Anda di halaman 1dari 10

TUGAS PIO

MAKALAH KIE OBAT DALAM RESEP

Di Susun Oleh:

Isna Maula Rahma

(1520303178)

Juliana Riberu

(1520303179)

Karmila

(1520303180)

Ketut Wiriana

(1520303181)

Kris E. Sukowati

(1520303182)

Kris Kurniawan

(1520303183)

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
2015

KIE OBAT DALAM RESEP

I.

PENDAHULUAN
Pelayanan kefarmasian pada saat ini telah bergeser orientasinya dari obat ke
pasien yang mengacu kepada Pharmaceutical Care. Kegiatan pelayanan kefarmasian
yang semula hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai komoditi menjadi
pelayanan yang komprehensif yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dari
pasien. Pelayanan Kefarmasian (Pharmaceutical Care) adalah suatu tanggung jawab
profesi dari tenaga farmasi untuk mengoptimalkan terapi dengan cara mencegah dan
memecahkan masalah terkait obat (Drug Related Problems) (Depkes RI, 2006).
Sebagai konsekuensi perubahan orientasi tersebut, apoteker/tenaga farmasi
dituntut untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan perilaku agar dapat
melaksanakan interaksi langsung dengan pasien. Salah satu interaksi antara apoteker
dengan pasien melalui Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) berkaitan dengan
obat yang digunakan oleh pasien secara tatap muka untuk meningkatkan pengetahuan
dan pemahaman pasien dalam penggunaan obat.
Tujuan dari KIE dalam pelayanan kefarmasian adalah meningkatkan
hubungan kepercayaan antara apoteker/tenaga farmasi dengan pasien; menunjukkan
perhatian serta kepedulian terhadap pasien; meningkatkan kepatuhan pasien dalam
menjalani pengobatan; mencegah atau meminimalkan Drug Related Problems dan
membimbing dan mendidik pasien dalam menggunakan obat sehingga dapat
mencapai tujuan pengobatan dan meningkatkan mutu pengobatan pasien.

II.

RESEP
R/ citicolin cap No XXX
S 1 dd 1
R/Atorvastatin mg 20 tab No XV
S 1 dd

R/ Amlodipin mg 5 tab No. XXX


S 1 dd 1
R/ asam asetil salisilat mg 100 No XXX
S 1 dd 1
_________
Pro : tn 50 th
III.

PEMBAHASAN
1. Citikolin
Tujuan pemberian citicolin untuk meningkatkan aliran darah dan konsumsi
oksigen di otak pada gangguan serebrovaskular sehingga dapat memperbaiki gangguan

kesadaran dan memperbaiki matabolisme otak.


Indikasi : Pada stadium akut untuk gangguan kesadaran akibat cedera kepala,
bedah otak, dan infark serebral stadium akut. Pada stadium kronis untuk
meningkatkan rehabilitasi anggota gerak atas dan bawah pada hemiplegia akibat
apopleksi serebral. Membantu menangani penurunan kemampuan kognitif pada

usis lanjut
Mekanisme kerja : CPD-choline (Citicoline) diketahui mempunyai efek terhadap
sistem saraf pusat yang bervariasi, baik kelainan akibat jejas maupun proses
degeneratif. Secara umum citicoline mempunyai efek sebagai neuroprotektor
karena adanya kemampuan dalam mensitesis fosfatidilkolin yang merupakan salah
satu fosfolipid utama dari membran sel serta meningkatkan choline yang

merupakan sumber acetylcholine


Sediaan : Citicoline tab 500mg,

amp 100mg/8ml, 500mg/4ml, tab 250mg/2ml


Dosis : Gangguan kesadaran karena cedera kepala atau operasi otak : 1 2 kali

tab

250mg,

100mg.

Citicoline

sehari 100 500 mg secara intra vena drip atau injeksi. Gangguan kesadaran karena
infark selebral : 1 kali sehari 1000 mg, secara injeksi Intra Vena. Hemiplegia
apopleksi : 1 kali sehari 1000 mg secara oral atau injeksi Intra Vena
Pada stadium akut, dosis lazima dalah 250-500 mg, 1-2 kali seharisecara drip
IV/injeksi IV. Pada stadium kronik, dosis lazim adalah 100-300 mg, 1-2 kali
seharicara IV/IM

Efek

samping

Syok,

Psikoneurologik :jarang
Gastrointestinal:

Hipersensitivitas

dengan

gejala

ruam-ruam,

terjadi,umumnya insomnia, sakitkepala, pusing, kram,

jarangterjadi,umumnyamualatauanoreksia.

Hati

jarang

terjadi,umumnya menunjukkan gejala fungsi hati abnormal. Mata: diplopia. Lainlain: umumnya merasa panas, perubahan tekanan darah yang mendadak, atau

2.

malaise
Kontra indikasi : Hipersensitif terhadap citikolin
Interaksi : L-Dopa
Penyimpanan
: Simpan terlindung daricahaya, pada suhu 15-39 oC
Atrostatin (Antihiperlipidemia (HMG-CoA reductase inhibtor)
Indikasi : Hiperkolesterolemia : menurunkan kadar kolesteroltotal yang tinggi,

LDL, dan trigliserida.


Mekanisme kerja : Menghambat 3-hidroksi-3-metilglutaril koenzim A (HMGCoA) reduktase dalam biosintesis kolesterol di hati sehingga dapat menurunkan
kolesterol sitoplasma. Faktor transkripsi berikatan dengan gen reseptor LDL,
sehingga terjadi peningkatan sintesis reseptor LDL pada membran sel hepatosit dan

menurunkan kadar kolesterol darah lebih besar lagi


Dosis : Dewasa : PO 10-80 mg/hari.(dosis tunggal sekali sehari, dengan atau
tanpa makanan)

Farmakokinetik : Reabsorpsi di usus cepat, BA hanya 11% Di dalam hati dirombak

menjadi metabolit aktif. Waktu paruhnya 14 jam.


Efek Samping : CNS : sakit kepala, pusing, astenia, insomnia. Dermatologi : ruam
kulit. GI : konstipasi, diare, perut kembung, dispepsia, nyeri perut, mual. Respiratory
: sinusitis, faringitis, rinitis, bronkitis. Lain-lain : mialgia, arthritis, nyeri dada, alergi,

infeksi, edemaperipheral, sindrom flu.


Perhatian : Kehamilan : kategori X. Anak-anak : keamanan belum terjamin. Penyakit
hati : hati-hati penggunaan pada pasien yang mengkonsumsi alkohol dan memiliki

riwayat penyakit hati.


Kontra indikasi : Penyakit hati aktif atau peningkatan persisten transaminase serum ;
kehamilan dan laktasi.

Interaksi : Antifungi azole (eg. Itraconazole), siklosporin, antibiotik makrolida (eg.


Eritromisin), gemfibrosil, niasin, verapamil : meningkatkan kemungkinan terjadinya
miopati parah dan rhabdomiolisis. Antasida : penggunaan bersamaan dapat
menurunkan kadar atorvastatin. Interraksi dengan Digoxin : dapat meningkatkan
kadar digoxin. Interaksi dengan Kontrasepsi oral : dapat meningkatkan AUC

etinilestradiol.
Penyimpanan : obat disimpan dalam temperatur/suhu ruangan
3. Amlodipin
Indikasi : Amlodipine digunakan untuk pengobatan hypertensi, angina stabil kronik,
angina vasospastik (angina prinzmetal atau variant angina). Amlodipine dapat
diberikan sebagai terapi tunggal ataupun dikombinasikan dengan obat anti

hypertensi dan anti angina lain.


Dosis: Dosis awal yang dianjurkan 5 mg - 10 mg satu kali sehari. Untuk melakukan
titrasi dosis, diperlukan waktu 7-14 hari. Pada pasien usia lanjut atau dengan kelainan
fungsi hati, dosis yang dianjurkan pada awal terapi 2,5 mg satu kali sehari. Bila
amlodipine diberikan dalam kombinasi dengan antihypertensi lain, dosis awal yang
digunakan adalah 2,5 mg. Dosis yang direkomendasikan untuk angina stabil kronik
atau angina vasospastik adalah 5-10 mg, dengan penyesuaian dosis pada pasien usia

lanjut dan kelainan fungsi hati.


Farmakodinamik : Amlodipine merupakan antagonis kalsium golongan
dihidropiridin (antagonis ion kalsium) yang menghambat influks (masuknya) ion
kalsium melalui membran ke dalam otot polos vaskular dan otot jantung sehingga
mempengaruhi kontraksi otot polos vaskular dan otot jantung. Amlodipine
menghambat influks ion kalsium secara selektif, di mana sebagian besar mempunyai
efek pada sel otot polos vaskular dibandingkan sel otot jantung.
Efek antihipertensi amlodipine adalah dengan bekerja langsung sebagai
vasodilator arteri perifer yang dapat menyebabkan penurunan resistensi vaskular serta

penurunan tekanan darah. Dosis satu kali sehari akan menghasilkan penurunan
tekanan darah yang berlangsung selama 24 jam. Onset kerja amlodipine adalah
perlahan-lahan, sehingga tidak menyebabkan terjadinya hipotensi akut.
Efek antiangina amlodipine adalah melalui dilatasi arteriol perifer sehingga
dapat menurunkan resistensi perifer total (afterload). Karena amlodipine tidak
mempengaruhi frekuensi denyut jantung, pengurangan beban jantung akan
menyebabkan penurunan kebutuhan oksigen miokardial serta kebutuhan energi.
Amlodipine menyebabkan dilatasi arteri dan arteriol koroner baik pada
keadaan oksigenisasi normal maupun keadaan iskemia. Pada pasien angina, dosis
amlodipine satu kali sehari dapat meningkatkan waktu latihan, waktu timbulnya
angina, waktu timbulnya depresi segmen ST dan menurunkan frekuensi serangan
angina serta penggunaan tablet nitrogliserin. Amlodipine tidak menimbulkan
perubahan kadar lemak plasma dan dapat digunakan pada pasien asma, diabetes serta
gout.
Catatan: untuk kontraksi, otot jantung memerlukan ion Ca2+ yang masuk dari
luar sel disamping ion Ca2+ dari gudang intrasel, otot polos bergantung hampir
seluruhnya pada ion Ca2+ ekstrasel, sedangkan otot rangka tidak memerlukan ion Ca 2+
ekstrasel. Oleh karena itu Calsium kanal bloker menghambat kontraksi otot polos dan
otot jantung, tetapi tidak menghambat kontraksi otot rangka.

Farmakokinetik : Amlodopine diabsorbsi secara bertahap pada pemberian peroral.


Konsentrasi puncak dalam plasma dicapai dalam waktu 6-12 jam. Bioavaibilitas
amlodipine sekitar 64-90% dan tidak dipengaruhi makanan. Ikatan dengan protein
plasma sekitar 93%. Waktu paruh amlodopin sekitar 30-50 jam dan kadar mantap
dalam plasma dicapai setelah 7-8 hari.

Amlodopine dimetabolisme dihati secara luas (sekitar 90%) dan diubah menjadi
metabolit inaktif, dengan 10% bentuk awal serta 60% metabolit diekskresikan melalui
urin. Pola farmakokinetik amlodipine tidak berubah secara bermakna pada pasien
dengan gangguan fungsi ginjal, sehingg tidak perlu dilakukan penyesuaian dosis.
Pasien usia lanjut dan pasien dengan gangguan fungsi hati didapatkan peningkatan
AUC sekitar 40-60%, sehingga diperlukan pengurangan dosis pada awal terapi.
Demikian juga pada pasien dengan gagal jantung sedang sampai berat

Kontraindikasi : Amlodipine tidak boleh diberikan pada pasien yang hipersensitif


terhadap amlodipine dan golongan dihidropiridin lainnya.
Efek samping : Edema, sakit kepala, fatigue, nyeri, peningkatan atau penurunan berat

badan.
Interaksi obat : Amlodipine dapat diberikan bersama dengan penggunaan diuretik
golongan tiazida, -bloker, -bloker, ACE inhibitor, nitrat, nitrogliserin sublingual,
antiinflamasi non-steroid, antibiotika, serta obat hipoglikemik oral.
Pemberian bersama digoxin tidak mengubah kadar digoxin serum ataupun bersihan
ginjal digoxin pada pasien normal. Amlodipine tidak

mempunyai efek terhadap

ikatan protein dari obat-obat : digoxin, phenytoin, warfarin dan indomethacin.


Pemberian bersama simetidin atau antasida tidak mengubah farmakokinetik
amlodipine.

Peringatan dan perhatian : Pasien dengan gangguan fungsi hati , waktu paruh
amlodipine menjadi lebih panjang, sehingga perlu pengawasan.
Penyimpanan : Simpan pada suhu kamar (di bawah 30C).
4. Asam asetil salisilat 100 mg
Indikasi :Asam asetil salisilat 100 mg di gunakan sebagai anti platele
Mekanisme kerja : Asetosal menghambat sintesis tromboksan A2 (TXA2) didalam
trombosit pada prostasiklin (PGI2) di pembuluh darah dengan menghambat secara
irreversible enzim sikloksidgenase (akan tetapi siklooksigenase dapat dibentuk

kembali oleh sel endotel). Penghambat enzim siklooksigenase terjadi karena aspirin
mengasetilasi enzim tersebut. Aspirin dosis kecil hanya dapat menekan pembentukan

TXA2, sebagai akibatnya terjadi pengurangan agregasi trombosit.


Dosis : sehari 1 tablet
Efek samping : Iritasi lambung, mual, muntah, dapat menginduksi bronkhospasm

(asma alergi), pada pemakaian lama dapat menyebabkan perdarahan lambung


Kontra indikasi : Penderita tukak lambung, penderita hipersensitiv terhadap salisilat,
Penderita yang sedang terapi dengan antikoagulan, kehamilan tiga bulan terakhir,
penderita hemofilia, penderita asma, penderita yang pernah atau sering mengalami

perdarahan di bawah kulit


Interaksi : Interaksi dengan antikoagulan dapat menyebabkan efek antioagulan
meningkat sehingga resiko perdarahan. Interaksi dengan kortikosteroid menyebabkan
efek asetosal berkurang. Interaksi dengan metotreksat menyebabkan efek metotreksat

meningkat. Interaksi dengan probenesid menyebabkan efek probenesid berkurang.


Penyimpanan : Disimpan di tempat yang kerinng
5. Pembahasan Resep
Berdasarkan komposisi resep pada kasus ini dapat ketahu bahwa pasien
menderita kolesterol dan hipertensi.Untuk mengatasi masalah kolesterolnya diterapi
dengan atorstatin (dosis 1 kali sehari tablet). Untuk hipertensi diterapi dengan
amlodipin (dosis 1 kali sehari 1 tablet). Asam asetil salisilat 100 mg

sebagai

antiplatelet untuk mencegah terjadinya sumbatan atau trombus pada pembuluh darah
yang dapat disebabkan karena hiperlipidemia. Terapi dengan citikolin untuk mengatasi
gangguan saraf pada pasien. Secara umum citicoline mempunyai efek sebagai
neuroprotektor. Citikolin memberikan efek positif terhadap fungsi kognitif.
6. KIE kepada pasien
KIE yang dapat diberikan kepada pasien adalah sebagai berikut:
1. Dosis, cara penggunaan, jangka waktu pemakaian obat

Resep 1. Yaitu obat citicolin tablet, diminum 1 kali sehari 1 tablet selama 30 hari
Resep 2. Obat atorvasstatin tablet untuk kolesterol, diminum 1 kali sehari tablet,

diminum pada saat malam hari selama 30 hari


Resep 3. Obat amlodipin untuk hipertensi, diminum 1 kali sehari 1 tablet selama 30

hari
Resep 4. Obat asam asetil salisilat 100 mg, diminum 1 kali sehari selama 30 hari
Memberikan informasi kepada pasien agar patuh dalam mengkonsumsi obat sehingga

terapi efektif
2. Informasi terapi Non farmakologi
Menerapkan gaya hidup sehat sangat penting untuk mencegah tekanan darah tinggi

dan hiper kolesterol


Pembatasan asupan garam dalam makanan, mengurangi konsumsi makanan tinggi

lemak, pengawasan berat badan, dan membatasi minuman alkohol


Menyarankan pola makan dengan diet yang kaya dengan buah,sayur, dan produk susu

rendah lemak dengan kadar total lemak dan lemak jenuh berkurang.
Melakukan aktifitas fisik dapat menurunkan tekanan darah. Olah raga aerobik secara

teratur paling tidak 30 menit/hari beberapa hari per minggu.


Hindari stres
3. Monitoring
Menganjurkan pasien untuk rajin memonitoring
takanan darah dan kadar
kolesterolnya
4. Informasi lain
Obat obatan disimpan pada suhu ruangan, dan pada tempat yang kering

IV.

DAFTAR PUSTAKA
Said alfin khalilullah. 2011. Penggunaan antiplatelet (aspirin) pada akut stroke iskemik.
Published online: alfinzone.wordpress.com

http://www.stfb.ac.id/layanan/berita/160-simulasi-kie-prodi-d3.html
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20926/4/Chapter%20II.pdf
www.news-medical.net/health/Lipitor-(Atorvastatin)-Pharmacokinetics(Indonesian).aspx
http://ahliwasir.com/news/5557/Citicoline-Bermanfaat-Dalam-Memperbaiki-FungsiKognitif
A to Z Drug Facts

Anda mungkin juga menyukai