Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat dan
hidayahNya karena, dalam penyelesaian makalah ini, yang Berjudul AksiomaAksioma Geometri Incidence dapat terselesaikan dengan baik sebagai tugas mata
kuliah Sistem Geometri.
Kami telah banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu,
pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan terima kasih kepada :
Ibu MIDRAWATI, S.Pd, M.M., selaku dosen yang telah memberikan
bimbingan,arahan,serta saran dalam pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan penulis
berharap kritik dan saran dari pihak yang peduli terhadap makalah ini agar
menjadi bahan perbaikan dikemudian hari. Akhir kata,semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi yang membaca. Terimakasih.

Rantauprapat, 27 September 2016

KELOMPOK II

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................1
DAFTAR ISI.........................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................3
I.

LATAR BELAKANG...............................................................................3

II.

RUMUSAN MASALAH .........................................................................3

III.

TUJUAN PENULISAN............................................................................3

BAB II PEMBAHASAN
1. UNSUR-UNSUR TAK TERDEFINISI..........................................................4
2. AKSIOMA-AKSIOMA DALAM SISTEM AKSIOMA INCENDENCE......4
3. GEOMETRI INCEDENCE............................................................................5
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................12

BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar belakang
Kata Geometri berasal dari bahas Yunani (greek) yang berarti
ukuran bumi. Maksudnya mencakup segala sesuatu yang ada di bumi.
Geometri kuno sebagian dimulai dari pengukuran praktis yang diperlukan
untuk pertanian orang-orang Babylonia dan Mesir. Kemudian geometri
orang-orang Babylonia dan Mesir ini diperluas untuk perhitungan panjang
ruas garis, luas dan volume. Hasil-hasli ini sering dinyatakan sebagai deret
arotmetika yang secara empiris tidak benar .
Pada bagian ini, kita akan membahas beberapa geometri dengan
sejmlah kecil aksioma dan teorema serta hanya mempunyai sejumlah
berhingga titik. Geometri ini disebut dengan geometri finite atau geometri
berhingga.
II.

Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Geometri Incidence ?
2. Aksioma-aksioma dan teorema apa saja yang terdapat pada Geometri
Incidence ?

III.

Tujuan Penulisan
1. Mengetahui yang dimaksud dengan Geometri Incidence.
2. Mengetahui Aksioma-aksioma dan teorema apa saja yang terdapat
pada Geometri Incidence.

BAB II
PEMBAHASAN

1.

Unsur-Unsur Tak Terdefenisi

Untuk membangun sebuah geometri diperlukan unsur-unsur tak


terdifinisi. Unsur- unsur tak terdifinisi ini kita sebut:
a. Titik
b. Himpunan titik-titik yang kita namakan garis
c. Himpunan titik-titik yang kita namakan bidang
Jadi ada 3 unsur tak terdifinisi yaitu: titik, garis dan bidang. Ketiga unsur
ini dikaitkan satu sama lain dengan sebuah sistem aksioma yaitu sistem aksioma
insidensi.
2.

Aksioma-Aksioma dalam Sistem Aksioma Incedence

Ada enam buah aksioma yaitu:


1. Garis adalah himpunan titik-titik yang mengandung paling sedikit dua
titik
2. Dua titik yang berlainan terkandung dalam tepat satu garis
3. Bidang adalah himpuan titik-titik yang mengandung paling sedikit
tiga titik yang tidak terkandung dalam satu garis ( tiga titik tak
segaris)
4. Tiga titik yang berlainan yang tak segaris terkandung dalam satu dan tidak
lebih dari satu bidang
5. Apabila sebuah bidang memuat dua titik berlainan dari sebuah garis,
bidang itu akan memuat setiap titik pada garis tersebut ( garis terletek
pada bidang)
6. Apabila dua bidang bersekutu pada sebuah titik maka kedua bidang itu
akan bersekutu pada titik kedua yang lain.

3. Geometri Incedence
Berikut ini akan dibahas suatu himpunan aksioma yang tidak secara
eksplisit menyatakan sejumlah finite titik atau garis.
Aksioma-aksiomanya digunakan untuk geometri finite dan geometri
infinite.
Sebagai undefined terms adalah titik, garis, pada.
Aksioma-aksioma dasar untuk geometri ini ada empat seperti disajikan berikut ini.
Aksioma-1 : Setiap dua titik berbeda pada tepat satu garis.
Aksioma-2 : Untuk setiap garis, minimal dua titik berbeda pada garis itu.
Aksioma-3 : Terdapat minimal 3 titik berbeda.
Aksioma-4 : Tidak semua titik segaris
Suatu geometri yang memenuhi ke empat aksioma di atas disebut Geometri
Incidence.
Contoh 1 :
Geometri empat titik adalah geometri Incidence. Hal ini dapat dilihat dari padanan
berikut ini.
Geometri Incidence

Geometri 4 titik

Aksioma-1

Aksioma-2

Aksioma-2

Aksioma-3

Aksioma-3

Aksioma-1

Aksioma-4

Aksioma-1, aksioma-2,aksioma-3.

Dapat dilihat bahwa aksioma-aksioma geometri Incidence semua dipenuhi oleh


aksima-aksioma geometri 4 titik. Karene itu geometri 4 titik merupakan geometri
Incidence.

Contoh 2 :
Geometri Fano dan Young adalah geometri Incidence. Bukti :
Geometri Fano dan Young

Geometri
Incidence

Aksioma-1
AksiomaAksioma-2,
3
aksioma-5

Aksioma4

Aksioma-4
Aksioma-2

Aksioma-3.

Aksioma-2
Dapat dilihat bahwa aksioma-aksioma geometri Incidence semua dipenuhi
oleh aksioma-aksioma geometri Fano dan Young. Karene itu geometri Fano dan
Young merupakan geometri Incidence.

1 Dari undefined terms dan aksioma-aksioma diturunkan beberapa teorema

- -

Geometri Incidence berikut ini.


Teorema 1 : Jika dua garis berbeda berpotongan maka perpotongannya pada tepat
satu titik.
Bukti:
Misalkan garis itu l dan m.
Jika l dan m berpotongan menurut definisi mereka berpotongan pada minimal satu
titik, sebut P.
Andaikan l dan m juga berpotongan di Q, maka melalui P dan Q terdapat garis
PQ, sehingga melalui P dan Q ada lebih dari garis. Kontrradiksi dengan aksioma 1
incidence.
Terbukti l dan m berpotongn pada tepat satu titik.
Teorema 2 : Untuk setiap titik terdapat minimal dua garis yang memuat titik itu.
Bukti:
Menurut aksioma 3

: Terdapat minimal 3 titik berbeda.

Menurut aksioma 4

: Tak semua titik seegaris.

Berarti untuk setiap titik P terdapat minimal satu garis yang tidak memuat P.
Menurut aksioma 2

: setiap garis memuat minimal 2 titik yang berbeda.

Sehingga garis yang tak memuat P tadi minimal memuat 2 titik berbeda.
Menurut aksioma 1

: P dan titik-titik pada garis tadi terdapat tepat 1

garis. Jadi di setiap titik P ada minimal 2 garis.


6

Teorema 3 : Terdapat tiga garis yang tidak bersekutu di satu titik.


Bukti:
Menurut aksioma 3 dan 4 berarti ada 3 titik yang tidak segaris. Jadi minimal ada 3
garis (aksioma 1) dan garis-garis ini tidak bersekutu di satu titik.
Teorema 4
Dua garis yang berbeda bersekutu atau berimpit pada paling banyak satu titik
Definisi:
Sebuah garis yang memuat titik A dan titik B yang terletak pada ujung lain disebut
garis AB.
Teorema 5
Apabila titik A tidak pada garis BC maka titik A, titik B, titik C berlainan dan
tidak kolinear.
Bukti:
Menurut ketentuan titik B ^ titik C . Andaikan titik A = titik B oleh karena B E BC
( B pada garis BC ), maka A E BC . Berlawanan dengan yang diketahui sehingga
pengumpamaan A = B adalah tidak benar. Maka haruslah A ^ B. Begitu pula
dengan cara yang sama A= C. Jadi A, B dan C berlainan.
Andaikan A, B dan C segaris, sehingga ada garis g yang memuat A, B dan C. Oleh
karena g memuat B dan C dan B ^ C maka g = BC jadi A E BC ini berlawan
dengan yang diketahui, sehinggga perumpamaan bahwa A, B dan C segaris tidak
benar. Ini berarti A, B dan C tidak kolinier.
Teorema 6
Sebuah garis dan sebuah titik yang tidak pada garis itu termuat tepat dalam satu
bidang
Bukti:
Andaikan titik A dan garis g dengan A g .( A tidak pada g ) Menurut aksioma
yang menyatakan Garis adalah himpunan titik-titik yang mengandung paling
sedikit dua titik maka ada dua titik berlainan misalkan B dan C pada g. Sehingga
g = BC. Jadi A BC. Menurut teorema yang menyatakan Apabila titik A tidak
pada garis BC maka titik A, titik B, titik C berlainan dan tidak kolinear

A, B, C berlainan dan tidak segaris, menurut aksioma yang menyatakan Tiga titik
yang berlainan yang tak segaris terkandung dalam satu dan tidak lebih dari satu
bidang" A, B dan C termuat dalam sebuah bidang V. Oleh karena B V, C V,
maka menurut aksioma yang menyatakan ""Apabila sebuah bidang memuat dua
titik berlainan dari sebuah garis, bidang itu akan memuat setiap titik pada garis
tersebut ( garis terletak pada bidang)", BC = g e V ( V memuat g ). Andaikan ada
bidang lain V yang memuat g dan A . Jadi V memuat pula B dan C . Ini bearti V
memuat A,B dan C . Menurut aksioma yang menyatakan ""Tiga titik yang
berlainan yang tak segaris terkandung dalam satu dan tidak lebih dari satu
bidang V = V . Ini berarti V satu-satunya bidang yang memuat g dan A.
Definisi
1.

Andaikan A g. Satu-satunya bidang yang memuat g dan A kita tulis

sebagai gA
2. Andaikan A,B dan C berlainan dan tak kolinear . Satu-satunya
yang memuat A, B dan C kita tulis sebagai bidang ABC.
Definisi
Dua garis l dan m dinamakan sejajar apabila:
1.

l dan m termuat dalam satu bidang

2.

l dan m tidak memiliki titik sekutu ( titik temu)

Teorema akibat:
Apabila l // m maka l dan m termuat dalam tepat satu bidang
Bukti :
Menurut definisi, ada sebuah bidang V yang memuat l dan m. Andaikan V juga
memuat l dan m ; andaikan A m , maka V dan V memuat l dan A . Menurut
Teorema 6 yang menyatakan ""Sebuah garis dan sebuah titik yang tidak pada
garis itu termuat tepat dalam satu bidang V = V

Teorema 7
Jika dua garis yang berbeda berpotongan, kedua garis itu termuat dalam tepat satu
bidang
Bukti:
Andaikan l dan m garis berbeda yang berpotongan tersebut ; andaikan A l dan A
m ( sebab l dan m berpotongan ). Menurut teorema 4 yang menyatakan Dua
garis yang berbeda bersekutu atau berimpit pada paling banyak satu titik", maka
ada B m dan B ^ A , B l . maka ada sebuah bidang V yang memuat l dan B .
Oleh karena V memuat l maka V memuat A, sehingga memuat m . Jadi V memuat
l dan m
Teorema 8
Apabila dua bidang yang berlainan berpotongan maka himpunan titik potongnya
adalah sebuah garis
Bukti:
Andaikan P dan Q dua bidang yang berbeda dan yang berpotongan, andaikan A
salah satu titik temunya jadi A P dan A Q , maka ada titik kedua B dengan B
P dan B Q, jadi AB C P dan AB C Q , ini berarti tiap titik AB memuat di P dan
di Q.
Akan dibuktikan P R Q = AB . Telah dibuktikan diatas bahwa AB C P R Q tinggal
membuktikan bahwa P R Q C AB .Andaikan C P R Q Andaikan C AB , oleh
karena AB dan C termuat dalam P dan dalam Q maka P = Q . Bertentangan
dengan yang diketahui jadi permisalan C AB tidaklah benar , sehingga C AB .
Ini berarti bahwa P R Q C AB. Oleh karena itu telah terbukti bahwa AB CP R Q maka
P R Q = AB.
Akibat:
Apabila ada garis g C V dan g C W, maka g = V R W
Definisi
Dua bidang V dan W disebut sejajar apabila V dan W tidak memiliki titik temu
(titik potong)

Teorema 9
Apabila bidang P sejajar bidang Q dan bidang R memotong bidang P dan bidang
Q maka himpunan P R R dan QR R adalah garis-garis yang sejajar
Bukti:
Pertama akan dibuktikan bahwa P R R dan Q R R adalah garis -garis. Untuk itu
dibuktikan bahwa P dan R berlainan dan Q dan R juga berlainan. Andaikan P=R .
Oleh karena R memotong Q maka ini berarti P memotong Q . Ini tak mungkin jadi
haruslah P ^ R , ini berarti P R R adalah sebuah garis l. Begitu pula Q R R adalah
sebuah garis m ; l dan m termuat dalam satu bidang yaitu R, andaikan l dan m
berpotongan, misalnya l R m = A maka A P dan A Q . Jadi P dan Q bertemu di A
; tak mungkin terjadi karena P // Q. Jadi l dan m terletak pada satu bidang dan
tidak memiliki titik temu. Ini berarti l //m.
Definisi
1.

Apabila garis-garis gi, g2,...., gn bertemu pada satu titik dinamakan garis

gi, g2,, gn kongruen.


2.

Apabila bangun geometri B1s B2, ..., Bn terletak pada satu bidang ; kita

namakan bangun-bangun itu sebidang atau koplanar.


Teorema 10
Apabila tiap dua garis dari sekelompok tiga garis koplanar, akan tetapi tidak
bertiga koplanar maka ketiga garis itu konkuren atau tiap dua garis diantaranya
sejajar Bukti:
Andaikan tiga garis itu l, m dan n ; andaikan l, m di bidang P , m, n dibidang Q
dan l ,n di bidang R . Akan dibuktikan P, Q, R berlainan. Andaikan P = Q maka
l,m,n sebidang, ini tak mungkin, jadi haruslah P ^ Q , begitu pula Q ^ R dan P ^
R , oleh karena itu maka P R Q = m , Q R R = n, P R R = l, andaikan l R m = A dan A
l ,maka A R dan A P . Oleh karena A m maka A P dan A Q . Jadi A Q
dan A R ini berarti bahwa A n. Sehingga apabila dua garis diantara l,m dan n
berpotongan maka tiga garis itu kongruen. Apabila tiap dua garis diantara l, m,
dan n tidak berpotongan, dan tiap dua garis itu sebidang, maka tiap dua garis
tersebut sejajar.

10

Teorema akibat
Apabila l //m dan A tidak terletak dalam bidang yang memuat l dan m, maka ada
garis tunggal n yang memuat A sehingga n //l dan n //m
Bukti:
Ada bidang P yang memuat l dan A dan ada bidang Q yang memuat m dan A,
maka P ^ Q sebab A tidak terletak pada bidang yang memuat l dan m, andaikan P R
Q = n, maka n // l dan n // m.
Dibuktikan n tunggal. Andaikan n garis lain yang memuat A dan n // l dan n // m
maka n dan l sebidang dibidang R. Maka R harus memuat l dan A . Jadi R = P .
Jadi n C P begitu juga n C Q , sehingga n = n

1 Kesejajaran pada Geometri Incidence

- -

Aksima-aksioma incidence tidak secara eksplisit menyatakan keberadaan garisgaris sejajar. Nampak bahwa Geometri Fano adalah model geometri incidence
yang tidak mempunyai garis-garis sejajar. Hal ini menunjukkan bahwa eksistensi
garis-garis sejajar tidak dapat dideduksi dari aksioma-aksioma. Geometri Young
adalah geometri incidence yang mempunyai garis-garis sejajar, hal ini dapat
dilihat (merupakan akibat) dari aksioma limanya.
Jika l suatu garis dan P sebarang titik tidak pada l, maka terdapat tiga
kemungkinan (alternatif) untuk aksioma kesejajaran, sebagai berikut:
1)

Tidak ada garis yang melalui P sejajar l.

2)

Ada tepat satu garis melalui P sejajar l.

3)

Ada lebih dari satu garis melalui P sejajar l.

Geometri incidence yang memenuhi alternatif ke-1 atau ke-3 disebut Geometri
Non Euclide.

DAFTAR PUSTAKA

11

12

Anda mungkin juga menyukai