Anda di halaman 1dari 3

ISTIAZAH

Seluruh ulama sepakat bahwa membaca istiazah diperintahkan bagi orang yang mau
membaca Al-Quran. Hal ini berdasarkan firman Allah pada surah An-Nahl ayat 98.

Namun terjadi ikhtilaf, apakah Amr (perintah) dalam ayat tersebut sebagai Sunnat atau
Wajib.
Jumhur (sebagian besar) Ulama dan Ahlul Ada, (ahli membaca) berpendapat bahwa
perintah pada ayat tersebut adalah Sunnat dan bila qari tidak membaca istiazah tidak
berdosa. Sedang sebagian Ulama yang lain berpendapat bahwa perintah pada ayat tersebut
adalah Wajib.
A. Sigat Istiazah
Sigat yang terpilih menurut seluruh Ulama Qiraat adalah
sebab sigat ini tercantum pada surat An-Nahl ayat 98. Di kalangan Ulama Qiraat juga tak ada
khilaf, bahwa sigat tersebut boleh dikurangi seperti:
atau ditambah, seperti:

atau semacamnya yang biasa dipakai oleh Imam-imam Qiraat.

B. Cara Membaca Istiazah


Diriwayatkan bahwa NAFI dan HAMZAH membaca istiazah di mana saja dalam AlQuran, dengan suara samar/pelan. Yang mengamalkan tariqah (cara) HAMZAH dengan
suara pelan ini adalah sebagian Ulama Qiraat, di antaranya Al-Imam Abul Abbas Ahmad bin
Ammar Al-Mahdawi, seorang Muqri(ahli membaca Al-Quran) dan ahli Tafsir yang wafat
tahun 430 H.

Diriwayatkan pula bahwa KHALAF (periwayat HAMZAH) membaca istiazah dengan


suara nyaring pada awal surat Al-Fatihah dan membacanya dengan suara samar pada tempattempat (selain Al-Fatihah) dalam Al-Quran.
Begitu juga diriwayatkan bahwa KHALLAD (periwayat HAMZAH) membaca
istiazah pada seluruh tempat dalam Al-Quran dengan suara samar atau dengan suara
nyaring (yakni tak ada bedanya). Tapi menurut pendapat yang terpilih, dalam masalah cara
membaca istiazah ini, seluruh Imam Qiraat mempunyai rincian. Maksudnya ada tempattempat yang disunatkan membaca dengan suara samar dan ada pula tempat-tempat yang
disunatkan membaca dengan suara nyaring.
Tempat-tempat yang disunatkan membaca istiazah dengan suara samar adalah:
1. Bilamana pembaca Al-Quran memakai suara pelan.
2. Bilamana pembaca Al-Quran berada pada tempat yang sepi (sendirian)
3. Bilamana pembaca Al-Quran sedang mengerjakan salat.
4. Bilamana pembaca Al-Quran berada di dalam suatu jamaah yang mengadakan tadarrus,
sedang dia tidak sebagai pembaca pertama.
Selain 4 tempat ini, pembaca Al-Quran membaca istiazah dengan suara nyaring.

C. Memulai Bacaan Al-Quran Dari Awal Surat


Bilamana pembaca Al-Quran memulai dari Awal surat, disunatkan memakai bacaan
Basmalah (seperti yang akan diterangkan di bab Basmalah nanti). Maka dari itu bagi
pembaca Al-Quran, dalam mewaqakan bacaan istiazah atau mewasalkan dengan Basmalah,
boleh memakai 4 wajah (cara) berikut:
1. Waqaf pada istiazah, dan juga pada Basmalah
2. Waqaf pada istiazah, dan Mewasalkan Basmalah dengan Awal Surat.
3. Mewasalkan istiazah dengan Basmalah dan Waqaf di Basmalah.
4. Mewasalkan istiazah dengan Basmalah, begitu juga Mewasalkan Basmalah dengan Awal
Surat.
Keempat wajah ini dipakai oleh semua Imam Qiraat, ketika mau membaca Al-Quran
dari setiap awal surat, kecuali surat At-Taubah.
Sedang bila pembaca memulai dari Surat At-Taubah Imam-imam Qiraat mempunyai
dua wajah:
1. Waqaf pada istiazah dan tidak memakai Basmalah
2. Mewasalkan istiazah dengan Awal Surat.

D. Memulai Bacaan Al-Quran dari Pertengahan Surat


Bilamana pembaca Al-Quran memulai dari pertengahan surat, maksutnya tidak dari
awal surat, maka menurut semua Imam Qiraat, pembaca boleh memakai dan boleh juga tidak
memakai

bacaan

Basmalah.

Dan

bilamana

memakai

Basmalah,

tentunya

dapat

memberlakukan 4 wajah tersebut di atas. Namun bilamana tidak memakai Basmalah, maka
boleh memberlakukan dua wajah berikut:
1. Waqaf pada istiazah
2. Mewasalkan istiazah dengan awal ayat.
Catatan :

Bilamana pembaca Al-Quran terputus bacaannya karena keadaan terpaksa,


seperti batuk, bersin, dan lain-lain, atau bicara yang masih ada hubungannya
dengan bacaan Al-Quran misalnya dia ragu