Anda di halaman 1dari 43

TUGAS KATALIS DAN KATALISIS

BIOMASSA DARI PRODUK SAMPING PABRIK SAWIT

OLEH:
JOSUA SUGANDI SIREGAR
1407111776

PROGRAM SARJANA TEKNIK KIMIA S1


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar belakang
Bahan bakar minyak merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam

kehidupan. Bahan bakar yang di gunakan selama ini berasal dari minyak mentah yang
di ambil dari perut bumi, sedangkan minyak bumi merupakan bahan bakar yang tidak
dapat di perbaharui, sehingga untuk beberapa tahun kedepan diperkirakan masyarakat
akan mengalami kekurangan bahan bakar. Pada dasawarsa 70-an dan sebelumnya,
minyak dan gas bumi telah memainkan peran penting dalam menyumbang devisa
bagi negara dan menjadi andalan ekspor di Indonesia. Keadaan ini tidak dapat lagi
dipertahankan pada dasawarsa 90-an. Bahkan pada abad 21 sekarang ini Indonesia
diperkirakan akan menjadi net importer bahan bakar fosil (Kartasamita, 1992).
Melihat hal ini, sudah saatnya untuk mengembangkan berbagai energi alternatif yang
dapat diperbaharui.
Selain itu, tingkat pemakaian bahan bakar terutama bahan bakar fosil di dunia
juga semakin meningkat seiring dengan semakin bertambahnya populasi manusia dan
meningkatnya laju industrialisasi di berbagai negara di dunia. Hal tersebut
menimbulkan kekhawatiran terjadinya krisis bahan bakar. Di samping itu kepedulian
manusia terhadap lingkungannya memunculkan pemikiran penggunaan energi
alternatif yang bersih (Afifi, 2007).
Pada saat ini, 85 persen dari produksi komersial energi masih berbasis bahan
bakar fossil. Meskipun peranan bahan bakar fosil masih akan sangat penting, namun
pengaruhnya secara berangsur-angsur akan diambil alih oleh sumber-sumber energi
baru dan terbarukan.
Biomassa (bahan organik) merupakan hasil produksi dari makhluk hidup.
Biomassa dapat berasal dari tanaman perkebunan atau pertanian, hutan, peternakan
atau bahkan sampah. Karena kandungan hidrokarbon yang dimiliki senyawanya,
biomassa dapat digunakan untuk menyediakan panas, membuat bahan bakar, dan
membangkitkan listrik. Biomassa yang digunakan untuk memproduksi bio-oil dapat

diperoleh dari limbah pertaniaan, hutan, perkebunan, industry dan rumah tangga.
Negara-negara tropis Indonesia umumnya memiliki biomasa yang berlimpah. Sekitar
250 milyar ton per-tahun dihasilkan dari biomassa hutan dan limbah pertaniaan.
Limbah pertaniaan secara umum berasal dari perkebunaan kelapa sawit, tebu, kelapa
serta sisa panen dan yang lainnya yang mencapai kira-kira 40 milyar ton pertahun.

BAB II
ISI
2.1.

Klasifikasi Bahan Bakar


Bahan bakar merupakan suatu materi di mana apabila dipanaskan pada suhu
tertentu disertai oksidasi dengan oksigen (O 2) akan terjadi proses pembakaran.
Produk hasil proses pembakaran ada tiga, yaitu; radiasi panas, emisi gas buang dan
abu. Berdasarkan formasi dan proses pembentukannya bahan bakar dapat
diklasifikasikan menjadi beberapa macam, antara lain;
1. Berdasarkan materi pembentuknya, bahan bakar dapat diklasifikasikan menjadi
dua, yaitu:
a. Bahan bakar berbasis bahan organik, yang terdiri dari:

Bahan bakar fosil, misalnya: batubara, minyak bumi dan gas bumi.

Bahan bakar terbarukan (biofuel), misalnya; biomassa, biogas,


biodiesel, bioetanol yang berbasis pada minyak nabati dan hewani.

Bahan bakar organik tersusun dari unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H),
nitrogen (N), oksigen (O), sulfur (S), dan lain-lain dalam jumlah kecil. Dari beberapa
unsur kimia pembentuk bahan bakar tersebut, unsur C, H, dan S merupakan
kandungan utama yang berperan sebagai bahan bakar.

Bahan bakar nuklir, misalnya;uranium dan plutonium. Energi yang dihasilkan dari
reaksi rantai penguraian atom-atom melalui peristiwa peluruhan radioaktif.
2. Berdasarkan wujudnya, bahan bakar dibagi menjadi tiga, yaitu; Bahan bakar padat,
bahan bakar cair, dan Bahan bakar gas.
3.

Berdasarkan proses pembentukannya, bahan bakar dibagi menjadi dua, yaitu;


Bahan bakar alamiah dan bahan bakar non-alamiah.

2.2.

Biomassa dari Produk Samping Pabrik Kelapa Sawit


Biomassa merupakan bahan bakar organik yang terbentuk dari zat-zat organik
yang disusun oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis (dengan bantuan energi
matahari). Biasanya bahan bakar jenis ini diklasifikasikan ke dalam bahan bakar
padat yang memiliki unsur kimia antara lain: zat arang atau karbon (C), hidrogen (H),
zat asam atau oksigen (O), zat lemas atau nitrogen (N), belerang (S), abu dan air,
yang semuanya itu terikat dalam satu persenyawaan kimia. Salah satu bahan bakar
padat alternatif yang digunakan sebagai sumber energi adalah biomassa.
Biomassa merupakan materi turunan organisme hidup seperti tumbuhtumbuhan. Sebagai contoh pupuk, sampah, dan serbuk gergaji, yang semuanya itu
merupakan sumber biomassa. Biomassa merupakan sumber energi terbarukan yang
meliputi banyak karbon yang tidak sama dengan sumber-sumber alamiah lain seperti
bahan bakar minyak, batubara dan bahan bakar nuklir.

Biomassa sawit termasuk dalam kategori bahan bakar padat yang


mengandung dua komponen utama, yaitu; komponen dapat terbakar (combustible)
dan komponen tak dapat dibakar (uncombustible). Komponen dasar yang tak dapat
terbakar adalah air (water) dan abu (ash) dan bahan yang dapat dibakar adalah gas
dan karbon. Perbedaan utama antara biomassa dengan batu bara adalah bahwa
kandungan volatile matter pada biomassa relatif lebih banyak dibanding batu bara
dan kandungan abu pada biomassa lebih sedikit dibanding batu bara.
Dalam penelitian ini biomassa yang digunakan sebagai bahan bakar adalah
serat buah kelapa sawit (mesocarp). Serat buah sawit merupakan limbah padat dari
industri pengolahan kelapa sawit. Persentase serat buah sawit dalam satu ton tandan
buah segar (TBS) yang diolah sekitar 18% (Guthrie Plantation and Agriculture
service, 1995)
Seperti diketahui bahwa untuk membangkitkan uap guna mendukung kegiatan
proses produksi di pabrik kelapa sawit (PKS) diperlukan sejumlah energi yang
diperoleh dari proses pembakaran biomassa sawit. Pada umumnya biomassa sawit
yang digunakan sebagai bahan bakar untuk keperluan tersebut adalah serat buah sawit
(mesocarp). Serat tersebut diperoleh dari mesin screw press setelah buah sawit
mengalami proses pengempaan. Menurut kharakteristiknya, biomassa serat buah
sawit memiliki kadar air antara 3050% dengan nilai kalor 4.278 Cal/gr (17.911,13
kJ/kg) dan kandungan volatile matter (VM) sekitar 71,47% serta kandungan karbon
(C) 44,97% (Pusat Penelitian Kelapa Sawit, 2007).

2.3.

Proses Pembakaran
Pembakaran merupakan reaksi kimia cepat antara oksigen dan bahan bakar
pada suhu tertentu, yang disertai pelepasan suatu kalor. Berdasarkan kondisinya,
pembakaran dibagi menjadi tiga, yaitu; pembakaran spontan, pembakaran sempurna
dan pembakaran parsial. Sebelum proses pembakaran berlangsung, terlebih dahulu
bahan bakar dinaikkan suhunya hingga titik bakarnya tercapai (flash point).
Penguraian dan oksidasi dimulai pada suhu yang rendah ke suhu tinggi. Jika bahan
bakar mengandung unsur oksigen dan zat penguap (volatile matter) yang tinggi maka
suhu penguraian dan oksidasi akan semakin rendah.
Pada proses pembakaran biomassa, 80% energi yang dilepaskan dalam bentuk
gas yang mudah terbakar dan sisanya dalam bentuk karbon. Oleh karena itu, selama
proses pembakaran sangat penting untuk mempertahankan agar oksigen dapat selalu
dijaga dalam kontak dengan bahan bakar dan gas-gas yang terbentuk ketika
pembakaran berlangsung pada suhu penyalaannya. Kontak yang baik antara bahan
bakar dengan oksigen akan menghasilkan proses pembakaran secara cepat dan
komplit, sehingga diperoleh efisiensi pembakaran yang relatif tinggi.
Jika bahan bakar dalam bentuk gas, maka pencampuran reaktan (oksigen dan
bahan bakar) dapat dicapai secara optimal karena substansi gas-gas tersebut dapat
dengan mudah dicampur secara cepat dan tepat sesuai dengan rasio kebutuhan udara
yang diperlukan. Proses pembakarannya pun mungkin dapat terjadi secara cepat, dan
kemudian pengontrolannya pun juga lebih cepat terutama dalam penambahan atau

pengurangan bahan bakar maupun oksigen yang diperlukan. Supaya proses


pembakaran bahan bakar biomassa juga dalam situasi yang sama dengan proses
pembakaran gas alam, maka bahan bakar biomassa yang dioksidasi perlu direduksi
ukurannya menjadi partikel-partikel lebih kecil dari kondisi awalnya.
Proses pembakaran pada bahan bakar pada pada umumnya dibagai menjadi 3
tahap, antara lain;
1. Proses pengeringan
2. Proses devolatilisasi
3. Proses pembakaran karbon
Pada saat biomasa dipanasi, kandungan air di dalam bahan bakar sedikit demi
O

sedikit mulai menguap pada suhu antara 90 100 C. Kandungan air yang dilepaskan
dari bahan bakar biomasa tersebut kemudian mengalir keluar bersama dengan gas
O

buang melalui cerobong. Pada suhu antara 140 400 C terjadi proses devolatilisasi
yang akan melepaskan gas-gas pembentuk unsur biomassa (volatile). Gas-gas tersebut
kemudian dioksidasi dengan udara sekunder dan akan melepaskan kalor hingga
O

suhunya mencapai 800 1.026 C (De Souza and Santos, 2004). Proses pembakaran
tersebut terjadi secara sinambung mengikuti ketiga reaksi di atas.
Sebagaimana diketahui bahwa pembakaran adalah proses oksidasi dimana
oksigen diberikan dengan mengikuti rasio udara berlebih terhadap massa bahan bakar
agar diperoleh reaksi pembakaran yang komplit. Reaksi utama dari proses
pembakaran antara karbon dengan oksigen akan membentuk karbon monoksida (CO)
dan karbon dioksida (CO2). Karbon dioksida merupakan produk pembakaran yang

memiliki temperatur rendah. Oksidasi karbon monoksida ke karbon dioksida hanya


dapat terbentuk jika memiliki sejumlah oksigen yang seimbang. Kandungan CO yang
tinggi mengindikasikan proses pembakaran tidak komplit dan ini harus seminimal
mungkin dihindari, karena:
a. CO adalah gas yang dapat dibakar. Kandungan CO yang tinggi akan
menghasilkan efisiensi pembakaran yang rendah
b. Dapat menyebabkan gangguan bau (odour)
c. Bila konsentrasi gas CO sangat tinggi mempunyai resiko yang tinggi bagi
makhuk hidup dan lingkungan sekitarnya.
Emisi gas CO2 di atmosfer sangat problematik, sejak kehadiran CO2 menjadi
pertimbangan utama dalam kasus efek pemanasan global maka keberadaan CO 2 saat
ini mulai dipertimbangkan lagi. Selama proses pembakaran bahan bakar biomasa gas
CO2 yang dikeluarkan akan segera diikat kembali oleh tanaman selama proses
pertumbuhannya berlangsung. Hal ini dapat terjadi karena CO 2 yang dihasilkan dari
proses pembakaran biomasa adalah CO2 netral berbeda dengan bahan bakar fosil.
Selama proses pembakaran biomassa juga akan menghasilkan gas metan
(CH4) yang merupakan komponen dasar dari gas alam. CH 4 mempunyai kontribusi
yang besar terhadap efek pemanasan global, bahkan lebih kuat 21 kali dari pada CO 2.
Keberadaan CH4 di atmosfer dapat mencapai jangka waktu 12 tahun sebelum
akhirnya terdegradasi secara alami. Beberapa gas lainnya juga akan dihasilkan dari
reaksi oksidasi antara oksigen dengan komponen bahan bakar seperi oksida-oksida

nitrogen, yaitu; NO, N2O, dan NO2. Pada beberapa literatur menyebutkan bahwa
jumlah oksida nitrogen diperoleh dari dua sumber, yaitu; panas dan udara.
Untuk mendapatkan proses pembakaran secara komplit diperlukan sejumlah
udara pembakaran yang cukup untuk mengoksidasi unsur-unsur pembentuk biomassa.
Jumlah kebutuhan udara untuk keperluan oksidasi bahan bakar biomassa dapat
ditentukan berdasarkan persentase kandungan unsur-unsur pembentuknya. Komposisi
unsur senyawa bahan bakar dapat diketahui melalui analisis proksimasi (analisis
pendekatan) dan analisis ultimasi (analisis tuntas).
2.3.1. Analisis Proksimasi (Proximate)
Analisa ini dilakukan pada bahan bakar padat yang didasarkan pada sifatnya
yang dapat/ mudah menguap atau membentuk gas (volatile), yaitu:
a. Fixed carbon
Merupakan bahan bakar padat yang tertinggal dalam reaktor pembakaran
setelah bahan yang mudah menguap didestilasi. Kandungan utamanya adalah
karbon tetapi juga mengandung hidrogen, oksigen, sulfur dan nitrogen yang
tidak terbawa gas. Fixed carbon memberikan perkiraan kasar terhadap nilai
panas bahan bakar.
b. Volatile matter
Bahan yang mudah menguap dalam bahan bakar seperti; metan, hidrokarbon,
hidrogen, karbon monoksida, dan gas-gas yang tidak mudah terbakar (karbon
dioksida dan nitrogen). Bahan yang mudah menguap merupakan indeks dari

kandungan bahan bakar bentuk gas di dalam bahan bakar. Kandungan bahan
yang mudah menguap pada biomasa berkisar antara 60 80 %. Hal inilah
menjadi alasan utama mengapa arang di dalam karung terlihat lebih ringan bila
dibandingkan dengan volume yang tampak. Arang karbon mempunyai volume
asli yang lebih ringan dari pada biomasa dalam keadaan normal (sebelum
dibakar). Ini dapat terjadi karena 80 % dari pembentuknya (volatile matter)
telah hilang terdevolatilisasi pada saat proses gasifikasi. Kandungan volatile
yang tinggi pada bahan bakar menandakan bahwa jumlah persentase udara
pembakaran secara umum harus lebih banyak diberikan pada bagian atas
tumpukan bahan bakar (secondary air), dimana gas-gas yang telah
terdevolatilisasi tersebut akan dibakar, dan tidak di bawah tumpukan bahan
bakar (primary air).
c. Kadar abu
Abu merupakan kotoran yang tidak akan terbakar. Kandungan abu pada bahan
bakar biomasa relatif lebih sedikit dibandingkan dengan bahan bakar batu
bara, yaitu; berkisar antara 1 % - 6 %. Bahan bakar biomasa juga mengandung
kadar garam yang mempunyai peranan penting dalam proses pembakaran.
Kandungan utamanya adalah potassium (K) dan sebagian sodium (Na), di
mana kandungan garam dasar tersebut menghasilkan abu yang bersifat
lengket. Hal ini yang biasanya banyak ditemui pada beberapa kasus pada
boiler menyebabkan deposit pada permukaan boiler.

d. Kadar air
Kandungan air yang tinggi di dalam bahan bakar biomasa dapat menurunkan
efisiensi proses pembakaran dan menurunkan kandungan panas per kg bahan
bakar.
Berdasarkan hasil analisis proksimasi dan ultimasi, karakteristik bahan bakar
biomassa dari limbah padat pengolahan kelapa sawit disajikan seperti tampak pada
Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Karakteristik Bahan Bakar Biomassa dari Limbah Padat Kelapa Sawit
Parameter Analisis
(Dried Sample)

Jenis Biomassa
Tandan Kosong
Sawit

Serat

Cangkang

Unit

Basis

Standard Acuan :
International
Standard / ASTM

Moisture In Air(M)

9,38

9,35

9,76

adb

ASTM D.3173

Ash(A)

5,38

3,87

1,19

adb

ASTM D.3174

Volatile Matter(VM)

68,47

71,47

69,95

adb

ISO D.562

Fixed Carbon (FC)

16,77

15,31

19,10

adb

ASTM D.3172

Nilai Kalor

4469

4278

4515

Cal/gr

adb

ASTM D.5865

Carbon (C)

46,50

44,97

45,74

adb

ASTM D.3178

Hydrogen(H)

7,13

6,99

5,54

adb

ASTM D. 3179

Nitrogen(N)

0,89

0,45

0,25

adb

ASTM D. 3179

Total Sulfur(S)

0,21

0,14

0,09

adb

ASTM D. 3177

Oxygen(O)

39,89

43,58

47,19

adb

ASTM D. 3176

Chlorine(Cl)

0,17

trace

Trace

adb

ASTM D.2361

True Spesific Gravity (TSG )

1,42

1,48

1,42

PROKSIMASI

ULTIMASI

Sumber: PPKS (2007)

ASTM D.167

2.3.2. Analisis Ultimasi (Ultimate)


Analisis ini bertujuan untuk menentukan berbagai macam unsur kimia seperti
karbon, hidrogen, oksigen, sulfur, dll. Analisis ini berguna dalam penentuan jumlah
udara yang diperlukan untuk pembakaran dan menentukan volume gas pembakaran.
Informasi ini diperlukan untuk perhitngan suhu nyala dan perancangan saluran gas
buang dan lain-lain. Data analisis ini meliputi:
a. Karbon (C).
b. Hidrogen (H).
c. Nitrogen (N)
d. Oksigen (O), dan
e. Sulfur (S).
Setelah dilakukan analisis, maka dapat dihitung jumlah udara pembakar yang
dibutuhkan untuk melakukan pembakaran sempurna. Perhitungan ini dapat dihitung
melalui pendekatan stoikiometri. Air Fuel Ratio (AFR) merupakan perbandingan
massa udara yang ada selama proses pembakaran. Ketika semua bahan bakar
bergabung dengan udara bebas, campuran tersebut berdasarkan reaksi kimia
setimbang dan perbandingan AFR ini disebut dengan campuran stoikiometri.
Campuran stoikiometri ini dapat terjadi jika jumlah oksigen dalam campuran
tepat untuk bereaksi dengan C, H, dan S membentuk CO2, H2O dan SO2. Secara teori
campuran stoikiometri harus mempunyai cukup udara untuk melakukan pembakaran

sempurna dari bahan bakar yang tersedia. Namun, pada prakteknya hampir tidak
pernah tercapai, karena beberapa kondisi yang tidak ideal.
Lambda

()

dapat

digunakan

sebagai

sua

Lambda

()

merupakan

ukuranstoikiometriuntuktersebutmengetah berperan dalam campuran. Suatu campuran dikatakan


campuran kaya bahan bakar,
bila lamda>1, sedangkan() campuran dikatakan k
Sementara itu, campuran dikatakan ideal atau sesuai dengan stoikiome1 (Kenneth, 2005). Jika
jumlah lamda sama dengan 1 maka dikatakan setimbang, jika kurang dari 1 disebut campuran kental
dan jika lebih besar dari 1 disebut campuran miskin.

Hubungan langsung antara lambda () da harga lambda () yanglambdatelah ()dikethasilhui,


pe terhadap AFR stoikiometri untuk bahan bakar yang dimaksud. Untuk memperoleh
harga lamda ()dari nilai (F/A), dapat dihitung melalui pembagian F/A terhadap AFR
stoikiometri. Biasanya lamda untuk bahan bakar biomassa sekitar 1,4 1,6
(Davidson, 2006). Persamaan reaksi ini dapat ditulis dengan:

= (F / A)
(F / A)
stoikiomteri

Dimana;
F = Jumlah bahan bakar (kg)
A = Udara pembakaran (kg)

... (2.1)

Untuk melakukan pembakaran diperlukan kalor, besarnya kalor yang


dibutuhkan disebut dengan nilai kalor (calorific value). Jumlah nilai kalor yang
dibutuhkan oleh setiap bahan bakar berbeda-beda tergantung dari titik nyalanya (flash
poin). Nilai kalor juga dapat didefenisikan sebagai panas total yang diberikan saat
bahan bakar yang digunakan terbakar sempurna dengan oksigen bebas. Nilai kalor
dibagi menjadi dua bagian yaitu:
a. Nilai kalor atas
Nilai kalor atas disebut juga GHV (gross heating value), GCV (gross calorific
value) atau HHV (higher heating value), yaitu; kalor laten yang dihasilkan dari
uap air yang dapat digunakan untuk tujuan-tujuan yang berguna yang
ditambahkan ke dalam nilai kalor bawah. Nilai HHVdapat dicari melalui
persamaan Dulong (Muin, 1988), berikut;
HHV = 33.950C+144.200 [H2-(O2/8)]+9.400S .. (2.2)
Dimana,
HHV

= Nilai kalor atas (higher heating value) (kJ/kg)

= Kandungan karbon dalam bahan bakar (%)

H2

= Kandungan hidrogen dalam bahan bakar (%)

O2

= Kandungan oksigen dalam bahan bakar (%)

S = Kandungan sulfur dalam bahan bakar (%)


b. Nilai kalor bawah
Nilai kalor bawah disebut juga NCV (net calorific value), NHV (net heating
value) atau LHV (lower heating value), yaitu; kalor yang dihasilkan saat nilai
kalor bahan bakar ditentukan, mengingat bahwa air dalam bentuk uap. Nilai
LHVdapat dicari melalui persamaan Dulong (Muin, 1988), berikut;

(2.3)

LHV = HHV 2.400 (M + 9H2) ...


Dimana,
LHV
HHV
M
H2

2.4.

= Nilai kalor rendah (low heating value) (kJ/kg)


= Nilai kalor atas (higher heating value) (kJ/kg)
= Kandungan air dalam bahan bakar (%)
= Kandungan hidrogen dalam bahan bakar (%)

Perbandingan Udara Bahan Bakar (Air Fuel Ratio)


2.4.1. Perbandingan Udara Bahan Bakar Teoritis
Perbandingan udara bahan bakar teoritis atau stoikiometri menunjukkan
kebutuhan udara minimum untuk pembakaran sempurna suatu bahan bakar.
Perbandingan ini dapat dinyatakan dalam bentuk massa udara/massa bahan bakar,
mol udara/mol bahan bakar, ataupun dalam bentuk volume udara/volume bahan
bakar. Perbandingan ini dapat ditentukan dengan analisis ultimasi begitu terbakar.
Perbandingan ini dihitung dengan membuat kesetimbangan massa oksigen pada
reaktan dapat terbakar (karbon, hidrogen dan sulfur).
Perbandingan udara bahan bakar teoritis ditulis dengan persamaan:
A

Massa O
=

yang dibutuhkan dari udara per kg bahan bakar


2

0,232
teoretis

Dimana;
F = Jumlah bahan bakar (kg)
A = Udara pembakaran (kg)
Faktor 0,232 merupakan fraksi massa oksigen dalam udara.

.. (2.4)

2.4.2. Perbandingan Udara Bahan Bakar Aktual


Angka perbandingan antara udara dan bahan bakar aktual untuk suatu proses
pembakaran umumnya ditaksir dari pengukuran eksperimental komponen-komponen
gas di dalam gas buang. Gas buang dapat dianalisis dengan menggunakan peralatan
orsat. Untuk menentukan perbandingan antara udara dan bahan bakar aktual pada
waktu membakar suatu bahan bakar maka analisis ultimasi dan analisis orsat sangat
diperlukan. Setelah analisis gas buang dengan menggunakan gas analyser dan
analisis ultimasi diketahui, maka perbandingan antara udara dan bahan bakar aktual
dapat dihitung melalui persamaan:

(% N 2

)(28 )
)(12

(%CO +%CO

)
2

0,768

F
aktual

(2.5)

Dimana :
A
F

=Perbandingan udara bahan bakar aktual (p


aktual

Cb

= Massa karbon yang sebenarnya terbakar per satuan massa


bahan bakar.
Nf = Fraksi massa nitrogen dalam
bahan bakar (dari analisis
ultimasi).
0,768 = Fraksi massa nitrogen dalam udara.
Harga Cb dapat dihitung melalui persamaan:

C =C C
b

...... (2.6)

Dimana:
C

= Fraksi massa karbon dari analisis ultimasi begitu terbakar.

Cr =Fraksi massa bahan bakar karbon yang tak terbakar di dalam sisa.

Secara teoretis, oksigen dan karbon monoksida tidak dapat muncul secara serempak
dalam gas buang tetapi biasanya keduanya muncul dalam proses pembakaran aktual
disebabkan oleh pencampuran tak sempurna.
Apabila angka perbandingan antara udara dan bahan bakar aktual diketahui,
maka persentase kelebihan udara dapat dihitung. Persentase kelebihan udara
ditentukan melalui persamaan:
Persentase Kelebihan Udara =

(p ) d (

(0,01 ) d (

(2.7)

Dimana :
p

= Angka perbandingan udara bahan bakar aktual


d

2.5.

= Angka perbandingan udara bahan bakar teoretis

Proses Pembakaran Pada Tungku Pembakaran Fixed-bed

Boiler di pabrik kelapa sawit, pada umumnya menggunakan tungku


pembakaran jenis fixed-bed. Pada tungku ini, distribusi bahan bakar ke dalam ruang
pembakaran dilakukan secara overfeed. Udara pembakaran dialirkan melalui dua
buah saluran udara, yaitu saluran udara primer (primary air) yang terletak di bagian
bawah grate dan saluran udara sekunder (secondary air) yang terletak pada dinding
bagian atas grate di sisi kiri dan kanan dinding.
Tungku pembakaran jenis fixed-bed merupakan tungku pembakaran biomassa
menggunakan grate dengan model alas tetap atau tidak bergerak. Di mana bahan
bakar yang akan dibakar ditumpuk di atas alas dasar (bed) tungku pembakaran

(Gambar 2.1- 2.2). Pada tungku pembakaran fixed-bed terdapat susunan logam secara
memanjang yang berfungsi sebagai alas dasar bahan bakar. Material logam yang

mempunyai lubang dengan jarak tertentu tersebut berguna untuk memasukkan udara
dari bagian bawah tungku pembakaran. Jumlah bukaan lubang udara pada alas dasar
(bed) tungku pembakaran antara 20-40 % dari total luas area grate (Woodruff, 1984).

Gambar 2.1. Pengumpanan Bahan Bakar PadaReaktor Fixed-bed.


a) Wide grate, 1 in

b) Wide grate, 3 in

c) Coal Tupper grate

d) Sawdust grate

Gambar 2.2. Jenis Grate Pada Reaktor PembakaranFixed-bed.


Proses pengumpanan bahan bakar biomassa ke dalam ruang pembakaran di
boiler dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan bantuan peralatan mekanis (rotary
feeder) dan operator (Gambar 2.3).

Gambar 2.3. Metode Pengumpanan Bahan Bakar pada Reaktor Fixed-bed

Di pabrik kelapa sawit, proses pengumpanan bahan bakar pada umum


dilakukan dengan kombinasi dua cara tersebut di atas, yaitu secara mekanis dan
manual. Kebanyakan prosedur pengisian bahan bakar ke dalam ruang pembakaran
dilakukan dengan mengandalkan feeling dari seorang operator berdasarkan
indikator tekanan presure gauge boiler. Apabila tekanan kerja boiler turun maka
diberikan umpan bahan bakar secara banyak dan apabila bahan bakar yang
diumpankan berlebih maka operator boiler yang berada di bagian bawah akan
mengeluarkan sebagian bahan bakar yang berada di dalam boiler tersebut.
Cara pengisian bahan bakar yang dilakukan tanpa mempertimbangkan aspek
stoikiometri (memenuhi prinsip kesetimbangan campuran antara bahan bakar dan
udara) dapat menurunkan efisiensi pembakaran (karena boros bahan bakar). Proses
pembakaran tidak sempurna yang diindikasikan dengan konsumsi bahan bakar yang
boros akan memberikan dampak lain yang tidak kalah penting, yaitu penurunan
kualitas lingkungan akibat peningkatan emisi pembakaran di udara.
Umpan bahan bakar yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kelebihan
bahan bakar di dalam ruang pembakaran. Tumpukan bahan bakar yang melebihi
beban grate tersebut dapat menyebabkan bahan bakar sulit teroksidasi dengan baik
karena propagasi api menjadi lambat akibat padatnya bahan bakar. Jumlah beban
massa bahan bakar yang diumpankan ke dalam ruang bakar (grate) dapat ditentukan
dapat ditentukan melalui persamaan berikut ini (De Souza and Santos, 2004)
Grate load =

HHV fuel

A
grate

.(2.8)

Di mana:
HHV fuel

: Nilai kalor tinggi bahan bakar (J/kg)

A grate

: Luas permukaan grate (mm )

Penumpukan bahan bakar yang tidak terkontrol di atas grate ditambah dengan
kandungan air yang relatif tinggi serta kurangnya pasokan udara pembakaran di
dalam ruang pembakaran merupakan suatu kombinasi yang sangat kuat dalam
menurunkan kualitas pembakaran (Hallett, 2005). Jumlah kandungan air yang
berlebihan (<20%) di dalam bahan bakar biomasa sangat berpengaruh terhadap
kenaikan volume gas buang karena dapat menurunkan temperatur nyala api
pembakaran sehingga dapat menurunkan efisiensi pembakaran. Kondisi tersebut
secara signifikan juga dapat mempengaruhi proses laju kecepatan pembentukan uap
pada pembangkit uap (boiler). Tentu saja hal ini secara makro akan menurunkan
produktivitas kerja unit proses pengolahan kelapa sawit di pabrik kelapa sawit.

Gambar 2.4. Hubungan Antara Udara Pembakaran dan Tebal Tumpukan Bahan Bakar
Terhadap Pembentukan Emisi Gas Karbon

Gambar 2.4, menunjukkan pengaruh ketebalan tumpukan bahan bakar dan


jumlah fluks massa udara primer terhadap tren evolusi karbon (carbon) pada saat
proses oksidasi. Gambar tersebut menunjukkan bahwa, ada pengaruh yang cukup
signifikan tebal tumpukan bahan bakar dan kecukupan pemberian udara pembakaran
terhadap produksi emisi karbon monoksida (CO) dan karbon dioksida (CO2). Ini
artinya bahwa, jumlah udara dan tebal tumpukan bahan bakar sangat memegang
peranan penting dalam proses oksidasi unsur karbon yang akan berevolusi menjadi
emisi gas CO dan CO2.
2.6.

Kinetika Reaksi Pembakaran


Proses pembakaran merupakan reaksi eksotermal, dimana ketika proses
oksidasi tersebut berlangsung akan mengeluarkan sejumlah energi atau menghasilkan
sejumlah kalor dengan suhu panas tertentu. Seperti diketahui bahwa temperatur
pembakaran sangat mempengaruhi laju reaksi proses pembakaran. Berdasarkan
pengalaman empiris diketahui bahwa proses pembakaran mempunyai konstanta laju
yang mentaati persamaan Arrhenius;

dY
dt =Ae

Di mana;
Y
mi
m(t)
dY
dt
A
e
E

E / RT

. (2.9)

: Fraksi massa = m(t)/mi


: Massa awal
: Massa yang berubah terhadap waktu
: Penurunan fraksi massa
: Perubahan waktu (dt)
: Faktor pre-eksponensial (%/s)
: Bilangan natural (2,72)
: Energi aktifasi bahan (J/mol)

R : Konstanta gas (8,31 J/mol K) T :


Suhu pembakaran (K)
Dengan demikian untuk proses pembakaran, ternyata bahwa grafik antara ln [dY/dt]
terhadap 1/T akan menghasilkan garis lurus (Gambar 2.5).

ln=
Slope =

y = ax - c

Gambar 2.5. Kurva Hubungan Antara ln [dY/dt] dengan 1/T

Energi aktivasi (E) merupakan energi minimum yang harus dimiliki reaktan
untuk membentuk suatu produk. Ketergantungan temperatur reaksi ditentukan oleh
energi aktivasi dan tingkat temperatur dari reaksi. Sebagai contoh, reaksi fase
pembentukan gas pembakaran terdapat banyak tumbukan dalam setiap detik, tetapi
hanya sebagian kecil diantaranya yang cukup berenergi untuk menghasilkan reaksi.
Fraksi tumbukan dengan energi kinetika melebihi energi aktivasi (E) yang dinyatakan
dengan distribusi Boltszmann e

E/RT

. Jadi, faktor eksponensial dapat ditafsirkan

sebagai fraksi tumbukan yang mempunyai cukup energi untuk menghasilkan reaksi.

Energi aktivasi dalam proses pembakaran biomasa (pers. 2.9) selanjutnya


dapat diubah menjadi:
ln

dY

=ln A

dt

(2.10)

RT

Dengan melakukan pengujian di laboratorium terhadap bahan bakar dengan


metode thermogravimetry maka akan diperoleh pasangan dY/dt dan T, sehingga dapat
dibuat grafik hubungan antara ln (dY/dt) dengan 1/T. Kurva yang terbentuk tersebut
kemudian dapat dicari persamaan garis lurusnya melalui metode regresi linear seperti
pada Gambar 2.5.
Persamaan linier yang diperoleh dari hubungan kurva ln [dY/dt] dan 1/T
tersebut dimasukkan ke dalam persamaan 2.10, sehingga diperoleh persamaan 2.11.
sebagai berikut;
ln

y= ax - c

dY

E1

ln A

dt

RT

...

(2.11)

Dengan demikian energi aktivasi dapat diperoleh dari persamaan 2.12 berikut ini;

E = -aR ...

(2.12)

Sementara itu nilai faktor pre-eksponensial (A) diperoleh dengan cara meneruskan
grafik y = ax - c hingga memotong sumbu y atau (1/T = 0), dimana;

ln dY =ln A E
dt

RT

(2.13)

dY
1
T

=0

.(2.14)

2.7.

Rencana Penelitian
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa fokus dari kegiatan riset ini adalah
melakukan kajian tentang pengaruh rasio udara pembakaran antara udara primer dan
sekunder terhadap efisiensi proses pembakaran serat buah sawit. Adapun parameter
efisiensi pembakaran yang diamati antara lain; nilai kalor rendah bahan bakar (Low
Heating Value), kadar CO2 teoritis, kadar oksigen di dalam gas buang, suhu gas
buang, kandungan air di dalam emisi gas buang dan suhu pembakaran di dalam
reaktor pembakaran.
Kegiatan riset yang akan dilakukan ini termasuk dalam kategori penelitian
eksperimental, untuk itu dibutuhkan sebuah reaktor pembakaran yang digunakan
untuk kegiatan eksperimen. Jenis reaktor pembakaran yang digunakan dalam riset ini
adalah fixed-bed. Pengamatan kondisi pembakaran pada saat eksperimen dilakukan
dengan bantuan beberapa alat instrumen, antara lain;
1. Thermocouple jenis K. Alat ini digunakan untuk mendeteksi besaran suhu

pembakaran hingga 1.375

C. Jumlah thermocouple yang digunakan untuk

pengamatan suhu di dalam ruang pembakaran sebanyak 9 batang.


2. Gas analyzer. Alat ini digunakan untuk mengukur kadar emisi gas buang yang
dihasilkan dari tiap kondisi pembakaran. Alat tersebut dapat mengukur jumlah
emisi gas pembakaran terutama gas CO, CO2 dan O2.
3. Anemometer. Alat ini digunakan untuk mengukur kecepatan aliran udara
pembakaran yang dialirkan ke dalam ruang pembakaran. Laju kecepatan aliran

udara yang didistribusikan pada saluran udara primer dan sekunder, debitnya
diukur dengan menggunakan alat ini.
4. Data logger. Digunakan untuk merekam data hasil eksperimen secara langsung
(real time) dari kondisi proses pembakaran. Alat ini secara otomatis dapat
memasukkan data hasil pengukuran perkembangan suhu pembakaran yang terjadi
di dalam ruang bakar.
5. Neraca analitik (Scales). Alat ini digunakan untuk menimbang berat massa serat
yang akan digunakan untuk setiap kali proses pembakaran pada setiap
eksperimen.
2.7.1. Kerangka Konseptual Penelitian
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa kegiatan riset yang dilakukan ini
dilatar-belakangi adanya fenomena asap berwarna hitam dan putih pekat yang sering
muncul di saluran gas buang boiler pabrik kelapa sawit. Di mana, diduga kuat
kejadian tersebut mengindikasikan bahwa proses pembakaran bahan bakar biomassa
sawit di dalam ruang bakar boiler berlangsung dengan tidak sempurna.
Secara konseptual, kerangka berpikir dari kegiatan riset ini ditunjukkan seperti
tampak pada Gambar 2.5.

Studi Literatur:
Dampak:
1.

Penyebab asap (hitam dan putih)


pekat dikarenakan proses

1.

Dapat menurunkan kualitas

pembakaran berlangsung tidak

lingkungan (menimbulkan

sempurna

pencemaran udara)
2.

2.

bahan bakar padat (biomass)

bahan

diperlukan pengaturan udara

bakar

menjadi boros
Fakta di lapangan:

3.

pembakaran yang tepat antara udara

Efisiensi boiler turun

primer dan udara sekunder


3.

Adanya suatu fenomena bahwa di


cerobong gas asap boiler pabrik
kelapa sawit (PKS) mengeluarkan
asap yang berwarna hitam dan
putih pekat

4.

Pembakaran di boiler, terutama pada

Konsumsi

Pengaturan

udara

pembakaran

Energi dalam

pada kedua saluran udara tersebut

bentuk kalor yang

harus mengacu pada kharakteristik

digunakan untuk

bahan bakar

keperluan proses

4.

Biomassa memiliki kadar volatile

produksi minyak

matter (VM) 70% lebih tinggi

sawit di PKS

dibanding fixed carbonnya (FC)

dapat mengalami
penurunan

sekitar 30%
5.

Fungsi udara primer untuk mengoksidasi carbon


sedangkan udara sekunder untuk oksidasi volatile
matter

Identifikasi masalah:

Asap (hitam dan putih) pekat yang muncul dari saluran gas buang (cerobong asap) di boiler pabrik kelapa sawit (PKS) mengindikasikan bahwa
proses pembakaran biomasa sawit berlangsung tidak sempurna. Hal ini diduga kuat akibat proses oksidasi bahan bakar dengan udara pembakaran
tidak berlangsung baik. Agar proses oksidasi unsur bahan bakar dengan oksigen berlangsung secara komplit maka campuran kedua reaktan tersebut
harus homogen. Dengan mempertimbangkan kharakteristik bahan bakar, maka diperlukan pengaturan jumlah rasio udara pembakaran yang tepat,
baik pada saluran udara primer maupun udara sekunder agar proses oksidasi berlangsung dengan baik. Oleh karena itu, tujuan dari kegiatan riset ini
adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah rasio udara pembakaran antara udara primer dan sekunder terhadap efisiensi pembakaran serat buah
kelapa sawit.

Instrument:
1. Thermocouple

Eksperimen:
Pengaruh rasio udara pembakaran antara udara

2. Gas analyzer
3. Anemometer
4. Data logger
5. Neraca analitik
6. Oven
7. Desicator
8. Cawan petridish

primer dan sekunder terhadap efis


serat buah kelapa sawit.

Rasio udara pembakaran antara ud


dan udara sekunder (SA) divariasi
(PA:SA); (20:80), (35:65), (50:50
(80:20). Dengan rasio yang digun

9. Stop watch

Alat & Bahan:

kontrol (65:35)

1.

Fixed bed reactor, mengacu pada


metode SUWIC dengan diameter

Data:

3.

1.

Kadar air di dalam bahan bakar serat

2.

Suhu pembakaran di dalam reaktor fixed bed

ID 200 mm dan tinggi 1500 mm


2.

Serat

buah

kelapa

sawit

(serabut)

Nilai kalor rendah bahan bakar (Low Heating Value), kadar CO2 teoritis, kadar
oksigen di dalam gas buang, dan suhu gas buang.
4.

5.

Kerugian panas akibat kandungan air di gas buang.

Parameter yang dikontrol:

Kharakteristik pembakaran serat buah sawit melalui metode TGA


1.

Jumlah aliran massa


udara pembakaran

2.
Analisis Data:

Jumlah

massa

serat buah kelapa


sawit (serabut)

Deskriptif, regresi linier dan one way anova

Pelaporan

Gambar 2.6. Kerangka Konsep Penelitian