Anda di halaman 1dari 11

Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Wewenang DPD sebagai ...

(Rosmawiah) 71-81

WEWENANG DEWAN PERWAKILAN DAERAH (DPD)


SEBAGAI LEMBAGA TINGGI NEGARA DI INDONESIA

Oleh: Rosmawiah
Dosen Fakultas Hukum Universitas PGRI Palangka Raya
e-mail: rosmawiah@gmail.com

Abstrak: Pembentukan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) semula dimaksudkan dalam


rangka mereformasi struktur parlemen Indonesia yang terdiri atas DPR dan DPD.
Dengan struktur bikameral itu diharapkan proses legislasi dapat diselenggarakan
berdasarkan sistem double-check yang memungkinkan representasi kepentingan seluruh
rakyat secara relatif dapat disalurkan dengan basis sosial yang lebih luas. DPR
merupakan cermin representasi politik (political representation), sedangkan DPD
mencerminkan prinsip representasi teritorial atau regional (regional representation).
Akan tetapi, ide bikameralisme atau struktur parlemen dua kamar itu mendapat
tentangan yang keras dari kelompok konservatif di Panitia Ad Hoc Perubahan UUD 1945
di MPR 1999-2002, sehingga yang disepakati adalah rumusan yang sekarang yang tidak
dapat disebut menganut sistem bikameral sama sekali. Dalam ketentuan UUD 1945
dewasa ini, jelas terlihat bahwa DPD tidaklah mempunyai kewenangan membentuk
undang-undang. Namun, di bidang pengawasan, meskipun terbatas hanya berkenaan
dengan kepentingan daerah dan hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan undang-
undang tertentu, DPD dapat dikatakan mempunyai kewenangan penuh untuk melakukan
fungsi pengawasan terhadap kinerja pemerintahan. Oleh karena itu, kedudukannya hanya
bersifat penunjang atau auxiliary terhadap fungsi DPR di bidang legislasi, sehingga
DPD paling jauh hanya dapat disebut sebagai co-legislator, dari pada legislator yang
sepenuhnya.

Kata Kunci: Dewan Perwakilan Daerah, Wewenang dan Kedudukan

PENDAHULUAN diadopsikan dalam naskah Perubahan


Pertama dan Kedua, sedangkan perubahan
Berdasarkan Perubahan Ketiga UUD Pasal 22 diadopsikan dalam naskah
1945, gagasan pembentukan Dewan Perubahan Ketiga UUD 1945. Dengan
Perwakilan Daerah dalam rangka demikian, resmilah, pengertian dewan
restrukturisasi parlemen Indonesia menjadi perwakilan di Indonesia mencakup Dewan
dua kamar telah diadopsikan. Jika Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan
ketentuan mengenai Dewan Perwakilan Daerah, yang kedua-duanya secara
Rakyat diatur dalam Pasal 20, maka bersama-sama dapat disebut sebagai
keberadaan Dewan Perwakilan Daerah Majelis Permusyawaratan Rakyat.
diatur dalam Pasal 22C dan Pasal 22D. Perbedaan antara keduanya terletak pada
Perubahan terhadap ketentuan Pasal 20 hakikat kepentingan yang diwakilinya

ISSN : 2085-4757 71
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Wewenang DPD sebagai ...(Rosmawiah) 71-81

masing-masing. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) adalah kepentingan daerah sebagai


dimaksudkan untuk mewakili rakyat, keseluruhan, terlepas dari kepentingan
sedangkan Dewan Perwakilan Daerah individu-individu rakyat yang
dimaksudkan untuk mewakili daerah- kepentingannya seharusnya disalurkan
daerah. Pembedaan hakikat perwakilan ini melalui Dewan Perwakilan Rakyat. Namun
penting untuk menghindari pengertian dalam pengertian kepentingan daerah itu,
double-representation atau keterwakilan tentunya tidak terlepas adanya kepentingan
ganda mengartikan fungsi parlemen yang setiap individu rakyat yang hidup di
dijalankan oleh kedua dewan tersebut. daerah-daerah itu. Misalnya,
Misalnya, rakyat yang hidup di daerah- penyelenggaraan kebijakan otonomi
daerah yang sudah mengikuti pemilihan daerah tidak boleh dipersempit maknanya
umum untuk memilih anggota Dewan hanya dalam kaitan dengan otonomi
Perwakilan Rakyat, dianggap telah pemerintah daerah. Harus dibedakan antara
diwakili kepentingannya oleh wakil rakyat pengertian local autonomy (otonomi
yang terpilih untuk menduduki kursi di daerah) dengan local government atau
Dewan Perwakilan Rakyat, baik di tingkat local administration (pemerintah daerah).
kabupaten/ kota, di tingkat propinsi Kebijakan otonomi daerah tidak hanya
maupun Dewan Perwakilan Rakyat tingkat dimaksudkan untuk memberikan
pusat. Oleh karena itu, meskipun anggota kewenangan yang lebih besar kepada
Dewan Perwakilan Daerah juga dipilih pemerintah daerah, tetapi yang lebih
melalui pemilihan umum, proses penting pada akhirnya adalah otonomi
rekruitmennya itu seharusnya tetap rakyat daerah dalam berhadapan dengan
dibedakan dari sistem yang diterapkan birokrasi pemerintahan secara keseluruhan.
untuk merekruit anggota Dewan Oleh karena itu, kepentingan daerah yang
Perwakilan Rakyat. Dengan demikian, diperjuangkan oleh Dewan Perwakilan
dapat dihindari adanya pengertian Daerah sudah dengan sendirinya berkaitan
keterwakilan ganda (double pula dengan kepentingan seluruh rakyat di
representation) tersebut. Semula, daerah-daerah yang bersangkutan. Hanya
reformasi struktur parlemen Indonesia saja, dalam bentuk teknisnya di lapangan,
yang disarankan oleh banyak kalangan ahli prinsip keterwakilan rakyat melalui Dewan
hukum dan politik supaya dikembangkan Perwakilan Rakyat memang harus
menurut sistem bikameral yang kuat dibedakan secara tegas dari pengertian
(strong bicameralism) dalam arti kedua keterwakilan daerah melalui Dewan
kamar dilengkapi dengan kewenangan Perwakilan Daerah. Jika keduanya tidak
yang sama-sama kuat dan saling dibedakan, maka tidak dapat mengetahui
mengimbangi satu sama lain. Untuk itu, secara pasti mengenai hakikat keberadaan
masing-masing kamar diusulkan, kedua kamar dewan perwakilan tersebut
dilengkapi dengan hak veto. Usulan dalam kerangka sistem parlemen dua
semacam ini berkaitan erat dengan sifat kamar yang hendak dikembangkan di masa
kebijakan otonomi daerah yang cenderung depan. Pembedaan itu juga berkaitan
sangat luas dan hampir mendekati dengan sistem rekruitmen keanggotaan
pengertian sistem federal. Kepentingan keduanya yang sudah tentu seharusnya
yang harus lebih diutamakan dalam rangka dibedakan satu sama lain. Kalaupun kedua
perwakilan daerah (Dewan Perwakilan anggotanya, misalnya, sama-sama

ISSN : 2085-4757 72
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Wewenang DPD sebagai ...(Rosmawiah) 71-81

ditentukan dipilih melalui pemilihan kewenangan Dewan Perwakilan Daerah


umum, pelaksanaan pemilihan hanya bersifat tambahan dan terbatas pada
keanggotaan kedua dewan itu sudah hal-hal yang berkaitan langsung dengan
seharusnya dibedakan, baik dalam kepentingan daerah.
persyaratannya maupun dalam soal sistem
pemilihannya. Dengan begitu, perbedaan PERMASALAHAN
kedua lembaga perwakilan tersebut dapat
terus dipertahankan sesuai dengan hakikat Dari berbagai uraian tersebut diatas
keberadaannya. Semula, reformasi struktur maka ada beberapa permasalahan yang
parlemen Indonesia yang disarankan oleh dapat menjadi rumusan masalah yang
banyak kalangan ahli hukum dan politik diangkat dalam artikel ini yaitu:
supaya dikembangkan menurut sistem Bagaimana Wewenang DPD Dibidang
bikameral yang kuat (strong bicameralism) Legislasi dan Pengawasan atas
dalam arti kedua kamar dilengkapi dengan pelaksanaan Undang-Undang Otonomi
kewenangan yang sama-sama kuat dan Daerah Di Indonesia?
saling mengimbangi satu sama lain. Untuk
itu, masing-masing kamar diusulkan, PEMBAHASAN
dilengkapi dengan hak veto. Usulan
semacam ini berkaitan erat dengan sifat Kewenangan membentuk undang-
kebijakan otonomi daerah yang cenderung undang (legislatif) merupakan salah satu
sangat luas dan hampir mendekati fungsi yang sangat startegis dalam
pengertian sistem federal. Hal itu dianggap penyelenggaraan suatu negara, oleh karena
sesuai dengan kecenderungan umum di dalam kewenangan itulah secara nyata
dunia, di mana negara-negara federal yang kedaulatan yang diakui dalam negara
memiliki parlemen dua kamar selalu tersebut dilaksanakan. Kenyataan ini
mengembangkan tradisi strong merupakan konsekuensi yang logis, oleh
bicameralism, sedangkan di lingkungan karena dengan suatu rumusan undang-
negara-negara kesatuan bikameralisme undang setiap orang maupun setiap
yang dipraktekkan adalah soft lembaga dalam suatu negara dapat terikat
bicameralism. Kebijakan otonomi daerah olehnya, dan wajib tunduk pada ketentuan-
di Indonesia di masa depan dinilai oleh ketentuan yang dirumuskan di dalamnya.
sebagian besar ilmuwan politik dan hukum Kewenangan DPD di bidang legislasi
cenderung bersifat federalistis dan karena dalam hal pengajuan dan pembahasan
itu lebih tepat mengembangkan struktur Rancangan Undang-Undang yakni DPD
parlemen yang bersifat strong dapat mengajukan kepada DPR rancangan
bicameralism. Namun demikian, undang-undang yang berkaitan dengan
Perubahan Ketiga UUD 1945 hasil Sidang otonomi daerah, hubungan pusat dan
Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat daerah, pembentukan dan pemekaran serta
Tahun 2001 justru mengadopsi gagasan penggabungan daerah, pengelolaan sumber
parlemen bicameral yang bersifat soft. daya alam dan sumber daya ekonomi
Kedua kamar dewan perwakilan tersebut lainnya, serta yang berkaitan dengan
tidak dilengkapi dengan kewenangan yang perimbangan keuangan pusat dan daerah
sama kuat. Yang lebih kuat tetap Dewan Usul Rancangan Undang-Undang. Ran-
Perwakilan Rakyat, sedangkan cangan Undang-Undang yang diajukan

ISSN : 2085-4757 73
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Wewenang DPD sebagai ...(Rosmawiah) 71-81

kepada DPR harus berdasarkan Program dan naskah akademik untuk disampaikan
Legislasi Nasional. Selain berdasarkan secara tertulis kepada Pimpinan Panitia
program legislasi nasional DPD dapat Perancang Undang-Undang. Panitia
menyusun rancangan undang-undang Perancang Undang-Undang melakukan
sesuai dengan aspirasi daerah dan kegiatan harmonisasi, pembulatan, dan
masyarakat. Usul Pembentukan pemantapan konsepsi terhadap usul
Rancangan Undang-Undang diajukan oleh rancangan undang-undang yang berasal
Panitia Perancang Undang-Undang dan dari Komite. Usul rancangan undang-
Komite sebagai pemrakarsa. Dalam hal undang sebagai hasil kegiatan disampaikan
Pemrakarsa menyusun Rancangan secara tertulis oleh Pimpinan Panitia
Undang-Undang berasal dari aspirasi Perancang Undang-Undang kepada
daerah dan masyarakat, Pemrakarsa Pimpinan sebagai Usul Rancangan
terlebih dahulu mengajukan permohonan Undang-Undang disertai naskah akademik.
penyusunan di Sidang Paripurna, dengan Pemrakarsa dapat membentuk tim kerja
disertai penjelasan mengenai konsepsi terlebih dahulu dan menyusun Naskah
pengaturan rancangan undang-undang Akademik mengenai materi yang akan
yang meliputi : a. urgensi dan tujuan diatur dalam Rancangan Undang-Undang
penyusunan; b. sasaran yang ingin yang tugasnya tugasnya didukung oleh tim
diwujudkan; c. pokok pikiran, lingkup, ahli, peneliti, dan perancang undang-
atau objek yang akan diatur; d. jangkauan undang yang berasal dari Sekretariat
serta arah pengaturan; dan e. kesesuaian Jenderal. Kepala Sekretariat Komite atau
dengan tugas dan wewenang DPD. Apabila Panitia Perancang Undang-Undang yang
permohonan penyusunan rancangan menyelenggarakan fungsi di bidang
Undang-Undang tidak mendapatkan penyusunan usul rancangan undang-
persetujuan maka usul Rancangan Undang- undang dari DPD secara fungsional
Undang tersebut tidak dapat diajukan pada bertindak sebagai Sekretaris. Dalam
masa sidang itu. Sebelum melaksanakan pembahasan rancangan undang-undang
prakarsa penyusunan usul Rancangan pemrakarsa dapat mengundang para pakar
Undang-Undang Komite harus dari lingkungan perguruan tinggi atau
mengkoordinasikan arah dan materi organisasi di bidang sosial, politik, profesi,
muatan usul rancangan undang-undang dan kemasyarakatan lainnya sesuai dengan
kepada Panitia Perancang Undang- kebutuhan. Pemrakarsa menyebarluaskan
Undang. Pemrakarsa mengkoordinasikan hasil pembahasan usul rancangan undang-
dan mengkonsultasikan lebih lanjut proses undang kepada masyarakat sebagai bahan
usul Rancangan Undang-Undang dengan pemrakarsa untuk melakukan
menyampaikan arah dan materi muatan penyempurnaan atas usul rancangan
rancangan undang-undang tersebut kepada undang-undang. Dalam hal Harmonisasi,
Panitia Musyawarah. Panitia Musyawarah Pembulatan, dan Pemantapan Konsepsi
menetapkan jangka waktu pemrakarsa tentunya berkaitan dengan arah untuk
menyelesaikan usul Rancangan Undang- mewujudkan keselarasan konsep
Undang berdasarkan arah dan materi rancangan undang-undang dimaksud
muatan yang telah disampaikan. Usul dengan Pancasila, Tujuan Nasional,
Rancangan Undang-Undang tersebut harus Undang-Undang Dasar Negara Republik
dilengkapi dengan penjelasan, keterang, Indonesia Tahun 1945, dan memuat

ISSN : 2085-4757 74
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Wewenang DPD sebagai ...(Rosmawiah) 71-81

kesesuaian unsur filosofis, yuridis, memuat alasannya kepada Pimpinan


sosiologis, serta politis. Melalui sidang kemudian dibagikan kepada seluruh
gabungan. Setelah usul rancangan undang- Anggota. Selanjutnya Tugas dan
undang diterima oleh Pimpinan, dalam Kewenangan DPD dalam hal Pengajuan
Sidang Paripurna berikutnya Pimpinan dan Pembahasan Rancangan Undang-
memberitahukan dan membagikan kepada Undang ditetapkan selambat-lambatnya 5
seluruh Anggota. Sidang Paripurna (lima) hari kerja sejak Usul Rancangan
memutuskan apakah usul rancangan Undang-Undang disahkan menjadi
undang-undang dapat diterima menjadi Rancangan Undang-Undang setelah itu
rancangan undang-undang dari DPD atau Rancangan Undang-Undang beserta
tidak. Keputusan dapat berupa : penjelasan/keterangan dan naskah
a. diterima tanpa perubahan; akademis disampaikan secara tertulis
b. diterima dengan perubahan; atau kepada Pimpinan DPR dengan surat
c. ditolak. pengantar dari Pimpinan. Rancangan
Keputusan tersebut di atas diambil Undang-Undang disampaikan juga kepada
setelah Panitia Perancang Undang-Undang Presiden. Surat pengantar Pimpinan
menyampaikan penjelasan dan pemrakarsa menyebut juga nama-nama Anggota, alat
diberi kesempatan untuk memberikan kelengkapan, atau tim yang mewakili DPD
pendapatnya. Dalam hal usul rancangan dalam melakukan pembahasan rancangan
undang-undang diterima dengan undang-undang tersebut. DPD melakukan
perubahan, DPD menugasi Panitia pembahasan usul rancangan undang-
Perancang Undang-Undang untuk undang bersama DPR atas undangan DPR.
membahas dan menyempurnakan usul Dalam hal ini DPD diwakili oleh Tim
rancangan undang-undang tersebut. Usul Kerja yang berasal dari Panitia Perancang
Rancangan Undang-Undang yang telah Undang-Undang dan/atau Komite. Tim
diterima tanpa perubahan menjadi Kerja berjumlah 6 (enam) orang dan
Rancangan Undang-Undang dari DPD dan didamping oleh 2 (dua) orang pakar, 2
disampaikan kepada DPR dan Presiden (dua) orang ahli/peneliti/perancang
dengan disertai surat pengantar dari undang-undang; dan 2 (dua) orang tenaga
Pimpinan. Dalam hal ini pemrakarsa administrasi persidangan. Tim Kerja
berhak mengajukan perubahan selama Pembahasan rancangan undang-undang di
Usul Rancangan Undang-Undang dan/atau DPR yang ditugasi wajib menyampaikan
Usul Pembentukan Rancangan Undang- laporan perkembangan pembahasan
Undang belum dibicarakan dalam Panitia rancangan undang-undang tersebut secara
Perancang Undang-Undang dan berhak berkala kepada seluruh Anggota dan
menarik usulnya kembali, selama Usul Pimpinan. Apabila dalam pembahasan
Pembentukan Rancangan Undang-Undang terdapat masalah yang sifatnya prinsipil
dan Usul Rancangan Undang-Undang dan akan mengubah isi serta arah
belum diputuskan menjadi Rancangan Rancangan Undang-Undang, Tim Kerja
Undang-Undang oleh Sidang Paripurna. dapat meminta Pimpinan untuk
Pemberitahuan tentang perubahan atau membahasnya dalam Sidang Paripurna
penarikan kembali usul harus yang khusus untuk itu. Pembahasan dalam
ditandatangani oleh Pemrakarsa serta Sidang Paripurna terlebih dahulu
disampaikan secara tertulis dengan mendengarkan laporan dari Tim Kerja

ISSN : 2085-4757 75
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Wewenang DPD sebagai ...(Rosmawiah) 71-81

dengan disertai saran pemecahan yang RI lainnya diatur dalam Pasal 23 ayat (2)
diperlukan, untuk memperoleh keputusan. dan Pasal 23 F ayat (1). Pasal 22 D ayat
Dalam hal Rancangan Undang-Undang (1), (2) dan (3) UUD NRI 1945
dari DPD ditolak oleh DPR, DPD segera menyatakan sebagai berikut :
mengadakan Sidang Paripurna untuk a) Dewan Perwakilan Daerah dapat
membahas masalah tersebut. Sidang mengajukan kepada Dewan Perwakilan
didahului dengan penjelasan Pimpinan atas Rakyat Rancangan Undang-Undang
Surat Pimpinan DPR tentang penolakan yang berkaitan dengan otonomi daerah,
tersebut. Apabila alasan penolakan hubungan pusat dan daerah,
bertentangan dengan tugas dan wewenang pembentukan dan pemekaran serta
DPD, DPD dapat mengajukan masalah ini penggabungan daerah, pengelolaan
kepada Mahkamah Konstitusi sebagai sumber daya alam dan sumber daya
sengketa kewenangan antar lembaga ekonomi lainnya, serta yang berkaitan
negara. Apabila dilihat dari penjelasan dengan pertimbangan keuangan pusat
tersebut di atas, kewenangan DPD sebagai dan daerah;
di bidang legislasi hanya sebatas b) Dewan Perwakilan Daerah ikut
pengajuan terhadap rancangan undang- membahas Rancangan Undang-Undang
undang yang ditetapkan dalam Pasal 22D yang berkaitan dengan otonomi daerah,
UUD 1945. Dengan demikian, DPD tidak hubungan pusat dan daerah,
mempunyai kewenangan dalam pembentukan dan pemekaran serta
menentukan setuju atau tidak, menolak penggabungan daerah, pengelolaan
atau menerima terhadap rancangan sumber daya alam dan sumber daya
undang-undang tersebut dalam tahap ekonomi lainnnya, serta perimbangan
pembahasan dan pemberian persetujuan keuangan pusat dan daerah; serta
bersama antara DPR dan Pemerintah. Juga memberikan pertimbangan kepada
dalam hal pembahasan bersama terhadap Dewan Perwakilan Rakyat atas
Rancangan Undang-Undang sepenuhnya rancangan undang-undang rancangan
dilakukan di dalam forum persidangan anggaran pendapatan dan belanja
Dewan Perwakilan Rakyat. Presiden dan negara, dan rancangan undang-undang
Dewan Perwakilan Daerah dapat ikut serta yang berkaitan dengan pajak,
dalam pembahasan, tetapi yang mengambil pendidikan, dan agama;
keputusan hanya Dewan Perwakilan c) Dewan Perwakilan Daerah dapat
Rakyat. Hanya saja, DPR tidak dapat melakukan pengawasan atas
memutuskan tanpa persetujuan pelaksanaan undang-undang mengenai
Pemerintah. Sedangkan DPD mempunyai otonomi daerah, hubungan pusat dan
kedudukan yang berbeda dari Pemerintah, daerah, pembentukan dan pemekaran
karena DPD tidak memiliki kewenangan serta penggabungan daerah,
untuk menyetujui atau tidak menyetujui pelaksanaan sumber daya alam dan
sesuatu materi undang-undang. sumber daya ekonomi lainnya,
Kekuasaan Dewan Perwakilan pelaksanaan anggaran pendapatan dan
Daerah Republik Indonesia (DPD) diatur belanja negara, pajak, pendiidikan, dan
terutama dalam Pasal 22 D Undang- agama serta menyampaikan hasil dari
Undang Dasar Negara Republik Indonesia pengawasannya itu kepada Dewan
Tahun 1945 (UUD 1945). Kekuasaan DPD

ISSN : 2085-4757 76
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Wewenang DPD sebagai ...(Rosmawiah) 71-81

Perwakilan Rakyat sebagai bahan undang sebagai lembaga legislatif. Akan


pertimbangan untuk ditindak lanjuti. tetap sistem bekameral yang dianut
Berdasarkan fungsi dan wewenang Indonesia saat ini justru berbeda dengan
DPD tersebut, maka fungsi-fungsi DPD artian sebenarnya. Seperti yang dikatan
dapat disebutkan sebagai berikut : Fungsi pada pasal 22D ayat (1) UUD NRI 1945,
Legislasi yakni : 1) Mengajukan rancangan secara implisit, kedudukan DPD di bawah
undang-undang kepada DPR RI yang DPR dan presiden. DPD dapat mengajukan
berkaitan dengan otonomi daerah, RUU kepada DPR yang berkaitan dengan
hubungan pusat dan daerah, pembentukan otonomi daerah, hubungan pusat dan
dan pemekaran serta penggabungan daerah, pembentukan dan pemekaran serta
daerah, pengelolahan sumber daya alam penggabungan daerah, pengelolaan sumber
dan sumber daya ekonomi lainnya, serta daya alam dan pengolahan sumber daya
yang berkaitan dengan perimbangan ekonomi lainnya, serta yang berkaitan
keuangan pusat dan daerah; dan 2) ikut dengan perimbangan keuangan pusat dan
membahas atas rancangan undang-undang daerah. Selanjutnya pada pasal 22D ayat
yang berkaitan dengan otonomi daerah, (2) juga dinyatakan bahwa DPD ikut
hubungan pusat dan daerah, pembentukan membahas sejumlah RUU yang diajukan,
dan pemekaran serta penggabungan serta memberikan pertimbangan kepada
daerah, pengelolaan lainnya, serta yang DPR atas RUU yang berkaitan dengan
berkaitan dengan perimbangan keuangan pajak, pendidikan dan agama. Selain itu,
pusat dan daerah. fungsi legislasi DPD RI hanyalah sebatas
Fungsi Pengawasan Pengawasan turut serta melakukan pembahasan dengan
pelaksanaan undang-undang mengenai fokus wewenangnya hanya terdapat RUU
otonomi daerah, hubungan pusat dan otonomi daerah, RUU pengolahan sumber
daerah, pembentukan dan pemekaran serta daya alam dan ekonomi daerah, RUU
penggabungan daerah, pengelolaan sumber pemekaran/pengabungan wilayah, RUU
daya alam dan sumber daya alam dan hubungan pusat dan daerah, RUU
sumber daya ekonomi lainnya, perimbangan keuangan pusat dan daerah.
pelaksanaan anggaran pendapatan dan Disini, selain hanya fokus RUU tersebut di
belanjaan negara, pajak, pendidikan, dan atas, pembahasan yang dilakukan oleh
agama, berdasarkan laporan yang diterima DPD bersama-sama DPR dan pemerintah
BPK, aspirasi dan pengaduan masyarakat, hanya dalam tingkat pertama yaitu dalam
keterangan tertulis pemerintah, dan temuan forum penyampaian pandangan dan
monitoring di lapangan. Hasil pengawasan pendapat. Jadi dalam pembahasan RUU di
tersebut disampaikan kepada dewan atas, DPD tidak bisa mengikuti
perwakilan rakyat sebagai bahan pembahasan dari sejak awal sampai akhir,
pertimbangan untuk ditindak lanjuti. sampai dilahirkan RUU tersebut menjadi
Fungsi Nominasi adalah memberikan undang-undang. Padahal, sebetulnya
pertimbangan kepada DPR RI dalam semua RUU tersebut sangat strategis bagi
pemilihan BPK yang dilakukan oleh DPR. kepentingan daerah dimana logika
Suatu lembaga perwakilan dikatakan dua politiknya, DPD lah yang seharusnya yang
kamar biasanya apabila kedua kamar itu memiliki kewenangan lebih untuk
mempunyai kedudukan, fungsi dan hak melahirkan undang-undang tersebut. Dari
yang sama untuk membentuk undang- kajian fungsi legislatif tersebut, dapat

ISSN : 2085-4757 77
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Wewenang DPD sebagai ...(Rosmawiah) 71-81

disimpulkan bahwa DPD mempunyai konstituen nasional atau federal,


keterbatasan fungsi legislasi karena tidak sedangkan DPD atau upper house bekerja
mempunyai kekuasaan untuk membentuk untuk konstituen daerah atau perwakilan
undang-undang dan keberadaannya hanya daerah. Dalam sistem bikameral murni,
sebagai pembantu khusus DPR dan DPD atau upper house bisa memveto atau
pemerintah, atau dengan kata lain DPD menolak setiap undang-undang yang
hanyalah weak chamber di bawah DPR dihasilkan oleh DPR (lower house)
dan presiden dalam fungsi legislasi. walaupun veto atau penolakan itu bisa
Sedangkan pendapat dan pikiran para gugur apabila upper house bisa mencapai
anggota DPD tersebut tidak dapat langsung mayoritas minimum atau maksimum untuk
di akses dalam undang-undang. Aspirasi diajukan kembali. Melihat ketentuan-
yang ada pada para anggota DPD yang ketentuan tentang DPD tersebut di atas,
dijaring dari penyerapaan aspirasi jelas bahwa dalam sistem bikameral
rakyat/daerah hanya dijadikan bahan Indonesia susunan dan kedudukan antara
pertimbangan DPR dan pemerintahan DPR dan DPD tidak setara. Dimana untuk
dalam tugasnya melahirkan undang- menentukan susunan dan kedudukan, DPD
undang. Padahal undang-undang tersebut tidak mempunyai kekuasaan. Pasal 20 ayat
memiliki kepentingan yang cukup (2) menyebutkan bahwa setiap rancangan
signifikan dan keterkaitan yang erat undang-undang (RUU) dibahas oleh DPR
dengan kepentingan-kepentingan daerah. dan presiden untuk mendapatkan
Terhadap hal-hal lain, kekuasaan persetujuan bersama. Ini jelas bahwa tugas
pembentukan undang-undang hanya ada dan kewenangan dewan perwakilan daerah
pada DPR dan pemerintah. Dengan tidak setara. Terkait dengan mekanisme
demikian, rumusan baru UUD NRI 1945 pelaksanaan aspirasi masyarakat di daerah
tersebut tidak mencerminkan gagasan di bidang legislasi permasalahan yang
mengikutsertakan daerah dalam muncul adalah bagaimana mekanisme atau
menyelangarakan seluruh praktek dalam prosedur artikulasi aspirasi masyarakat
pengolahan negara. Hal ini merupakan dapat ditampung dan ditindak lanjuti di
sesuatu yang ganjil ditinjau dari konsep dalam kekuasaan legislasi DPD. RUU
perwakilan dua kamar. yang diusulkan oleh DPD juga disusun
Dalam sistem bikameral murni (pure berdasarkan prolegnas yang telah dibuat
becameralis atau strong bicameralism), sebelumnya oleh DPR dan pemerintah.
DPR dan DPD sama-sama mempunyai Usul tersebut dapat diajukan oleh Panitia
fungsi setara dan setigkat di bidang Perancang Undang-Undang (PPUU)
legislasi, anggaran, dan pengawasan. maupun Panitia Ad Hoc yang merupakan
Dengan sistem perwakilan bikameral, alat kelengkapan DPD. Selain kedua alat
sebagian atau seluruh rancangan kelengkapan tersebut, usul pembentukan
perundangan-undangan (RUU) memerlu- RUU dapat diajukan dari jumlah
kan pembahasan dan persetujuan kedua annggota DPD kepada Panitia Perancang
lembaga perwakilan tersebut. Walaupun Undang-Undang yang disertai dengan latar
sistem bikameral sendiri bervariasi dalam belakang, tujuan dan pokok-pokok pikiran
negara federal dan negara kesatuan, tetapi serta daftar nama, nama provinsi, dan
prinsip-prinsip yang dianut relatif sama, tanda tangan pengusul. Salah satu tugas
yaitu DPR atau lower house bekerja sama Panitia Perancang Undang-Undang adalah

ISSN : 2085-4757 78
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Wewenang DPD sebagai ...(Rosmawiah) 71-81

merencanakan dan menyusun program keinginan masyarakat, seharusnya


serta urutan prioritas pembahasan usul pembuatan tata tertib DPR yang berkaitan
RUU dan usul pembentukan RUU untuk dengan DPD harus mendapat persetujuan
satu masa keanggotaan DPD dan setiap dulu dari DPD, Disamping itu dalam Pasal
tahun anggaran yang dimulai dengan 22D (2) UUD 1945 menghendaki bahwa
menginventarisir masukan dari anggota, DPD ikut membahas rancangan undang-
Panitia Ad Hoc, masyarakat dan daerah undang tertentu. Pengertian ikut membahas
untuk ditetapkan menjadi keputusan tidak bisa dibatasi hanya pada tahap
Panitia Perancang Undang-Undang. pertama sebelum DPR membahas dengan
Masukan dari masyarakat bisa dilakukan pemerintah seperti diatur dalam Undang-
dengan dua cara, yaitu anggota DPD Undang Susduk sekarang. Mestinya DPD
mendatangi masyarakat basis pemilihnya ikut membahas sampai tahap akhir
dalam hal ini di provinsi yang diwakilinya pembahasan dan hal seperti ini yang
dan menerima masukan dari masyarakat dikehendaki Undang-Undang Dasar.
umum yang datang ke DPD. Selanjutnya Menurut UUD 1945, DPD hanya tidak ikut
keputusan tersebut disampaikan kepada dalam proses pengambilan keputusan.
alat kelengkapan DPR yang khusus Tetapi seluruh tahap pembahasan tidak ada
menangani bidang legislasi atau pengecualian. Terkait dengan mekanisme
pemerintah melalui menteri yang tugas dan pelaksanaan aspirasi masyarakat di daerah
tanggungjawabnya meliputi bidang di bidang pengawasan disebutkan dalam
peraturan perundang- undangan. Dalam Pasal 22 D ayat (3) DPD melakukan
melaksanakan tugas tersebut Panitia pengawasan atas pelaksanaan UU
Perancang Undang-Undang dapat : mengenai otonomi daerah, pembentukan,
1) Mengadakan rapat kerja dengan DPR, pemekaran dan penggabungan daerah,
Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah hubungan pusat dan daerah, pengelolaan
propinsi/ kabupaten/ kota, DPRD sumber daya alam dan sumber daya
propinsi/Kabupaten/Kota; ekonomi lainnya serta perimbangan
2) Mengadakan rapat dengar pendapat keuangan pusat dan daerah; pelaksanaan
umum, baik atas prakarsa sendiri anggaran pendapatan dan belanja negara,
maupun atas permintaan pihak lain; pajak, pendidikan dan agama. Pengawasan
3) Mengadakan kunjungan kerja pada tersebut merupakan pengawasan atas
masa sidang yang hasilnya dilaporkan pelaksanaan UU, dan hasil pengawasan
dalam rapat Panitia Perancang UU DPD ini disampaikan kepada DPR RI
yang bersangkutan dan disampaikan sebagai bahan pertimbangan untuk
kepada semua alat kelengkapan DPD. ditindaklanjuti. Pengawasan yang
4) Mengusulkan kepada pimpinan DPD dilakukan DPD dalam hal ini adalah
mengenai hal yang dipandang perlu dengan Menerima dan membahas hasil-
untuk dimasukkan dalam acara DPD. hasil pemeriksaan keuangan Negara yang
dilakukan oleh BPK sebagai bahan untuk
Agar aspirasi masyarakat yang sudah melakukan pengawasan atas pelaksanaan
diserap oleh DPD melalui mekanisme UU tertentu; Meminta secara tertulis
dengar pendapat umum (hearing) ini dapat kepada pemerintah tentang pelaksanaan
diteruskan menjadi RUU yang nantinya UU tertentu; Menampung dan
akan menjadi UU yang mencerminkan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan

ISSN : 2085-4757 79
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Wewenang DPD sebagai ...(Rosmawiah) 71-81

masyarakat berkaitan dengan pelaksanaan pengawasan kurang jelas dan kurang tegas.
UU tertentu; dan Mengadakan kunjungan Agar aspirasi masyarakat yang sudah
kerja ke daerah untuk melakukan ditampung oleh DPD bisa ditindak lanjuti
monitoring/pemantauan atas pelaksanaan dan diwujudkan dalam bentuk peraturan
UU tertentu. Dengan kewenangan DPD perundangan yang sesuai dengan
yang terbatas ini sesungguhnya, fungsi masyarakat,maka fungsi pengawasan DPD
pengawasan DPD menjadi peluang yang ini perlu adanya ketegasan dalam aturan
besar untuk mengoptimalkan peran DPD, pengawasan tersebut, agar tidak
DPD dalam rangka melakukan pengawas- menimbulkan seolah-olah DPR RI adalah
an ini dapat menyerap, menampung dan lembaga pengawas DPR, yang mengawasi
menindaklanjuti pengaduan masyarakat setiap pekerjaan DPR yang diterima dari
dalam pelaksanaan UU tertentu. Dalam DPD, seharusnya implementasi dari
bidang pengawasan ini DPD dapat ketentuan ini secara tegas diatur bahwa
sewaktu-waktu menyerap aspirasi DPR wajib mempertimbangkan dan
masyarakat dari daerah sebanyak- meindaklanjuti hasil pengawasan DPD dan
banyaknya untuk memfasilitasi daerah mengumumkan hasilnya secara terbuka.
mengimplementasikan otonomi daerah, Dengan demikian masyarakat bisa
hubungan pusat dan daerah, pembentukan melakukan pengawasan terhadap kedua
dan pemekaran serta penggabungan lembaga perwakilan ini.
daerah, pengelolaan sumber daya alam dan Di bidang nominasi adalah
sumber daya ekonomi, serta perimbangan memberikan Pertimbangan kepada DPR
keuangan pusat dan daerah. DPD dalam dalam pemilihan anggota BPK yang
persoalan ini akan signifikan jika mampu dilakukan oleh DPR. Bagaimana
bersinergi dengan masyarakat di daerah. mekanismenya agar aspirasi masyarakat di
Banyak persoalan yang bergejolak di bidang nominasi ini dapat di jalankan
daerah membutuhkan pendampingan DPD dengan baik. Dalam Tata tertib DPD
dan ini masyarakat umum mengaku jarang disebutkan bahwa DPD akan mengadakan
mendengar apalagi melihat kiprah yang sidang paripurna untuk menyampaikan
dilakukan oleh anggota DPD. Untuk itu mengenai calon anggota BPK tersebut,
DPD perlu memperkuat basis pengetahuan kemudian sidang paripurna DPD akan
dan ketrampilan baik dalam komunitas menugaskan panitia ad hoc guna
politik maupun legislasi, serta memperluas menyusun pertimbangan DPD,
jaringan kerjasama dengan berbagai pihak, pertimbangan tersebut meliputi pengajuan
misalnya perguruan tinggi, LSM, tokoh nama calon, penelitian administrasi,
masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan penyampaian visi, misi dan penentuan
lain-lain. Namun mekanisme artikulasi urutan calon. Mengingat waktu yang
aspirasi masyarakat yang telah ditampung dipunyai DPD untuk memberikan
melalui kunjungan-kunjungan ke daerah pertimbangan kepada DPR mengenai calon
maupun laporan masyarakat yang anggota BPK terlalu sempit, yaitu lima
dimasukkan ke DPD ini, ketika diangkat hari setelah Pimpinan DPD mendapatkan
menjadi bahan pengawasan DPD untuk surat dari Pimpinan DPR, Maka sebaiknya
melakukan pengawasan pelaksanaan UU Pimpinan DPD begitu menerima surat dari
menjadi tidak berarti manakala aturan Pimpinan DPR langsung membuka
main yang mengatur tentang tata tertib kesempatan selama lima hari yang

ISSN : 2085-4757 80
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Wewenang DPD sebagai ...(Rosmawiah) 71-81

disediakan untuk DPD kepada masyarakat KESIMPULAN


untuk memberikan tanggapan tentang
calon anggota BPK,. Untuk dijadikan Kewenangan yang diberikan kepada
bahan pertimbangan bagi anggota/panitia DPD hanya sebatas memberi masukan
ad hoc DPD. Waktu lima hari yang kepada DPR baik dalam bidang legislasi,
diberikan oleh DPR kepada DPD untuk maupun pengawasan. Hal ini memberikan
memberikan tanggapan tentang calon batasan yang membuat DPD tidak dapat
anggota BPK ini terasa terlalu singkat dan berperan seperti yang diharapkan oleh
tidak efektif, sehingga banyak masyarakat masyarakat.
yang tidak mengetahuinya kesempatan
kesempatan yang diberikan kepadanya, DAFTAR RUJUKAN
apalagi waktu lima hari yang dimaksud
disini meliputi waktu untuk menjaring Kusnardi Moh. dan Ibrahim Harmaily,
masukan dari masyarakat dan sidang Pengantar Hukum Tata Negara
paripurna untuk menyampaikan mengenai Indonesia, UI-Press, Jakarta, 2000.
calon anggota BPK tersebut serta
penyusunan panitia ad hoc untuk Manan Bagir, 2003. DPR,DPD dan MPR
menyusun pertimbangan DPD yang dalam UUD 1945 Baru, FH UII
meliputi pengajuan nama calon, penelitian Press, Yogyakarta, Cetakan
administrasi, penyampaian visi dan misi Pertama.
dan penentuan urutan calon. Sebaiknya
waktu yang efektif dan tepat untuk Naja Daeng H.R., 2004. Dewan
memberikan pertimbangan calon anggota Perwakilan Daerah-Bikameral
BPK adalah selama 14 (empat belas hari) Setengah Hati, Media Pressindo,
atau dua minggu, yaitu satu minggu Yogyakarta.
dipergunakan untuk menjaring masukan
dari masyarakat dan satu minggu Saragih R Bintan., 1987, Lembaga
berikutnya dipergunakan untuk membahas Perwakilan Dan Pemilihan Umum
dan memberikan pertimbangan calon Di Indonesia, Gaya Media Pratama,
anggota BPK. Dalam era teknologi yang Jakarta
begitu canggih, maka waktu lima hari yang
diberikan kepada DPD untuk memberikan Sri Soemantri. 1992 Bunga Rampai Hukum
pertimbangan anggota BPK RI menjadi Tata Negara Indonesia, Alumni,
tidak masalah, karena ke depan masyarakat Bandung.
Indonesia, makin lama makin maju dan
internet akan menjadi kebutuhan sehari- Undang-Undang Dasar Negara Republik
hari, sehingga tanggapan masyarakat dan Indonesia tahun 1945
aspirasi masyarakat dalam bidang apapun
dapat diberikan melalui website dan email Peraturan DPD tentang Tata Tertib dan
yang dipunyai oleh dipunyai oleh DPD, Draf Penyempurnaan Tata Tertib
sedangkan ditolak atau diakomodasinya Dewan Perwakilan Daerah
usulan pertimbangan DPD ini harus Republik Indonesia Tahun 2010
dipublikasikan secara luas, karena DPD
melaksanakan fungsi konstitusionalnya.

ISSN : 2085-4757 81