. Tidak
meludah
sembarangan

Nilai
Maksi
mal

Nilai
Observa
si

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

8
8

2
4

20
40

40

PHBS Pengelola
Dari hasil wawancara kami dengan Kepala Pasar Pucang Anom, pengelola
pasar pernah diberi pelatihan mengenai hygiene sanitasi dan keamanan
pangan secara tidak rutin. Dapat dikatakan bahwa pengelola pasar sudah
memiliki pengetahuan tentang hygiene sanitasi dan keamanan pangan, namun
pengelola pasar belum memiliki keterampilan yang lebih mengenai bidang
tersebut, sehingga pada aspek ini kami memberikan nilai masing-masing 6.

Tabel 4.25 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom Terkait PHBS Pengelola.

62

Variabel

PHBS
Pengelola

Variabel

PHBS
Pengelola

Bobot

Komponen yang
Dinilai

Nilai
Maks

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

Pengelola memiliki
pengetahuan
dan
keterampilan
di
bidang
hygeine
sanitasi

30

Bobot

Komponen yang
Dinilai

Nilai
Maks

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

Pengelola memiliki
pengetahuan
dan
keterampilan
di
bidang
keamanan
pangan

30

4.4 Keamanan Pasar Pucang Anom


1. Pemadam Kebakaran
Pasar Pucang Anom memiliki peralatan pemadam kebakaran. Peralatan
pemadam kebakaran yang ada di Pasar Pucang Anom terdiri dari beberapa
Alat Pemadam Ringan (APAR) yang terletak di kantor kepala pasar dan pos
keamanan pasar, sehingga pada aspek tersebut kami memberi nilai 8. Jumlah
APAR yang ada di Pasar Pucang Anom dirasa tidak mencukupi untuk
wilayah yang sangat luas di Pasar Pucang Anom, sehingga memperoleh nilai
3. Di pos keamanan pasar, terdapat beberapa APAR, ada yang berukuran
besar dan ada yang kecil, 80% dari APAR tersebut masih berfungsi, maka
aspek tersebut memperoleh nilai 7. Di Pasar Pucang Anom, tidak terdapat
hidran air, sehingga memperoleh nilai 0. Letak peralatan pemadam kebakaran
kurang mudah dijangkau karena hanya terletak di pos keamanan dan kantor
kepala pasar saja, namun pada tiap alat pemadam kebakaran sudah ada
petunjuk arah penyelamatan, sehingga pada aspek tersebut kami memberikan
nilai 5.

63

Gambar 4.26 Alat Pemadam Ringan (APAR) di pos keamanan pasar


Tabel 4.26 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom terkait Pemadam
Kebakaran
Variabel

Pemadam
Kebakaran

Komponen yang
Dinilai

Bobot

Skor
Nilai
Nilai
(Bobot x
Maksimal Observasi
Nilai)

Peralatan Pemadam
Kebakaran :
a. Ada
b. Jumlah cukup
c. 80% berfungsi

8
7
7

8
3
7

24
9
21

Tersedia hidran air

Letak
peralatan
pemadam kebakaran
mudah dijangkau dan
ada petunjuk arah
penyelamatan

15

2. Pos Keamanan
Di Pasar Pucang Anom sudah ada pos keamanan yang terletak di bagian
depan salah satu pintu masuk pasar, sehingga aspek tersebut memperoleh
nilai 7. Terdapat petugas keamanan yang berjumlah satu orang dengan jam
kerja pukul 07.30 sampai pukul 13.00, kemudian istirahat sampai pukul
14.00, selanjutnya bertugas kembali sampai pukul 4 sore. Jadi petugas
keamanan pasar tersebut bekerja kurang dari 8 jam sehari. Aspek tersebut
memperoleh nilai 8.

64

Gambar 4.27 Pos Keamanan Pasar Pucang Anom

Tabel 4.27 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom terkait Pos Keamanan.
Variabel

Pos
Keamanan

Bobot

Nilai
Maksimal

Nilai
Observa
si

Skor
(Bobot x
Nilai)

Ada pos keamanan

14

Ada petugas keamanan

16

Komponen yang
Dinilai

4.6 Fasilitas Lain Pasar Pucang Anom


1.

Tempat Ibadah
Di Pasar Pucang Anom, terdapat tempat ibadah yaitu sebuah masjid yang
bernama Masjid Menarul Islam, sehingga aspek tersebut memperoleh nilai 7.
Masjid tersebut terletak di bagian belakang Pasar Pucang Anom. Ukuran
masjid cukup luas dan kondisinya bersih serta terawat dengan baik. Pada area
masjid, sudah terdapat tempat wudhu yang terpisah antara laki-laki dan
perempuan dan kondisinya bersih, sehingga memperoleh nilai 7. Ventilasi
dan pencahayaan di masjid juga sudah sesuai, sehingga apabila pengunjung
masjid ingin membaca Al Quran, maka ia akan tetap bisa membacanya
dengan jelas, oleh karena itu aspek tersebut memperoleh nilai 5.

65

Gambar 4.28 Masjid Manarul Islam yang terletak di belakang Pasar Pucang Anom

Gambar 4.29 Tempat wudhu yang ada di Majid Manarul Islam


Tabel 4.28 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom terkait Tempat Ibadah
Variabel

Tempat
Ibadah

Bobot

Komponen yang
Dinilai
Tersedia tempat ibadah
yang bersih
Tersedia tempat wudhu
yang bersih
Terdapat ventilasi yang
cukup

2.

Skor
Nilai
Nilai
(Bobot x
Maksimal Observasi
Nilai)
7

14

14

10

Tempat Penjualan Unggas Hidup


Di dalam Pasar Pucang Anom terdapat tempat khusus yang menjual unggas
hidup, yaitu ayam. Tempat penjualan unggas hidup tersebut sudah terpisah
dengan pasar utama, sehingga aspek tersebut memperoleh nilai 8. Tempat
penjualan ayam hidup cukup kuat namun keadaanya sangat kotor dan tidak

66

mudah dibersihkan, sehingga aspek tersebut memperoleh nilai 4. Hal tersebut


dibuktikan dengan adanya tikus yang ada di dalam tempat tersebut. Pada
sebelah tempat penjualan unggas hidup sudah ada akses untuk keluar masuk
kendaraan pengangkut unggas, sehingga aspek tersebut memperoleh nilai 8.
Selain itu di dalam tempat penjualan sudah ada fasilitas alat pemotong
unggas yang dilakukan oleh penjual ayam, sehingga aspek tersebut
memperoleh nilai 6. Disana, terdapat bak penampung air sebagai sarana cuci
tangan penjual ayam namun disana tidak terdapat sabun sehingga penjual
ayam kurang menunjukkan perilaku hidup bersih dan sehat, sehingga aspek
tersebut memperoleh nilai 4. Disana juga sudah terdapat saluran pembuangan
air limbah dan tempat penampungan sampah yang terpisah dengan sampah
besar, sehingga aspek tersebut memperoleh nilai 8 dan 7.

Gambar 4.30 Tempat penjualan ayam hidup di Pasar Pucang Anom

Gambar 4.31 Akses keluar masuk kendaraan pengangkut unggas

67

Tabel 4.29 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom terkait Penjualan Unggas
Hidup.
Variabel

Tempat
Penjualan
Unggas
Hidup

Variabel

Bobot

Tempat
Penjualan
Unggas
Hidup

Komponen yang
Dinilai

Bobot

Skor
Nilai
Nilai
(Bobot x
Maksimal Observasi
Nilai)

Tersedia tempat khusus


yang terpisah dari pasar
utama

40

Kandang tempat
penampungan unggas
kuat dan mudah
dibersihkan

20

Komponen yang
Dinilai

Skor
Nilai
Nilai
(Bobot x
Maksimal Observasi
Nilai)

Ada akses untuk keluar


masuk kendaraan
pengangkut unggas
Tersedia fasilitas
pemotong unggas
Tersedia sarana cuci
tangan dengan sabun
dan air mengalir
Tersedia saluran
pembuangan air limbah

Tersedia penampungan
sampah terpisah dari
sampah besar
3.

40

30

20

40

35

Pos Pelayanan Kesehatan dan P3K


Tidak terdapat pos pelayanan kesehatan dan P3K di Pasar Pucang Anom,
sehingga aspek tersebut memperoleh nilai 0.

Tabel 4.30 Tabel Penilaian Sanitasi Pasar Pucang Anom terkait Pemadam
Kebakaran
Variabel

Bobot

Pos
Pelayanan
Kesehatan

0,5

Komponen yang
Dinilai
Terdapat tempat
pelayanan

68

Nilai
Maksimal
8

Skor
Nilai
(Bobot x
Observasi
Nilai)
0

dan P3K

kesehatan dan P3K

69

BAB V
PEMBAHASAN
Inspeksi sanitasi di Pasar Pucang Anom sebagai pasar tradisional dilakukan
atas dasar acuan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
519/Menkes/SK/VI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat dan
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 6 tahun 2014
tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adipura. Terdapat enam komponen yang
dinilai, yaitu lokasi pasar, bangunan pasar, sanitasi pasar, perilaku hidup bersih
dan sehat, keamanan pasar, dan fasilitas lain pasar. Berikut akan dijelaskan hasil
inspeksi sanitasi yang telah dilakukan di Pasar Pucang Anom, Surabaya.
5.1 Lokasi Pasar
Lokasi Pasar Pucang Anom berada pada daerah yang tidak rawan kecelakaan
dan bukan tempat bekas pembuangan akhir. Hal ini sesuai dengan Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519 Tahun 2008 Tentang
Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat Bab V Bagian A.
5.2 Bangunan Pasar
a. Bangunan Umum
Bangunan umum Pasar Pucang Anom sudah sesuai dengan Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519 Tahun 2008 Tentang
Penyelenggaraan Pasar Sehat Pada Bab V Bagian B.
b. Penataan Ruang Dagang
Pembagian area pada penataan ruang dagang sudah sesuai dengan
peruntukannya, namun masih kurang baik, hal ini dikarenakan ada beberapa
pedagang yang membuka los tidak sesuai dengan pembagian areanya. Lebar
lorong dengan los minimal 1,5 meter sudah sesuai dengan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519 Tahun 2008 Tentang Pedoman
Penyelenggaraan Pasar Sehat Bab V Bagian B Nomor 2 D. Ada beberapa los
pedagang yang identitas zoningnya tidak jelas, namun untuk tempat khusus
penjualan daging, karkas, unggas dan ikan sudah sesuai dengan Keputusan

70

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519 Tahun 2008 Tentang


Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat. Hal yang tidak sesuai dengan
peraturan adalah jarak antara tempat pemotongan dan penampungan unggas
tidak terpisah dengan bangunan utama pasar dan tidak dibatasi dengan
tembok.
c. Ruang Kantor Pengelola
Ventilasi pada ruang kantor pengelola belum memenuhi persyaratan, yaitu
kurang dari 20% dari luas lantai kantor. Hal ini tidak sesuai dengan
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519 Tahun 2008
Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat yang menyatakan bahwa
pada ruang kantor pengelola ventilasi minimal 20% dari luas lantai. Di ruang
kantor pengelola sudah terdapat toilet namun belum tersedia tempat cuci
tangan atau washtaffel.
d. Tempat Penjualan Bahan Pangan Basah
Meja tempat penjualan bahan pangan basah di Pasar Pucang Anom terbuat
dari bahan yang tahan karat, rata, kemiringannya sudah sesuai, dan tingginya
sudah memenuhi persyaratan yaitu 60 cm. Hal itu menunjukkan bahwa meja
tempat penjualan bahan pangan basah sudah sesuai dengan Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519 Tahun 2008 Tentang
Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat. Selain itu, pada bagian penjualan
daging merah dan ayam, karkas daging pun telah digantung. Hal yang tidak
sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519
Tahun 2008 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat adalah pedagang
daging merah dan ayam masih menggunakan telenan yang terbuat dari kayu
dan susah dibersihkan, sehingga hal tersebut dapat menimbulkan tumbuhnya
jamur. Kebanyakan para pedagang di Pasar Pucang Anom sudah
menggunakan pisau yang tahan karat. Bagian yang perlu diperhatikan adalah
para pedagang masih menggunakan pisau yang sama untuk memotong bahan
makanan mentah dengan bahan makanan matang. Mayoritas pedagang sudah
memiliki tempat pencucian bahan pangan dan peralatan, namun pedagang

71

tidak menyediakan tempat untuk menyimpan bahan pangan. Pada area


pedagang bahan pangan basah, saluran pembuangan limbah tidak tertutup dan
kemiringanya tidak sesuai ketentuan. Tempat sampah yang tersedia tidak
memisahkan antara sampah basah dan sampah kering. Tempat sampah sudah
terbuat dari bahan kedap air, ada yang tertutup dan ada yang tidak tertutup.
Pada beberapa bagian lantai area penjualan bahan pangan basah terdapat
genangan air dan becek yang memungkinkan area tersebut menjadi tempat
tinggal vektor penyakit dan tempat perindukannya.
e. Tempat Penjualan Bahan Pangan Kering
Pada tempat penjualan pangan kering, meja penjualan memiliki permukaan
yang rata, cukup mudah dibersihkan, dan tingginya mencapai 60 cm. Namun,
terdapat beberapa pedagang yang menggunakan meja dari kayu. Disana,
tempat sampah yang tersedia tidak memisahkan antara sampah basah dan
sampah kering. Hal tersebut tidak sesuai dengan Keputusan Menteri
Kesehatan no. 519 tahun 2008 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar
Sehat yang menyatakan bahwa pada tempat penjualan bahan pangan kering
harus tersedia tempat sampah kering dan basah. Selain itu, hal yang tidak
sesuai dengan peraturan tersebut lainnya adalah disana tidak terdapat tempat
cuci tangan yang menyediakan sabun dan air mengalir. Pada beberapa bagian
lantai area penjualan bahan pangan kering terdapat genangan air dan becek
sehingga hal tersebut dapat memungkinkan tempat penjualan bahan pangan
kering menjadi tempat tinggal vektor penyakit dan tempat perindukannya.
f. Tempat Penjualan Makanan Jadi/Siap Saji
Permukaan meja tempat penjualan makanan jadi atau siap saji sudah rata,
tinggi sudah memenuhi persyaratan yaitu 60 cm, tetapi ada beberapa
pedagang makanan saji tidak menutup makanannya dengan tutup saji atau
menaruh makanannya ke dalam etalase. Pada tempat penjualan makanan jadi
tersebut sudah tersedia tempat penyucian peralatan, hanya saja air yang
digunakan tidak mengalir sehingga tidak sesuai dengan Keputusan Menteri
Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

72

519

Tahun

2008

Tentang

Penyelenggaraan Pasar Sehat yang menyatakan bahwa pada tempat penjualan


makanan siap saji harus ada tempat cuci tangan yang dilengkapi dengan air
mengalir. Hal lain yang tidak sesuai dengan Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 519 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Pasar Sehat adalah tempat
sampah yang tersedia tidak memisahkan antara sampah basah dan sampah
kering, dan pada tempat penjualan makanan siap saji tersebut masih
ditemukan lalat yang dapat menjadi vektor penular penyakit.
g. Pedagang Kaki Lima (PKL)
Dalam variabel lapak, terdapat beberapa hal yang tidak sesuai dengan
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 6 tahun
2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adipura, yaitu lapak pedagang
kaki lima pada area Pasar Pucang Anom tidak tertata rapi, mengganggu lalu
lintas dan pejalan kaki, dan tidak ditempatkan pada area khusus dan masih
banyak terdapat sampah yang berserakan.
h. Area Parkir
Secara keseluruhan kondisi area parkir pasar sudah sesuai dengan Keputusan
Menteri Kesehatan no. 519 tahun 2008 Tentang Pedoman Penyelenggaraan
Pasar Sehat yaitu terdapat pemisahan yang jelas dengan wilayah pasar, sudah
ada pemisahan berdasarkan jenis alat angkut, tersedia area parkir khusus
pengangkut hewan, tersedia tempat sampah setiap radius 10 meter, tidak ada
genangan air, ada tanaman penghijauan dan ada area resapan air. Namun,
masih terdapat hal yang belum sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan
no. 519 tahun 2008 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat yaitu
tidak adanya area khusus untuk bongkar muat barang dan tidak adanya tanda
masuk dan keluar kendaraan secara jelas. Bongkar muat yang dilakukan di
Pasar Pucang Anom terletak di area parkir pengunjung sebelah utara, dimana
tempat bongkar muat tersebut menjadi satu antara bongkar muat barang,
unggas hidup dan unggas mati.

73

i. Ruang Terbuka Hijau (RTH)


Pada variabel Ruang Terbuka Hijau, terdapat beberapa hal yang tidak sesuai
dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 6
tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adipura, yaitu pohon
peneduh yang ada di sekitar Pasar Pucang Anom kurang memenuhi fungsi
peneduh dan pada area pasar sudah terdapat penghijauan namun kurang
memenuhi fungsi penghijauan di sekitar tiga perempat lokasi (75%).
j. Konstruksi Atap
Kondisi atap pasar terbuat dari seng, banyak yang berlubang sehingga
memungkinkan terjadinya kebocoran. Hal ini tidak sesuai dengan Keputusan
Menteri Kesehatan no. 519 tahun 2008 Tentang Pedoman Penyelenggaraan
Pasar Sehat yang menyatakan bahwa atap kuat dan tidak bocor. Namun, atap
sudah memiliki kemiringan yang sesuai sehingga tidak memungkinkan
adanya genangan air dan adanya binatang penular penyakit. Selain itu, atap
pun sudah memiliki ketinggian 10 meter dan dilengkapi dengan alat
penangkal petir.
k. Konstruksi Dinding
Dinding kios Pasar Pucang Anom sudah dicat dengan warna terang yaitu
putih atau kuning. Dinding kios cukup terlihat lembab. Rata-rata dinding luar
pada setiap kios dipenuhi oleh coretan dan terdapat sarang laba-laba sehingga
dinding tampak begitu kusam dan kotor. Hal ini tidak sesuai dengan
Keputusan Menteri Kesehatan No. 519 tahun 2008 Tentang Pedoman
Penyelenggaraan Pasar Sehat yang menyatakan Permukaan dinding harus
bersih.
l. Konstruksi Lantai
Pada area pasar, terdapat lantai yang beralaskan tanah dan ada yang
menggunakan bahan keramik. Mayoritas lantai pasar masih beralaskan tanah.
Tanah tersebut bersifat lembek, sehingga lantai pasar bersifat tidak kedap air,

74

becek, bergelombang, dan sulit dibersihkan. Hal ini tidak sesuai dengan
Keputusan Menteri Kesehatan No.519 tahun 2008 Tentang Pedoman
Penyelenggaraan Pasar Sehat yang menyatakan lantai pasar harus terbuat
dari bahan yang kedap air, permukaan rata, tidak licin, tidak retak, dan mudah
dibersihkan.
m. Tangga
Kondisi tangga di Pasar Pucang Anom sudah cukup baik. Pada setiap tangga
sudah dilengkapi dengan pegangan tangan. Pada Pasar Pucang Anom,
terdapat dua jenis tangga, yaitu tangga yang terbuat dari plat bordes dan
tangga yang terbuat dari beton. Pada tangga yang terbuat dari plat bordes,
terlihat banyak lubang. Hal tersebut membuat konstruksi tangga kurang kuat.
Hal ini kurang sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. 519 tahun
2008 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat yang menyatakan
tangga harus kuat.
n. Ventilasi
Di setiap kios Pasar Pucang Anom, tidak ditemukan adanya ventilasi, karena
Pasar Pucang Anom merupakan ruangan terbuka. Hal ini tidak sesuai dengan
Keputusan Menteri Kesehatan No. 519 tahun 2008 Tentang Pedoman
Penyelenggaraan Pasar Sehat yang menyatakan bahwa ventilasi pasar harus
memenuhi syarat minimal 20% dari luas lantai dan saling berhadapan
5.3 Sanitasi Pasar
a. Air Bersih
Air bersih di Pasar Pucang Anom berdasarkan uji laboratorium sudah
memenuhi syarat kebersihan sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan
No.942 Pasal 4 tahun 2003 yang menyatakan bahwa Air yang digunakan
dalam penanganan makanan jajanan harus air yang memenuhi standar dan
persyaratan hygiene sanitasi yang berlaku bagi air bersih atau air minum.
Kebutuhan untuk air bersih berdasarkan jumlah minimal 40L/pedagang sudah
memenuhi syarat. Jarak sumber air bersih dengan septic tank di Pasar

75

Tradisional Pucang Anom kurang memenuhi standar yang ditentukan, karena


jarak septic tank dengan sumber air bersih sangat dekat yaitu kurang dari 10
meter. Hal tersebut dapat mengakibatkan pencemaran air karena jarak yang
dekat antara septic tank dengan sumber pencemaran air. Akibat dari
pencemaran air tersebut adalah penyakit seperti disentri dan demam tifoid
atau typhus. Pengujian terhadap air bersih di Pasar Pucang Anom juga tidak
pernah dilakukan, sehingga hal ini tidak sesuai dengan Keputusan Menteri
Kesehatan No.519 Thn 2008 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat
yang mengharuskan adanya pengujian air bersih minimal 6 bulan sekali.
b. Kamar Mandi dan Toilet
Kamar mandi yang terdapat di lingkungan Pasar Pucang Anom ada dua yaitu
di depan pasar dan di dalam pasar. Kamar mandi dan toilet letaknya menjadi
satu dan terdapat dalam jumlah yang cukup. Kamar mandi atau toilet baik
bagi laki-laki dan perempuan tidak terpisah. Hal tersebut tidak sesuai dengan
Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

519/MENKES/SK/VI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat


yang mengharuskan tersedia toilet laki-laki dan perempuan yang terpisah.
Pada kamar mandi pasar sudah tersedia bak dan air bersih dengan jumlah
cukup serta bebas jentik. Kamar mandi yang berada di depan pasar
kondisinya lebih terawat dan bak air lebih sering dikuras dibandingkan
dengan kamar mandi di dalam pasar. Kamar mandi yang berada di dalam
pasar kondisinya kurang terawat, masih ditemukan jentik dalam jumlah
sedikit pada bak air. Meskipun jumlahnya sedikit, namun jentik tersebut
apabila dibiarkan dapat mengakibatkan penyakit DBD. Oleh karena itu, perlu
dilakukan pengurasan bak setiap 3 kali seminggu dan pemberian bubuk abate.
Pada tiap toilet pasar sudah menggunakan model leher angsa. Namun, pada
kamar mandi tidak tersedia tempat cuci tangan dan sabun, selain itu letak
toilet pun kurang dari 10 meter dari tempat penjualan makanan. Hal tersebut
tidak sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
519/MENKES/SK/VI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat.
Lantai kamar mandi sudah cukup kedap air, mudah dibersihkan, memiliki

76

kemiringan yang sesuai, namun kondisi lantainya agak licin sehingga dapat
menyebabkan jatuh atau kepleset bagi penggunanya. Oleh karena itu, lantai
kamar mandi atau toilet harus sering dibersihkan agar tidak licin. Hal lain
yang tidak sesuai dengan peraturan adalah tidak adanya tempat sampah yang
tertutup pada kamar mandi dan toilet.
c. Pengelolaan Sampah
Di dalam Pasar Tradisional Pucang Anom tidak tersedia tempat sampah yang
cukup, bahkan kondisi sampah tercampur antara sampah basah dan kering.
Hal tersebut tidak sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia

Nomor

519/MENKES/SK/VI/2008

tentang

Pedoman

Penyelenggaraan Pasar Sehat. Tempat sampah terbuat dari bahan kedap air,
tidak mudah berkarat, cukup kuat, terbuka, dan cukup mudah dibersihkan.
Tempat pembuangan sampah sementara kurang memenuhi syarat berdasarkan
Keputusan Menteri Kesehatan no.519 tahun 2008 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Pasar Sehat, karena terbuat dari bahan yang kurang kuat,
tidak kedap air, kurang mudah dibersihkan. Lokasi TPS tidak berada di jalur
utama pasar namun jarak antara TPS dengan jalur utama pasar kurang dari 10
meter. Proses pengangkutan sampah dari pasar ke tempat pembuangan
sampah sementara minimal 2 kali sehari, sedangkan pengangkutan sampah
dari tempat pembuangan sampah sementara

diangkut minimal 1x24 jam

sehingga hal tersebut sudah memenuhi syarat penyelenggaraan pasar sehat.


d. Drainase
Selokan atau drainase di Pasar Pucang anom, sebagian besar sudah tertutup
dan terbuat dari logam sehingga cukup mudah dibersihkan. Namun, karena
saluran drainase memiliki kemiringan yang kurang sehingga masih banyak
ditemukan air yang menggenang. Limbah cair yang berasal dari kios-kios
pedagang sudah disalurkan ke instalasi pembuangan air limbah (IPAL).
Namun, pengujian kualitas air limbah yang semestinya dilakukan secara
berkala minimal 6 bulan sekali tidak pernah dilakukan sehingga tidak sesuai
dengan ketentuan yang berlaku dalam Keputusan Menteri Kesehatan

77

Republik Indonesia Nomor 519/MENKES/SK/VI/2008 tentang Pedoman


Penyelenggaraan Pasar Sehat.
e. Tempat Cuci Tangan
Di Pasar Tradisional Pucang Anom tidak tersedia tempat cuci tanga atau
washtafel, sehingga hal tersebut tidak sesuai dengan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519/MENKES/SK/VI/2008 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat yang menyatakan bahwa pada pasar
harus ada fasilitas cuci tangan yang ditempatkan di lokasi yang mudah
dijangkau dan fasilitas cuci tangan dilengkapi dengan sabun dan air yang
mengalir dan limbahnya dialirkan ke saluran pembuangan yang tertutup.
Akibat dari tidak adanya tempat cuci tangan di pasar tradisional adalah dapat
mengakibatkan penyakit seperti diare, typhus dan leptospira pada pedagang
dan pembeli.
f. Binatang Penular Penyakit (Vektor)
Los makanan siap saji dan bahan pangan harus bebas dari lalat, kecoa dan
tikus, hal ini diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.942 Pasal 13
tahun 2003 Tentang Pedoman Persyaratan Hygine Sanitasi Makanan dan
Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

519/MENKES/SK/VI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat.


Namun berdasarkan penilaian dalam Pasar Tradisonal Pucang Anom, angka
kerapatan tikus dan kecoa tidak nol meskipun. Selain itu, vektor lalat pun
masih sering dijumpai di area pasar. Banyak los makan siap saji yang
dibiarkan dalam keadaan terbuka, sehingga memungkinkan terjadinya
kontaminasi dari vektor dan menyebabkan penyakit terutama penyakit diare.
g. Kualitas Makanan dan Bahan Pangan
Makanan yang dijual di Pasar Pucang Anom dalam keadaaan baik dan tidak
ada yang basi, tidak mengandung bahan berbahaya seperti pewarna tekstil,
formalin, boraks maupun residu pestisida. Sedangkan untuk bahan makanan
yang berasal dari ikan, daging dan olahannya secara keseluruhan belum

78

disimpan dalam suhu 0-4oC. Hanya sedikit pedagang yang memanfaatkan


freezer maupun kotak penyimpanan untuk menyimpan ikan, daging maupun
olahannya. Namun mengenai tempat penyimpanan makanannya, tidak setiap
penjual

makanan

dan

bahan

pangan

tersebut

mempunyai

tempat

penyimpanan yang sesuai dengan peraturan yang telah ditentukan.


Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
942/MENKES/SK/VII/2003 tentang Pedoman Persyaratan Hygiene Sanitasi
Makanan Jajanan serta Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 519/MENKES/SK/VI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar
Sehat, kualitas bahan pangan di Pasar Pucang Anom sudah cukup memenuhi
syarat.
5.4 PHBS Pedagang dan Pekerja, Pengunjung, dan Pengelola Pasar
a. PHBS Pedagang dan Pekerja
Pedagang di Pasar Pucang Anom banyak yang tidak menggunakan APD,
padahal berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
nomor: 519 tahun 2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat,
pedagang harus menggunakan APD sesuai dengan pekerjaanannya, misalnya:
sepatu boot, sarung tangan, celemek, penutup rambut, dan lain-lain. Namun,
ada pula beberapa pedagang yang menggunakan apron, terutama pedagang
daging, ikan, dan unggas, sedangkan untuk pedagang bahan kering dan
makanan siap saji, mereka tidak menggunakan APD dan apron. Pedagang di
Pasar Pucang Anom masih banyak yang merokok, meludah sembarangan,
tidak mencuci tangan sebelum maupun setelah melayani pembeli, serta masih
membuang sampah sembarangan meskipun pasar sudah menyediakan tempat
sampah. Hal itu menunjukkan bahwa masih banyak pedagang yang tidak
mempraktikkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Dengan tidak
diperhatikannya PHBS, maka penyakit akan mudah menjangkit para
pedagang Pasar Pucang Anom.

79

b. PHBS Pengunjung
Pengunjung masih belum menerapkan PHBS dengan baik karena selama
inspeksi tidak ditemukan adanya pengunjung yang mencuci tangan dengan
sabun setelah memegang unggas, daging, atau ikan. Selain itu, masih banyak
pengunjung yang merokok. Ada sebagian pengunjung yang membuang
sampah sembarangan dan meludah sembarangan di kawasan pasar. Hal itu
dapat memudahkan terjadinya penularan penyakit menular di Pasar Pucang
Anom.
c. PHBS Pengelola
Berdasarkan

Kesehatan

Republik

Indonesia

nomor:

519/MENKES/SK/VI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat


dijelaskan bahwa pengelola pasar harus mempunyai pengetahuan mengenai
hygiene sanitasi dan keamanan pangan. Pada kenyataannya, pengelola Pasar
Pucang Anom sudah pernah melakukan pelatihan mengenai hygiene sanitasi
dan keamanan pangan, sehingga dapat dikatakan bahwa pengelola pasar
sudah memiliki pengetahuan mengenai hal tersebut. Namun, karena pelatihan
tersebut dilakukan secara tidak rutin, keterampilan yang dimiliki oleh
pengelola pasar masih belum terlalu baik.
5.5 Keamanan Pasar
a. Pemadam Kebakaran
Berdasarkan

Kesehatan

Republik

Indonesia

nomor:

519/MENKES/SK/VI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat,


disebutkan bahwa pasar harus memiliki jumlah peralatan pemadam kebakaran
yang mencukupi wilayah pasar, harus memiliki hidran air, serta letak
peralatan pemadam kebakaran harus mudah dijangkau. Namun pada
kenyataannya, jumlah Alat Pemadam Ringan (APAR) yang ada di pos
keamanan Pasar Pucang Anom dirasa kurang mencukupi untuk wilayah Pasar
Pucang Anom yang sangat luas. Selain itu, Pasar Pucang Anom pun tidak
memiliki hidran air dan letak peralatan pemadam kebakarannya tidak mudah
dijangkau karena hanya terletak di pos keamaan dan kantor kepala pasar saja.

80

b. Pos Keamanan
Pos keamanan di Pasar Pucang Anom sudah sesuai dengan Kesehatan
Republik Indonesia nomor: 519/MENKES/SK/VI/2008 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Pasar Sehat, yaitu harus ada pos keamanan dan ada petugas
keamanan. Pos keamanan Pasar Pucang Anom terletak di bagian depan salah
satu pintu masuk. Petugas keamanannya berjumlah satu orang dengan jam
kerja pukul 07.30 sampai pukul 13.00, kemudian istirahat sampai pukul
14.00, selanjutnya bertugas kembali sampai pukul 4 sore. Jadi pekerja disini
bekerja kurang dari 8 jam sehari
5.6 Fasilitas Lain Pasar
a. Tempat Ibadah
Tempat ibadah yang ada di Pasar Pucang Anom sudah sesuai dengan
Kesehatan Republik Indonesia nomor: 519/MENKES/SK/VI/2008 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat, yaitu tersedia tempat ibadah yang
bersih, tersedia tempat wudhu yang bersih, serta terdapat ventilasi yang
cukup. Tempat ibadah di Pasar Pucang Anom untuk masyarakat yang
beragama Islam adalah Masjid Menarul Islam. Masjid tersebut terletak di
bagian belakang Pasar Pucang Anom. Ukuran masjid cukup luas dan
kondisinya bersih serta terawat dengan baik.
b. Tempat Penjualan Unggas Hidup
Tempat penjualan unggas hidup di Pasar Pucang Anom sudah terpisah dengan
pasar utama serta sudah terdapat akses untuk keluar masuk kendaraan
pengangkut unggas. Hal tersebut sudah sesuai dengan Kesehatan Republik
Indonesia

nomor:

519/MENKES/SK/VI/2008

tentang

Pedoman

Penyelenggaraan Pasar Sehat yang menyatakan bahwa pasar harus tersedia


tempat khusus untuk menjual unggas hidup yang terpisah dari pasar utama
dan pada tempat penjualan unggas hidup harus ada akses untuk keluar masuk
kendaraan pengangkut unggas. Namun, terdapat beberapa aspek yang tidak
sesuai

dengan

Kesehatan

Republik

Indonesia

nomor:

519/MENKES/SK/VI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat,

81

yakni tempat penjualan unggas hidup tersebut sangat kotor dan tidak mudah
dibersihkan, selain itu di dalam tempat penjualan unggas hidup tersebut tidak
terdapat sabun dan air mengalir, hanya berupa bak penampung air saja.
c. Pos Pelayanan Kesehatan dan P3K
Tidak terdapat pos pelayanan kesehatan dan P3K di dalam Pasar Pucang
Anom. Hal ini tidak sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia

nomor:

519/MENKES/SK/VI/2008

tentang

Pedoman

Penyelenggaraan Pasar Sehat, yang seharusnya di dalam pasar tradisional


harus terdapat pos pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau.
Apabila seluruh skor tiap variabel dijumlahkan, maka total skor penilaian
sanitasi Pasar Tradisional Pucang Anom adalah 2229. Berdasarkan hasil total skor
tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sanitasi Pasar Tradisional Pucang Anom
termasuk kategori cukup memenuhi persyaratan pasar sehat, karena total skornya
berada pada rentang 1641 2460.

82

BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Penyusunan instrumen sanitasi Pasar Pucang Anom mengacu pada Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519/MENKES/SK/VI/2008
tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat dan Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 6 tahun 2014 tentang Pedoman
Pelaksanaan Program Adipura. Dalam instrumen tersebut, terdapat beberapa
variabel yang dinilai dalam inspeksi sanitasi Pasar Pucang Anom ini yaitu lokasi,
konstruksi bangunan, sanitasi, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), keamanan,
dan fasilitas lain.
Untuk variabel lokasi pasar, lokasi Pasar Tradisional Pucang Anom terletak di
Jalan Pucang Anom. Lokasi Pasar Pucang Anom tidak terletak pada daerah rawan
kecelakaan dan tidak terletak pada daerah bekas pembuangan akhir.
Untuk variabel bangunan pasar, secara umum, persyaratan pasar sehat dalam
KMK No.519 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat ada
yang telah dipenuhi dan belum dipenuhi oleh Pasar Tradisional Pucang Anom.
Namun persyaratan yang belum terpenuhi cukup banyak yaitu: 1) Jarak tempat
penampungan dan pemotongan unggas dengan bangunan pasar utama belum
memenuhi syarat karena sebagian besar tempat pemotongan unggas tidak
memiliki batasan tembok dengan bangunan pasar utama 2) Tidak terdapat tempat
cuci tangan pada ruang kantor pengelola 3) Telenan di tempat penjualan bahan
pangan basah masih terbuat dari kayu 4) Banyak pedagang bahan pangan basah
yang tidak memiliki tempat penyimpanan bahan pangan 5) Tempat cuci tangan
belum dilengkapi dengan sabun dan air yang mengalir 6) Tempat sampah belum
terpisah antara sampah basah dan sampah kering, belum kedap air dan tidak
tertutup 8) Kebanyakan pisau yang digunakan pedagang bahan pangan basah
untuk memotong bahan mentah tidak dibedakan 9) Tempat penjualan bahan
pangan dan makanan siap saji belum sepenuhnya bebas dari vektor penyakit dan
tempat perindukannya 10) Tidak ada pemisahan antara area parkir khusus untuk
bongkar muat barang 11) Tidak ada tanda masuk dan keluar kendaraan secara
jelas, yang berbeda antara jalur masuk dan keluar 12) Atap bangunan memiliki

83

potensi untuk bocor 13) Keadaan dinding bangunan terlihat cukup kotor dan
lembab 14) Sebagian lantai pasar belum kedap air, licin, bergelombang dan sulit
dibersihkan serta pada bagian lantai dari keramik mayoritas mengalami keretakan
dan tidak rata 15) Tangga yang terbuat dari plat bordes terdapat banyak lubang
sehingga kurang kuat 16) Tidak ada ventilasi di tiap kios.
Untuk variabel sanitasi, sanitasi Pasar Pucang Anom telah memenuhi
sebagian besar persyaratan namun ada persyaratan yang belum terpenuhi.
Pesyaratan yang belum terpenuhi yaitu: 1) Jarak sumber air bersih dengan septic
tank kurang dari 10 meter 2) Tidak pernah dilakukannya pengujian air bersih
setiap enam bulan sekali 3) Toilet belum terpisah antara laki-laki dan perempuan
4) Belum tersedia tempat sampah yang tertutup pada kamar mandi dan toilet 5)
Letak toilet kurang dari 10 meter dari tempat penjualan makanan 6) Tempat
sampah terbuat dari bahan yang kurang kedap air, kurang kuat, dan terbuka 7)
pada TPS masih ditemukan banyak vektor penyakit 8) Tidak tersedia tempat cuci
tangan 9) Angka kepadatan tikus tidak nol dan masih ditemukannya lalat dan
kecoa 10) Penyimpanan ikan dan daging masih belum memenuhi syarat, karena
masih banyak ditemukan ikan dan daging yang dibiarkan terbuka, tidak disimpan
pada suhu 0-4oC.
Untuk variabel PHBS, PHBS pedagang, pengunjung, dan pengelola Pasar
Pucang Anom telah memenuhi sebagian besar persyaratan namun ada persyaratan
yang belum terpenuhi. Pesyaratan yang belum terpenuhi yaitu: 1) masih banyak
pedagang yang membuang sampah sembarangan 2) pengunjung tidak mencuci
tangan dengan sabun sesudah memegang unggas, daging, atau ikan 3) masih
banyak pengunjung pasar yang merokok dan meludah sembarangan.
Untuk variabel keamanan pasar, Pasar Pucang Anom sudah memenuhi
kriteria dari persyaratan. Hal yang belum sesuai adalah tidak adanya hidran air
dan kurangnya jumlah APAR di pos keamanan pasar.
Untuk variabel fasilitas lain pasar, sebagian besar fasilitas Pasar Pucang
Anom sudah memenuhi syarat, adapun hal yang belum sesuai dengan peraturan
adalah tempat penjualan unggas hidup yang kurang kuat dan tidak mudah
dibersihkan, tidak terdapat sabun dan air yang mengalir pada tempat penjualan

84

unggas hidup, serta tidak adanya pos pelayanan kesehatan dan P3K di Pasar
Pucang Anom.
Total skor penilaian sanitasi Pasar Tradisional Pucang Anom adalah 2229.
Berdasarkan hasil total skor tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sanitasi
Pasar Tradisional Pucang Anom termasuk kategori cukup memenuhi persyaratan
pasar sehat, karena total skornya berada pada rentang 1641 2460.
6.2 Saran
Saran yang dapat kami berikan berdasarkan hasil observasi dan wawancara
yang kami lakukan di Pasar Tradisional Pucang Anom adalah:
1. Membangun

tembok

pembatas

yang

memisahkan

antara

tempat

penampungan dan pemotongan unggas dengan pasar utama yang jaraknya


minimal 10 meter.
2. Setiap pedagang bahan pangan basah seharusnya menggunakan pisau yang
dibedakan.
3. Setiap pedagang seharusnya mengganti telenan kayu dengan telenan dari
bahan plastik.
4. Setiap pedagang bahan pangan basah seharusnya menyediakan tempat
penyimpanan bahan pangan berupa kulkas.
5. Memperbaiki lantai yang sudah retak dan tidak rata.
6. Memperbaiki tangga yang terbuat dari plat bordes agar tidak berlubang
dan dapat membahayakan pengunjung.
7. Menyediakan tempat cuci tangan berupa washtaffel dan juga sabun pada
beberapa sudut pasar, sehingga dapat digunakan untuk pengunjung dan
pedagang mencuci tangan.
8. Menempatkan lapak pada area khusus agar lapak tertata rapi, tidak
menggangu lalu lintas dan pejalan kaki.
9. Pemisahan antara toilet laki-laki dan toilet perempuan dan menyediakan
tempat cuci tangan dan sabun serta tempat sampah yang tertutup.
10. Menyediakan tempat sampah yang kedap air, kuat, tertutup dan mudah
dibersihkan pada tiap kamar mandi dan toilet serta pada beberapa sudut

85

pasar, untuk menghindari kemungkinan menjadi tempat vektor penyakit


dan tempat perindukannya.
11. Penyediaan tempat penampungan sampah sementara yang terbuat dari
bahan yang kuat, mudah dibersihkan, dan tertutup serta terpisah antara
sampah basah dan sampah kering
12. Membangun saluran pembuangan air limbah yang tertutup dan dengan
kemiringan yang sesuai dengan ketentuan.
13. Melakukan pengujian kualitas air besih secara berkala dan pemeriksaan
tempat penampungan air dari jentik nyamuk.
14. Memberikan tanda masuk dan keluar kendaraan secara jelas pada area
parkir.
15. Menambah penghijauan dan pohon peneduh di seluruh area pasar.
16. Sosialisasi dan penyuluhan mengenai PHBS dan penggunaan alat
pelindung diri terutama pada pedagang unggas, daging, dan ikan.
17. Menyediakan hidran air pada area pasar.
18. Menambah jumlah APAR pada pos keamanan pasar.
19. Menambah jumlah pos keamanan pasar dan jumlah petugas keamanan
pasar.
20. Menyediakan kotak P3K pada beberapa sudut pasar
21. Melakukan perawatan bangunan pasar secara berkala.

86

DAFTAR PUSTAKA
Adisasmito, Wiku. 2006. Buku Ajar Kebijakan Kesehatan. Departemen AKK
FKM UI Depok.
Ardhiana,

R.

2011.

Sanitasi.

<http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30488/3/Chapter
%20II.pdf>. Diakses tanggal 11 Mei 2015.
Anonim.

Sanitasi

TempatTempat

Umum.

<http://personal.its.ac.id/files/material/4163-alia-sanitasi-tempat-tempatumum.pdf.>. Diakses tanggal 10 Mei 2015.


Azwar A, 1995. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Jakarta: PT. Mutiara
Sumber Widya.
Belshaw, Cyril S. 1981. Tukar-Menukar Tradisional dan Pasar Modern. Jakarta:
Gramedia.
Chandra, Dr. Budiman. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta:Penerbit
Buku Kedokteran. Hal. 124, dan 144-147.
Departemen Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat. Keputusan Menteri
Kesehatan no. 519/MENKES/SK/VI/2008.
Departemen Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Tentang Pedoman Persyaratan Hygiene Sanitasi Makanan Jajanan.
Keputusan Menteri Kesehatan no. 942/MENKES/SK/VII/2003.
Departemen Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan Tentang Syarat-syarat dan
Pengawasan Kualitas Air. Permenkes No. 416 Tahun 1990.
Depkes RI. 2005. Pedoman Peran Kesehatan Masyarakat Nasional. Pusat
promosi kesehatan Depkes RI. Jakarta.
Djamil, S. D. 2014. Deskripsi Kondisi Sarana dan Prasarana Sanitasi Pasar
Shopping Center Kelurahan Kayubulan Kecamatan Limboto Kabupaten
Gorontalo

Tahun

2012

(Doctoral

87

dissertation,

Universitas

Negeri

Gorontalo).

<http://eprints.ung.ac.id/5976/5/2012-1-13201-811408104-

bab2-14082012113425.pdf.>. Diakses tanggal 10 Mei 2015.


Hayat,

Fadhil

A.

M.

2010.

Sanitasi

Tempat-Tempat

Umum.

<http://www.scribd.com/doc/31579302/07-Sanitasi-Tempat-tempatUmum#scribd>. Diakses tanggal 10 Mei 2015.


Marsito.

2013.

Inspeksi

Sanitasi

Tempat-Tempat

Umum.

<http://www.bapelkescikarang.or.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=783:inspeksi-sanitasi-tempattempat-umum&catid=39:kesehatan&Itemid=15>. Diakses tanggal 11 Mei
2015.
Menteri Dalam Negeri. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia
Tentang Pengelolaan dan Pemberdayaan Pasar Tradisional. Permendagri
Nomor 20 Tahun2012
Mukono. 2006. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. Surabaya: Airlangga
University Press.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2012
tentang Pengelolaan dan Pemberdayaan Pasar Tradisional.
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 6 tahun 2014
tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adipura.
Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2007 Tentang Penataan dan Pembinaan
Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.

88

LAMPIRAN
INSTRUMEN PENILAIAN PASAR TRADISIONAL
PUCANG ANOM SURABAYA
I. DATA UMUM :
Nama Pasar
Alamat
Nama Pengelola Pasar
Jumlah Kios
Jumlah Kelompok Pedagang

: Pucang Anom
: Jalan Pucang Anom, Surabaya
: PD Pasar Surya
: 377
: 69

II. DATA FISIK :

No
A.

Variabel
Lokasi

Bobot

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

a. Tidak terletak pada


daerah
rawan
kecelakaan
b. Tidak terletak pada
daerah
bekas
pembuangan akhir

25

25

a. Bangunan dan rancang


bangun sesuai dengan
peraturan yang berlaku

3.5

Komponen yang Dinilai

B.

Bangunan

20

1.

Umum

0,5

89

No
2.

3.

Variabel
Penataan
Ruang
Dagang

Ruang
Kantor
Pengelola

Bobot

Komponen yang Dinilai

a. Pembagian area sesuai


dengan peruntukannya
b. Pembagian
zoning
diberi identitas yang
jelas
c. Lebar lorong dengan
los minimal 1.5 meter
d. Jarak
tempat
penampungan
dan
pemotongan
unggas
dengan
bangunan
pasar utama minimal
10 meter atau dibatasi
tembok.Terdapat
tempat khusus untuk
jenis pestisida, bahan
berbahaya dan beracun
(B3),
dan
bahan
berbahaya lainnya.
a. Ventilasi minimal 20%
dari luas lantai

0,5

b. Tersedia toilet dan


tempat cuci tangan

90

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)
15

15

18

1.5

No
4.

Variabel
Tempat
Penjualan
Bahan
Pangan
Basah

Bobot

Komponen yang Dinilai

a. Meja
tempat
penjualan:
1) Tahan karat
2) Rata
3) Kemiringan
4) Tinggi 60 cm
b. Karkas
daging
digantung
c. Pisau untuk memotong
bahan mentah harus
berbeda dan tidak
berkarat
d. Telenan tidak terbuat
dari
kayu,
tidak
beracun, kedap air dan
mudah dibersihkan
e. Tersedia
tempat
penyimpanan
bahan
pangan
f. Terdapat tempat untuk
pencucian
bahan
pangan dan peralatan
g. Tersedia tempat cuci
tangan dengan :
a. Sabun
b. Air mengalir
h. Saluran pembuangan
limbah :
a. Tertutup
b. Kemiringan sesuai
ketentuan
i. Tempat sampah :
1) Terpisah
(basah
dan kering)
2) Kedap air
3) Tertutup
j. Tempat
penjualan
bebas vektor penular
penyakit dan tempat
perindukannya

91

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

6
5
5
5
6

6
4
4
5
6

18
12
12
15
18

12

18

6
7

6
0

18
0

6
6

2
2

6
6

7
5
5

0
5
3

0
15
9

No
5.

Variabel
Tempat
Penjualasn
Bahan
Pangan
Kering

Bobot

Komponen yang Dinilai

a. Meja
tempat
penjualan:
1) Permukaannya rata
2) Tinggi minimal 60
cm
3) Mudah dibersihkan
4) Bahan tahan karat
5) Bukan dari kayu
b. Tempat sampah :
1) Terpisah basah dan
kering
2) Kedap air
3) Bertutup
c. Tempat cuci tangan
dilengkapi dengan :
3) Sabun
4) Air mengalir
d. Tempat
penjualan
bebas vektor penyakit
dan
tempat
perindukannya

92

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

7
5

7
5

21
15

5
8
8

3
4
4

9
12
12

5
5

3
3

9
9

6
7

0
0

0
0

18

No
6.

Variabel
Tempat
Penjualan
Makanan
Jadi/Siap
Saji

Pedagang
Kaki Lima
(PKL)

Bobot

Komponen yang Dinilai

a. Tempat
penyajian
makanan :
1) Tertutup
2) Permukaan rata
3) Tinggi minimal 60
cm
4) Mudah dibersihkan
5) Bahan tahan karat
b. Tempat
pencucian
peralatan :
1) Kuat
2) Aman
3) Tidak berkarat
4) Mudah dibersihkan
c. Tempat cuci tangan
dilengkapi dengan :
1) Sabun
2) Air mengalir
e. Tempat sampah :
1) Terpisah basah dan
kering
2) Kedap air
3) Bertutup
d. Saluran pembuangan
limbah :
1) Tertutup
2) Aliran Lancar
f. Tempat
penjualan
bebas vektor penular
penyakit dan tempat
perindukannya
a. Lapak tertata rapi,
tidak mengganggu lalu
lintas dan pejalan kaki
serta ditempatkan pada
area khusus
b. Tidak ada sampah di
area PKL
c. Tempat sampah tidak
bertumpuk
dan
berserakan di area PKL

93

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

8
5
5

5
5
5

15
15
15

5
5

5
5

15
15

6
5
5
6

2
2
5
5

6
6
15
15

6
7

6
0

18
0

7
6

6
4

18
12

7
7

0
3

0
9

10

10

No
8.

9.

10.

Variabel

Bobot

Komponen yang Dinilai

Area Parkir

a. Ada pemisahan yang


jelas dengan wilayah
pasar
b. Tersedia parkir yang
terpisah berdasarkan
jenis
alat
angkut,
seperti : mobil, motor,
sepeda,
andong/delman
dan
becak
c. Tersedia area parkir
khusus
untuk
pengangkut hewan
d. Tersedia area khusus
bongkar muat barang
e. Tersedia
tempat
sampah yang terpisah
antara sampah kering
dan basah minimal
setiap radius 10 m
f. Tidak ada genangan
air
g. Ada tanda masuk dan
keluar
kendaraan
secara jelas, yang
berbeda antara jalur
masuk dan keluar
h. Adanya
tanaman
penghijauan
i. Adanya area resapan
air di pelataran parkir
a. Ada pohon peneduh di
seluruh lokasi pasar
b.
Pohon
peneduh
memenuhi
fungsi
peneduh di seluruh lokasi
c. Memenuhi fungsi
penghijauan di sekitar
tiga perempat lokasi
(75%)
a. Atap :
1) Kuat
2) Tidak bocor
3) Tidak
menjadi

Ruang
Terbuka
Hijau
(RTH)

Kontruksi
Atap

0,5

94

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)
6

7
7
7

5
4
6

2.5
2
3

No

11.

12.

13.

14.

Variabel

Bobot

Kontruksi
dinding

0,5

Kontruksi
lantai

0,5

Tangga

Ventilasi

0,5

Komponen yang Dinilai


tempat
berkembangbiak
nya
binatang
penular penyakit
b. Kemiringan
atap
cukup
dan
tidak
memungkinkan
genangan air
c. Atap
dengan
ketinggian lebih 10
meter
dilengkapi
penangkal petir
a. Keadaaan dinding:
1) Bersih
2) Tidak lembab
3) Bewarna terang
a. Kontruksi lantai :
1) Kedap air
2) Rata
3) Tidak licin
4) Tidak retak
5) Mudah dibersihkan
b. Lantai yang selalu
terkena
air,
mempunyai
kemiringan ke arah
saluran
dan
pembuangan air
a. Tinggi,
lebar,
kemiringan
sesuai
dengan ketentuan yang
berlaku
b. Terdapat
pegangan
tangan
c. Kuat dan tidak licin

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

3.5

3.5

6
6
6

3
5
5

1.5
2.5
2.5

7
7
7
7
7

4
4
5
4
5

2
2
2.5
2
2.5

3.5

3.5

1
a. Memenuhi
syarat
minimal 20% dari luas
lantai
dan
saling
berhadapan

95

No

Variabel

Bobot

C.

Sanitasi

30

15.

Air Bersih

16.

17.

Kamar
Mandi dan
Toilet

Pengelolaan
sampah

Komponen yang Dinilai

a. Air bersih tersedia


dalam jumlah cukup
(minimal
40L/
pedagang)
b. Kualitas air bersih
memenuhi
syarat
kebersihan
c. Jarak
sumber
air
bersih dengan septic
tank minimal 10 meter
d. Pengujian air bersih
dilakukan 6 bulan
sekali
a. Toilet laki-laki dan
perempuan:
1) Terpisah
2) Jumlah cukup
b. Tersedia bak dan air
bersih dengan jumlah
cukup dan bebas jentik
c. Lantai kedap air, tidak
licin,
mudah
dibersihkan
dan
kemiringan cukup
d. Toilet dengan leher
angsa
e. Tersedia
tempat
sampah yang tertutup
f. Letak toilet minimal
10 meter dari tempat
penjualan makanan
g. Ventilasi minimal 20%
dari luas lantai
a. Tersedianya
tempat
sampah basah dan
kering di tiap lorong
b. Tempat
sampah
terbuat dari :
1) Bahan kedap air
2) Tidak
mudah
berkarat
3) Kuat
96

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

28

24

16

6
6
7

0
5
5

0
20
20

16

20

24

12

7
6

2
4

8
16

20

No

Variabel

Bobot

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

4) Tertutup
5) Mudah dibersihkan
Tersedia
alat
pengangkut sampah:
1) Kuat
2) Mudah dibersihkan
Tersedia
tempat
pembuangan sampah
sementara:
1) Kuat
2) Kedap air
3) Mudah dibersihkan
4) Mudah dijangkau
Lokasi
TPS
tidak
berada di jalur utama
pasar (minimal 10 m
dari bangunan pasar)
TPS tidak menjadi
tempat
perindukan
vektor penyakit
Sampah
diangkut
minimal 1x24 jam
Lokasi
mudah
dijangkau
Dilengkapi
dengan
sabun
Tersedia air mengalir

7
6

2
3

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)
8
12

7
7

4
3

16
12

6
7
7
7
7

3
2
4
5
6

12
8
16
20
24

20

a. Selokan/drainase
sekitar pasar tertutup
dengan
kisi
yang
terbuat dari logam
sehingga
mudah
dibersihkan
b. Limbah cair yg berasal
dari
setiap
kios
disalurkan ke instalasi
pengolahan air limbah
(IPAL)
c. Saluran
drainase
memiliki
kemiringan
sesuai
dengan
ketentuan yang berlaku

16

28

20

Komponen yang Dinilai

c.

d.

e.

f.
g.
18.

Tempat
Cuci
Tangan

a.
b.
c.

19.

Drainase

97

No

20

21.

Variabel

Binatang
Penular
Penyakit
(Vektor)

Kualitas
Makanan
dan Bahan
Pangan

Bobot

Komponen yang Dinilai


d. Tidak ada bangunan
los/kios di atas saluran
drainase
e. Dilakukan
pengujian
kualitas air limbah cair
secara berkala setiap 6
bulan sekali
a.Terbebasnya
los
makanan siap saji dan
bahan pangan dari
tikus, lalat, dan kecoa
b.
Angka kepadatan
tikus harus nol
c.Angka kepadatan lalat
maksimal 30 per gril
net di tempat sampah
dan drainage
d. Angka
kepadatan
kecoa maksimal 2 ekor
per plate di titik
pengukuran
e.Tidak ada binatang
pengganggu
a. Makanan dan bahan
pangan tidak basi
b. Bahan pangan tidak
mengandung
bahan
berbahaya
seperti
boraks, formalin dan
pewarna tekstil
c. Makanan dan bahan
pangan
tidak
mengandung
residu
pestisida.
d. Ikan
dan
daging
disimpan dalam suhu
0-4 C
e. Penyimpanan bahan
makanan dengan jarak
15cm dari lantai, 5 cm
dari dinding, dan 60
cm dari langit-langit

98

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)
32

10

20

20

15

28

28

28

12

24

No

Variabel

Bobot

C.

PHBS
Pedagang,
Pengunjung, dan
Pengelola

30

22.

PHBS
Pedagang
dan pekerja

15

23.

PHBS
Pengunjung

10

Komponen yang Dinilai

a. Pedagang
menggunakan
alat
pelindung diri dalam
bekerja
b. Pedagang berperilaku
hidup bersih dan sehat
dengan :
1) Mencuci
tangan
dengan sabun dan
air mengalir
2) Tidak merokok
3) Tidak membuang
sampah
sembarangan
4) Tidak
meludah
sembarangan
c. Pedagang
tidak
menderita
penyakit
menular
a. Pedagang berperilaku
hidup bersih dan sehat
dengan :
1) Mencuci
tangan
dengan sabun dan
air
mengalir
setelah memegang
unggas,
daging
atau ikan
2) Tidak merokok
3) Tidak membuang
sampah
sembarangan
4) Tidak
meludah
sembarangan

99

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)

45

60

8
8

5
2

75
30

75

75

8
8

2
4

20
40

40

No
24.

Variabel
PHBS
Pengelola

Bobot

Komponen yang Dinilai

a. Pengelola
memiliki
pengetahuan
dan
keterampilan di bidang
hygeine sanitasi
b. Pengelola
memiliki
pengetahuan
dan
keterampilan di bidang
keamanan pangan

D.

Keamanan

25.

Pemadam
Kebakaran

26.

Pos
Keamanan

E.

Fasilitas

10

27.

Tempat
Ibadah

a. Peralatan
pemadan
kebakaran:
1) Ada
2) Jumlah cukup
3) 80% berfungsi
b. Tersedia hidran air
c. Letak
peralatan
pemadam kebakaran
mudah dijangkau dan
ada petunjuk arah
penyelamatan
a. Ada pos keamanan
b. Ada petugas keamanan

a. Tersedia tempat ibadah


yang bersih
b. Tersedia
tempat
wudhu yang bersih
c. Terdapat
ventilasi
yang cukup

100

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)
30

30

8
7
7
8
8

8
3
7
0
5

24
9
21
0
15

7
8

7
8

14
16

14

14

10

No
28.

29.

Variabel
Tempat
Penjualan
Unggas
Hidup

Pos
pelayanan
kesehatan
dan P3K
TOTAL

Bobot

Komponen yang Dinilai

a. Tersedia
tempat
khusus yang terpisah
dari pasar utama
b. Kandang
tempat
penampungan unggas
kuat
dan
mudah
dibersihkan
c. Ada
akses
untuk
keluar
masuk
kendaraan pengangkut
unggas
d. Tersedia
fasilitas
pemotong unggas
e. Tersedia sarana cuci
tangan dengan sabun
dan air bersih
a. Tersedia
saluran
pembuangan
air
limbah
f. Tersedia penampungan
sampah terpisah dari
sampah besar
a. Terdapat
tempat
pelayanan kesehatan
dan P3K

Nilai
Maksimal

Nilai
Observasi

Skor
(Bobot x
Nilai
Observasi)
40

20

40

30

20

40

35

100

2229

Total skor penilaian sanitasi Pasar Tradisional Pucang Anom adalah 2229.
Berdasarkan hasil total skor tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sanitasi
Pasar Tradisional Pucang Anom termasuk kategori cukup memenuhi persyaratan
pasar sehat, karena total skornya berada pada rentang 1641 2460.

101