Anda di halaman 1dari 18

NAMA

: AYU REHANA

NPM

: 1502090117

PRODI

: HESy B
BAB 3
ILMU ASBAB AL-NUZUL

A. Pengertian Ilmu Asbab Al-Nuzul


Al-Quran diturunkan Allah Swt kepada Muhammad Saw secara berangsur-angsur
dalam masa lebih kurang selama 23 tahun. Al-Quran diturunkan untuk memperbaiki akhlak,
ibadah, akidah, dan pergaulan manusia yang sudah menyimpang dari kebenaran. Karena itu
dapat dikatakan bahwa terjadinya penyimpangan dan kerusakan dalam pergaulan kehidupan
manusia merupakan sebab turunnya Al-Quran. Maka dapat dikatakan ini merupakan sebab
umum turunnya Al-Quran.
Secara etimologi Asbab Al-Nuzul adalah sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya
sesuatu. Tetapi dalam pemakaiannya, ungkapan Asbab al-Nuzul khusus dipergunakan untuk
menyatakan sebab-sebab yang melatarbelakangi turunnya Al-Quran.
Menurut terminologi Asbab al-Nuzul telah dirumuskan oleh para ulama, antara lain:
1. Menurut Al-Zarkani tentang Asbab al-Nuzul adalah

Asbabal-Nuzul adalah hal khusus atau sesuatu yang terjadi serta hubungan dengan
turunnya ayat Al-Quran yang berfungsi sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa itu
terjadi.
2. Menurut Subhi Salih bahwa Asbab al-Nuzul adalah:

Asbab al-Nuzul adalah sesuatu yang menjadi sebab satu ayat atau beberapa ayat AlQuran yang terkadang menyiratkan suatu peristiwa, sebagai respon atasnya atau
sebagai penjelas terhadap hukum-hukum ketika peristiwa itu terjadi.
3. Sedangkan Manna Al-Qaththan mengatakan bahwa Asbab al-Nuzul adalah peristiwaperistiwa yang menyebabkan turunnya Al-Quran, berkenaan dengannya suatu peristiwa
itu terjadi, baik berupa satu kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi.

4. Selanjutnya menurut pendapat yang lain juga mengatakan bahwa Asbab al-Nuzul adalah
kejadian atau peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat Al-Quran, dalam rangka
menjawab, menjelaskan, dan menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dari kejadian
terebut.
Dari beberapa pendapat di atas memberikan pemahaman bahwa sebab turunnya suatu
ayat adakalanya berbentuk peristiwa dan adakalanya berbentuk pertanyaan. Suatu ayat atau
beberapa ayat turun untuk menerangkan hal yang berhubungan dengan peristiwa tertentu atau
memberi jawaban terhadap pertanyaan tertentu.
Persoalan mengenai apakah seluruh ayat Al-Quran memiliki Asbab al-Nuzul atau
tidak, ternyata telah menjadi bahan kontroversi di antara para ulama. Sebagian ulama
berpendapat bahwa tidak semua ayat Al-Quran memiliki Asbab al-Nuzul. Pendapat tersebut
hampir menjadi kesepakatan para ulama. Akan tetapi, sebagian berpendapat sebagian ulama
menganggap bahwa semua ayat Al-Quran memiliki sebab-sebab yang melatarbelakangi
turunnya ayat. Pendapat ini melihat kesejarahan Arabia pra-Quran pada masa turunnya AlQuran merupakan latar belakang makro Al-Quran, sedangkan riwayat-riwayat Asbab alNuzul merupakan latar belakang mikronya.

B. Urgensi Asbab al-Nuzul


Urgensi pengetahuan Asbab al-Nuzul dalam memahami Al-Quran yang diperlihatkan
oleh para ulama salaf ternyata mendapat dukungan dari para ulama khalaf. Yang menarik
untuk dikaji adalah pendapat Fazlur Rahman yang menggambarkan Al-Quran sebagai
puncak dai sebuah gunung es. Sembilan persepuluh dari bagiannya terendam di bawah
perairan sejarah, dan hanya sepersepuluhnya yang dapat dilihat. Ia lebih lanjut menegaskan
bahwa sebagian besar ayat Al-Quran sebenarnya mensyaratkan perlunya terhadap situasisituasi historis khusus, yang memperoleh solusi, komentar dan tanggapan dari Al-Quran.
Dalam uraian yang lebih rinci, Az-Zarqani mengemukakan urgensi Asbab al-Nuzul
dalam memahami Al-Quran yaitu:
1. Membantu dan memahami sekaligus mengatasi ketidakpastian dalam menangkap pesan
ayat-ayat Al-Quran.
2. Mengatasi keraguan ayat yang diduga mengandung pengertian umum.
3. Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam ayat Al-Quran bagi ulama yang
berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah sebab yang bersifat khusus dan bukan
lafaz yang bersifat umum.

4. Mengidentifikasikan pelaku yang menyebabkan turunnya ayat Al-Quran.


5. Memudahkan untuk menghafal dan memahami ayat, serta untuk memantapkan wahyu ke
dalam hati orang yang mendengarnya.

C. Macam-macam Asbab al-Nuzul


Dilihat dari sudut pandang redaksi yang digunakan dalam riwayat Asbab al-Nuzul, ada
dua jenis Asbab al-Nuzul, yaitu:
1. Redaksi Sharih (Jelas)
Artinya, riwayat yang sudah jelas menunjukkan Asbab al-Nuzul, dan tidak mungkin
menunjukkan yang lainnya.
2. Muhtamilah (Kemungkinan / Belum Jelas)
Menurut Al-Zarkasyi, Sebagaimana diketahui, telah menjadi kebiasaan para sahabat
Nabi dan Tabiin, jika seorang di antara mereka berkata, Ayat ini diturunkan berkenaan
dengan ... maka yang dimaksud adalah ayat itu, mencakup ketentuan hukum tentang ini
atau itu, dan bukan bermaksud menguraikan sebab turunnya ayat.
Dilihat dari sudut pandang berbilangnya Asbab al-Nuzul untuk satu ayat atau
berbilangnya ayat untuk satu Asbab al-Nuzul.
1. Berbilangnya Asbab al-Nuzul untuk satu ayat
Tidak setiap ayat memiliki riwayat Asbab al-Nuzul dalam satu versi. Adakalanya satu
ayat memiliki beberapa versi riwayat Asbab al-Nuzul. Bentuk variasi itu terkadang
terdapat dalam redaksinya dan terkadang pula dalam kualitasnya. Untuk mengatasi variasi
riwayat Asbab al-Nuzul dalam satu ayat dari sisi redaksi, para ulama mengemukakan cara
sebagai berikut:
a. Tidak Mempermasalahkannya
Variasi riwayat Asbab al-Nuzul ini tidak perlu dipermasalahkan karena dimaksud oleh
setiap variasi itu hanyalah sebagai tafsir belaka dan bukan sebagai Asbab al-Nuzul.
Hal ini berbeda bila ada indikasi jelas yang menunjukkan bahwa salah satunya
memaksudkan Asbab al-Nuzul. Cara ini ditempuh apabila variasi riwayat Asbab alNuzul ini menggunakan redaksi muhtamilah (tidak pasti).
b. Mengambil versi riwayat Asbab al-Nuzul yang tidak menggunakan redaksi sharih

Cara ini digunakan bila salah satu versi riwayat Asbab al-Nuzul itu tidak
menggunakan redaksi sharih (pasti). Umpamanya riwayat Asbab al-Nuzul yang
menceritakan kasus seorang lelaki yang menggauli istrinya dari belakang.
c. Mengambil versi riwayat yang shahih (valid)
Cara ini digunakan apabila seluruh riwayat itu menggunakan redaksi sharih (pasti),
tetapi kualitas salah satu tidak sahih.
Sedangkan terhadap variasi riwayat Asbab al-Nuzul dalam satu ayat yang versinya
berkualitas, para ulama mengemukakan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Mengambil versi riwayat yang shahih
Cara ini diambil bila terdapat dua versi riwayat tentang Asbab al-Nuzul satu ayat,
yang salah satu versi berkualitas shahih, sedangkan yang lainnya tidak.
b. Melakukan studi selektif (tarjih)
Langkah ini diambil bila kedua versi Asbab al-Nuzul yang berbeda-beda itu
kualitasnya sama-sama shahih, seperti Asbab al-Nuzul yang berkaitan dengan
turunnya ayat tentang ruh. Sebagai contoh, versi Asbab al Nuzul yang dikeluarkan
oleh al-Bukhari dari Ibn Masud mengatakan:

Aku berjalan bersama Rasulullah di Madinah aam beliau dalam keadaan bertekan
pada pelepah kurma. Ketika beliau melewati sekelompok orang yahudi. Sebagian
dari mereka berkata kepada sebagian yang lainnya. Alangkah baiknya bila kalian
menanyakan sesuatu kepadanya (Muhammad).kemudian mereka berkata, Ya
Muhammad, terangkan kepada kami tentang ruh. Nabi berdiri sejenak sambil
mengangkat kepala, (saat itu pun) aku tahu bahwa beliau sedang menerima wahyu.
Dan beliau pun membacanya. Katakanlah, permasalahan ruh adalah sebagian dari
urusan Tuhanku. Dan tidak diberikan kepada kamu ilmu, kecuali sedikit saja.
Dalam versi Asbab al-Nuzul yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Turmudzi dari Ibn
Abbas disebutkan:

Orang-orang Quraisy berkata kepada orang-orang yahudi, berikan kepada kami


tentang sesuatu yang akan ditanyakan kepada lelaki ini (Nabi).mereka
menjawab ,Bertanyalah kepadanya tentang ruh.mereka pun bertanya tentangnya
kepada Nabi. Maka Allah menurunka: (dan mereka bertanta kepadamu tentang roh.
Katakanlah roh itu termasuk urusan Tuhanku).
Mayoritas ulama lebih mendahulukan hadits Bukhari dari pada hadits Turmudzi
karena hadits Bukhari lebih unggul (rajah). Sedangkan hadits Turmudzi tidak unggul
(marjuh). Alasan yang dikemukakan mareka adalah bahwa Ibn Masud menyaksikan
kejadian di atas, sedangkan Ibn Abbas hanya mendengarnya dari orang lain. Dalam
kasus di atas, Al-Suyuthi berkomentar sebagai berikut:
studi tarjih telah menyimpulkan bahwa riwayat Bukhari dipandang lebih shahih dari
pada riwayat Turmudzi, karena Ibn Masud menghadiri kejadian di atas..
c. Melakukan Studi Kompromi (Jama)
Langkah ini diambil bila kedua riwayat yang kontradiktif sama-sama memiliki
kesahihan hadits sederajat dan tidak mungkin dilakukan tarjih. Dua kejadian itu
berdekatan masanya sehingga mudah mengkompromikan keduanya.
Kalau kedua versi riwayat Asbab al-Nuzul itu sahih atau tidak sahih atau tidak dapat
dilakukan studi tarjih dan jama, maka hendaklah kita anggap ayat itu diturunkan
berulang kali. Dalam istilah ilmu Al-Quran hal itu dapat disebut berulangnya turun
ayat (taaddud an-nuzul)
2. Variasi ayat untuk satu sebab
Terkadang suatu kejadian dapat menjadi sebab bagi turunnya dua ayat atau lebih. Dalam
Ulum Al-Quran hal ini disebut dengan istilah Taaddud Nazil wa As-Sabab Al-Wahid
(terbilang yang turun, sedangkan sebab turunnya satu).

D. Cara Mengetahui Riwayat Asbab al-Nuzul

Al-Quran turun pada zaman Rasulullah Saw. Oleh karena itu tidak boleh ada jalan lain
untuk mengetahui sebab-sebab turunnya selain berdasarkan periwayatan (Pentransmisian)
yang benar dari orang-orang yang melihat dan mendengar langsung turunnya ayat Al-Quran.
Ulama salaf sangatlah keras dan ketat dalam menerima berbagai riwayat yang berkaitan
dengan Asbab al-Nuzul. Ketetatan mereka itu dititikberatkan pada seleksi pribadi si pembawa
riwayat (rawi), sumber riwayat (isnad), dan redaksi berita (matan).
Akan tetapi, sikap kekritisan mereka tidak dikenakan terhadap materi Asbab al-Nuzul
yang diriwayatkan oleh sahabat Nabi. Mereka berasumsi bahwa apa yang dikatakan sahabat
Nabi, yang tidak masuk akal dalam pangan penukilan dan pendengaran, maka dapat
dipastikan bahwa ia mendengar ijtihadnya sendiri.
Berkaitan dengan Asbab al-Nuzul, ucapan seorang tabi tidak dipandang sebagai hadits
marfu, kecuali bila diperkuat oleh hadits mursal lainnya, yang diriwayatkan oleh salah
seorang imam tafsir yang dipastikan mendengar hadits dari Nabi.

BAB 4
ILMU NASIKH MANSUKH

Secara umum maqashid al-tasyri adalah untuk kemaslahatan manusia. Dalam proses
pengimplementasiannya kepada manusia tidak dapat dielakkan dari adanya proses nasakh
mansukh terhadap beberapa hukum terdahulu yang diganti dengan hukum yang sesuai
dengan realitas khidupan pada zaman, waktu dan kemaslahatan manusia, proses tersebut
dikenal dengan nasikh mansukh.
Proses nasikh mansukh terjadi karena Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur
sesuai dengan peristiwa yang mengiringinya. Untuk mengetahui Al-Quran dengan baik maka
harus mengetahui ilmu nasikh mansukh dalam Al-Quran. Hal ini seperti yang dikemukakan
oleh Imam Jalaluddin al-Suyuthi bahwa, Seseorang tidak akan dapat menafsirkan Al-Quran
dengan baik tanpa mengetahui nasakh mansukh.

A. Pengertian
Ulama berbeda pendapat tentang bagaimana cara menghadapi ayat-ayat yang sepintas
menunjukkan adanya gejala kontradiksi. Dari itulah munculnya pembahasan tentang nasakh
mansukh dalam Al-Quran.
Nasakh mansukh dalam Al-Quran diungkap sebanyak empat kali, yakni dalam surah
Al-Baqarah ayat 106:

Artinya: ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa
kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya.
tidakkah kamu mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?.
Al-Araf ayat 154:

Artinya: sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat)
itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut
kepada Tuhannya.
Al-Hajj ayat 52:




Artinya: dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasulpun dan tidak (pula)
seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan
godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh
syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha
Bijaksana
Al-Jatsiyah ayat 29

Artinya: (Allah berfirman): "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu
dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan".
Untuk mengtahui ada tidaknya nasikh mansukh dalam Al-Quran, maka perlu dipahamis
secara mendetail pengertian ilmu nasikh mansukh baik secara bahasa maupun istilah.
1. Pengertian Nasakh Secara Bahasa
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai makna nasakh secara
etimologi. Karena memang kata tersebut memiliki makna yang lebih dari satu. Nasakh dapat
berarti al-Izalah artinya menghilangkan atau meniadakan.
Kata nasakh juga berarti Al-Tahwil artinya pengalihan. Seperti, pengalihan bagian
harta warisan. Maksudnya perpindahan harta warisan dari seseorang kepada orang lain. Kata
nasakh juga berarti Al-Tabdil artinya mengganti atau menukar sesuatu dengan yang lain.
Selanjutnya kata nasakh juga berarti al-Naql artinya menyalin, memindahkan atau
mengutip apa yang ada dalam buku.

2. Pengertian Nasakh Secara Istilah


Secara istilah nasakh dapat dikategorikan pada dua kategori, yaitu kategori menurut
ulama Mutaqaddimin dan ulama Mutaakhirin.
a. Mutaqaddimin
Menurut ulama mutaqaddimin, nasakh adalah:

Mengangkat hukum syari (menghapuskan) hukum syara dengan dalil hukum (kitab)
syara yang lain.
Misalnya, dikeluarkannya hukum syari dengan berdasarkan kitab syara dari seseorang
karena dia mati atau gila. Contoh tentang hukum waris yang dinasakhkan oleh hukum
wasiat ibu bapak dan karib kerabat. Masalah tersebut terdapat dalam surah al-Nisa ayat 11

Artinya: Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anakanakmu....


Ayat tersebut yang dinasakh oleh surat Al-Baqarah ayat 180 yang berbunyi:


Artinya: diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tandatanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan
karib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.
Contoh lain, menurut ulama mutaqaddimin, adalah terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat
183 yang berbunyi:


Artinya: ....sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa,
Ayat tersebut yang dinasakh oleh surat Al-Baqarah ayat 187 yang berbunyi:


Artinya: Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteriisteri kamu...
Dengan demikian, tampak dengan gamblang bahwa ulama mutaqaddimin memberikan
batasan pengertian bahwa nasakh adalah sebagai dalil syari yang ditetapkan kemudian.
Jadi tidak hanya bagi ketentuan hukum yang mencabut dan membatalkan ketentuan
(hukum) yang sudah berlaku sebelumnya atau mengubah ketentuan hukum yang sudah
dinyatakan pertama berakhir masa berlakunya, sejauh hukum tersebut tidak dinyatakan
berlaku terus menerus. Pengertian nasakh menurut kelompok ini mencakup pengertian
pembatasan (qayyad) terhadap pengertian bebas (mutaallaq), pengkhususan terhadap

yang umum, pengecualian, syarat, dan sifat. Ini berlaku mulai abad kesatu sampai abad
ketiga hijriyah.
Ada diantaranya mereka yang beranggapan bahwa suatu ketetapan hukum yang
ditetapkan oleh suatu kondisi tertenu telah menjadi mansukh apabila ada ketentuan lain
akibat adanya kondisi lain. Sebagai contoh, tentang peristiwa sabar untuk menahan diri
pada periode Mekah di saat kaum Muslimin lemah dianggap telah dinasakh oleh perintah
atau izin berperang pada periode Madinah, sebagaimana ada yang beranggapan bahwa
ketetapan hukum Islam yang membatalkan hukum yang berlaku pada masa pra-Islam
merupakan bagian dari pengertian nasakh.
b. Mutaakhirin
Pengertian nasakh menurut ulama mutaakhirin diantaranya adalah sebagaimana
diungkapkan Quraish Shihab: Nasakh terbatas pada ketentuan hukum yang datang
kemudian, guna membatalkan, mencabut atau menyatakan berakhirnya pemberlakuan
hukum yang terdahulu hingga ketentuan hukum yang ada yang ditetapkan berakhir.
Dari pengertian yang dikemukakan Quraish Shihab di atas dapat disimpulkan bahwa
dalam nasakh diperlukan syarat sebagai berikut:
a. Hukum yang mansukh adalah hukum syara
b. Dalil penghapusan hukum tersebut adalah kitab Syari yang datang lebih kemudian
dari kitab yang hukumnya mansukh.
c. Kitab yang mansukh hukumnya tidak dibatasi dengan waktu tertentu.
Adapun manfaat nasakh mansukh adalah agar pengetahuan tentang hukum tidak menjadi
kacau dan kabur.

3. Pengertian Nasikh
Menurut bahasa nasikh berarti sesuatu yang menghapuskan, menghilangkan, atau yang
memindahkan atau yang mengutip/ menyalin serta mengubah dan mengganti. Jadi hampir
sama dengan pengertian nasakh menurut bahasa seperti yang telah diterangkan di atas.
Bedanya, nasakh itu kata masdar. Sedangkan nasikh ini isim dan fail sehingga berarti
pelakunya.
Pengertian nasikh menurut istilah ada dua macam:

a. Nasikh ialah hukum syara atau dalil syara yang menghapuskan/ mengubah hukum/ dalil
syara yang terdahulu dan menggantinya dengan ketentuan hukum baru yang di
bawahnya. Nasikh yang tersebut di atas itu adalah tidak menurut arti yang hakiki,
melainkan secara majas atau menurut arti pinjaman atau alasan.
b. Nasikh itu ialah Allah Swt. Artinya, bahwa sebenarnya yang menghapus dan mengganti
hukum-hukum syara itu pada hakikatnya ialah Allah Swt. Tidak ada yang lain sebab
dalam hukum syara itu hanya dari Allah Swt tidak dari yang lain, dan juga tidak diubah
atau diganti oleh yang lain, hal ini sesuai dengan keterangan Al-Quran.

4. Pengertian Mansukh
Mansukh menurut bahasa, berarti sesuatu yang dihapus/ dihilangkan/ dipindah ataupun
disalin/ dinukil, sedangkan menurut istilah para ulama. Mansukh adalah hukum syara yang
diambil dari dalil syara yang pertama yang belum diubah dengan dibatalkan dan digantikan
dengan hukum dari dalil syara baru yang akan datang kemudian.
Tegasnya, dalam mansukh itu adalah ketentuan hukum syara pertama yang telah
diubah dan digantikan dengan yang baru. Karena, adanya perubahan situasi dan kondisi yang
menghendaki perubahan dan penggantian hukum tadi.

5. Persamaan dan Perbedaan Nasakh dan Takhshihs


Nasakh itu pada dasarnya berarti mengubah dan menghapuskan sesuatu dengan
ketentuan hukum syara, lalu menggantikannya dengan ketentuan yang baru. Sedangkah
takhshish itu pada prinsipnya hanya sekedar membatasi keumuman lafal atau menentukan
artinya:
a. Persamaan Nasakh dan Takhshish
1) Tampaknya, nasakh itu seolah-olah sama seperti takhshish. Karena sama-sama
membatasi sesuatu ketentuan hukum dengan batasan waktu dengan takhshish dengan
batasan materi.
2) Nasakh sama dengan takhshish dalam hal sama-sama membatasi berlakunya sesuatu
ketentuan hukum syara.
Nasakh menghapus dan mengganti ketentuan hukum-hukum syara, sedangkan
takhshish membatasi keumuman jangkauan hukum syara.
3) Dalil yang menasakh sama dengan dalil yang menasakh sama dengan dalil yang
menakhshish yaitu sama-sama berupa dalil syara.

b. Perbedaan Nasakh dan Takhshish


1) Lafal am (umum) setelah ditakhshish/dibatasi, akan menjadi samar jangkauannya,
karena bentuknya masih tetap umum tetapi jangkauannya sudah terbatas.
2) Sehingga sudah tidak bisa diketahui secara pasti lagi apa saja yang masih dijangkau
oleh lafal yang telah ditakhshish itu.
3) Ketentuan hukum yang dikecualikan dengan takhshish sudah sejak semula memang
tidak dikehendaki sama sekali. Sedangkan ketentuan hukum yang dihapuskan dengan
nasakh mulanya dikehendaki dan diberlakukan untuk beberapa saat lamanya.
4) Nasakh itu membatalkan kehujjahan hukum yang dimansukh, sedangkan takhshish
tidak membatalkan, melainkan hanya membatasi jangkauannya saja. Sedangkan
ketentuan hukumnya tetap berlaku bagi yang tidak dikecualikan dengan pembatasan.
5) Nasakh itu tidak dapat terjadi, kecuali dalam Al-Quran dan sunnah, sedangkan
takhshish bisa saja terjadi dalam Al-Quran dan sunnah tersebut.
6) Nasakh yaitu dalil nasikhnya harus datang kemudian setelah ketentuan dari dalil yang
pertama itu berlaku lebih dahulu lalu dihapuskan.
B. Syarat-syarat Nasakh
Dari paparan pengertian nasakh menurut bahasa dan istilah dapat disimpulkan bahwa
untuk adanya nasakh itu disyaratkan 4 hal, sebagai berikut:
1. Hukum yang dinasakh harus berupa hukum syara bukan hukum lain. Seperti hukum akal
atau hukum buatan manusia. Yang dimaksud hukum syara adalah titah Allah Swt. (dan
sunnah Rasulullah Saw.) yang berhubungan dengan perbuatan orang Mukalaf, baik secara
kewajiban atau melarang atau menyuruh memilih.
2. Dalil yang menghapuskan hukum syara itu harus berupa dalil syara tidak boleh berupa
dalil akal. Yang dimaksud dengan dalil syara/syari ialah dalil Al-Quran, hadis, ijmak
dan kias. Hal ini sesuai dengan (QS. An-Nisa ayat 39).



Artinya: Apakah kemudharatannya bagi mereka, kalau mereka beriman kepada Allah
dan hari kemudian dan menafkahkan sebahagian rezki yang telah diberikan Allah kepada
mereka ? dan adalah Allah Maha mengetahui Keadaan mereka.
3. Adanya dalil baru yang menghapus ini setelah ada tenggang waktu dari dalil hukum yang
pertama. Maksudnya, antara dalil yang menetapkan hukum dengan dalilnya yang

menghapuskannya itu harus ada tenggang waktu beberapa saat setelah dalil pertama itu
datang dan berlaku, baru kemudian datang dalil baru yang mengubah dan
menggantikannya.
4. Antara dua dalil nasikh dan mansukh atau antara dalil I dan dalil II itu harus ada
pertentangan yang nyata yang betul-betul kontradiktif dan paradok, sehingga benar-benar
tidak dapat dikompromikan/ditemukan, sebab nasakh itu adalah keadaan yang terpaksa
sebagai jalan keluar/pemecahan masalah yang kontras yang tidak dapat diatasi, kecuali
dengan ketentuan baru yang baru datang.

C. Cara Mengetahui Nasakh dan Urgensinya


Cara untuk mengetahui nasakh dan mansukh dapat dilihat dengan cara-cara sebagai
berikut:
1. Keterangan tegas dari Nabi atau sahabat, seperti hadis yang berbunyi:

Aku (dulu) pernah melarangmu berziarah ke kubur, sekarang Muhammad telah


mendapat izin untuk menziarahi ke makam ibunya, kini berziarahlah kamu ke kubur.
Sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan pada hari akhir. (Muslim, Abu Daud, dan
Tirmizi).
2. Kesepakatan umat tentang menentukan bahwa ayat ini nasakh dan ayat itu mansukh.
3. Mengetahui mana yang lebih dahulu dan kemudian turunnya dalam perspektif sejarah.
Nasakh tidak dapat diterapkan berdasarkan ijtihad, pendapat mufassir atau keadaan
dalil-dalil yang secara lahir tampak kontradiktif, atau terlambatnya keislaman seseorang dari
dua perawi.
Ketiga-tiga persyaratan tersebut merupakan faktor yang sangat menentukan adanya
nasakh dan mansukh dalam Al-Quran. Jadi, berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami
bahwa nasakh mansukh hanya terjadi dalam lapangan hukum dan tidak termasuk
penghapusan yang bersifat asal (pokok).
Selanjutnya pentingnya pembahasan nasakh dapat dilihat dari beberapa hal sebagai
berikut:
1. Pembahasan masalah ini panjang. Permasalahannya, banyak cabang dan rantingnya serta
sukar jalannya. Sebab pembahasan nasakh menyangkut status hukum Islam, sehingga

banyak permasalahan lain yang tersangkut dengannya. Sehingga sukar untuk


mengupasnya.
2. Pembahasan nasakh itu menyangkut berbagai masalah rumit yang menjadi pangkal
perselisihan dari para ulama ahli Ushul Fiqih, ahli tafsir, ahli fiqih dan lain-lain.
3. Karena musuh-musuh Islam baik kaum atheis, missionaris, ataupun kaum orientalis yang
telah menggunakan masalah tersebut sebagai senjata beracun untuk mencerca syariat
Islam dan mengotori kesucian Al-Quran.
4. Dengan mengulas nasikh mansukh itu maka sejarah pensyariatan hukum-hukum Islam
(Taarikh al-Tasyri) akan dapat terungkap.
5. Dengan membahas nasakh dapat diketahui bahwa Nabi Muhammad Saw bukanlah yang
menyusun Al-Quran yang berdaya guna dan tepat guna, sehingga tepat pula keberlakuan
dan penghapusannya.
6. Mengetahui nasakh itu merupakan sarana yang sangat utama dalam memahami hukum
Islam dan memanfaatkan petunjuk-petunjuknya, terutama kalau terdapat dua dalil yang
membahas satu ketentuan hukum tetapi isi yang satunya bertentangan dengan isi ayat
yang lain, sehingga tidak bisa dipahami dan diamalkan jika tidak dapat diketahui mana
yang lebih dahulu masuk sebagai yang di nasakh dan mana yang kemudian sebagai
mansukh.

D. Macam-macam Nasakh dan Jenisnya


Macam-macam nasakh yang terjadi dalam Al-Quran, sebagai berikut:
1. Nasakh tilawah dan hukum. Ini artinya bahwa hukumnya telah dinasakh dan ayatnya juga
telah dinasakh. Misalnya tentang nikah mutah. Rasulullah membolehkan mutah dengan
perintah Allah pada tahun penaklukan Mekah, kemudian melarangnya dengan tegas pada
masa perang Khaibar, yaitu pada bulan Shafar tahun ke-7 Hijriah.
2. Nasakh hukum, tilawahnya tetap. Maksudnya hukumnya telah dinasakh tetapi ayatnya
tetap masih ada. Misalnya surat al-Nisa ayat 11.




Artinya: Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu.
Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan;
dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga
dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia
memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya
seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika
orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja),
Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa
saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas)
sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang)
orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang
lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya
Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
3. Nasakh tilawah hukumnya tetap. Maksudnya adalah ayatnya telah dinasakh dan
hukumnya masih ada. Misalnya ayat rajam yang berbunyi:

Nasakh yang terjadi dalam Al-Quran ada empat, sebagai berikut:


a. Nasakh Al-Quran dengan Al-Quran (Naskh Al-Quran bi Al-Quran).
Jenis nasakh pertama ini telah disepakati oleh seluruh orang yang menyetujui nasakh
mengenai kebolehannya terjadinya nasakh.
Contoh: Ayat 12 surah Al-Mujadilah yang berbunyi:





Artinya: Hai orang-orang beriman, apabila kamu Mengadakan pembicaraan khusus
dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin)
sebelum pembicaraan itu. yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika
kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) Maka Sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat tersebut telah dinasakhkan dengan ayat 13 surah Al-Mujadilah:





Artinya: Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan
sedekah sebelum Mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada
memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu Maka dirikanlah shalat,
tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha mengetahui
apa yang kamu kerjakan.
b. Nasakh Al-Quran dengan Sunnah Naskh Al-Quran bi Al-Sunnah).
Terbagi menjadi dua:
1) Nasakh Al-Quran dengan Sunnah Ahad
2) Nasakh Al-Quran dengan Sunnah Mutawatir
c. Nasakh Sunnah dengan Al-Quran (Nasakh Sunnah bi Al-Quran)
Nasakh ini menghapuskan hukum yang ditetapkan berdasarkan sunah diganti dengan
hukum yang didasarkan dengan Al-Quran. Nasakh jenis ini diperbolehkan oleh
Jumhur Ulama tetapi ditolak oleh Imam Syafii. Menurutnya apa yang ditetapkan
Sunnah tentu didukung dengan ayat Al-Quran. Ini karena antara Al-Quran dan alSunnah harus sejalan dan tidak bertentangan.
Contoh: berpuasa wajib pada hari Asy-Syura yang ditetapkan berdasarkan sunnah
riwayat Bukhari-Muslim dari Asiyah r.a.
d. Nasakh Sunnah dengan Sunnah (Nasakhal-Sunnah bial-Sunnah). Yaitu hukum yang
ditetapkan berdasarkan dalil sunnah dinasakh dengan dalil sunnah pula, terdiri dari:
1) Nasakh Mutawatir dengan Mutawatir
2) Nasakh Ahad dengan Ahad
3) Nasakh Ahad dengan Mutawatir
4) Nasakh Mutawatir dengan Ahad

E. Hikmah Allah Mengadakan Nasakh


Setelah diketahui berbagai aspek nasakh, perlu dijelaskan apa hikmahnya Allah Swt
mengadakan nasakh.

Hikmah nasakh secara umum:


1. Untuk menunjukkan bahwa syariat agama Islam adalah syariat yang paling sempurna.
2. Selalu menjaga kemaslahatan hamba agar kebutuhan mereka senantiasa terpelihara.
3. Untuk menjaga agar perkembangan hukum Islam selalu relevan dengan semua situasi dan
kondisi umat yang mengamalkan.
4. Untuk menguji orang mukallaf.
5. Untuk menambah kebaikan dan pahala bagi hamba yang selalu setia mengamalkan
hukum-hukum perubahan.
Hikmah nasakh dengan pengganti yang lebih ringan.
Kebanyakan nasakh adalah pengganti sesuatu ketentuan lain yang lebih ringan. Hikmah
nasakh yang demikian ini adalah untuk memberi dispensasi kepada umat manusia agar
mereka bisa mengenyam kemurahan Allah Swt, seperti yang telah diterangkan di muka.

F. Pendapat Para Ulama Tentang Nasakh dan Mansukh


Ada tidaknya nasakh mansukh dalam Al-Quran sejak dahulu diperdebatkan para
ulama. Adapun sumber perbedaan pendapat tersebut adalah berawal dari pemahaman mereka
tentang ayat:


......

Artinya: .... kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat
pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. Al-Nisa : 82)
Kesimpulan ayat di atas mengandung prinsip yang diyakini kebenarannya oleh setiap
muslim namun mereka berbeda pendapat dalam menghadapi ayat-ayat Al-Quran yang secara
Zahir menunjukkan kontradiksi.
Ada dua pendapat ulama yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Nasakh secara Logika Bukan secara Syara
Nasakh dapat terjadi menurut logika, tetapi tidak secara syara. Apabila ada ayat yang
secara sepintas dinilai kontradiksi tidak diselesaikan dengan jalan nasakh, tapi dengan
jalan takhshish. Bagi ulama yang menolak nasakh beranggapan bahwa pembatalan hukum
yang telah diturunkan Allah adalah mustahil.
2. Nasakh secara logika dan syara

Sebagai alternatif dalam menghadapi ayat yang kelihatannya memiliki kontradiksi, maka
di antara ulama ada yang mengakui adanya nasakh dan mansukh dalam Al-Quran.
Pendapat ini dianut oleh jumhur ulama.