Anda di halaman 1dari 13

1

MANAJEMEN MUTU

disusun oleh :
1. AMARULLAH FATWA PANE
2. M. ADLY
3. RIZKY A

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Puja dan Puji hanya layak tercurahkan kepada Allah SWT. , karena atas
limpahan karunia-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad
Shallallahualaihi wa sallam. Manusia istimewa yang seluruh perilakunya layak untuk diteladani,
yang seluruh ucapannya adalah kebenaran, yang seluruh getar hatinya kebaikan. Sehingga
Penyusun dapat menyelesaikan tugas mandiri ini tepat pada waktunya.
Tugas makalah terkait Manajemen Mutu yang dibimbing oleh Dosen Ibu Dr.
Ramlawaty Se, MM. telah banyak membantu penyusun melalui materi kuliah yang telah
diberikan. Banyak kesulitan dan hambatan yang Penyusun hadapi dalam membuat tugas mandiri
ini tapi dengan semangat dari teman - teman sehingga Penulis mampu menyelesaikan tugas
mandiri ini dengan baik.
Penulis menyimpulkan bahwa tugas mandiri ini masih belum sempurna, oleh karena itu Penulis
menerima saran dan kritik, guna kesempurnaan tugas mandiri ini dan bermanfaat bagi Penulis
dan pembaca pada umumnya.

Makassar,

September 2015
Penyusun

ii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL. i
KATA PENGANTAR.. ii
DAFTAR ISI... iii
BAB I PENDAHULUAN.... 1
1. Latar Belakang 1
2. Rumusan Masalah... 2
BAB II

PEMBAHASAN...... 3

1. Pengertian Perkembangan Sosial.... 3


2. Ciri Perkembangan Sosial... 3
3. Penyesuaian Karakteristik Sosial Remaja... 4
4. Transisi Sosial. 5
5. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial.. 5
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN..... 8
DAFTAR PUTAKA. 8

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Dalam dunia bisnis, persaingan antara suatu perusahaan dengan perusahaan
lain dapat dilakukan melalui berbagai cara. Cara yang paling sering dilakukan adalah
melalui harga, diferensiasi produk atau jasa, fleksibilitas, waktu pengiriman,
dan mutu. Tidak dapat dipungkiri, mutu telah menjadi syarat utama bagi kesuksesan
bisnis. Persaingan bisnis di tingkat global semakin memberikan banyak pilihan kepada
konsumen,

sehingga

konsumen

dalam

memesan

produk dan jasa sangat

memperhatikan biaya dan nilai. Oleh karena itu, untuk dapat bertahan dan berhasil
dalam lingkungan persaingan global, perusahaan harus menghasilkan produk yang
bermutu dan memberikan pelayanan yang bermutu.
Perhatian penuh kepada mutu akan memberikan dampak positif kepada
perusahaan, salah satunya dampak terhadap biaya produksi. Dampak terhadap biaya
produksi terjadi melalui proses pembuatan produk yang memiliki derajat konformansi
yang tinggi terhadap standar-standar sehingga bebas dari tingkat kerusakan yang
mungkin terjadi. Dengan demikian, proses produksi yang memperhatikan mutu akan
menghasilkan produk berkualitas yang bebas dari kerusakan. Hal tersebut
menyebabkan perusahaan terhindar dari pemborosan dan inefisiensi sehingga biaya
produksi akan menjadi rendah. Dampak terhadap peningkatan laba terjadi melalui
peningkatan penjualan atas produk berkualitas yang berharga kompetitif. Konsumen
akan memilih produk berkualitas tinggi pada tingkat harga yang kompetitif. Hal
ini akan meningkatkan penjualan dari produk-produk tersebut yang pada akhirnya
akan meningkatkan laba perusahaan.
Meningkatkan mutu tidak mudah, diperlukan usaha usaha yang keras dan serius.
Banyak perusahaan yang belum benar benar memahami bagaimana cara
meningkatkan mutu atau tidak puas dengan mutu yang telah dicapai. Untuk
menghasilkan kualitas terbaik diperlukan upaya perbaikan berkesinambungan terhadap
kemampuan manusia, proses, dan lingkungan.
Salah satu cara meningkatkan mutu adalah dengan menerapkan suatu standar
manajemen mutu dalam perusahaan. Standar mutu internasional yang digunakan secara

5
luas di dunia telah diterbitkan oleh badan International Organization for
Standardization (ISO). ISO berisi beberapa seri standarisasi untuk jaminan mutu akan
produk yang dihasilkan perusahaan. ISO 9001:2000 merupakan salah satu seri
terlengkap. Menurut Gasperz (2002:1) ISO 9001:2000 adalah Suatu standar
internasional untuk sistem manajemen mutu. ISO 9001:2000 menetapkan persyaratanpersyaratan dan rekomendasi untuk desain dan penilaian dari suatu manajemen mutu,
yang bertujuan untuk menjamin bahwa organisasi akan memberikan produk yang
memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Manajemen mutu merupakan aktivitas
keteknikan dan manajemen. Berdasarkan aktivitas itu, dapat mengukur ciri-ciri mutu
produk dan membandingkan dengan spesifikasi tertentu, serta mengambil tindakan
penyesuaian bila terjadi penyimpangan antara yang sebenarnya dengan standar yang
telah ditentukan.
Pengakuan bahwa kegagalan menghasilkan produk bermutu tinggi menimbulkan
biaya produksi tinggi mendorong perusahaan untuk meningkatkan mutu atas produk
mereka. Banyak perusahaan menyadari bahwa strategi yang dipicu oleh peningkatan
mutu dapat mengarahkan pada keunggulan pasar yang signifikan, meningkatkan laba,
dan memberikan kesejahteraan jangka panjang. Perusahaan cenderung memilih
bersaing melalui harga yang rendah bukan berarti memilih untuk memproduksi dengan
mutu yang rendah. Harga yang rendah harus memenuhi harapan pelanggan.
Berdasarkan uraian tersebut, maka penyusun termotivasi untuk melakukan
pembahasan terkait dengan Manajemen Mutu.

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka
penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
Apakah manajemen mutu ?
Bagaimanakah Perkembangan Manajemen Mutu ?

BAB II
PEMBAHASAN

1.

DEFINISI MUTU

Menurut America Society for Quality Control yang mengatakan : Quality is the totality of
features and characteristics of a product or service that bear on its ability to satisty stated of
implied needs (Kotler : 1994).
Menurut para pakar mutu di dunia, ada beberapa definisi mutu :
Mutu didefinisikan sebagai kesesuain dengan persyaratan atau keunggulan yang dipublikasikan
quality is defined as conformance to requirements, not as goodness or elegance Philip B.
Crosby (1992). Mutu berarti pemecahan masalah untuk mencapai penyempurnaan terusmenerus, create constancy of purpose for continual improvement of products and service W.
Edwards Deming (1984). "Quality" means those features of products which meet customer needs
and thereby provide customer satisfaction. In this sense, the meaning of quality is oriented to
income. The purpose of such higher quality is to provide greater customer satisfaction and, one
hopes, to increase income. However, providing more and/or better quality features usually
requires an investment and hence usually involves increases in costs. Higher quality in this sense
usually "costs more". "Quality" means freedom from deficiencies-freedom from errors that
require doing work over again (rework) or that results in field failures, customer dissatisfaction,
customer claims and so on. In this sense, the meaning of quality is oriented to costs, and higher
quality usually "costs less"." Joseph M. Juran (1951). The quality of a product (article or
service) is its ability to satisfy the needs and expectations of the customers Bergman and Klefsjo
(1994)
Menurut ISO 9000:2000, mutu adalah derajat/tingkat karakteristik yang melekat pada produk
yang mencukupi persyaratan atau keinginan. Karakteristik disini berarti hal-hal yang dimiliki
produk, antara lain :
a) Karakteristik fisik ( elektrikal, mekanikal, biological) seperti handphone, mobil, rumah,
dll.
b) Karakteristik perilaku ( kejujuran, kesopanan ). Ini biasanya produk yang berupa jasa
seperti di rumah sakit atau asuransi perbankan.
c) Karakteristik sensori ( bau, rasa ) seperti minuman dan makanan.

2.

Perkembangan Awal Konsep Tentang Mutu

Konsep tentang kontrol kualitas pertama kali tercatat di Mesopotamia semasa pemerintahan
raja Hammurabi pada (2123-2081 BC). Catatan tentang kontrol kualitas tersebut berbentuk
hukum hukum yang mengatur masyarakat Babylonia pada masa itu, ditemukan dalam bentuk
prasasti setinggi 2.4 meter terbuat dari pelat batu. Salah satu point hukum tersebut menyebutkan
seseorang membangun rumah, dimana rumah tersebut rubuh dan mengakibatkan terbunuhnya si
penghuni rumah itu, maka orang tersebut harus dihukum mati. Tentunya konsep seperti ini tidak
cocok diterapkan sekarang.
Kemudian dengan adanya revolusi di Inggris pada awal abad ke 18, maka standar kontrol
kualitas menyebar dengan cepat. Revolusi industri ditandai dengan produksi barang secara
massal dan dengan menggunakan sistem mekanisasi. Sampai tahap ini pemilik perusahaan sangat
kesulitan untuk mengontrol semuanya secara langsung, sehingga muncul kebutuhan akan adanya
manajer. Para manajer ini berusaha keras untuk meningkatkan efisiensi pada organisasi
perusahaan.
3.

Perkembangan Konsep Mutu di Era Modern

Pada awalnya perkembangan konsep mutu berasal dari Amerika. Awalnya mutu ditentukan
oleh produsen, hal ini bisa terjadi karena pada awal perkembangannya tidak banyak produsen
yang menghasilkan suatu produk, sehingga konsumen memiliki opsi yang terbatas dalam
membeli suatu produk. Namun seiring dengan timbulnya persaingan maka paradigma mutu
bergeser menjadi consumen oriented. Mulanya ahli ahli yang memfokuskan bidang
keilmuannya dalam hal mutu kurang ditanggapi dan didengar oleh publik Amerika. Namun
beberapa dari mereka merupakan pelopor dalam pengenalan dan pengembangan konsep mutu.
Sejak 1980 keterlibatan mereka dalam manajemen terpadu telah dihargai di seluruh dunia. Tokoh
tokoh yang berjasa dalam mengembangkan kualitas beserta konsep yang mereka kembangkan
akan diuraikan dibawah ini.
a) F.W. Taylor (1865 1915)
Dalam bukunya beliau mengembangkan suatu konsep tentang pembagian kerja (division of
work) sehingga mendapat gelar Bapak Manajemen Ilmiah. Dalam bukunya tersebut dijelaskan
beberapa hal berkaitan dengan teori manajemen yaitu :

Setiap orang harus diberikan deskripsi tugas yang jelas dan bisa diselesaikan dalam satu hari
Pekerja yang tidak mampu memenuhi target kerja personal yang telah ditetapkan diberi penalti.
Sebaliknya jika pekerja berprestasi maksimal maka seharusnya diberikan bonus
Pekerja harus diberi peralatan yang memadai untuk menyelesaikan pekerjaannya.

8
Hal lain yang dilakukan Taylor adalah memisahkan perencanaan dari perbaikan kerja, artinya
bagian produksi / yang bertanggungjawab untuk bekerja dipisahkan dengan bagian yang
bertanggungjawab untuk memperbaiki kerja.
b) Edward Deming
Lahir tahun 1900 dan mendapat Ph. D pada 1972 sangat menyadari bahwa ia telah
memberikan pelajaran tentang pengendalian mutu secara statistik kepada para insinyur bukan
kepada para manajer yang mempunyai wewenang untuk memutuskan. Katanya :Quality is not
determined on the shop floor but in the executive suite. Pada 1950, beliau diundang oleh,
The Union to Japanese Scientists and Engineers (JUSE) untuk memberikan ceramah
tentang mutu. Pendekatan Deming dapat disimpulkan sebagai berikut :

Mutu utamanya dihasilkan sebagi hasil tindakan managemen senior bukan


tindakan oleh para pekerja
Sistem kerja yang mengukur bagaimana unjuk kerja terbentuk dan hanya

manager
yang dapat menghasilkan sistem.

Hanya Manajer yang dapat mengalokasikan sumber daya, memberikan pelatihan


kepada pekerja, memilih peralataan yang pekerja gunakan dan memberikan
lingkunag kerja yang mendukung proses mutu.

Hanya manajer senior yang dapat memperkirakan pasa dimana perusahaan akan
berpartisipasi dan produk apa yang akan diberikan ke pasar.
c) Prof Juran
Mengunjungi Jepang pada tahun 1945. Di Jepang Juran membantu pimpinan Jepang di dalam
menstrukturisasi industri sehingga mampu mengekspor produk ke pasar dunia. Ia membantu
Jepang untuk mempraktekkan konsep mutu dan alat-alat yang dirancang untuk pabrik ke dalam
suatu seri konsep yang menjadi dasar bagi suatu management process yang terpadu. Juran
mendemonstrasikan tiga proses manajerial untuk mengelola keuangan suatu organisasi yang
dikenal dengan trilogy Juran yaitu, Finance Planning, Financial control, financial
improvement. Adapun rincian trilogy itu sebagai berikut( Juran 1954):

Quality planning, suatu proses yang mengidentifikasi pelanggan dan proses yang akan
menyampaikan produk dan jasa dengan karakteristik yang tepat dan kemudian mentransfer

pengetahuan ini ke seluruh kaki tangan perusahaan guna memuaskan pelanggan.


Quality control, suatu proses dimana produk benar-benar diperiksa dan dievaluasi,
dibandingkan dengan kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan para pelanggan. Persoalan yang

telah diketahui kemudian dipecahkan, misalnya mesin-mesin rusak segera diperbaiki.


Quality improvement, suatu proses dimana mekanisme yang sudah mapan dipertahankan
sehingga mutu dapat dicapai berkelanjutan. Hal ini meliputi alokasi sumber-sumber, menugaskan
orang-orang untuk menyelesaikan proyek mutu, melatih para karyawan yang terlibat dalam

9
proyek mutu dan pada umumnya menetapkan suatu struktur permanen untuk mengejar mutu dan
mempertahankan apa yang telah dicapai sebelumnya.
4.

KEUNTUNGAN MUTU

Banyak yang menganggap bahwa produk yang bermutu adalah pemborosan semata. Namun
nyatanya, dapat dibuktikan bahwa membuat produk yang bermutu itu justru mendatangkan
manfaat/keuntungan bagi perusahaan.
a) Keuntungan peningkatan pasar.
Dengan berfokus pada mutu, maka akan terjadi perbaikan dari segi performance, feature, dan
reability. Misalnya, pada perusahaan keramik akan terjadi produk keramik yang semakin kuat
dan mudah menempel sehingga akan terjadi peningkatan reputasi mutu produk. Dari sana produk
keramik tersebut akan semakin dikenal dan diakui sebagai keramik yang mudah dipasang dan
tidak mudah retak. Kemudian akan terjadi peningkatan pangsa pasar karena produk semakin
terkenal atau karena terjadi peningkatan harga produk karena permintaan produk semakin besar (
efek brand ), peningkatan harga atau pangsa pasar tersebut menyebabkan peningkatan
keuntungan.
b) Mengurangi biaya
Sementara jika keuntungan mutu ditinjau dari segi biaya adalah dengan berfokus kepada mutu
maka perusahaan akan semakin meningkatkan kinerja produksinya. Kinerja produksi yang tinggi
membuat tingginya produktifitas, rendahnya biaya garansi atau cacat produksi. Hal ini kemudian
membuat biaya manufaktur yang rendah dan biaya servis yang kecil pula sehingga berdampak
sangat besar dalam penghematan biaya.
5.

PERKEMBANGAN MUTU
a) Era Tanpa Mutu

Era ini dimulai sebelum abad ke-18, dimana produk yang dibuat tidak memperhatikan mutu.
Kondisi ini mungkin terjadi jika perusahaan tersebut tidak memiliki pesaing ( monopoli ).
b) Era Inspeksi
Pada zaman ini, mutu hanya melekat pada produk akhir. Dengan kata lain, masalah mutu
hanya berkaitan dengan produk yang rusak atau cacat. Zaman ini berlangsung di negara Barat
sekitar tahun 1800-an, dimana produsen mulai mendapatkan pesaing dan produksi yang
digunakan adalah produksi massal. Pemilihan terhadap produk akhir dilakukan dengan
melakukan inspeksi.

1
0
Perhatian produsen terhadap mutu sangat terbatas. Manajemen puncak sama sekali tidak
menaruh perhatian terhadap kualitas produk, dan tanggung jawab terhadap produk didelegasikan
pada departemen inspeksi/operasi dengan titik berat pada produk akhir sebelum dilepas ke
konsumen sehingga perbaikan terjadi ketika kesalahan telah terjadi.
c) Era Statistical Quality Control
Era ini dimulai pada tahun 1930 yang diperkenalkan oleh Walter A. Shewart. Jika pada zaman
inspeksi terjadi penyimpangan atribut produk yang dihasilkan dari atribut standar (terjadi cacat),
departemen tersebut tidak dapat mendeteksi apakah penyimpangan tersebut disebabkan karena
kesalahan pada produksi atau hanya karena kebetulan. Dengan demikian, informasi yang
diperoleh tidak dapat digunakan untuk melakukan perbaikan terhadap produksi untuk mencegah
hal serupa. Tetapi pada statistical quality control, departemen inspeksi dilengkapi dengan alat
dan metode statistic dalam mendeteksi adanya penyimpangan yang terjadi dalam produk yang
dihasilkan selama proses produksi. Data penyimpangan tersebut dapat diberitahukan kepada
departemen produksi sebagai dasar diadakannya perbaikan terhadap proses dan system yang
digunakan untuk mengolah produk. Para era ini, deteksi penyimpangan signifikan secara statistic
sudah mulai dilakukan sehingga kualitas produk sudah mulai dikendalikan departemen produksi.
Akan tetapi konsep kualitas masih terbatas pada atribut yang melekat pada produk yang sedang
dan telah diproduksi.
d) Era Quality Assurance
Di era ini, konsep mutu mengalami perluasan. Jika dulu hanya terbatas pada tahap produksi
kini mulai merambah ke tahap desain dan koordinasi dengan departemen jasa ( seperti bengkel,
energy, perencanaan dan pengendalian produksi, serta pergudangan ). Keterlibatan manajemen
dalam penanganan mutu produk mulai disadari pentingnya karena keterlibatan pemasok dalam
penentuan mutu produk memerlukan koordinasi dan kebijakan manajemen. Pada zaman ini
mulai diperkenalkan konsep mengenai biaya mutu, yaitu pengeluaran akan dapat dikurangi jika
manajemen meningkatkan aktifitas pencegahan yang merupakan hal yang lebih penting daripada
upaya perbaikan mutu atas penyimpangan yang sudah terlanjur terjadi.
e) Era Total Quality Management
Sejarah Perkembangan Total Quality Management banyak yang beranggapan bahwa TQM
berasal dari Jepang, mengingat konsep TQM banyak dipengaruhi perkembangan-perkembangan
di Jepang. Kekalahan Jepang pada perang dunia II, membangkitkan budaya Jepang dalam
membangun sistem kualitas modern. Hadirnya pakar kualitas W. Edward Deming di Jepang pada
tahun 1950 membuat para ilmuwan dan insinyur Jepang lebih bersemangat dalam membangun
dan memperbaiki sistem kualitas. Keberhasilan yang cukup pesat perusahaan Jepang di bidang

1
1
kualitas menjadi perhatian perusahaan-perusahaan di negara maju lainnya. Perusahaan kelas
dunia kemudian mempelajari apa yang pernah diraih oleh perusahaan Jepang dalam
mengembangkan konsep kualitas. Hasil studi perusahaan-perusahaan industri kelas dunia ini
menunjukkan bahwa keberhasilan perusahaan Jepang ini salah satunya menerapkan apa yang
dikenal dengan Total Quality Management (TQM). Tokoh yang di kenal luas dalam TQM ini
adalah Edward Deming. Beliau mengajarkan teknik-teknik pengendalian kualitas di U.S. War
Department, serta mengajarkan mata kuliah mengenai kualitas kepada ilmuan, insinyur, dan
eksekutif perusahaan Jepang. Berawal dari sinilah TQM berkembang pesat di negara Sakura ini.
Hanya sayangnya mereka tidak terbiasa dengan hal itu, dan mereka akan senang jika kejadian
semacam itu dapat dicegah. Berawal dari situlah orang Jepang dalam memproduksi barang
sangat memperhatikan pelanggan. Produk barang/jasa yang dihasilkan sesuai dengan keinginan
pelanggan sama persis seperti yang dilaporkan penjual.
Sekarang telah menjadi kenyataan, bahwa produk dari Jepang yang dulunya dikenal sebagai
produk rongsokan dan imitasi murahan dari produk Barat, kini justru sebaliknya menjadi produkproduk yang berkualitas tinggi dan berkembang pesat di didunia. Perusahaan-perusahaan Jepang
menyadari bahwa pada masa mendatang adalah kualitas.
Sejak pertengahan tahun 70-an, barang-barang manufaktur Jepang, seperti mobil dan produkproduk elektronika mulai mendominasi perdagangan dunia karena kualitas yang dihasilkan sudah
melampaui kualitas yang dihasilkan pesaingnya dari Amerika dan Eropa. Begitu pula dalam
beberapa industri kunci, misal mesin industri, baja, otomotif, industri Barat mulai tergeser. Aspek
perhatian atau penekanan Amerika sejak Perang Dunia II, yakni pada aspek kuantitas dan kurang
memperhatikan kualitas menjadi penyebab kegagalan bersaing dengan perusahaan Jepang.
Dalam era ini, keterlibatan manajemen puncak sangat besar dan menentukan dalam
menjadikan kualitas untuk menempatkan perusahaan pada posisi kompetitif. System ini dapat
didefinisikan sebagai sistem manajemen strategis dan integratif yang melibatkan semua manajer
dan karyawan, serta menggunakan metode-metode kualitatif dan kuantitatif untuk memperbaiki
secara berkesinambungan proses-proses organisasi agar dapat memenuhi dan melebihi
kebutuhan, keinginan, dan harapan pelanggan.
TQM mencakup semua fungsi dalam manajemen. Desain, perencanaan, produksi, pemasaran,
pengembangan sumber daya, pengelolaan keuangan yang baik, distribusi, dan pelayanan. Ukuran
keberhasilan TQM merupakan kepuasan pelanggan, dan cara mencapainya terutama melalui
desain system dan peningkatan terus-menerus. TQM pada prinsipnya adalah cara mengorganisasi
dan mengerahkan seluruh organisasi, setiap departemen, setiap aktifitas, dan setiap individu
untuk mencapai kualitas.

1
2
BAB II
KESIMPULAN DAN SARAN
Konsep tentang manajemen kualitas lahir dari tuntutan konsumen terhadap produk
berkualitas. Diawali di sektor manufaktur, ternyata kebutuhan akan manajemen kualitas juga
mendesak untuk diterapkan di industri konstruksi. Dengan sejumlah karakteristik unik yang
membedakan antara industri manufaktur dan konstruksi, sehingga diperlukan sedikit modifikasi
agar penerapan prinsip - prinsip manajemen kualitas dapat dilakukan dengan sempurna di
Industri konstruksi dan industri lainnya.
Kesimpulan :
Hasil studi perusahaan-perusahaan industri kelas dunia ini menunjukkan bahwa
keberhasilan perusahaan,

salah satunya menerapkan apa yang dikenal dengan Total

Quality Management (TQM).


TQM mencakup semua fungsi dalam manajemen. Desain, perencanaan, produksi,
pemasaran, pengembangan sumber daya, pengelolaan keuangan yang baik, distribusi, dan
pelayanan.
Saran :
Dengan berfokus kepada mutu maka perusahaan akan semakin meningkatkan kinerja
produksinya. Kinerja produksi yang tinggi membuat tingginya produktifitas, rendahnya
biaya garansi atau cacat produksi. Hal ini kemudian membuat biaya manufaktur yang
rendah dan biaya servis yang kecil pula sehingga berdampak sangat besar dalam
penghematan biaya.

1
3

Daftar pustaka
Ardiansyah, R,(2010), Perkembangan Konsep Quality control, (online)
(http://ronymedia.wordpress.com/2010/06/19/perkembangan-konsep-quality-control, diakses 12
Februari

2011)M.N. Nasution (2010) Manajemen Mutu Terpadu. Edisi kedua.Ghalia Indonesia, Bogor.