Anda di halaman 1dari 15

PORTOFOLIO

DIARE DISENTRIFORM
(AMOEBIASIS INTESTINAL)

Disusun Oleh:
dr. Rizka Triadiati Ikhsantiningtyas Pratisti

Pembimbing:
dr. Ellyza Sinaga

PUSKESMAS MINGGIR KABUPATEN SLEMAN


DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
2016

PORTOFOLIO PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

Nama Peserta
: dr. Rizka Triadiati Ikhsantiningtyas Pratisti
Nama Wahana
: Puskesmas Minggir
Topik
: Kasus Poli Umum
Tanggal (Kasus)
: 6 Agustus 2016
Nama Pasien
: An. W
No. RM
: 502048
Tanggal Presentasi
: 29 Agustus 2016
Nama Pendamping : Dr. Ellyza Sinaga
Tempat Presentasi
: Puskesmas Minggir
Obyektif Presentasi
:
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi
: Bayi, 17 bulan, diare
Tujuan :
Diagnosis dan penanganan
Bahan bahasan :
Tinjauan
Riset
Kasus
Audit
Cara membahas :

Pustaka
Diskusi

Data pasien :

Nama : An. W

Nama klinik :

Puskesmas Minggir

Presentasi

Email

Pos

dan diskusi
Nomor

411035

Registrasi :
Telp :

Terdaftar sejak :

(BPU)
Data utama untuk bahan diskusi :
1. Diagnosis/Gambaran klinis :
Dilakukan secara alloanamnesis pada tanggal 6 Agustus 2015 di BPU (Poli Umum)
Puskesmas Minggir.
Keluhan utama : Diare/BAB Cair
BAB Cair 10 kali sejak kemarin, disertai lendir dan ampas sedikit, tidak muntah,
keluhan lain demam 1 hari yang lalu, pilek dan batuk. Ibu pasien sudah memberikan
lacto B dan paracetamol namun belum ada perubahan. Ibu pasien bercerita bahwa
An.W diberikan susu oleh kakaknya yang masih kecil yang tidak tahu bahwa susu
2.
3.

4.

5.

yang didalam botol dot tersebut sudah basi.


Riwayat Pengobatan :
Pasien tidak memiliki riwayat pengobatan rutin.
Riwayat Kesehatan/Penyakit :
- Riwayat penyakit serupa
: disangkal
- Riwayat mondok atau operasi
: disangkal
- Riwayat alergi
: disangkal
Riwayat Keluarga :
- Riwayat penyakit serupa
: disangkal
- Riwayat tekanan darah tinggi
: disangkal
- Riwayat kencing manis
: disangkal
- Riwayat alergi
: disangkal
Riwayat Tumbuh Kembang : Riwayat tumbuh kembang pasien dalam batas normal
PORTOFOLIO PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

6. Riwayat Imunisasi : Riwayat imunisasi pasien lengkap sesuai dengan umur.


7. Pemeriksaan Fisik :
Dilakukan pada tanggal 6 Agustus 2016 di BPU PuskesmasMinggir
Keadaan umum

: CM

Tanda vital

: Nadi

: 98 x/menit

Frekuensi nafas

: 22 x/menit

Suhu

: 38,70C

Tekanan darah

:-

Berat Badan : 10,2 kg


STATUS GENERALIS
Kepala

: normosefal, conjunctiva palpebra anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), mata


cekung (-/-), air mata (+/+)

Leher

: limfonodi tidak teraba

Thorax

: simetris (+), ketinggalan gerak (-), retraksi (-)


Jantung

: S1-S2 reguler, bising (-)

Paru-paru

: Vesikuler (+/+), wheezing (-/-) ronkhi (-/-)

Abdomen

: distensi (-), peristaltik (+) , supel, nyeri tekan (-)

Ekstremitas

: akral hangat, capillary refill (< 2/< 2), sianosis (-/-)

8. Pemeriksaan laboratorium :
Feses Rutin
1. Makroskopis
a. Warna
b. Bau
c. Konsistensi
d. Lendir
e. Darah
f. Parasit
g. Cacing

Kuning Kecoklatan
Amis
Cair
Positif
Negatif
Negatif
Negatif

2. Mikroskopis
a. Telur Cacing
b. Amoeba
c. Eritrosit
d. Lekosit
e. Sisa Makanan

Negatif
Positif (E. hystolitica)
Positif

PORTOFOLIO PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

Serat Daging
Amilum
Lemak
Sisa Tumbuhan

Banyak
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif

9. Diagnosis Kerja:
Amoebiasis Intestinal (Disentri amoeba)
Common Cold
10. Penatalaksanaan
Sirup Paracetamol 120 mg 3 x 1 sendok takar
Oralit Suc
Zink 10 mg 1 x1 tablet
Sirup Metronidazole 3 x 1 sendok takar
Puyer Ambroxol (III) + CTM (III) diminum 3 x 1puyer
Edukasi : Pada pasien ini sudah dimotivasi untuk rawat inap, namun keluarga
menolak dan ingin rawat jalan terlebih dahulu.

PORTOFOLIO PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

Subjektive :

Seorang bayi laki-laki usia 17 bulan datang ke Poli Umum Puskesmas Minggir dengan keluhan u
demam baru satu hari, batuk dan pilek.
Objektive :
Hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan pada tanggal 6 Agustus 2016 didapatkan :
1. KU
2. Tanda vital

: CM
: Nadi
: 98 x/menit
Frekuensi nafas
: 22 x/menit
Suhu
: 38,70C
1. Status generalis : dalam batas normal
2. Laboratorium feses : terdapat mikroorganisme amoeba jenis Entamoeba hystolitica
Assessment :
Definisi

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan feses berbentuk cair atau setengah cair (setengah pada

banyak dari biasanya lebih dari 3 kali sehari. Disentri merupakan peradangan pada usus besar yang merupak

luka dan menyebabkan tukak terbatas dicolon yang ditandai dengan gejala khas yang disebut sebagai sindrom
Gambaran klinis

Gejala penyakit ini ditandai dengan sakit perut dan buang air besar encer secara terus-menerus (dia
bercampur lendir, nanah, dan darah. Berdasarkan penyebabnya disentri dapat dibedakan menjadi dua, yaitu

Disentri amuba disebabkan oleh infeksi parasit Entamoeba histolytica dan disentri basiler disebabkan ole

tersebut dapat tersebar dan menular melalui makanan dan air yang sudah terkontaminasi kotoran dan ba

merupakan serangga yang hidup di tempat yang kotor dan bau, sehingga bakteri dengan mudah menempel d

tempat yang dihinggapi. Gejala disentri dapat disertai dengan muntah, nyeri perut dan panas. Nyeri per

mengosongkan perut, usus, disertai sakit, kram yang disebut tenesmus. Jika terjadi dehidrasi akan muncul gej
Diagnosis

Diare dapat mengakibatkan kurangnya cairan dalam tubuh sehingga mengakibatkan dehidrasi. Ada tig

PORTOFOLIO PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

Pemeriksaan Penunjang
Tinja

Darah

1. Dapat disertai darah atau lendir

1. Dapat terjadi gangguan

2. PH asam/basa

elektrolit atau gangguan

3. Leukosit > 5/LBP

asam basa

4. Biakan dan test sensitivitas untuk etiologi bakteri/ terapi

2. Analisa gas darah

5. ELISA (bila memungkinkan, untuk etiologi viruz)


Penatalaksanan
Medika Mentosa:
Terapi Cairan = sesuai derajat dehidrasi
Nutrisi = ASI, makanan rendah serat, pisang
Zink (selama 10-14 hari)
<6 bulan = 10 mg/hari
>6 bulan = 20 mg/hari
Antibiotik = terutama pada diare lendir darah
Edukasi = jaga higienitas

Derajat
Dehidrasi

Klinis

Terapi

PORTOFOLIO PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

Tanpa
dehidrasi

Tampak baik

Ringansedang

Rewel, kehausan,
mata cekung,
turgor kembali
lambat
Letargis, malas
minum, turgor
kembali sangat
lambat

Berat

Syok

Kesadaran
menurun, nadi
tidak teraba, tek
darah rendah/tidak
terukur, akral
dingin

Rencana Terapi A
Berikan cairan tambahan
sebanyak yg anak mau.
Oralit = <2 th = 50-100
>2 th = 100-200 m
Rencana Terapi B
Oralit 75cc/kgBB dlm 3jam

Rencana Terapi C
<12 bln = 30 cc/kgBB dlm
I, 70 cc/kgBB dlm 5 jam
selanjutnya
>12 bln = 30 cc/kgBB dlm
menit I, 70 cc/kgBB dlm
jam berikutnya
Tatalaksana IV RL 20cc/kgB
secepatnya

PORTOFOLIO PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

PORTOFOLIO PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

PORTOFOLIO PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

Terapi Antibiotik pada beberapa Kasus Diare


PORTOFOLIO PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

Patogen
E.Coli
ETEC
EHEC
EIEC
Shigella
(Shigelos
is /
Disentri
basiler)
E.hystolit
ica
(Amoebi
asis /
Disentri
amoeba)
Vibrio
Colera
(Kolera)
Giardia
lamblia
(Giardias
is)
Stafiloko
kus
aureus
Salmonel
la typhii
Rotaviru
s
Balantidi
um coli
C.dificle
C.botulin
um
Intoleran
si
Laktosa

Klinis

Terapi

Diare tanpa lendir, darah. Riwayat


berpergian ke Negara berkembang
(makanan tidak higienis)
Diare dapat/tanpa disertai lendir, darah.
Riwayat konsumsi daging ayam, daging
sapi, daging babi, dll yg tidak dimasak.
Diare disertai lendir, darah. Riwayat
konsumsi daging ayam dan susu yang
tidak dimasak, keju
Diare lendir darah, darah>lendir
Demam
Tenesmus

Fluorokuin
Azitromisin

Cotrimoks
Fluorokuin
Azitromisin

Diare lendir darah, lendir>darah, tenesmus

Metronida

Riwayat konsumsi makanan laut yang tidak


dimasak
Diare seperti cucian beras, sering dan
banyak (profuse)
Diare dengan tinja berminyak/berlemak
(steatorrhea)

Doksisiklin
Tetrasiklin
(anak)
Eritromisin
Metronida

Riwayat konsumsi daging ayam, sapi, babi,


dll yg tidak dimasak

Fluorokuin
Azitromisin

Demam, mual, muntah, nyeri perut, diare


dapat/tanpa disertai lendir dan darah

kloramfen
ciprofloksa
amoxicillin
cotrimoxa
Rehidrasi,
Zink
Cairan
Metronida

Diare cair, kekuningan, tidak disertai


darah, disertai demam, nyeri perut
Riwayat kontak dengan babi atau konsumsi
air/makanan yg tercemar kotoran babi
Diare lendir darah, profuse
Terganggunya flora normal usus karena
penggunaan antibiotic
Diare cair, banyak (profuse)
Riwayat konsumsi makanan kaleng
kadaluwarsa
Diare, terdapat gangguan saraf
(paralisis/paresis)
Diare setelah disapih, diare cair
menyemprot, berbau asam, diapersh rash,
nyeri perut, kentut setelah mengkonsumsi

PORTOFOLIO PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

10

Metronida

Metronida

Hindari
makanan
mengandu

makanan yang mengandung laktosa, perut


kembung

laktosa (su

1. Berikan oralit

Oralit merupakan campuran garam elektrolit, seperti natrium klorida (NaCl), kalium klorida (KCl

glukosaanhidrat yang dapat diserap dengan baik oleh usus penderita diare. Oralit diberikan untuk menggan

yang terbuang saat diare, segera bila anak diare sampai diare berhenti. Satu bungkus oralit dimasukkan ke dal

Anak < 1 tahun = 50-100 cc cairan oralit setiap kali BAB


Anak > 1 tahun = 100-200 cc cairan oralit setiap kali BAB.
Saat ini terdapat oralit formula baru. Karena oralit formula lama biasanya menyebabkan mual

memberikan kepada anaknya. Bedanya terdapat pada tingkat osmolaritas. Osmolaritas oralit baru lebih renda
osmolaritas oralit lama yaitu 331 mmol/l.
Penelitan menunjukkan bahwa oralit formula baru mampu:
a. Mengurangi volume tinja hingga 25%
b. Mengurangi mual-muntah hingga 30%
c. Mengurangi secara bermakna pemberian cairan melalui intravena

Anak yang tidak menjalani terapi intravena,tidak harus dirawat di rumah sakit. Ini artinya risiko anak terken

pemberian ASI tidak terganggu, dan orangtua akan menghemat biaya.. WHO dan UNICEF merekomendas
menggunakan dan memproduksi oralit dengan osmolaritas rendah (oralit baru).
2. Berikan tablet Zinc selama 10 hari berturut-turut

Zinc merupakan salah satu zat gizi mikro yang penting untuk kesehatan dan pertumbuhan anak.

menurun dalam jumlah besar ketika anak mengalami diare. Untuk menggantikan zinc yang hilang selama di

akan membantu penyembuhan diare serta menjaga agar anak tetap sehat. Pada saat diare, anak akan kehilang

Zinc mampu menggantikan kandungan Zinc alami tubuh yang hilang tersebut dan mempercepat penyembu

sistim kekebalan tubuh sehingga dapat mencegah risiko terulangnya diare selama 2-3 bulan setelah anak se

WHO selama lebih dari 18 tahun, manfaat zinc sebagai pengobatan diare adalah mengurangi :1) Prevalen

pneumonia sebesar 26%; (3) Durasi diare akut sebesar 20%; (4) Durasi diare persisten sebesar 24%, hingga;
akibat diare persisten sebesar 42%.

Kemampuan zinc untuk mencegah diare terkait dengan kemampuannya meningkatkan sistim kekeba

penting bagi tubuh. Lebih 300 enzim dalam tubuh yang bergantung pada zinc. Zinc juga dibutuhkan oleh ber

mukosa saluran cerna. Semua yang berperan dalam fungsi imun, membutuhkan zinc. Jika zinc diberikan p

belum berkembang baik, dapat meningkatkan sistim kekebalan dan melindungi anak dari penyakit infeksi. I
PORTOFOLIO PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

11

diberi zinc (diberikan sesuai dosis) selama 10 hari berturut - turut berisiko lebih kecil untuk terkena penyakit
dan pneumonia.
Zinc diberikan satu kali sehari selama 10 hari berturut-turut. Pemberian zinc harus tetap dilanjutkan

ini dimaksudkan untuk meningkatkan ketahanan tubuh terhadap kemungkinan berulangnya diare pada 2 3 b

Obat Zinc merupakan tablet dispersible yang larut dalam waktu sekitar 30 detik. Zinc diberikan se
dosis sebagai berikut:
a. Balita umur < 6 bulan: 1/2 tablet (10 mg)/ hari
b. Balita umur 6 bulan: 1 tablet (20 mg)/ hari

Obat Zinc yang tersedia di Puskesmas baru berupa tablet dispersible. Saat ini perusahaan farmasi juga telah

dan serbuk dalam sachet. Zinc diberikan dengan cara dilarutkan dalam satu sendok air matang atau ASI. Untu

dikunyah. Zinc aman dikonsumsi bersamaan denganoralit. Zinc diberikan satu kali sehari sampai semua tabl

oralit diberikan setiap kali anak buang air besar sampai diare berhenti. Pemberian zinc selama 10 hari terbu
usus yang rusak dan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh secara keseluruhan.
3. Teruskan ASI-pemberian makan
Jika anak masih mendapatkan ASI, maka teruskan pemberian ASI sebanyak dia mau. Jika anak mau
lebih baik. Biarkan dia makan sebanyak dan selama dia mau. anak harus diberi makan seperti biasa dengan

sampai dua minggu setelah anak berhenti diare. Jangan batasi makanan anak jika ia mau lebih banyak, k

membantu mempercepat penyembuhan, pemulihan dan mencegah malnutrisi. Untuk anak yang berusia kuran
mengurangi susu formula dan menggantinya dengan ASI. Untuk anak yang berusia lebih dari 2 tahun,
Ingatkan ibu untuk memastikan anaknya mendapat oralit dan air matang.
4. Berikan antibiotik secara selektif
Antibiotik hanya diberikan jika ada indikasi, seperti diare berdarah atau diare karena kolera, atau

Selain tidak efektif, tindakan ini berbahaya, karena jika antibiotik tidak dihabiskan sesuai dosis akan meni

antibiotik. Selain bahaya resistensi kuman, pemberian antibiotik yang tidak tepat bisa membunuh flora nor

Efek samping dari penggunaan antibiotik yang tidak rasional adalah timbulnya gangguan fungsi ginjal, h

antibiotik. Ketika terkena diare, tubuh akan memberikan reaksi berupa peningkatan motilitas atau pergeraka
atau racun. Perut akan terasa banyak gerakan dan berbunyi. Anti diare akan menghambat gerakan itu

dikeluarkan, justru dihambat keluar. Selain itu anti diare dapat menyebabkan komplikasi yang disebut pro

Kondisi ini berbahaya karena memerlukan tindakan operasi. Oleh karena itu anti diare seharusnya tidak boleh

Pada kasus disentri amoeba (amebiasis intestinal) pemberian antibiotic metronidazole sangat tepat dik

dapat menurunkan frekuensi kesakitan dan buang air besar. Sehingga pada kasus-kasus diare yang su
pemberian antibiotic yang tepat sangatlah diperlukan.
PORTOFOLIO PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

12

5. Berikan nasihat pada ibu/keluarga

Berikan nasihat dan cek pemahaman ibu/pengasuh tentang cara pemberian Oralit, Zinc, ASI/mak
membawa anaknya ke petugas kesehatan jika anak:
- Buang air besar cair lebih sering
- Muntah berulang-ulang
- Mengalami rasa haus yang nyata
- Makan atau minum sedikit
- Demam
- Tinjanya berdarah
- Tidak membaik dalam 3 hari
Selain itu, berikan nasihat tentang kebersihan lingkungan sekitar, cara merawat alat makan terutama untuk
pencemaran lewat makanan.
Pencegahan
Faktor utama pencegahan disentri amuba ialah kondisi higiene perorangan dan sanitasi lingkungan

menjalani pola hidup bersih dan sehat. Hal itu merupakan hal penting dalam menghindari infeksi am
pencegahan penyebaran infeksi amebiasis adalah terputusnya rantai penularan dari sumber infeksi (tinja)

pencegahan yaitu dari aspek higiene perorangan dan sanitasi lingkungan. Higiene perorangan lebih terfokus

upaya memutus rantai penularan. Sedangkan sanitasi lingkungan fokus pencegahan terletak dalam hal reka
sumber infeksi.
Pencegahan terhadap aspek hygiene perorangan adalah:
1. Mencuci tangan dengan sabun setelah keluar dari kamar kecil dan sebelum menjamah makanan. Selalu
mencuci tangan secara teratur serta menggunting kuku.

2. Mengkonsumsi air minum yang sudah dimasak (mendidih). Jika minum air yang tidak dimasak, dalam ha
diperhatikan tutup botol atau gelas yang masih tertutup rapi dan tersegel dengan baik.
3. Tidak memakan sayuran, ikan dan daging mentah atau setengah matang.
4. Mencuci sayuran dan buah-buahan dengan bersih sebelum dimasak.
5. Mencuci alat makan (piring, sendok, garpu) dan alat minum (gelas, cangkir) dengan menggunakan sabun
menggunakan kain lap, hendaknya menggunakan kain lap yang bersih dan kering.

6. Mencuci dengan bersih alat makan-minum bayi/anak-anak dan merendam dalam air mendidih sebelum dig

7. Pemeriksaan tinja terhadap kemungkinan adanya carrier atau penderita asimptomatik pada para cal

pengusaha makanan. Selama para penjamah makanan tersebut bekerja, minimal 6 bulan sekali dilakukan pem

8. Membuang kotoran, air kotor dan sampah organik secara baik dengan tidak membuangnya secara sembara
PORTOFOLIO PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

13

9. Segera berobat ke petugas kesehatan jika frekuensi buang air meningkat, sakit pada bagian abdomen da

terdapat darah. Sebelum berobat atau minum obat, minum cairan elektrolit guna mencegah timbulnya kekuran
Pencegahan terhadap aspek sanitasi lingkungan adalah:

1. Pembuangan kotoran manusia yang memenuhi syarat. Prinsip pembuangan kotoran manusia yang memenu

yang dibuang terisolir dengan baik sehingga tidak dihinggapi serangga (lalat, kecoak, lipas), tidak menge
sumber air.

2. Menggunakan air minum dari sumber air bersih yang sanitair (air ledeng, pompa sumur dangkal atau dalam

3. Menghindari pemupukan tanaman dengan kotoran manusia dan hewan. Jika menggunakan pupuk kan
kondisi pupuk kandang atau kompos tersebut benar-benar kering.

4. Menutup dengan baik makanan dan minuman dari kemungkinan kontaminasi serangga (lalat, kecoak
peliharaan (anjing, kucing) dan debu
Daftar Pustaka :

Andayasari, L, 2011, Kajian Epidemiologi Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan yang Disebabkan oleh A
Kesehatan Volume 21 Nomor 1.
Ardhani punky, 2008, Art of Theraphy: Ilmu Penyakit Anak, Pustaka Cendekia Press: Jogjakarta

Arifin, 2012. Epidemiologi Disentri dan Diare. http://afrin-farmaci.blogspot.com/2012/05 /epidemiologi


tanggal 21 Februari 2014
Behrman Richard et all, 2009, Nelson textbook of Pediatrics, Sanders: Phyladelpia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Buku Saku Petugas Kesehatan Lima Langkah Tuntaskan D
Hasan Rusepno et all, 2007, Ilmu Kesehatan Anak 1: cetakan ke 11, Infomedika: Jakarta.

Pudjiadi, A.H., Hegar B., Handryastuti S., Idris H.S., Gandaputra E.P., Harmoniati E.D. 2010. Pedoman Pe
Indonesia. Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia: Jakarta.

Poorwo sumarso et all, 2003, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak: Infeksi & Penyakit Tropis, Ikatan Dokter Anak

Wijaya., A., M., 2012. Data (angka) Diare di Indonesia. http://www.infodokterku.com/component/content/a


data angka-diare-di-indonesia. Diunduh pada tanggal 21 Februari 2014
11. Hasil Pembelajaran :
A. Menegakkan diagnosis Amoebiasis Intestinal
B. Menentukan derajat Kegawatan
C. Penatalaksanaan Amoebiasis Intestinal

PORTOFOLIO PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

14